cover
Contact Name
Widodo Kushartomo
Contact Email
widodokushartomo@gmail.com
Phone
+628176869150
Journal Mail Official
jmts@untar.ac.id
Editorial Address
Jl. Letjen S. Parman No. 1, Jakarta 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil
ISSN : -     EISSN : 2622545X     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/jmts
Core Subject : Engineering,
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil dikelola oleh Program Studi Sarjana Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara. JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil merupakan media publikasi hasil penelitian dan studi ilmiah dalam bidang Teknik Sipil yang diterbitkan 4 kali dalam setahun, yaitu pada bulan Februari, Mei, Agustus, dan November. Jurnal ini terbit pertama kali pada 1 Agustus 2018.
Articles 861 Documents
ANALISIS ALTERNATIF PERANCANGAN DESAIN DALAM PEMBANGUNAN JALAN DI ATAS TANAH GAMBUT Fendy Hartanto; Chaidir Anwar Makarim
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 3, Nomor 4, November 2020
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v3i4.8384

Abstract

The construction of a new capital city will be carried out in Kalimantan where there is a lot of land covered with peat soils. Peat soils might cause a lot of problems during construction projects, because peat soils usually have a weak shear strength and high permeability. In this case there will be a road construction with width of 12 meters and length of 20 meters on peat soils. To overcome this problem there are some solutions by using piles until it reached its needed bearing capacity or soil replacement will work as well, because not only its increasing its strength but it also prevent peat soils from catching fire since dry peat soils is quite flammable which happens in dry weather. From these methods there are advantages and disadvantages and will be analised which methods is better to be done for this road construction that is on peat soils. Calculations for piles will be done with program PLAXIS 2D to get the total displacements/settements to get the number of piles and dimensions, and for soil replacements will be counted by its soil volume that need to be replaced. The results will be reference to conclude which methods will be most suitable for this case.  Pembangunan ibu kota baru akan dilaksanakan di Kalimantan dimana disana terdapat banyak sekali tanah gambut. Tanah gambut bisa menjadi masalah ketika kita sedang melakukan pembangunan konstruksi karena tanah gambut biasanya memiliki kekuatan geser yang kecil dan permeabilitas yang tinggi. Pada kasus kali ini akan dibangun jalan selebar 12  meter dengan panjang 20 meter yang terdapat tanah gambut dibawahnya. Untuk mengatasi masalah tanah gambut ini bisa diterapkan beberapa metode yaitu dengan memancang di tanah gambut dengan tiang pancang hingga mencapai tanah keras yang berada dibawahnya, soil replacement juga bisa menjadi suatu solusi karena selain membuang tanah gambut itu sendiri yang dimana cukup berbahaya dikarenakan mudah terbakar ketika musim kering, tetapi juga meningkatkan kekuatan dari daya dukung tanah itu sendiri. Dari kedua metode tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing dan akan dianalisis metode apa yang lebih baik dan sesuai dalam membangun konstruksi jalan yang melintasi tanah gambut sepanjang 20 meter. Perhitungan tiang pancang menggunakan program PLAXIS 2D untuk membantu mendapatkan nilai total penurunan dan jumlah tiang dan ukuran yang dibutuhkan dan untuk metode soil replacement akan dihitung volume tanah yang akan dikeruk dan ditimbum Kembali. Hasil pengolahan data dari perhitungan akan menjadi acuan sebagai pembanding metode apa yang sesuai dalam kasus kali ini.
PERANCANGAN TIANG PANCANG DENGAN TAHANAN FRIKSI NEGATIF Vionita Salim; Aksan Kawanda
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 3, Nomor 3, Agustus 2020
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v3i3.8450

