cover
Contact Name
Fatmala Sari Okaviani
Contact Email
fatmala.oktaviani@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
gentabahterakepri@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bintan,
Kepulauan riau
INDONESIA
Genta Bahtera : Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan
ISSN : 25032135     EISSN : 26561085     DOI : -
Core Subject : Education,
GENTA BAHTERA: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan is a journal of language studies published by Language Agency of Kepulauan Riau (Kantor Bahasa Kepulauan Riau). It is a research journal which publishes various research reports, literature studies, and scientific writings on phonetics, phonology, morphology, syntax, discourse analysis, pragmatics, anthropolinguistics, language and culture, dialectology, language documentation, forensic linguistics, comparative historical linguistics, cognitive linguistics, computational linguistics, corpus linguistics, neurolinguistics, language education, translation, language planning, psycholinguistics, sociolinguistics, and other scientific fields related to language studies.
Arjuna Subject : -
Articles 81 Documents
STUDI KONTRASTIF KONSTRUKSI INTEROGATIF POLAR BAHASA JEPANG DAN BAHASA INDONESIA Abdul Gapur; Mulyadi Mulyadi
GENTA BAHTERA: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol 4, No 1 (2018): Juni
Publisher : Kantor Bahasa Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (950.69 KB) | DOI: 10.47269/gb.v4i1.43

Abstract

This research discusses about interrogative construction of polar in Japanese and Indonesian language. The purpose of this research describes the forms, similarities and differences, and the correspondence of interogative constructions in Indonesian and Japanese. Sources of data are related literature on interrogative constructions and Indonesian and Japanese grammar books. Data collection using techniques of refering and noting.Contrastive analysis is used to analyze data. The he study found that the interrogative contrastive polar in Japanese and Indonesian languages were formed from use of 1) intonation, 2) interrogative particles, and 3) interrogative tags. The interrogative constructions of Japanese and Indonesian polar interrelations are inherent in the intonation aspect as the main thing in the construction of polar interrogation, the use of interrogative particles and the use of nterogative tags in both languages. The difference between polar interrogative constructions lies in the use of more productive ”apa”, “apakah”  and “bagaimana” words in Indonesian and more productive interrogative particles in Japanese polar interrogative. In the correspondence of translations most of the interrogative particles of Japanese are equated with the question 'apakah' in the polar interrogative constructions of Indonesian. AbstrakPenelitian ini membahas tentang konstruksi interogatif polar dalam bahasa Jepang dan bahasa Indonesia. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan bentuk, persamaan dan perbedaan, dan kesepadanan konstruksi interogatif dalam bahasa Indonesia dan bahasa Jepang. Sumber data adalah literatur yang berkaitan tentang konstruksi interogatif dan buku tatabahasa Indonesia dan bahasa Jepang. Pengumpulan data dengan teknik catat. Analisis data menggunakan analisis kontrastif dengan pendekatan strukturalis. Hasil penelitian ditemukan bahwa kontrastif interogatif polar bahasa Jepang dan bahasa Indonesia terbentuk dari 1) penggunaan intonasi, 2) partikel interogatif, dan 3) tag interogatif. Persamaan bentuk konstruksi interogatif polar bahasa Jepang dan Indonesia terdapat pada aspek intonasi sebagai hal utama dalam pembentukan konstruksi interogatif polar, penggunaan partikel interogatif dan penggunaan tag Interogatif dalam kedua bahasa. Perbedaan konstruksi interogatif polar terletak pada penggunaan kata tanya ”apa”, “apakah” dan “bagaimana” yang lebih produktif dalam bahasa Indonesia dan partikel interogatif ka yang lebih produktif sebagai penanda interogatif polar dalam bahasa Jepang. Dalam kesepadanan penerjemahan umumnya partikel interogatif ka bahasa Jepang disepadankan dengan kata tanya ”apakah” dalam konstruksi interogatif polar bahasa Indonesia.
BAHASA HUMOR DALAM ACARA BOCAH NGAPA(K) YA TRANS 7 Ferdian Achsani
GENTA BAHTERA: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol 5, No 2 (2019): Desember
Publisher : Kantor Bahasa Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47269/gb.v5i2.83

