cover
Contact Name
Hartono, M.Pd.I
Contact Email
yudipoday@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
yudipoday@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. situbondo,
Jawa timur
INDONESIA
Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist
ISSN : 26213699     EISSN : 26152568     DOI : -
Core Subject : Religion,
Al Bayan: adalah Jurnal Ilmu Al- Qur'an dan Ilmu Hadist yang diterbitkan oleh LPPM STIQ Wali Songo Situbondo dua kali dalam satu tahun yaitu pada bulan januari dan juli. Jurnal ilmiah yang kami kelola memuat tema seputar Al Qur'an dan Hadist dan kajian-kajian keislaman lainnya.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 8 No 2 (2025): Juni" : 10 Documents clear
Analisis Haid Dan Nifas Dalam Perspektif Tafsir Al-Kabir Mafatihul Ghaib nurhikmh, meli nurhikmah; Badi’ah, Siti; Windari, Fitri
Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Vol 8 No 2 (2025): Juni
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Wali Songo Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35132/albayan.v8i2.1276

Abstract

Conceptual gaps in public understanding of Sharia provisions regarding menstruation and postpartum bleeding (nifas) remain a crucial issue affecting aspects of worship and women's reproductive health. Previous studies have tended to separate fiqh analysis and linguistic studies, so the integration between classical interpretations and contemporary medical perspectives has not been optimal. This condition demands a multidisciplinary approach that can produce a more applicable and contextual understanding of Islamic law in relation to the development of modern health science. This research uses a qualitative method with a literature study approach to examine in depth the concepts of menstruation and postpartum bleeding in Tafsir al-Kabir Mafatihul Ghaib by Fakhruddin Ar-Razi. An integrative approach that harmonizes classical interpretation with cutting-edge medical science becomes the main analytical framework in this research. The results of the study reveal that Ar-Razi views menstruation and postpartum bleeding not only as biological phenomena, but also as having complex dimensions of Sharia law. In his interpretation of QS. Al-Baqarah verse 222, the term “adza” is interpreted as “dirt” (impurity) which includes the meaning of najis syar’i (legal impurity) as well as biological disturbances. This interpretation is the basis for prohibiting sexual relations during menstruation, which is not only oriented towards ritual aspects, but also as an effort to protect women's reproductive health from medical risks. This approach reflects a unique synthesis between medical and fiqh perspectives, enriching the dimensions of Islamic law interpretation related to reproductive health. This research affirms the urgency of a multidisciplinary approach in contemporary fiqh studies, especially in the context of women's health and worship, in order to broaden the horizons of Islamic law and offer relevant solutions to the challenges of the times.
The Meaning Of Khatmil Qur'an In Prayer As A Graduation Requirement For Students Of Wali Songo Situbondo Islamic Boarding School rohmah, umi nuriyatur
Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Vol 8 No 2 (2025): Juni
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Wali Songo Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35132/albayan.v8i2.1162

Abstract

Penelitian ini menggambarkan praktik pembacaan al-Qur’an dalam tradisi khatmil Qur’an di Pondok Pesantren Wali Songo Situbondo. Fokus kajian dalam penelitian ini adalah mengetahui praktik dan pemaknaan pelaku terhadap tradisi khatmil Qur’an dalam shalat di Pondok Pesantren Wali Songo Situbondo. Penelitian lapangan ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi wawancara, dan dokumentasi. Observasi dilakukan selama dua bulan di Pondok Pesantren Wali Songo Situbondo yaitu pada bulan September sampai Oktober 2023 dan wawancara kepada beberapa informan yang terlibat langsung dalam pelaksanaan khatmil qur’an sedangkan dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data-data yang terkait dengan tema penelitian. Teori sosiologi pengetahuan Karl Mannheim digunakan untuk menganalisa makna dari pelaku dalam praktik ini. Penelitian ini menyimpulkan dua hal; pertama, praktik khatmil Qur’an dalam shalat merupakan ujian bagi santri tafidz yang telah menghafal 30 juz sebagai persyaratan untuk wisuda al-Qur’an. Dalam pelaksanaannya kegiatan khatmil Qur’an dalam shalat dilaksanakan selama semalam suntuk yaitu setelah shalat isya’ sampai menjelang subuh. Kedua, pemaknaan praktik khatmil Qur’an dalam shalat berdasarkan teori Karl Mannheim, ditemukan tiga katagori makna yaitu, makna obyektif sebagai serangkaian kegiatan pembacaan al-Qur’an bil hifdzi yang dilakukan santri tahfidz sebagai persyaratan wisuda. Makna ekspresif sebagai ittiba’ kepada kebiasaan yang dilakukan oleh Usman bin Affan, memperkuat hafalan, dan menguji hafalan santri. Sedangkan makna dokumenter adalah praktik membudayakan bacaan al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari
Kesombongan Dalam Perspektif Al-Qur’an Dan Psikologi Modern: (Telaah Narcissistic Personality Disorder (Npd) Dalam Tafsir Al-Manar Terhadap Qs. Luqman:18) Juliandini, Shabira Ayu; Mualim, Mohamad; Ghifari, Muhammad
Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Vol 8 No 2 (2025): Juni
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Wali Songo Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35132/albayan.v8i2.1420

