cover
Contact Name
Fatmala Sari Okaviani
Contact Email
fatmala.oktaviani@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
gentabahterakepri@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bintan,
Kepulauan riau
INDONESIA
Genta Bahtera : Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan
ISSN : 25032135     EISSN : 26561085     DOI : -
Core Subject : Education,
GENTA BAHTERA: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan is a journal of language studies published by Language Agency of Kepulauan Riau (Kantor Bahasa Kepulauan Riau). It is a research journal which publishes various research reports, literature studies, and scientific writings on phonetics, phonology, morphology, syntax, discourse analysis, pragmatics, anthropolinguistics, language and culture, dialectology, language documentation, forensic linguistics, comparative historical linguistics, cognitive linguistics, computational linguistics, corpus linguistics, neurolinguistics, language education, translation, language planning, psycholinguistics, sociolinguistics, and other scientific fields related to language studies.
Arjuna Subject : -
Articles 81 Documents
PERIBAHASA BAHASA REJANG Indah Pujiastuti
GENTA BAHTERA: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol 3, No 2 (2017): Desember
Publisher : Kantor Bahasa Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.975 KB) | DOI: 10.47269/gb.v3i2.18

Abstract

AbstrakPeribahasa merupakan ungkapan tradisional yang menjadi bagian dari sastra lisan. Di Masyarakat Rejang, peribahasa tersebut dimunculkan secara lisan di acara adat seperti pernikahan dan dimunculkan dalam peraturan adat Rejang. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peribahasa dari Msayarakat Rejang khususnya masyarakat Kabupaten Rejang Lebong. Peribahasa tersebut dideskripsikan dari aturan adat yang sudah direkam dalam bentuk tulis yaitu Kelpeak Ukum Adat (Hukum Adat Rejang). Penelitian ini juga untuk mengetahui fungsi dari peribahasa tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif yang bersumber dari hukum adat Rejang yaitu Kelpeak Ukum Adat Ngen Riyan Ca’o Kutei Jang yang memuat tentang tata cara bermasyarakat, hak dan kewajiban masyarakat, adat pernikahan, warisan, tarian, kepemimpinan, busana, bahasa, dan tulisan. Penelitian ini menitikberatkan pada analisis dokumen. Hasil yang didapatkan, bahwa 29 peribahasa yang ditemukan dalam hukum adat tersebut membahas tentang tatanan hidup masyarakat Rejang. Peribahasa tersebut berfungsi sebagai nasihat, larangan, teguran, pengajaran, gambaran tatanan sosial bermasyarakat. Kata Kunci: Peribahasa, Suku Rejang, Hukum Adat  AbstractProverbs are traditional expressions that are part of oral literature. In Rejang Community, the proverb was raised orally in traditional events such as weddings and raised in the Rejang customary law. This study aims to describe the proverbs of Msayarakat Rejang, especially the people of Rejang Lebong Regency. The proverb is described from customary rules that have been recorded in written form of Kelpeak Ukum Adat (Custom Rejang Law). This research is also to know the function of the proverb. This research used qualitative approach with descriptive method that comed from customary law of Rejang namely Kelpeak Ukum Adat Ngen Riyan Ca’o Kutei Jang which contains about social, community and rights, customs, and writing. This study focused on content analysis. The results obtained, that the 29 proverbs found in the customary law is about the life order of the Rejang community. These proverbs serve as advice, prohibitions, admonitions, teachings, images of the social fabric of society. Keywords: Proverb, Rejang Community, Customary Law
METODE PEMECAHAN BERBASIS MASALAH PADA PEMBELAJARAN MENULIS TEKS DESKRIPSI Sakila Sakila
GENTA BAHTERA: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol 5, No 1 (2019): Juni
Publisher : Kantor Bahasa Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.532 KB) | DOI: 10.47269/gb.v5i1.77

