cover
Contact Name
Misriyani
Contact Email
misriyani85@gmail.com
Phone
+6281334845085
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Jl. Diponegoro No.39 Palu
Location
Kota palu,
Sulawesi tengah
INDONESIA
Medika Alkhairaat : Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan
Published by Universitas Alkhairaat
ISSN : 2657179X     EISSN : 26567822     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan aims to provide both national and international forums to encourage interdisciplinary discussions and contribute to the advancement of medicine, benefiting readers and authors by accelerating the dissemination of research information and providing maximum access to scientific communication.
Articles 260 Documents
ASSOCIATION BETWEEN SMOKING STATUS AND RANDOM BLOOD GLUCOSE LEVELS AMONG EMPLOYEES IN GADING SUBDISTRICT Winnie Santosa; Anita Dahliana; Dwi Martha Nur Aditya; Sajuni
Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Vol 8 No 02 (2026): Agustus
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31970/ma.v8i02.469

Abstract

ABSTRAK Prevalensi perokok di Indonesia terus mengalami peningkatan setiap tahunnya, yang berdampak pada meningkatnya risiko berbagai penyakit akibat kebiasaan merokok. Salah satu penyakit yang berkaitan dengan rokok adalah diabetes melitus. Kandungan nikotin dalam rokok diketahui dapat mengganggu kerja insulin sehingga memicu peningkatan kadar glukosa darah. Selain itu, nikotin juga dapat menekan nafsu makan sehingga berpotensi menurunkan kadar glukosa darah atau menyebabkan hipoglikemia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara status merokok dengan kadar glukosa darah sewaktu pada pegawai di Kelurahan Gading, Tambaksari, Surabaya. Penelitian menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Data primer diperoleh melalui kuesioner Fagerström Test for Nicotine Dependence dan pemeriksaan kadar glukosa darah menggunakan alat Accu-Chek. Teknik pengambilan sampel adalah consecutive sampling dengan jumlah responden sebanyak 100 orang. Uji normalitas dilakukan dengan Kolmogorov-Smirnov, sedangkan analisis bivariat menggunakan uji Spearman rank correlation dengan tingkat signifikansi ≤ 0,05. Hasil penelitian menunjukkan nilai p-value 0,004 dengan koefisien korelasi 0,28, yang mengindikasikan adanya hubungan positif dan cukup antara status merokok dengan kadar glukosa darah sewaktu. Temuan ini menegaskan bahwa kebiasaan merokok berkontribusi terhadap peningkatan kadar glukosa darah pada pegawai di Kelurahan Gading. ABSTRACT Smoking prevalence in Indonesia continues to increase annually, contributing to a higher incidence of smoking-related diseases. One condition associated with smoking is diabetes mellitus, as nicotine interferes with insulin function and may elevate blood glucose levels. Conversely, nicotine can also suppress appetite, potentially leading to hypoglycemia. This study aimed to examine the association between smoking status and random blood glucose levels among employees in Gading Subdistrict, Tambaksari, Surabaya. An analytical observational study with a cross-sectional design was conducted. Primary data were collected using the Fagerström Test for Nicotine Dependence and random blood glucose measurement with an Accu-Chek device. Sampling was performed using consecutive sampling, involving 100 respondents. Normality testing was conducted with the Kolmogorov-Smirnov test, and bivariate analysis was performed using Spearman’s rank correlation with a significance level of ≤ 0.05. The results showed a p-value of 0.004 and a correlation coefficient of 0.28, indicating a positive and moderate relationship between smoking status and random blood glucose levels. These findings suggest that smoking behavior contributes to increased blood glucose levels among employees in Gading Subdistrict. The study highlights the importance of smoking cessation programs and workplace health interventions to reduce the metabolic risks associated with smoking.
PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA TENTANG CUCI HIDUNG DALAM MENJAGA KESEHATAN SALURAN PERNAPASAN BAGIAN ATAS PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA Nasya Salsabilah; Andi Tenri Sana Arifuddin; Rezky Pratiwi L. Basri; Ahmad Ardhani Pratama; Reza Zainal Abidin
Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Vol 8 No 02 (2026): Agustus
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31970/ma.v8i02.471

