cover
Contact Name
Misriyani
Contact Email
misriyani85@gmail.com
Phone
+6281334845085
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Jl. Diponegoro No.39 Palu
Location
Kota palu,
Sulawesi tengah
INDONESIA
Medika Alkhairaat : Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan
Published by Universitas Alkhairaat
ISSN : 2657179X     EISSN : 26567822     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan aims to provide both national and international forums to encourage interdisciplinary discussions and contribute to the advancement of medicine, benefiting readers and authors by accelerating the dissemination of research information and providing maximum access to scientific communication.
Articles 240 Documents
KARAKTERISTIK USIA, JENIS KELAMIN, DAN PENGOBATAN PENDERITA DEMAM THYPOID PADA ANAK YANG MENJALANI RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT IBNU SINA PERIODE 2024 Ilmi Anggrainy Pratiwi ilmi; Yusriani Mangarengi; Sidrah Darma; Andi Husnia Esa; Santriani hadi
Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Vol 8 No 01 (2026): April
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31970/ma.v8i01.403

Abstract

ABSTRAK Demam typhoid merupakan penyakit infeksi bakteri yang disebabkan oleh Salmonella typhi yaitu suatu bakteri gram-negatif.¹ Demam merupakan gejala utama demam typhoid. Demam dengan durasi panjang dapat membahayakan keselamatan anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik usia, jenis kelamin, serta jenis pengobatan pada pasien anak penderita demam tifoid yang menjalani rawat inap di Rumah Sakit Ibnu Sina Yw-Umi Makassar periode Januari–Desember 2024. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan data sekunder berupa rekam medis sebanyak 133 pasien anak berusia <18 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kasus demam tifoid paling banyak terjadi pada bulan Maret (13,5%). Berdasarkan distribusi usia, kelompok usia 1–5 tahun merupakan yang paling dominan (51,1%), diikuti usia 6–10 tahun (34,6%). Pasien laki-laki lebih banyak dibanding perempuan, masing-masing 54,9% dan 45,1%. Terkait terapi, obat yang paling sering digunakan adalah paracetamol (23,3%) dan ceftriaxone (18,8%), disertai pemberian cairan infus dan terapi pendukung lainnya. Hasil ini menunjukkan bahwa demam tifoid pada anak di Kota Makassar masih tinggi terutama pada usia balita, dengan kecenderungan lebih banyak terjadi pada laki-laki serta memerlukan terapi kombinasi antipiretik dan antibiotik. ABSTRACT Typhoid fever is a bacterial infection caused by Salmonella typhi, a gram-negative bacterium.1 Fever is the main symptom of typhoid fever. Prolonged fever can be life-threatening for children. This study aims to identify the age distribution, gender characteristics, and treatment patterns among pediatric patients with typhoid fever hospitalized at Ibnu Sina YW-UMI Hospital Makassar during January–December 2024. A descriptive design was employed using secondary data from medical records of 133 children under 18 years of age. The findings revealed that typhoid fever cases peaked in March (13.5%). Children aged 1–5 years represented the largest proportion of cases (51.1%), followed by those aged 6–10 years (34.6%). Male patients accounted for a higher proportion than females, with 54.9% and 45.1%, respectively. The most commonly administered treatments were paracetamol (23.3%) and ceftriaxone (18.8%), along with intravenous fluids and other supportive therapies. These results indicate that pediatric typhoid fever remains prevalent in Makassar, especially among young children, with higher incidence in males, and commonly requires combined antipyretic and antibiotic therapy.
UJI EFEKTIVITAS ANTIHIPERGLIKEMIK EKSTRAK MENIRAN (Phyllanthus niruri L) PADA TIKUS YANG DIINDUKSI DENGAN DEXAMETHASONE Nur Rahma; Ida Royani; Nasrudin Andi Mappaware; Prema Hapsari; Nur Fadhillah Khalid
Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Vol 8 No 01 (2026): April
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31970/ma.v8i01.411

