cover
Contact Name
Selma Intan Himawan
Contact Email
selma.intan@uai.ac.id
Phone
+6285711856586
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Jl. Sisingamangaraja, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan 12110
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL Al-AZHAR INDONESIA SERI SAINS DAN TEKNOLOGI
ISSN : 20879725     EISSN : 23558059     DOI : -
Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI SAINS DAN TEKNOLOGI terbit 2 kali dalam setahun yaitu pada bulan Maret dan September adalah jurna; ilmiah yang mempublikasikan artikel hasil penelitan ilmiah dan ide-ide di bidang sains dan teknologi. Jurnal ini berfokus pada bidang teknik industri, teknik elektro, teknik infromatika, biologi, gizi dan teknologi pangan.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 306 Documents
Kajian Morfologi Ikan Timpakul (Famili Gobiidae) dari Dua Tipe Ekosistem Mangrove yang Berbeda Anang Kadarsah; Krisdianto Krisdianto; Ika Oksi Susilawati
JURNAL Al-AZHAR INDONESIA SERI SAINS DAN TEKNOLOGI Vol 5, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Al Azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36722/sst.v5i1.322

Abstract

Abstrak  - Kajian ekologi hewan eksotik seperti ikan Timpakul pada ekosistem mangrove penting digali selain memperkaya pengetahuan juga menjadi landasan pengelolaan biodiversitas secara keseluruhan. Tujuan penelitian ini membandingkan kelimpahan dan morfologi ikan Timpakul (Famili: Gobiidae) pada dua tipe ekosistem mangrove di Muara Kuala Tambangan dan Pantai Pagatan Besar, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan. Survei data dan penangkapan ikan menggunakan jaring 1 meter x 10 meter dengan 10 kali ulangan. Hasil penelitian ditemukan tiga jenis ikan Timpakul yakni: Boleophthalmus pectinirostris, Periophthalmodon schlosseri, dan Boleophthalmus boddarti. Vegetasi Rhizophora sp.  dan Bruguierasp. dominan pada Muara Kuala Tambangan (65,8% dan 34,2%), sedangkan di Pantai Pagatan Besar didominasi Bruguiera Sp. (50,8%)dan Avicennia sp. (49,2%). Persentase kehadiran Boleopthalmus pectinirostris tertinggi di Pantai Pagatan Besar (64%), sedangkan di Muara Kuala Tambangan lebih dominan Boleophthalmus boddarti (71,11%). Berdasarkan lima karakter utama morfologi terpilih (SL=panjang standar, HL=panjang kepala, FDFB=Panjang dasar sirip dorsal pertama, SDFB=Panjang dasar sirip dorsal kedua, dan VFL=Panjang Sirip Ventral : satuan mm), rerata tertinggi dijumpai pada Periophthalmodon schlosseri (SL=167,50:HL=46,67:FDFB=22,17: SDFB=35,33 dan VFL=24,17), disusul Boleophthalmus pectinirostris (SL=131,89:HL=31,22: FDFB=21,67:SDFB=49,67 dan VFL=17,11) kemudian yang terakhir Boleophthalmus boddarti (SL=130,55:HL=30,64:FDFB=18,27:SDFB=52,73 dan VFL=16,73). Persentase rerata kandungan substrat (pasir:debu:liat) di Muara Kuala Tambangan 17,26%:77,52%:5,21% sedangkan di Pantai Pagatan Besar perbandingannya adalah 3,52%: 85,46%:11,03%.Abstract - Ecological studies of exotic animals such as Timpakul fish (Family of Gobiidae) in mangrove ecosystems is important to enriching the knowledge and for the overall of biodiversity management. The purpose of this study was to compare the abundance and morphology of Timpakul fish in two types of mangrove ecosystems. especially in the Village of Kuala Tambangan and Pagatan Besar, Tanah Laut Regency, South Kalimantan. Survey data and fishing was used by 1 meter x 10 meters of nets with 10 replications. Its found about three types of Timpakul fish, ie: Boleophthalmus pectinirostris, Periophthalmodon schlosseri, and Boleophthalmus boddarti. Rhizophora sp. and Bruguiera Sp. types vegetation were dominantly in Kuala Tambangan estuary (65.8% and 34.2%), while in Pagatan Besar beach it is dominated by Bruguiera Sp. (50.8%) and Avicennia sp. (49.2%). The highest percentage attendance in Pagatan Besar Beach is found for Boleopthalmus pectinirostris (64%), while in Kuala Tambangan Estuary was dominantly by Boleophthalmus boddarti (71.11%). Based on the five main morphological characters (SL=standard length, HL=head length, FDFB=first dorsal fin base, SDFB=second dorsal fin base length, and VFL=Ventral fin length: in mm of unit), so the highest average was found in Periophthalmodon schlosseri (SL=167.50:HL=46.67:FDFB=22.17:SDFB=35.33 and VFL = 24.17). It is followed by Boleophthalmus pectinirostris (SL = 131.89: HL = 31.22: FDFB = 21.67: SDFB = 49.67 and VFL = 17.11). Then the lowest is Boleophthalmus boddarti (SL = 130.55: HL = 30.64: FDFB = 18.27: SDFB = 52.73 and VFL = 16, 73). Substrate content (sand: dust: clay) percentage average in Kuala Tambangan estuary is 17.26%:77.52%:5.21% while in Pagatan Beach the ratio is 3.52%: 85.46%: 11.03%.Keywords - Abundance, Mangrove, Morphology, Mudskipper 
Rancang Bangun Alat Ukur Viskositas Dalam Rangka Pengembangan Modul Praktikum Fisika Dasar Syafitri Jumianto; Anwar Mujadin; Dewi Elfidasari
JURNAL Al-AZHAR INDONESIA SERI SAINS DAN TEKNOLOGI Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Al Azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36722/sst.v2i1.98