Abstract

ABSTRAK Cuci hidung dengan larutan salin merupakan tindakan sederhana yang berpotensi membantu menjaga kebersihan rongga hidung dan kesehatan saluran pernapasan bagian atas. Namun, pemahaman remaja mengenai manfaat, mekanisme, dan pelaksanaannya belum tentu merata. Penelitian ini bertujuan mengetahui tingkat pengetahuan dan sikap remaja tentang cuci hidung dalam menjaga kesehatan saluran pernapasan bagian atas pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan metode survei. Sampel berjumlah 299 mahasiswa usia 18-21 tahun yang dipilih menggunakan simple random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner pengetahuan dan sikap, kemudian dianalisis secara univariat dalam bentuk distribusi frekuensi dan persentase. Responden terbanyak berusia 18 tahun (35,1%). Tingkat pengetahuan responden paling banyak berada pada kategori cukup sebanyak 169 orang (56,5%), diikuti kategori baik 112 orang (37,5%) dan kurang 18 orang (6,0%). Sikap responden hampir seluruhnya berada pada kategori baik sebanyak 295 orang (98,7%). Mahasiswa memiliki sikap sangat positif terhadap cuci hidung, tetapi pengetahuan masih dominan pada kategori cukup sehingga diperlukan penguatan edukasi teknis. ABSTRACT Nasal irrigation with saline solution is a simple practice that may help maintain nasal hygiene and upper respiratory tract health. However, adolescents may have uneven understanding of its benefits, mechanisms, and correct implementation. This study aimed to describe adolescents’ knowledge and attitudes toward nasal irrigation for maintaining upper respiratory tract health among medical students at Universitas Muslim Indonesia. This research used a quantitative descriptive design with a survey method. A total of 299 students aged 18-21 years were selected using simple random sampling. Data were collected using a knowledge and attitude questionnaire and analyzed univariately as frequency and percentage distributions. Most respondents were 18 years old (35.1%). Knowledge was most frequently categorized as sufficient among 169 respondents (56.5%), followed by good among 112 respondents (37.5%) and poor among 18 respondents (6.0%). Attitudes were predominantly good among 295 respondents (98.7%), while only 4 respondents (1.3%) had a sufficient attitude category. Medical students showed highly positive attitudes toward nasal irrigation, but their knowledge remained predominantly sufficient, indicating the need for more structured technical education.
EKLAMPSIA: PROFIL KASUS DI RUMAH SAKIT REGIONAL SULAWESI TENGAH I Putu Fery Immannuel White; John Johannes Ezechiel Wantania; Amalia Syafrida
Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Vol 8 No 02 (2026): Agustus
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31970/ma.v8i02.472

