cover
Contact Name
Maryani
Contact Email
marry.tenang@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Surya Medika: Jurnal Ilmiah Ilmu Keperawatan dan Ilmu Kesehatan Masyarakat
ISSN : 1829734X     EISSN : 26854961     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Surya Medika adalah jurnal yang diterbitkan oleh STIKes Surya Global Yogyakarta. Jurnal ini Fokus pada Ilmu Kesehatan yang meliputi: Ilmu keperawatan, kesehatan masyarakat, farmasi dan yang sebidang dengan kesehatan. Jurnal ini terbit dua kali dalam satu tahun yaitu pada bulan Januari dan Juli.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "vol. 21 no. 2 (2026)" : 7 Documents clear
Fungsi Perawatan Kesehatan Keluarga dengan Kualitas Hidup Lansia Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 Habibur Ridho Kurrota Kurrota; Trisna Vitaliati; Ahmad Ali Basri
Surya Medika: Jurnal Ilmiah Ilmu Keperawatan dan Ilmu Kesehatan Masyarakat Vol. 21 No. 2 (2026)
Publisher : STIKes Surya Global Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32504/sm.v21i2.1158

Abstract

Latar Belakang: Diabetes melitus merupakan penyakit kronis yang memerlukan pengelolaan seumur hidup dan dapat memberikan dampak terhadap fungsi fisik, kesehatan psikologis, serta peran sosial, yang pada akhirnya memengaruhi kualitas hidup penderitanya. Peran keluarga dalam melaksanakan fungsi perawatan kesehatan merupakan salah satu faktor penting dalam mendukung pengelolaan diabetes melitus dan meningkatkan kualitas hidup lanjut usia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara fungsi perawatan kesehatan keluarga dengan kualitas hidup pada lanjut usia yang menderita diabetes melitus tipe 2. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan observasional dengan desain penelitian korelasi cross-sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah pasien lansia DM tipe 2 di Puskesmas Jenggawah, yakni 86 responden yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi menggunakan purposive sampling. Analisis univariat untuk menentukan distribusi frekuensi dan analisis bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Terdapat hubungan yang signifikan antara fungsi pelayanan kesehatan keluarga dengan kualitas hidup lansia dengan DM tipe 2 dengan nilai p (0,001) <? (0,05). Individu yang memiliki peran perawatan kesehatan keluarga yang baik cenderung memiliki standar hidup yang baik dan sebaliknya Individu yang memiliki peran perawatan kesehatan keluarga yang buruk cenderung memiliki standar hidup yang buruk. Kesimpulan: Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara fungsi perawatan kesehatan keluarga dengan kualitas hidup lanjut usia yang menderita diabetes melitus di Puskesmas Jenggawah, Kabupaten Jember
Pengetahuan Santri Tentang Personal Hygiene di Pondok Pesantren X Kabupaten Purbalingga Amri Firgiawan; Ikit Netra; Siti Haniyah
Surya Medika: Jurnal Ilmiah Ilmu Keperawatan dan Ilmu Kesehatan Masyarakat Vol. 21 No. 2 (2026)
Publisher : STIKes Surya Global Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32504/sm.v21i2.1403

Abstract

Latar Belakang: Kesehatan jasmani dan rohani merupakan kebutuhan penting bagi setiap individu. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan adalah melalui penerapan personal hygiene. Kurangnya personal hygiene terbukti menjadi faktor risiko munculnya berbagai penyakit menular, salah satunya skabies, yang banyak ditemukan di pondok pesantren. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran pengetahuan santri tentang personal hygiene di Pondok Pesantren X, Desa Kembangan, Kecamatan Bukateja, Kabupaten Purbalingga.   Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan rancangan cross sectional. Jumlah responden sebanyak 93 santri yang diambil dengan teknik total sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner, dan data dianalisis menggunakan analisis univariat untuk mendeskripsikan distribusi frekuensi. Hasil: Mayoritas responden berusia remaja awal (87,1%), berjenis kelamin perempuan (64,5%), dan berpendidikan rendah (62,4%). Tingkat pengetahuan santri mengenai personal hygiene menunjukkan bahwa 50,5% responden memiliki pengetahuan baik, sedangkan 49,5% berpengetahuan buruk. Berdasarkan jenis kelamin, santri perempuan lebih banyak memiliki pengetahuan baik (78,7%) dibandingkan laki-laki (21,3). Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian, mayoritas responden berada pada kelompok usia remaja awal, berjenis kelamin perempuan, dan memiliki tingkat pendidikan yang rendah. Selain itu, sebagian besar santri memiliki tingkat pengetahuan yang baik mengenai personal hygiene.
Faktor yang Berhubungan dengan Stres Kerja pada Terapis Anak Berkebutuhan Khusus Sylva Qamara Nur Fadilah; Fatma Indriani
Surya Medika: Jurnal Ilmiah Ilmu Keperawatan dan Ilmu Kesehatan Masyarakat Vol. 21 No. 2 (2026)
Publisher : STIKes Surya Global Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32504/sm.v21i2.1404

