cover
Contact Name
Sunu Bagaskara
Contact Email
sunu.bagaskara@yarsi.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
melok.roro@yarsi.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Journal Psikogenesis
  • Jurnal-Online-Psikogenesis
  • Website
Published by Universitas Yarsi
ISSN : 23033177     EISSN : 25977547     DOI : -
Jurnal Psikogenesis is a semiannualy publication produced by Fakultas Psikologi Universitas YARSI since 2012 (e-ISSN: 2597-7547, p-ISSN: 2303-3177). The journal reflects the wide application of all aspects of psychology related to health. It also addresses the social contexts in which psychological and health processes are embedded. The main emphasis of the journal is on original research, theoretical review papers, meta-analyses, and applied studies.
Arjuna Subject : -
Articles 192 Documents
Efektivitas Program Modifikasi Perilaku dengan Teknik Shaping untuk Meningkatkan Durasi Perilaku On-task pada Tugas Akademik Dara Mutia Ulfah; Dini P. Daengsari
Jurnal Online Psikogenesis Vol 7, No 1 (2019): Juni
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24854/jps.v7i1.877

Abstract

Masalah perilaku on-task pada tugas akademik seringkali muncul pada anak usia sekolah, seperti kesulitan memusatkan atensi pada tugas, mudah terdistraksi, dan beralih fokusnya pada hal lain dalam situasi pembelajaran. Hal ini dapat mempengaruhi pencapaian akademis anak sehari-hari. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan durasi perilaku on-task pada tugas akademik dengan menggunakan teknik shaping. Penelitian ini menggunakan single case experimental A-B design yang dilakukan dalam 22 sesi. Partisipan adalah seorang anak laki-laki  typical (normal) berusia 10 tahun. Teknik pengumpulan data melalui duration data sheet yang bertujuan untuk mengukur durasi kemunculan target perilaku melalui observasi. Analisis data dilihat dengan membandingkan rata-rata durasi perilaku on-task sebelum dan sesudah intervensi dilakukan. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan rata-rata durasi perilaku on-task yang signifikan pada partisipan, dari 8% sebelum intervensi menjadi 100% setelah intervensi berakhir dan bertahan menjadi 100% saat follow-up. Hal ini membuktikan bahwa penerapan teknik shaping terbukti efektif dalam membantu anak meningkatkan durasi perilaku on-task  pada tugas akademik. Untuk penelitian selanjutnya, perlu dipertimbangkan beberapa hal, yaitu fase baseline dapat dilakukan dalam sesi yang lebih panjang agar dapat menentukan target perilaku yang lebih valid, jarak waktu antara fase baseline dan fase intervensi sebaiknya tidak terlalu berjauhan, serta menggunakan media visual chart untuk memudahkan anak dalam menampilkan perilaku on-task yang tepat.
Peran School Well Being dan Keterlibatan Akademik dengan Prestasi Belajar pada Siswa Sekolah Dasar Agoes Dariyo
Jurnal Online Psikogenesis Vol 5, No 1 (2017): Juni
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (190.616 KB) | DOI: 10.24854/jps.v5i1.490

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran school well being dan keterlibatan akademik terhadap prestasi akademik siswa. Penelitian ini melibatkan 109 siswa sekolah dasar. Pengambilan data dengan menggunakan alat ukur berupa school well being dan keterlibatan akademik. Adapun pengambilan data prestasi belajar diambil melalui hasil ulangan pelajaran matematika. Analisis data menggunakan uji korelasi dan regresi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara school well being dengan academic engagement ; tidak ada hubungan anatara school well being dengan prestasi belajar dan tidak ada hubungan antara academic engagement dengan prestasi belajar. Selain itu, ditemukan bahwa ada pengaruh school well being terhadap academic engagement.
Hubungan antara Mindfulness dengan Depresi pada Remaja Endang Fourianalistyawati; Ratih Arruum Listiyandini
Jurnal Online Psikogenesis Vol 5, No 2 (2017): Desember
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (358.59 KB) | DOI: 10.24854/jps.v5i2.500