Abstract

Abstrak: Penulisan tinjauan ilmiah ini bertujuan untuk mendeskripsikan langkah-langkah penggunaan metode pemecahan berbasis masalah pada pembelajaran menulis teks deskripsi sehigga dapat meningkatkan kemampuan siswa pada pembelajaran dimaksud. Adapun masalah dalam penulisan ini adalah bagaimana langkah-langkah penggunaan metode pemecahan berbasis masalah pada pembelajaran menulis teks deskripsi. Untuk memecahkan masalah dan tujuan penulisan, digunakan metode deskriptif dengan metode pengumpulan data studi kepustakaan. Hasil penulisan memberikan gambaran langkah-langkah penggunaan metode pemecahan berbasis masalah pada pembelajaran menulis teks deskripsi diawali dengan orientasi peserta didik pada masalah, mengorganisasikan peserta didik untuk belajar, membimbing penyelidikan individual maupun kelompok, mengembangkan dan menyajikan hasil karya peserta didik dan terakhir menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. Dari hasil penulisan ini dapat disimpulkan bahwa penggunaan metode pemecahan berbasis masalah pada pembelajaran menulis teks deskripsi bagi siswa memungkinkan untuk mengembangkan keterampilan berpikir siswa. Sedangkan bagi pendidik menuntut dapat memahami secara utuh dari setiap dan konsep proses belajar mengajar. Model pembelajaran berbasis masalah menekankan pada proses penyelesaian masalah, melibatkan peserta didik dalam pembelajaran yang aktif, kolaboratif, berpusat pada peserta didik untuk menghadapi tantangan yang semakin komplek. Kata Kunci: metode, pemecahan, berbasis masalah, menulis, teks deskripsi Abstract : Writing this scientific review aims to describe the steps for using problem-based solving methods in learning to write description text so that it can improve students' abilities in the intended learning. The problem in this paper is how the steps to use problem-based solving method in learning to write description text. To solve the problem and purpose of writing, descriptive methods are used with the library study data collection method. The results of the writing provide an overview of the steps of using problem-based solving methods in learning to write text descriptions beginning with the orientation of students on the problem, organizing students to learn, guiding individual and group investigations, developing and presenting the work of students and finally analyzing and evaluating solution to problem. From the results of this paper it can be concluded that the use of problem-based solving methods in learning to write description texts for students makes it possible to develop students' thinking skills. Whereas for educators demanding to fully understand each and every concept of the teaching and learning process. The problem-based learning model emphasizes the problem solving process, involving students in active, collaborative, student-centered learning to face increasingly complex challenges.  
VARIASI DAN REKONSTRUKSI FONOLOGIS ISOLEK KERINCI: STUDI DIALEKTOLOGI DIAKRONIS DI KECAMATAN BUKIT KERMAN Rengki Afria
GENTA BAHTERA: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol 3, No 1 (2017): Juni
Publisher : Kantor Bahasa Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3831.707 KB) | DOI: 10.47269/gb.v3i1.9