Abstract

Abstrak: Bocah Ngapa(K) Ya merupakan salah satu tayangan humor yang hadr di stasiun tv trans 7. Tayangan humor ini dapat digunakan sebagai sarana hiburan bagi masyarakat dalam melepas penat. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa humor pada prinsipnya merupakan tayangan yang bertujuan untuk menghibur audience agar tertawa. Penciptaan humor tidak hanya dilihat melalui gerak dari para pemain tetapi juga melalui bahasa yang digunakan oleh para pemain untuk berkomunikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bahasa pembentuk humor dalam acara Bocah Ngapa(K) Ya. penelitian ini termasuk dalam jenis deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik simak dan teknik catat, terhadap beberapa video Bocah Ngapa(K) Ya yang diunggah di YouTube. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penciptaan bahasa humor pada tayangan Bocah Ngapa(K) Ya dapat dilihat melalui ironi, misunderstanding, permainan bunyi, perminan kata, redicule, dan repartee. Beberapa penciptaan humor melalui bahasa yang tidak ditemukan dalam humor bocah  ngapa(k) di antaranya yaitu bombast, satire, sarcasm, sexual, dan outwitting.
INVENTARISASI BUNYI VOKAL DAN KONSONAN BAHASA ALUNE Erniati Erniati
GENTA BAHTERA: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol 5, No 2 (2019): Desember
Publisher : Kantor Bahasa Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47269/gb.v5i2.82

Abstract

Abstrak: Bahasa Alune merupakan salah satu bahasa yang masih digunakan oleh masyarakat. Bahasa Alune merupakan bahasa yang memiliki penutur yang masih banyak. Oleh sebab itu, patut mendapat prioritas dan perhatian yang sama dengan bahasabahasa daerah lain. Bahasa ini digunakan oleh kelompok masyarakat yang tinggal di Pulau Seram Bagian Barat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Untuk memperoleh data, digunakan metode simak, yakni dengan menyimak bahasa secara langsung dari penutur. Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimanakah karakteristik fonem bahasa Alune dan distibusinya dalam kata. Tujuan penelitian ini adalah untuk menginventarisasi fonem bahasa Alune dan distribusinya dalam kata. Berdasarkan hasil kajian disimpulkan bahwa bahasa Alune memiliki 23 buah fonem segmental yang terdiri atas 15 konsonan, 7 vokal (monoftong), dan 3 diftong. Fonem-fonem tersebut, yaitu: /p/, /b/, /t/, /d/, /k/, /m/, /n/, /s/, /r/, /h/, /l/, /w/, /y/ , /G/, /?/, /a/, /i/, /u/, /e/, /o/, / O /,dan /E/.Kata Kunci: fonologi, fonetik, fonemAbstract: Alune language is one of the languages that is still used by the community. This language is a regional language that has many speakers. Therefore, it should deserve the same priority and attention as other regional languages. This language is used by community groups living in West Seram Island. The method used in this research is descriptive method. To obtain data, listening method, namely by listening to the language directly from the speaker. The problem in this research is how the characteristics of the Alune phoneme. The objective to be achieved in this research is to inventory the Alune language phonemes. Based on the results of the study, concluded that the Alune language has 23 segmental phonemes consisting of 15 consonants, 7 vowels (monophthongs), and 3 diphthongs. The phonemes, namely: / p /, / b /, / t /, / d /, / k /, / m /, / n /, / s /, / r /, / h /, / l / , / w /, / y /, / G /, /? vowels (monophthongs), and 3 diphthongs. The phonemes, namely: / p /, / b /, / t /, / d /, / k /, / m /, / n /, / s /, / r /, / h /, / l / , / w /, / y /, / G /, /? /, / a /, /i /, / u /, / e /, / o /, / O /, and /E /.Keywords: phonology, phonetics, phonemes
UNGKAPAN MAKIAN BAHASA TIOCHIU (STUDI KASUS MASYARAKAT TIONGHOA SENGGARANG) Wahyu Indrayatti
GENTA BAHTERA: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol 5, No 2 (2019): Desember
Publisher : Kantor Bahasa Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47269/gb.v5i2.94