Abstract

Depresi merupakan gangguan mental yang umum terjadi di dunia, namun tetap menjadi suatu faktor kontribusi pada penurunan kecepatan penyembuhan berbagai penyakit lain. Prevalensi gangguan depresif mayor merupakan salah satu yang tertinggi dan angka tersebut terus meningkat sepanjang sepuluh tahun belakangan ini. Beberapa faktor yang berperan terhadap penurunan depresi banyak dilakukan. Salah satu penelitian di Amerika menunjukkan bahwa individu yang mengalami depresi atau simtom depresi cenderung memiliki tingkat mindfulness yang rendah, dibuktikan dengan aktivitas neural yang bertolak belakang pada individu yang depresi dan individu yang memiliki tingkat mindfulness yang tinggi. Mindfulness merupakan kemampuan seorang individu untuk sadar dan memerhatikan setiap detil kejadian yang sedang terjadi saat itu. Dengan kemampuan disposisional untuk mindful, individu dapat menerima setiap pengalaman yang terjadi dengan reseptif dan terbuka, sehingga kecil kemungkinan individu untuk melakukan ruminasi. Individu dengan kemampuan mindfulness yang tinggi cenderung memiliki tingkat depresi yang rendah, sebaliknya individu yang dengan tingkat depresi tinggi diketahui memiliki tingkat mindfulness yang rendah. Hanya sedikit publikasi yang telah mendiskusikan depresi pada remaja secara menyeluruh, meskipun beberapa penelitian telah menemukan bahwa awal kemunculan depresi dimulai sejak awal periode kehidupan tersebut. Mengetahui hubungan antara mindfulness dan depresi pada remaja di Indonesia diperlukan sebagai landasan awal untuk penelitian selanjutnya dan memberikan panduan untuk terapi mindfulness dalam mengatasi depresi pada remaja di Indonesia. Menggunakan metode kuantitatif dan desain korelasional, Five Facet Mindfulness Questionnaire (FFMQ) dan kuesioner depresi yaitu BDI, disebarkan kepada 200 remaja. Dari hasil analisis menggunakan korelasi Spearman, diketahui bahwa terdapat hubungan yang negatif dan signifikan antara mindfulness dan depresi, terutama pada dimensi acting with awareness dan non judging of inner experience. Hasil tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi skor mindfulness pada dimensi acting with awareness dan non judging of inner experience, maka semakin rendah skor depresi yang dimiliki remaja.
Gambaran Parenting Stress Dan Coping Stress Pada Ibu Yang Memiliki Anak Kembar Stephanie Lestari; Yapina Widyawati
Jurnal Online Psikogenesis Vol 4, No 1 (2016): Juni
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (321.249 KB) | DOI: 10.24854/jps.v4i1.516

Abstract

Dalam proses pengasuhan (parenting), beberapa faktor dapat mempengaruhi orang tua. Faktor tidak hanya orang tua saja, tetapi karakteristik anak juga merupakan salah satu hal yang mempengaruhi. Salah satu karaktersitiknya adalah anak kembar. Memiliki anak kembar dapat menimbulkan tantangan yang lebih besar karena tanggung jawab orang tua menjadi berlipat ganda pada saat yang bersamaan dan dapat menimbulkan (parenting stress). Parenting stress dapat memberikan pengaruh negatif dalam hubungan anak dan orang tua terutama pada ibu yang umumnya lebih banyak terlibat dalam pengasuhan di awal kehidupan. Ibu yang mengalami stres lebih mungkin untuk menampilkan kurangnya kasih sayang, penerimaan, pengawasan, serta lebih dapat memunculkan kontrol dan disiplin. Ibu yang mengasuh lebih dari satu anak berpendapat bahwa stres merupakan salah satu masalah serius yang mereka hadapi. Dikatakan pula bahwa stres yang dialami oleh orang tua dan kemampuan mereka untuk mengatasi (coping stress), dapat mempengaruhi hubungan mereka dengan anak. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif yang bersifat deskriptif dan non ekperimental. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pareting stress serta coping stress pada ibu yang memiliki anak kembar. Partisipan adalah ibu yang memiliki anak kembar di SD kelas 3 - 6. Pengambilan data dilakukan dengan memberikan kuesioner yang berisi adaptasi dari alat ukur Parenting Stress Index (PSI) serta alat ukur Cope Scale. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu yang memiliki anak kembar memiliki tingkat stres yang sedang. Dari hasil penelitian juga dapat disimpulkan bahwa karakteristik distractibility yang dimiliki oleh anak kembar (baik kakak maupun adik) dapat menyebabkan ibu menjadi stres. Strategi coping yang lebih banyak dilakukan oleh ibu yang memiliki anak kembar yaitu planning dan turning to religion.Kata kunci: stres pengasuhan, coping, anak kembar 
Peran Dukungan Suami bagi Kesejahteraan Psikologis Jurnalis Perempuan Riani Putriyani; Ratih Arruum Listiyandini
Jurnal Online Psikogenesis Vol 6, No 1 (2018): Juni
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24854/jps.v6i1.630

