cover
Contact Name
Ahmad Abas Musofa
Contact Email
abas@iainbengkulu.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
tsaqofah@iainbengkulu.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bengkulu,
Bengkulu
INDONESIA
Tsaqofah dan Tarikh: Jurnal Kebudayaan dan Sejarah Islam
ISSN : 2528732X     EISSN : 26846926     DOI : -
Jurnal kajian kebudayaan Islam yang mencakup tiga wujud yaitu ide, sistem sosial & benda. Sedangkan model kajian sejarah Islam Indonesia dan dunia ialah original history dan reflective history.
Arjuna Subject : -
Articles 123 Documents
BUDAYA MELAYU JAMBI DALAM PERSPEKTIF SEJARAH PADA MASA ORDE BARU Fatonah Nurdin; Mahdi Bahar; Selfi Mahat Putri
Tsaqofah dan Tarikh: Jurnal Kebudayaan dan Sejarah Islam Vol 4, No 2 (2019): Jurnal Tsaqofah & Tarikh
Publisher : IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/ttjksi.v4i2.2458

Abstract

Abstract: Malay Culture in Historical Perspective during the New Order: Javanese Transmigrant Art and Culture In Sungai Bahar District, Muaro Jambi. This study looks at how the culture of Javanese transmigration in Sungai Bahar District in the New Order. The long history of transmigration has given color to one of the Sungai Bahar, Province of Jambi. How do the transmigration (migrants) who are mostly Javanese people can survive in a new place with a new environment in terms of geography different from their areas of origin. Early life in transmigration areas which was quite difficult made these communities have to work together. Some of their activities are done so they can feel at home and stay in the placement area. Art and culture (Art) which is a place that gets enough attention and enthusiasm is quite high. Where every activity or event in the area of Java, this can always be performed. The high interest of the community has also encouraged the Sungai Bahar transmigration community to create communities of art as a place for them to be creative and to preserve their original culture.Keyword: art, culture, transmigration, java, sungai bahar. Abstrak: Budaya Melayu Dalam Perspektif Sejarah Pada Masa Orde Baru: Seni Budaya Suku Jawa Transmigran Di Kecamatan Sungai Bahar, Muaro Jambi. Penelitian ini melihat bagaimana seni budaya transmigran Jawa di Kecamatan Sungai Bahar masa orde baru. Sejarah transmigrasi yang cukup panjang telah memberikan warna bagi daerah penempatan salah satunya daerah Sungai Bahar, Provinsi Jambi. Bagaimana  para transmigran (pendatang) yang kebanyakan adalah masyarakat Jawa bisa bertahan di tempat baru dengan lingkungan baru dari segi geografis berbeda dari daerah asal mereka. Kehidupan awal di daerah transmigran yang cukup sulit membuat masyarakat ini harus saling bekerja sama. Beberapa kegiatan mereka lakukan supaya bisa betah dan bertahan di daerah penempatan. Seni budaya (Kesenian) yang menjadi wadah yang cukup mendapat perhatian dan antusias yang cukup tinggi. Dimana setiap ada kegiatan atau acara kesenian daerah jawa ini selalu bisa tampil. Tingginya minat masyarakat juga mendorong masyarakat transmigrasi Sungai Bahar membuat paguyuban-paguyuban kesenian sebagai wadah mereka berkreasi dan tetap melestarikan kebudayaan asal mereka. Kata kunci: seni,budaya, transmigrasi,jawa,sungai bahar 
KARAKTERISTIK PROSA DALAM SASTRA ARAB Dyah Nurul Azizah
Tsaqofah dan Tarikh: Jurnal Kebudayaan dan Sejarah Islam Vol 4, No 2 (2019): Jurnal Tsaqofah & Tarikh
Publisher : IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/ttjksi.v4i2.2383

Abstract

Abstrak: Prosa arab telah muncul sejak masa jahiliyyah sebelum islam datang, tentu saja bentuk dan karakternya juga berbeda dengan prosa masa kini. Penelitian ini bertujuan untuk membedah seluk beluk tentang prosa arab dari zaman jahiliyah hingga zaman modern. Setiap masa memiliki karakter yang berbeda-beda. Untuk dapat memaparkan uraian tersebut, peneliti menggunakan metode deskriptif analitik untuk menjelaskan deskripsi prosa arab secara menyeluruh. Kesimpulan dari analisis tersebut adalah bahwa bentuk prosa telah melalui perkembangan yang sangat pesat. Pada masa jahiliyyah dan masa islam, prosa yang perkembangannya paling pesat ialah khitobah dan kitabah seperti rasail. Sedangkan di masa kini atau masa modern yang paling banyak tersebar adalah novel dengan berbagai macam jenis. Prosa pada masa modern dapat dikategorikan menjadi dua kubu, yaitu prosa imajinatif dan  prosa non imajinatif.Kata Kunci: prosa, sejarah, karakter, sastra arab
Kerajaan dan Komunitasnya: Sejarah dan Teori Keberadaan Komonitas Bahari di Masa Sriwijaya Nurrohim Nurrohim
Tsaqofah dan Tarikh: Jurnal Kebudayaan dan Sejarah Islam Vol 4, No 2 (2019): Jurnal Tsaqofah & Tarikh
Publisher : IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/ttjksi.v4i2.1914