Abstract

Abstrak Penelitian ini menganalisis perbedaan-perbedaan kecil dalam sebuah dialek/ bahasa dengan teori dialektologi. Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan variasi-variasi fonologis, merekonstruksi fonologis, menjelaskan inovasi dan retensi yang terdapat pada isolek Pulaupandan, Pengasi dan Muak. Penelitian deskriptif ini bersifat sinkronis dan diakronis dengan pendekatan secara kualitatif-kuantitatif.  Metode Pengumpulan data menggunakan metode cakap dan metode simak. Analisis data menggunakan metode padan fonetis artikulatoris dengan teknik pilah sebagai teknik dasar serta teknik hubung banding sebagai teknik   lanjutan,    sedangkan    untuk   menentukan    status   kebahasaan   dan   persentase kekerabatan  digunakan  metode  dialektometri.  Penyajian  hasil  analisis  data  digunakan metode formal dan metode informal. Berdasarkan hasil analisis sinkronis ditemukan variasi- variasi bunyi, yakni [a], [aɁ], [i], [u], [e], [ә], [o], [oɁ], [aw], [ew], [iy], [p], [b], [t], [k], [g], [m], [n], [ŋ], [ɲ], [s], [d], [h], [Ɂ], dan [l] dalam beberapa posisi. Berdasarkan hasil analisis diakronis ditemukan  fonem  PIBK  dari  hasil  proses  rekonstruksi  protobahasa  pada  posisi  tertentu. Fonem tersebut berupa enam fonem vokal dua gugus bunyi, yaitu vokal */i/, */u/, */e/,*/ә/, */o/ dengan luncuran gugus bunyi /oɁ/, dan */a/ dengan meluncurkan gugus bunyi/aɁ/ ; tujuh diftong */aw/, */ow/, */ew/, */iw/, */uw/ dan */iy/, */әy/ dan sembilan belasfonem konsonan */p/, */b/,*/t/, */k/, */g/, */m/, */n/, */ŋ/, */ɲ/, */s/, */d/, */h/, */Ɂ/,*/l/, */r/, */j/, */c/, */w/, dan */y/. Inovasi fonologis yang ditemukan berdasarkan kaidah perubahan bunyi, seperti: 1) metatesis; 2) afaresis; 3) pemecahan vokal; 4) apokop; dan 5) sinkop. Berdasarkan bukti-bukti sinkronis dan diakronis dengan menggunakan metode dialektometri serta hasil analisis data yang didapatkan di lapangan, IPp dinyatakan sebagai titik pengamatan yang masih mempertahankan isoleknya (konservatif). Kata Kunci: variasi, rekonstrusi, fonologi, dialektologi  Abstract This research analyzed the small differences on dialect/language based on dialectology. The aims of this research are to explain the phonological variation, to reconstruct the phonological, and explain the phonological inovations and retentions found in Pulaupandan, Pengasi and Muak isolect. This descriptive study belongs to synchronic and diachronic with qualitative-quantitative approaches. The collecting of data used conversational  method and participant observational method. Data analysis used phonetic articulatory method with sorting techniques as basic technique and comparating- connecting techniques  as advanced techniques, while to determine the status of language and kinship percentage used dialectometry method. Presenting of data analysis results used formal and informal methods. Based on of the results analysis found variations synchronyc sounds, are, [a], [aɁ], [i], [u], [e], [ә], [o], [oɁ], [aw], [ew] , [iy], [p], [b], [t], [k], [g], [m], [n], [ŋ], [ɲ], [s], [d], [h], [Ɂ], and [l] in some positions.  Based  on  the  results  of  analysis  diachronic  found  PIBK  protolanguage  phoneme  from reconstruction process results in a certain position. That Phonemes form six vowels and two cluster sounds, they are; */i/, */u/, */e/, */ә/, */o/ with a glide group sound /oɁ/, and */a/ with launched cluster sound /aɁ/; seven diphthong */aw/, */ow/, */ew/, */iw/, */uw/ and */iy/, */әy/ and nineteen consonant phonemes */p/, */b/, */t/, */k/, */g/, */m/, */n/, */ŋ/, */ɲ/, */s/, */d/, */h/, */Ɂ/, */l/, */r/, */j/, */c/, */w/, and*/y/. Phonological inovations were found based on the rules of sound changes, such as: 1) metathesis;2) aphaeresis; 3) vowels breaking; 4) apocope; and 5) of syncope. Based on the evidences of synchronicand diachronic with used dialectometry method and the results of the analysis of  data obtained in thefield, IPp expressed as an observation point which still retain its isolect (conservative). Keywords: variation, recontruction, phonology, dialectology
PERBANDINGAN KARAKTER TOKOH UTAMA PADA NOVEL ATAN (BUDAK PULAU) KARYA ARY SASTRA DAN FILM LASKAR ANAK PULAU PRODUKSI KOMUNITAS FILM BATAM Titik Dwi Ramthi Hakim
GENTA BAHTERA: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol 4, No 1 (2018): Juni
Publisher : Kantor Bahasa Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (466.292 KB) | DOI: 10.47269/gb.v4i1.56