Abstract

Development in Jakarta took place the most, but the condition of the land in Jakarta ehich was dominated by sof soil was becoming an obstacle. Landfill is one way that can be done to strengthen or improve soft soil. But if this landfill causes a settlement in soil around the pile is bigger than the settlement in the pile, there will be negative skin friction which will cause the pile to be pulled down. This study aims to analyze and compare the magnitude of the influence of negative skin friction caused by the pile by using the undrained parameter, drained parameter, Meyerhof empirical, and Vesic empirical to analyze the carrying capacity of the pile and determine the neutral plane and negative skin friction with the Fellenius method and Prakash & Sharma methods. From the results of the analysis,negative skin friction does not accur in the pile that ends hard soil while it occurs in soil that ends soft soil. The location of neutral plane between the Fellenius method and Prakash & Sharma is not too different. But piles that experience negative skin friction need to be redesign. Changes in diameter of this pile can reach 2.5 times the initial size. Pembangunan di Jakarta sangat banyak, tetapi kondisi tanah di Jakarta yang didomisasi oleh tanah lunak mnjdi kendala. Timbunan menjadi salah satu cara yang dapt dilakukan untuk memperkuat atau memperbaiki tanah lunak. Tetapi apabila timbunan ini menyebabkan penurunan tanah di sekitar tiang lebih besar daripada penurunan tiang maka akan timbul gesekan antara selimut tiang dengan tanah ke arah bawah yang akan menyebabkan tiang tertarik ke bawah. Gaya geser ke bawah ini dikenal sebagai gesekan selimt negatif. Studi ini bertujuan untuk menganalisis dan membandingkan besarnya pengaruh gesekan selimut negatif akibat timbunan dengan menggunakan metode undrained parameter, drained parameter, empiris Meyerhoff, dan empiris Vesic untuk menganalisis daya dukung tiang serta penentuan titik netral dan friksi negatif dengan metode Fellenius dan Prakash & Sharma. Dari hasil analisis, gesekan selimut negative tidak terjadi di tiang yang berujung tanah keras sedangkan terjadi di tanah pada tanah yang berujung tanah lunak. Letak tiitk netral antara metode Fellenius dan Prakash & Sharma tidak terlalu berbeda. Tetapi tiang yang mengalami friksi negatif perlu didesain ulang ukurannya. Perubahan diameter tiang ini bisa mencapai 2.5 kali dari ukuran awal.
PRODUKTIVITAS PEKERJA DALAM PEKERJAAN PLESTERAN DINDING BATA DENGAN METODE CREW BALANCE CHART Indra Pratama Suharto; Hendrik Sulistio
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 3, Nomor 4, November 2020
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v3i4.8378

Abstract

The productivity of workers is one of the parameters for the success of a project. With the crew balance chart method, every worker's activity in the field will be displayed, and the results of the observations will be optimized. Observations were made on brick wall plastering in Cempaka Baru residential construction project, which consisted of 2 work groups. The results volume of plastering done by the 1st group, the productivity on the first day was 1.195 m2/hour, and the second day was 3.987 m2/hour, where if the worker was in ideal conditions the volume that could be produced was 1.647 m2/hour on the first day and 6.869 m2/hour on day 2. Whereas in the second group the productivity on the first day was 0.451 m2/hour, and on the second day it was 1.812 m2/hour, where if the worker was in ideal conditions the volume that could be produced was 0.643 m2/hour on the first day and 2.489 m2/hour on the second day. The low productivity of workers caused the contractor to suffer a loss of Rp. 339,782.00 on wall plastering work were observed. ABSTRAKProduktivitas pekerja pada proyek konstruksi merupakan salah satu parameter keberhasilan suatu proyek. Dengan metode crew balance chart akan ditampilkan setiap kegiatan pekerja yang dilapangan, dan dari hasil pengamatan tersebut akan dilakukan optimasi, untuk meningkatkan produktivitas pekerja. Pengamatan dilakukan pada pekerjaan plesteran dinding bata pada proyek pembangunan rumah tinggal Cempaka Baru, yang terdiri dari 2 group kerja. Dari hasil volume plesteran yang dikerjakan group ke-1, produktivitas dihari pertama sebesar 1,195 m2/jam, dan dihari ke-2 sebesar 3,987 m2/jam yang dimana bila pekerja dalam kondisi ideal, volume yang dapat dihasilkan sebesar 1,647 m2/jam dihari pertama dan 6,869 m2/jam dihari ke-2. Sedangkan pada group ke-2 produktivitas dihari pertama sebesar 0,451 m2/jam, dan dihari ke-2 sebesar 1,812 m2/jam, yang dimana bila pekerja dalam kondisi ideal volume yang dapat dihasilkan sebesar 0,643 m2/jam dihari pertama dan 2,489 m2/jam dihari ke-2. Rendahnya produktivitas yang dihasilkan pekerja mengakibatkan kontraktor mengalami kerugian sebesar Rp. 339.782,00 pada pekerjaan plesteran dinding yang diamati.
PENGARUH PENAMBAHAN LIMBAH SERBUK GIPSUM SEBAGAI BAHAN PENGGANTI FILLER PADA CAMPURAN ASPHALT CONCRETE-WEARING COURSE Alimatul Hidayah; Sugeng Dwi Hartantyo
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil VOLUME 4, NOMOR 3, AGUSTUS 2021
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v0i0.12554

