cover
Contact Name
Widodo Kushartomo
Contact Email
widodokushartomo@gmail.com
Phone
+628176869150
Journal Mail Official
jmts@untar.ac.id
Editorial Address
Jl. Letjen S. Parman No. 1, Jakarta 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil
ISSN : -     EISSN : 2622545X     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/jmts
Core Subject : Engineering,
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil dikelola oleh Program Studi Sarjana Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara. JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil merupakan media publikasi hasil penelitian dan studi ilmiah dalam bidang Teknik Sipil yang diterbitkan 4 kali dalam setahun, yaitu pada bulan Februari, Mei, Agustus, dan November. Jurnal ini terbit pertama kali pada 1 Agustus 2018.
Articles 861 Documents
ANALISIS MODEL KEGAGALAN RUMAH 2 LANTAI AKIBAT NEGATIVE SKIN FRICTION DAN CURAH HUJAN YANG TINGGI Jeanfrie Chandra; Chaidir Anwar Makarim
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil VOLUME 4, NOMOR 3, AGUSTUS 2021
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v0i0.12613

Abstract

ABSTRACTOne of the problems that appear in a project is the presence of soft soil. In projects with soft soil types, it is necessary to manage the soil to increase the bearing capacity of soil. Soil subsidence on soft soil causes friction between the soil and the pile blanket, called the negative skin friction. Negative skin friction should not be neglected because it exerts a large enough force on the load that the pile must support. In addition, in designing an engineer must also pay attention to the optimal rainfall that will occur during the construction of a project and after that has an impact on the quality of the soil and foundation used. The topography of a project also needs to be considered, building a house on the edge of a slope can cause problems with slope instability. Increasing the load on the edge of the slope can reduce the safety factor of a slope. In this study, a modeling analysis will be carried out on a 2-story residential building that causes the house to collapse due to failure of the foundation design, the existence of negative frictional resistance on soft soil, and slope stability. ABSTRAKSalah satu permasalahan yang muncul pada suatu proyek adalah adanya tanah lunak. Pada proyek dengan jenis tanah lunak, perlu dilakukan perbaikan tanah untuk meningkatkan daya dukung tanah. Penurunan tanah pada tanah lunak menyebabkan gesekan antara tanah denan selimut tiang yang disebut fenomena tahanan friksi negatif. Tahanan friksi negatif tidak boleh diabaikan karena memberikan gaya yang cukup besar terhadap beban yang harus ditopang oleh tiang. Oleh karena itu, seorang insinyur harus memperhatikan dan mengetahui mengenai perilaku tanah lunak. Selain itu dalam mendesain, seorang insinyur juga harus memperhatikan mengenai curah hujan optimal yang akan terjadi selama pengerjaan suatu proyek dan setelahnya yang berdampak pada kualitas tanah dan fondasi yang digunakan. Topografi suatu proyek juga perlu diperhatikan, membangun rumah di tepi lereng dapat menyebabkan permasalahan pada ketidakstabilan lereng.  
ANALISIS PERBANDINGAN KINERJA PROYEK SEBELUM DAN SETELAH COVID-19 DI SUMATERA SELATAN (STUDI KASUS PADA PT. SINAR BRAJA MUKTI) Andreas Ronaldo; Hendrik Sulistio
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil VOLUME 4, NOMOR 3, AGUSTUS 2021
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v0i0.12408

