cover
Contact Name
Octariana Sofyan
Contact Email
lppm@afi.ac.id
Phone
+62274-370458
Journal Mail Official
lppm@afi.ac.id
Editorial Address
Jl. Veteran Gang Jambu Kebrokan Pandeyan Umbulharjo Yogyakarta 55151
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Kefarmasian AKFARINDO
ISSN : 25287257     EISSN : 25287265     DOI : -
The journal includes various fields of pharmaceuticals sciences such as: -Pharmacology and Toxicology -Pharmacokinetics -Community and Clinical Pharmacy -Pharmaceutical Chemistry -Pharmaceutical Biology -Pharmaceutics -Pharmaceutical Technology -Biopharmaceutics -Pharmaceutical Microbiology and Biotechnology -Alternative medicines
Articles 195 Documents
POLA PERESEPAN OBAT DISPEPSIA PADA PASIEN DEWASA DI KLINIK KIMIA FARMA 275 YOGYAKARTA PERIODE JANUARI-APRIL 2019 Setiyawati, Ranie; Hastuti, Dwi
Jurnal Kefarmasian Akfarindo Vol 6 No 1 (2021)
Publisher : Akademi Farmasi Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37089/jofar.vi0.98

Abstract

Dispepsia berada pada peringkat ke-10 dengan proporsi 1,5% untuk kategori 10 penyakit terbesar pada pasien rawat jalan di seluruh rumah sakit di Indonesia. Prevalensi pasien dispepsia Indonesia di pelayanan kesehatan mencakup 30% dari pelayanan dokter umum dan 50% dari pelayanan dokter spesialis gastroenterologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran peresepan obat dispepsia pada pasien dewasa di Klinik Kimia Farma 275 Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan metode observasional yang bersifat deskriptif dengan pengumpulan data secara retrospektif. Pengumpulan data dilakukan dengan penelusuran data rekam medis dan resep pasien dewasa yang terdiagnosa dispepsia di Klinik Kimia Farma 275 Yogyakarta periode Januari-Maret 2019. Data dianalisa dengan menghitung persentase jenis obat dispepsia, penggolongan obat dispepsia dan dosis yang digunakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyakit dispepsia banyak menyerang perempuan , usia yang paling banyak terkena penyakit dispepsia yaitu usia 18-25 tahun. Penggunaan obat dispepsia dengan jenis lansoprazole paling banyak diresepkan yaitu mencapai 41,96%, sedangkan untuk golongan obat dispepsia paling banyak digunakan yaitu golongan Pompa Proton Inhibitor dengan persentase sebesar 51,79%. Kesesuaian dosis penggunaan obat dispepsia dengan IONI adalah 100%.
EVALUASI PENGELOLAAN STOK OBAT YANG MENDEKATI KADALUWARSA DI INSTALASI FARMASI RUMAH SAKIT BETHESDA YOGYAKARTA PERIODE JANUARI – JUNI 2019 Dwi Setiyaningrum, Erna; Dwi Saputra, Yoga
Jurnal Kefarmasian Akfarindo Vol 6 No 1 (2021)
Publisher : Akademi Farmasi Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37089/jofar.vi0.99

Abstract

Instalasi farmasi RS mengharuskan obat dikelola dengan efektif dan efisien agar tidak terjadi masalah adanya stok obat kadaluwarsa. Terjadinya stok obat kadaluwarsa menimbulkan kerugian materi yang ditanggung oleh rumah sakit. Persentase obat kadaluwarsa dan rusak yang dimusnahkan tahun 2018 rata-ratadidapatkan 3,402%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besaran persentase obat yang dikelola setelah dikembalikan ke gudang dan mengevaluasi pengelolaan dan perlakuan terhadap perbekalan farmasi mendekati kadaluwarsa di Farmasi RS Bethesda Yogyakarta periode Januari – Juni 2019. Metode yang digunakan yaitu metode observasional yang bersifat kualitatif. Penelitiaan dilakukan di Farmasi Gudang RS Bethesda Yogyakarta pada bulan Januari 2020. Sampel yang digunakan adalah 2398 item dengan hasil 188 item yang mendekati kadaluwarsa yang dikelola di Farmasi RS Bethesda Yogyakarta,dimana data diperoleh melalui data primer dan sekunder. Analisa data berupa hasil klasifikasi obat mendekati kadaluwarsa yang dikelola berupa persentase, dan analisa pengelolaan dilakukan dengan membandingkan hasil wawancara dengan teori dan SPO yang diterapkan. Hasil penelitian menunjukan bahwa pengelolaan obat yang mendekati kadaluwarsa di Farmasi RS Bethesda Yogyakarta sudah berjalan dengan baik sesuai dengan SPO, namun masih ditemukan 3,419% obat yang dimusnahkan pada periode Januari – Juni 2019 dari 2398 item obat karena menedekati kadaluwarsayang dimusnahkan yang tidak sesuai dengan standar WHO yaitu dibawah 1%.
FORMULASI DAN UJI FISIK SEDIAAN GEL EKSTRAK DAUN PETAI CINA (Leucaena leucocephala (Lam.) De. Wit) DENGAN BASIS HYDROXY PROPYL METHYL CELLULOSE (HPMC) Lubapepita Triananda, Aurellia; Wijaya, Andi
Jurnal Kefarmasian Akfarindo Vol 6 No 1 (2021)
Publisher : Akademi Farmasi Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37089/jofar.vi0.100

