Articles
123 Documents
IDEOLOGI DAN TEKNIK PENERJEMAHAN FRASA PADA BUKU BIOGRAFI SUHARTO (A POLITICAL BIOGRAPHY) DARI BAHASA INGGRIS KE DALAM BAHASA INDONESIA KARYA R.E. ELSON (STUDI ANALISI ISI)
Pebri Prandika Putra
Tsaqofah dan Tarikh: Jurnal Kebudayaan dan Sejarah Islam Vol 4, No 1 (2019): Jurnal Tsaqofah & Tarikh
Publisher : IAIN Bengkulu
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (359.769 KB)
|
DOI: 10.29300/ttjksi.v4i1.2220
Abstract: Ideology in the translation process is important in deciding towards what kind of direction the translation will go. If the primary purpose of the translation is to promote the culture and techniques, it is considered adequate to choose the foreignization over the domestication as the ideology of the translation when it comes to the translation of culture-specific items. It also discussed those techniques used in the object of the research. The object of the research was A Political Biography of Suharto. This research was content analysis where focus on the object and the researcher as instrument. The result of this reserach found out that the most ideology used was domestiction and the technique was pure borrowing. There was significant relationship between domestication ideology and pure borrowing. It was meant The technique oriented to source language Abstrak: Ideolgy dalam proses penerjemahan sangat penting dalam menentukan kemana arah terjemahan dituju. Jika tujuan utama penerjemahan adalah untuk mengenalkan ideology dan teknik maka perlu mempertimbangkan idelogy lokal atau asing yang harus digunakan dalam pengembangan budaya bahasa. Penelitian ini juga mendiskusikan teknik yang digunakan dalam proses penerjemahan objek. Objek penelitian ini adalah buku biografi politik Suharto. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis isi dan peneliti sebagai instrumennya. Hasil dari penelitian ini ditemukan bahwa ideologi yang paling banyak digunakan adalah lokal dan tekniknya adalah peminjaman alami. Terdapat hubungan erat antara ideologi lokal dan teknik tersebut yang artinya penerjemah telah berorientasi pada bahasa sumber (bsu)
KONFLIK KEPENTINGAN DALAM PENGEMBANGAN PARIWISATA: KASUS PULAU KAPOTA, WAKATOBI, SULAWESI TENGGARA
Intan Permata Sari
Tsaqofah dan Tarikh: Jurnal Kebudayaan dan Sejarah Islam Vol 2, No 1 (2017): JUNI
Publisher : IAIN Bengkulu
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (190.043 KB)
|
DOI: 10.29300/ttjksi.v2i1.785
Abstrak: Konflik Kepentingan dalam Pengembangan Pariwisata: Kasus Pulau Kapota, Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Sektor pariwisata merupakan magnet baru yang pesonanya tidak dapat ditolak. Ini dikarenakan kebutuhan manusia sudah mulai bertambah, tidak hanya kebutuhan primer seperti sandang, pangan, dan papan saja tetapi muncul kebutuhan baru yaitu rekreasi. Munculnya kebutuhan baru berupa rekreasi membuat para pelaku pariwisata berlomba-lomba untuk mengembangkan daerahnya menjadi salah satu destinasi pariwisata. Salah satu daerah yang sedang melakukan pengembangan pariwisata adalah Pulau Kapota. Pulau ini terletak di Kecamatan Kapota, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Pengelolaan pariwisata di Kapota pada awalnya dilakukan oleh Taman Nasional Wakatobi karena Pulau Kapota merupakan salah satu ‘wilayah konservasi’ yang berada di bawah Taman Nasional Wakatobi. Akan tetapi terdapat tumpang tindih kebijakan karena sektor pariwisata merupakan ranah Dinas Pariwisata Kabupaten Wakatobi. Konflik antara Taman nasional Wakatobi dengan Dinas Pariwisata ternyata melibatkan tokoh masyarakat setempat, yang ternyata adalah orang yang sama. Tokoh masyarakat ini berdiri di dua kepentingan dengan dua lembaga masyarakat yang berbeda.
SEJARAH ISLAM DI BENGKULU ABAD KE XX M (Melacak Tokoh Agama, Masjid dan Lembaga [organisasi] Islam)
Ahmad Abas Musofa
Tsaqofah dan Tarikh: Jurnal Kebudayaan dan Sejarah Islam Vol 1, No 2 (2016): DESEMBER
Publisher : IAIN Bengkulu
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (345.09 KB)
|
DOI: 10.29300/ttjksi.v1i2.720
Abstrak: Sejarah Islam di Bengkulu Abad ke XX M. Proses Islamisasi di Bengkulu diklasifikasi menjadi empat teori, yaitu pertama; teori Aceh, kedua; teori Minangkabau, ketiga; teori Palembang, dan keempat; teori Banten. Masing-masing teori memiliki argumentasi yang intinya bahwa islamisasi Islam di Bengkulu masuk melalui arah utara, timur dan selatan. Islamisasi tersebut di lakukan para ulama atau tokoh penyebar Islam dengan berbagai media. Diantara media dakwah yang digunakan adalah pendirian masjid dan keterlibatan dalam ormas-ormas keagamaan. Sedangkan melalui lembaga pendidikan diantaranya adalah pendirian madrasah, pesantren dan perguruan tinggi.