Abstract

Pengukuran viskositas metode bola jatuh menggunakan sensor proximity sebagai detektor pencatat waktu jalannya bola tersebut. Sensor diantarmukakan (interfacing) dengan mikrokontroler dihubungkan ke tampilan LCD dan dapat pula dihubungkan ke komputer melalui kabel USB yang kemudian diolah menggunakan program Labview. Komputer akan menampilkan hasil pencatatan waktu awal dan akhir perjalanan bola. Dengan memasukan data rumus, monitor komputer akan menampilkan nilai viskositas fluida yang di uji.
Keanekaragaman Fitoplankton Sungai Ciliwung Pasca Kegiatan Bersih Ciliwung Arief Pambudi; Taufiq W Priambodo; Nita Noriko; Basma Basma
JURNAL Al-AZHAR INDONESIA SERI SAINS DAN TEKNOLOGI Vol 3, No 4 (2016)
Publisher : Universitas Al Azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36722/sst.v3i4.235

Abstract

Abstrak - Sungai Ciliwung merupakan salah satu sungai yang tercemar karena banyak dimanfaatkan oleh warga jakarta diantaranya untuk kegiatan industri dan rumah tangga. Salah satu parameter biologi yang dapat digunakan sebagai indikator perubahan lingkungan yaitu Fitoplankton. Peran fitoplankton dalam ekosistem perairan yaitu sebagai produsen primer, hal ini karena fitoplankton memiliki kemampuan untuk fotosintesis. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari sampai dengan Juli 2016. Kegiatan Bersih Ciliwung dilaksanakan dari Rindam Jaya, Condet menuju Bidara Cina. Pasca kegiatan bersih ciliwung nilai oksigen terlarut (DO) dari hulu Rindam Jaya (Condet) menuju hilir hingga Bidara Cina mengalami penurunan, sehingga dapat mempengaruhi keanekaragaman fitoplankton. Perbedaan ini diduga memberikan gambaran keragaman komunitas fitoplankton yang berbeda sehingga dilakukan pengambilan sampel fitoplankton di kedua titik tersebut masing-masing dengan 3 kali pengulangan. Metode pengambilan sampel fitoplankton yang digunakan yaitu metode sampling Horizontal dan sampel diidentifikasi menggunakan Sedgewick Rafter Cell Counting (SRCC). Berdasarkan penelitian, total kelimpahan di Rindam Jaya lebih tinggi dibandingkan di Bidara Cina dengan angka berturut-turut 2511 Ind/L dan 1495 Ind/L. Hasil identifikasi fitoplankton yang ditemukan pada lokasi penelitian sebanyak 53 genus yang termasuk ke dalam 5 divisi yaitu, Bacillariophyta (20), Chlorophyta (16), Chrysophyta (5), Cyanophyta (8), dan Rhodophyta (4). Kelimpahan fitoplankton pada stasiun Rindam jaya lebih tinggi dibandingkan di Bidara Cina. Kata Kunci - Fitoplankton, Sungai Ciliwung, BioIndikator Abstract – Ciliwung river is one of the most polluted rivers because it’s used by many citizens of Jakarta for Industrial and household activity. One of biological parameter that’s can be used as an indicator of environmental changed is Phytoplankton.  The role of phytoplankton in aquatic ecosystem that is as primary producers, this is because phytoplankton have the ability to photosytensis. This study was conducted from February to July 2016. Ciliwung clean activity is implemented from Rindam Jaya, Condet to Bidara Cina. Post-activity clean ciliwung value of dissolved-oxygen from upstream Ridam Jaya, Condet to downsream Bidara Cina decreased, so that it can affect the diversity of phytoplankton. This difference is thought to give a picture of the diversity of different phytoplankton community so that samples were taken of phytoplankton in two points each with three repetitions. Phytoplankton sampling method was used Horizontal sampling method and samples were identified using Sedgewick Rafter Cell Counting (SRCC). Based on the research, the total abundance in Rindam Jaya is higher than in Bidara Cina with consecutive numbers 2511 Ind / L and 1495 Ind / L. The results of phytoplankton identification were found in the study sites of 53 genera belonging to 5 divisions namely, Bacillariophyta (20), Chlorophyta (16), Chrysophyta (5), Cyanophyta (8), and Rhodophyta (4). The abundance of phytoplankton at Rindam Jaya station is higher than in Bidara Cina. Keyword - Phytoplankton, Ciliwung River, Indicator Biotecnology
Profil Mesenchymal Stem Cell (MSC) Pasien Klinik Hayandra Pada Media Kultur Bersuplemen Menggunakan Flow Cytometry Adlia Khalisha; Riris Lindiawati Puspitasari; Karina F Moegni; Imam Rosadi; Iis Rosliana
JURNAL Al-AZHAR INDONESIA SERI SAINS DAN TEKNOLOGI Vol 4, No 4 (2018)
Publisher : Universitas Al Azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36722/sst.v4i4.310