Abstract

Gangguan Kepribadian Narsistik (Narcissistic Personality Disorder/NPD) merupakan salah satu jenis gangguan kepribadian yang ditandai dengan perasaan superioritas, kebutuhan akan pujian berlebih, serta kurangnya empati terhadap orang lain. Dalam psikologi modern, NPD sering dikaitkan dengan pola asuh yang penuh tekanan di masa kanak-kanak atau pujian yang berlebihan, dan gangguan ini berdampak negatif terhadap hubungan sosial serta kesehatan mental seseorang. Dalam pandangan Islam, perilaku sombong dan merasa lebih unggul dari orang lain mendapatkan perhatian serius, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an, khususnya dalam QS. Luqman ayat 18. Ayat tersebut secara jelas memperingatkan manusia untuk menjauhi kesombongan dan keangkuhan, yang pada dasarnya sejalan dengan karakteristik NPD. Artikel ini bertujuan menganalisis Gangguan Kepribadian Narsistik (NPD) dari perspektif Al-Qur’an melalui kajian terhadap Tafsir Al-Manar atas QS. Luqman: 18. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif berbasis studi tafsir, penelitian ini mengeksplorasi keterkaitan antara ayat tersebut dengan fenomena NPD dalam konteks psikologi kontemporer. Tafsir Al-Manar yang disusun oleh Muhammad Abduh dan Rasyid Rida menyoroti bahwa kesombongan tidak hanya berdampak secara psikologis terhadap individu, tetapi juga dapat merusak tatanan sosial serta hubungan antarmanusia. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ajaran Islam melalui QS. Luqman: 18 dan penjelasannya dalam Tafsir Al-Manar menawarkan solusi spiritual dan praktis dalam mengatasi kecenderungan narsistik. Islam mendorong sikap tawadhu' (rendah hati), introspeksi diri, serta penguatan spiritual melalui dzikir, kontemplasi, dan pengendalian hawa nafsu. Penelitian sebelumnya juga mengungkap bahwa pendekatan berbasis nilai-nilai Islam dapat membantu mengurangi kebutuhan akan validasi eksternal dan meningkatkan kesejahteraan psikologis individu. Oleh karena itu, studi ini menekankan pentingnya mengintegrasikan pemahaman psikologi modern dengan ajaran Islam guna menciptakan pendekatan yang lebih menyeluruh dalam menangani gangguan kepribadian narsistik. Selain itu, temuan penelitian ini memberikan implikasi luas baik secara sosial maupun religius, yakni terbentuknya masyarakat yang lebih harmonis, menurunnya perilaku otoriter dan eksploitatif dalam kepemimpinan, serta terbangunnya hubungan antarindividu yang dilandasi empati dan ketulusan. Dengan demikian, penerapan nilai-nilai Al-Qur’an dan pengamalan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari dapat menjadi sarana yang efektif untuk mencegah dan menangani perilaku narsistik secara berkelanjutan.
Penafsiran Ayat-Ayat Kisah Penciptaan Nabi Adam Dalam Perspektif Tafsir Maqasidi Zaiyadi, Ahmad
Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Vol 8 No 2 (2025): Juni
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Wali Songo Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35132/albayan.v8i2.1278