SEJARAH ISLAM DI KOTA BINTUHAN KECAMATAN KAUR SELATAN KABUPATEN KAUR
Bobi Syahri Adha;
Maryam Maryam;
Japarudin Japarudin
Tsaqofah dan Tarikh: Jurnal Kebudayaan dan Sejarah Islam Vol 3, No 2 (2018): DESEMBER
Publisher : IAIN Bengkulu
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (224.826 KB)
|
DOI: 10.29300/ttjksi.v3i2.1558
Persoalan yang dikaji dalam skripsi ini, yaitu: pertama; Bagaimana sejarah masuknya Islam di Kota Bintuhan Kecamatan Kaur Selatan Kabupaten Kaur. Kedua; Apa saja jejak-jejak peninggalan Islam di Kota Bintuhan Kecamatan Kaur Selatan Kabupaten Kaur. Jenis penelitian historis (historical research) dengan menggunakan teknik bola salju (snowball) dalam menentukan informannya dan pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dokumentasi dan rekaman. Hasil penelitian sebagai berikut: pertama; Sejarah masuknya Islam di Kota Bintuhan Kecamatan Kaur Selatan Kabupaten Kaur di bawa oleh seorang musafir Arab, bernama Sayid Ahmad bin Ali bin Syeikh Abu Bakar yang berasal dari Hadramaut, Yaman pada pertengahan abad ke-19 M di daerah Pasar Palembang (desa Air Dingin) yang sekarang dikenal dengan sebutan Kampung Masjid. Kedua; Adapun jejak-jejak peninggalan Islam di Kota Bintuhan Kecamatan Kaur Selatan Kabupaten Kaur, yakni berupa Makam Keluarga Habib Ahmad bin Ali bin Syeikh Abu Bakar terletak di desa Jembatan Dua, Makam Puyang Pinang Tawar di desa Pengubaian, Masjid Jamik Asy Syakiriin di Kampung Masjid desa Air Dingin, Masjid Tua Bandar di desa/Kelurahan Bandar, Dokumentasi Pondok Pesantren Mu’awatul Her School (MHS) yang di dapat dari H. Nuzuar Zahari Said di desa Air Dingin (Kampung Masjid), Sekolah Nahdlatul Ulama (NU) di simpang 3 (tiga) desa Pasar Lama dan yang terakhir buku lama/kitab berbahasa Arab dengan judul Penjelasan Berbagai Ilmu Dalam al-Qur’an milik Sayid Ahmad bin Ali bin Syeikh Abu Bakar.
SASTRA ARAB DAN PENGARUHNYA TERHADAP SYAIR-SYAIR HAMZAH FANSURI
Bobbi Aidi Rahman
Tsaqofah dan Tarikh: Jurnal Kebudayaan dan Sejarah Islam Vol 1, No 1 (2016): JUNI
Publisher : IAIN Bengkulu
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (304.542 KB)
|
DOI: 10.29300/ttjksi.v1i1.862
Abstrak: Sastra Arab dan Pengaruhnya terhadap Syair-syairHamzah Fansuri. Sejarah telah mencatat bahwa pada abad ke-16 dan ke-17, kerajaan Aceh Darussalamtelah mencapai puncak keemasan peradaban dan ilmu pengetahuan. Pada masa keemasan ini, banyak karya intelektual yang ditulis dalam berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Ulama-ulama pada masa ini sangat kreatif dan inovatif untuk melahirkan karya-karya mereka, sehingga telah memberikan kontribusi dalam khazanah ilmu pengetahuan di nusantara Melayu ini. Sebagai seorang sastrawan besar, Hamzah Fansuri telah melahirkan karya-karya monumental sebagai warisan intelektual dan budaya yang sangat berharga untuk generasi sesudahnya.Ia dianggap sebagai pelopor kesusteraan Melayu klasik yang terpengaruh dengan sastra Arab. Namun, sejauh mana dan dalam hal apa saja ia terpengaruh, perlu ditelusuri secara mendalam, sebagai bukti bahwa sastra Arab pernah mewarnai kesusasteraan Melayu klasik.