Abstract

Abstrak - Mesenchymal Stem Cell (MSC) berpotensi untuk digunakan dalam pengobatan karena bersifat multipoten, dapat bermigrasi, dapat berproliferasi. MSC dikultur menggunakan media basal dengan penambahan suplemen, seperti Fetal Bovine Serum (FBS) dan Platelet-Rich Plasma(PRP) untuk mendukung pertumbuhannya. FBS dan PRP memiliki bahan dasar yang berbeda yaitu FBS berasal dari serum fetus sapi sedangkan PRP berasal dari plasma manusia, sehingga perlu dilakukan analisis karakter MSC yang dikultur pada media dengan penambahan FBS atau PRP. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis profil MSC yang dikultur pada media dengan penambahan FBS 10% atau PRP 10%. Metode yang dilakukan adalah isolasi MSC, pewarnaan MSC, penentuan populasi sel, dan analisis statistik. Penanda yang digunakan berupa CD73, CD90, CD105 dan Lineage negative (CD45/CD34/CD11b/CD19/HLA-DR). Sampel MSC didapatkan dari 8 orang pasien Klinik Hayandra. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan dari seluruh marker CD, yaitu Lin-(-)/CD90+ (p = 0,16), Lin-(+)/CD90+ (p = 0,43), dan CD105+/CD73+ (p = 0.5). Walaupun tidak memiliki perbedaan nyata, namun PRP cenderung memberikan hasil yang lebih baik daripada FBS, sehingga PRP dapat dijadikan sebagai suplemen alternatif dalam mengkultur MSC.Abstract - Mesenchymal Stem Cell (MSC) were used in many therapy in curing degenerative diseases. Because of its multipotent character, MSC could migrated, proliferated, and differentiated. In culture, MSC needed some suplements such as Fetal Bovine Serum (FBS) and Platelet-Rich Plasma (PRP) to support the growth. FBS and PRP had different ingredients based on their resources. FBS is derived from bovine fetus serum whereas PRP comes from human plasma, so became necessary to analyze MSC characters cultured in media with FBS or PRP suplements. The purpose of research was to analyze the MSC profile cultured with addition of 10% FBS and 10% PRP. The methodology were MSC isolation, MSC staining, cell population determination, and statistic analysis. The markers used are CD73, CD90, CD105 and Lineage negative (CD45 / CD34 / CD11b / CD19 / HLA-DR). Samples were obtained from 8 patients of Hayandra Clinic. The results of research showed that there were no significantly differences from all CD markers. Lin - (-) / CD90 + (p = 0.16), Lin - (+) / CD90 + (p = 0.43), and CD105 + / CD73 + (p = 0.5) gave different character in FBS or PRP suplementation. Although no significant difference, PRP tends to give better results than FBS in culturing MSC. This finding informed that PRP could be used as an alternative suplement in culturing MSC.Keywords - Mesenchymal Stem Cell (MSC), Fetal Bovine Serum (FBS), Platelet- Rich Plasma (PRP)
Studi Kualitas Pelayanan dari Segi Fasilitas dan Operasional di Universitas Al Azhar Indonesia (Sebuah Studi Kasus) Niken Parwati; Dinda Mutia Ramli
JURNAL Al-AZHAR INDONESIA SERI SAINS DAN TEKNOLOGI Vol 1, No 4 (2012)
Publisher : Universitas Al Azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36722/sst.v1i4.88

Abstract

Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) selalu berusaha meningkatkan kualitas pelayanannya baik dari segi operasional maupun penyediaan fasilitasnya. Studi ini dilakukan untuk mengetahui keinginan pelanggan (dalam hal ini mahasiswa) mengenai harapan dan kinerja pelayanan UAI yang diterima mahasiswa selama ini. Studi ini dimulai dengan dibuatnya pemetaan service blueprint yang dialami mahasiswa dalam menghadapi pelayanan di UAI. Setelah itu dilakukan survei langsung wawancara dalam bentuk pra kuesioner. Berdasarkan dari hasil pra kuesioner dibuatlah kuesioner. Berdasarkan data yang diperoleh ini kuesioner ini dilakukan perhitungan dan dibuatlah model Service Quality (ServQual) dan Quality Function Deployment (QFD). Berdasarkan hasil analisis terhadap kedua model, didapatkan atribut layanan yang perlu mendapatkan prioritas untuk meningkatkan kualitas jasa layanan di UAI secara berurutan yaitu: (1) meja dan kursi kuliah yang nyaman, (2) dosen komunikatif dalam proses perkuliahan, (3) adanya spanduk atau signageyang menunjukan adanya gedung UAI, (4) jumlah mahasiswa wanita, (5) panjang antrian di Bank, (6) kemudahan proses pembayaran, (7) jumlah meja dan kursi sesuai dengan pengunjung perpustakaan, (8) dosen memberikan penilaian secara objektif, (9) dosen dapat memberikan materi dengan baik dan jelas, (10) staf berpenampilan rapi, (11) dosen berpenampilan rapi saat kuliah, (12) nilai perkuliahan diumumkan secara terbuka dan diberitahukan dengan rinci, (13) sistem pembayaran semesteran yang lebih praktis (misalnya melalui ATM), (14) jumlah toilet untuk mahasiswa pria, (15) kemudahan proses mendaftar.AbstractUniversity of Al Azhar Indonesia (UAI) is attempting to increase their services quality at operational and facility level. This study is conducted to obtain customer perception (in this case the student) about UAI performance versus the student’s expectancy. The study began with mapping operational procedure in service blueprint which become as basis of generating questionnaires. To analyze the result, Service Quality (ServQual) and Quality Function Deployment (QFD) are modeled. From the two models analysis results, the priority attributes to enhance the service quality in UAI are (1) table and chair coziness, (2) lecturers’ communication quality, (3) visibility of UAI banner and signage, (4) number of women restrooms, (5) length of queue in the bank, (6) simplicity of tuition payment procedure, (7) number of table and chair in the library, (8) lecturers’ grading objectivity, (9) lecturers’clarity in delivering their material, (10) employees code of dress (properly and neatly), (11) lecturers’ code of dress (tidiness), (12) student grades are announce openly in detail, (13) more practical tuition payment system (e.g using ATM), (14) number of men restrooms, (15) admission procedur simplicity.
Diversifikasi Pangan Sumber Karbohidrat Canna edulis Kerr. (Ganyong) Nita Noriko; Arief Pambudi
JURNAL Al-AZHAR INDONESIA SERI SAINS DAN TEKNOLOGI Vol 2, No 4 (2014)
Publisher : Universitas Al Azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36722/sst.v2i4.160