Abstract

Married woman who are working as journalist have their own challenge to achieve optimal psychological well-being. This research aims to investigate how is the role of husband’s social support towards psychological well-being of female journalists. The study used quantitative approach and cross-sectional design. By snowball sampling method, research was conducted to 100 female journalist using adapted scale of psychological well-being (SPWB) and social support questionnaire constructed by the researcher. Based on regression analysis, social support from husband positively and significantly influence psychological well-being of female journalists, with mostly contributes to environmental mastery dimension and life purpose. Thus, it is imperative for female journalist husband to give support for their spouse in order to enhance the psychological well-being of female journalists.
Pernikahan dalam Perspektif Masyarakat Bandung Langgersari Elsari Novianti; Fredrick Dermawan Purba; Afra Hafny Noer; Lenny Kendhawati
Jurnal Online Psikogenesis Vol 6, No 1 (2018): Juni
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (322.012 KB) | DOI: 10.24854/jps.v6i1.635

Abstract

This study aims to describe (1) relative importance of marriage, (2) desired timing of marriage, and (3) criteria for marriage readiness. Respondents aged between 15 – 30 years old, 558 individuals, not married, residents of Bandung City. The measurement is Criteria for Marriage Readiness Questionnaire (CMRQ) questionnaire designed by Carrol et al. which has been adapted to Bahasa Indonesia. Results showed that respondents perceived (1) marriage is not important/priority for them at the moment, (2) the ideal age for marriage is about 25 years old, because at this age they are mature/ready to marry, have jobs/carrier/income, and have accomplished higher education degree (bachelor/master). Different from previous findings from Carroll, respondents perceived some criteria which need not to be fulfilled before marriage: (1) have enough sexual experience, (2) have kids before marriage, (3) military service, (4) have lived together with lover, (5) premarital intercourse, (6) drinking and smoking. The present study increases understanding of criteria considered by people that needed to be fulfilled before marriage. The fulfillment of these criteria seems to play a role in the age of first marriage of the people in the city of Bandung. Further studies should be done to investigate the cultural values in perceiving marriage by the people of Bandung.
Perbedaan Perkembangan Sosial Anak Usia Prasekolah yang Mengikuti PAUD dan Tidak Mengikuti Paud Indra Fajarwati Ibnu; Ummiyah Saleh; Healthy Hidayanti
Jurnal Online Psikogenesis Vol 8, No 1 (2020): Juni
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24854/jps.v8i1.1131