Abstract

This research is a descriptive qualitative which aims at describing the characters of the main character found in a novel entitled ATAN( ANAK PULAU) written by Ary Sastra and the characters of the main character of a film entitled LASKAR ANAK PULAU produced by Komunitas Film Batam. The data were analyzed, classified, and interpreted by reffering to the elements that help build character marker. The techniques used in analysing the data: (1) the utterances of the narrator, (2) the utterances og the main character, (3) the utterances of another character, (4) the perspective of the character, (5) the setting, and (6) the physical appearance of the character. Finally, it was found that there were many similarities of the characters the main character in the novel and movie mentioned above. AbstrakTujuan penulisan ini adalah mendeskripsikan karakter tokoh utama pada novel Atan (Budak Pulau) yang ditulis oleh Ary Sastra dengan film Laskar Anak Pulau yang diangkat dari bagian novel yang disebutkan sebelumnya dan diproduksi oleh Komunitas Film Batam.  Data diperoleh dari hasil membaca novel dan hasil simak film kemudian dianalisis dan diklasifikasikan serta diinterpretasikan berdasarkan unsur-unsur yang turut membangunnya sebagai penanda karakter. Penulisan ini berdasar metode penelitian deskriptif kualitatif. Teknik yang digunakan dalam menganalisis karakter tokoh utama pada novel dan film tersebut di atas yaitu, (1)tuturan narator; (2) tuturan tokoh; (3) tuturan tokoh lain; (4) pemikiran tokoh; (5) gambaran latar/ lingkungan; serta (6) gambaran fisik tokoh. Setelah dianalisis terdapat banyak persamaan karakter tokoh utama pada novel dan film tersebut di atas. Karakter tokoh utama pada novel dan film tersebut di atas adalah seseorang yang sederhana, tekad kuat, gigih, religius, penurut, hormat pada orang tua, jujur, lapang dada, berprinsip, sayang keluarga, sabar, rajin, bertanggung jawab, bijaksana/ dewasa, berbakti, dan sedikit rendah diri.Kata kunci: film, karakter, novel, perbandingan,dan tokoh
PERBEDAAN FONOLOGIS BAHASA MELAYU DI DESA CERUK DAN DI PULAU LAUT KABUPATEN NATUNA PROVINSI KEPULAUAN RIAU Tasliati Tasliati
GENTA BAHTERA: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol 4, No 1 (2018): Juni
Publisher : Kantor Bahasa Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1650.344 KB) | DOI: 10.47269/gb.v4i1.39

Abstract

This study aims to describe phonological differences of Malay language in Ceruk village and Pulau Laut, Natuna regency, Riau Islands Province. The data in the form of 200 Swadesh vocabulary was collected by using referring and interview method with the technique of SBLC and recording. Then, the data were analyzed by intralingual matching method with the connecting and comparing technique. The results show that (1) the differences in the form of correspondence are found in two forms, namely perfect correspondence and unperfect correspondence. The perfect correspondences is found in six forms of change: ɛ≈I, o≈U, ɛ≈ə, R≈X, K≈Ɂ, and ə≈a. The unperfect correspondence is found in three forms of change: I≈i, Ø≈X, and t≈d. (2) The differences in the form of variation are found in four forms: (a) the middle rear vowel phoneme becomes the low center vowel (ɔ~a), (b) the addition of one phoneme at the end of a word or protesis (Ø~ə dan Ø~a). (c) the mute phoneme becomes the voiced phoneme (k~g dan p~b), and (d) the addition of one phoneme at the end of a word or paragog (Ø~h dan Ø?). AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perbedaan fonologis bahasa Melayu di Desa Ceruk dan di Pulau Laut, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau. Data berupa 200 kosakata Swadesh dikumpulkan dengan metode simak dan wawancara dengan teknik simak bebas libat cakap (SBLC), teknik rekam, dan teknik catat. Data selanjutnya dianalisis dengan metode padan intralingual dengan teknik hubung-banding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) perbedaan berupa korespondensi ditemukan dalam dua bentuk, yaitu korespondensi sangat sempurna dan korespondensi kurang sempurna. Korespondensi sangat sempurna ditemukan dalam enam bentuk perubahan ɛ≈I, o≈U, ɛ≈ə, R≈X, K≈Ɂ, dan ə≈a. Korespondensi kurang sempurna ditemukan dalam tiga bentuk perubahan: I≈i, Ø≈X, dan t≈d. (2) Perbedaan berupa variasi ditemukan dalam empat bentuk: (a) fonem vokal belakang tengah menjadi vokal pusat rendah (ɔ~a), (b) penambahan satu fonem di akhir kata atau protesis (Ø~ə dan Ø~a), (c) fonem tak bersuara menjadi bersuara (k~g dan p~b), dan (d) penambahan satu fonem di akhir kata atau paragog (Ø~h dan Ø?).
HUBUNGAN KEKERABATAN BAHASA REJANG, SERAWAI, DAN PASEMAH DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK LEKSIKOSTATISTIK Nafri Yanti
GENTA BAHTERA: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol 3, No 2 (2017): Desember
Publisher : Kantor Bahasa Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (778.314 KB) | DOI: 10.47269/gb.v3i2.14