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan jenis makian dan fungsi makian dalam bahasa Tiochiu masyarakat etnis Tionghoa Senggarang di kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau. Penelitian ini, merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan Sosiolinguistik.Objek penelitian ini adalah tuturan yang bersumber dari penutur asli bahasa Tiochiu yang merupakan 70% etnis Tionghoa yang menetap di Senggarang, berupa bahasa makian yang diucapkan oleh penutur dalam kehidupan sehari-hari.Metode penyediaan data dilakukan dengan melibatkan 10 informan penutur asli dengan menggunakan metode cakap semuka dan metode simak, teknik simak libat cakap dan teknik catat.Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data adalah alat rekam dan alat tulis.Metode analisis menggunakan metode analisis makna Dari pengumpulan data yang telah dilakukan, peneliti menemukan 56 ungkapan makian dalam bahasa Tiochiu masyarakat Senggarang. Kemudian, setelah dilakukan analisis, ungkapan-ungkapan makian tersebut mengandung 8 jenis referen atau acuan, yaitu hewan, kekerabatan, profesi, makhluk halus, aktivitas, keadaan, benda-benda dan bagian tubuh. Referen keadaan terbagi menjadi keadaan mental dan keadaan tidak beruntung.Sedangkan bagian tubuh, terdiri dari bagian tubuh manusia dan hewan. Untuk benda-benda, selain benda-benda yang secara umum dianggap menjijikkan, juga terdapat referen berupa sayuran yang sering dikonsumsi oleh etnis Tionghoa, yaitu kol dan lobak. Dari data ungkapan makian yang ditemukan berfungsi untuk mengungkapkan kekesalan, kemarahan, ejekan, dan ketidaknyamanan. Selain itu, peneliti juga menemukan pemakaian makian untuk menciptakan suasana keakraban. Kata Kunci : makian, tiochiu, sosiolinguistik Abstract: This study aims to describe Tiochiu cursed expressions and its functions that are used by Tionghoa community in Senggarang, Tanjungpinang, Kepulauan Riau. This research is type of qualitative research, with  sociolinguistics approach. Object of the study cursed expressions in Tiochiu languages which are most spoken language by 70% Chinese in Senggarang,  one of the  biggest Chinese central community in  Tanjungpinang. The data derived from 10 informants  who are Chinese Tiochiu speaker. Instruments used were in the form of recording devices and stationery. Methods and data provisioning techniques were competent methods, skillful techniques and referring methods (techniques for referring to proficient involvement and notetaking techniques). Data analysis method uses meaning analysis method. The research found that there are 56 cursed expressions  that consist of  8 kinds of references ; situation,  animal, part of body, kindship, esprit, occupation,  things and activities.  Situation consist of mental situation and unlucky situation. Part of body refers to human and animals. Things, include vegetebles that are familiar for Chinese, cabbage and radish. The data show that  people use cursing expressios for various fuctions; expressing upset, anger, ridicule, uncomfortable and also friendly atmosphere.Keywords : cursed expression, teochew, sociolinguistics.
KETERBACAAN WACANA BUKU TEKS BAHASA INDONESIA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA Indah Pujiastuti
GENTA BAHTERA: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol 5, No 2 (2019): Desember
Publisher : Kantor Bahasa Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47269/gb.v5i2.89

Abstract

Abstrak: Sebuah buku teks dapat dikatakan berkualitas apabila memenuhi kelayakan kegrafikan, kelayakan penyajian, kelayakan isi, dan kelayakan bahasa, termasuk di dalamya  adalah  tingkat keterbacaan wacananya (readability). Tingkat keterbacaan wacana akan berpengaruh pada pemahaman siswa terhadap isi (materi) yang disampaikan dalam sebuah buku. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat tingkat keterbacaan wacana dalam buku teks bahasa Indonesia yang digunakaan di kelas VII dan VIII SMPN 14 Satu Atap Tanjungpinang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Uji keterbacaan wacana tersebut menggunakan uji grafik Fry dan Raygor. Hasilnya, ada empat belas (sebelas wacana kelas VII dan tiga wacana kelas VIII) wacana yang sesuai dengan tingkatan kelas dan dapat digunakan untuk pembelajaran; lima belas wacana perlu direvisi (delapan wacana kelas VII dan 7 wacana kelas VIII) agar sesuai dengan tingkatan kelas; dan delapan belas wacana perlu diganti (dua belas wacana kelas VII dan tujuh wacana kelas VIII) karena invalid atau tidak dapat digunakan untuk kelas manapun. Kata Kunci: keterbacaan, wacana buku teks, grafik Fry, grafik RaygorAbstract: A textbook can be said to be of good quality if it fulfills the feasibility of graphics, the feasibility of presentation, the feasibility of content, and the appropriateness of language, including the level of readability of the discourse (readability). The level of readability of discourse will affect students' understanding of the content (material) delivered in a book. The purpose of this study was to look at the level of readability of discourse in Indonesian textbooks used in grades VII and VIII of SMPN 14 Satu Atap Tanjungpinang. This research is a quantitative descriptive. The discourse readability test uses the Fry and Raygor test graph. As a result, there are fourteen (eleven class VII discourses and three VIII discourses) discourses that are suitable for the grade level and can be used for learning; fifteen discourse needs to be revised (eight class VII discourse, seven class VIII discourse) to fit the grade level; and eighteen discourse needs to be replaced (twelve class VII discourse, six class VIII discourse) because it is invalid or cannot be used for any class. Keywords: readability, textbook discourse, Fry graph, Raygor graph
STRATEGI PENERJEMAHAN TIGA PUISI TAUFIK ISMAIL Raja Rachmawati
GENTA BAHTERA: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol 5, No 2 (2019): Desember
Publisher : Kantor Bahasa Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47269/gb.v5i2.93