Abstract

Latar Belakang: Terapis Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) memiliki tanggung jawab kerja yang kompleks dan menuntut konsentrasi serta keterlibatan emosional yang tinggi, yang dapat memicu stres kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan stres kerja pada terapis anak berkebutuhan khusus di Kota Medan. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain crossectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 33 terapis yang bekerja di klinik terapi Anak Berkebutuhan Khusus. Teknik analisis data yang digunakan adalah uji Spearman’s rho dan uji Mann-Whitney U. Pengumpulan data menggunakan kuesioner NASA-TLX untuk mengukur beban kerja dan kuesioner OSI RTM Revised Edition untuk mengukur tingkat stres kerja. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 15 orang terapis (45,5%) mengalami stres kerja tinggi, 13 orang (39,4%) mengalami stres kerja sedang, dan 5 orang (15,2%) mengalami stres kerja rendah. Uji Spearman menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan dan positif antara beban kerja dan stres kerja (r = 0,521; p = 0,002), serta hubungan negatif yang signifikan antara masa kerja dan stres kerja (r = -0,397; p = 0,022). Sementara itu, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara umur dengan stres kerja (r = -0,233; p = 0,191). Hasil uji Mann-Whitney menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara tingkat stres kerja berdasarkan jenis kelamin (p = 0,007), dengan rata-rata ranking stres kerja lebih tinggi pada terapis perempuan. Kesimpulan: Hasil ini menekankan adanya hubungan antara beban kerja yang tinggi dan masa kerja yang lebih singkat dengan tingkat stres kerja yang lebih tinggi pada terapis. Dukungan, manajemen beban kerja, dan pelatihan regulasi emosi sangat penting untuk meningkatkan kesejahteraan mereka.
Reorientasi Belanja Kesehatan sebagai Instrumen Strategis untuk Peningkatan Capaian Kinerja Prioritas Daerah di Kabupaten Banyuasin Hari Putrawan
Surya Medika: Jurnal Ilmiah Ilmu Keperawatan dan Ilmu Kesehatan Masyarakat Vol. 21 No. 2 (2026)
Publisher : STIKes Surya Global Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32504/sm.v21i2.1476

Abstract

Latar Belakang: Realisasi belanja kesehatan Kabupaten Banyuasin mencapai 88,72% dari pagu anggaran pada tahun 2022, meningkat menjadi 96,4% pada tahun 2023 dan 95,03% pada tahun 2024, mencerminkan kapasitas penyerapan yang tinggi dan terus membaik. Meskipun demikian, sejumlah indikator prioritas masih di bawah target: jumlah kematian ibu sebanyak 21 orang terhadap target 12 orang, jumlah kematian bayi sebanyak 60 orang terhadap target 25 orang, dan prevalensi stunting sebesar 16,8% terhadap target 14%. Kesenjangan ini menunjukkan belanja kesehatan belum berfungsi sebagai instrumen strategis pencapaian kinerja prioritas. Policy paper ini bertujuan mengorientasikan kembali belanja kesehatan Banyuasin menuju alokasi berbasis kinerja yang selaras dengan indikator prioritas strategis. Metode: Policy paper ini menggunakan kombinasi analisis kuantitatif deskriptif, analisis isi, dan studi komparasi berdasarkan dokumen resmi pertanggungjawaban dan kinerja daerah tahun 2022–2025. Prioritas masalah ditentukan dengan metode Urgency-Seriousness-Growth, sedangkan alternatif kebijakan dirumuskan melalui sintesis bukti. Hasil: Analisis tren menunjukkan realisasi belanja meningkat dari 88,72% pada tahun 2022 menjadi 95,03% pada tahun 2024. Analisis kesenjangan mengonfirmasi keterlambatan capaian pada angka kematian ibu, angka kematian bayi, dan prevalensi stunting. Analisis efisiensi menunjukkan alokasi anggaran terbesar belum tentu memiliki daya ungkit terbesar terhadap outcome. Tiga alternatif dirumuskan: penajaman belanja pada layanan primer berdampak tinggi, penguatan penganggaran berbasis kinerja, dan integrasi evaluasi ke dalam siklus perencanaan anggaran. Kesimpulan: Reorientasi belanja kesehatan Kabupaten Banyuasin memerlukan pergeseran dari orientasi input menuju orientasi outcome, didukung oleh integrasi evaluasi kinerja dan koordinasi lintas sektor, guna menutup kesenjangan antara target perencanaan dan capaian kinerja aktual.
Korelasi FOMO Makanan Viral dengan Risiko Diabetes Melitus pada Mahasiswa Keperawatan Shally Shalawati; Dewi Dolifah; Delli Yuliana Rahmat
Surya Medika: Jurnal Ilmiah Ilmu Keperawatan dan Ilmu Kesehatan Masyarakat Vol. 21 No. 2 (2026)
Publisher : STIKes Surya Global Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32504/sm.v21i2.1427