Abstract

Sriwijaya adalah satu dari beberapa kerajaan besar yang  pernah berjaya di wilayah Nusantara. Letaknya diyakini berada di pinggiran sungai Musi menguatkan beberapa teori tentang penguasaan Sriwijaya terhadap jalur perdagangan di Nusantara kala itu. Penelitian ini bertujuan untuk menggali kembali berbagai teori dan versi sejarah tentang berkembangnya komunitas bahari di wilayah kerajaan Sriwijaya. Metode yang digunakan adalah metode historis analisis objek kajian berkenaan dengan peristiwa atau objek masa lampau. Analisis komparatif juga dibutuhkan karena berkenaan dengan teori tentang keberadaan masyarakat bahari. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa kemungkinan adanya masyarakat bahari pada masa kerajaan Sriwijaya adalah sangat kuat. Hal ini didukung dengan data historis dari beberapa catatan pelawat ke wilayah Sriwijaya saat itu. Salah satu di antaranya adalah Chau Ju-Kua, seorang pegawai resmi Dinasti Song yang menuliskan dalam bukunya Chu-fan-chi tentang masyarakat Sriwijaya yang saat itu tinggal di atas rumah-rumah apung meski ia sendiri hanya mendapatkan informasi tersebut dari para pelancong yang datang ke Sriwijaya dan bertemu dengannya di Guangzhou, salah satu kota terbesar di Cina selatan.
Kejayaan Lada Hingga Praktek Perburuhan di Lampung Abad ke XVIII Hingga Abad XX Karsiwan Karsiwan
Tsaqofah dan Tarikh: Jurnal Kebudayaan dan Sejarah Islam Vol 5, No 1 (2020): JUNI
Publisher : IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/ttjksi.v5i1.2710

Abstract

Tujuan dari tulisan ini adalah untuk mengetahui kejayan lada Lampung dan praktek perburuhan yang terjadi di dalamnya, dari abad XVIII-XX. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian sejarah, dengan empat unsur utama yaitu: heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif karena menggunakan sumber dari data hasil tinjauan pustaka dan dokumentasi. Berdasarkan hasil pengumpulan data, kejayaan lada Lampung dan praktek perburuhan yang terjadi di dalamnya dari abad XVI-XX merupakan dua hal yang saling mendukung. Lada di Lampung dikenal dengan sebutan Lampung Black Papper karena kualitas dan ketenarannya, di masa Kesultanan Banten budidaya lada berkembang pesat dengan banyaknya perintah penanaman lada oleh Sultan melalui piagam yang dikirimkan ke pemimpin adat (Punyimbang).  Pada awalnya praktek perburuhan di Lampung dilakukan secara sukarela, pada masa awal budidaya lada, dan berubah sejak Lampung berada di bawah Kesultanan Banten dengan perintah penanaman lada yang semakin besar, setelah kedatangan kolonialisme Belanda. Perburuhan masa itu terbagi menjadi tiga kelas yakni, 1) Buruh Lepas, 2) Buruh Bebas, 3) Buruh Kontrak.
Agama Masyarakat Suku Laut Kampung Panglong Desa Berakit, Kabupaten Bintan (1965-2011) Syahrul Rahmat; Rajabbul Amin; Rista Dilfa Riana; sumiyati sumiyati
Tsaqofah dan Tarikh: Jurnal Kebudayaan dan Sejarah Islam Vol 6, No 1 (2021): JUNI
Publisher : IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/ttjksi.v6i1.4474