Abstract

ABSTRAK Eklampsia adalah komplikasi obstetri yang mengancam jiwa, ditandai oleh terjadinya kejang tonik-klonik pada wanita hamil atau pasca persalinan tanpa penyebab neurologis lain. Eklampsia berkontribusi signifikan terhadap angka kematian ibu dan prenatal, terutama di negara berpenghasilan rendah hingga sedang. tujuan penelitian untuk mendeskripsikan profil klinis, penatalaksanaan, luaran dari lima kasus eklampsia yang ditangani di beberapa rumah sakit regional di Sulawesi Tengah, serta menyoroti variasi klinis dan tantangan diagnostik/terapeutik. Laporan kasus deskriptif pada lima pasien primigravida, usia muda dengan kontrol antenatal yang tidak lengkap. Informasi diambil dari rekam medis meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik, temuan laboratorium, penatalaksanaan (magnesium sulfat dan antihipertensi), cara dan waktu persalinan, serta luaran ibu dan bayi. Seluruh pasien mengalami hipertensi; sebagian melaporkan gejala prodromal (sakit kepala, gangguan penglihatan, nyeri epigastrium). Tiga pasien mengalami kejang, satu pasien datang dalam kondisi koma, dan satu pasien mengalami eklampsia pascapersalinan. Penatalaksanaan utama meliputi magnesium sulfat, obat antihipertensi dan persalinan secara pervaginam atau operasi. Luaran ibu umumnya baik; terdapat satu bayi dengan henti jantung dan satu bayi dengan asfiksia. Usia muda, status primigravida, dan kontrol antenatal yang suboptimal merupakan faktor risiko utama. Penanganan cepat dan multidisiplin dengan kontrol kejang, pengendalian tekanan darah, serta persalinan tepat waktu penting untuk menurunkan morbiditas dan mortalitas. ABSTRACT Eclampsia is a life-threatening obstetric complication characterized by generalized tonic–clonic seizures in pregnant or postpartum women in the absence of other neurologic causes. It remains a major contributor to maternal and perinatal mortality, particularly in low- and middle-income settings. The objective of the study is to describe the clinical profiles, management, and outcomes of five eclampsia cases treated at several regional hospitals in Central Sulawesi, highlighting clinical variation and diagnostic/therapeutic challenges. A Descriptive case series of five young primigravid patients with incomplete antenatal care. Data were extracted from medical records including history, physical examination, laboratory findings, management (magnesium sulfate and antihypertensives), mode and timing of delivery, and maternal–infant outcomes. All patients were hypertensive; most reported prodromal symptoms (headache, visual disturbance, epigastric pain). Three patients had seizures, one presented in coma, and one had postpartum eclampsia. Primary management included magnesium sulfate, antihypertensives, and delivery via vaginal birth or cesarean section. Maternal outcomes were generally good; one neonate experienced cardiac arrest and one had asphyxia. Young age, primigravida status, and suboptimal antenatal care were key risk factors. Prompt, multidisciplinary care with seizure control, blood pressure management, and timely delivery is critical to reduce morbidity and mortality.
A PROFILE ANALYSIS AND MEDICOLEGAL ASPECTS OF FORENSIC DOCTORS IN PATIENTS UNDERGOING KIDNEY TRANSPLANTATION AT DR. SARDJITO GENERAL HOSPITAL IN 2024 Dimas Maulana Agustian; Martiana Suciningtyas Tri Artanti
Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Vol 8 No 02 (2026): Agustus
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31970/ma.v8i02.474

Abstract

ABSTRAK Transplantasi ginjal merupakan prosedur medis yang penting untuk menggantikan ginjal yang mengalami kerusakan atau gagal fungsi dengan ginjal yang sehat dari donor. Transplantasi ginjal memberikan harapan hidup yang lebih baik dan kualitas hidup yang meningkat dibandingkan metode lain seperti cuci darah. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan profil demografis dan karakteristik pasien yang menjalani transplantasi ginjal di RSUP Dr. Sardjito pada tahun 2024, dengan mempertimbangkan aspek medikolegal yang terkait. Metode yang digunakan adalah deskriptif observasional retrospektif dengan data yang diperoleh dari dokumentasi medis pasien. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas pasien adalah laki-laki (25 dari 33 responden) dengan rentang usia dominan 30-40 tahun. Tingkat pendidikan yang paling umum adalah lulusan sarjana (S1), dan pekerjaan terbanyak adalah wiraswasta dan karyawan swasta. Hubungan sosial yang paling sering tercatat adalah hubungan dengan atasan kerja. Sebagian besar pasien didiagnosis dengan Chronic Kidney Disease (CKD), dan hanya sebagian kecil yang mengalami kanker ginjal. Penelitian ini memberikan gambaran menyeluruh yang dapat menjadi dasar pengambilan keputusan klinis dan kebijakan terkait transplantasi ginjal. Regulasi dan aturan hukum tentang transplantasi ginjal di Indonesia baik dari Undang-Undang Nomor 17 tahun 2023, Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2021, Permenkes Nomor 38 tahun 2016, serta Permenkes Nomor 37 tahun 2014. Peran dokter spesialis forensik dan medikolegal dalam pelaksanaan transplantasi ginjal di fasilitas kesehatan menurut Permenkes Nomor 38 Tahun 2022. ABSTRACT Kidney transplantation is an essential medical procedure to replace a damaged or non-functioning kidney with a healthy one from a donor. It offers better life expectancy and improved quality of life compared to other treatments such as dialysis. This study aims to describe the demographic profile and characteristics of patients undergoing kidney transplantation at RSUP Dr. Sardjito in 2024, taking into account the associated medico-legal aspects. The method used was a retrospective observational descriptive design, with data obtained from patient medical records. The results show that the majority of patients were male (25 out of 33 respondents), with the dominant age range being 30–40 years. The most common level of education was bachelor’s degree (S1), and the most frequent occupations were self-employed individuals and private employees. The most frequently recorded social relationship was with work supervisors. Most patients were diagnosed with chronic kidney disease (CKD), while only a small number had kidney cancer. This study provides a comprehensive overview that can serve as a basis for clinical decision-making and policy development regarding kidney transplantation. Legal regulations on kidney transplantation in Indonesia are governed by Law Number 17 of 2023, Government Regulation Number 53 of 2021, Ministry of Health Regulation (Permenkes) Number 38 of 2016, and Ministry of Health Regulation (Permenkes) Number 37 of 2014. According to Ministry of Health Regulation (Permenkes) Number 38 of 2022, forensic and medico-legal specialist doctors play a role in the implementation of kidney transplantation in healthcare facilities.
DAMPAK PROSEDUR TIMPANOMASTOIDEKTOMI TERHADAP TINGKAT GANGGUAN PENDENGARAN PADA PASIEN OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIK Christin Rony Nayoan; Mishail Rayyan; Wiking Zeth; Ria Sulistiana; Rahma; Andi Alfia Mutmainnah Tanra
Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Vol 8 No 02 (2026): Agustus
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31970/ma.v8i02.487