Abstract

Pandemi covid-19 telah masuk Indonesia sejak maret 2020 dan tentunya menyebabkan dampak yang sangat besar pada berbagai sektor khususnya konstruksi. Pemerintah telah menerapkan berbagai aturan seperti PSBB, PSBB Transisi, PSBB jilid 2, PPKM mikro dan makro. Serta berbagai aturan lain dalam kehidupan sehari-hari untuk mencegah penyebaran covid. Namun tentunya perekonomian harus tetap berjalan. Sehingga untuk dapat mengetahui besarnya dampak dari covid-19 ini dilakukan perbandingan penjadwalan dengan menggunakan metode probabilistik seperti menggunakan metode monte carlo. Daerah yang dijadikan sasaran untuk penelitian kali ini di sumatera selatan. Pada penelitian ini dilakukan menggunakan simulasi monte carlo yang mana memerlukan durasi optimis, pesimis, dan most likely pada setiap proyek. Proyek yang digunakan adalah 2 proyek yang berlangsung di daerah yang sama dengan kondisi yang berbeda. Yaitu sebelum dan setelah covid-19. Proyek pertama yaitu pembangunan Gedung Arsip (sebelum covid-19) dan Proyek kedua yaitu pembangunan Gedung Laboratorium (setelah covid-19). Simulasi monte carlo ini menggunakan software crystall ball dan distribusi yang digunakan adalah distribusi triangular. setelah dilakukan simulasi, akan dilakukan Analisa perbandingan antara durasi pesimis, optimis, most likely,  durasi simulasi, dan durasi yang terjadi dari ke-2 proyek. Hasil yang didapat pada proyek Gedung Arsip (sebelum covid-19) yaitu: durasi optimis 18 minggu, durasi pesimis 39 minggu, durasi most likely 24 minggu, hasil simulasi 28 minggu, dan pelaksanaan 26 minggu. Pada proyek Gedung Laboratorium (setelah covid-19) didapat hasil yaitu, durasi optimis 18 minggu, pesimis 44 minggu, most likely 25 minggu, hasil simulasi 28 minggu, dan pelaksanaan 28 minggu. Hasil pelaksanaan dari ke-2 proyek berada diantara durasi pesimis dan optimis.
STUDI FONDASI TIANG BOR UNTUK JEMBATAN DI LAUT Arvin Arvin; Aniek Prihatiningsih
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil VOLUME 4, NOMOR 3, AGUSTUS 2021
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v0i0.11062

Abstract

Structurally, the bridge is separated into the upperstructure, and substructure such as foundation. According to its function, the foundation of the bridge supports and transmits the load from the superstructure to a strong and stable layer of soil. The construction of a bridge at sea has a high level of difficulty and risk. There are forces that influence the foundation at sea. The greater the loads that are held by the foundation, the greater the bearing capacity required for the foundation. The foundation used the bored pile casing method. The concept of a bored pile foundation casing method itself uses a steel casing pipe that is installed to a specified depth. This method is used when the borehole is very prone to landslides, so it is very suitable to be applied to soil which is sand below the groundwater level or at sea. In this paper, we will discuss the bearing capacity of the bored pile foundation and the loads that affect the bearing capacity of the foundation. Bearing capacity includes axial and lateral bearing capacity. So the results of this study will show how much effective bearing capacity must be considered when creating a foundation for bridges at sea.Secara struktural jembatan dipisahkan menjadi struktur atas, dan struktur bagian bawah seperti fondasi. Sesuai fungsinya, fondasi jembatan menopang dan meneruskan beban dari bangunan atas jembatan ke lapisan tanah yang kuat dan stabil/solid. Pembangunan jembatan panjang di tengah laut memiliki tingkat kesulitan dan resiko tinggi. Terdapat gaya-gaya yang mempengaruhi fondasi yang dibuat di laut. Semakin besar beban-beban yang ditahan fondasi maka semakin besar pula daya dukung yang dibutuhkan fondasi. Fondasi yang dipakai adalah fondasi tiang bor dengan metode casing. Konsep dari fondasi tiang bor metode casing sendiri menggunakan pipa selubung baja (casing) yang diinstall sampai kedalaman yang ditentukan. Metode ini digunakan bila lubang bor sangat mudah longsor, sehingga sangat cocok untuk diaplikasikan pada tanah yang merupakan pasir di bawah muka air tanah atau di laut. Pada penulisan ini akan dibahas mengenai daya dukung fondasi tiang bor dan beban-beban yang mempengaruhi daya dukung fondasi tersebut. Daya dukung mencakup daya dukung aksial dan lateral. Sehingga hasil studi ini akan menunjukan seberapa besar daya dukung efektif yang harus dipertimbangkan pada saat ingin membuat fondasi untuk jembatan di laut.
IDENTIFIKASI FAKTOR PENYEBAB COST OVERRUN (PEMBENGKAKAN BIAYA) PADA PROYEK RUMAH TINGGAL Jason Christopher; Mega Waty
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil VOLUME 4, NOMOR 3, AGUSTUS 2021
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v0i0.12502

