cover
Contact Name
Asri Hidayat
Contact Email
asri.hidayat@kemdikbud.go.id
Phone
+628114118474
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Jl. Sultan Alauddin km.7, Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia, 90221
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora
ISSN : 25024345     EISSN : 26864355     DOI : https://doi.org/10.36869
Core Subject : Social,
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora is an open access, a peer-reviewed journal published by Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan.
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 2 (2021)" : 9 Documents clear
PERTAMBANGAN EMAS DI PALELEH, 1985 - 1930 Hasanuddin Anwar; Retno Sekarningrum
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 7, No 2 (2021)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v7i2.196

Abstract

Saat kandungan emas yang besar ditemukan di Paleleh dan sekitarnya pada pertengahan abad ke-19, pemerintah Hindia-Belanda mulai menekan Madika Buol agar dapat memonopoli eksploitasi emas di sana. Pada perkembangannya, pihak swasta juga diberi hak-hak konsesi untuk membuka dan melakukan penambangan emas di Paleleh. Ramainya aktivitas penambangan emas di Paleleh kemudian berdampak pada pembangunan daerah tersebut. Sayangnya, masa kejayaan Paleleh mulai meredup saat memasuki awal abad ke-20 akibat krisis yang dialami perusahaan. Artikel ini bertujuan untuk merekonstruksi bagaimana kehidupan masyarakat Paleleh telah mengalami kemajuan atau kemunduran melalui proses sejarahnya. Adapun metode yang digunakan adalah metode sejarah yang mencangkup pengumpulan sumber (heuristik), kritik sumber, interpretasi, dan penulisan (historiografi). Artikel ditulis dengan menggunakan deskripsi analitik. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah Hindia-Belanda di Buol tidak dapat dipisahkan dari kepentingannya untuk memonopoli sumber daya emas di sana. Perkembangan perusahaan tambang di Paleleh dan sekitarnya berdampak pada kemajuan infrastruktur, pembangunan jalur kereta api, dan pertumbuhan jumlah serta keragaman penduduk karena masuknya tenaga kerja dari luar. Meskipun demikian, kemajuan aktivitas penambangan di Paleleh kemudian mengalami kemunduran hingga banyak perusahaan tambang yang ditutup/dilikuidasi.
KURIKULUM DAN GURU SEJARAH TINGKAT SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) DI TAKALAR, SULAWESI SELATAN 2004-2018 Rismawidiawati Rusli
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 7, No 2 (2021)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v7i2.212

Abstract

Pembelajaran sejarah Indonesia telah mengalami perjalanan panjang seiring dengan perubahan kurikulum pendidikan serta perubahan sosial politik dalam konteks lebih luas. Sejak tahun 2004 sampai 2013, telah terjadi perubahan kurikulum sebanyak tiga kali sehingga muncul suatu ungkapan “ganti menteri ganti kurikulum”. Ungkapan ini tidak sepenuhnya keliru karena memang pemerintah cenderung menerapkan “uji coba dan gagal” dalam penyusunan kurikulum. Kondisi ini berimplikasi pada pembelajaran sejarah di tingkat SMA, dimana para guru menghadapi permasalahan terhadap perubahan kurikulum. Penelitian ini mengurai masalah yang dihadapi oleh guru sejarah dalam proses pembelajaran di tingkat lebih praktis, yaitu di kelas dengan mengambil kasus Sekolah Menengah Atas (SMA) di Takalar, Sulawesi Selatan. Dengan menggunakan metodologi sejarah, menekankan pada proses, penelitian ini akan melihat respon guru terhadap perubahan kurikulum dan sejauhmana peran Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) sejarah dalam mengatasi setiap masalah yang dihadapi oleh guru-guru sejarah di Kabupaten Takalar, Hasil penelitian menunjukkan bahwa para guru sejarah terkendala serius dalam memenuhi unsur administrasi pembelajaran pada kurikulum K13, mereka lebih disibukkan dengan tuntutan administratif sehingga konten pembelajaran sering terabaikan. Secara konseptual guru tidak keberatan dengan situasi perubahan kurikulum yang dapat dijelaskan argumentasinya dengan kapasitas pengetahuan sejarah yang mereka miliki. Tetapi perubahan kurikulum yang ada hanya menekankan target pencapaian administrasi dibandingkan dengan pencapaian tingkat pemahaman siswa terhadap suatu materi pelajaran. MGMP sejarah di Takalar secara aktif membantu para guru sejarah dalam pemenuhan administrasi maupun upaya peningkatan skill mengajar. MGMP telah cukup banyak membantu guru-guru dalam bertukar informasi, pengalaman, bahan ajar, dan lainnya yang berkaitan tugas-tugas pembelajaran.
MA’BURA KAMPUNG: RITUAL TRADISIONAL PADA MASYARAKAT BATETANGNGA DI KABUPATEN POEWALI MANDAR PROVINSI SULAWESI BARAT Abdul Hafid
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 7, No 2 (2021)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v7i2.198