Abstract

ABSTRAK Otitis media supuratif kronik (OMSK) merupakan kondisi inflamasi persisten pada kavum timpani yang ditandai oleh perforasi membran timpani dan keluarnya sekret dari liang telinga selama lebih dari tiga bulan. Kondisi ini secara bermakna memengaruhi kualitas pendengaran penderitanya. Prosedur timpanomastoidektomi dikerjakan dengan tujuan utama untuk menutup perforasi membran timpani serta memulihkan fungsi pendengaran yang terganggu. Tujuan penulisan adalah untuk menganalisis dampak prosedur timpanomastoidektomi terhadap perubahan derajat gangguan pendengaran pada penderita OMSK. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Data diperoleh dari rekam medik 30 pasien OMSK yang menjalani operasi timpanomastoidektomi di RSUD Undata Palu selama periode 2016 hingga 2018.Hasil dari penelitian didapatkan nilai rata-rata ambang pendengaran sebelum intervensi bedah tercatat sebesar 56,70 dB, sedangkan pasca-operasi menurun menjadi 50,50 dB. Uji statistik Wilcoxon menghasilkan nilai p = 0,000 (p < 0,05), yang menunjukkan perbedaan bermakna antara derajat gangguan pendengaran sebelum dan sesudah tindakan. Prosedur timpanomastoidektomi terbukti memberikan dampak yang bermakna secara klinis dan statistik dalam menurunkan derajat gangguan pendengaran penderita OMSK di RSUD Undata Palu tahun 2016–2018. ABSTRACTChronic suppurative otitis media (CSOM) is a persistent inflammatory condition of the middle ear characterised by tympanic membrane perforation and otorrhea lasting more than three months. The condition substantially impairs auditory function. Tympanomastoidectomy is performed with the primary objectives of closing the tympanic membrane perforation and restoring impaired hearing. To evaluate the impact of tympanomastoidectomy on the degree of hearing loss in patients with CSOM. This study employed a descriptive analytic design with a cross-sectional approach. Data were retrieved from the medical records of 30 CSOM patients who underwent tympanomastoidectomy at Undata Regional Hospital, Palu, between 2016 and 2018. The mean hearing threshold before surgery was 56.70 dB, which decreased to 50.50 dB postoperatively. Wilcoxon signed-rank test yielded p = 0.000 (p < 0.05), indicating a statistically significant difference in hearing loss degree before and after surgery. Tympanomastoidectomy produced a clinically and statistically significant reduction in the degree of hearing impairment among CSOM patients at Undata Hospital Palu 2016–2018.
HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP DENGAN KEJADIAN KEKURANGAN ENERGI KRONIK PADA IBU HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BIROBULI Hayati Palesa; Badariati Bahtiar; Nurlaela R; Andi Mariani
Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Vol 8 No 02 (2026): Agustus
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31970/ma.v8i02.491