Abstract

Abstrak Setelah memutuskan untuk hidup di darat, Suku Laut di Kampung Panglong Desa Berakit, Kabupaten Bintan mulai meninggalkan sistem kepercayaan mereka dan mulai memeluk agama. Selain merubah sistem kepercayaan, mereka juga mengubah pola hidup dari awalnya nomaden kepada pola hidup menetap. Masyarakat Suku Laut bebas memeluk agama yang mereka inginkan, sehingganya terdapat lebih dari satu agama dalam satu komunitas masyarakat. Keberadaan Suku Laut di Kepulauan Riau sebenarnya bukanlah hal baru, mereka tercatat sudah eksis sejak ratusan tahun lalu dan terlibat pada beberapa peristiwa bersejarah di kawasan tersebut, hanya saja pada periode itu mereka belum menganut agama sekalipun menjadi bagian dan berada di bawah pemerintahan kerajaan Islam. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi proses memeluk agama oleh Suku Laut Kampung Panglong serta menganalisa praktik-praktik keagamaan mereka dalam kehidupan sehari-hari. Metode yang digunakan adalah metode penelitian sejarah yang di dalamnya terdapat langkah heuristik, kritik, interprestasi dan historiografi. Sejarah agama Suku Laut Kampung Panglong dapat dibagi pada dua fase, yaitu pertama fase percaya pada sistem kepercayaan lokal (sebelum 1965) dan kedua fase percaya pada agama (setelah 1965). Selain itu, dalam menjalankan kehidupan sehari-hari masih terdapat kebiasaan-kebiasaan dari kepercayaan sebelumnya yang terbawa ke dalam aktivitas setelah memeluk agama.
Konsep Ajaran Sunan Kalijaga (Raden Syahid) Walisanga dalam Menyebarkan Agama Islam Melalui Kesenian Teguh Fajar Budiman
Tsaqofah dan Tarikh: Jurnal Kebudayaan dan Sejarah Islam Vol 5, No 2 (2020): DESEMBER
Publisher : IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/ttjksi.v5i2.3699

Abstract

Sunan Kalijaga (Raden Syahid) seorang seniman atau budayawan sekaligus Waliyullah yang mampu menyeret masyarat kedalam ajaran Agama Islam tanpa ada kekerasn dan paksaan, melalui kultularisasi kearifan lokal setempat. Dan mampu menciptakan karya-karya seni yang lahir dari tangan seorang Sunan Kalijaga (Raden Syahid). Ada beberapa konsep yang dibuat oleh Sunan Kalijaga untuk menyebarkan Agama Islam di Indonesia Khusunya di tanah Jawa, diantaranya, yaitu: wayang kulit, tembang-tembang, gamelan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan meneliti lebih dalam dan luas tentang 1) Konsep ajaran Agama Islam Walisanga 2) Mengetahui ajaran Agama Islam Sunan Kalijaga (Raden Syahid) melalui kesenian (Studi literatur buku atlas Walisongo karangan Agus Sunyoto). Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif. Metode kualitatif ditunjukan untuk mencari makna, pemahaman, pengertian, versheten tentang suatu fenomena, kejadian, maupun kehidupan manusia dengan terlibat langsung dan atau tidak langsung dalam setting yang di teliti, kontekstual, dan menyeluruh. Ternyata, para wali memiliki metode yang sangat bijak. Mereka memperkenalkan Islam tidak serta merta, tidak ada cara instan karena itu mereka memutuskan strategi jangka panjang. Dalam strategi dakwah yang digunakan para wali dan kemudian diterapkan di dunia pesantren, para kyai, ajengan, atau tuan guru mengajarkan agama dalam berbagai bentuk. Seperti wali-wali lain, dalam berdakwah, Sunan Kalijaga sering mengenalkan Islam kepada penduduk lewat pertunjukan wayang yang sangat digemari oleh masyrakat yang masih menganut kepercayaan Agama lama. Dengan kemampuannya yang menakjuban sebagai dalang yang ahli memainkan wayang, Sunan Kalijaga selama berdakwah di Jawa bagian barat dikenal penduduk sebagai dalang yang menggunakan berbagai nama samaran. Peranan besar Wali Songo terutama Sunan Kalijaga dalam memformasi wayang dari bentuk sederhana berupa gambar-gambar mirip manusia di atas kertas, perangkat gamelan pengiringnya, tembang-tembang dan suluknya sampai menjadi seperti bentuknya sekarang yang begitu canggih adalah sumbangan besar dalam proses pengembangan kesenian dan kebudayaan Nusantara.
Perubahan Prilaku Masyarakat Desa Air Hitam Laut terhadap Tradisi Mandi Safar Muhammad Junaidi Habe; Agus Salim
Tsaqofah dan Tarikh: Jurnal Kebudayaan dan Sejarah Islam Vol 5, No 1 (2020): JUNI
Publisher : IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/ttjksi.v5i1.2558

