cover
Contact Name
Hartono, M.Pd.I
Contact Email
yudipoday@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
yudipoday@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. situbondo,
Jawa timur
INDONESIA
Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist
ISSN : 26213699     EISSN : 26152568     DOI : -
Core Subject : Religion,
Al Bayan: adalah Jurnal Ilmu Al- Qur'an dan Ilmu Hadist yang diterbitkan oleh LPPM STIQ Wali Songo Situbondo dua kali dalam satu tahun yaitu pada bulan januari dan juli. Jurnal ilmiah yang kami kelola memuat tema seputar Al Qur'an dan Hadist dan kajian-kajian keislaman lainnya.
Arjuna Subject : -
Articles 263 Documents
Interaksi Dan Resepsi Masyarakat Bondowoso Terhadap Al Qur’an Ulum, Khoirul; Roziqin, Ahmad Khoirur
Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Vol 7 No 2 (2024): 2024
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Wali Songo Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35132/albayan.v7i2.849

Abstract

Studi mengenai Living Qur’an merupakan studi al-Qur’an yang tidak hanya bertumpu pada eksistensi tekstualnya, melainkan studi tentang fenomena sosial yang lahir terkait dengan kehadiran al-Qur’an dalam wilayah geografi tertentu dan mungkin masa tertentu pula. Kajian living al-Qur’an semakin menarik seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat Islam terhadap ajaran agamanya. Kita banyak menjumpai kegiatan-kegiatan keagamaan, baik di tempat-tempat tertentu seperti masjid maupun di media cetak dan elektronik. Penelitian ini mengangkat tema “Pembacaan dan Pemaknaan Al-Qur'an (Studi Masyarakat Bondowoso). Sebagai upaya dan aplikasi kajian living al-Qur’an. Lokasi yang menjadi focus kajian adalah di Kabupaten Bondowoso. Kajian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, yaitu penelitian kepustakaan (library research) dan penelitian lapangan (field research) sekaligus. Sumber utama penelitian ini adalah ayat-ayat al-Qur’an yang hidup dalam masyarakat berupa fenomena prilaku maupun respons lainnya sebagai pemaknaan terhadap ayat tersebut. Sedangkan sumber sekundernya dapat berupa literatur- literatur pendukung sumber primer. Berdasarkan kajian mengenai Interaksi dan Resepsi Masyarakat Bondowoso terhadap Al-Qur'an, maka terdapat beberapa kesimpulan bahwa interaksi dibagi menjadi dua moment, yaitu rutinan dan moment insidental menyesuaikan hajat (kebutuhan). Pelaksanaan tersebut terdiri dari berbagai bentuk dan model-model ritual pembacaan al-Qur’an meliputi: (1). Khataman al-Qur’an. (2). Yasinan. (3). Tahlilan. Sedangkan resepsi dari interaksi tersebut terdapat tiga makna. Diantaranya; sebagai kitab bacaan mulia, obat hati dan sarana perlindungan dari bahaya siksa di hari akhir. Tiga makna tersebut, tidak mesti berjalan secara bersamaan, dan terkadang mempunyai makna bersamaan sekaligus.
Kisah Khaulah Bint Ṡa’labah (Studi Qs. Al-Mujādalah (58): 1-4) Perspektif Maqāsid Al-Qur’ān Rasyīd Riḍā Rohman, Lailur; Rohmah, Husnur
Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Vol 7 No 2 (2024): 2024
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Wali Songo Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35132/albayan.v7i2.908

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap Maqāsid Al-Qur’ān perspektif Rasyīd Riḍā. Karena luasnya penelitian, penulis mengambil sampel pada QS. al-Mujādalah (58): 1-4), spesifikasi tersebut dipakai penulis untuk menelisik Maqāsid Al-Qur’ān perspektif Rasyīd Riḍā. Penelitian ini merupakan penelitian pustaka dengan menggunakan metode tematik surah serta pendekatan Maqāsid Al-Qur’ān perspektif Rasyīd Riḍā. Ada dua rumusan masalah utama dalam penelitian ini, yakni: Bagaimana penafsiran QS. al-Mujādalah (58): 1-4, 2. Bagaimana pandangan Islam terhadap perempuan dalam konteks kesetaraan gender melalui kisah Khaulah bint Ṡa’labah perspektif maqasid Rasyīd Riḍā. Melalui penelitian ini, lanskap Maqāsid Al-Qur’ān perspektif Rasyīd Riḍā teruraikan. Hasil dari penelitian ini adalah pertama, penafsiran dari QS. al-Mujādalah (58): 1-4 adalah bahwasanya surah tersebut turun berdasarkan seorang perempuan yang bernama Khaulah yang merasa ditindas oleh suaminya yang kemudian dia mengajukan gugatan atas tindakan suaminya tersebut, kedua, Dalam kisah Khaulah bint Sa’labah diatas, Al-Qur’an tidak pernah menggambarkan seorang perempuan dalam bentuk fisiknya yang mana hal ini juga membuktikan betapa berharganya perempuan dalam Islam. Dan hal itu selaras dengan pemikiran maqasid Al-Qur’an perspektif Rasyid Ridha yang juga tentang bagaimana Al-Qur’an menyikapi seorang perempuan
Munasabah Al-Qur’an Perspektif Pendidikan Islam Afifah, Qorina Khoirul
Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Vol 8 No 1 (2025): 2025
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Wali Songo Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35132/albayan.v8i1.467

