cover
Contact Name
Dr. Purnama Budi Santosa
Contact Email
-
Phone
+62274520226
Journal Mail Official
jgise.ft@ugm.ac.id
Editorial Address
Jl. Grafika No.2 Kampus UGM, Yogyakarta 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
JGISE-Journal of Geospatial Information Science and Engineering
ISSN : 26231182     EISSN : 26231182     DOI : https://doi.org/10.22146/jgise.51131
Core Subject : Engineering,
JGISE also accepts articles in any geospatial-related subjects using any research methodology that meet the standards established for publication in the journal. The primary, but not exclusive, audiences are academicians, graduate students, practitioners, and others interested in geospatial research.
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 2 (2024): December" : 12 Documents clear
Analisis Pemodelan Genangan Banjir Akibat Luapan Sungai Kupang Hasyim, Faisal Ammar
Jurnal Geospasial Indonesia Vol 7, No 2 (2024): December
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgise.90748

Abstract

Banjir sering terjadi di berbagai daerah di Indonesia, termasuk di Kota Pekalongan. Kajian InaRISK BNPB menyatakan bahwa semua kecamatan di Kota Pekalongan memiliki potensi bahaya banjir dengan tingkat sedang hingga tinggi. Keberadaan Daerah Aliran Sungai (DAS) Kupang merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap banjir di Kota Pekalongan. Seiring berjalannya waktu, DAS Kupang mengalami perubahan penggunaan lahan yang dapat mengurangi kemampuannya sebagai daerah resapan air. Genangan banjir sering terjadi saat Sungai Kupang meluap akibat hujan deras dan pasang air laut. Data dari Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air dan Penataan Ruang Provinsi Jawa Tengah menunjukkan bahwa Sungai Kupang telah meluap dan menyebabkan banjir sebanyak delapan kali dari tahun 2016 hingga 2022. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh perubahan penggunaan lahan terhadap debit puncak di DAS Kupang melalui pemodelan debit menggunakan program HEC-HMS dengan metode Soil Conservation Services yang diterapakan pada kondisi penggunaan lahan tahun 2019, 2021, dan 2023. Debit hasil pemodelan digunakan dalam pemodelan banjir menggunakan program HEC-RAS. Analisis hasil pemodelan banjir didasarkan pada perbedaan data debit dan tinggi air laut yang digunakan dan dampaknya terhadap penggunaan lahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan penggunaan lahan secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap debit puncak di DAS Kupang. Hasil pemodelan banjir menunjukan bahwa luapan Sungai Kupang tetap terjadi pada kondisi debit dan tinggi air laut minimum namun akan meluas pada kondisi debit dan tinggi air laut maksimum. Luapan Sungai Kupang paling banyak melanda Kecamatan Pekalongan Utara, khususnya terhadap badan air atau tambak dan pemukiman.
Sentinel-2 Satellite Image Processing using Machine Learning Algorithms of the Manombo Nature Reserve Tsaramanana, Valerien Eugene
Jurnal Geospasial Indonesia Vol 7, No 2 (2024): December
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgise.94152

Abstract

This paper is based on the fields of satellite image processing and analysis using Sentinel-2 satellite images with machine learning algorithms under Google Earth Engine for the study of land cover evolution in the Manombo Madagascar, nature reserve. The objectives of the study are to identify the elements that occupy the land in the reserve. During our experiments, we compared the best machine learning algorithm using CART, Random Forest, Naive Bayes, SVM to determine the best machine learning algorithm for our Sentinel-2 data. So, we have proposed a methodology to do the treatment and in the end we have treatment results. From our treatments, we can conclude that the use of Random Forest classifier gave the most accuracy on the correct classification.  
Low-cost alternative flood modeling using CHIRPS data in the Way Garuntang Catchment, Bandar Lampung, Indonesia Sahid, Sahid; Nana, Yanto Putri; Fahmi, Aziz; M Gilang, Mardika Indra; Ferial, Asferizal; Syukry, Zein Akbar; Wiedad, Diyaulhaq; Devi, Yunida
Jurnal Geospasial Indonesia Vol 7, No 2 (2024): December
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgise.94307