Abstract

ABSTRACTThe advancement of the construction sector has made the complexity of a project increase in line with the increasing demands on construction engineers to complete a project on time, in accordance with cost, and prioritize quality. From that statement, a cost overrun problem shows in the process of running the project. Several techniques have been espoused by innovative organizational and managerial practices to reduce the risk of cost overrun from the construction project, but cost overrun in project construction remain as a one of the problem. This study aims to identify the factors that cause cost overrun in residential projects. The process of data collection was carried out using a questionnaire as the instrument. The data from the questionnaire is primary data that will be processed with the help of IBM SPSS 25 software. The identification of the factors causing the cost overrun using the relative important index (RII) method to determine the level of importance of each variable. The results of this study indicate that the project data and information are incomplete (when aanwijzing) and the erroneous estimation of material costs and wages are the main factors causing cost overrun with an RII value ≥ 0,9. ABSTRAK  Majunya sektor pekerjaan konstruksi membuat kompleksitas suatu proyek semakin meningkat sejalan dengan meningkatnya tuntutan kepada pelaku konstruksi untuk menyelesaikan proyek secara tepat waktu, sesuai dengan biaya, dan mengendepankan kualitas. Dari tuntutan tersebut, timbul suatu masalah cost overrun (pembengkakan biaya) dalam proses berjalannya proyek. Berbagai upaya telah dilakukan oleh berbagai organisasi mandiri dan praktisi manajemen untuk mengurangi risiko dari adanya cost overrun (pembengkakan biaya) pada suatu proyek, namun masalah cost overrun tetap menjadi salah satu problema dalam proyek konstruksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor penyebab terjadinya cost overrun (pembengkakan biaya) pada proyek rumah tinggal. Proses pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner sebagai instrumennya. Data dari kuesioner tersebut merupakan data primer yang akan diolah dengan bantuan software IBM SPSS 25. Pengidentifikasian faktor-faktor penyebab terjadinya cost overrun menggunakan metode relative importance index (RII) untuk menentukan tingkat kepentingan setiap variabel. Hasil dari penelitian ini menunjukaan bahwa data dan informasi proyek kurang lengkap (saat aanwijzing) dan perencanaan estimasi biaya material dan upah yang keliru menjadi faktor paling utama penyebab cost overrun dengan nilai RII ≥ 0,9.
ANALISIS PERBANDINGAN JENIS DINDING PENAHAN TANAH PADA TANAH GAMBUT David Thomson; Aniek Prihatiningsih
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil VOLUME 4, NOMOR 3, AGUSTUS 2021
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v0i0.12615

