cover
Contact Name
I Gede Sutarya
Contact Email
sutarya@yahoo.com
Phone
-
Journal Mail Official
pariwisatasutarya@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
PARIWISATA BUDAYA: JURNAL ILMIAH AGAMA DAN BUDAYA
ISSN : 25279534     EISSN : 26145340     DOI : -
Core Subject : Social,
Tujuan pariwisata agama ini adalah tempat-tempat suci agama, yang terdiri dari situs alam, budaya dan buatan manusia. Karena itu, pengelolaan situs-situs tersebut juga menjadi bahasan-bahasan pada artikel pada jurnal ini. Dengan demikian, jurnal ilmiah ini memuat artikel-artikel yang berhubungan dengan pariwisata agama, pariwisata budaya, dan pengaruh-pengaruh pariwisata terhadap agama dan budaya.
Arjuna Subject : -
Articles 158 Documents
KAJIAN KONSEP EKOWISATA BERBASIS MASYARAKAT DALAM MENUNJANG PENGEMBANGAN PARIWISATA : SEBUAH STUDI LITERATUR Asy'ari, Rifqi; Dienaputra, Reiza D.; Nugraha, Awaludin; Tahir, Rusdin; Rakhman, Cecep Ucu; Putra, Rifki Rahmanda
PARIWISATA BUDAYA: JURNAL ILMIAH AGAMA DAN BUDAYA Vol 6, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/pba.v6i1.1969

Abstract

Seiring dengan perkembangan zaman, terminologi ekowisata terus berkembang tanpa menghilangkan esensial dasar yang ada dalam pengertian ekowisata itu sendiri, yaitu konservasi atau pelastarian baik untuk alam, budaya dan masyarakat itu sendiri. Konsep ekowisata berbasis masyarakat menjadi konsep yang berkembang di tahun 2000-an yang di mana terminologi dari konsep ini lebih menekan pada pelibatan masyarakat yang ada dalam perencanaan, pelaksanaan, pengelolaan usaha ekowisata dan segala keuntungan yang diperoleh. Penelitian ini mengkaji terkait sejauh mana konsep ekowisata berbasis masyarakat dalam menunjang pengembangan pariwisata dan hal apa saja yang masih menjadi hambatan dalam konsep ekowisata berbasis masyarakat tersebut untuk kemudian dapat menjadi rekomendasi bagi penelitian selanjutnya. Metode yang digunakan yaitu metode kualitatif berupa studi literatur dari 20 artikel yang didapat. Alat bantu pencarian yang digunakan adalah harzing’s publish or perish. Selanjutnya, data dianalisis dengan metode tinjauan pustaka dengan teknik traditional review. Konsep ekowisata berbasis masyarakat dalam konteks pengembangan pariwisata dapat diartikan sebagai wujud pengembangan dalam pemanfaatan sumberdaya dengan pelibatan masyarakat sebagai pemegang kunci. Konsep ekowisata berbasis masyarakat juga menjadi konsep yang masih baru dan membuka peluang untuk memperkaya kajian tersebut.  Indikator yang didapat dari hasil analisis bahwa indikator sumber daya, masyarakat dan wisatawan menjadi faktor dalam pengembangan pariwisata yang menggunakan konsep ekowisata berbasis masyarakat.
EKSISTENSI ADAT, TANAH ULAYAT DAN PARIWISATA DI KASEPUHAN CIPTAGELAR, JAWA BARAT Nusanto, Tri Suyud; Widiyanto, Nur
PARIWISATA BUDAYA: JURNAL ILMIAH AGAMA DAN BUDAYA Vol 6, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/pba.v6i1.2004