Abstract

ABSTRAK Kekurangan Energi Kronik (KEK) merupakan kondisi defisit asupan energi yang berlangsung dalam jangka panjang dan berpotensi menimbulkan berbagai masalah kesehatan, khususnya pada kehamilan. Pada ibu hamil, KEK meningkatkan risiko terjadinya komplikasi yang dapat merugikan kesehatan ibu dan perkembangan janin. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji keterkaitan antara tingkat pengetahuan dan sikap ibu hamil dengan kejadian KEK di wilayah kerja Puskesmas Birobuli, Kota Palu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 30 ibu hamil yang dipilih melalui teknik purposive sampling sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Data dikumpulkan melalui angket untuk menilai tingkat pengetahuan dan sikap peserta, sementara status KEK ditentukan dengan pengukuran Lingkar Lengan Atas (LILA). Hubungan antarvariabel dianalisis menggunakan uji Chi-Square dengan taraf signifikansi 5%. Analisis memperlihatkan adanya keterkaitan yang signifikan antara tingkat pengetahuan ibu hamil dan kejadian KEK (p = 0,002). Selain itu, sikap ibu hamil juga terbukti berpengaruh secara bermakna terhadap kejadian KEK dengan nilai p = 0,003. Tingkat pemahaman dan pola sikap pada ibu hamil terbukti berkaitan dengan kejadian Kekurangan Energi Kronik. Peningkatan intervensi edukasi gizi kehamilan diharapkan dapat meningkatkan wawasan dan menginternalisasi sikap yang mendukung perilaku nutrisi baik, sehingga berpotensi menurunkan risiko KEK pada ibu hamil. ABSTRACT Chronic Energy Deficiency (CED) is a nutritional condition characterized by prolonged inadequate energy intake, which may lead to various health problems, particularly during pregnancy. Among pregnant women, CED increases the risk of pregnancy-related complications that can adversely affect both maternal health and fetal development. This study aimed to examine the association between pregnant women's knowledge and attitudes and the incidence of Chronic Energy Deficiency (CED) in the working area of the Birobuli Public Health Center, Palu City. This study employed a quantitative approach with a cross-sectional design. A total of 30 pregnant women were selected using a purposive sampling technique based on predetermined inclusion criteria. Data were collected using a structured questionnaire to assess participants' levels of knowledge and attitudes, while Chronic Energy Deficiency (CED) status was determined through Mid-Upper Arm Circumference (MUAC) measurements. The association between the study variables was analyzed using the Chi-square test with a significance level of 5%. The analysis result revealed a significant association between pregnant women's level of knowledge and the incidence of Chronic Energy Deficiency (CED) (p = 0.002). In addition, maternal attitude was also found to be significantly associated with the occurrence of CED (p = 0.003). In conclusion Pregnant women's level of knowledge and attitudes were significantly associated with the incidence of Chronic Energy Deficiency (CED). Strengthening nutrition education interventions during pregnancy is expected to enhance maternal knowledge and foster positive attitudes toward healthy nutritional practices, thereby reducing the risk of CED among pregnant women.
LITERATURE REVIEW : BAWANG PUTIH (ALLIUM SATIVUM) SEBAGAI INTERVENSI HERBAL TRADISIONAL DALAM POTENSI PENURUNAN TEKANAN DARAH DI MASYARAKAT Sri Rahayu Jamaluddin; Rachmat Faisal Syamsu; Sultan M. Al Fatih Watif
Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Vol 8 No 02 (2026): Agustus
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31970/ma.v8i02.493