Abstract

Latar Belakang: Diabetes melitus merupakan salah satu penyakit tidak menular dengan pertumbuhan tercepat di dunia, dengan lebih dari 537 juta penderita (Magliano and Boyko, 2021) dan diperkirakan melebihi 830 juta kasus . Survei Kesehatan Indonesia 2023 melaporkan prevalensi 1,7% dan meningkat menjadi 2,2% pada penduduk usia ?15 tahun, sementara proporsi kasus tidak terdiagnosis pada usia 15–24 tahun mencapai 1,8%. Mahasiswa keperawatan sebagai bagian dari kelompok dewasa muda memiliki paparan tinggi terhadap konten makanan viral di media sosial. Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) dapat mendorong konsumsi impulsif makanan tinggi gula dan kalori sehingga berpotensi meningkatkan risiko metabolik. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara FOMO makanan viral dan risiko diabetes melitus pada mahasiswa keperawatan. Metode: Penelitian menggunakan desain kuantitatif cross-sectional dengan 115 responden berusia 15–24 tahun di Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Daerah Sumedang, yang dipilih melalui rumus Slovin dan stratified random sampling. Instrumen yang digunakan adalah Viral Food FOMO Scale (20 item tervalidasi) dan FINDRISC versi Indonesia. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square dan Cramer’s V. Hasil: Mayoritas responden memiliki tingkat FOMO sedang serta risiko diabetes sangat rendah hingga rendah. Analisis menunjukkan adanya hubungan bermakna antara FOMO makanan viral dan risiko diabetes melitus dengan kekuatan hubungan sedang. Simpulan: FOMO terkait makanan viral berhubungan signifikan dengan peningkatan risiko diabetes melitus pada kelompok dewasa muda. Meskipun risiko keseluruhan rendah, keberadaan potensi kasus tidak terdiagnosis menegaskan pentingnya skrining dini, edukasi gizi, dan upaya promotif untuk mencegah risiko metabolik di masa mendatang.  
Gambaran Risiko Menjadi Pelaku Kekerasan Seksual pada Mahasiswa dengan Maskulinitas Ersa Ratmi Tiara; Reni Nuryani; Sri Wulan Lindasari
Surya Medika: Jurnal Ilmiah Ilmu Keperawatan dan Ilmu Kesehatan Masyarakat Vol. 21 No. 2 (2026)
Publisher : STIKes Surya Global Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32504/sm.v21i2.1438