Abstract

Abstrak - Fenomena adanya penyakit akibat kurangnya asupan serat yang memicu penyakit degeneratif di masyarakat perlu mendapat perhatian karena dapat menimbulkan masalah nasional di masa mendatang. Penelitian mengenai kadar serat dan metabolit sekunder Canna edulis Kerr. (Ganyong) yang dilanjutkan dengan pengabdian masyarakat  telah dilakukan.  Metode yang digunakan dalam penelitian adalah survey sedangkan pengabdian masyarakat berupa edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya serat dan metabolit sekunder melalui diversifikasi pangan sumber karbohidrat non beras seperti Canna edulis Kerr. (Ganyong). Hasil penelitian menunjukkan bahwa serat tertinggi Ganyong terdapat pada daun, selain itu ganyong juga mengandung metrabolit sekunder seperti flavonoid, steroid dan alkaloid. Pengabdian masyarakat dilaksanakan di desa Sindanglengo Gunung Putri Jawa Barat. Penelitian juga menunjukkan bahwa masyarakat telah mengetahui ganyong akan tetapi tidak mengetahui manfaatnya bagi kesehatan. Oleh sebab itu budidaya ganyong kurang dikembangkan  oleh masyarakat. Abstract - The phenomenon of disease that caused by lack of  fiber intake that induce  degenerative  disease  is important  to get attention  because it  can cause national problem in the future. The research on fiber concentration and secondary metabolic Canna edulis Kerr. (Ganyong) that continued by community serviced were conducted.  The methodology  used  in this research was a survey techniques, whereas  community serviced was done through extension to the community about the important of fiber and secondary metabolites through food diversification like Canna edulis Kerr (Ganyong). The research showed that the highest Ganyong fiber found in leaf, leaves also contained secondary metahabolites like flavonoid, steroid and alkaloid. Community serviced was done in desa Sindanglengo Gunung Putri Jawa Barat. This activity indicated that most community has known about Ganyong but they didn’t know its benefit for health, which result in lack of Ganyong cultivation. Keywords – degenerative disease, secondary metabolite, education,  food diversification
Perbandingan Desain Antena Dipole dan Yagi-Uda Menggunakan Material Aluminium pada Frekuensi 470 – 890 MHz Suci Rahmatia; Putri Wulandari; Nurul Khadiko; Fitria Gani Sulistya
JURNAL Al-AZHAR INDONESIA SERI SAINS DAN TEKNOLOGI Vol 3, No 3 (2016)
Publisher : Universitas Al Azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36722/sst.v3i3.219