Abstract

ABSTRAK Hipertensi merupakan masalah kesehatan yang meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, stroke, dan penyakit ginjal kronik. Selain terapi farmakologis, bawang putih (Allium sativum) banyak diteliti sebagai terapi komplementer karena kandungan senyawa bioaktifnya yang berpotensi menurunkan tekanan darah melalui efek vasodilatasi, antioksidan, dan penghambatan angiotensin-converting enzyme (ACE). Penelitian ini bertujuan mengkaji efektivitas bawang putih dalam menurunkan tekanan darah berdasarkan bukti ilmiah terkini. Penelitian ini merupakan literature review dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Penelusuran literatur dilakukan pada PubMed, Google Scholar, ScienceDirect, SpringerLink, Frontiers, SINTA, dan Garuda terhadap artikel yang dipublikasikan tahun 2023–2026 sesuai kriteria inklusi. Sebanyak 29 artikel memenuhi kriteria. Hasil telaah menunjukkan bahwa bawang putih berpotensi menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi melalui berbagai mekanisme biologis, dengan bukti paling kuat berasal dari penelitian aged garlic extract. Kesimpulannya ialah bawang putih (Allium sativum) berpotensi sebagai terapi komplementer dalam pengendalian hipertensi, namun tidak menggantikan terapi antihipertensi standar. Penelitian lebih lanjut dengan desain yang lebih kuat masih diperlukan untuk mengonfirmasi efektivitas dan keamanan penggunaan jangka panjang. ABSTRACT Hypertension is a major public health problem that increases the risk of cardiovascular disease, stroke, and chronic kidney disease. In addition to pharmacological treatment, garlic (Allium sativum) has been widely investigated as a complementary therapy due to its bioactive compounds, which may lower blood pressure through vasodilatory, antioxidant, and angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitory effects. This study aimed to review the effectiveness of garlic in reducing blood pressure based on the latest scientific evidence. This study employed a qualitative descriptive literature review. Literature was searched in PubMed, Google Scholar, ScienceDirect, SpringerLink, Frontiers, SINTA, and Garuda, including articles published between 2023 and 2026 that met the predefined inclusion criteria. A total of 29 articles were included in the review. The findings indicate that garlic has the potential to reduce blood pressure in patients with hypertension through multiple biological mechanisms, with the strongest evidence derived from studies using aged garlic extract. In conclusion, Allium sativum shows promise as a complementary therapy for hypertension management; however, it should not replace standard antihypertensive treatment. Further high-quality studies are needed to confirm its long-term efficacy and safety.
GAMBARAN PERLUKAAN KEPALA KORBAN KECELAKAAN LALU LINTAS BERDASARKAN DATA HDSS SLEMAN 2019 DAN 2021 Anggriani Prasetia Ningsih; Martiana Suciningtyas Tri Artanti; Idha Arfianti Wiraagni; Dewanto Yusuf Priyambodo
Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Vol 8 No 02 (2026): Agustus
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31970/ma.v8i02.504