Abstract

Abstrak: Kajian ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi penerjemahan yang digunakan oleh John McGlynn dalam menerjemahkan tiga puisi Taufik Ismail, yaitu “Pantun Bulan Terang di Midwest”, “Adakah Suara Cemara”, dan “Bulan”. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif.  Sumber data dalam penelitian ini adalah tiga puisi Taufik Ismail dalam bahasa Indonesia dan hasil terjemahannya dalam bahasa Inggris oleh John H. McGlynn, dengan judul “Full Moon in the Midwest”, “Is it the Sound of Pines” dan “The Moon”. Hasil analisis data menunjukkan bahwa strategi penerjemahan puisi yang digunakan dalam ketiga puisi Taufik Ismail ini bervariasi, yaitu metode penerjemahan literal, metode penerjemahan bait secara bebas, dan metode penerjemahan interpretasi, sedangkan strategi penerjemahan secara umum yang digunakan adalah strategi penerjamahan struktural dan semantik dengan menggunakan penghilangan (omission), padanan budaya (cultural eqiuivalent), modulasi, dan transposisi.Kata Kunci: strategi, penerjemahan, taufik ismail, john mcglynn Abstract: This study aims to describe the translation strategy used by John McGlynn in translating the three poems of Taufik Ismail namely “Pantun Bulan Terang di Midwest”, “Adakah Suara Cemara” and “Bulan”. The method used in this research is descriptive qualitative method. The data sources are three poems of Taufik Ismail in Indonesian and the results of their translation in English by John H. McGlyn. namely “Full Moon in the Midwest”, Is it the Sound of Pines” and “Bulan”. The results of the data analysis show that the strategy of translating poetry used to translate the poems are vary, among others, literal translation, free translation, and interpretation translation, meanwhile the general translation strategy used are structural and semantic translation strategies using omission, cultural equality, modulation, and transposition.Keywords: strategy, translation, taufik ismail, john mcglynn 
HARMONI BUNYI ANTARLARIK GANJIL DAN GENAP PANTUN Hidayatul Astar
GENTA BAHTERA: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol 5, No 2 (2019): Desember
Publisher : Kantor Bahasa Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47269/gb.v5i2.86