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mendekripsikan tentang tradisi ritual Mabbura Kampung, yang merupakan salah satu tradisi ritual yang dilakukan pada masyarakat Suku Pattae tepatnya Dusun Baruga dan Dusun Passembaran di Kabupaten Polewali Mandar Sulawesi Barat. Tulisan ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif, dengan teknik pengumpulan data melalui observasi (pengamatan langsung terhadap berbagai aktivitas dan perilaku pada masyarakat Suku Pattae di Desa Batetangnga), wawancara mendalam terhadap tokoh masyarakat, budayawan, pelaku ritual dan pemerintah setempat serta dokumentasi. Tradisi ritual Mabbura Kampung ini, mencerminkan karakter dan jati diri masyarakat Suku Pattae di Desa Batetangnga sehingga perlu dikaji dalam upaya melestarikan budaya lokal, sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa. Dari hasil penelitian ini diketahui, bahwa pelaksanaan tradisi ritual Mabbura Kampung merupakan warisan nenek moyang terdahulu yang diyakini sebagai pencucian diri atau tolak bala’ dari berbagai gangguan bencana alam, baik gangguan tanaman, gangguan di sungai maupun gangguan wabah penyakit yang dapat membahayakan kehidupan masyarakat pendukungnya. Tradisi ritual Mabbura Kampung  tersebut hingga saat ini masih tetap bertahan dan dilakukan secara turun temurun oleh masyarakat pendukungnya yang bermukim di Desa Batetangnga dan masyarakar Suku Pattae pada umunya. Tradisi ritual ini dipimpin oleh dua orang, yaitu  sando banua baine (dukun kampung perempuan), dan seorang Imam kampung, dan  kedua pemimipin ritual ini  mempunyai tugas masing-masing.          
MENGUNGKAP NILAI-NILAI BUDAYA DALAM RITUAL AKDANGANG PADA KOMUNITAS ADAT KAJANG DI KABUPATEN BULUKUMBA Ansaar Ansaar
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 7, No 2 (2021)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v7i2.213

Abstract

Tulisan yang disajikan ini merupakan hasil penelitian lapangan yang bertujuan selain untuk mengungkapkan prosesi pelaksanaan Akdangang sebagai suatu upacara ritual kematian pada komunitas adat Kajang di Kabupaten Bulukumba, juga untuk mengkaji nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriktif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara, pengamatan dan kajian pustaka. Hasil pembahasan menunjukkan, bahwa pelaksanaan upacara kematian ini memilki tahap kegiatan yang cukup panjang, dimulai dari prosesi penguburan hingga hari keseratus (puncak ritual). Dalam setiap kelipatan sepuluh harinya, dipertunjukkan pula acara yang dinamakan akbasing-basing, yaitu suatu acara yang  dimainkan oleh dua orang laki-laki sebagai pakbasing-basing dan dua orang perempuan sebagai pelantun syair. Acara ini biasanya mulai dimainkan pada sekitar pukul 20.00 malam hingga dini hari. Syair-syair yang dilagukan pun, semuanya bernada sendu sesuai yang menceritakan alam “sana”. Bahkan kadang-kadang si pelantun syair mengalami kesurupan akibat masuknya roh si mati. Dengan ucapan yang hanya bisa diterjemahkan oleh kammikkale atau tupparuru (orang yang menguasai mantera dan doa), dapatlah diketahui keadaan si mati di alam “sana”, apakah menempati bola tepu (surga) atau bola campali (neraka).
SONGKA BALA: PENGETAHUAN LOKAL DALAM MITIGASI BENCANA ALAM, SOSIAL DAN WABAH PENYAKIT PADA KOMUNITAS ADAT TABBANGA DI KABUPATEN GOWA iriani sarah; raodah hafid
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 7, No 2 (2021)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v7i2.202