RAGAM SENI DAN BUDAYA MELAYU NUSANTARA PRA ISLAM
Nyayu Soraya
Tsaqofah dan Tarikh: Jurnal Kebudayaan dan Sejarah Islam Vol 4, No 1 (2019): Jurnal Tsaqofah & Tarikh
Publisher : IAIN Bengkulu
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (310.471 KB)
|
DOI: 10.29300/ttjksi.v4i1.2288
Abstract: Ethnic Malays have abundant historical treasures. Flakes after fragments that are created every time form a mountain of exemplary examples and stories that have not been told. Based on regional, social and cultural aspects, Malay people inhabit a group of islands in Southeast Asia. Passion to build Malay and civilized architecture with the creation of Malay history, Malay has always been welcome with various cultural elements that enter it, but still maintains Malay flavors with their local genius as a filter. The development of Malay culture throughout the archipelago is predominantly influenced by the existence of a common similarity of identity possessed by various interactions and interrelationships. Abstrak: Etnis Melayu memiliki harta sejarah yang amat melimpah. Serpihan demi serpihan yang diciptakan setiap masanya membentuk gunung gemunung keteladanan serta kisah yang tak habis diceritakan. Berdasarkan aspek kewilayahan, sosial, dan budaya, masyarakat Melayu mendiami gugusan kepulauan di Asia Tenggara. Gairah membangun Arsitektur bermasyarakat dan berbudaya melayu mengiringi terciptanya sejarah melayu, sejak dulu melayu sudah welcome dengan berbagai unsur budaya yang masuk di dalamnya, namun tetap mempertahankan citarasa melayu dengan local jenius mereka sebagai penyaringnya. Perkembangan kebudayaan Melayu diseluruh Nusantara dominan dipengaruhi oleh adanya kesamaaan umum identitas yang dimiliki diladasi oleh berbagai interaksi dan interelasi.
EKSISTENSI ULAMA MINANG DAN ULAMA JAWA DALAM MENGEMBANGKAN ISLAM DI BENGKULU
ismail ismail
Tsaqofah dan Tarikh: Jurnal Kebudayaan dan Sejarah Islam Vol 4, No 2 (2019): Jurnal Tsaqofah & Tarikh
Publisher : IAIN Bengkulu
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29300/ttjksi.v4i2.2468
Menurut Hiroko Horikoshi, peran ulama yang paling bernilai dan utama adalah terkait peran tradisionalnya, yakni sebagai penanggung jawab dalam mempertahankan keyakinan (keimanan). Melalui pengajaran ilmu-ilmu agama, ulama melestarikan praktek-praktek ortodoksi keagamaan para penganutnya. Ulama tidak dapat dipisahkan dari agama dan umat. Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah menyebutkan bahwa posisi ulama dari sudut sosiologis sebagai pusat dalam hubungan Islam dengan umatnya. Itulah sebabnya, ulama sering menampilkan diri sebagai figur yang menentukan dalam pergumulan umat Islam di panggung sejarah, berhubungan dengan pemerintahan, politik, sosial, budaya dan pendidikan. Pembentukan Muslim dan kelestariannya tidak dapat dilepaskan dari peran ulama. Dalam pada itu, masyarakat Muslim memiliki andil bagi terbentuknya ulama secara berkesinambungan.
KONTRIBUSI SYAIKH ABDUS SHAMAD AL-PALIMBANI PADA ASPEK INTELEKTUAL ISLAM DI NUSANTARA ABAD KE-18
Arafah Pramasto
Tsaqofah dan Tarikh: Jurnal Kebudayaan dan Sejarah Islam Vol 4, No 2 (2019): Jurnal Tsaqofah & Tarikh
Publisher : IAIN Bengkulu
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29300/ttjksi.v4i2.2473
Abstract : Sheikh Abdus Shamad Al-Palimbani’s Contributions toward Islam in 18th Century’s Indonesian Archipelago. Born in 1737 AD, Sheikh Abdus Shamad was a Sufi Ulema from Palembang.His grandfather, who was also a Sufi Ulema held a position of a Mufti in Kingdom of Kedah. His grandmother, however,belonged to a noble family from Sultanate of Palembang. Abdus Shamad received good education during his lifetime in Palembang.He later continued his journeyof knowledge-seekingby traveling to the Haramayn (Holy Lands of Islam) where he learned various Islamic principles. He also engaged in various discussions with Ulemas and Malay speaking diciples also called the Jawi Community.As an Ulema and an intellectual, Sheikh Abdus Shamad authored eight books mostly in the Malay language.Two magnum opus of his writings that gained popularity among Indonesian Muslims were Sufi-themed books i.e.Hidayatus Salikin fi Suluk Maslak al-Muttaqiin and Siyarus Salikin ila Ibadat rabb al-‘alamin.Keywords : Intellectual, Ulema, Indonesian Archipelago, Shaikh Abdus Shamad Al-PalimbaniAbstrak : Kontribusi Syaikh Abdus Shamad Al-Palimbani pada Aspek Intelektual Islam