Abstract

Daun petai cina (Leucaena leucocephala (Lam.) De Wit.) mengandung senyawa golongan flavonoid, lektin, alkaloid, saponin, dan tanin yang mempunyai aktivitas sebagai penyembuh luka bakar, sehingga perlu dikembangkan bentuk sediaan dari daun petai cina berupa sediaan gel dengan basis HPMC. Basis HPMC dipilih karena mempunyai ketoksikan yang rendah dengan kecepatan pelepasan obat yang baik dan daya sebarnya luas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ekstrak daun petai cina dapat dibuat sediaan dalam bentuk gel dan mengetahui sediaan gel ekstrak daun petai cina dengan basis HPMC dapat dibuat menjadi sediaan gel yang baik secara fisik. Proses ekstraksi menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 70%. Formulasi gel ekstrak daun petai cina menggunakan basis HPMC konsentrasi 3% dengan 2 kelompok, yakni kelompok kontrol tanpa penambahan ekstrak dan kelompok formula dengan penambahan ekstrak. Setiap formula dilakukan uji sifat fisik yang meliputi uji organoleptis, homogenitas, pH, dan daya sebar. Hasil uji organoleptis dan homogenitas dianalisis secara deskriptif, sedangkan uji pH dan uji daya sebar dianalisis secara statistik menggunakan Independent sampel T-Test dengan taraf kepercayaan 95%. Proses ekstraksi menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 70%. Formulasi gel ekstrak daun petai cina menggunakan basis HPMC konsentrasi 3% dengan 2 kelompok, yakni kelompok kontrol tanpa penambahan ekstrak dan kelompok formula dengan penambahan ekstrak. Setiap formula dilakukan uji sifat fisik yang meliputi uji organoleptis, homogenitas, pH, dan daya sebar. Hasil uji organoleptis dan homogenitas dianalisis secara deskriptif, sedangkan uji pH dan uji daya sebar dianalisis secara statistik menggunakan Independent sampel T-Test dengan taraf kepercayaan 95%. Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ekstrak daun petai cina dapat dibuat gel dengan basis HPMC dan sediaan gel ekstrak daun petai cina memenuhi persyaratan uji organoleptis, homogenitas, pH, dan daya sebar.
FORMULASI DAN EVALUASI PERMEN JELLY SAMBILOTO (Andrographis paniculata Nees) MENGGUNAKAN BASIS KARAGENAN-KONJAK Rahmamulia Yusdwianta, Adinda; Dwi Lestari, Ratih; Dwihan Saputra, Damas
Jurnal Kefarmasian Akfarindo Vol 6 No 2 (2021)
Publisher : Akademi Farmasi Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37089/jofar.vi0.101