Abstract

Knowledge of the Qur'an also known as "Ulumul Qur'an" arises as a result of a Muslim's contact with it, either by reading or studying it. The science known as Ulumul Qur'an studies all things related to the Qur'an. 'A. In 'Ulumul Qur'an, there are several branches that will continue to develop as long as the Qur'an is studied. Munasabah Al-Qur'an is one of the branches of 'Ulumul Qur'an. This essay is written using a literary study approach with the intention of revealing everything about the munasabah of the Qur'an from the point of view of Islamic Education in Indonesia. In order to understand the Qur'an as a whole and holistically (holistically), one of the ulumul al-Qur'an known as munasabah explains how the elements of the Qur'an are interconnected or integrated. The goals and curricula of Islamic education in Indonesia show how important the munasabah of the Qur'an is for the practice of Islam in that country
Pemikiran Muhammad Syahrur; Theory of Limit ( Teori Batas) Siagian, Roihatul Jannah; Zulheldi, Zulheldi
Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Vol 8 No 1 (2025): 2025
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Wali Songo Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35132/albayan.v8i1.765

Abstract

Muhammad Syahrur, seorang pemikir Islam modern, mendorong untuk memperbaharui dan memeriksa kembali ajaran Islam. Namun, fokusnya hanya pada cara orang saat ini memahami teks-teks suci. Tidak hanya penafsiran dari ulama zaman dahulu, tapi juga penafsiran dari ulama modern berbeda-beda bahkan bertentangan, meskipun merujuk pada ayat-ayat Al-Qur'an yang sama. Tulisan ini membahas tentang teori limit (batas). Muhammad Syahrur menjelaskan bahwa ketika ada hal pencurian, hukumannya dapat berupa pemotongan, baik secara fisik maupun non-fisik, menurut makna kata "qatha‘a". Penelitian ini ingin tahu tentang cara orang di zaman sekarang memandang hukuman pencurian, khususnya potong tangan, yang dianggap sangat kejam karena membuat pelaku menjadi cacat seumur hidup. Penelitian ini menggunakan sumber-sumber seperti buku dan artikel untuk memahami pemikiran Muhammad Syahrur tentang hukum Islam terkait pencurian. Metode penelitian ini adalah membaca dan menganalisis literatur-literatur yang ada. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Syahrur melihat kata "qata'a" dalam konteks pencurian bisa berarti pemotongan secara fisik maupun non-fisik. Menurut Syahrur, pemotongan fisik adalah hukuman maksimal yang bisa diberikan, sementara pemotongan non-fisik adalah mencabut kekuatan atau kemampuan tangan pencuri dengan mengurungnya di penjara.
Relasi Jilbab Dan Akhlak Bagi Wanita Dalam Perspektif Hadis Sari, Septa Vadillah; Hasanah, Uswatun; Nadhiran, Hedhri
Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Vol 8 No 1 (2025): 2025
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Wali Songo Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35132/albayan.v8i1.828