Abstract

Gypsum waste is waste from the remnants of making gypsum lists that cannot be recycled and reused. In this study, gypsum powder was used as a filler substitute (cement). Where cement and gypsum powder waste contains high enough lime (CaO). The aims of study are to determine how the process of making mixtures Aspal Concrete–Wearing Course (AC–WC) by using gypsum powder waste as filler substitute (cement) and results of the Marshall test, namely stability, VFWA, VMA, VIM, Flow, and MQ by using gypsum powder waste as filler substitute (cement).. The method used in this study is experimental method. Gypsum powder waste variation substitution 7%, 8% and 9%  shown the most ideal value of Marshall Properties are gypsum powder waste at 7% variation with Marshall’s highest parameter are Stability 870.95 Kg, VFWA 88.81%, VMA 19.35%, VIM 4.57%, Flow 3.50 mm and Marshall Quotient (MQ) 252.72 Kg/mm. The result that fulfill the criteria in the 2010 General Specification Divison .ABSTRAKLimbah Gypsum merupakan limbah dari sisa-sisa pembuatan list Gypsum yang tidak bisa di daur ulang dan di manfaatkan kembali. Pada penelitian ini limbah serbuk Gypsum digunakan sebagai bahan pengganti Filler . Dimana semen dan limbah serbuk Gypsum memiliki kandungan kapur (CaO) yang cukup tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana proses pembuatan campuran Aspal Concrete–Wearing Course (AC–WC) dengan menggunakan limbah serbuk Gypsum sebagai bahan pengganti Filler (semen) dan untuk mengetahui hasil pengujian marshall test yaitu stabilitas, VFWA, VMA, VIM, Flow dan MQ dengan menggunkan limbah serbuk Gypsum sebagai bahan pengganti Filler (semen). Metode yang digunakan pada ini adalah menggunakan metode eksperimen. Subtitusi variasi limbah serbuk Gypsum 7%, 8% dan 9% menujukkan nilai Marshall Properties yang paling ideal yaitu limbah serbuk Gypsum pada variasi 7% dengan parameter Marshall yang paling tinggi adalah Stability 870.95 Kg, VFWA 88.81%, VMA 19.35%, VIM 4.57%, Flow 3.50 mm dan Marshall Quotient (MQ) 252.72 Kg/mm. Hasil tersebut memenuhi kriteria dalam Spesifikasi Umum 2010 Divisi 6.
PERENCANAAN PREFABRICATED VERTICAL DRAIN MENGGUNAKAN METODE ELEMEN UNTUK MEMPEROLEH POLA DAN JARAK YANG EFEKTIF Joshua Michael; Aksan Kawanda
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 3, Nomor 3, Agustus 2020
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v3i3.8759

Abstract

As a city develops, less areas will be available for constructions. Out of these available lands, a large quantity of areas has low soil bearing capacity and great amount of settlement. For this type of soil, loading is required in order to stabilize it. This will push out porewater contained inside the soil. However, reaching the expected settlement requires a long time, which can be solved by using prefabricated vertical drain to speed up the process. This is possible because prefabricated vertical drain decreases the travel distance of porewater to half of the vertical drain. Calculations for this thesis are done using one dimensional consolidation method, finite element method, and asaoka method for actual data calculation from the field. Using one dimensional consolidation method, with prefabricated vertical drain distance of 1.2 m in triangular pattern, resulted in settlement level of 2.048 m for 110 days. Using finite element method resulted in settlement level of 2.604 m for 120 days. On the other hand, using asaoka method resulted in settlement level of 1.422 m for 102 days. This difference is caused by lack of depth data from the laboratory.Semakin berkembangnya jaman maka pembangunan semakin banyak sehingga lahan untuk dilakukannya pembangunan semakin sedikit. Sekarang banyak tanah yang memiliki daya dukung kecil dan penurunan yang besar contohnya seperti tanah lunak. Agar tanah model ini dapat memiliki kondisi yang stabil , maka solusinya diberi beban sehingga air pori dari dalam tanah dapat tertekan keluar. Namun untuk mencapai penurunan yang diinginkan membutuhkan waktu yang cukup lama, disini digunakan metode prefabricated vertical drain untuk mempercepat penurunan. Prefabricated vertical drain disini membuat jarak tempuh air pori tanah yang sebelumnya setebal tanah lunak, menjadi setengah jarak antar prefabricated vertical drain. Perhitungan analisa pada skripsi ini menggunakan metode one dimensional consolidation, metode elemen hingga, dan metode asaoka sebagai perhitungan hasil aktual dari data lapangan. Penurunan total menggunakan metode one dimensional consolidation dengan jarak antar prefabricated vertical drain 1.2m dengan pola segitiga sebesar 2.048 m selama 110 hari, sedangkan dari metode elemen hingga didapatkan penurunan sebesar 2.604 m selama 120 hari. Dari data settlement recording yang dihitung menggunakan metode asaoka terjadi penurunan sebesar 1.422 m selama 102 hari. Perbedaan disini disebabkan oleh kurang banyaknya sample kedalaman dari data laboratorium.
PENGARUH ERP TERHADAP PERBAIKAN PELAYANAN WAKTU TUNGGU DAN WAKTU TEMPUH TRANSJAKARTA PADA RUAS JALAN SUDIRMAN-THAMRIN Lorenzo Adiel Giovanni; Najid Najid
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 3, Nomor 4, November 2020
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v3i4.8319

