cover
Contact Name
Prima Hariyanto
Contact Email
patriyawhura@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
patriyawhura@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bangka tengah,
Kepulauan bangka belitung
INDONESIA
Sirok Bastra
ISSN : 23547200     EISSN : 26212013     DOI : -
SIROK BASTRA is a journal which publishes language literature and language literature education research, either Indonesian, local, or foreign research. All articles in SIROK BASTRA have passed the reviewing process by peer reviewers and edited by editors. SIROK BASTRA is published by Kantor Bahasa Kepulauan Bangka Belitung twice times a year, in June and December.
Arjuna Subject : -
Articles 220 Documents
MEMAHAMI PUISI “IDUL FITRI” DENGAN TEORI TAKMILAH Asep Supriadi
Sirok Bastra Vol 2, No 1 (2014): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (760.846 KB) | DOI: 10.37671/sb.v2i1.31

Abstract

Kajian sastra islami dalam sastra Indonesia dengan menggunakan pendekatan teori sastra Islam belum banyak dilakukan. Penulis berpendapat bahwa teori-teori sastra Islam Melayu (Malaysia) dapat diaplikasikan untuk mengkaji sastra Islam Indonesia. Salah satunya adalah teori takmilah yang digagas oleh seorang pakar sastra Melayu bernama Shafie Abu Bakar. Kajian ini mengaplikasikan teori tersebut pada puisi “Idul Fitri” karya Sutardji Calzoum Bachri. Hasil kajian menunjukkan bahwa puisi tersebut menggambarkan nilai-nilai keislaman dengan dimensi sufistik. Puisi itu menggambarkan perenungan eksistensi diri pada Tuhan. Penggambaran itu diperkuat dengan adanya kata-kata cahaya, cinta, salat, zikir, dan taubat dalam puisi tersebut. Kata-kata tersebut dalam istilah takmilah atau tasawuf disebut tafakur dan muhasabah. Dengan melakukan tafakur dan muhasabah, seorang sufi mengharapkan datangnya cahaya Tuhan. Dalam teori takmilah cahaya itu disebut nur ilahiah, artinya cahaya yang datang dari Tuhan. Seperti tampak dalam larik keenam pada bait keempat, “Kini biarkan aku menenggak arak cahayaMu”.
STRUKTUR FISIK SAJAK “PEREMPUAN-PEREMPUAN PERKASA” KARYA HARTOYO ANDANGJAYA Dwi Oktarina
Sirok Bastra Vol 4, No 2 (2016): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (575.208 KB) | DOI: 10.37671/sb.v4i2.87

Abstract

Sebagai sebuah karya sastra, puisi dapat dikaji dari beragam aspek. Struktur puisi yang membangun kompleksitasnya tersebut dapat dibagi menjadi struktur fisik dan struktur batin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur fisik (unsur-unsur bunyi dan kata) dalam sajak “Perempuan-Perempuan Perkasa” karya Hartoyo Andangjaya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di dalam puisi ini mengandung unsur-unsur orkestrasi dan simbol bunyi, rima, diksi, denotasi dan konotasi, bahasa kiasan, pencitraan, gaya bahasa dan sarana retorika, serta faktor ketatabahasaan lainnya.
KETAHANAN BAHASA HATAM DI TENGAH ANCAMAN KEPUNAHAN (Hatam Vitality under the Threat of Language Extinction) Inayatusshalihah Inayatusshalihah
Sirok Bastra Vol 6, No 2 (2018): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (133.917 KB) | DOI: 10.37671/sb.v6i2.139