di Nusantara Abad ke-18. Syaikh Abdus Shamad Al-Palimbani merupakan seorang Ulama Sufi asal Palembang yang lahir pada tahun 1737 M. Secara genetis ia adalah keturunan Ulama Sufi (kakek) yang menjadi Mufti di Kerajaan Keddah dan bangsawan Kesultanan Palembang (nenek).Latar belakang keluarganya itu memberi andil bagi Abdus Shamad untuk memperoleh pendidikan yang baik selama di Palembang. Ia kemudian melanjutkan pendidikannya ke Haramayn (Tanah Suci) untuk belajar ilmu-ilmu agama kepada pada Ulama serta aktif terlibat diskusi keilmuan di dalam “Komunitas Jawi”, yakni orang-orang Nusantara berbahasa Melayu yang belajar di sana. Sebagai seorang Ulama sekaligus intelektual, Syaikh Abdus Shamad juga menghasilkan 8 buah karya yang sebagian besar berbahasa Melayu. Karyanya yang paling terkenal bagi Muslim di Nusantara adalah kitab Sufi berjudul Hidayatus Salikin fi Suluk Maslak al-Muttaqiin dan Siyarus Salikin ila Ibadat rabb al-‘alamin.Kata Kunci : Intelektual, Ulama, Nusantara, Syaikh Abdus Shamad Al-Palimbani
PERUBAHAN ARTIKULASI FONEM BAHASA ARAB BAGI PENUTUR BAHASA ASING
Rossi Delta Fitrianah
Tsaqofah dan Tarikh: Jurnal Kebudayaan dan Sejarah Islam Vol 4, No 2 (2019): Jurnal Tsaqofah & Tarikh
Publisher : IAIN Bengkulu
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29300/ttjksi.v4i2.2835
The impact of the articulation of the second language phonemes will lead to mistaken meanings. Pronounced mistakes made by second language speakers will confuse the speaker, especially the native speaker. Mistakes of meaning and misinterpretation result in communication not working properly. Research Objectives 1.) to indicate Arabic phonemes that often occur in articulation changes for Arabic IAIN Bengkulu students. 2.) to find out the factors that influence changes in the articulation of Arabic phonemes for students of IAIN Bengkulu Arabic Language Study Program. The research approach used in this study is a qualitative approach with the type of phenomenological research this study aims to reveal the phenomenon of changes in the articulation of Arabic phonemes for students of the Arabic IAIN Bengkulu Study Program and the factors that influence it. This research is a qualitative descriptive study. Based on the data, it is known that the error rate of Arabic phoneme articulation in the fourth semester students of PBA Study Program is known that there are several forms of Arabic phoneme pronunciation errors that are often found, namely: هـ, ف, ذ, ث The factors that cause the articulation errors of Arabic phoneme IV semester students of Study Program PBA Because of the intersection between Arabic and Indonesian (Interference), which is a mistake caused by the carrying out of the habits of spoken language or dialect of the mother into the second language or dialect. Lack of Motivation to master Arabic articulation in accordance with the rules. Lack of mastery in the pronunciation of the Arabic phoneme There are several factors for speech disordersKeywords: articulation, phonemes, foreign speakers
TRANSISI KHALIFAH UMAYYAH: DARI MUAWIYAH BIN ABU SUFYAN KE YAZID BIN MUAWIYAH (661-683 M)
agus mahfudin setiawan
Tsaqofah dan Tarikh: Jurnal Kebudayaan dan Sejarah Islam Vol 4, No 2 (2019): Jurnal Tsaqofah & Tarikh
Publisher : IAIN Bengkulu
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29300/ttjksi.v4i2.2459
Transition is a period of change, a turning point of social change both in the form of structure (socio-political) and culture (socio-cultural). Power on the basis of the faith shown by the Prophet Muhammad had a very fundamental influence, for Muslim government in the year 661-683 M. The transition of power shifted from the electoral system senior companions to hereditary. This transition period was based on feelings of dissatisfaction with the latest leadership of Ali Bin Abi Talib. The aftermath of this is the war between the supporters of rule (Ali bin Abi Thalib). This conflict is based on seniority and the authority of the apostle's friendship with the opposing government, the descendants of the Hashim and Umayyah. Islamic politics of indeed inseparable from the interaction between one government and another, a transition of power and politics that is so dynamic in accordance with the demands of the context of the era at that time. This paper aims to illustrate that the Umayyah government system was not standard at all, but moved dynamically.