cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. serang,
Banten
INDONESIA
Jurnal Membaca Bahasa dan Sastra Indonesia
ISSN : 24433918     EISSN : 25804766     DOI : -
Jurnal Membaca memuat hasil penelitian yang berkaitan dengan pengembangan bahasa dan sastra Indonesia.
Arjuna Subject : -
Articles 207 Documents
GEJALA KESALAHAN PELAFALAN FONEM DALAM BAHASA INDONESIA PADA SISWA KELAS AWAL SEKOLAH DASAR (Studi Kasus di Kabupaten Pandeglang) Lela nurfarida
Jurnal Membaca Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 2, No 1 (2017): Jurnal Membaca (Bahasa dan Sastra Indonesia)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (784.219 KB) | DOI: 10.30870/jmbsi.v2i1.1555

Abstract

Indonesian language errors in the phonological level can occur either the use of language orally or in writing. Most of the Indonesian language errors in the phonology level are related to pronunciation. Primary School is the first place to acquire a second language after the mother tongue as its first language. These conditions can affect the linguistic situation of students, especially in the early classes. Therefore, there is a high probability of error in language in this case phonology as an early part of the introduction of letters to the students. In the early grades of elementary school in Pandeglang area, especially the early classes, many people make mistakes in pronunciation of several letters of Indonesian alphabet such as phoneme / b /, / c /, / d /, / f /, / v /, / r /, / S /, / t /, / z /. The cause of the error can occur. This research was conducted by using the reading skill study method at the elementary school students in Pandeglang District. The results of the study showed that each student who was sampled for an Asses reading ability showed the same symptom of error on pronunciation of phonemes / b /, / c /, / d /, / f /, / v /, / r /, / s / , / T /, / z /. The condition is closely related to the acquisition of language performed by the environment and the ability of mastery in the mother tongue.
PEMBELAJARAN MENULIS TEKS PIDATO DENGAN MODEL THINK TALK WRITE DI KELAS IX SMP NEGERI 6 KOTA SERANG Meti Istimurti
Jurnal Membaca Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 1, No 2 (2016): Jurnal Membaca (Bahasa dan Sastra Indonesia)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (997.695 KB) | DOI: 10.30870/jmbsi.v1i2.2732

Abstract

Writing activities are an integral part of the whole process of learning Indonesian language and literature. Facing the teaching of writing, especially writing text to speech many students are looking at a difficult activity. The work was undertaken in SMP Negeri 6 Serang. The research was conducted in January – the beginning of March 2015. The subjects were students of class IX B totaling 38 people, as the recipient of the action, with the consideration of this class is a class whose average value is lower than the write another class. The perpetrator is a teacher Indonesian IX class, and assisted by other teachers as observers. The data used in this research is the process of learning to write text to speech talk think write the model and student learning outcomes in the form of a product according to the text of a speech that indicators of success. This study uses classroom action research (Classroom Action Research). Collecting data in this study was conducted through literature review, observation, field notes, drawings and performance assessment. The data analysis is done collaboratively, since the study began, during the action takes place, and developed during the process of reflection to the preparation of the report. Data analysis technique used is an interactive model according to Huberman, namely data reduction, data presentation, and conclusion. In this study, the conclusions obtained the ability to write text to speech class IX students of SMP Negeri 6 Serang said is still lacking, this is evidenced by the results of tests of creative writing with an average value of 58.40. The use of models of instructional talk think write may actually enhance the ability to write text to speech class IX students of SMP Negeri 6 Serang city, this is evidenced by the achievement of the average value has increased. In the first cycle the average value reached 64.86 and the second cycle the average yield reached 74.56 value. Likewise the achievement of mastery learning creative writing, has increased significantly from 20.05% in prasiklus, 43.10 and 86.64 in the first cycle in the second cycle.
Dualitas Das Verstehen dan Das Leben dalam Sajak (Sebuah Catatan Hermeneutis Membaca Buku Kumpulan Puisi “Seperti Bukan Cinta” Karya Arip Senjaya) Hudjolly Hudjolly
Jurnal Membaca Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 4, No 1 (2019): Jurnal Membaca (Bahasa dan Sastra Indonesia)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1822.841 KB) | DOI: 10.30870/jmbsi.v4i1.6239

Abstract

Ruang hidup dapat dimengerti karena adanya kemampuan memahami. Kita bisa memahami ”Seperti Bukan Cinta” dalam seluk beluknya yang berpusat pada keremeh temehan. Di dalamnya ada dualitas das Leben dan das Verstehen. Dualitas ini menghantarkan pembaca untuk mengerti, memahami keremehan peristiwa sebagai bagian dari hidup. Dualitas ini menghantarkan pemahaman pada ruang hidup pengarang “Seperti Bukan Cinta” yang terbagi dalam kuadran-kuadran.
SHEL SILVERSTEIN: PENGALAMAN PENERJEMAHAN PUISI Arip Senjaya
Jurnal Membaca Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 2, No 2 (2017): Jurnal Membaca (Bahasa dan Sastra Indonesia)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (535.558 KB) | DOI: 10.30870/jmbsi.v2i2.2714