Abstract

Gambaran mengenai keterancaman bahasa di seluruh dunia cukup suram; hampir tidak ada bahasa yang terhindar dari ancaman kepunahan, baik bahasa dengan jumlah penutur yang besar maupun yang kecil. Demikian pula situasi kebahasaan di Indonesia. Bahasa-bahasa minoritas mulai tergerus oleh bahasa yang lebih dominan. Ketahanan bahasa-bahasa daerah mulai mengalami penurunan karena berbagai faktor penyebab, seperti dominasi bahasa daerah lain atau bahasa Indonesia. Tulisan ini bertujuan melihat ketahanan salah satu bahasa daerah di Papua Barat, yaitu bahasa Hatam yang dituturkan di Kampung Watariri, Distrik Oransbari, Kabupaten Manokwari Selatan. Dengan metode survei, data kajian dijaring menggunakan kuesioner yang disebarkan ke lima puluh responden yang merupakan penutur jati bahasa Hatam. Ketahanan bahasa Hatam dilihat berdasarkan sembilan kriteria vitalitas yang ditetapkan oleh UNESCO (2003), yaitu transmisi antargenerasi, jumlah penutur, proporsi penutur dalam total populasi, ranah penggunaan, respon terhadap ranah dan media baru, bahan ajar dan literasi, sikap dan kebijakan pemerintah, sikap penutur, jumlah dan kualitas dokumentasi. Hasil analisis menunjukkan bahasa Hatam berada pada tingkat “vulnerable” karena tidak memenuhi sembilan kriteria vitalitas. Keberlangsungan hidup bahasa Hatam rentan mengalami ancaman kepunahan meskipun transmisi bahasa antargenerasi masih dipertahankan. Kerentanan ini disebabkan penurunan jumlah ranah penggunaan bahasa dan ketiadaan bahan ajar dan ortografi, serta keterbatasan dokumentasi.  The portrait of language endangerment in the world is quite gloomy; almost no language is spared from endangerment, both languages with large or small speakers. Likewise, the linguistic situation in Indonesia where minority languages are being eroded by dominant languages. The vitality of indigenous languages began to decline due to various factors, such as Indonesian dominance or other local languages. This paper aims to assess the vitality of one languages in West Papua, namely Hatam which is spoken in Watariri, Oransbari District, South Manokwari Regency. Using survey method, the data was collected by questionnaire distributed to fifty respondents who is the Hatam native speakers. Hatam vitality was assessed based on nine vitality criteria proposed by UNESCO (2003), these are intergenerational language transmission, number of speakers, proportion of speakers within the total population, language domains, response to new domains and media, materials for language education and literacy, govermental attitudes and policies, speakers’ attitude towards their language, and amount and quality of documentation. The analysis result shows that Hatam situated in vulnerable level because it doesn’t fulfill the nine criteria of vitality. Viability of Hatam is vulnarable to the threat of extinction even though the intergenerational language transmission is still maintained. This vulnerability is due to a decrease in the number of domains, lacking of material for language teaching and orthograpy, and inadequacy of documentation.
PERUBAHAN DAN PERGESERAN MAKNA DALAM KATA-KATA BERDERIVASI NOMINA KE VERBA YANG MENGANDUNG AFIKS ME(N)-, ME(N)-KAN, DAN ME(N)-I PADA SURAT KABAR HARIAN KOMPAS Theodora Nirmala Fau
Sirok Bastra Vol 1, No 2 (2013): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (532.126 KB) | DOI: 10.37671/sb.v1i2.21

Abstract

Topik penelitian ini adalah derivasi nomina ke verba yang ditemukan pada surat kabar harian Kompas. Derivasi yang ada dalam surat kabar harian tersebut meliputi derivasi dari segi kelas kata dan makna. Derivasi dari segi kelas dapat dilihat dari pemberian afiks pembentuk verba, sedangkan derivasi dari segi makna dapat dilihat dari perubahan dan pergeseran makna kata turunan dengan kata asalnya. Perubahan dan pergeseran tersebut dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu idiom dan metafora. Ada 20 jenis idiom dan 24 jenis metafora yang ditemukan dalam surat kabar harian tersebut. Karakteristik dari kata berderivasi nomina ke verba ini dapat dilihat dari kemampuan mereka untuk dipasifkan. Hasilnya, mereka memiliki enam karakteristik.
INOVASI GURU DALAM PEMBELAJARAN MELALUI PEMILIHAN BAHAN AJAR CERITA RAKYAT KATEGORI MITE SEBAGAI BAHAN PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DI SEKOLAH DASAR Abdul Azis; Hajrah Hajrah
Sirok Bastra Vol 3, No 1 (2015): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.282 KB) | DOI: 10.37671/sb.v3i1.55