Abstract

ABSTRAK Kecelakaan lalu lintas merupakan salah satu penyebab utama cedera dan kematian di dunia. WHO mencatat peningkatan jumlah kematian akibat kecelakaan lalu lintas dari 1,15 juta menjadi 1,35 juta jiwa pada tahun 2018. Cedera kepala menjadi salah satu cedera yang paling sering terjadi, terutama pada pengendara sepeda motor tanpa perlindungan kepala standar. Kabupaten Sleman sebagai wilayah dengan mobilitas tinggi memiliki risiko besar terhadap kejadian cedera kepala. Tujuan penelitian ini Untuk mengetahui gambaran perlukaan pada kepala korban kecelakaan lalu lintas berdasarkan data Health and Demographic Surveillance System (HDSS) Sleman tahun 2019 dan 2021. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan cross sectional menggunakan data sekunder dari HDSS kabupaten Sleman tahun 2019 dan 2021. Analisis dilakukan secara univariat untuk menggambarkan karakteristik responden dan bivariat menggunakan uji chi-square untuk melihat hubungan antar variabel seperti usia, jenis kelamin, tempat kejadian perkara, tipe cedera, dan pola perlukaan. Hasil penelitian ini didapatkan 102 responden, Sebagian besar berjenis kelamin laki-laki (58%) dan berusia 19-59 tahun. Kejadian lebih banyak ditemukan pada tahun 2019 (55%). Tipe cedera terbanyak adalah cedera tumpul (52%), diikuti cedera tajam (48%). Derajat luka didominasi perlukaan sedang (47%). Sepeda motor merupakan kendaraan yang paling sering terlibat (78%), dan lokasi kejadian terbanyak berada di wilayah urban (80%). Uji chi-square menunjukkan tidak terdapat hubungan bermakna antara usia, jenis kelamin, maupun lokasi kejadian dengan tipe cedera maupun pola perlukaan (p>0,05). Cedera kepala akibat kecelakaan lalu lintas di Sleman lebih banyak terjadi pada laki-laki usia produktif dengan tipe cedera tumpul dan derajat perlukaan sedang. Tidak ditemukan hubungan signifikan antara variabel demografis dan pola perlukaan, namun terdapat kecenderungan peningkatan proporsi cedera tajam pada kelompok usia lebih tua. Temuan ini menegaskan pentingnya penggunaan alat pelindung diri dan peningkatan keselamatan berkendara, terutama di wilayah urban. ABSTRACT Traffic accidents are one of the leading causes of injury and death worldwide. The World Health organization (WHO) recorded an increase in traffic related deaths from 1.15 million to 1.35 million in 2018. Head injury is among the most common types of trauma, particularly in motorcycle riders who not use standard protective headgear. Sleman Regency, as an area with high mobility, has a substantial risk of head injury occurrences. This study aimed to describe the pattern of head injuries among traffic accident victims based on data from the Health and Demographic Surveillance System (HDSS) Sleman in 2019 and 2021. This research employed an analytical observational method with a cross-sectional describe respondent characteristics, and bivariate analysis with the chi-square test was conducted to assess the relationship between variables such as age, sex, crash location, injury type, and injury pattern. A total of 102 respondents were identified, with the majority being male (58%) and aged 19-59 years. Most cases occurred in 2019 (55%). The most common injury type was blunt injury (52%), followed by sharp injury (48%). Moderate injuries dominated the severity category 47%). Motorcycles were the most frequently involved vehicles (78%), and most incidents occurred in urban areas (80%). The chi-square test indicated no significant relationship between age, sex, or crash location and injury type or injury pattern (p>0.05). head injuries from traffic accidents in Sleman were more common among males of productive age, with blunt injury and moderate severity being the most frequent findings. Although no significant associations were found between demographic variables and injury patterns, an increasing proportion of sharp injuries was observed in older age group. These findings highlight the importance of using protective equipment and strengthening road safety measures, particularly in high mobility urban areas.
GUT MICROBIOTA METABOLITE PROFILES IN THIRD-TRIMESTER PREGNANT WOMEN AND INFANTS FOR DIABETES MELLITUS BIOMARKER EXPLORATION: A NARRATIVE REVIEW Mudyawati Kamaruddin; Afra Anisah Purwadi; Mifta Nailur Rusyda; Priscindy Nazrani Wila; Nurisyah; Ratnasari Dewi
Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Vol 8 No 02 (2026): Agustus
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31970/ma.v8i02.507

Abstract

ABSTRAK Diabetes melitus merupakan beban kesehatan global yang terus meningkat. Masa kehamilan trimester ketiga dan masa bayi merupakan jendela kritis pemrograman metabolik, dan mikrobiota usus beserta metabolitnya diduga berperan dalam gangguan metabolisme glukosa. Tinjauan ini bertujuan mengeksplorasi bukti terkini mengenai profil metabolit mikrobiota usus pada ibu hamil trimester ketiga dan bayi, serta potensinya sebagai biomarker DM. Penelusuran literatur dilakukan pada PubMed, Scopus, EBSCOhost, dan Google Scholar (2012–2025) menggunakan kata kunci terkait mikrobiota usus, metabolomik, kehamilan trimester ketiga, bayi, dan diabetes melitus. Perubahan komposisi mikrobiota usus pada trimester ketiga dikaitkan dengan resistensi insulin fisiologis dan, pada sebagian ibu, dengan diabetes melitus gestasional. Penurunan Akkermansia muciniphila dan Faecalibacterium prausnitzii serta perubahan metabolit seperti asam lemak rantai pendek, asam amino rantai cabang, trimetilamina N-oksida, dan asam empedu dilaporkan pada DMG. Mikrobiota ibu berperan dalam kolonisasi usus bayi, dan disbiosis awal kehidupan berhubungan dengan risiko gangguan metabolik di kemudian hari. Metabolit turunan mikrobiota usus ibu-bayi menjanjikan sebagai biomarker deteksi dini DM, tetapi diperlukan studi kohort prospektif berskala besar, standardisasi platform metabolomik, serta studi kausal sebelum aplikasi klinis. ABSTRACT Diabetes mellitus is a growing global health burden. The third trimester of pregnancy and infancy are critical windows of metabolic programming, and gut microbiota with their metabolites are proposed to play a role in glucose metabolism disturbances. This review aimed to explore current evidence on gut microbiota metabolite profiles in third-trimester pregnant women and infants, and their potential as DM biomarkers. A literature search was performed in PubMed, Scopus, EBSCOhost, and Google Scholar (2012–2025) using keywords related to gut microbiota, metabolomics, third-trimester pregnancy, infants, and diabetes mellitus. Gut microbiota compositional shifts in the third trimester have been linked to physiological insulin resistance and, in some women, to gestational diabetes mellitus. Depletion of Akkermansia muciniphila and Faecalibacterium prausnitzii, together with altered metabolites, including short-chain fatty acids, branched-chain amino acids), trimethylamine N-oxide, and bile acids, has been reported in GDM. Maternal microbiota contributes to infant gut colonization, and early-life dysbiosis has been associated with later metabolic risk. Gut microbiota-derived metabolites in mother–infant dyads are promising for early DM biomarker discovery, but large prospective cohorts, metabolomics standardization, and causal studies are required before clinical application.
HUBUNGAN STRES AKADEMIK DAN MANAJEMEN STRES TERHADAP CAPAIAN NILAI UJIAN FINAL BLOK MAHASISWA PREKLINIK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ALKHAIRAAT PALU Sarpia R. Nei; Muh. Idham Rahman; Misriyani
Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Vol 8 No 02 (2026): Agustus
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31970/ma.v8i02.508