Abstract

Paper ini bertujuan untuk mengeksplorasi berbagai dinamika dari pertemuan antara Islam dengan tatali paranti karuhun sebagai dasar spiritualitas dan praktek kehidupan masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar yang menempati  kawasan Taman Nasional Halimun Salak, Jawa Barat. Fokus dari studi ini adalah terkait bagaimana aspek legal dari hak menjalankan kepercayaan adat dan akses atas tanah ulayat bisa secara bertahap didapatkan melalui keterlibatan dalam pengembangan pariwisata. Spiritualitas dan kehidupan sehari-hari warga kasepuhan bersumber dari kepercayaan Sunda Pra-Islam, dan dikenal sebagai bagian dari kepercayaan Sunda Wiwitan. Seperti halnya berbagai kepercayaan adat lain di Indonesia, Sunda Wiwitan tidak dikategorikan sebagai agama oleh negara. Pada sisi lain, meskipun telah menempati wilayah adat secara turun temurun, namun setelah ditetapkan sebagai bagian dari taman nasional, penduduk Ciptagelar sempat dianggap sebagai penghuni ilegal di kawasan hutan konservasi. Hal ini menjadikan adanya dua tekanan sekaligus bagi warga kasepuhan, yaitu keleluasan untuk menjalankan spiritualitas yang berakar dari ajaran nenek moyang dan terpinggirnya atas hak tanah adat dari sisi legal. Pada saat yang sama, Ciptagelar juga memiliki berbagai sumber daya  wisata budaya yang bersumber dari keaslian tradisi Sunda, serta wisata alam di kawasan pegunungan. Untuk itu, studi ini memberikan sudut pandang baru tentang bagaimana hadirnya pariwisata dapat menjadi jalan tengah bagi upaya memperkuat identitas budaya Kasepuhan Ciptagelar serta mendapatkan pengakuan bagi hak atas tanah ulayat. Riset etnografi dengan participant observation untuk pengumpulan data ini memperlihatkan bahwa pariwisata ternyata dapat memediasi berbagai kebuntuan dari dinamika antara Islam, adat dan upaya memperkuat akses untuk menempati tanah ulayat yang telah ditetapkan sebagai bagian dari hutan negara.
“NEW NORMAL” SEBAGAI MOMENTUM KEBANGKITAN EKOWISATA: SEBUAH KAJIAN AWAL TENTANG DAYA DUKUNG LINGKUNGAN PASCAPANDEMI COVID-19 Rudiyanto, Andreas; Sugiarto, Eko
PARIWISATA BUDAYA: JURNAL ILMIAH AGAMA DAN BUDAYA Vol 5, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/pba.v5i2.1697

Abstract

Pandemi Covid-19 telah mengubah banyak hal dalam kehidupan. Salah satu yang cukup menonjol adalah perubahan perilaku. Istilah “new normal” kemudian menjadi sangat populer. Padanan terhadap istilah ini dalam bahasa Indonesia kemudian bermunculan, antara lain “kenormalan baru”, “normal baru”, “tatanan kehidupan baru”, dan masih banyak lagi yang semua mengacu kepada “keadaan normal yang baru”. Keadaan normal baru ini antara lain (1) memakai masker ketika harus keluar rumah atau berinteraksi dengan orang lain yang tidak diketahui status kesehatannya; (2) mencuci tangan menggunakan sabun dengan air mengalir atau menggunakan cairan antiseptik berbasis alkohol/handsanitizer; (3) menjaga jarak minimal satu meter dengan orang lain serta menghindari kerumunan, keramaian, dan berdesakan; serta (4) meningkatkan daya tahan tubuh dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Dalam konteks “menjaga jarak minimal satu meter dengan orang lain serta menghindari kerumunan, keramaian, dan berdesakan” inilah pembahasan tentang daya dukung lingkungan di bidang pariwisata dibahas dalam artikel ini. Dengan demikian, tujuan penulisan artikel ini adalah untuk memberikan sebuah perspektif terhadap penerapan konsep daya dukung lingkungan di destinasi pariwisata pascapandemi Covid-19. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah studi literatur terhadap dokumen yang membahas tentang “new normal” dan ekowisata dikaitkan dengan kondisi kekinian. Berdasarkan hasil kajian terhadap berbagai literatur tersebut, penulis menyimpulkan bahwa “new normal” merupakan sebuah kondisi yang bisa dijadikan sebagai momentum kebangkitan ekowisata, khususnya terkait dengan penerapan konsep daya dukung lingkungan di destinasi pariwisata.
PERKEMBANGAN EKOWISATA DI BALI : “UPAYA PELESTARIAN ALAM DAN BUDAYA SERTA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT LOKAL” Suryanti, Putu Emy; Indrayasa, Kadek Bayu
PARIWISATA BUDAYA: JURNAL ILMIAH AGAMA DAN BUDAYA Vol 6, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/pba.v6i1.1970