Abstract

ABSTRAK Hiperglikemia merupakan masalah kesehatan global yang memerlukan penanganan efektif. Mengingat tingginya risiko efek samping dan biaya pengobatan konvensional, pencarian alternatif alami menjadi relevan. Tanaman Meniran (Phyllanthus niruri L) telah dikenal karena kandungan flavonoidnya yang berpotensi sebagai antihiperglikemik. Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan membandingkan efektivitas ekstrak meniran dengan obat standar Metformin dalam menurunkan kadar glukosa darah. Studi ini menggunakan desain experimental pre and post control pada 20 ekor Tikus Putih (Rattus novergicus) yang diinduksi hiperglikemia menggunakan Dexamethasone dosis 0,09 mg/kgBB/hari. Hewan uji dibagi menjadi empat kelompok perlakuan, meliputi kontrol positif Metformin dan tiga variasi dosis ekstrak Meniran (300 mg, 400mg, dan 500mg/kgBB/hari) yang diekstraksi melalui maserasi etanol 96%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Metformin dan ekstrak Meniran efektif menurunkan kadar glukosa darah subjek uji secara signifikan mulai hari ketiga. Yang menarik, ekstrak Meniran terbukti lebih efektif dalam menurunkan kadar glukosa darah dibandingkan Metformin pada hari ketiga, menyimpulkan bahwa ekstrak Meniran (Phyllanthus niruri L) memiliki potensi kuat dan menjanjikan sebagai agen antihiperglikemik alami yang dapat menjadi alternatif pengobatan. ABSTRACT Hyperglycemia is a global health problem requiring effective management. Given the high risk of side effects and cost of conventional treatment, the search for natural alternatives is relevant. The Meniran plant (Phyllanthus niruri L) is known for its flavonoid content, which has potential as an antihyperglycemic agent. This study aimed to test and compare the effectiveness of Meniran extract with the standard drug Metformin in reducing blood glucose levels. The study employed an experimental pre and post control design on 20 White Rats (Rattus novergicus) whose hyperglycemia was induced using Dexamethasone at a dose of 0.09 mg/kgBW/day. The test animals were divided into four treatment groups, including Metformin positive control and three dose variations of Meniran extract (300mg, 400mg, and 500mg/kgbw) extracted through 96% ethanol maceration. The results showed that both Metformin and Meniran extract were effective in significantly reducing the blood glucose levels of the test subjects starting from the third day. Notably, the Meniran extract proved to be more effective in reducing blood glucose levels than Metformin on the third day, concluding that Meniran extract (Phyllanthus niruri L) has strong and promising potential as a natural antihyperglycemic agent that can be an alternative treatment.
FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BAYI DI BAWAH LIMA TAHUN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SEBA Gusthy Adiputra Lado; Pius Weraman; Tasalina Y.P Gustam; Yendris K. Syamruth
Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Vol 8 No 01 (2026): April
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31970/ma.v8i01.412