Abstract

AbstrakTujuan penelitian ini adalah untuk melihat hubungan kekerabatan antara Bahasa Rejang, Serawai dan Pasemah. Ketiga bahasa ini dipilih karena merupakan bahasa daerah mayoritas yang digunakan masyarakat Provinsi Bengkulu. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan teknik leksikostatistik yaitu suatu teknik untuk mengkaji bahasa dengan melakukan pengelompokan data secara statistik. Pengelompokan dilakukan berdasarkan persamaan dan perbedaan suatu bahasa dengan bahasa yang lain untuk mengetahui hubungan kekerabatan bahasa tersebut. Data diperoleh berdasarkan hasil wawancara kepada penutur asli tiap bahasa tersebut. Dari hasil penelitian diketahui bahwa waktu pisah bahasa Serawai-Rejang yakni antara 1327 –1138 tahun yang lalu, Bahasa Serawai-Pasemah yakni antara 455 - 347 tahun yang lalu sedangkan waktu pisah Bahasa Rejang-Pasemah yakni antara 1402 – 1188 tahun yang lalu. Hal ini menunjukan bahwa ketiga bahasa tersebut masih dalam satu bahasa karena waktu pisah masih berkisar antara0-5 abad. Jika dilihat persentase kata kerabat dapat kita ketahui bahwa kekerabatan bahasa Serawai- Rejang 58%. Serawai-Pasemah 84% sedangkan bahasa Rejang-Pasemah 57% yang artinya, bahwa Bahasa Serawai-Rejang dan Rejang- Pasemah merupakan satu bahasa (language), sedangkan bahasa Serawai-Pasemah merupakan Keluarga (family) karena persentase kata kerabat 84%. Kata kunci: Leksikostatistik, Rejang, Serawai, Pasemah.  AbstractThe purpose of this study is to see the relationship between Rejang, Serawai and Pasemah language. These three languages were chosen because it is the majority area language used by the people of Bengkulu Province. The research method used is quantitative method with lexicostatistics technique that is a technique to study the language by doing grouping data statistically. Grouping is done based on the similarities and differences of a language with another language to know the kinship relationship of the language. The data were obtained based on interviews to native speakers of each language. From the result of the research, it is known that Serawai-Rejang split time is between 1327 - 1138 years ago, Serawai-Pasemah Language is between 455 - 347 years ago while the time of split of Rejang-Pasemah language is between 1402 - 1188 years ago. This shows that the three languages are still in one language because the time of separation is still ranged from 0-5 century. If you see the percentage of the word relatives we can know that the kinship language Serawai-Rejang 58%. Serawai-Pasemah 84% while Rejang-Pasemah language is 57% which means that Serawai-Rejang and Rejang- Pasemah Language is one language, while Serawai-Pasemah is Family because the percentage of the word is84% relative. Keywords: Leksikostatistik, Rejang, Serawai, Pasemah
RUBAYAT HAMZAH FANSURI: KAJIAN STUKTURALISME SEMIOTIKA Rubayat Hamzah Fansuri: A Study Of Semiotic Structuralism Medri Osno
GENTA BAHTERA: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol 4, No 2 (2018): Desember
Publisher : Kantor Bahasa Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (267.476 KB) | DOI: 10.47269/gb.v4i2.62