Abstract

Bali merupakan salah satu daerah tujuan wisata para wisatawan ke Indonesia. Bali memiliki aset pariwisata berupa keindahan alamnya yang masih alami, warisan kebudayaan yang unik, serta keramahan masyarakat lokal. Adanya objek dan daya tarik wisata di Bali diharapkan akan mendatangkan keuntungan terutama bagi masyarakat sekitar dalam menghasilkan lapangan pekerjaan baru. Dengan adanya lapangan kerja baru, diharapkan terjadi peningkatan kesejahteraan hidup masyarakat. Namun ternyata, tidak hanya dampak positif yang didapatkan dengan adanya objek dan daya tarik wisata tetapi juga banyak dampak negatif yang ditimbulkan. Timbulnya dampak negatif dari aktivitas wisata, mendorong terjadinya perubahan paradigma pariwisata dari pariwisata lama yang bersifat massal (mass tourism) ke pariwisata baru yang ramah lingkungan, salah satunya adalah ekowisata. Ekowisata merupakan pariwisata bertanggung jawab yang dilakukan pada tempat-tempat alami, serta memberi kontribusi terhadap kelestarian alam dan peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal. Dengan pengembangan konsep ekowisata di Bali diharapkan mampu menjaga kelestarian alam dan budaya lokal Bali serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal melalui pemberdayaan masyarakat.
DAMPAK PAWAI OGOH-OGOH TERHADAP SOSIAL BUDAYA MASYARAKAT DI DESA ADAT KUTA Prabandari, Indah Sista; Sonder, I Wayan
PARIWISATA BUDAYA: JURNAL ILMIAH AGAMA DAN BUDAYA Vol 6, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/pba.v6i1.1931

Abstract

Parade of ogoh-ogoh is one of the cultural art activities of the Bali community which can be used as a tourist attraction. The parade of ogoh-ogoh is a parade which is performed on Pengerupukan Day, a day before Hari Raya Nyepi (Silent Day). One of the villages which perform such a parade every time Silent Day comes is Kuta Customary Village. This study aims at identifying the potentials, the obstructions, the social cultural effects, the perception and attitude of tourists towards the parade of ogoh-ogoh as a tourist attraction.Qualitative method was employed in this study and the data needed were collected by observation, deep interview, and documentation. The informants used in this study were purposively determined. The study is that it positively affects the interpersonal relationship among the community members, it can minimize social deviations, it contributes to the development af arts and tradition, and it can increase the number of tourist visit. The last finding is that the tourists like the parade as a tourist attraction at Kuta Village.Based on the findings above, it can be concluded that the parade of ogoh-ogoh is a potential tourist attraction and positively affects. The suggestions which are given in this study are: (1). an active coordination among the tourist components (the stakeholders) is needed in developing the parade as a tourist attraction and in overcoming the obstacles which are related to promotion, onlookers, traffic, comfortableness and security; (2). socialization of ogoh-ogoh should be made to the youth all over Bali so that the parade, as a tourist attraction, is not prohibited, still exists and is not getting extinct.
SENI MAJEJAITAN DAN METANDING SEBAGAI ATRAKSI WISATA DI ERA NEW NORMAL Puspa, Ida Ayu Tary; Pertu Agung, I Gusti Ngurah; Ananda Mertayasa, I Kadek
PARIWISATA BUDAYA: JURNAL ILMIAH AGAMA DAN BUDAYA Vol 5, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/pba.v5i2.1798