Abstract

ABSTRAK Diare merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering terjadi pada balita dan dipengaruhi oleh faktor lingkungan serta perilaku kesehatan keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan ketersediaan air bersih, ketersediaan jamban, pengetahuan ibu, dan pemberian ASI eksklusif dengan kejadian diare pada balita di wilayah kerja Puskesmas Seba. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan jumlah sampel 94 ibu yang memiliki balita. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner dan observasi kondisi sanitasi rumah tangga. Analisis dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketersediaan air bersih tidak berhubungan dengan kejadian diare (p=0,258), dan pengetahuan ibu juga tidak berhubungan dengan diare (p= 0,295). Namun, terdapat hubungan signifikan antara ketersediaan jamban dan kejadian diare (p=0,010), di mana balita dari keluarga yang tidak memiliki jamban lebih banyak mengalami diare dibandingkan dengan keluarga yang memiliki jamban. Selain itu, pemberian ASI eksklusif menunjukkan hubungan yang signifikan dengan kejadian diare (p= 0,041), di mana balita yang tidak mendapatkan ASI eksklusif lebih rentan mengalami diare. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ketersediaan jamban yang layak dan pemberian ASI eksklusif berperan penting dalam mencegah diare pada balita. Edukasi mengenai sanitasi dasar dan praktik pemberian ASI eksklusif perlu ditingkatkan untuk menurunkan risiko diare di masyarakat. ABSTRACT Diarrhea is one of the health problems that often occurs in toddlers and influenced by environmental factors and family health behaviors. This study aims to determine the relationship between the availability of clean water, the availability of toilets, mothers' knowledge, and exclusive breastfeeding with the incidence of diarrhea in toddlers in the working area of the Seba Community Health Center. This study used a cross-sectional design with a sample size of 94 mothers who had toddlers. Data were collected through interviews using questionnaires and observations of household sanitation conditions. Analysis was performed using univariate and bivariate Chi-Square tests. The results showed that the availability of clean water was not associated with the incidence of diarrhea (p=0.258), nor was maternal knowledge (p=0.295). However, there was a significant association between the availability of toilets and the incidence of diarrhea (p=0.010), with toddlers from families without toilets experiencing more diarrhea than those from families with toilets. In addition, exclusive breastfeeding showed a significant relationship with the incidence of diarrhea (p=0.041), where toddlers who did not receive exclusive breastfeeding were more prone to diarrhea.This study concludes that the availability of proper toilets and exclusive breastfeeding play an important role in preventing diarrhea in toddlers. Education on basic sanitation and exclusive breastfeeding practices needs to be improved to reduce the risk of diarrhea in the community.
PENGARUH ASUPAN GIZI DAN STATUS TEMPAT TINGGAL (INDEKOS DAN NON INDEKOS) TERHADAP SIKLUS MENSTRUASI PADA MAHASISWI UNIVERSITAS TADULAKO A. Fauziah Ananda Pasinringi; I Putu Fery Immanuel; Rosa Dwi Wahyuni; Jane Mariem Monepa
Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Vol 8 No 01 (2026): April
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31970/ma.v8i01.413

Abstract

ABSTRAK Siklus menstruasi merupakan indikator penting kesehatan reproduksi perempuan yang dipengaruhi oleh asupan gizi dan lingkungan tempat tinggal. Mahasiswi yang tinggal di indekos berpotensi memiliki pola makan kurang teratur sehingga dapat memengaruhi keseimbangan hormonal dan siklus menstruasi. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh asupan gizi dan status tempat tinggal (indekos dan non-indekos) terhadap siklus menstruasi pada mahasiswi Universitas Tadulako. Metode yang digunakan Adalah desain analitik kuantitatif observasional dengan pendekatan cross-sectional pada 88 responden yang dipilih melalui purposive sampling. Data diperoleh melalui kuesioner siklus menstruasi dan formulir food recall 3 × 24 jam, kemudian dianalisis dengan uji Spearman Rank, Mann-Whitney, dan regresi logistik ordinal. Mayoritas responden memiliki asupan energi kurang sebesar 90,9%, protein kurang 62,5%, lemak kurang 63,6%, dan karbohidrat kurang 94,3%. Sebanyak 44 responden tinggal di indekos dan 44 responden tinggal di non-indekos. Selain itu, 64,8% responden memiliki siklus menstruasi normal, 22,7% polimenorea, dan 12,5% oligomenorea. Hasil uji bivariat menunjukkan tidak terdapat hubungan signifikan antara asupan energi (p=0,462), protein (p=0,580), lemak (p=0,800), dan karbohidrat (p=0,421), serta status tempat tinggal (p=0,137) dengan siklus menstruasi. Analisis multivariat juga tidak menunjukkan pengaruh signifikan (p>0,05), sehingga tidak ditemukan pengaruh secara signifikan antara asupan gizi dan status tempat tinggal terhadap siklus menstruasi. ABSTRACT The menstrual cycle is an important indicator of women's reproductive health which is influenced by nutritional intake and living environment. Female students who live in boarding houses have the potential to have an irregular diet so that it can affect hormonal balance and menstrual cycles. This study aims to determine the influence of nutritional intake and residence status (boarding houses and non-boarding houses) on the menstrual cycle in female students of Tadulako University. The method used is observational quantitative analytical design with a cross-sectional approach on 88 respondents selected through purposive sampling. Data were obtained through a menstrual cycle questionnaire and a 3 × 24-hour food recall form, then analyzed by Spearman Rank, Mann-Whitney, and ordinal logistic regression tests. The majority of respondents had a lack of energy intake of 90.9%, a lack of protein of 62.5%, a lack of fat 63.6%, and a lack of carbohydrates of 94.3%. A total of 44 respondents lived in boarding houses and 44 respondents lived in non-boarding houses. In addition, 64.8% of respondents had normal menstrual cycles, 22.7% polymenorrhea, and 12.5% oligomenorrhea. The results of the bivariate test showed that there was no significant relationship between energy intake (p=0.462), protein (p=0.580), fat (p=0.800), and carbohydrates (p=0.421), as well as residence status (p=0.137) and menstrual cycle. Multivariate analysis also showed no significant effect (p>0.05), so there is no significant effect was found between nutritional intake and residence status on the menstrual cycle.
KARAKTERISTIK PASIEN STROKE DI INTENSIVE CARE UNIT (ICU) RUMAH SAKIT IBNU SINA YW-UMI TAHUN 2023-2024 Nurjannah Marganita A.U.; Faisal Sommeng; Achmad Harun Muchsin; Mochammad Erwin Rachman; Dwi Pratiwi
Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Vol 8 No 01 (2026): April
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31970/ma.v8i01.418