Abstract

Perkembangan sosial anak mulai agak kompleks ketika anak menginjak usia 3 tahun karena anak mulai memasuki ranah pendidikan yang paling dasar yaitu taman kanak-kanak. Perkembangan sosial anak diperoleh dari kematangan dan kesempatan belajar dari berbagai respons lingkungan terhadap anak. Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk upaya untuk melakukan  stimulasi terjadap perkembangan social anak pra sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbedaan perkembangan social anak usia pra sekolah yang mengikuti PAUD dan yang tidak mengikuti PAUD. Jenis Penelitian adalah observasional analitik, dengan pendekatan cross sectional dengan tehnik pengambilan sampel yaitu random sample (probability samples) Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan perkembangan social pada anak usia pra sekolah yang mengikuti pendidikan usia dini dan tidak pendidikan usia dini secara signifikan (p.0,0025).
Resiliensi Keluarga yang Memiliki Anak Tunagrahita: Bagaimana Peran Koherensi Keluarga? Alifah Nuke Febrianty; Alabanyo Brebahama; Melok Roro Kinanthi
Jurnal Online Psikogenesis Vol 8, No 1 (2020): Juni
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24854/jps.v8i1.1315

Abstract

Tunagrahita merupakan salah satu jenis disabilitas yang membuat penyandangnya memiliki inteligensi jauh di bawah rata-rata serta kemampuan bina bantu diri yang terbatas. Hambatan tersebut membuat anak tunagrahita menjadi kurang mandiri sehingga orang tua harus memberikan perhatian serta bantuan yang lebih besar dibandingkan dengan anak pada umumnya. Hal inilah yang dapat menjadi stressor bagi keluarga terutama ibu yang merupakan caregiver utama pada anak karena ibulah yang paling banyak meluangkan waktu untuk pengasuhan sang anak. Oleh karena itu dibutuhkan ketangguhan keluarga dalam menghadapi masalah terkait kehadiran anak tunagrahita. Resiliensi keluarga dianggap sukses bila keluarga dapat bertahan dari kesulitan dan mengambil makna dari kesulitan yang dihadapi. Salah satu cara untuk dapat resilien adalah dengan mengembangkan pandangan positif saat menghadapi masalah yang disebut juga sebagai koherensi keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana peran koherensi keluarga terhadap resiliensi keluarga yang memiliki anak tunagrahita dari perspektif ibu. Partisipan pada penelitian ini sebanyak 60 orang ibu yang memiliki anak tunagrahita, berdomisili di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi yang dipilih menggunakan metode  purposive sampling ­. Alat ukur yang digunakan yaitu Walsh Family Resilience Questionnaire (WFRQ) untuk mengukur resiliensi keluarga dan Family Sense of Coherence Scale (FSOCS) untuk mengukur family sense of coherence. Berdasarkan hasil uji regresi, didapatkan hasil bahwa family sense of coherence berperan secara signifikan (p 0,05) terhadap resiliensi keluarga (R-square= 0,235). Hal ini berarti koherensi keluarga berperan sebesar 23,5% terhadap resiliensi keluarga dan 76,5% lainnya dipengaruhi oleh faktor lain. Terkait dengan hal ini, upaya meningkatkan resiliensi keluarga dapat dilakukan dengan membantu keluarga mengembangkan perspektif positif dalam melihat situasi yang terjadi, menumbuhkan optimisme, dan mengedukasi keluarga untuk dapat memanfaatkan sumber daya di sekitarnya untuk membantu atasi situasi. Intellectual disability is the one of disability in which the individu has intellectual far below the average, and limitation in activity daily living. This limitation makes the children with intellectual disability have low autonomy cause parents should give care and assitaant more then usual. This condition can be the one of stressor for family, especially for the mother as caregiver who give more time to practice parenting for their children. So, family resillience is very important to face the emergence of intellectual disability children in family. In order to be resillient, a family should have positive perspective when facing the problem, called sense of coherence. The purpose of this research is finding the role of family sense of coherence towards family resillience among family who has intellectual disability children. The participant of this research is 60 mothers who have intellectual disability children and live in Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, and Bekasi (Jabodetabek). The participants is selected by using purposive sampling method. This research uesd Family Resilience Questionnaire (WFRQ) to measure family resillience, and Family Sense of Coherence Scale (FSOCS) to measure family sense of corerence. Based on regression test, family sense of corerence has significant role towards family resilience (R Square = 0,235, p 0,05). It meanse that family sense of coherence gives contribution about 23,5 % to family resillience, and 76,5 % influenced by another factors. As the conslusion, family can be more resillient if it develops positive perspective when facing problem, build optimism, and use every resources wisely in order to solve problem. 
Kelekatan Orangtua dan Kecerdasan Sosial pada Remaja Pondok Pesantren Modern Nurjanah Nurjanah; Adi Heryadi
Jurnal Online Psikogenesis Vol 8, No 1 (2020): Juni
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24854/jps.v8i1.1090