Abstract

Norma dan nilai yang terkandung dalam tradisi Mandi Sapar diyakini dapat membangkitkan rasa aman dan mengubah sikap dan tingkah laku individu. Upacara ini dianut secara tradisional dari generasi ke generasi. Karena itu, tulisan ini dikaji untuk mengetahui upacara Mandi Sapar dan perilaku masyarakat Desa Air Hitam Laut dengan pendekatan kualitatif. Temuan penelitian ini tentang: (1) Tradisi Mandi Safar di Air Hitam Laut sudah diamalkan sejak tahun 1965 atas prakarsa K.H. Arsyad dengan merujuk pada kitab Ta’liqah dan Abwab al-Faraj; dan, (2) Tradisi tersebut, telah membawa efek (berkah) terhadap perubahan perilaku dan social ekonomi masyarakat pantai Babussalam hingga tertanam rasa gotong-royong yang inklusif dan toleran.
Seni Arsitektur Dinasti Safawi dan Dinasti Mughal Fatkhatul Mar'ah; Kholid Mawardi; Adi Purnomo
Tsaqofah dan Tarikh: Jurnal Kebudayaan dan Sejarah Islam Vol 6, No 1 (2021): JUNI
Publisher : IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/ttjksi.v6i1.4450

Abstract

Arsitektur dalam rangkaian sejarah acapkali dipergunakan sebagai instrumen untuk memperoleh legitimasi kekuatan, kekuasaan serta kejayaan. Diantara tokoh yang mengedepankan hubungan antara arsitektur dan negara yang merupakan ahli sejarah dari Maghrib yaitu Ibn Khaldun (1332-1406), ia menyatakan bahwa kota termasuk segenap bangunannya mencerminkan dinasti yang membangunnya.Perkembangan seni arsitektur islam pada awalnya hanya menyentuh tiga bidang, yaitu : bidang bangunan sipil (Imarah Madaniyah), bangunan agama (Imarah Diniyah), dan bangunan militer (Imarah Harbiyah). Perkembangan seni arsitekstur dinasti Safawi ditandai dengan pembangunan pusara Harun-I Vilayat, pembangunan kota Isfahan, Chehel Sotoun, penginapan Caravanserai, sekolah Charbagh. Pada masa dinasti Mughol, karya bidang arsitektur bangunan dapat dilihat dari Benteng Merah Agra, Taj Mahal, Makam Humayun, Buland Darwaza, Panch Mahal, Istana Jahangir (Jahangir Mahal), Istana Fatehpur Sikri, Makam Akbar, Jama Masjid dan Rambagh.
“Masjid Kapal” Tourism Destination as Estetic Expression Media of Semarang City Society Firdaus Perdana; Hendri Hermawan Adinugraha; Mila Sartika
Tsaqofah dan Tarikh: Jurnal Kebudayaan dan Sejarah Islam Vol 5, No 2 (2020): DESEMBER
Publisher : IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/ttjksi.v5i2.3801

Abstract

The purpose of this study is to describe the tourist destination “Masjid Kapal” as a medium for aesthetic expression of the people of Semarang City. This study used a qualitative method with an interactive model consisting of three activities, namely data reduction, data presentation and verification. The results of the study concluded that the establishment of the “Masjid Kapal” in Podorejo village has a large enough potential as a religious tourism destination in the city of Semarang. “Masjid Kapal” is also an alternative choice of religious tourism in the city of Semarang. The architectural art of “Masjid Kapal” as an aesthetic expression of the people of Semarang City can be found through the uniqueness of mosque architecture and the beauty of its ornaments. The symbolic aesthetic shows that mosque managers and visitors view the “Masjid Kapal” as a place of worship as well as a tourist destination in the city of Semarang.
The History and Development of Madrasa in Indonesia Fajar Syarif
Tsaqofah dan Tarikh: Jurnal Kebudayaan dan Sejarah Islam Vol 5, No 1 (2020): JUNI
Publisher : IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/ttjksi.v5i1.2856

Abstract

This study is aimed to find out how the journey of madrasah’s history from classical to modern times, from middle east to Indonesia, as well as the challenges for the sake of existence. To achieve these objectives, the author uses library research, using written materials that have been published as books and international journals. This study uses a historical approach and science education. The results of this study indicate that growth and development of madrasah’s history in Indonesia there are two momentum determines the existence of Madrasah. First, SKB 3 minister in 1975 that became the entrance of madrasah recognition as an islamic educational institution equivalent to public shcools. Second, National Education System Law no. 2/1989 makes madrasah not only as an educational institution equivalent to public schools, more than that, madrasah is an islamic educational institution or public institution that has islamic characteristic. And well known as a PLUS public school. but on the other hand is also a challange that needs to be evidence, whether madrasah able to assume the dual status.

Page 7 of 13 | Total Record : 123