Abstract

ABSTRAK Stroke merupakan penyebab utama kematian dan kecacatan serta sering menimbulkan kondisi kritis yang memerlukan perawatan intensif di Intensive Care Unit (ICU). Data lokal mengenai karakteristik pasien stroke yang dirawat di ICU RS Ibnu Sina YW-UMI masih terbatas. Tujuan penelitian adalah untuk mendeskripsikan karakteristik pasien stroke yang menjalani perawatan di ICU RS Ibnu Sina YW-UMI periode 2023–2024. Metode penelitian ini menggunakan kuantitatif observasional deskriptif dengan pendekatan retrospektif menggunakan data sekunder rekam medis. Data meliputi usia, jenis kelamin, suku, indeks massa tubuh (IMT), riwayat hipertensi, diabetes melitus, dislipidemia, riwayat keluarga, atrial fibrilasi, serta jenis stroke. Analisis dilakukan secara univariat dan disajikan sebagai distribusi frekuensi serta persentase. Hasil penelitian menunjukkan dari 30 pasien, kelompok usia terbanyak adalah lansia awal (33,3%) dan lansia akhir (26,7%); pasien laki-laki 60,0%. Riwayat hipertensi ditemukan pada 96,7% pasien, diabetes 20%, dislipidemia 93,3%, dan riwayat keluarga 3,3%. Proporsi stroke hemoragik dan non-hemoragik sama (masing-masing 50%). Mayoritas berasal dari suku Makassar (70%). Data IMT tidak tersedia pada 70% rekam medis. Kesimpulan penelitian ini yaitu pasien stroke ICU didominasi usia lanjut, laki-laki, dengan komorbid hipertensi dan dislipidemia, diperlukan penguatan pencegahan dan pencatatan klinis. ABSTRACT Stroke is a leading cause of death and disability and often results in critical conditions that require intensive care in the Intensive Care Unit (ICU). Local data on the characteristics of stroke patients treated in the ICU at Ibnu Sina YW-UMI Hospital is still limited. The objective of this study was to describe the characteristics of stroke patients treated in the ICU at Ibnu Sina YW-UMI Hospital during the period 2023–2024. This study used a quantitative observational descriptive method with a retrospective approach using secondary medical record data. The data included age, gender, ethnicity, body mass index (BMI), history of hypertension, diabetes mellitus, dyslipidemia, family history, atrial fibrillation, and type of stroke. The analysis was performed univariately and presented as frequency distribution and percentages. The results showed that of the 30 patients, the largest age groups were early elderly (33.3%) and late elderly (26.7%); 60,0 % of patients were male. A history of hypertension was found in 96.7% of patients, diabetes in 20%, dyslipidemia in 93.3%, and family history in 3.3%. The proportion of hemorrhagic and non-hemorrhagic strokes was equal (50% each). The majority came from the Makassar tribe (70%). BMI data are not available on 70% of medical records. The conclusion of this study is that ICU stroke patients are dominated by the elderly, men, with comorbid hypertension and dyslipidemia, it is necessary to strengthen prevention and clinical record.
Perbandingan PERBANDINGAN KUALITAS PREPARAT SITOPATOLOGI CAIRAN EFUSI PLEURA DENGAN PEWARNAAN GIEMSA DAN PAPANICOLAU Janita Aulogia Pamusok; Gina Andyka Hutasoit; Nur Syamsi; Rosa Dwi Wahyuni
Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Vol 8 No 01 (2026): April
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31970/ma.v8i01.424