Abstract

Pembelajaran sastra cenderung kurang berani menggali teks dalam konteks yang lebih luas, padahal sangat mungkin menyelami unsur pembangun dari luar teks. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan cerita rakyat kategori mite untuk kepentingan pemilihan bahan ajar Bahasa dan Sastra Indonesia di SD. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analitik. Data dalam penelitian ini adalah cerita rakyat kategori mite. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik dokumentasi dari delapan guru SD di delapan kecamatan di Kabupaten Maros pada Maret—Mei 2014. Teknik analisis meliputi proses pengorganisasian dan pengurutan data tentang mitos dan pemilihan bahan ajar cerpen ke dalam pola kategori dan satuan uraian. Hasil analisis data dan temuan menunjukkan bahwa rata-rata penilaian responden untuk cerita rakyat kategori mite sebesar 3,775 atau pada kategori layak dijadikan bahan ajar. Bahan ajar yang dapat digunakan dalam pembelajaran cerita rakyat adalah jenis bahan ajar cerita rakyat apa saja. Namun, sebaiknya untuk tingkat SD, bahan ajar cerita rakyat yang digunakan adalah bahan ajar ceita rakyat yang isinya harus sesuai dengan karakteristik, pengalaman, dan kebutuhan siswa.
DAYAK ABAD KE-19 DALAM NOVEL DESERSI Asep Rahmat Hidayat
Sirok Bastra Vol 4, No 1 (2016): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.753 KB) | DOI: 10.37671/sb.v4i1.78

Abstract

Karya sastra mengandung nilai budaya masyarakat yang menjadi latar karya tersebut. Tulisan ini membahas novel Desersi karya Opsir Belanda, Perelaer, yang berlatar daerah Kalimantan dan masyarakat Dayak, serta diterbitkan pertama kali tahun 1861. Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana budaya masyarakat Dayak pada abad ke-19. Tulisan ini bertujuan untuk mengungkap aspek-aspek budaya masyarakat Dayak pada abad ke-19. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah content analysis, analisis deskriptif, dan teori Antropologi Sastra sesuai dengan tujuan penelitian ini. Diperoleh hasil bahwa banyak aspek-aspek budaya masyarakat Dayak diungkap dalam Desersi yang berupa sensible systems dan intelligible systems, antara lain sistem kepercayaan, berbagai upacara, cara berpakaian, cara berjual beli, dan interaksi penggunaan flora dan fauna.
MAKNA IMPLIKATUR PERCAKAPAN TUTURAN ENYEKAN SEBAGAI MANIFESTASI MELECEHKAN MUKA DALAM BAHASA BANJAR Rissari Yayuk
Sirok Bastra Vol 6, No 1 (2018): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (303.7 KB) | DOI: 10.37671/sb.v6i1.89

Abstract

Tuturan enyekan pada bahasa Banjar berfungsi sebagai ungkapan untuk mematahkan pembicaraan orang lain. Tuturan ini merupakan salah satu manisfestasi ketidaksantunan berbahasa yang berwujud melecehkan muka dengan ragam makna implikaturnya. Penelitian ini mengkaji (1) bagaimana manifestasi melecehkan muka dalam kalimat enyekan pada bahasa Banjar dan (2) apa saja konteks implikatur enyekan sebagai manifestasi melecehkan muka pada Bahasa Banjar. Tujuan penelitian adalah mendeskripsikan manifestasi melecehkan muka dalam kalimat enyekan pada bahasa Banjar serta memaparkan konteks implikatur enyekan sebagai manifestasi melecehkan muka pada bahasa Banjar. Data diambil di Desa Bincau, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Metode pengumpulan data penelitian adalah pengamatan langsung dengan teknik catat. Data dikaji berdasarkan teori pragmatik. Metode analisis data menggunakan deskriptif analitik dan teknik interpretatif. Hasil penelitian menunjukkan terdapat tiga manisfestasi melecehkan muka pada tuturan enyekan dalam bahasa Banjar dengan sinis, dengan kata-kata kasar, dan ejekan. Selanjutnya, makna implikatur percakapan tuturan enyekan sebagai manifestasi melecehkan muka dalam bahasa Banjar meliputi makna memerintah berkategori melecehkan muka dengan kata sinis dan kasar. Berikutnya, makna implikatur melarang berkategori melecehkan muka dengan sinis dan kasar. Terakhir makna implikatur penegasan dengan ejekan.
TANDA DALAM DRAMA “MALAM JAHANAM” KARYA MOTINGGO BOESJE: SEBUAH PENDEKATAN SEMIOTIK Tri Esthi Pamungkas
Sirok Bastra Vol 1, No 1 (2013): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (631.916 KB) | DOI: 10.37671/sb.v1i1.7