Abstract

Abstrak  - Antena merupakan alat pemancar yang akrab dengan aktifitas sehari-hari dan mudah sekali dijumpai, di rumah, di gedung, bahkan pada alat komunikasi yang digunakan. Salah satu antena yang sering digunakan adalah antena televisi. Antena televisi yang sering digunakan adalah Yagi-Uda yang biasanya dipakai sebagai outdoor antena dan antena dipole yang biasanya digunakan untuk indoor antena. Masing – masing jenis antena memiliki kriteria dan keuntungan berdasarkan dari kebutuhan penggunaannya. Baik antena dipole maupun antena Yagi-Uda memiliki perbedaan diantaranya adalah besar bandwidth, nilai gain, dan pola radiasi. Pada paper ini dapat diketahui bahwa bandwidth yang dimiliki antena yagi-uda lebih besar daripada antena dipole yakni 0.39943 MHz untuk antena yagi-uda dan 0.16569 MHz untuk antena dipole. Begitupula dengan besar Gain yang dimiliki antena Yagi-Uda (6.64 dBi) lebih besar dibandingkan dengan gain dari antena dipole (2.29 dBi). Perbedaan ini dikarenakan faktor elemen director dan ketebalannya.Kata Kunci – Atena Televisi, Atena Yagi-Uda, Atena Dipole, Gain, Bandwidth Abstract - Antenna is a transmitter tool that is familiar with daily activity and easy to find at home, in the building, even on the communication tool used. One of antenna that is often used is a television antenna. Television antennas are often used is Yagi-Uda which is usually used as an outdoor antenna and dipole antenna that is usually used for indoor antennas. Each type of antenna has the criteria and advantages based on the needs of its use. Both dipole antennas and Yagi-Uda antennas have differences among them are bandwidth, gain, and radiation pattern. In this paper it can be seen that the bandwidth of yagi-uda antenna is bigger than dipole antenna that is 0.39943 MHz for Yagi-Uda antenna and 0.16569 MHz for dipole antenna. Neither the large Gain of the Yagi-Uda antenna (6.64 dBi) is greater than the gain of the dipole antenna (2.29 dBi). This difference is due to element factor of director and its thickness.Keywords – Television Antenna, Yagi-Uda Antenna, Dipole Antenna, Gain, Bandwidth
Pengaruh Kondisi Vasektomi pada Perilaku Reproduksi Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) di Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia, Bogor Hana Nabilah; Luthfiralda Sjahfirdi; Wendi Prameswari
JURNAL Al-AZHAR INDONESIA SERI SAINS DAN TEKNOLOGI Vol 4, No 3 (2018)
Publisher : Universitas Al Azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36722/sst.v4i3.282