Abstract

Sambiloto merupakan bahan alami yang memiliki khasiat dapat meningkatkan fungsi sistem pertahanan tubuh. Dengan memformulasikan ekstrak sambiloto ke dalam formula permen jelly akan menambah nilai gizi yang terkandung dalam permen jelly. Permen jelly sambiloto dapat meningkatkan pemanfaatan herba sambiloto (Andrographidis paniculata Nees) menjadi sediaan yang mampu diterima oleh berbagai kalangan masyarakat. Mengetahui formulasi yang tepat dalam pembuatan permen jelly dengan penambahan karagenan dan konjak. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimental dengan rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktor yang terdiri dari 3 formula perbandingan karagenan – konjak dengan konsentrasi 2%, 2,5%, dan 3%. Evaluasi permen jelly yang dilakukan meliputi keseragaman bobot dan pengujian hedonik dengan atribut warna, rasa, aroma, tekstur, dan nilai uji hedonik keseluruhan (overall). Bobot rata-rata permen jelly adalah 5,12 gram dengan penyimpangan bobot 0,01 sampai 0,11%, formula terpilih ditentukan berdasarkan hasil uji hedonik. Nilai uji hedonik tertinggi didapatkan oleh perlakuan F2(2,5%) dan F3(3%) dengan hasil tidak beda nyata yaitu 6,35 dan 6,36. Permen jelly sambiloto dengan konsentrasi karagenan-konjak 3% (F3) dipilih sebagai formula terbaik, karena memiliki tingkat kesukaan paling tinggi Semakin besar konsentrasi karagenan konjak yang ditambahkan pada formulasi berpengaruh terhadap peningkatan kekerasan, kekenyalan, aroma dan kepekatan warna permen jelly sambiloto yang dihasilkan
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL DAUN ALPUKAT (Persea americana Mill.) TERHADAP BAKTERI PSEUDOMONAS AERUGINOSA Yogaswara Purnomo, Hanif; Azzahra, Fara
Jurnal Kefarmasian Akfarindo Vol 6 No 2 (2021)
Publisher : Akademi Farmasi Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37089/jofar.vi0.102

Abstract

Daun alpukat mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, tanin dan saponin yang bermanfaat sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri dari daun alpukat terhadap bakteri P. aeruginosa dan mengetahui potensi aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun alpukat dengan pembanding antibiotik siprofloksasin. Pengujian aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi sumuran menggunakan 8 kelompok perlakuan, yaitu ektrak etanol daun alpukat konsentrasi 2%, 4%, 6%, 8% dan 10% sebagai sampel uji, siprofloksasin konsentrasi 5µg/20µl sebagai kontrol positif, etanol 96% sebagai kontrol pelarut dan aqua proinjection sebagai kontrol negatif. Setiap perlakuan diinokulasikan dengan bakteri kemudian ditetesi ekstrak etanol daun alpukat, diinkubasi pada suhu 37 ℃ selama 24 jam, data yang diperoleh berupa zona hambat yang diukur dan dianalisa sensitivitasnya berdasarkan CLSI dengan pembanding siprofloksasin. Aktivitas antibakteri menunjukkan diameter zona hambat pada bakteri P. aeruginosa dalam konsentrasi 2%, 4%, 6%, 8% dan 10% ekstrak daun alpukat sebesar 5,68±0,15mm; 6,16±0,03mm; 6,65mm±0,06; 7,55±0,20mm dan 6,41±0,06mm; berturut-turut dengan kategori resisten dan Siprofloksasin menunjukandiameter zona hambat 32,52±1,00mm dengan kategori sensitif menurut CLSI. Hasil zona hambat tersebut menunjukan adanya perbedaan bermakna antar kelompok perlakuan ekstrak dan terhadap kontrol positif siprofloksasin. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol daun alpukat memiliki aktivitas menghambat bakteri P. aeruginosa, namun potensinya tidak sebanding dengan siprofloksasin.
HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN TERHADAP KEPATUHAN MINUM OBAT ANTIHIPERTENSI DI PUSKESMAS SEWON II PERIODE JANUARI 2021 Labiba Khuzaima, Luthfita; Sunardi
Jurnal Kefarmasian Akfarindo Vol 6 No 2 (2021)
Publisher : Akademi Farmasi Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37089/jofar.vi0.103