Abstract

This study aims at: first, finding out the form of the structure of Rubayat Hamzah Fansuri; second, finding meaning through semiotic reading; third, finding meaning through heuristic reading; fourth, finding meaning through hermeneutic reading. This type of research is qualitative with descriptive narrative presentation. Data collection technique uses observational method and note taking technique. The analysis applies a combination of distributional method and identity method that refer to the structuralism-semiotic analysis model. The method used is the Ultimate Constituent Analysis (UCA). The identity method used is immediate constituent analysis (ICA). Meaning analysis uses an identity methodto pragmatic power that refers to the semiotic analysis model. The presentation of the results of data analysis is carried out by formal and informal methods. The findings of this study are the form of language structure through diction usage systems that have diverse social processes. This diversity determines and is determined by a structured diction according to needs. The meaning of the work in semiotics is determined through the first level reading (heuristics) and continued with the next level, namely hermeneutic reading. Overall Rubayat is full of metafore. All of these are “defamiliarization” or “deotomatization” to create the charm of poetry or to make strange so that it attracts attention. AbstrakPenelitian ini bertujuan: pertama, menemukan bentuk struktur Rubayat Hamzah Fansuri; kedua, menemukan makna melalui pembacaan semiotika; ketiga menemukan makna melalui pembacaan heuristik; keempat, menemukan makna melalui pembacaan hermeneutik. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan pemaparan naratif deskriptif. Pengumpulan data menggunakan metode simak dan teknik catat. Analisis menggunakan kombinasi metode agih dan metode padan yang merujuk pada model analisis strukturalisme-semiotika. Metode agih yang digunakan adalah teknik bagi unsur langsung (BUL). Metode padan yang digunakan adalah teknik pilah unsur penentu (PUP). Analisis makna menggunakan metode padan dengan daya pilah pragmatis yang merujuk pada model analisis semiotika. Sajian hasil analisis data dilakukan dengan metode formal dan informal. Temuan penelitian ini yaitu bentuk struktur bahasa melalui sistem pemakaian diksi memiliki proses sosial yang beragam. Keberagaman ini menentukan dan ditentukan oleh diksi yang terstruktur menurut kebutuhan. Pemaknaan karya secara semiotika ditentukan melalui pembacaan tingkat pertama (heuristik) dan dilanjutkan dengan tingkat selanjutnya, yaitu pembacaan secara hermeneutik. Secara keseluruhan Rubayat banyak menggunakan metafora. Semua itu merupakan “defamiliarisasi” atau “deotomatisasi” untuk menimbulkan daya pesona sajak atau untuk membuat aneh (making strange) sehingga menarik perhatian.Kata Kunci: rubayat, strukturalisme, semiotika
PENAMAAN PULAU-PULAU DI KABUPATEN LINGGA BERDASARKAN KAJIAN TOPONIMI DAN STUDI ETNOLINGUISTIK Rahmat Muhidin; Lia Aprilina
GENTA BAHTERA: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol 3, No 1 (2017): Juni
Publisher : Kantor Bahasa Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2170.175 KB) | DOI: 10.47269/gb.v3i1.5