Abstract

Abstrak: Pantun memiliki ciri tersendiri, yaitu memiliki rima atau harmoni bunyi pada kata akhir larik ganjil (L-1 dan L-3) dan larik genap (L-2 dan L-4). Dalam kenyataannya harmoni bunyi tidak hanya terdapat pada kata akhir larik, tetapi juga pada kata awal dan tengah larik. Kajian ini mengungkap dan mendeskripsikan bagaimana harmoni bunyi kata antarlarik ganjil dan genap pantun di tiga posisi: awal, tengah, dan akhir. Dasar analisis menggunakan konsep vokal, konsonan, diftong, dan suku kata. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Hasil kajian menunjukkan bahwa harmoni bunyi antarlarik ganjil dan genap pantun minimal terdapat dalam satu suku kata dan maksimal terdapat dalam semua suku kata. Harmoni bunyi dapat ditandai oleh hanya satu bunyi, seperti [i] pada suku kata -si dan -ji di kata besi dan berjanji; dua bunyi, seperti [r] dan [a] pada suku kata -ra di kata mutiara dan bicara, atau semua bunyi pada sebuah kata karena diulang, seperti kata kalau, bukan, dan emas.Kata Kunci:  antarlarik,  harmoni bunyi,  pantun Abstract: Pantun have special characteristics, harmony of sounds or repetition of words at final word in odd (L-1 and L-3) and even (L-2 and L-4) lines. In reality the harmony of sounds is not only found in the final word of the line, but olso at the beginning and middle. This study reveals and describes the harmony of sounds between odd and even lines of pantun in three positions, the beginning, middle, and final lines. Vocal, consonant, diphthong, and syllable concept are used to analysed. Descriptive qualitative method is used in this study. Results of this research showed that harmony of sounds between odd and even lines exist in minimal one syllable and maximum all syllable. The harmony of sounds can be characterized by one sound, for example [i] in syllable –si and –ji of besi and berjanji, by two sounds, for example [r] dan [a] in syllable -ra of mutiara and bicara words, or all sounds of a word because repetition, for example kalau, bukan, and emas.Keywords: between lines, harmony of sound, pantun
PREPOSISI DALAM BAHASA JAWA DIALEK BANYUMAS Rahmat Muhidin
GENTA BAHTERA: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol 5, No 2 (2019): Desember
Publisher : Kantor Bahasa Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47269/gb.v5i2.87

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk dan fungsi preposisi dalam bahasa Jawa dialek Banyumas. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode linguistik struktural. Pengumpulan data melalui metode simak. Hasil penelitian preposisi dalam bahasa Jawa dialek Banyumas yang berhubungan bentuk preposisi adalah preposisi dhek, kala, ndhek, rikala hanya dapat hadir di dalam kalimat bila kokonstituennya berkategori adverbia waktu. Dilihat dari segi semantis kehadiran preposisi dhek, kala, ndhek, dan rikala di dalam kalimat hanya dapat menandai satu peran yaitu peran waktu. Preposisi nang dalam bahasa Jawa standar adalah ning merupakan preposisi ing pada mulanya berasal dari i, yang sekarang menjadi prefiks –i.pendapat itu dibuktikan dengan contoh prefiks –i yang menyatakan makna arah atau tempat yang disubstitusikan. Kehadiran preposisi nang dalam kalimat ada yang ditentukan oleh kategori pengisi predikat dan kategori kokonstituennya dan ada yang ditentukan oleh kokonstituennya. Preposisi nang hanya dapat disertai nomina,pronomina atau frasa nominal.kategori nomina kokonstituen ing dapat berupa nomina konkret bernyawa dan takbernyawa, nomina abstrak bernyawa dan takbernyawa, nomina tempa dan nomina waktu. Pronomina yang dapat menjadi kokonstituen preposisi nang adalah pronomina persona, pronomina interogatif, dan pronomina taktentu, sedangkan pronomina demonstratif tidak dapat menyertai preposisi nang. Bentuk morfemis kategori pengisi predikat penentu kehadiran frasa berpreposisi Nang Verba monomorfemis Verba berprefiks ma-, verb berprefiks di-, verba berprefiks ka-, verba berinfiks –um-, verba berinfiks –in-, verba dwipurwa. 
VITALITAS BAHASA KOMUNITAS DUANU DI DESA TAGARAJA, KABUPATEN INDRAGIRI HILIR, RIAU Zainal Abidin
GENTA BAHTERA: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol 5, No 2 (2019): Desember
Publisher : Kantor Bahasa Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47269/gb.v5i2.85