Abstract

This study aims to determine the relationship between the attachment of parents to the social intelligence of adolescent Miftahunnajah Modern Islamic Boarding School. Social intelligence becomes a very important thing because basically humans cannot live alone. Many activities in an individual's life are related to others. The many social phenomena that occur illustrate the increasingly eroding social intelligence in society. Weakening social sense and empathy also occur among adolescents.The research subject was students of the Modern Miftahunnajah Islamic Boarding School with the criteria of adolescents aged 10-22 years. The number of subjects in this study were 112 students. The sampling technique in this study used a simple random sampling. Data collection uses a scale that has been tested for validity and reliability. The scale of parental attachment in this study was based on three aspects of stickiness, namely trust, communication and alienation, which amounted to 41 items. The scale of social intelligence in this study is based on two aspects of social intelligence, namely social awareness and social facilities totaling 30 items. From the hypothesis test, it is known that the correlation coefficient (pearson correlation) is 0.376 and the significance level is 0.000. The significance level is smaller than 0.05 (p 0.05) so that it can be said that there is a significant relationship between the attachment of parents and social intelligence. The coefficient of determination on the two variables shows R square of 0.121 or equal to 12.1%. This value shows the effective contribution of parental attachments that contribute to parental intelligence is equal to 12.1% and 87.9% social intelligence is influenced by other factors
Hubungan Trait Mindfulness dan Keterikatan Kerja dengan Melibatkan Peran Mediasi Modal Psikologis Arvidyani Anindita; Arum Etikariena
Jurnal Online Psikogenesis Vol 8, No 1 (2020): Juni
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24854/jps.v8i1.1039

Abstract

Abstract— Trait mindfulness received great attention in academic research in the past years. Early research about trait mindfulness in the professional area focused on stress reduction and well-being outcomes yet little known its impact on performance and work-related outcomes. This study aimed to know trait mindfulness’ impact on work engagement, with psychological capital as the mediator. This is cross-sectional study with 591 white-collar workers in Indonesia as the sample. The result showed that psychological capital partially mediates the relationship between trait mindfulness and work engagement even after controlling demographic and organizational factors (age, gender, education level, job tenure, job level, and organization type). The findings of this study indicated the positive benefits of developing trait mindfulness and psychological capital in employees.Abstrak— Beberapa tahun terakhir, trait mindfulness mendapat banyak perhatian di dunia ilmiah. Penelitian-penelitian awal mengenai trait mindfulness di dunia kerja lebih berfokus pada kesejahteraan karyawan dan penurunan stres namun belum banyak diketahui dampaknya terhadap performa dan hasil kerja. Penelitian ini bertujuan untuk melihat dampak trait mindfulness terhadap keterlibatan kerja karyawan, dengan modal psikologis sebagai mediator. Penelitian ini merupakan studi cross-sectional dengan 591 karyawan kerah putih di Indonesia sebagai sampel. Hasilnya menunjukkan bahwa modal psikologis secara parsial memediasi hubungan antara trait mindfulness dan keterlibatan kerja karyawan bahkan setelah mengontrol faktor demografis dan faktor organisasi (usia, gender, tingkat pendidikan, masa kerja, tingkat jabatan, dan jenis organisasi). Hasil penelitian ini mengindikasikan adanya manfaat positif dari mengembangkan trait mindfulness dan modal psikologis karyawan.

Page 5 of 20 | Total Record : 192