Abstract

Artikel ini menjelaskan secara ekplisit tentang ayat-ayat kisah penciptaan Nabi Adam dengan perspektif Tafsir Maqasidi. Pembacaan ini sebagai rekontruksi atas kisah-kisah dalam al-Qur’an yang sering kali dianggap sebagai cerita-cerita yang melegenda saja. Padahal dalam kisah-kisah tersebut banyak sekali hikmah. maksud dan sirri didalamnya. Sehingga membahas tentang kisah penciptaan Nabi Adam yang ada dalam al-Qur’an dengan perspektif tafsir maqasidi sangat penting untuk membaca ulang ayat-ayat yang terkandung di dalamnya sampai masuk pada tahapan maksud (maqasidi) yang dikisahkan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan ayat-ayat kisah penciptaan Nabi Adam dengan perspektif Tafsir Maqasidi. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif studi pustaka. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penafsiran kisah penciptaan Nabi Adam dalam surat al-Baqarah ayat 30-34 perspektif Tafsir Maqasidi adalah bahwasanya Penciptaan Nabi Adam dari bentuk apapun tidak membedakan secara substansi kecuali memberikan manfaat dan dampak positif bagi lingkungan. Karena sesungguhnya Allah menciptakan Nabi Adam sebagai khalifah untuk melestarikan bumi dan kekhalifahan tersebut dilanjutkan generasi saat ini, jadi tugas manusia sebagai khalifah mengemban amanah untuk menjaga dan mengelolah bumi untuk diambil manfaatnya bukan dieksploitasi, walaupun generasi saat ini seringkali membuat kerusakan dimuka bumi, padahal mereka memiliki potensi mengetahui dampak dari kerusakan yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Penafsiran Imam Asy-Syaukani Tentang Mukāʾan Wa Tasdiyah (Analisis Semantik Toshihiko Izutsu) Syawalia, Zahiyah Tika; Hakiki, Kiki Muhamad; Masruchin, Masruchin
Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Vol 8 No 2 (2025): Juni
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Wali Songo Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35132/albayan.v8i2.1249

Abstract

This study examines the meaning of "mukāʾan wa tasdiyah" in the tafsir of Fathul Qadir by Imam Asy-Syaukani using Toshihiko Izutsu's semantic approach. he problem raised in this study is to explain in more depth the meaning of the word "mukāʾan wa tasdiyah" in the context of Asy-Syaukani's interpretation and to look at it from Toshihiko Izutsu's semantic analysis. The word "mukāʾan wa tasdiyah" in QS. Al-Anfal verse 35 describes the custom of polytheists who perform rituals around the Kaaba with whistling and clapping as a form of mockery of worship. The Qur'an clearly criticizes the practice as a worship that has no value of submission to Allah and is only a form of play without spiritual meaning. The method used in this study is a qualitative method (library research) and uses Toshihiko Izutsu's semantic analysis. The results of the study, through Izutsu's semantic analysis, it was found that the meaning of "mukāʾan wa tasdiyah" has shifted from neutral to negative nuances in the Qur'anic value system. The word "mukāʾan" means whistling, while "tasdiyah" means clapping hands, which in this context is used by polytheists to disrupt worship. Imam Asy-Syaukani in his commentary explained that this action not only shows an insult to Islamic worship, but also as a real effort to prevent Muslims from worshiping solemnly. Thus, this study highlights how Imam Asy-Syaukani interprets worship behavior carried out without submission to Allah and is strengthened by Toshihiko Izutsu's semantic analysis to obtain a deeper explanation and meaning.
Studi Kritis Terhadap Praktik E-Begging Dalam Tiktok Live Menurut Pemahaman Hadis Dan Prinsip Etika Sosial Pratama, Dicky Wahyu; Hasanah, Uswatun; Nadhiran, Hedhri
Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Vol 8 No 2 (2025): Juni
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Wali Songo Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35132/albayan.v8i2.1252

Abstract

Abstract The phenomenon of E-Begging in TikTok live streaming is increasingly becoming a concern in today's digital era. E-Begging, which is the practice of asking for help online, utilizes the live streaming feature to attract viewers and obtain virtual gifts as a form of support. This study aims to analyze this phenomenon from the perspective of the hadith, especially those related to ethics and morals in a social context (interpersonal relationships). In this study, a qualitative approach with thematic-conceptual methods was used to explore the meaning and awareness of the practice of E-Begging. The results of the study show that begging without an emergency is an act that is prohibited in Islam. The Prophet Muhammad ﷺ emphasized the importance of trying and seeking sustenance in a halal way. Therefore, the phenomenon of E-Begging not only reflects social problems such as poverty and economic instability, but also raises ethical questions regarding human dignity and values ​​in society. Through this study, it is hoped that the public can better understand the negative impacts of E-Begging and encourage discussions about more constructive solutions to help those in need without degrading their dignity. This study also recommends the need for collective awareness not to support practices that are detrimental both socially and morally.
Fenomena Brain Rot Dalam Perspektif Hadis: Analisis Dampaknya Terhadap Moralitas Remaja urwatulwutsqo, halwa; Ghifari, Muhammad; Ash, Abil
Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Vol 8 No 2 (2025): Juni
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Wali Songo Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35132/albayan.v8i2.1305