Abstract

Floods are hydro-meteorological events that could impact economic losses and threaten human life. Floods are events where water overflows in potential areas due to exceeding the river's capacity. Flood modeling is the key in reducing the impact of losses resulting from flood disasters. Satellite-based rainfall data provides data with spatial and temporal distribution that has the potential to be an alternative as input in flood modeling. The availability of satellite rainfall data as input for flood modeling certainly requires an assessment of the modeling results' accuracy level. This research aims to investigate the performance of flood inundation modeling using CHIRPS data. The accuracy value of flood modeling results is calculated by comparing flood modeling results through Snyder-Alexejev synthetic unit hydrograph discharge calculations, which are then applied to 2D flood hydraulic modeling using HEC-RAS. The findings indicate that as an alternative to rainfall station data to model flood inundation, Chirps data have a level of accuracy that can be considered. Even though there are differences in the extent and depth of flood inundation between CHIRPS data and observation rainfall stations data, the results of modeling with CHIRPS data can contribute to mapping potential flood-prone areas.
Pemetaan Laju Erosi Daerah Aliran Sungai Serayu Terhadap Pendangkalan Waduk Mrica Tahun 2018-2022 Berbasis Citra Satelit Sentinel-2 Surya Laksana, Matias Ronaldo Dimas; Azzuhdi, Muhammad Rofid; Hadi, Firman; Qoyimah, Shofiyatul
Jurnal Geospasial Indonesia Vol 7, No 2 (2024): December
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgise.95299

Abstract

Waduk Mrica merupakan infrastruktur vital yang berperan sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), sumber irigasi, pengendali banjir di bagian hilir, dan perikanan. Kemampuan waduk untuk menjalankan fungsinya tergantung pada kapasitas penyimpanannya, yang dipengaruhi oleh tingkat sedimentasi akibat erosi pada Daerah Aliran Sungai (DAS). Untuk mengatasi masalah pendangkalan dan dampak erosi tanah, diperlukan pemahaman mendalam mengenai tingkat bahaya erosi dan nilai sedimentasi dalam periode waktu tertentu. Penelitian ini bertujuan memberikan gambaran menyeluruh mengenai laju erosi di DAS Serayu dan dampaknya terhadap pendangkalan Waduk Mrica dalam rentang waktu 2018-2022 dengan memanfaatkan citra satelit Sentinel-2. Penelitian meliputi prediksi laju erosi DAS Serayu menggunakan metode Universal Soil Loss Equation, kemudian dilakukan estimasi kedalaman Waduk Mrica dengan algortima Random Forest yang dikalibrasi dengan data perekaman batimetri in situ. Hasil penelitian ini menunjukkan estimasi kedalaman menggunakan citra Sentinel-2 mampu memberikan informasi kedalaman 0-25 m di Waduk Mrica pada periode 2018-2022, dengan nilai R2 pada rentang 0,83-0,92, MAE pada rentang 0,367-0,593, RMSE pada rentang 0,819-1,401 m. Hasil penelitian menunjukkan tren penurunan total volume Waduk Mrica dari tahun 2018 hingga 2022, menandakan berkurangnya kapasitas penyimpanan waduk. Terjadi variasi laju erosi, total erosi, dan sediment yield di DAS Serayu selama periode tersebut. Sub DAS Serayu Hulu secara konsisten menjadi kontributor terbesar terhadap total erosi dibanding Sub DAS lainnya. Terdapat hubungan antara sedimen hasil erosi DAS Serayu dan pendangkalan Waduk Mrica pada tahun 2019 dan 2020, tetapi pada tahun 2021 dan 2022 terjadi ketidaksesuaian di mana sedimen DAS meningkat sedangkan sedimen waduk menurun yang disebabkan adanya tindakan pengendalian sedimen waduk.
Pendefinisian Koordinat Titik Stasiun GMU2 pada International Terrestrial Reference Frame (ITRF) 2020 Menggunakan Titik Ikat International GNSS Service (IGS) Kresnawan, Dicky Satria; Panuntun, Hidayat
Jurnal Geospasial Indonesia Vol 7, No 2 (2024): December
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgise.98257