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan pengetahuan lokal masyarakat komunitas Tabbanga dalam mitigasi bencana, baik bencana alam, sosial dan wabah penyakit. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif,dengan proses pengumpulan data melalui wawancara, observasi dan studi pustaka. Hasil penelitian menujukkan, bahw masyarakat Tabbanga yang berada di Kecamatan Pallangga, desa Julukanaya sampai saat ini dalam hal mitigasi bencana masih mengandalkan pengetahuan tradisional, dengan mengadakan ritual-ritual yang dianggap dapat menolak bencana. Oleh sebab itu komunitas Tabbanga setiap tahun melakukan ritual untuk mengatasi bencana, salah satu ritual yang dilaukkan adalah songka bala atau dalam bahasa Indonesia, disebut penolak bala. Dalam proses ritual, banyak bahan-bahan yang digunakan yang berupa simbol-simbol mengandung makna penolak bencana.  Baik itu benda-benda, maupun makanan yang ditampilkan berupa pisang,kue-kue dan makanan tradisional selalu bermakna menolak bencana. Pada proses ritual pemimpin adat tabbangalah yang melakukan komunikasi dengan roh-roh yang dianggap dapat menolak bencana yang akan menimpa masyarakat komunitas Tabbanga. Ritual untuk menolak bencana pada umumnya dilakukan di rumah pemimpin adat Tabbanga, sebab di rumah tersebut juga terdapat benda-benda pusaka yang dianggap sangat terkait dalam melakukan ritual yang tentunya akan mempengaruhi dikabulkan tidaknya permohonan doa mereka
SISTEM PENGETAHUAN TRADISIONAL DALAM MENANGKAP IKAN PADA NELAYAN PANCING DAN JARING DI NAGARI SURANTIH KABUPATEN PESISIR SELATAN SUMATERA BARAT AJISMAN AJISMAN; ROIS LEONARD ARIOS
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 7, No 2 (2021)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v7i2.194

Abstract

This study aims to reveal the traditional knowledge system of fishing rods and net fishermen in Nagari Surantih, Pesisir Selatan Regency, West Sumatra Province. This departs from the idea that traditional fishing communities rely on knowledge of natural signs in their fishing activities. This knowledge is a process of social action to achieve goals. The research was conducted with a qualitative approach with data collection techniques through interviews, observations, and literature studies. The analysis was carried out through domain and taxonomy analysis. The results showed that traditional fishermen in Nagari Surantih were divided into two groups, namely fishing rods and net fishermen. However, all fishermen agreed that being able to become fishermen must understand the signs of nature in order to be safe while fishing and get a good catch. Natural signs that are important to understand are the position of the stars and moon at night, ferocity, moon sickness, rain that is considered unnatural, birds, sunsets, water currents, and instincts. This whole system of knowledge was obtained from their respective parents
KOPI ARABIKA KALOSI ENREKANG Cahaya Daeng Bulan
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 7, No 2 (2021)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v7i2.203

Abstract

Kopi Arabika Kalosi Enrekang merupakan salah satu komoditas yang diperdagangkan sejak periode kolonial Belanda hingga kini. Hal ini terkait dengan kebijakan pemerintah kolonial Belanda dalam pengembangan tanaman kopi sejak 1830. Artikel ini bertujuan menguraikan perkembangan perdagangan kopi Arabika Kalosi Enrekang dari periode kolonial Belanda sampai saat ini. Dengan menggunakan medotologi sejarah yang menekankan pada proses dan waktu, artikel ini menunjukkan bahwa perkembangan budi daya kopi Arabika di Enrekang tidak terlepas dari kondisi alam yang mendukung. Jenis tanah di daerah ini termasuk areal purba dan memiliki batu yang sangat spesifik, mengandung lixisols podzolic yang kaya zat besi sehingga wilayah ini menjadi penghasil kopi terbaik. Kopi Kalosi menjadi komoditas pilihan dalam perdagangan masa kolonial Belanda karena memiliki kualitas yang tinggi sehingga memiliki nilai ekonomis yang tinggi pula. Para pedagang kopi sebagian besar berasal dari Duri dan Sidenreng. Mereka membangun jaringan perdagangan dengan petani danmembeli prodok kopi mereka dengan sistem ijon, yaitu membeli kopi dari pohon. Sistem ini terkadang lebih menguntungkan para pedagang karena dapat membeli kopi lebih murah. Selain itu, para pedagang melakukan transaksi jual beli dengan sistem barter dimana komoditas kopi ditukar dengan porselin, tenunan halus, dan perhiasan emas. Sampai berakhirnya kolonialisme Belanda, budi daya kopi di daerah ini masih bertahan dan menjadi salah satu komoditas unggulan Kabupaten Enrekang.
MAKNA SIMBOLIK TARI ELLO-ELLOQ DI KAYU ANGIN MAJENE Sahajuddin M.Si.
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 7, No 2 (2021)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v7i2.195