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat vitalitas bahasa padakomunitas Duanu di Kabupaten Indragiri Hilir, Riau. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pusposive sampling. Untuk mengumpulkan data, peneliti menggunakan kuesioner menurut Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa dan pengamatan langsung. Data dianalisis dengan langkah 1) memberikan skor, 2) menghitungrata-rata skor, 3) menghitung kumulatif indeks setiap indikator, dan 4) menghitung indeks total. Penelitian ini menemukan bahwa kumulatif indeks indikator jumlah penutur 0,36, kontak bahasa 0,68, bilingualitas 0,36, posisi dominan masyarakat penutur 0,44, ranah penggunaan bahasa 0,28, sikap bahasa 0,52, regulasi 0,26, pembelajaran 0,21, dokumentasi 0,22, dan tantangan baru 0,13. Skor total indeks bahasa Duanu adalah 0,35 dan berada pada kategori “ terancam”.Kata Kunci: vitalitas bahasa, komunitas Duanu, Tagaraja Abstract: This research aims to determine the level of language vitality in the Duanu community in Indragiri Hilir Regency, Riau. This study uses qualitative methods with purposive sampling technique. To collect data, researchers used a questionnaire made by Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa and conducted direct observation. Data were analyzed by: 1) giving a score, 2) calculating the means score, 3) calculating the cumulative index of each indicator, and 4) calculating the total index. This research showed that the cumulative indicator index of the speakers number are 0.36, contact language0.68, bilinguality 0.36, the dominant position of the speaker community 0.44, language use realm 0.28, language attitude 0.52, regulation 0.26, learning 0.21, 0.22 documentation,and new challenges 0.13. The total score of the Duanu language index is 0.35 and is in the “threatened” category.Keywords: language vitality, Duanu community, Tagaraja
KAJIAN HERMENEUTIK PADA “KUMPULAN LEGENDA DAERAH DI PROVINSI LAMPUNG” KARYA ACHMAD. D Andi Widiono
GENTA BAHTERA: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol 5, No 2 (2019): Desember
Publisher : Kantor Bahasa Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47269/gb.v5i2.88

Abstract

Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui makna yang terkandung dalam buku Kumpulan Legenda Daerah di Provinsi Lampung karya Achmad. D. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif, yaitu legenda yang dijadikan sebagai objek penelitian dianalisis dan diinterprestasikan. Langkah awal yang penulis lakukan adalah menganalisis unsur intrinsik legenda meliputi tema, penokohan, dan latar, selanjutnya menganalisis kajian hermeneutik yang difokuskan pada pemahaman teks dan simbol. kajian hermeneutik yang dapat direlevansikan yaitu dari pemahaman teks seperti nama Lampung. Hal ini dapat mengetahui asal usul daerah Lampung dan seluk beluknya. Menurut kajian hermeneutik, yang dapat direlevansikan yaitu dari simbolnya adalah Raja. Simbol raja mempunyai makna pemimpin pada sebuah daerah pada zaman lampau yang didapat dari garis keturunan. Dalam hal ini, dapat diterapkan jiwa kepemimpinan yang baik, bijkasana, adil, pandai, dan tanggung jawab melalui simbol raja dalam legenda yang dikaji dengan ilmu hermeneutik. Kajian hermeneutik melalui karya sastra jenis legenda merupakan langkah awal untuk melakukan pendidikan tentang tata cara penganalisisan suatu karya sastra yang baik dan bermutu. Dalam hal melakukan pembelajaran sastra, dituntut untuk melakukan kegiatan-kegiatan menggali unsur-unsur pembangun karya sastra tersebut baik yang bersifat intrinsik maupun ekstrinsik. Serta dapat diarahkan cara mengkaji sebuah legenda dengan pendekatan hermeneutik melalui pemahaman teks dan simbol. Dari hasil kajian hermeneutik tersebut yang meliputi pemahaman teks dan simbol terdapat nilai-nilai moral, pandangan hidup, agama, dan kebudayaan.Kata Kunci: legenda, hermeneutik, pemahaman teks dan symbol Abstract: The purpose of this study was to determine the meaning contained in the book Collection of Local Legends in Lampung Province by Achmad. D. The method used is descriptive method, which is a legend that is used as an object of research analyzed and interpreted. The first step that the authors do is analyze the intrinsic elements of the legend including themes, characterizations, and settings, then analyze the hermeneutic study which is focused on understanding texts and symbols. hermeneutic studies that can be relevant are from understanding texts such as the name Lampung. It can find out the origin of the Lampung region and its ins and outs. According to a hermeneutic study, one that can be evaluated is that of the symbol is the King. The symbol of the king has the meaning of a leader in an area of the past that is obtained from the lineage. In this case, a good, wise, fair, clever, and responsible leadership spirit can be applied through the symbol of the king in legends which are studied with hermeneutic science. Hermeneutic study through literary works of legend is the first sitep to conduct education about the procedures for analyzing a good and quality literary work. In terms of learning literature, it is demanded to carry out activities to explore the building elements of the literary work both intrinsic and extrinsic. And can be directed how to study a legend with a hermeneutic approach through understanding texts and symbols. From the results of the hermeneutic study which includes understanding texts and symbols, there are moral values, outlook on life, religion, and culture.Keywords: legend, hermeneutics, understanding of texts and symbols