Abstract

Abstrak - Telah dilakukan pengamatan perilaku reproduksi moyet ekor panjang (Macaca fascicularis) di Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) yang telah disterilkan dengan metode vasektomi. Tujuan penelitian adalah mengamati pengaruh vasektomi monyet ekor panjang terhadap perilaku reproduksinya. Pengamatan dilakukan pada tiga ekor monyet ekor panjang jantan (Jantan1, Jantan2, dan Jantan3) yang dikandangkan bersama dua ekor monyet ekor panjang betina (Betina1 dan Betina2) dengan metode scan sampling dan ad libitum dengan interval waktu 5 menit tanpa jeda. Pengamatan dilakukan dari pukul 08.00-15.00 WIB selama 14 hari di bulan Agustus 2016, serta dengan total titik sampel yang diperoleh adalah 1008. Hasil pengamatan menunjukkan ketiga jantan masih aktif melakukan perilaku reproduksi, dengan Jantan1 yang merupakan jantan dominan dalam kelompok yang lebih mendominasi betina dibanding Jantan2 dan Jantan3, dibuktikan dengan nilai MM (Male Mounts) terhadap betina yaitu Jantan1 sebanyak 111 kali, Jantan2 sebanyak 10 kali dan Jantan3 sebanyak 21 kali. Perilaku reproduksi pada ketiga jantan masih ditemukan karena metode vasektomi tidak merusak proses spermatogenesis sehingga sistem hormonal hewan tidak terganggu. Terdapat perbedaan frekuensi perilaku reproduksi jantan terhadap Betina1 dan Betina2. Hal tersebut dikarenakan preferensi jantan dalam kelompok yang lebih memilih untuk kawin dengan Betina1 daripada Betina2, yang dibuktikan dengan nilai FRS (Female Refuses Sex) dari Betina1 terhadap jantan sebanyak 111 kali sementara Betina2 sebanyak 7 kali. Diduga Betina1 merupakan betina dominan dengan kadar hormon estrogen yang lebih tinggi daripada Betina2.Kata Kunci - Macaca fascicularis, Rehabilitasi, Perilaku Reproduksi, VasektomiAbstract - A study of reproductive behavior has been conducted on long tail macaques (Macaca fascicularis) which have been sterilized by a vasectomy method at Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), Bogor. The purpose of the study is to observe the influence of vasectomy to reproductive behavior of those animals. Observation was conducted on 3 (three) male macaques (the code names are: Jantan1, Jantan2 and Jantan3) which were captive-housed with 2 other female macaques (the code names are: Betina1 and Betina2). The method of observation is a combination of scan sampling and ad libitum methods with 5 (five) minutes intervals without pause. Daily observation were done from 08:00 am to 03:00 pm for 14 days in August 2016 and brought about 1,008 sample points. Results showed all males still actively performed reproductive behavior with Jantan1 in dominant position to all females compared to other males. Male Mounts (MM) of Jantan1 (111 times) was found higher than other males (Jantan2 10 times and Jantan3 21 times). We resume that reproductive behavior was still found in all males because vasectomy methods did not affect spermatogenesis process therefore the hormonal system remain in normal condition. There are differences in the frequency of males’ reproductive behavior to all females since all males preferring to mate with Betina1 instead of Betina2. The Female Refuse Sex behavior to males was found higher in Betina1 (111 times) than Betina2 (7 times) as Betina1 assumed to be dominant than Betina2.Keywords - Macaca fascicularis, Rehabilitation, Reproductive Behavior, Vasectomy
Rancang Bangun Sistem Pakar Berbasis WEB untuk Mendiagnosis Jenis Burung Air: Waterbird Exsys Nida’ul Hasanati; Dinda Fitriasari
JURNAL Al-AZHAR INDONESIA SERI SAINS DAN TEKNOLOGI Vol 1, No 3 (2012)
Publisher : Universitas Al Azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36722/sst.v1i3.48

Abstract

Makalah ini menyajikan sebuah sistem pakar berbasis web untuk mendiagnosa jenis burung, terutama burung air. Kebanyakan Burung air bermigrasi dari satu tempat ke tempat lainnya yang jauh, dan beberapa dari mereka hanya berhenti sesaat. Mereka sering pindah dari tempat kelahiran merekake tempat mereka berkembang biak dengan jarak yang sangat jauh. Kondisi ini membuat peneliti atau orang-orang yang peduli pada lingkungan, sulit untuk mendiagnosis berbagai jenis spesies burung air yang mereka temukan. Sistem pakar ini dimaksudkan untukmembantu mereka untuk memecahkan masalah umum identifikasi spesies burung air dengan pendekatan yang efisien dan orientasi hasil. Pengetahuan sistem pakar ini dimasukkan ke dalam basis pengetahuan yang terintegrasi dengan menggunakan aturan “jika-maka”. Kesimpulan dari sistem pakar ini diambil dengan menggunakan mekanisme inferensi backward chaining. Dengan pengetahuan yang akurat dan pengujian yang serius, sistem ini dapat membantu proses diagnosis cepat dan akurat. Sistem pakar berbasis web juga dapat digunakan sebagai alat pendidikan di bidang Biologi, terutama Ornitologi, yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat umum atau pihak yang bersangkutan dengan kelestarian lingkungan [1]. This paper presents a web-based expert system for diagnosing bird species, especially waterbird. Waterbird are migratory birds that move from one place to other distant places, and some of them just simply stopped. They often move from their birthplace to where they breed with a very far distance. This condition make researchers or the persons, who concerned for the environment, difficult to diagnose the different kind of waterbird species that they found. This expert system is intended to help them to solve the general problem of identification of Waterbird species with efficient approach and result-orientation. This expert system uses organized knowledgeas arule “if-then“, and allthe knowledge for diagnostic processing are incorporated into an integrated knowledge base. Conclusion from the expert system is retrieved by using the inference mechanism of backwardchaining. By providing accurate knowledge and seriously testing, the system can help the diagnosis process quickly and accurately. This web based expert system also can be used as an educational tool in the field of Biology, especially Ornithology, which can be utilized by the general public or the parties concerned with environmental sustainability.
Pengembangan Database Genbank UAI-Bioinformatics Menggunakan Sistem Terdistribusi Ade Jamal; Denny Hermawan; Muhammad Nugraha
JURNAL Al-AZHAR INDONESIA SERI SAINS DAN TEKNOLOGI Vol 2, No 3 (2014)
Publisher : Universitas Al Azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36722/sst.v2i3.138