Abstract

Kalimantan is one of the 3 islands in Indonesia which has the largest peatlands. Moreover, in 2019 the President of the Republic of Indonesia Ir. H. Joko Widodo inaugurated the move of Indonesia's capital city from DKI Jakarta to East Kalimantan. The development of supporting infrastructure for the Capital City will inevitably occur, so that construction on peatlands cannot be avoided. The characteristics of peatlands as well as the impacts and risks that will occur when working on peatlands need to be considered. In this thesis, we will discuss the types of retaining walls that are most effective when applied to peatlands. Types of retaining walls that will be compared include gravity retaining walls, sheet sheet-type retaining walls, and soldier piles. The analysis will be carried out on the lateral stresses that occur and the collapse in each type of retaining wall. Coulumb soil pressure theory and Rankine soil lateral pressure theory are also used to support this analysis. Theoretically, solid or gap-free retaining walls are likely to be effective when applied to peat soils. This is due to the nature of peat soil which has high water and organic content. The depth of excavation on peat soil is calculated as deep as 9 meters. The deflection that occurs in the diaphragm wall is 0.354 m, the secant pile is 0.751 m, the concrete sheet pile is 1.09 m and the steel sheet pile is 2.73 m. Kalimantan adalah salah satu dari 3 pulau di Indonesia yang memiliki lahan gambut terluas. Terlebih lagi pada tahun 2019 Presiden Republik Indonesia Ir. H. Joko Widodo meresmikan perpindahan Ibukota Indonesia dari DKI Jakarta ke Kalimantan Timur. Pembangunan infrastruktur – infrastruktur pendukung Ibukota pasti akan terjadi, sehingga kontruksi pada lahan gambut tidak akan dapat terhindarkan. Sifat-sifat dari lahan gambut maupun dampak dan resiko yang akan terjadi pada saat melakukan pekerjaan di lahan gambut perlu dipertimbangkan. Pada skripsi ini akan membahas tentang jenis dinding penahan tanah yang paling efektif ketika diaplikasikan ke lahan gambut. Jenis dinding penahan tanah yang akan dibandingkan antara lain dinding penahan gravitasi, dinding penahan tanah tipe turap, dan soldier pile. Analisa akan dilakukan pada tekanan lateral yang terjadi dan keruntuhan pada tiap jenis dinding penahan tanah. Teori tekanan tanah Coulumb dan teori tekanan lateral tanah Rankine dipakai juga untuk mendukung analisis ini. Secara teoritis, dinding penahan tanah yang solid atau yang tidak mempunyai celah yang berkemungkinan akan efektif ketika diaplikasikan pada tanah gambut. Hal ini dikarenakan sifat tanah gambut yang mempunyai kadar air dan organik yang tinggi. Kedalaman galian pada tanah gambut yang diperhitungkan sedalam 9 meter. Defleksi yang terjadi pada diaphragm wall adalah sebesar 0,354 m, pada secant pile sebesar 0,751 m, pada turap beton sebesar 1,09 m dan pada turap baja sebesar 2,73 m.
PENGGUNAAN LIMBAH SERBUK BESI SEBAGAI CAMPURAN AGREGAT HALUS PADA ASPHALT CONCRETE-WEARING COURSE (AC-WC) Umma Chintya Devi; Nur Azizah Affandy
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil VOLUME 4, NOMOR 3, AGUSTUS 2021
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v0i0.11851

Abstract

As time goes by, roads are easily damaged due to the large number of transportation that passes. For this reason, the development of new findings is continuously being made to improve the strength of the road layers. In this study, iron powder waste was used because from a physical perspective, iron powder is very similar to fine aggregate. In this study, iron powder waste was used as an additive for fine aggregate with a content of 0%, 4%, 4.5%, 5% by weight of fine aggregate. The purpose of this study was to determine the effect of iron powder waste on Marshall Properties parameters. This study uses the Marshall Properties test method consisting of stability (kg), VIM (%), VMA (%), VFA (%), Flow and Marshall Quotien. For the best results from the comparison of asphalt with 0% content and asphalt with added ingredients, namely stability 0% yield 997 kg and 4% yield 788 kg, Flow 0% yield 3.17 mm and 4% yield 3.33 mm, VMA 0% yield 17.29% and 4% yield 15.84%, VIM 0% yield 4.14% and 4% yield 2.46%, VFA 0% yield 74.97% and 5% yield 88.76% and MQ 0% yields of 309.31 kg / mm and 5% yields of 246.80 kg / mm. From here it can be seen that the level of 4% more shows the best results and meets the standards. ABSTRAKSeiring berkembangnya jaman, jalan mudah sekali mengalami kerusakan karena banyaknya transportasi yang melintas. Untuk itu, pengembangan temuan baru terus dilakukan untuk memperbaiki kekuatan lapisan jalan. Dalam penelitian ini digunakan limbah serbuk besi karena dari segi fisik, serbuk besi sangat mirip dengan agregat halus. Dalam penelitian ini, limbah serbuk besi digunakan untuk bahan tambah agregat halus dengan kadar 0%, 4%, 4.5%, 5% dari berat agregat halus. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dari limbah serbuk besi terhadap parameter Marshall Properties. Penelitian ini menggunakan metode pengujian Marshall Properties yang terdiri dari Stabilitas (kg), VIM (%), VMA (%), VFA (%), Flow dan Marshall Quotien. Untuk hasil terbaik dari perbandingan aspal dengan kadar 0% dan aspal dengan bahan tambah yaitu stabilitas 0% hasil 997 kg dan 4% hasil 788 kg, Flow 0% hasil 3,17 mm dan 4% hasil   3,33 mm, VMA 0% hasil 17,29% dan 4% hasil 15,84%, VIM 0% hasil 4,14% dan 4% hasil 2,46%, VFA 0% hasil 74,97% dan 5% hasil 88,76% dan MQ 0% hasil 309,31 kg/mm dan 5% hasil 246,80 kg/mm. Dari sini dapat dilihat kadar 4% lebih banyak menunjukan hasil terbaik dan hampir memenuhi standart.
PERBANDINGAN DEFORMASI DINDING PADA BASEMENT METODE TOP-DOWN DENGAN ANALISIS CONSTRUCTION STAGE DAN ANALISIS KONVENSIONAL Raynaldi Raynaldi; Alfred Jonathan Susilo
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil VOLUME 4, NOMOR 3, AGUSTUS 2021
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v0i0.10532