Abstract

This paper discusses signs contained in “Malam Jahanam”, a drama written by Motinggo Boesje. Those signs areanalyzed using the semiotic’s approach of Charles Sanders Peirce which is related with icon, index, and symbol.This qualitative research that uses descriptive analytic method aims to describe and explain the meaning andfunction of signs contained in “Malam Jahanam”. Through this analysis, it has been acknowledge that icons andsymbols tend to form characterization, while index tends to form plot, especially foreshadowing plot.
TATABUANG MANARE DAN BADENDANG DALAM PESTA PERNIKAHAN MASYARAKAT PULAU AMBON Helmina Kastanya
Sirok Bastra Vol 2, No 2 (2014): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (630.751 KB) | DOI: 10.37671/sb.v2i2.45

Abstract

Pulau Ambon merupakan wilayah ibu kota Provinsi Maluku yang memiliki segudang kekayaan sastra dan bahasa. Tradisi lisan tatabuang manare dan badendang merupakan salah satu kekayaan sastra yang mengandung nilai estetika dalam pesta pernikahan pada zaman dulu. Adapun permasalahan yang dikemukakan dalam penulisan ini adalah bagaimanakah bentuk, fungsi, dan nilai yang terkandung dalam tradisi lisan tatabuang manare dan badendang. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk tradisi lisan tatabuang manare dan badendang adalah prosesi berbalas pantun sambil menari diiringi alunan musik totobuang dan tifa. Tradisi ini berfungsi sebagai media penyatuan dua keluarga yang baru menjadi besan. Adapun nilai yang terkandung di dalamnya adalah nilai percintaan, kekeluargaan, dan sosial.
PEMBENTUKAN KATA DALAM BAHASA TALONDO Mardi Nugroho
Sirok Bastra Vol 5, No 2 (2017): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (252.946 KB) | DOI: 10.37671/sb.v5i2.102

Abstract

Di Mamuju, Sulawesi Barat terdapat bahasa Talondo. Jumlah penuturnya sangat minim, yaitu 400 orang (Lewis, 2009:448). Tingkat vitalitasnya ialah mengalami kemunduran (Aritonang, 2014). Bahasa yang jumlah penuturnya sangat minim dan tingkat vitalitasnya mengalami kemunduran selayaknya diprioritaskan untuk didokumentasikan. Salah satu langkah dalam mendokumentasikan suatu bahasa ialah menyusun strukturnya. Penelitian ini berusaha menemukan bagian kecil dari struktur bahasa Talondo, yaitu pembentukan kata. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara, teknik rekam, serta teknik simak dan catat. Analisis data dilakukan dengan metode distribusional (dengan teknik urai unsur terkecil, teknik pergantian, dan teknik ekspansi) serta metode padan (dengan teknik referensial). Hasil analisis data menunjukkan bahwa ada tiga macam cara pembentukan kata dalam bahasa Talondo, yaitu afiksasi, reduplikasi, dan pemajemukan. Pembentukan kata dengan afiksasi terdiri atas pembentukan kata dengan prefiksasi, konfiksasi, infiksasi, dan sufiksasi. Pembentukan kata dengan reduplikasi terdiri atas reduplikasi murni, reduplikasi sebagian, dan reduplikasi yang berkombinasi dengan afiksasi.

Page 7 of 22 | Total Record : 220