Abstract

ABSTRAK Stres akademik merupakan kondisi yang sering dialami mahasiswa kedokteran akibat tingginya beban belajar, tuntutan akademik, dan frekuensi evaluasi yang padat. Selain itu, kemampuan dalam mengelola stres melalui strategi coping diduga turut memengaruhi capaian akademik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan stres akademik dan manajemen stres terhadap capaian nilai ujian final blok pada mahasiswa preklinik Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat Palu. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif observasional analitik dengan desain cross-sectional dengan dua kali pengukuran, yaitu sebelum dan sesudah ujian final blok. Sampel penelitian berjumlah 152 mahasiswa preklinik yang dipilih sesuai kriteria penelitian. Pengukuran stres akademik diukur menggunakan kuesioner Medical Student Stress Questionnaire (MSSQ), sedangkan manajemen stres diukur menggunakan Brief COPE. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh domain stres akademik dan manajemen stres tidak memiliki hubungan bermakna secara statistik terhadap capaian nilai ujian final blok (p > 0,05). Mayoritas mahasiswa memiliki capaian nilai ujian final blok dalam kategori rendah (48,7%) dan cenderung menggunakan strategi dysfunctional coping (82,9%). Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara stres akademik dan manajemen stres dengan capaiab nilai ujian final blok pada mahasiswa preklinik Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat Palu. Temuan ini mengindikasikan bahwa capaian akademik mahasiswa kemungkinan dipengaruhi oleh berbagai faktor lain di luar stres akademik dan manajemen stres. ABSTRACT Academic stress is a common condition experienced by medical students due to the heavy academic workload, demanding learning requirements, and frequent evaluations. In addition, students' ability to manage stress through coping strategies is believed to influence their academic performance. This study aimed to determine the relationship between academic stress and stressmanagement and final block examination scores among preclinical students at the Faculty of Medicine, Alkhairaat University, Palu. This study employed a quantitative analytical observational approach using a cross-sectional design with two measurements conducted before and after the final block examination. The study included 152 preclinical medical students who met the inclusion criteria. Academic stress was assessed using the Medical Student Stress Questionnaire (MSSQ), while stress management was evaluated using the Brief COPE questionnaire. Data were analyzed using the Spearman correlation test. The findings indicated that none of the domains of academic stress or stress management showed a statistically significant relationship with final block examination scores (p > 0.05). Nearly half of the participants (48.7%) achieved low final block examination scores, and the majority of students (82.9%) tended to adopt dysfunctional coping strategies. This study found no significant relationship between academic stress, stress management, and final block examination scores among preclinical students at the Faculty of Medicine, Alkhairaat University, Palu. These findings suggest that students' academic performance may be influenced by various factors other than academic stress and stress management.