Abstract

Istilah brain rot ini biasa digunakan ketika menggambarkan pada penurunannya kondisi fungsi otak yang diakibatkan karena kebiasaan mengkonsumsi konten dalam sosial media yang sifatnya instan dan dangkal.. Kondisi seperti ini jika dibiarkan terus-menerus akan berdampak buruk sehingga mengakibatkan kerusakan otak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menelaah fenomena brain rot yang terjadi diera sekarang ini dalam perspektif Nabi Muhammad SAW, dan akan berfokus pada nilai-nilai ajaran Islam terkait pentingnya untuk menjaga kesehatan akal dan menjaga waktu. Adapun metode yang akan digunakan pada artikel ini adalah menggunakan studi kepustakaan dengan pendekatan tematik, yaitu mengumpulkan serta menganasis hadis-hadis yang berkaitan pada kesehatan akal dan waktu. Pada penelitian ini menunjukkan bahwa Islam sangat menekankan umatnya untuk senantiasa menjaga akal dan memanfaatkan waktu dengan baik. Kata Kunci: Brain rot, media sosial, hadis, akal, waktu.
Dinamika Kodifikasi Hadis: Analisis Peran Ulama dan Metodologi Pembukuan Hadis pada Abad Awal Islam kamaludin, kamaludin
Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Vol 8 No 2 (2025): Juni
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Wali Songo Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini menganalisis proses monumental Kodifikasi Hadis pada abad awal Islam, fokus pada dua pilar utamanya: peran sentral para ulama dan arsitektur metodologis yang mereka kembangkan. Kontribusi utama studi ini adalah menyajikan analisis terintegrasi yang menunjukkan bahwa kodifikasi Hadis merupakan proyek ilmiah kolektif yang berhasil diselenggarakan berkat sinergi antara otorisasi politik (instruksi Khalifah Umar bin Abdul Aziz) dan pengembangan metode kritik sanad dan matan oleh para ulama. Awalnya, transmisi hadis dominan secara lisan. Namun, kekhawatiran akan hilangnya Hadis akibat wafatnya para penghafal dan maraknya pemalsuan mendesaknya perlunya pembukuan sistematis. Titik balik resminya adalah instruksi visioner Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Studi ini menelaah kontribusi ulama perintis seperti Imam Az-Zuhri, Ibnu Juraij, dan Imam Malik, serta generasi setelahnya (termasuk Imam Bukhari dan Imam Muslim) dalam menghimpun dan mengklasifikasikan. Pembahasan metodologis meliputi model Musannaf (berbasis tema fikih), Penelitian ini menganalisis proses monumental Kodifikasi Hadis pada abad awal Islam, fokus pada dua pilar utamanya: peran sentral para ulama dan arsitektur metodologis yang mereka kembangkan. Kontribusi utama studi ini adalah menyajikan analisis terintegrasi yang menunjukkan bahwa kodifikasi Hadis merupakan proyek ilmiah kolektif yang berhasil diselenggarakan berkat sinergi antara otorisasi politik (instruksi Khalifah Umar bin Abdul Aziz) dan pengembangan metode kritik sanad dan matan oleh para ulama. Awalnya, transmisi hadis dominan secara lisan. Namun, kekhawatiran akan hilangnya Hadis akibat wafatnya para penghafal dan maraknya pemalsuan mendesaknya perlunya pembukuan sistematis. Titik balik resminya adalah instruksi visioner Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Studi ini menelaah kontribusi ulama perintis seperti Imam Az-Zuhri, Ibnu Juraij, dan Imam Malik, serta generasi setelahnya (termasuk Imam Bukhari dan Imam Muslim) dalam menghimpun dan mengklasifikasikan. Pembahasan metodologis meliputi model Musannaf (berbasis tema fikih), Musnad (berdasarkan perawi sahabat), dan Jami' (komprehensif), yang disertai dengan standardisasi kritik sanad dan matan yang ketat. Hasil kajian menegaskan bahwa proses kodifikasi ini berhasil menjaga keotentikan hadis, menyingkirkan riwayat palsu, dan menciptakan disiplin ilmu hadis yang terstandardisasi, menjadikannya warisan abadi bagi umat Islam. Musnad (berdasarkan perawi sahabat), dan Jami' (komprehensif), yang disertai dengan standardisasi kritik sanad dan matan yang ketat. Hasil kajian menegaskan bahwa proses kodifikasi ini berhasil menjaga keotentikan hadis, menyingkirkan riwayat palsu, dan menciptakan disiplin ilmu hadis yang terstandardisasi, menjadikan warisan abadi bagi umat Islam.
Analysis of ANALYSIS OF THE METHODOLOGY OF HADITH UNDERSTANDING IN THE THOUGHTS OF YUSUF AL-QARADAWI AND K.H. ALI MUSTAFA YA'QUB: Methodological study on the approach to understanding hadith by two contemporary scholars Khairunnisa, Ni’mah; Maimonah, Sri Maimonah; Kholiq Hasan, Moh. Abdul
Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Vol 8 No 2 (2025): Juni
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Wali Songo Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35132/albayan.v8i2.1558