Abstract

Abstrak Mengenakan jilbab dan akhlak adalah dua hal yang berbeda. Akhlak adalah perilaku manusia yang sangat dituntut untuk memiliki moral yang baik oleh ajaran islam. Jilbab adalah kewajiban murni perintah dari Allah SWT. Baik buruk perilaku seseorang ketika ia sudah baligh maka wajib mengenakan jilbab. Jilbab dan akhlak bertujuan untuk sebuah kebaikan, dengan menggunakan jilbab seorang wanita muslimah dapat membawa hakikat dan derajatnya di mata kalangan umum sebagai wanita yang perlu dihargai dan dihormati, dapat memperlihatkan sebuah karakter pengendalian diri an juga akhlak yang baik dengan adanya rasa keislaman yang tinggi, seorang muslim yang memakai jilbab juga akan mampu membawa dirinya kepada sebuah kebenaran dan mana yang sedang berproses untuk diluar kebenaran yang sesuai dengan ajaran islam itu sendiri, dengan demikian keberkahan akan selalu ada pada seorang wanita muslimah yang berjilbab dan juga akan selalu terjaga sebagai seorang yang terhormat dan berakhlak mulia. Namun, keduanya bisa dikatakan memiliki keterkaitan satu sama lain. Jurnal ini dibuat untuk mengkaji lebih dalam mengenai relasi atau keterkaitan antara jilbab dan akhlak wanita muslimah dari perspektif hadis rasulullah SAW. Metode yang digunakan dalam penulisan artikel ini adalah metode studi pustaka, karena peneliti melakukan dengan mengumpulkan sumber-sumber kepustakaan dari Al-Qur’an, Hadits, buku dan jurnal. Dari sumber yang sudah ditemui akan dibaca dan dikutip sehingga mendapatkan informasi untuk ditarik menjadi kesimpulan. Hasil dari penelitian ini menyimpulkan bahwa Jilbab tidak hanya menjadi identitas wanita muslimah tapi juga menjadi pelindung, pembatas dan benteng bagi wanita untuk bersikap dan bertingkah laku. Jilbab menjadi salah satu sarana yang dapat mengantar wanita kepada akhlakul karimah. karena dengan berhijab seseorang lebih mudah untuk mengontrol dirinya dan menghindari segala perilaku buruk sehingga ia akan senantiasa berada dalam kondisi mengikuti perintah agama. Kata Kunci : Jilbab, Akhlak, Hadis
Perspektif Al-Qur’an Tentang Tipologi Anak Dan Cara Menyikapinya Mahmud, Basri; Jamaluddin, Jamaluddin; Mujahid, Mujahid
Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Vol 8 No 1 (2025): 2025
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Wali Songo Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35132/albayan.v8i1.950

Abstract

This research aims to uncover the meaning of "child" and its typology from the perspective of the Qur'an. This study is descriptive qualitative in nature and employs the thematic interpretation method. The data used consists of primary data in the form of Qur'anic verses and secondary data related to this topic. The data is processed through a series of steps including reduction, data presentation, and verification until a conclusion is reached. The research findings show that the terminology for "child" in the Qur'an appears in various forms. For instance, the word zurriyyah is mentioned 32 times, walad 62 times, ghulam 13 times, al-Sabiy 2 times, al-Tiflu 4 times, al-Bintu and its variants are mentioned 17 times, and ibn along with its derivatives appears 112 times. The word walad has a broader meaning as it encompasses all types of children, unlike the word ibn, which also means "child" but is specifically used to refer to a male child, while a female child is referred to as ibnah. The word ghulam focuses on a child who has reached maturity, al-sabiy refers to a child who has not yet reached puberty, while al-tifl refers to a child younger than one called al-Sabiy. As for the typology of children from the Qur'anic perspective, children can be an obstacle or an enemy if they prevent someone from doing good deeds. They are also described as ornaments of the world, meant to be a means for parents to perform righteous acts. Additionally, children are a test from Allah to examine how parents treat them. On the other hand, righteous children who are obedient to Allah and devoted to their parents bring comfort and peace to the heart.
Menggali Konsep Inklusi Dalam Al-Qur'an: Implikasinya Bagi Pendidikan Modern Wijaksono, Agung; Hartono, Hartono
Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Vol 8 No 1 (2025): 2025
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Wali Songo Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35132/albayan.v8i1.958

Abstract

This study aims to explore the concept of inclusion in the Qur'an and examine its implications for the development of a more holistic and equitable modern education system. Inclusive education is often understood in the context of accessibility and equal opportunities, yet the Qur'an offers a more comprehensive approach, emphasizing social justice, appreciation of diversity, and the formation of spiritual character. The inclusive values in the Qur'an implicitly teach a balance between moral, spiritual, and intellectual aspects within the educational process. The study focuses on two primary objectives: first, to identify the principles of inclusion in the Qur'an; and second, to integrate these principles into the framework of modern education. The research employs a qualitative method with a thematic interpretation (maudhu'i) of Qur'anic verses related to inclusion, supported by a hermeneutic approach to understand the text's meaning in the context of contemporary education. The findings indicate that inclusion in the Qur'an not only refers to physical equality or learning opportunities but also to efforts in shaping individuals with strong social responsibility, spiritual awareness, and a deep sense of justice. The concepts of piety, respect for diversity, and social justice serve as relevant foundations for application in the current education system. These findings offer a new, significant perspective for formulating more inclusive educational policies based on Islamic spiritual and ethical values.
Fonologi Al-Qur'an pada Keserasian Bunyi dalam Surah Maryam: Analisis Bunyi Vokal dan Konsonan Ferawati, Ferawati; Robbani, A. Syahid; Khalifah, Chyntia Annas; Afidati, Azri
Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Vol 8 No 1 (2025): 2025
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Wali Songo Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35132/albayan.v8i1.961