Abstract

ABSTRAK Pemeriksaan sitopatologi berperan penting dalam menunjang diagnosis berbagai kondisi patologis, terutama pada kasus efusi pleura, dimana kualitas preparat sangat dipengaruhi oleh metode pewarnaan yang digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kualitas preparat sitopatologi cairan efusi pleura menggunakan metode pewarnaan giemsa dan papanicolaou. Studi kuantitatif komparatif dengan desain post-test only dilakukan pada 52 sampel efusi pleura yang diperoleh melalui pengambilan sampel total dari pasien yang menjalani torakosentesis di Rumah Sakit Umum Undata Palu, pada Juli 2025. Setiap sampel dipreparasi menggunakan kedua teknik pewarnaan dan dievaluasi berdasarkan morfologi sel, kontras inti, kontras sitoplasma, dan kebersihan latar belakang. Uji Mann–Whitney U menunjukkan perbedaan signifikan antara kedua metode (p < 0,001), yang mengindikasikan bahwa pewarnaan papanicolaou memberikan kontras inti dan sitoplasma yang lebih unggul. ABSTRACT Cytopathological examination plays an important role in supporting the diagnosis of various pathological conditions, particularly in cases of pleural effusion, where the quality of the preparations is greatly influenced by the staining method used. This study aimed to compare the quality of cytopathological preparations of pleural effusion fluid using giemsa and papanicolaou staining methods. A comparative quantitative study with a post-test only design was conducted on 52 pleural effusion samples obtained through total sampling from patients undergoing thoracentesis at Undata General Hospital Palu, in July 2025. Each sample was prepared using both staining techniques and evaluated based on cell morphology, nuclear contrast, cytoplasmic contrast, and background cleanliness. The Mann–Whitney U test showed a significant difference between the two methods (p < 0.001), indicating that papanicolaou staining provides superior nuclear and cytoplasmic contrast.
UJI KUALITATIF DAN KUANTITATIF DALAM IDENTIFIKASI ALKOHOL PADA KASUS TOKSIKOLOGI FORENSIK: SEBUAH TINJAUAN SISTEMATIS Dimas Agustian; Suhartini
Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Vol 8 No 01 (2026): April
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31970/ma.v8i01.427