Abstract

Melalui esai ini saya akan berbagi pengalaman tentang menerjemahkan puisi dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia. Pengalaman penerjemahan kali ini mengisahkan (1) pengalaman memahami bahasa Inggris dalam konteks puisi asli dan terjemahannya, (2) penggunaan kata dan atau idiom sepadan dalam bahasa Indonesia yang adu-tawar karena ruang budaya bahasa sasaran yang berubah dan harus diputuskan oleh “pengalawan sastrawi” penerjemah sebagai yang—secara subjektif—tahu apresiator bahasa sumber, (3) mengisahkan tentang kreativitas penulisan puisi di Indonesia dan dunia yang bersinggungan sehingga penerjemah dapat membangun rasa percaya diri jika dalam bahasa sasaran terdapat kecenderungan kreativitas yang sama: bahwa penyair dari berbagai belahan dunia sesungguhnya adalah dalam satu bahasa estetik yang sama.
PUISI DAN AURAT Arip Senjaya
Jurnal Membaca Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 3, No 2 (2018): Jurnal Membaca (Bahasa dan Sastra Indonesia)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1856.544 KB) | DOI: 10.30870/jmbsi.v3i2.5238

Abstract

Esai ini paling tidak berguna bagi saya khususnya untuk mencari tahu (1) kapan puisi pertama manusia lahir? Pertanyaan ini disertai manusia sebab tentu kata-kata Tuhan dalam versi manusia sering juga disebut puisi—Alquran, misalnya, sering pula dianggap suatu puisi. Bahasa Tuhan yang tidak tertulis, seperti keindahan alam, sering juga dinilai puitik. Karena pertanyaan pertama tentang manusia, maka (2) Siapa penyair pertama di tingkat manusia itu? dan (3) Apa konsekuensinya bagi sejarah perkembangan manusia dan puisi itu sendiri? Dari sejak awal spekulasi, bahwa sejarah puisi tidak akan jauh dari sejarah penciptaan manusia, ternyata benar saya temukan dalam salah satu sumber yang mengklaim kata-kata Adam pertama kali sebagai puisi. Sumber tersebut akan dibahas pada bagian selanjutnya. Tapi dengan membaca sumber tersebut dan sumber lainnya sebenarnya persoalan ini memperkembangkan banyak hal di luar tema manusia dan puisi, misalnya tentang penciptaan, dan ini mungkin tema klasik dalam diskusi teologi, tapi semoga tidak terasa begitu bagi para pecinta puisi. Tidak salah kiranya jika bagian-bagian yang meluas itu dihadirkan pula sehingga esai ini bertahan sebagai esai: sebuah obrolan ketimbang penyelidikan akademik metodologis.
ANALISIS SEMIOTIKA DALAM PUISI TERJEMAHAN “AKHIR BELASUNGKAWA” KARYA ROLAND REUTENAUER Ade Husnul Mawadah
Jurnal Membaca Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 2, No 2 (2017): Jurnal Membaca (Bahasa dan Sastra Indonesia)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (539.34 KB) | DOI: 10.30870/jmbsi.v2i2.2704

Abstract

Penelitian ini berbicara drama sebagai genre sastra, salah satu kegiatannya yaitu menganalisis unsur intrinsik naskah drama, dalam prosesnya memerlukan pendekatan proses kerja yang sistematis dan objektif dengan landasan berpikir logis. Tidak heran apabila siswa sering terjebak pada kerangka berpikir bahwa menganalisis dianggap pembelajaran yang rumit dan sulit. Sebagai usaha perbaikan permasalahan tersebut, pemilihan model pembelajaran yang tepat dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan menganalisis unsur intrinsik naskah drama salah satunya melalui penggunaan model pembelajaran Problem Based Learning. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) terhadap kemampuan menganalisis unsur intrinsik siswa kelas XI SMAN 17 Pandeglang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen dengan teknik sampel purposive sampling. Dari hasil penelitian yang dilakukan menunjukan bahwa model pembelajaran Problem Based Learning dalam pembelajaran menganalisis unsur intrinsik drama masuk dalam kategori baik. Kesimpulan tersebut diambil hasil tes pada akhir pembelajaran. Hasil pengolahan data kemampuan menganalisis unsur intrinsik naskah drama siswa, diperoleh nilai tertinggi adalah 88 dan nilai terendah 53, sedangkan mean/rata-rata 68,1, modus 62,5, median 67,07 serta memiliki nilai simpangan baku 9,04.
UPAYA MEMARTABATKAN BAHASA INDONESIA MELALUI PENINGKATAN MUTU BAHASA, SASTRA, DAN PENGAJARANNYA Aceng Hasani; Erwin Salpa Riansi
Jurnal Membaca Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 3, No 1 (2018): Jurnal Membaca (Bahasa dan Sastra Indonesia)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (685.909 KB) | DOI: 10.30870/jmbsi.v3i1.3748