Abstract

The beauty of verses within the Qur’an always invites admiration from anyone who recites and hears it. One of the Qur’an prominent beauty is its linguistic aspects, particularly harmonious sounds that make its reciters and listeners not want to stop. This research aims to reveal the phonological beauty of the Quranic sounding harmony, mainly in Surah Maryam. This study is library research using the Qur’an as primary data. At the same time, the secondary sources are articles in some journals, books, and other library resources. Data were collected using the documentation technique of data collection, then analyzed using coding and descriptive analysis. This research result indicates that the sound harmony within Surah Maryam is in the endings of the 97 verses out of 98. Only the first verse was not harmonious in sound because it contained Muqatha’ah Letters. In addition, sounding harmony in the Qur’an is not necessarily in the endings of each verse, but it could also be in the number of vowels and consonants in each rhyme. Moreover, the sound harmonies functioned as a mark for those not memorizing the Qur'an (reciter or listener) to recognize parts of Surah Maryam.
Menyelusuri Makna Tersembunyi: Identifikasi Asbāb Al-Nuzul Dan Implikasinya Dalam Tafsir Al-Qur'an Bariroh, Roikhatul Jannatul; Nimah, Rodhotun
Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Vol 7 No 1 (2024): 2024
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Wali Songo Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35132/albayan.v7i1.1073

Abstract

Asbab al Nuzul has been widely used by commentators to understand the verses of the Qur'an. So it is necessary for a commentator to be able to analyze the validity of the Asbāb al Nuzul in the Qur'an. Research with this descriptive analysis method yields an understanding Asbāb al-nuzul is a notification or news about the revelation of a verse either regarding an incident or a question, namely when an event occurs and the Qur'an is revealed about it. Second, when Rasulullah SAW. asked about something and sent down the Qur'an which explains the law. To find Asbāb al-nuzul verse, it is necessary to pay attention to the first, the revelation is based on the validity of the history of the Prophet Muhammad. or to friends. Second, if the history is taken before it is transmitted to a friend, if it is from tabi'in, then it is considered marfu' but mursal, and it can also be accepted if the sanad is correct. Third, many interpreters mentioned the reason for the revelation of the verse with a different way of reference, namely by looking at its expression. The difference in the number of verses in the Qur'an is that there are seven well-known opinions mentioned in the book al-Bayᾱn fῑ 'adῑ al-Qur'ᾱn. Namely Al-Madanῑ al-Awwal: In the kufic narrations of Madina experts there are 6,217 verses. While in the history of ahlul Basrah there are 6,214 verses, Al-Madanῑ al-Akhῑr: 6,214 verses, Al-Makkῑ: 6,210 verses, Al-Baṣrῑ: 6,204 verses, Al-Dimashqῑ: 6,227 and it says 6226 verses, Al-Ḥamṣῑ: 6,232 verses, Al-Kūfῑ : 6,236 verses. According to al-Suyūťi there are 591 verses, and according to Al Wahidi there are 715 verses that have Asbāb al-Nuzūl. If disensenkan around 9-10%. So that it can be concluded that not all verses in the Qur'an have a cause for Nuzul, even though they are considered important they cannot arbitrarily take events at the time of the Prophet to serve as the cause for the revelation of a verse.
Konsep Nasionalisme Dalam Al-Qur’an ‘Asyiqulloh, Ahmad Tsiqqif; Fuada, Noviani Lu’luatul
Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Vol 8 No 1 (2025): 2025
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Wali Songo Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35132/albayan.v8i1.1097

Abstract

Artikel ini membahas tentang konsep nasionalisme dalam Al-Quran. Konsep ini merupakan konsep cinta tanah air yang telah dianjurkan dalam Al-Quran. Proses mencari konsep nasionalisme ini dilakukan dengan mengumpulkan ayat-ayat yang berkaitan dengan cinta tanah air. Khususnya dalam metodologi tafsir maudhu’i. Mengumpulkan ayat-ayat dengan secara tematik. Artikel ini merupakan penelitian tematik berwajah kualitatif dengan menggunakan sumber penelitian primer, ayat Al-Quran dan sumber sekunder, bahan bacaan tentang nasionalisme. Kemudian hasil penelitian disajikan dengan naratif-analitis dari beberapa contoh ayat-ayat Al-Quran sebagai bentuk implementasi teori dan penguatan pemahaman.