Abstract

Latar Belakang: Kekerasan seksual di lembaga pendidikan tinggi merupakan fenomena yang semakin umum terjadi, dengan konsekuensi fisik, psikologis, dan sosial yang serius bagi korban. Fenomena ini dipengaruhi oleh konstruksi sosial maskulinitas yang menekankan kekuatan, dominasi, penekanan emosi, dan penegasan superioritas melalui perilaku agresif. Ketika ekspresi emosional dihambat dan konsep diri dibangun berdasarkan nilai-nilai tersebut, individu mungkin mengalihkan tekanan internal ke dalam tindakan kekerasan, termasuk kekerasan seksual, menunjukkan bagaimana maskulinitas yang tidak sehat dapat meningkatkan risiko menjadi pelaku. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan tingkat risiko menjadi pelaku kekerasan seksual di kalangan mahasiswa dengan karakteristik maskulin. Metode: Teknik sampling menggunakan total sampling, yaitu seluruh populasi diundang untuk mengikuti tahap skrining maskulinitas. Dari 162 mahasiswa, sebanyak 139 mahasiswa bersedia berpartisipasi dan mengisi informed consent sehingga mengikuti skrining maskulinitas (response rate 85,8%), sedangkan 23 mahasiswa tidak bersedia berpartisipasi sehingga tidak diikutsertakan dalam penelitian. , menggunakan alat skrining maskulinitas Thompson dan Bennett, dengan hasil uji validitas sebesar 0,92 dan hasil uji reliabilitas sebesar 0,795. Kuesioner tindak lanjut menggunakan Skala Risiko Perilaku Kekerasan Seksual, dengan hasil reliabilitas sebesar 0,964. Analisis data dilakukan secara univariat. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden termasuk dalam kategori risiko sedang terkait dengan pelanggaran kekerasan seksual. Temuan ini menunjukkan adanya potensi kerentanan yang belum berkembang menjadi risiko tinggi, namun tetap memerlukan perhatian. Maskulinitas bukanlah satu-satunya faktor penentu, tetapi berinteraksi dengan faktor lain seperti regulasi emosi, pengendalian diri, dan pengaruh lingkungan sosial. Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian, mayoritas mahasiswa pria dengan karakteristik maskulinitas berada pada kategori risiko sedang untuk menjadi pelaku kekerasan seksual.
Efektivitas Penatalaksanaan Sleep Hygiene Terstruktur Terhadap Gangguan Pola Tidur dengan Gerd Rinda Exsantri Herdiyanti; Ahmad Purnama Hudaya; Ria Inriyana
Surya Medika: Jurnal Ilmiah Ilmu Keperawatan dan Ilmu Kesehatan Masyarakat Vol. 21 No. 2 (2026)
Publisher : STIKes Surya Global Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32504/sm.v21i2.1440

Abstract

Latar Belakang: Gangguan pola tidur sering dialami mahasiswa keperawatan dengan gastroesophageal reflux disease (GERD) dan berdampak negatif terhadap kesehatan serta performa akademik. Hubungan dua arah antara gangguan tidur dan GERD menciptakan siklus patologis yang memerlukan intervensi terarah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas penatalaksanaan sleep hygiene terstruktur dalam mereduksi gangguan pola tidur pada mahasiswa S1 Keperawatan UPI Kampus Sumedang dengan GERD. Metode: Jenis penelitian ini adalah kuasi eksperimen dengan desain non-equivalent control group pretest-posttest. Dalam penelitian ini melibatkan 40 mahasiswa keperawatan (20 intervensi, 20 kontrol) yang dipilih melalui purposive sampling berdasarkan skor GERD-Q ?8 dan PSQI >5. Kelompok intervensi menerima penatalaksanaan sleep hygiene terstruktur selama tujuh hari berturut-turut, sedangkan kelompok kontrol tidak menerima intervensi khusus. Kualitas tidur diukur menggunakan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Data dianalisis menggunakan uji Wilcoxon signed-rank untuk perbandingan dalam kelompok dan uji Mann-Whitney U untuk perbandingan antar kelompok. Hasil: Kelompok intervensi menunjukkan penurunan skor PSQI yang sangat signifikan dari 10,05±2,67 menjadi 4,50±1,64 (p<0,001), dengan penurunan rata-rata 5,55 poin, mengubah kualitas tidur dari kategori buruk menjadi baik. Kelompok kontrol tidak menunjukkan perubahan signifikan dengan median skor tetap 8,00 (p=0,053). Perbedaan selisih perubahan skor PSQI antar kelompok sangat signifikan secara statistik (p<0,001), dengan kelompok intervensi menunjukkan penurunan median sebesar -5,500 poin dibandingkan 0,000 pada kelompok kontrol, mengindikasikan effect size yang substansial. Kesimpulan: Penatalaksanaan sleep hygiene terstruktur sangat efektif dalam mereduksi gangguan pola tidur pada mahasiswa keperawatan dengan GERD. Intervensi nonfarmakologis ini memberikan pendekatan praktis, mudah diakses, dan berbasis bukti untuk meningkatkan kualitas tidur pada populasi rentan ini serta dapat diimplementasikan secara mandiri oleh mahasiswa.

Page 1 of 1 | Total Record : 7