Abstract

Abstrak – Telah dilakukan penelitian tentang pengolahan terdistribusi data genbank menggunakan Hadoop Distributed Filesystem (HDFS) dengan tujuan mengetahui efektifitas pengolahan data genbank khususnya pada pencarian sequens dengan data masukan yang berukuran besar. Penelitian dilakukan di Laboratorium Jaringan Universitas Al Azhar Indonesia dengan menggunakan 6 komputer dan satu server dimana dalam Hadoop menjadi 7 node dengan rincian 1 namenode, 7 datanode, 1 secondary namenode. Dengan eksperimen HDFS menggunakan 1 node, 2 node, 4 node, 6 node, dan 7 node dibandingkan dengan Local Filesystem. Hasil menunjukan proses pencarian sequens data genbank menggunakan 1 – 7 node pada skenario eksperimen pertama dengan output yang menampilkan hasil 3 field (Locus, Definition, dan Authors), skenario eksperimen kedua dengan output yang menampilkan hasil 3 field (Locus, Authors, dan Origin), dan skenario eksperimen ketiga menggunakan HDFS dan LFS dengan output yang menampilkan seluruh field yang terdapat dalam data genbank (Locus, Definition, Accesion, Version, Keywords, Source, Organism, Reference, Authors, Title, Journal, Pubmed, Comment, Features, dan Origin). Evaluasi menunjukan bahwa proses pencarian sequens data genbank menggunakan HDFS dengan 7 node adalah 4 kali lebih cepat dibandingkan dengan menggunakan 1 node. Sedangkan perbedaan waktu pada penggunaan HDFS dengan 1 node adalah 1.02 kali lebih cepat dibandingkan dengan Local Filesystem dengan 4 core processor. Abstract - A research on distributed processing of GenBank data using Hadoop Distributed File System GenBank (HDFS) in order to know the effectiveness of data processing, especially in the search sequences with large input data. Research conducted at the Network Laboratory of the University of Al Azhar Indonesia using 6 computers and a server where the Hadoop to 7 nodes with details 1 namenode, 7 datanode, 1 secondary namenode. With HDFS experiments using 1 node, node 2, node 4, node 6, and 7 nodes compared with the Local Filesystem. The results show the search process of data GenBank sequences using 1-7 nodes in the first experiment scenario with an output that displays the results of 3 fields (Locus, Definition, and Authors), a second experiment scenario with an output that displays the results of 3 fields (Locus, Authors, and Origin) , and the third experiment scenarios using HDFS and LFS with output that displays all the data fields contained in GenBank (Locus, Definition, Accesion, Version, Keywords, Source, Organism, Reference, Authors, Title, Journal, Pubmed, Comment, Features, and Origin). Evaluation shows that the search process of data GenBank sequences using HDFS with 7 nodes is 4 times faster than using one node. While the time difference in the use of HDFS with one node is 1:02 times faster than the Local File System with 4 core processor. Keywords –  genbank, sequens, distributed computing, Hadoop, HDFS

Page 8 of 31 | Total Record : 306