Abstract

Jumlah kasus hipertensi di Bantul sebesar 106.659 dan hipertensi sebagai urutan pertama dari 10 besar penyakit. Kesadaran masyarakat masih kurang tentang kepatuhan minum obat antihipertensi yang menyebabkan terapi obat kurang maksimal. Beberapa penelitian mengemukakan bahwa salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kepatuhan minum obat hipertensi yaitu tingkat pendidikan seseorang. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan tingkat pendidikan terhadap kepatuhan minum obat antihipertensi di Puskesmas Daerah bantul yaitu puskesman Sewon II pada Periode Januari 2021. Metode dalam penelitian ini yaitu observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah rata-rata per bulan pasien yang melakukan pengobatan di Puskesmas Sewon II dari bulan Juni – Oktober 2020 sebesar 180 pasien dan sampel sebanyak 125 orang dengan teknik Purposive Sampling. Hasil penelitian yang menghasilkan data tingkat pendidikan dan kepatuhan responden diperoleh dari kuesioner. Analisa data menggunakan SPSS 25 dengan uji Chi-Square. Penelitian ini menunjukkan hasil bahwa responden yang memiliki Tingkat pendidikan terbanyak di Puskesmas Sewon II Bantul yaitu SMA sejumlah 59 orang (47,2%). Pasien patuh 84 responden 32,8% dan tidak patuh 41 responden 67,2%. Hasil analisis hubungan antara pendidikan dan kepatuhan dengan Chi Square Asymp. Sig. (2-side) 0,000 < 0,05. Tingkat pendidikan berhubungan signifikan dengan kepatuhan minum obat antihipertensi di Puskesmas Sewon II Bantul.
TINGKAT PENGETAHUAN PENGGUNAAN OBAT HERBAL PADA KELOMPOK TANI SAKURA DI DESA TRIKEMBANG Eristina; Ekaliana, Nia
Jurnal Kefarmasian Akfarindo Vol 6 No 2 (2021)
Publisher : Akademi Farmasi Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37089/jofar.vi0.104

Abstract

Desa Trikembang sebagai bagian dari Kabupaten Sambas sejak dahulu penduduknya telah memanfaatkan tumbuhan untuk pengobatan penyakit. Seluruh lapisan masyarakat biasanya mengkonsumsi tanaman herbal untuk upaya menjaga kesehatan tubuh. Pemanfaaatan obat herbal sebaiknya dilandasi dengan pengetahuan yang benar sehingga penggunaanya tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan tanaman herbal masyarakat Tri kembang dengan penggunaan tanaman herbal. Penelitian dilakukan menggunakan metode regresi linier sederhana. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner Tingkat Pengetahuan terhadap Penggunaan Obat Herbal pada Kelompok Tani Sakura di Desa Trikembang. Data di analisis menggunakan bantuan software SPSS. Berdasarkan hasil uji T SPSS diperoleh nilai sig pada output tersebut yaitu 0,001<0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh tingkat pengetahuan tanaman herbal masyarakat Trikembang terhadap penggunaan tanaman herbal dalam kehidupan sehari – hari.
TINGKAT KEPUASAN PELANGGAN TERHADAP PELAYANAN FARMASI DI APOTEK SELAKAU FARMA Masyithah, Nurul; Aminudin
Jurnal Kefarmasian Akfarindo Vol 6 No 2 (2021)
Publisher : Akademi Farmasi Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37089/jofar.vi0.105

Abstract

Apotek merupakan suatu sarana untuk melakukan pekerjaan kefarmasian dan penyaluran perbekalan farmasi kepada masyarakat umum. Salah satu indikator untuk mengetahui mutu pelayanan kesehatan adalah pengukuran kepuasan pengguna jasa kesehatan. Kepuasan merupakan tingkat perasaan seseorang dengan membandingkan antara kinerja atau hasil yang dirasakan dengan harapan. Mengetahui tingkat kepuasan pelanggan terhadap pelayanan farmasi di Apotek Selakau Farma. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif menggunakan kuisioner kepuasan meliputi realibility (kehandalan), responsiveness (ketanggapan), assurance (Jaminan), empathy (empati), tangibles (dimensi berwujud). Hasil kuesioner di ukur menggunakan skala Likert. Subyek penelitian adalah pasien yang berkunjung ke Apotek Selakau dalam periode 1 bulan. Jumlah subyek penelitian ditentukan dengan rumus Slovin. Data di analisis secara deskriptif pada tiap variabel berdasarkan persentase responden yang menyatakan puas. Berdasarkan penilaian Analisis secara keseluruhan menyatakan pasien yang berkunjung ke apotek Selakau Farma merasa puas terhadapat pelayanan kefarmasian yang diberikan. Pernyataan ini ditunjukkan dari tingkat keseluruhan indikator memiliki nilai >90% yaitu dari dimensi kehandalan, ketanggapan, jaminan, empati dan fasilitas berwujud.
FORMULASI DAN KARAKTERISASI MIKROEMULGEL ETIL P-METOKSISINAMAT (EPMS) DARI RIMPANG KENCUR (Kaempferia galanga Linn) Sriarumtias, Framesti Frisma; Mahendra Rizkio Syamsudin, Raden Aldizal; Ummah, Liyatul; Abdillah, Fajar Fauzi
Jurnal Kefarmasian Akfarindo Vol 7 No 1 (2022)
Publisher : Akademi Farmasi Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37089/jofar.vi0.106