Abstract

Tari Ello-Elloq lahir dari adat istiadat Kayu Angin yang memiliki sejarah panjang, sejak masa Pongka Padang hingga masa kini. Sebagaimana tari pada umumnya, Tari Ello-Elloq terdiri dari beberapa unsur yang memiliki makna simbolik. Makna simbolik itulah yang menjadi tujuan kajian ini, yaitu menguraikan dan menjelaskan makna-makna simbolik yang terdapat dalam Tari Ello-Elloq di Kayu Angin, Majene Mandar, baik yang berhubungan dengan gerakan tarinya maupun yang tidak. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah dengan langkah-langkah: melalui proses heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Hasil kajian menunjukkan bahwa tari Ello-Elloq memiliki makna-makna simbolik baik dari proses sejarah terciptanya, dalam unsur-unsur tarinya, terkhusus makna simbolik gerakan-gerakan tarinya. Makna simbolik yang dimaksud adalah makna atau nilai budaya yang terdapat pada  propertinya, busana atau pakaiannya, pelaku dan penarinya, pengiringnya. Sementara makna simbolik dalam unsur gerakannya terdapat dalam gerakan mattedong-tedong, gerakan ello-elloq, dan gerakan pepio. Termasuk makna simbolik di luar gerakan utamanya (gerakan turunan). Walaupun tidak dapat dipungkiri, bahwa Tari Ello-Elloq juga memiliki gerakan murni dan gerakan maknawi.
KEGAGALAN PARTAI KOMUNIS INDONESIA PADA PEMILIHAN UMUM 1955 DI DAERAH PEMILIHAN SULAWESI SELATAN/TENGGARA idwar anwar; Suriadi Mappangara; ilham makkelo
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 7, No 2 (2021)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v7i2.208

Abstract

Pemilihan Umum 1955, Partai Komunis Indonesia (PKI) berhasil menempati posisi keempat perolehan suara secara nasional. Suara ini mayoritas diperoleh dari Daerah Pemilihan (Dapil) di pulau Jawa, yakni sebanyak 35 kursi (90%) dari 39 total kursi PKI di DPR. PKI tidak mampu mendapatkan suara untuk DPR dan hanya berhasil mendapatkan satu kursi untuk Konstituante di Dapil Sulawesi Selatan/Tenggara. Berdasarkan metode penelitian sejarah (heuristik, kritik atau verifikasi, interpretasi dan historiografi), kajian ini menguraikan berbagai penyebab terkait ketidakmampuan PKI mendulang suara di dapil Sulawesi Selatan/Tenggara, khususnya berdasarkan sumber-sumber primer yang ditemukan. Hasil kajian menunjukkan bahwa secara internal, PKI tidak memiliki jejaring struktur partai yang baik dan kurang tepat dalam menempatkan calon legislatif yang diusung. Secara eksternal, persaingan keras, utamanya dengan Masyumi yang sangat giat menuding PKI sebagai partai yang antiagama danTuhan, membuat PKI sulit berkembang. Kultur masyarakat yang religius yang menyebabkan PKI tidak diterima dengan baik. Ditambah lagi dengan kerasnya penolakan Kahar Muzakkar terhadap PKI. Kahar Muzakkar yang melakukan pemberontakan ketika itu, bahkan sangat berkeinginan untuk menggagalkan pemilu 1955.

Page 1 of 1 | Total Record : 9