Abstract

ABSTRACT In basement construction with the top-down approach, excavation and slab installation work are carried out in stages. However, not all geotechnical applications can simulate construction stages, hence this effect has been ignored by many engineers in practice. Therefore, in this study, the effect of basement construction stages is analyzed using MIDAS GTS NX. In the program, two different analyses are performed. The first analysis is the construction stage analysis that simulates construction stages. As a comparison, a conventional analysis is performed which doesn't simulate construction stages. The two analysis results are compared. This analysis focuses mainly on the wall deformation. The modeling consists of 5 excavation stages (17 meters deep) and a diaphragm wall (36 meters deep). The walls are given 5 layers of slab reinforcements. In the first excavation stage, the maximum wall deformation results in both analyses show slightly different results (the construction stage analysis result is 8% greater than that of conventional analysis). However, in the final excavation stage, a significant difference is shown (the construction stage analysis result is 37% greater than that of conventional analysis). These results indicate that the effect of construction stages should not be neglected, especially in multi-story basements with top-down construction.ABSTRAK Pada konstruksi basement dengan metode top-down, pekerjaan penggalian dan pemasangan pelat dilakukan secara bertahap. Namun, tidak semua aplikasi geoteknik dapat mensimulasikan tahapan konstruksi sehingga pengaruhnya sering diabaikan oleh banyak insinyur dalam praktiknya. Maka, pada penelitian ini dilakukan analisis pengaruh tahapan konstruksi basement menggunakan aplikasi MIDAS GTS NX. Pada program, akan dilakukan dua analisis yang berbeda. Pertama, dilakukan analisis construction stage yang mensimulasikan tahapan konstruksi. Sebagai perbandingan, dilakukan analisis konvensional yang tidak mensimulasikan tahapan konstruksi. Kedua hasil analisis dibandingkan. Analisis ini lebih berfokus pada deformasi yang terjadi pada dinding diafragma. Pemodelan terdiri dari 5 tahap galian dengan kedalaman 17 meter dan dinding diafragma dengan kedalaman 36 meter. Dinding diberi perkuatan pelat sebanyak 5 lapis. Pada galian tahap pertama, hasil deformasi maksimum dinding pada kedua analisis menunjukkan hasil yang tidak jauh berbeda (hasil analisis construction stage lebih besar 8% dibandingkan hasil analisis konvensional). Tetapi pada galian tahap akhir, hasil deformasi maksimum dinding pada kedua analisis menunjukkan perbedaan signifikan (hasil analisis construction stage lebih besar 37% dibandingkan hasil analisis konvensional). Hasil ini menunjukkan bahwa pengaruh tahapan konstruksi sebaiknya tidak diabaikan khususnya pada basement bertingkat banyak dengan metode top-down.
ANALISIS PENGARUH METODE PERBAIKAN TANAH VACUUM PRELOADING TERHADAP STRUKTUR ABUTMENT DI SEKITARNYA Steven Djunawan; Andryan Suhendra
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil VOLUME 4, NOMOR 3, AGUSTUS 2021
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v0i0.12568