Abstract

Universitas Gadjah Mada memiliki dua titik stasiun Continuous Operating Reference System (CORS) dengan nama GMU1 dan GMU2. Titik GMU2 belum memiliki koordinat definitif karena stasiun tersebut masih baru dan belum dilakukan pengolahan data untuk mendapatkan koordinat definitifnya. Titik GMU2 tidak bisa dimanfaatkan untuk kegiatan penentuan posisi apabila koordinat definitif titik tersebut belum didefinisikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan koordinat definitif dari titik GMU2. Penelitian ini menggunakan data pengamatan GNSS selama 30 hari tanggal 6 Januari hingga 4 Februari 2024 atau Day of Year (DOY) 6 s.d. 35. Pengecekan kualitas data pengamatan menggunakan perangkat lunak TEQC. Pengecekan kualitas data dilakukan untuk mengetahui pengaruh dari multipath dan delay yang disebabkan oleh ionosfer. Pengolahan data menggunakan perangkat lunak GAMIT & GLOBK 10.71. Pengolahan titik GMU2 menggunakan 10 titik ikat IGS yang diolah sesuai standar orde 0. Hasil pengecekan kualitas data menunjukkan bahwa nilai MP1 dan MP2 titik GMU2 di bawah 0,5 meter. Nilai tersebut mengindikasikan pengaruh multipath di titik GMU2 minimal. Nilai IOD slips mengindikasikan bahwa data hasil perekaman tidak terpengaruh delay ionospher. Hasil pengolahan dengan menggunakan titik ikat 10 stasiun IGS menghasilkan nilai koordinat kartesius tiga dimensi (X, Y, Z) untuk titik GMU2 berturut-turut beserta simpangan bakunya adalah –2200143,9034 m +5,5 mm; 5924784,8966 m +12 mm; –857058,0378 m +3,4 mm. Nilai koordinat geodetik (φ, λ, h) beserta simpangan bakunya berturut-turut adalah –7,7740809854o +0,000101”; 110,3722668808o  +0,000108”; 201,9747 m +12,9 mm. Nilai koordinat UTM zona 49S (E, N, U) berturut-turut adalah 430785,4293 m +3,3 mm; 9140626,4215 m +3,1 mm; 201,9692 m +12,9 mm.
Pemetaan Tingkat Keparahan Area Kebakaran Hutan di Gunung Lawu Menggunakan Citra Landsat 9 Salsabella, Rachmanita Isna; Arrofiqoh, Erlyna Nour
Jurnal Geospasial Indonesia Vol 7, No 2 (2024): December
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgise.100721

Abstract

Kebakaran hutan merupakan salah satu permasalahan yang sering terjadi di Indonesia dan memberikan dampak signifikan terhadap lingkungan, ekosistem, serta kehidupan masyarakat sekitar. Pada tahun 2023, total luas lahan yang terbakar akibat kebakaran hutan di Indonesia mencapai 994.113,18 hektar yang tersebar di berbagai provinsi, termasuk kawasan Gunung Lawu yang terletak di perbatasan antara Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Hutan di Gunung Lawu sering terjadi kebakaran. Tahun 2023 terjadi kebakaran di hutan Gunung Lawu pada 30 Agustus hingga 29 September 2023. Kebakaran hutan yang terjadi di Gunung Lawu menyebabkan kerusakan ekosistem, termasuk hilangnya vegetasi, terganggunya habitat flora dan fauna, serta berisiko bagi masyarakat sekitar. Oleh karena itu, diperlukan informasi yang akurat sebagai referensi untuk upaya mitigasi, rehabilitasi, pemulihan dan evaluasi pasca kebakaran hutan. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan tingkat keparahan kebakaran hutan di Gunung Lawu dengan menggunakan citra satelit landsat 9. Pada penelitian ini pengolahan citra dilakukan dengan metode Normalize Burn Ratio (NBR). Proses NBR melibatkan analisis terhadap nilai reflektan dari dua saluran spektral yaitu NIR (Near Infrared) dan SWIR (Shortwave Infrared) yang memungkinkan identifikasi perubahan signifikan pada area yang terbakar. Perhitungan dilakukan terhadap citra sebelum dan sesudah kebakaran untuk mendapatkan nilai selisih (ΔNBR) yang digunakan untuk mengklasifikasikan area kebakaran berdasarkan tingkat keparahannya. Hasil penelitian ini yaitu peta tingkat keparahan kebakaran hutan tahun 2023 di Gunung Lawu. Luas total area kebakaran di Gunung Lawu mencapai 3.043,83 hektar. Perhitungan akurasi menggunakan metode matriks konfusi menghasilkan akurasi keseluruhan sebesar 76,92%.
Analisis Spasial Rencana Tata Ruang Wilayah Berbasis Kerentanan Gempa Bumi (Studi Kasus: Kecamatan Cisarua Kabupaten Bandung Barat) Pamungkas, Totok Doyo; Firdaus, Rival Akbar; Rohmah, Nurul Aniyyatur; Rizki, Recky; Affriani, Asri Ria
Jurnal Geospasial Indonesia Vol 7, No 2 (2024): December
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgise.101944