Abstract

ABSTRAK Identifikasi etanol dalam toksikologi forensik memegang peranan penting dalam penegakan hukum, terutama dalam kasus kecelakaan lalu lintas, kematian mendadak, atau dugaan keracunan. Dua metode utama yang banyak digunakan dalam konteks ini adalah Conway Microdiffusion sebagai uji kualitatif, serta Gas Chromatography-Flame Ionization Detection (GC-FID) dan varian headspace-nya (HS-GC-FID) sebagai metode kuantitatif. Tinjauan ini disusun secara sistematis berdasarkan literatur dari basis data PubMed, Scopus, dan sumber lainnya, dengan kriteria inklusi mencakup studi observasional atau eksperimental yang mengevaluasi uji etanol secara laboratorium pada spesimen biologis manusia. Tujuh studi yang relevan dianalisis berdasarkan desain, metode analitik, dan konteks forensik. Hasil menunjukkan bahwa metode Conway dan Toxi-Lab Microdiffusion efektif digunakan sebagai uji skrining awal yang hemat biaya dan cepat, meskipun bersifat semi-kuantitatif dan tidak sah sebagai bukti tunggal di pengadilan. Sebaliknya, metode GC-FID dan HS-GC-FID terbukti akurat dan presisi tinggi, dengan rentang konsentrasi deteksi luas, sensitivitas tinggi (LOD hingga 0.006 g/L), serta valid untuk pembuktian hukum. Dual-column confirmation dan penggunaan standar internal turut memperkuat akurasi dan keabsahan hasil. Metode kualitatif dan kuantitatif saling melengkapi dalam praktik toksikologi forensik modern. Pemilihan metode sangat bergantung pada konteks kasus, sumber daya laboratorium, dan kebutuhan pembuktian hukum. Validasi teknis dan keterpaduan regulasi menjadi kunci keberhasilan implementasi di berbagai yurisdiksi. ABSTRACT The identification of ethanol in forensic toxicology plays a crucial role in law enforcement, particularly in cases involving traffic accidents, sudden deaths, or suspected poisoning. Two primary types of methods are widely used in this context: Conway Microdiffusion, as a qualitative test, and Gas Chromatography-Flame Ionization Detection (GC-FID) along with its headspace variant (HS-GC-FID), as quantitative methods. This review was systematically compiled based on literature from the PubMed, Scopus, and other databases, with inclusion criteria encompassing observational or experimental studies that evaluated laboratory-based ethanol testing in human biological specimens. Seven relevant studies were analysed according to their study design, analytical methods, and forensic context. The results indicate that the Conway and Toxi-Lab Microdiffusion methods are effective as cost-efficient and rapid initial screening tests, although they are semi-quantitative in nature and not legally admissible as sole evidence in court. In contrast, GC-FID and HS-GC-FID methods have demonstrated high accuracy and precision, with a wide detection concentration range, high sensitivity (limit of detection as low as 0.006 g/L), and are legally valid for forensic confirmation purposes. The use of dual-column confirmation and internal standards further enhances the accuracy and validity of the results. Qualitative and quantitative methods are complementary in modern forensic toxicology practice. The selection of methods depends heavily on the case context, laboratory resources, and legal evidentiary requirements. Technical validation and harmonization of regulations are key to successful implementation across different jurisdictions.
RENAL DENERVATION IN CKD PATIENTS: PATHOPHYSIOLOGICAL RATIONALE, CLINICAL EVIDENCE, AND CONTEMPORARY PERSPECTIVES Sidhi Laksono; Wella Widyani
Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Vol 8 No 01 (2026): April
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31970/ma.v8i01.435