Abstract

Hadis, yang memuat perkataan, tindakan, atau keputusan Nabi, tidak muncul tanpa latar belakang. Perubahan dan perbedaan kondisi setelah hadis muncul secara tidak langsung memengaruhi tingkat keasliannya. Oleh karena itu, mengembangkan cara memahami hadis dan mengadaptasi pemahamannya dengan situasi kontemporer menjadi krusial. Yusuf Al-Qaradawi dan KH Ali Mustafa Ya'qub adalah dua tokoh terkemuka dalam studi hadis kontemporer. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi metodologi pemahaman hadis kedua tokoh tersebut dan menganalisis persamaan serta perbedaan metodologinya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan penelitian kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Yusuf Al-Qaradawi dikenal dengan pendekatannya yang berbasis pada maqāṣid al-sharī'ah (tujuan hukum Islam), sementara KH Ali Mustafa Ya'qub menekankan keaslian hadis melalui kritik sanad dan matan. Pemikiran keduanya menjadi inspirasi bagi akademisi dan ulama kontemporer untuk senantiasa menjaga kemurnian hadis sekaligus menghidupkannya sebagai sumber nilai moral, sosial, dan spiritual.
Flexing Sebagai Personal Branding Dalam Al-Qur’an: Aplikasi Teori Tafsir Maqāṣid Abdul Mustaqim Agustin, Bela; Badi’ah, Siti; Hendro, Beko
Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Vol 8 No 2 (2025): Juni
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Wali Songo Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini menganalisis penafsiran dan pemahaman ulama terhadap ayat-ayat terkait flexing, serta mengkaji korelasinya melalui teori Tafsir maqāṣidi Abdul Mustaqim. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan tafsir maudhui, menganalisis ayat-ayat Al-Qur’an yang relevan dengan konsep flexing dan personal branding seperti surah Al-Qashash [28] 76, Al- Isra' [17]: 37, Yusuf [12]: 55, Luqman [31]: 18, dan Al-Ahzab [33]: 21. Artikel ini membahas tentang etika flexing dalam personal branding berdasarkan lima aspek maqāṣid al-syari’ah: ḥifẓ al-mal, ḥifẓ al-nafs, ḥifẓ al-‘aql, ḥifẓ al-naṣab, dan ḥifẓ al-din. Temuan penelitian menunjukkan bahwa, flexing sebagai personal branding dapat diterima dalam Islam jika memenuhi prinsip maqāṣid syariah, yakni menjaga harta (ḥifẓ al-mal), jiwa (ḥifẓ al-nafs), akal (ḥifẓ al-‘aql), keturunan (ḥifẓ al-naṣab), dan agama (ḥifẓ al-din). Flexing yang bertujuan menginspirasi, memotivasi, mensyukuri nikmat Allah, atau memberikan edukasi kepada masyarakat dapat menjadi strategi personal branding yang baik. Flexing yang berlebihan dan tidak berdasarkan nilai maqāṣid dapat merusak hubungan sosial dan spiritual, sedangkan flexing yang sehat dan berdasarkan nilai dapat menjadi strategi personal branding yang etis dan bermakna. Adapun kebaruan penelitian ini, terletak pada aplikasi teori tafsir maqāṣidi Abdul Mustaqim dalam menganalisis fenomena kontemporer flexing sebagai personal branding perspektif Al-Qur’an. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pemahaman tentang bagaimana membangun personal branding yang positif dan Islami, serta menghindari dampak negatif dari flexing.

Page 1 of 1 | Total Record : 10