Abstract

Ethyl p-methoxycinnamate (EPMC) is the main compound from the rhizome of kencur (Kaempferia galanga Linn) isolated with a non-polar solvent, n-hexane. Several studies have proven that EPMC has a pharmacological effect as an anti-inflammatory. The purpose of this study was to make a topical formulation of EPMC using microemulgel preparations. The method used in the manufacture of microemulsions is to make a spontaneous microemulsion system and load it into a gel base. The oil phase used is isopropyl myristate, the surfactant used is tween 80, cosurfactant ethanol 96%, gelling agent is carpopol 340, triethanolamine (TEA) as a base and propylene glycol as a humectant. The dose of EPMC used was 200 g/mL. Four microemulgel formulations have been made, namely B1, B2, B3 and B4 with various concentrations of surfactant and cosurfactant. The results showed that the best formula was B3 formula with 5% isopropyl myristate, 40% Tween 80, 10% ethanol 96%, 10% propylene glycol, 1% carbopol, TEA and aquades. The conclusion of this formula is that the use of surfactants and cosurfactants in large quantities makes a transparent appearance and better stability than other formulations.
IMPLEMENTASI PERATURAN PEREDARAN OBAT SECARA DARING PADA MASYARAKAT DI PRAKTIK PELAYANAN KEFARMASIAN APOTEK Kusuma, Deny; Wijoyo, Yosef; Sri Hartini, Yustina
Jurnal Kefarmasian Akfarindo Vol 7 No 1 (2022)
Publisher : Akademi Farmasi Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37089/jofar.vi0.109

Abstract

Saat ini dapat dikatakan bahwa obat termasuk dalam kebutuhan pokok rnasyarakat. Obat bukanlah komoditas sepertihalnya sembako, ada banyak peraturan terkait peredaran obat. BPOM telah rnenerbitkan peraturan Nomor 8 tahun 2020untuk rnengatur dan rnengawasi penjualan obat secara daring dan sudah disosialisasikan. Kemajuan teknologi informasidan perkembangan tingkat pemanfaatan layanan daring untuk mendapatkan obat terutama di masa pandemi Covid-19meningkat. Obat keras harus didistribusikan ke pasien berdasar resep dokter dan disertai informasi edukasi sertapernastian penggunaan yang tepat bagi pasien.Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan pendekatan kualitatif untuk mengkaji implementasi peraturanBPOM Nomor 8 tahun 2020 dalam praktek pelayanan kefarmasian di apotek dalam peredaran obat keras secara daring.Populasi penelitian ini adalah masyarakat yang berkunjung di sarana pelayanan kefarmasian di apotek wilayahKabupaten Sleman Yogyakarta. Pengarnbilan data dilakukan dengan metode observasi dan wawancara. Instrumenberupa panduan wawancara disusun berdasarkan kerangka teori COM-B (Capability, Opportunity, Motivation,Behavior). Responden wawancara adalah masyarakat yang berkunjung di sarana pelayanan kefarmasian di apotek yangmernenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Data kualitatif hasil wawancara dianalisis secara ternatik dengan menggunakanbantuan software NVIVO 11 Plus. Hasil penelitian pada umumnya masyarakat tidak mengetahui adanya regulasi mengenai peredaran obat secara daringdengan mendetail namun paham akan tujuan regulasi. Masyarakat menyatakan kemudahan penggunaan pelayanan obatdaring, walaupun ada kerugian yang mereka rasakan seperti harga lebih mahal serta dapat saja membeli obat yang salah.Masyarakat berkeinginan untuk terus melakukan pembelian secara daring dan keinginan adanya peraturan khusus yanglebih detail mengenai peraturan tersebut. Serta berharap adanya edukai terhadap masyarakat mengenai swamedikasi