Abstract

Upacara dan upakara dalam  agama Hindu memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang mengunjungi pulau Bali yang terkenal dengan sebutan Pulau Dewata. Para wisatawan ingin memeroleh pengalaman autentik selama mereka berwisata dengan mengikuti program majejaitan dan metanding. Dengan luapan emosi yang ekspresif, sebuah desa wisata dapat mengemas majejaitan dan metanding ini sebagai atraksi wisata. Atraksi ini memiliki fungsi  seni yaitu berupa pemuas emosi dan keinginan manusia serta fungsi religius yang mana atraksi ini memiliki  keunikan yang luar biasa sehingga akan  mampu meningkatkan wawasan dalam menghubungkan diri dengan Tuhan dengan cara yang sederhana.Dalam era new normal  ini walaupun pandemi covid-19 belum berlalu, maka desa wisata dapat mengemas atraksi ini dengan tetap mengedepankan kebersihan (Cleanliness), kesehatan (Health) dan keamanan (Safety). CHS ini sebagai standar kenormalan baru pariwisata.
KONEKTIVITAS PENGEMBANGAN PARIWISATA MELALUI KONSEP RUTE WISATA DI CIAYUMAJAKUNING (Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan) Maharani, Mira
PARIWISATA BUDAYA: JURNAL ILMIAH AGAMA DAN BUDAYA Vol 6, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/pba.v6i1.1971

Abstract

AbstrakSaat ini dengan adanya jalan bebas hambatan yang menghubungkan antara Cikopo-Palimanan-Kanci-Pejagan menjadi salah satu faktor yang berpengaruh besar bagi pariwisata di Ciayumajakuning ini berkembang pesat dikarenakan sekarang ini wilayah Ciayumajakuning menjadi salah satu pilihan tujuan wisata bagi wisatawan asal jakarta pada setiap akhir pekan selain Bandung. Pengembangan pariwisata di Ciayumajakuning diharapkan mampu berkontribusi terhadap peningkatan jumlah kunjungan wisatawan dan penyebaran wisatawan yang tidak hanya terpusat pada Kota Cirebon. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan pariwisata melalui rute wisata kawasan Ciayumajakuning. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dan kuantitatif yang sama-sama dilakukan untuk ketersediaan data dan kondisi yang berbeda sesuai keperluan analisis. Kurang lebih terdapat 22 daya tarik wisata di Ciayumajakuning, namun hanya 13 daya tarik wisata yang terpilih menjadi prioritas daya tarik wisata yang masuk dalam rute wisata Ciayumajakuning. Dalam pemilihan daya tarik wisata strategis ini menggunakan konsep 5A. Setelah terpilih daya tarik wisata strategis maka baru akan dilakukan penyusunan rute wisata, Rute Wisata di Ciayumajakuning dibagi menjadi 3, yaitu Rute Wisata Kota; Rute Wisata Barat; dan Rute Wisata Timur, setelah tersusunnya rute wisata maka diperlukan juga analisis mengenai infrastruktur pendukung yang dibutuhkan pada daya tarik wisata yang termasuk dalam rute wisata agar daya tarik wisata semakin berkembang menjadi baik dan semakin siap dalam menerima wisatawan datang. 
NEW NORMAL PARIWISATA BALI DI MASA PANDEMI PADA DAERAH TUJUAN WISATA TANAH LOT, KABUPATEN TABANAN Krisdayanthi, Astrid
PARIWISATA BUDAYA: JURNAL ILMIAH AGAMA DAN BUDAYA Vol 5, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/pba.v5i2.1743