Abstract

Transjakarta is one of the public transportation facility provided by Indonesian government as a solution to decrease traffic problem, now the government plans to implement new traffic rules, Electronic Road Pricing. This study will focus on Jl. Jendral Sudirman and Jl. MH. Thamrin, this road is an access to offices and tourist attractions. To analyze vehicle volume, direct observation method will be used to get the volume, speed and traffic density. Direct observations were made by paying attention to private vehicles and heavy vehicles. With the observation data will get a graph of the relationship between speed and density that will be modified with questionnaire data. Questionnaire data is distributed to get the percentage of Transjakarta waiting time and travel time. It is expected that this analysis can find out the percentage of private vehicle users who will move to Transjakarta after the ERP implemented on the Sudirman and MH Thamrin street.ABSTRAKTransjakarta merupakan salah satu sarana transportasi umum yang diberikan pemerintah Indonesia sebagai solusi mengatasi kepadatan lalu lintas, namun untuk saat ini pemerintah berencana menerapkan aturan lalu lintas baru yaitu jalan berbayar atau Electronic Road Pricing. Pada penelitian ini, dibahas mengenai kondisi lalu lintas Jl. Jendral Sudirman dan Jl. MH. Thamrin, ruas jalan ini merupakan akses pengguna jalan untuk menuju perkantoran dan tempat wisata. Untuk menganalisa volume kendaraan akan digunakan metode observasi langsung untuk mendapatkan volume, kecepatan dan kepadatan lalu lintas. Observasi langsung dilakukan dengan memperhatikan kendaraan bermotor roda empat dan dua, serta kendaraan berat. Dengan data observasi akan didapat grafik hubungan antara kecepatan dan kedapatan yang akan dimodifikasi dengan data kuesioner. Data kuesioner disebar untuk mendapatkan persentase pelayanan waktu tunggu dan waktu tempuh bus Transjakarta, Diharapkan pada analisis ini dapat mengetahui presentase pengguna kendaraan pribadi yang akan beralih ke Transjakarta setelah diberlakukannya ERP di ruas jalan Jendral Sudirman dan MH. Thamrin. 
DESAIN ULANG DAN ANALISIS RESPONS STRUKTURAL PERKERASAN LENTUR PADA JALAN PANTURA RUAS TANGERANG-SERANG Jayadi Putra; Anissa Noor Tajudin
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 4, Nomor 1, Februari 2021
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v0i0.10496