Abstract

Kecamatan Cisarua merupakan salah satu wilayah yang dilewati oleh jalur Sesar Lembang sehingga rawan terhadap bencana gempabumi. Sesar Lembang terletak di utara Kota Bandung yang tergambar jelas dalam peta topografi sebagai gawir memanjang berorientasi barat-timur. Dalam sejarahnya, Sesar Lembang pernah menyebabkan gempabumi, salah satunya terjadi pada tanggal 28 Agustus 2011 yang menyebabkan sebanyak 268 rumah rusak. Saat ini Indonesia telah memiliki UU No. 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana dan UU No. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Pada tingkat kementerian  terdapat Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 21/PRT/M/2007 tentang Pedoman Penataan Ruang di Kawasan Rawan Letusan Gunung Berapi dan Kawasan Rawan Gempa Bumi. Berdasarkan hal tersebut, dibutuhkan sebuah evaluasi rencana tata ruang wilayah (RTRW) yang berlandaskan kerentanan terhadap bencana gempabumi. Penelitian ini menggunakan analisis overlay untuk mengetahui kesesuaian antara RTRW tahun 2009-2029 dan tutupan lahan eksisting tahun 2024 dengan zonasi tingkat kerentanan gempabumi berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 21/PRT/M/2007 sehingga dapat diketahui kekurangan dan kelemahan pola ruang masa kini dan mendatang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kesesuaian antara tutupan lahan eksisting tahun 2024 dengan zonasi tingkat kerentanan terhadap bencana gempabumi memiliki kesesuaian sebesar 92%, artinya lebih dari 3/4 atau 4909 Ha wilayah Kecamatan Cisarua sesuai dengan peruntukannya berdasarkan zonasi tingkat kerentanan terhadap bencana gempabumi. Hal yang sama juga ditunjukkan pada tingkat kesesuaian antara RTRW 2009 – 2029 dengan zonasi tingkat kerentanan terhadap bencana gempabumi yang memiliki kesesuaian sebesar 92%, sementara 8% atau seluas 454 Ha tidak sesuai dengan peruntukannya.
Survei dan Pembuatan Sistem Informasi Geografis Alamat Berkode Lokasi (Geocoded Address) untuk Wilayah Kalurahan Mantrijeron, Kota Yogyakarta Aprinia, Putri Rut Monica; Sutanta, Heri
Jurnal Geospasial Indonesia Vol 7, No 2 (2024): December
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgise.102071