Abstract

AbstrakPenelitian ini membahas nama-nama pulau di Kabupaten Lingga yang berhubungan dengan sejarah penamaan pulau oleh warga sekitar pulau di Kabupaten Lingga. Penelitian bertujuan untuk mendeskripsikan nama-nama pulau di Kabupaten Lingga Provinsi Kepulauan Riau berdasarkan kajian toponimi dan etnolinguistik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dan studi literatur, data sekunder, data survei toponimi pulau, dan pengolahan data sebagai ancangan penelitian penamaan pulau-pulau di Kabupaten Lingga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penamaan pulau di Kabupaten Lingga mengacu pada beberapa indikator: (1) karakter dan potensi pulau; (2) dimensi pulau, bentuk pulau, dan posisi realif pulau; (3) jabatan dan nama orang yang bermukim di pulau tersebut; (4) legenda atas pulau yang bersangkutan; (5) penamaan pulau yang mempunyai maksud untuk memperingatkan, kehati-hatian terhadap sesuatu; (6) pulau pucong; (7) penamaan kumpulan atau jajaran pulau dalam satu nama atau pulau bersangkutan; dan (8) pulau serak artinya tersebar. Kata kunci: penamaan, pulau, toponimi  AbstractThe research discusses names of islands in Lingga District relates to the history naming the island by people around the Lingga District. This research aims to describe names of the islands in Lingga District, Riau Island Province based on toponimy and ethnolinguistics study. The method used in this research was descriptive method and literature study. The data in this research was data secundery, islands toponimy survey data, and data processing as the research design. The result shows that the naming of islands at Lingga District refers to some indicators: (1) character and potention of the island, (2) dimension of the island, (3) title and name of people stay in the island, (4) legend of the island (5) naming of the island aims aim warning, awarness of something, (6) pucong island, (7) naming collection form of the islands into one name, and (8) serak islands or spread islands.  Key words: naming, island, toponimy
MAKNA ADJEKTIVA TANOSHII (楽しい) DAN URESHII (嬉しい) SEBAGAI SINONIM (KAJIAN SEMANTIS BAHASA JEPANG) Mhd. Pujiono; Talia Talia
GENTA BAHTERA: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol 4, No 1 (2018): Juni
Publisher : Kantor Bahasa Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1856.644 KB) | DOI: 10.47269/gb.v4i1.47

Abstract

The research describes the meaning of tanoshii and ureshii which have the same meaning or synonym (ruigigo) in Japanese which is the object of semantic study (imiron). There are many synonyms in Japanese which are very difficult to be paired into  Indonesian language one by one. Even though the synonymous words have the same or almost the same meaning but in the disclosure there are a differences. The differences because the meaning of a word will usually develop because it is influenced by the context or situation in the sentence. Because of these differences, there is a mistake in the language of Japanese which is due to information meaning that is still not complete, especially synonym, so often also cause misunderstandings in communication. This research uses descriptive qualitative method. The steps of research are collecting data using the method refer to the technique record, analyzing data, and presenting the data informally. From the analysis it is found that tanoshii refers more to 'process' when an activity is in progress, whereas ureshii refers more to the 'end' of a process that is usually accompanied by a sense of emotion. AbstrakTulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna tanoshii dan ureshii yang mempunyai makna sama atau sinonim (ruigigo) dalam bahasa Jepang yang merupakan objek kajian semantik (imiron). Di dalam bahasa Jepang banyak sinonim dan sangat sulit untuk dipadankan ke dalam bahasa Indonesia satu-persatu. Walaupun kata-kata yang bersinonim tersebut mempunyai makna yang sama atau hampir sama tetapi dalam pengungkapannya terdapat perbedaan. Perbedaan tersebut dikarenakan makna suatu kata biasanya akan berkembang karena dipengaruhi oleh konteks atau situasi dalam kalimatnya. Karena perbedaan tersebut, muncul kesalahan kebahasaan dalam bahasa Jepang yang dikarenakan informasi makna yang masih kurang lengkap khususnya sinonim, sehingga sering juga menimbulkan kesalahpahaman dalam komunikasi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang bersifat deskriptif. Langkah-langkah penelitian adalah mengumpulkan data menggunakan metode simak dengan teknik catat, menganalisis data, dan menyajikan data secara informal. Dari analisis didapatkan hasil bahwa tanoshii lebih merujuk pada ‘proses’ ketika suatu aktifitas sedang berlangsung, sedangkan ureshii lebih merujuk pada ‘akhir’ suatu proses yang biasanya disertai dengan rasa haru.
REFLEKSI GEKOKUJO DALAM TEKS DRAMA KYOUGEN BERJUDUL “BUAKU” Eman Kusdiyana
GENTA BAHTERA: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol 3, No 2 (2017): Desember
Publisher : Kantor Bahasa Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (532.348 KB) | DOI: 10.47269/gb.v3i2.19