Abstract

ABSTRACT Hypertension is a central driver of cardiovascular morbidity and progressive renal dysfunction in patients with chronic kidney disease (CKD), yet optimal blood pressure control remains challenging, particularly in advanced disease stages. Resistant hypertension is common in CKD, reflecting complex interactions among volume overload, neurohormonal activation, sympathetic overactivity, and vascular dysfunction. This narrative review synthesizes contemporary evidence on the pathophysiological mechanisms underlying hypertension in CKD, diagnostic challenges related to blood pressure assessment, and integrated therapeutic strategies. Particular emphasis is placed on the evolving role of device-based interventions, especially renal denervation, as an adjunctive therapy for carefully selected patients with resistant hypertension. We review current data supporting renal denervation, discuss patient selection considerations, and highlight unresolved questions regarding long-term efficacy and safety in CKD populations. Special clinical contexts, including dialysis, kidney transplantation, and older adults, are addressed, along with common misconceptions that contribute to therapeutic inertia. By integrating mechanistic insights with emerging clinical evidence, this review aims to inform a more individualized, patient-centered approach to hypertension management in CKD and to clarify the potential clinical niche of renal denervation within contemporary treatment paradigms. ABSTRAK Hipertensi merupakan pendorong utama morbiditas kardiovaskular dan disfungsi ginjal progresif pada pasien dengan penyakit ginjal kronis (CKD), namun kontrol tekanan darah yang optimal masih menjadi tantangan, terutama pada stadium penyakit yang lebih lanjut. Hipertensi resisten sering ditemukan pada CKD, mencerminkan interaksi kompleks antara kelebihan volume, aktivasi neurohormonal, peningkatan aktivitas simpatis, dan disfungsi vaskular. Tinjauan naratif ini mensintesis bukti terkini mengenai mekanisme patofisiologis yang mendasari hipertensi pada CKD, tantangan diagnostik terkait penilaian tekanan darah, serta strategi terapi terintegrasi. Penekanan khusus diberikan pada peran intervensi berbasis perangkat yang terus berkembang, terutama denervasi ginjal, sebagai terapi tambahan pada pasien terpilih dengan hipertensi resisten. Kami meninjau data terkini yang mendukung denervasi ginjal, membahas pertimbangan seleksi pasien, serta menyoroti pertanyaan yang belum terjawab terkait efektivitas dan keamanan jangka panjang pada populasi CKD. Konteks klinis khusus, termasuk dialisis, transplantasi ginjal, dan populasi usia lanjut, juga dibahas, bersama dengan kesalahpahaman umum yang berkontribusi terhadap inersia terapeutik. Dengan mengintegrasikan wawasan mekanistik dan bukti klinis yang berkembang, tinjauan ini bertujuan untuk mendukung pendekatan manajemen hipertensi pada CKD yang lebih individual dan berpusat pada pasien, serta memperjelas potensi posisi klinis denervasi ginjal dalam paradigma terapi kontemporer.
HUBUNGAN JENIS ANEMIA TERHADAP STATUS BAKTERIOLOGIS PADA PENDERITA TUBERKULOSIS PARU DI RUMAH SAKIT YW UMI IBNU SINA MAKASSAR Muh. Jagad Ar-Rahman; Sri Julyani; Sri Wahyuni Gayatri B; Yusriani Mangarengi; Irmayanti HB
Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Vol 8 No 01 (2026): April
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31970/ma.v8i01.441

Abstract

ABSTRAK Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit infeksi yang masih menjadi masalah kesehatan global dan sering disertai dengan kelainan hematologis, salah satunya anemia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan jenis anemia dengan status bakteriologis berdasarkan Tes Cepat Molekuler (TCM) pada penderita tuberkulosis paru di Rumah Sakit YW UMI Ibnu Sina Kota Makassar. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional menggunakan data rekam medis pasien TB paru periode Januari–Desember 2024. Sampel penelitian berjumlah 72 pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis data dilakukan menggunakan analisis univariat dan bivariat dengan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar penderita TB paru mengalami anemia mikrositik sebanyak 40 orang (55,6%), sedangkan anemia normositik sebanyak 32 orang (44,4%). Status bakteriologis terbanyak adalah kategori medium (31,9%), diikuti high (30,6%), low (25,0%), dan very low (12,5%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai p = 0,245 (p>0,05), sehingga tidak terdapat hubungan yang signifikan antara jenis anemia dan status bakteriologis pada penderita tuberkulosis paru. ABSTRACT Tuberculosis (TB) remains a major global health problem and is often associated with hematological disorders, one of which is anemia. This study aimed to determine the relationship between the type of anemia and bacteriological status based on the Molecular Rapid Test (TCM) in pulmonary tuberculosis patients at YW UMI Ibnu Sina Hospital, Makassar. This research used a quantitative method with a cross-sectional design using medical record data of pulmonary TB patients from January to December 2024. The sample consisted of 72 patients who met the inclusion and exclusion criteria. Data analysis was conducted using univariate and bivariate analysis with the Chi-Square test. The results showed that most pulmonary TB patients had microcytic anemia (55.6%), while normocytic anemia was found in 44.4% of patients. The most common bacteriological status was medium (31.9%), followed by high (30.6%), low (25.0%), and very low (12.5%). The Chi-Square test showed a p-value of 0.245 (p>0.05), indicating that there was no significant relationship between the type of anemia and bacteriological status in pulmonary tuberculosis patients.
EFEKTIVITAS LIDOKAIN DIBANDINGKAN EFEDRIN SEBAGAI DEKONGESTAN TOPIKAL Christin Rony Nayoan; Muh Azrief Khaidir Anjar; Mishail Rayyan; Imtihanah Amri; Andi Alfia Muthmainnah Tanra; Rahma
Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Vol 8 No 01 (2026): April
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31970/ma.v8i01.445