Abstract

Berkait dengan pemelajaran, selama ini masyarakat menilai pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di sekolah kurang menujukan hasil baik. Dalam hal ini tentunya ada faktor guru dan siswa yang kurang memilikipengalaman berbahasa yang baik. Di antaranya kemampuan menulis yang kurang memadai, kebiasaan membaca yang tidak mentradisi, kurang mahir berbicara serta belum mampu mengapresiasi dan berekspresi sastrasesuai dengan harapan.
BAHASA INDONESIA DAN DAERAH DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN DI BANTEN Dase Erwin Juansah
Jurnal Membaca Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 1, No 1 (2016): Jurnal Membaca (Bahasa dan Sastra Indonesia)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (449.796 KB) | DOI: 10.30870/jmbsi.v1i1.1654

Abstract

Indonesian  Language  has  two  positions,  namely  as  the  national  language  and  the language of the State. In his position as the national language, Indonesian Language serves as a symbol of national pride, a symbol of national identity and as a means of communication between peoples, inter-region and intertribe. Meanwhile, as the language of the state serves as the language of instruction in educational institutions, official state language, national cultureof developer tools, science and technology. The Political Language Seminar in 2000 decided that the position of regional languages serve as a symbol of regional pride, regional identity and local community relations. The presence of Indonesian and regional languages at the present time has begun to erode in the presence of a foreign language. At least, the languageusers  are  no  longer  using  language  appropriate  to  the  place  and  the  circumstances. Sometimes in a formal situation, people are using foreign languages or regional languages, although the situation is demanding to use Indonesian. The same thing happened in the contextof education in Banten province, the vast majority of students and educators in the teaching and learning process in the classroom often use or mix the language with the local language in Indonesian or foreign language. One of the factors that caused the decline in the vitality ofIndonesian Language in society and in educational institutions is the linguistic competence of the speakers, thus when doing communication, they mix or even leave Indonesian Language.
SEMIOTIKA DALAM PUISI HUJAN BULAN JUNI KARYA SAPARDI DJOKO DAMONO Deden Much. Darmadi
Jurnal Membaca Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 3, No 1 (2018): Jurnal Membaca (Bahasa dan Sastra Indonesia)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (697.999 KB) | DOI: 10.30870/jmbsi.v3i1.3706

Abstract

Poetry is a tool to express the feeling, idea, and imagination in the form of written language. For understanding the meaning of a poetry is needed a research, this research will help someone to understand the meaning of poetry. There are many approach to understand the poetry. The approach is should be appropriate with the neoessityin understanding the poetry. The poetry which is entitled “Hujan Bulan Juni” by Sapardi Djoko Damono is undertood by using semiotic approach. Based on the semiotic approach, there same some icon and symbol in each row. By using heuristic approach, some in each sentences row. There are many meaning. Whereas by using hermeneutic approach, the poetry which is entitled “Hujan Bulan Juni”. As we know that June is dry season, so that poetry means waiting. It describessome one who wait for a beloved one.
TINJAUAN PRAGMATIK DALAM KETERAMPILAN BERBICARA Diana Tustiantina
Jurnal Membaca Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 2, No 1 (2017): Jurnal Membaca (Bahasa dan Sastra Indonesia)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (766.561 KB) | DOI: 10.30870/jmbsi.v2i1.1507

Abstract

Keterampilan berbicara adalah suatu keterampilan berbahasa yang menekankan pada fungsi komunikatif. Fungsi komunikatif merupakan tujuan utama dari berbicara. Tujuan tersebut dapat tercapai dengan baik jika pembicara benar-benar memahami isi pembicaraannya. Selain memahami isi pembicaraan, keberhasilan berbicara ditentukan pula oleh beberapa kompetensi kebahasaan yang dimiliki pembicara, salah satunya adalah kompetensi pragmatik. Kompetensi pragmatik adalah kompetensi kebahasaan yang berkaitan dengan kemampuan pembicara dalam memahami konteks pembicaraan. Konteks yang dimaksud adalah konteks situasi tutur. Konteks pembicaraan menjadi penting dalam keterampilan berbicara karena biasanya keterampilan berbicara melibatkan interaksi sosial dan merupakan kegiatan yang berdimensi sosial. Keterampilan berbicara adalah kemampuan mengucapkan kalimat-kalimat untuk menyampaikan pesan berupa pikiran, gagasan, dan perasaan kepada orang lain. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi pragmatik merupakan salah satu kompetensi kebahasaan yang dibutuhkan dalam keterampilan berbicara.

Page 1 of 21 | Total Record : 207