Abstract

Soft soil in Indonesia is problematic in infrastructure development because of its low bearing capacity and takes a long time to consolidate. In general, the method used to overcome soft soil is vacuum preloading combined with prefabricated vertical drain, PVD. The purpose of the initial loading is to consolidate the soft soil layer with a load equal to or greater than the soil load during and after construction. Meanwhile, vertical can support the consolidation process. However, this method can also cause lateral movement which also affects the area outside the repair. Thus, it is necessary to model the influence distance analysis from the circumference of the repair area outside the repair. Analysis and modeling using 2D finite program elements that will be compared with results in field. The results of the comparison of the settlement for 260 days shows a different chart pattern but a corresponding final settlement. The modeling shows that the largest influence distance due to the lateral movement is cell 2, which is 11,23mTanah lunak di Indonesia menjadi problematika pada pembangunan infrastruktur dikarenakan daya dukung yang rendah serta memakan waktu penurunan konsolidasi yang lama. Pada umumnya, perbaikan tanah yang digunakan untuk mengatasi tanah lunak adalah vacuum preloading yang dikombinasikan dengan prefabricated vertical drain, PVD. Tujuan pembebanan awal adalah untuk mengkonsolidasikan lapisan tanah lunak dengan beban sama atau lebih besar dari beban tanah selama dan setelah konstruksi. Sementara drainase vertikal dapat mempercepat proses konsolidasi. Namun, metode ini juga dapat penyebabkan pergerakan lateral yang juga mempengaruhi area diluar perbaikan. Sehingga, dibutuhkan pemodelan analisis jarak pengaruh dari keliling daerah perbaikan ke daerah luar perbaikan. Analisis dan pemodelan menggunakan program elemen hingga 2D yang akan dibandingkan dengan hasil lapangan. Hasil perbandingan penurunan selama 260 hari menunjukan pola grafik yang berbeda namun penurunan akhir yang sesuai. Pemodelan menunjukan jarak pengaruh terbesar akibat pergerakan lateral berada pada cell 2 yaitu 11,23m.
Analisis Faktor Pengaruh Dominan Perancangan Penerapan Model Rencana Insentif Pada Material Sisa Triongko Agatha Bayuaji; Basuki Anondho
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil VOLUME 4, NOMOR 3, AGUSTUS 2021
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v0i0.12374