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Dekongestan merupakan obat yang digunakan untuk mengurangi kongesti hidung, sinus paranasal, serta mengurangi volume jaringan mukosa edematosa dan sekresi lendir. Efedrin merupakan Dekongestan yang sering di gunakan terutama pada obat flu. Anestesi topikal yang paling umum digunakan untuk tindakan naso/oropharyngeal adalah lidokain. Anestesi lokal topikal dan dekongestan biasanya digunakan pada lubang hidung untuk mengurangi rasa sakit pada hidung dan untuk memperluas bidang pandang. Tujuan: Untuk mengetahui efektivitas lidokain dibandingkan efedrin sebagai dekongestan topikal. Metode: Jenis penelitian ini bersifat quasi eksperimental. Sampel pada penelitian ini sebanyak 12 orang (pada 2 rongga hidung) yang dipilih secara acak berdasarkan kriteria inklusi dan kriteria ekslusi yang telah di tentukan. Peneliti membagi sampel menjadi 2 kelompok perlakuan yaitu kelompok lidokain dan kelompok efedrin. Hasil: Tidak terdapat perbedaan efektivitas pada pemberian lidokain sebelum dan sesudah yaitu 0.059 (p>0.05), pada pemberian efedrin didapatkan 0.002 (p<0.05) yang artinya terdapat perbedaan efektivitas dari pemberian efedrin sebelum dan sesudah. Efektivitas lidokain dibandingkan efedrin didapatkan hasil 0.002 (p<0.05) yang artinya terdapat perbedaan efektivitas dari lidokain dan efedrin sebagai dekongestan topikal dengan selisih rata-rata diameter konka hidung yaitu 2.00 mm. Serta lidokain menunjukkan 67% pasien merasakan sensasi tidak nyaman sesudah menggunakan lidokain dan efedrin menunjukkan respon baik yaitu 75% pasien merasakan sensasi rasa nyaman. Kesimpulan: Terdapat perbedaan efektivitas dekongestan topikal, dimana efedrin terbukti efektif dan lidokain terbukti tidak efektif sebagai dekongestan topikal. Serta Lidokain menunjukkan rasa tidak nyaman pada kelompok perlakuan dan pada pemberian efedrin terdapat rasa nyaman. ABSTRACT Background: Decongestants are a class of drugs used to relieve nasal and paranasal sinus congestion by reducing mucosal edema and mucus secretion. Ephedrine is commonly used as a decongestant, particularly in the management of the common cold. Lidocaine, a topical anesthetic, is widely used in naso- and oropharyngeal procedures. Both topical anesthetics and decongestants are applied intranasally to reduce discomfort and improve visualization. Objective: To compare the effectiveness of lidocaine and ephedrine as topical nasal decongestants. Methods: This quasi-experimental study included 12 participants (24 nasal cavities) selected based on predefined inclusion and exclusion criteria. Samples were randomly allocated into two groups: lidocaine and ephedrine. Results: Lidocaine showed no significant difference in effectiveness before and after administration (p = 0.059). In contrast, ephedrine demonstrated a significant improvement (p = 0.002). A significant difference was also observed between the two groups (p = 0.002), with a mean turbinate diameter reduction of 2.00 mm favoring ephedrine. Additionally, 67% of participants reported discomfort with lidocaine, whereas 75% reported comfort with ephedrine. Conclusion: Ephedrine is effective as a topical nasal decongestant, while lidocaine is not. Ephedrine is also better tolerated, whereas lidocaine is associated with a higher incidence of discomfort