Abstract

Covid-19 has profoundly affected the economy today. Not only has income decreased, but the number of unemployed has also continued to increase. The tourism sector, which drives the economy in Bali, was also affected. Many tourism workers have to be laid off and also many have lost their livelihoods as a result of the Covid-19 pandemic. The new normal that has been in effect today is like a breath of fresh air for the community and also for the tourism business. This is because with the enactment of the new normal while adhering to the applicable Health protocols, people can start working again and tourism can start to reopen. The Tanah Lot tourist destination, which has been closed as part of preventing the spread of Covid-19, has now reopened but still adheres to the Health protocol. The operational manager of the Tanah Lot tourist destination, Mr. Toya Adnyana, said that the Tanah Lot tourist attraction was ready with standard operating procedures related to new normal tourism. His party has prepared according to the applicable Health protocol standards to enter this new normal phase, such as; masks, face shields for ticketing and checking tickets, portable sinks in several areas, appeals regarding health protocols and hand sanitizers. With the opening of the Tanah Lot tourist destination to receive tourist visits, this has a positive impact on tourism actors around it. Even though the impact has not been felt yet because the number is still small, it is enough to help those who have lost their income for the past 4 months due to the closure of the Tanah Lot tourist destination.
RESTORASI TAMAN BEJI SAPTA RESI SEBAGAI WISATA RELIGI DI DESA ADAT SAMUAN: PERSEPSI MASYARAKAT DAN IMPLIKASINYA Aryana, I Made Putra
PARIWISATA BUDAYA: JURNAL ILMIAH AGAMA DAN BUDAYA Vol 6, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/pba.v6i1.1881

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan persepsi masyarakat dan implikasi yang ditimbulkan dari adanya restorasi Taman Beji Sapta Resi. Artikel ini adalah hasil penelitian yang dilakukan dengan menggunakan metode pengumpulan data berupa observasi, wawancara, studi kepustakaan dan dokumentasi. Restorasi taman beji dilakukan karena adanya pengetahuan tentang adanya beji dan dikembalikan fungsinya sebagai beji yang memiliki panorama alam yang bernilai ekononis. Potensi dibukanya Taman Beji Sapta Resi sebagai atraksi wisata antara lain: keadaan alam yang alami di sekitar Taman Beji Sapta Resi, pengembangan fasilitas pariwisata, dan pengelolaan objek wisata. Persepsi masyarakat terhadap dibukanya Taman Beji sapta Resi sebagai tempat wisata religi adalah efisiensi dalam pekaksanaan prosesi masucian pratima, adanya tempat untuk melakukan meningkatkan kesucian diri, terbukanya lapangan kerja bagi masyarakat sekitar sehingga berdampak pada kesejahteraan masyarakat dan  menambah pemasukan dana desa. Sehingga dampak yang ditimbulkan berupa dampak ekonomi, sodial dan budaya serta lingkugan.
TATANAN KEHIDUPAN BARU PADA AKOMODASI DAN RESTORAN PARIWISATA Rai Kristina, Ni Made; Pranata Darma, I Gusti Ketut Indra
PARIWISATA BUDAYA: JURNAL ILMIAH AGAMA DAN BUDAYA Vol 6, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/pba.v6i2.2916

Abstract

Industri perhotelan merupakan salah satu bagian dari dunia Pariwisata yang memegan peranan penting dimanapun berada. Peran industri perhotelan ini tidak hanya sebagai tempat untuk singgah dan beristirahat, melainkan menjadi sebuah awal dari kegiatan perekonomian dari industri lain. Datangnya virus covid-19 di awal tahun 2020, tak pelak memukul segala sektor industri yang ada didunia tidak terkecuali industri perhotelan. Selama hampir 3 bulan, masyarakat di dunia dipaksa untuk hidup berada dalam ketakutan akan virus covid-9. World Health Organization (WHO) pun menyerukan adanya “New Normal” sebagai bentuk adaptasi baru bagi seluruh masyarakat di dunia terhadap virus ini sampai ditemukan obatnya.Berdasarkan adanya virus tersebut, industri pariwisata yang memiliki berbagai macam akomodasi ikut menyambut “New Normal” dengan mengikuti aturan-aturan ketat yang berlaku mengikuti anjuran pemerintah setempat. Pada penelitian ini akan mencoba mengetahui bentuk protokol “New Normal” pada beberapa akomodasi dan restoran di Bali yang merupakan salah satu daerah yang terdampak secara signifikan. Sehingga didapatkan langkah-langkah yang tepat untuk diterapkan bagi daerah lain dengan mengikuti kebiasaan yang berlaku di daerah tersebut.

Page 7 of 16 | Total Record : 158