Abstract

ABSTRACTThe incentive is an additional compensation given in monetary or non-monetary form so that the parties involved in a job try their best to complete their work properly without reducing the quality of work. The purpose of this study is to find out what dominant factors need to be considered in implementing an incentive plan and to find out whether this incentive plan model affects the residual material. This research was conducted by processing primary data in the form of a Likert scale questionnaire. A Likert scale of 1-5 is used to measure the level of influence of an identified factor on the incentive plan. In the process, this research uses the Factor Analysis Method with a significance level of 5% and is assisted by the application of Statistics Product and Service Solutions (SPSS) or a statistical package for social sciences to test and calculate data. Based on the research results obtained 3 dominant factors that need to be considered in the implementation of the incentive plan, in the research interview some experts agreed and disagreed with this incentive plan model for the reduction of waste material based on several considerations.ABSTRAKInsentif adalah suatu kompensasi tambahan yang diberikan dalam bentuk moneter atau nonmoneter supaya pihak-pihak yang terlibat dalam suatu pekerjaan berusaha semaksimal mungkin dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan baik tanpa mengurangi kualitas kerja. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor dominan apa saja yang perlu dipertimbangkan dalam menerapkan rencana insentif dan mengetahui apakah model rencana insentif ini mempengaruhi material sisa. Penelitian ini dilakukan dengan mengolah data primer berupa angket skala likert. Skala likert 1-5 digunakan untuk mengukur tingkat pengaruh suatu faktor yang diidetifikasi terhadap rencana insentif. Dalam pengerjaannya, penelitian ini menggunakan Metode Analisis Faktor dengan taraf signifikansi 5% dan dibantu dengan aplikasi Statistics Product and Service Solutions (SPSS) atau paket statistik untuk ilmu sosial untuk menguji dan menghitung data. Berdasarkan hasil penelitian didapat 3 faktor dominan yang perlu diperhatikan dalam penerapan rencana insentif, dalam wawancara penelitian terdapat ahli yang setuju dan tidak setuju dengan model rencana insentif ini untuk pengurangan material sisa berdasarkan beberapa pertimbangan.Insentif adalah suatu kompensasi tambahan yang diberikan dalam bentuk moneter atau nonmoneter supaya pihak-pihak yang terlibat dalam suatu pekerjaan berusaha semaksimal mungkin dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan baik tanpa mengurangi kualitas kerja. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor dominan apa saja yang perlu dipertimbangkan dalam menerapkan rencana insentif dan mengetahui apakah model rencana insentif ini mempengaruhi material sisa. Penelitian ini dilakukan dengan mengolah data primer berupa angket skala likert. Skala likert 1-5 digunakan untuk mengukur tingkat pengaruh suatu faktor yang diidetifikasi terhadap rencana insentif. Dalam pengerjaannya, penelitian ini menggunakan Metode Analisis Faktor dengan taraf signifikansi 5% dan dibantu dengan aplikasi Statistics Product and Service Solutions (SPSS) atau paket statistik untuk ilmu sosial untuk menguji dan menghitung data. Berdasarkan hasil penelitian didapat 3 faktor dominan yang perlu diperhatikan dalam penerapan rencana insentif, dalam wawancara penelitian terdapat ahli yang setuju dan tidak setuju dengan model rencana insentif ini untuk pengurangan material sisa berdasarkan beberapa pertimbangan.
Analisis Kekuatan Sambungan Tiang Pancang Beton Terhadap Gaya Tarik, Lateral, Dan Momen Pada Tanah Kohesif Kevin Trianto Chiarli; Alfred Jonathan Susilo
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil VOLUME 4, NOMOR 3, AGUSTUS 2021
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v0i0.10545

Abstract

With the growth of occupation and technological developments, the shape of the building has also changed over time. Changes in the shape of the building bring the need for strength to certain styles and changing moments. Therefore, the foundation as the lower part of the structure as well as the support for the building must be able to withstand the forces that occur. Precast pile foundation is one type of deep foundation that is commonly used today. However, because the foundation is casted outside the field, there is a length limit on the foundation due to transportation, and so on. The foundation connection is a means of unifying precast piles to achieve the desired piling depth. Planning of pile foundation joints is necessary because some types of joints have a reduction in strength that allows failure of the foundation structure. The selection of the right type of connection can result in an efficiency of the needs at a cost. Therefore, the step of determining the type of precast pile connection should be emphasized more to the project development parties. Dengan adanya pertumbuhan pendudukan dan perkembangan teknologi, bentuk bangunan dari waktu ke waktu juga mengikuti perubahan yang terjadi. Perubahan bentuk bangunan tersebut membawa kebutuhan kekuatan terhadap gaya dan momen tertentu berubah. Maka dari itu, fondasi sebagai struktur bagian bawah sekaligus penopang bangunan harus mampu menahan gaya-gaya yang terjadi. Fondasi tiang pancang pracetak merupakan salah satu jenis fondasi dalam yang umum digunakan sekarang ini. Namun, dikarenakan fondasi cetak terlebih dahulu di luar lapangan, terdapat batasan panjang pada fondasi tersebut akibat dari segi transportasi, dan sebagainya. Sambungan fondasi merupakan sarana pemersatu tiang pancang pracetak untuk mencapai kedalaman pemancangan yang diinginkan. Perencanaan sambungan fondasi tiang pancang diperlukan karena beberapa jenis sambungan memiliki reduksi kekuatan yang memungkinkan terjadinya kegagalan pada struktur fondasi. Pemilihan jenis sambungan yang tepat dapat menghasilkan suatu efisiensi terhadap kebutuhan dengan biaya yang dikeluarkan. Maka dari itu, langkah penentuan pemilihan jenis sambungan tiang pancang pracetak harus lebih ditekankan kepada para pihak pembangunan proyek.