Abstract

Alamat merupakan informasi penting sebagai penunjuk lokasi dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari pengiriman dokumen dan barang, laporan kondisi kedaruratan, layanan kesehatan hingga layanan terhadap fasilitas air, listrik dan telekomunikasi. Pembangunan yang pesat di wilayah perkotaan menyebabkan data alamat menjadi semakin penting. Namun demikian, selain kondisi alamat yang tidak teratur, data referensi poligon (bidang tanah dan bangunan) juga belum tersedia. Oleh sebab itu, upaya survei, standardisasi, dan geocoding perlu dilakukan supaya terdapat keteraturan dan efisiensi.  Penelitian ini berlokasi di wilayah Kalurahan Mantrijeron, Kemantren Mantrijeron, Kota Yogyakarta. Data referensi yang digunakan dalam proses geocoding adalah data bangunan yang diperoleh melalui survei lapangan. Survei dilakukan melalui pemetaan partisipatif bersama masyarakat dengan mengisi peta kerja dengan nomor bangunan eksisting. Standardisasi dilakukan mengacu pada ketentuan SNI 9037:2021 tentang Pengalamatan di Wilayah Perkotaan dan Perdesaan. Proses geocoding dilakukan pada data alamat sebelum dan sesudah standardisasi. Hasil geocoding selanjutnya divisualisasikan dalam WebGIS dengan platfom ArcGIS Online. WebGIS yang telah dibuat dilakukan evaluasi melalui uji usabilitas dan kompatibilitas. Hasil standardisasi menunjukkan jumlah objek alamat yang sesuai dengan ketentuan SNI 9037:2021 hanya berjumlah 70 bangunan dari total 2.222 bangunan. Hasil geocoding menunjukkan tingkat kecocokan (match rate) pada alamat yang telah terstandardisasi adalah sebesar 100%. Berdasarkan hasil uji kompatibilitas, WebGIS Geocoded Address Kalurahan Mantrijeron dapat mempertanahankan tampilan dan fungsionalitas fitur dengan baik pada berbagai perangkat dan browser. Uji usabilitas dilakukan terhadap aspek 5E menggunakan metode kuisioner dengan jumlah responden sebanyak 30 orang. Berdasarkan hasil uji usabilitas, WebGIS memiliki nilai rerata kelima aspek sebesar 4,55. Hal ini menunjukkan bahwa WebGIS Geocoded Address Kalurahan Mantrijeron memiliki usabilitas yang baik.
Bathymetric Mapping of Shallow Water Using Aerial Images With Structure-From-Motion Approach: A Case Study Of Kepulauan Seribu Water, Dki Jakarta Sulistian, Teguh; Gularso, Herjuno; Arum, Dewi Sekar; Aditya, Sandi; Mugiarto, Fajar Triady
Jurnal Geospasial Indonesia Vol 7, No 2 (2024): December
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgise.102075

Abstract

Bathymetric mapping is crucial for marine spatial planning and coastal infrastructure development. However, shallow waters with depths ranging from 0 to 5 meters are considered critical areas that pose dangers to conventional survey vessels. This research examines a bathymetric mapping method for the shallow waters of Kepulauan Seribu, Jakarta, using aerial images captured by an unmanned aerial vehicle (UAV) with a structure-from-motion (SfM) approach. Furthermore, the point cloud must be corrected for the refractive index since light passes through both air and water. The seawater refractive index is derived from salinity and seawater temperature data. The validation process uses several independent control points (ICPs) obtained from GNSS real-time kinematic (RTK) measurements and soundings conducted with an unmanned surface vessel (USV). The accuracy assessment shows that the SfM point cloud data has a horizontal RMSE of 0.103 m and a vertical RMSE of 0.191 m. The aerial image approach significantly speeds up the acquisition process compared to conventional sounding methods and produces a higher density of point clouds, integrating the coastal digital elevation model (DEM) of both land and sea areas. However, the use of this method is limited to clear waters where the seabed is visible in the images.
Direct Position Estimation (DPE): A Potential Application in Geodetic Networks Mudita, Imam
Jurnal Geospasial Indonesia Vol 7, No 2 (2024): December
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgise.102078

Abstract

Direct Position Estimation (DPE) is a relatively new technique in the Global Navigation Satellite System (GNSS) that is used to estimate the user’s position, velocity, and time directly from the correlation values of the received GNSS signal with the internal replica signals of the receiver. Unlike the conventional two-step approach, DPE infers the position directly from the sampled data without intermediate steps by joining signal tracking, and the navigation technique directly compares the expected signal reception of multiple potential navigation candidates against the actual received signal. The theoretical results indicate that DPE-based GNSS receivers can achieve more robust localization than conventional two-step receivers. DPE localization algorithms that compute the navigation solution directly in the navigation domain have been proposed, providing ways to address the challenges of conventional two-step receivers at the expense of additional computational load. Despite its high computational load, DPE is a more robust positioning algorithm than conventional two-step receivers in terms of multipath mitigation. The resilience of DPE against multipath and non-line-of-sight can even potentially offer applications in geodetic networks, where robust estimators are traditionally employed to counteract outliers.

Page 1 of 2 | Total Record : 12