Abstract

The highway is a land lanes on the surface of the earth which is made by humans with various sizes, shapes and types of construction so that they can be used to transport the traffic of people, animals, objects and vehicles that transport goods from one place to another practically and fast. Roads that are continuously used can cause damage. Therefore, roads require maintenance per unit time of year. Pantura is the main road on the island of Java which is better known as the National road I, this road network is parallel to the coastline of the island. Then, this route connects national activities between centers. The purpose of this study is to redesign flexible pavement through three methods, namely the 2002, 2013, and 2017 methods, to analyze the structural response of the pavement, and to analyze the damage that occurs on the pavement. In planning the pavement thickness, an effective and efficient method is needed in order to obtain an economical result. Comparison of calculations for the three methods is used. The structural responses reviewed are vertical strain and horizontal strain which can analyze fatigue damage and rutting damage on flexible pavements. The KENPAVE program also assists in the calculation of flexible pavement design and other parameters.ABSTRAKJalan raya merupakan jalur - jalur tanah di atas permukaan bumi yang dibuat oleh manusia dengan macam-macam ukuran, bentuk dan jenis konstruksinya sehingga dapat digunakan untuk menyalurkan lalu lintas orang, hewan, benda dan kendaraan yang mengangkut barang dari suatu tempat ke tempat lainnya dengan praktis dan cepat. Jalan yang terus menerus dipakai dapat menyebabkan kerusakan oleh sebab itu, jalan memerlukan pemeliharaan setiap per satuan waktu dalam tahun. Pantura merupakan jalan utama di Pulau Jawa yang lebih dikenal dengan jalan Nasional I, jaringan jalan ini sejajar dengan garis pantai pulau lokasi tersebut. Kemudian, jalur ini menghubungkan kegiatan nasional antarpusat. Tujuan dari penelitian ini adalah mendesain ulang perkerasan lentur melalui ketiga metode yaitu metode 2002, 2013, dan 2017, menganalisis respons struktural perkerasan, dan menganalisis kerusakan yang terjadi pada perkerasan. Dalam merencanakan tebal perkerasan jalan diperlukan metode yang efektif dan efisien agar diperoleh hasil yang ekonomis, digunakan perbandingan perhitungan pada ketiga metode tersebut. Respons struktural yang ditinjau adalah regangan vertikal dan regangan horizontal yang dapat menganalisis kerusakan fatik dan kerusakan rutting pada perkerasan lentur. Program KENPAVE juga membantu dalam perhitungan desain perkerasan lentur dan parameter lainnya.
STUDI KASUS KEMIRINGAN GEDUNG 4 LANTAI AKIBAT KEGAGALAN FONDASI DI PANGKAL PINANG Orlando Orlando; Gregorius Sandjaja Sentosa
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil VOLUME 4, NOMOR 3, AGUSTUS 2021
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v0i0.12596

Abstract

Foundation is the lower structure of the building located below the ground that has the function to bear the load of the building. The building has been standing for ± 5 years and the slope of the building is ± 1-20. The authors analyzed soil bearing capacity, settlement and the slope of the building and the possibility of repairing the building for reuse. In 1 pile cap there are 4 bore piles with a depth of 6m-12m, because the pile cap data is not obtained then the size and thickness is assumed and the soil data used is secondary data without lab data derived from soil data in locations adjacent to the building site that is ±100m from the building site. After the analysis, soil bearing capacity is not strong to bear the dead load of the building when using a foundation with a depth of 6m-12m, there is a possibility that the foundation used is not suitable and there is a reduction in the load of the building due to the presence of other buildings that are adjacent to the building in the analysis resulting in a considerable decrease and slope of the building.Fondasi adalah struktur bagian bawah bangunan yang terletak di bawah permukaan tanah yang mempunyai fungsi memikul beban bangunan. Bangunan ini sudah berdiri selama ± 5 tahun dan  kemiringan bangunan sebesar ± 1-20. Penulis menganalisis daya dukung tanah, penurunan tanah dan kemiringan bangunan dan kemungkinan memperbaiki bangunan agar dapat digunakan kembali. Pada 1 pile cap terdapat 4 buah bore pile dengan kedalaman 6m–12m, karena data pile cap  tidak diperoleh maka ukuran dan ketebalannya diasumsikan dan data tanah yang digunakan adalah data sekunder tanpa data lab yang berasal dari data tanah di lokasi berdekatan dengan lokasi bangunan yang berjarak ±100m dari lokasi bangunan. Setelah di analisis, daya dukung tanah tidak kuat untuk menahan beban mati bangunan bila menggunakan fondasi dengan kedalaman 6m–12m dan ada kemungkinan fondasi yang digunakan tidak sesuai dan terjadi reduksi beban bangunan karena adanya bangunan lain yang berdempetan dengan bangunan yang di analisis sehingga mengakibatkan penurunan dan kemiringan bangunan yang cukup besar.
ANALISIS MODEL KEGAGALAN KONSTRUKSI RUMAH TINGGAL 2 LANTAI AKIBAT RANGKAK DI BAWAH LERENG TIMBUNAN Jeffri Ardianto; Chaidir Anwar Makarim
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil VOLUME 4, NOMOR 3, AGUSTUS 2021
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v0i0.12585