Abstract

AbstrakDrama Kyougen berjudul Buaku menceritakan tentang konflik sosial antara golongan sosial atas (penguasa) dengan golongan sosial bawah (petani, buruh, tukang dan pedagang) yang terjadi di Jepang pada zaman Muromachi (1350—1573). Secara sosiologis yang ditekankan pada cerita Buaku ini adalah konflik sosial berupa perlawanan golongan sosial bawah terutama petani desa terhadap golongan sosial atas(Shugo Daimyo, Daikan) yang dikenal dengan istilah Gekokujo (bawahan melawan atasan). Dalam gerakan Gekokujo esensinya adalah rakyat bangkit, berpikir kritis, bersatu, dan menciptakan rasa kebersamaan diantara golongan sosial bawah khususnya petani desa untuk melawan para penguasa yang memeperlakukan golongan sosial bawah secara tidak manusiawi. Kajian ini mencoba untuk melihat sajauh mana cerita Buaku ini merefleksikan pertentangan antara golongan sosial ba wa h d enga n golongan sosial a ta s yang diwujud kan d alam be ntuk Gekokujo.Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan sosiologis dengan metode deskriptif analitis dan hermeneutik. Pengumpulan data menggunakan metode studi kepustakaan dan terjemahanserta teknis analisis menggunakan metode wacana kritis. Hasil kajian dan pembahasan menunjukkan bahwa cerita Buaku ini sarat dengan pencerminan Gekokujo yaitu perlawanan golongan sosial bawah (petani, pelayan) terhadap golongan sosial atas (tuan atau majikan) pada zaman Muromachi.Golongan sosial bawah pada zaman Muromachi berada pada posisi masyarakat yang hidupnya mendapat tekanan dari penguasa, sehingga hidupnya penuh dengan penderitaan. Oleh sebab itu, golongan sosial bawah melakukan perlawanan terhadap penguasa yang dikenal dengan Gekokujo. Perlawanan yang dilakukan berdasarkan azas keadilan dan kemanusiaan yang mengedepankan bahwa manusia dalam kehidupannya harus adil, bijaksana serta menjunjung perikamunisaan. Kata kunci: Kyougen, Buaku, konflik sosial, Gekokujo  AbstractDrama of Kyougen entitled “Buaku” tells about a social conflict between the high-social class (authority) and the low-social class (peasants, laborers, craftsmen, and traders) happened in Japan in the era of Muromachi (1350-1573). Sociologically, Buaku tells about a social conflict, namely an opposition between the low-social class, especially village peasants against the high-social class (Shugo Daimyo, Daikan) known as Gekokujo rebellion (superiors against inferiors). The essence of Gekokujo was that the people arose, critical, united to achieve the sense of togetherness among the low-social class especially viallage peasants against the high- social class who treated them inhumanely. This study tries to find out to what extent Buaku reflects the conflict between the high-social classand the low-social class realized in Gekokujo. The approach used as the grand theory in the study was the sociological approach with the analytical-descriptive method and hermeneutic. Data were collected through the library studies and translation. The technique analysis used the critical discourse. The result shows that Buaku isfull of the reflection of the opposition ofthe low-social class (peasants and employees) against the high-social class (masters or employers) in the era of Muromachi. The low-social class in the era Muromachi are in position of society that is under pressure on his life. So that his life is full of suffering. Therefore, the low-social class figting against the ruler know as Gekokujo. The resistance is based on the principle of justice and humanity. Human beings must be just and uphold humanity. Keywords: Kyougen, Buaku, social conflict, Gekokujo