Abstract

Construction of houses on slopes certainly has risks that can cause landslides on the slopes. One of the construction projects on slope area experienced a construction failure which caused the destruction of a 2-storey house. It is suspected that the planning of the building did not take into account the optimal rainfall. The author makes a model analysis similar to that case using a shallow foundation. The subgrade in this case is soft soil from rice fields which is then backfilled with silty clay. The soft soil beneath this embankment experiences creep, where the soil continues to move slowly even without a load. The author analyzes the settlement due to creep manually. The author also analyzes the safety factor of slope stability due to rising ground water levels. Based on the calculation results, the settlement was obtained at 14,8456 cm which is almost close to the maximum settlement limit of 15 cm. While the safety factor obtained from the application of the equilibrium limit before the rain is 1,311 but after experiencing a 5 m increase in ground water the safety factor is 1,032 which is less than 1,25.Keywords: creep, settlement, shallow foundation, slope stabilityPembangunan rumah di daerah lereng tentu memiliki risiko yang dapat menyebabkan kelongsoran pada daerah lereng. Salah satu proyek pembangunan pada suatu daerah lereng mengalami kegagalan konstruksi yang menyebabkan hancurnya rumah tinggal 2 lantai. Diduga dalam perencanaan bangunan tidak memperhitungkan curah hujan optimal. Penulis membuat analisis model yang mirip dengan kasus tersebut dengan menggunakan fondasi dangkal. Tanah dasar pada kasus ini adalah tanah lunak bekas persawahan yang kemudian di timbun dengan tanah lempung kelanauan. Tanah lunak di bawah tanah timbunan ini mengalami rangkak yang dimana tanah terus bergerak secara lambat walaupun tanpa adanya beban. Penulis menganalisis penurunan akibat dari rangkak secara manual. Penulis juga menganalisis faktor keamanan kestabilan lereng akibat dari naiknya muka air tanah. Berdasarkan hasil perhitungan, penurunan total terbesar diperoleh sebesar 14,8456 cm yang hampir mendekati batas penurunan maksimum 15 cm. Sedangkan faktor keamanan yang diperoleh dari aplikasi kesetimbangan batas sebelum hujan sebesar 1,311 tetapi setelah mengalami kenaikan muka air tanah 5 m faktor keamanannya sebesar 1,187 yang dimana faktor keamanan kurang dari 1,25.Kata kunci: rangkak, penurunan tanah, fondasi dangkal, kestabilan lereng
ANALISIS PENAMPANG FONDASI TIANG PANCANG PADA TEPI TANAH REKLAMASI Rendy Rendy; Aniek Prihatiningsih
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil VOLUME 4, NOMOR 3, AGUSTUS 2021
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v0i0.11056

Abstract

Indonesia is a country with 4th largest population in the world. With that huge amount of population, the land capacity on the mainland is becoming more limited day by day, on the other hand, the unused land on the coast is still not utilized properly. The solution of that problem is by doing reclamation on the coast. Reclamation is an activity to increase the usability of land resources in the eye of the environmental side, social and economy by doing dropping, land drying, or drainage. Usually, the material for dropping reclamation is using cohesive soil. In this research, we will talk about driven pile foundation on reclamation land. Bearing capacity and concrete volume that would be used from every driven pile shape would be compared by paying attention from scouring effect that can decrease the bearing capacity of the pile. In this study, we will show the best driven pile shape that can be used on reclamation land.Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terbanyak ke empat di dunia. Dengan banyaknya penduduk di Indonesia mengakibatkan lahan di daratan semakin terbatas, sedangkan lahan di sekitar pinggir pantai masih banyak yang belum dimanfaatkan dengan baik. Solusi dari permasalahan keterbatasan lahan di daratan tersebut adalah dengan melakukan reklamasi pada daerah pinggir pantai. Reklamasi adalah sebuah kegiatan yang dilakukan dalam rangka meningkatkan manfaat sumber daya lahan yang ditinjau dari sudut lingkungan, sosial dan ekonomi, dengan melalui pengurugan, pengeringan lahan atau drainase. Pada umumnya material untuk pengurugan reklamasi adalah menggunakan tanah kohesif. Pada penulisan ini akan dibahas penggunaan fondasi tiang pancang pada tanah reklamasi. Daya dukung dan volume beton yang digunakan dari setiap bentuk tiang pancang tersebut akan dibandingkan dengan memperhatikan efek scouring yang dapat mengurangi daya dukung pada tiang. Sehingga hasil studi ini akan menunjukan bentuk tiang pancang manakah yang paling cocok digunakan pada tanah reklamasi.