cover
Contact Name
Widodo Kushartomo
Contact Email
widodokushartomo@gmail.com
Phone
+628176869150
Journal Mail Official
jmts@untar.ac.id
Editorial Address
Jl. Letjen S. Parman No. 1, Jakarta 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil
ISSN : -     EISSN : 2622545X     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/jmts
Core Subject : Engineering,
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil dikelola oleh Program Studi Sarjana Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara. JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil merupakan media publikasi hasil penelitian dan studi ilmiah dalam bidang Teknik Sipil yang diterbitkan 4 kali dalam setahun, yaitu pada bulan Februari, Mei, Agustus, dan November. Jurnal ini terbit pertama kali pada 1 Agustus 2018.
Articles 922 Documents
PENGARUH SERAT BAJA TERHADAP TEGANGAN SISA SCC PASCA PEMBAKARAN Philipus Hermawan; Widodo Kushartomo; Louis Sutomo Limbo
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 9, Nomor 2, Mei 2026
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v9i2.37378

Abstract

High-rise building infrastructure requires high-strength Self-Compacting Concrete (SCC). This material supports Sustainable Development Goal (SDG) 11 to create safe and disaster-resilient cities. However, a 600°C temperature triggers concrete strength degradation due to chemical decomposition and aggregate expansion. This study evaluates the effect of 3D hooked-end steel fibers (aspect ratio 65, length 35 mm) at 0%, 0.5%, 1%, and 1.5% variations on concrete workability and post-fire residual strength. The research uses a laboratory experimental method. Test specimens include 100x200 mm cylinders and 100x100x400 mm beams. Researchers cured the samples in water for 28 days before mechanical testing. Researchers then heated the samples at 600°C for 2 hours. Test results show the 1.5% fiber addition decreased slump flow from 670 mm to 595 mm. At normal temperature, compressive strength increased from 40.58 MPa (0%) to 47.77 MPa (1.5%). Flexural strength rose from 5.83 MPa (0%) to 9.50 MPa (1.5%). After the 600°C fire exposure, the concrete degraded. Residual compressive strength dropped to 44.46% (0%) and 59.41% (1.5%). Residual flexural strength dropped to 18.64% (0%) and 62.40% (1.5%). Adding steel fibers to SCC minimizes the negative impacts of high-temperature exposure compared to unreinforced SCC. Abstrak Infrastruktur gedung tinggi membutuhkan Self-Compacting Concrete (SCC) mutu tinggi, sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) 11 untuk mewujudkan kota tahan bencana. Namun, suhu 600°C memicu degradasi kekuatan beton akibat dekomposisi kimia dan pemuaian agregat. Penelitian ini mengevaluasi pengaruh serat baja hooked-end 3D (rasio 65, panjang 35 mm) dengan variasi 0%, 0,5%, 1%, dan 1,5% terhadap workabilitas dan kekuatan sisa beton pascabakar. Metode penelitian menggunakan eksperimen laboratorium. Benda uji terdiri dari silinder (100x200 mm) dan balok (100x100x400 mm). Sampel dirawat di dalam air selama 28 hari sebelum pengujian mekanis. Sampel lalu dibakar pada suhu 600°C dan ditahan selama 2 jam. Hasil uji menunjukkan penambahan serat 1,5% menurunkan slump flow dari 670 mm menjadi 595 mm. Pada suhu normal, terjadi peningkatan kuat tekan dari 40,58 MPa (kadar 0%) menjadi 47,77 MPa (kadar 1,5%). Kuat lentur naik dari 5,83 MPa (kadar 0%) menjadi 9,50 MPa (kadar 1,5%). Pasca pembakaran 600°C, beton mengalami degradasi mutu. Kuat tekan sisa SCC turun menjadi 44,46% (kadar 0%) dan 59,41% (kadar 1,5%). Kuat lentur sisa turun menjadi 18,64% (kadar 0%) dan 62,40% (kadar 1,5%). Penambahan serat baja pada SCC dapat meminimalisir dampak negatif yang disebabkan oleh paparan suhu tinggi daripada SCC yang tidak berpenguat serat baja.
ANALISIS PENGARUH VARIASI KONFIGURASI BRACING TERHADAP KINERJA STRUKTUR MENGGUNAKAN ANALISIS PUSHOVER Irvan Andrian Susanto; Arif Sandjaya; Sunarjo Leman
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 9, Nomor 2, Mei 2026
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v9i2.37379

Abstract

The selection of bracing configurations in multi-story steel structures is a critical factor in determining the seismic performance of buildings in earthquake-prone regions such as Indonesia. The use of bracing is an effective alternative to improve stiffness and reduce displacement caused by earthquake loads, while also contributing to the achievement of Sustainable Development Goals (SDGs) point 9 related to resilient infrastructure. This study examines the effect of bracing configuration variations on the structural performance of a 10-story steel building through pushover analysis. The building model has a 30 m × 30 m floor plan with 6 m column spacing and was analyzed using MIDAS Gen. The compared configurations include diagonal, X, and inverted-V bracing. The applied loads refer to SNI 1727:2020 and SNI 1726:2019, with the building location assumed to be in Jakarta on site class SE. Structural performance was evaluated through capacity curves, performance points, displacement, and performance levels using the CSM and DCM methods. The results show that X-bracing provides the best performance by producing smaller displacement and higher lateral stiffness. In contrast, diagonal bracing shows the lowest performance with the largest displacement and higher local damage levels compared to the other configurations. Abstrak Pemilihan konfigurasi bracing pada struktur baja bertingkat merupakan faktor kritis dalam menentukan kinerja seismik bangunan di wilayah rawan gempa seperti Indonesia. Penggunaan bracing menjadi salah satu alternatif efektif untuk meningkatkan kekakuan dan mengurangi simpangan akibat beban gempa, sekaligus berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin 9 terkait ketahanan infrastruktur. Penelitian ini membahas pengaruh variasi konfigurasi bracing terhadap kinerja struktur gedung baja 10 lantai melalui analisis pushover. Model bangunan memiliki denah 30 m × 30 m dengan jarak antar kolom 6 m dan dianalisis menggunakan MIDAS Gen. Konfigurasi yang dibandingkan meliputi bracing diagonal, bracing X, dan bracing inverted-V. Beban yang digunakan mengacu pada SNI 1727:2020 dan SNI 1726:2019, dengan lokasi bangunan diasumsikan di Jakarta pada kelas situs SE. Penilaian kinerja dilakukan melalui kurva kapasitas, titik kinerja, simpangan, dan level kinerja struktur menggunakan metode CSM dan DCM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konfigurasi bracing berpengaruh signifikan terhadap respons struktur. Bracing X memberikan kinerja terbaik karena menghasilkan simpangan yang lebih kecil dan kekakuan lateral yang lebih besar. Sebaliknya, bracing diagonal menunjukkan kinerja paling rendah dengan nilai simpangan terbesar dan tingkat kerusakan lokal yang lebih tinggi dibandingkan konfigurasi lainnya.
ANALISIS SIMULASI NUMERIK KOLOM PENAMPANG KURVA DENGAN CFRP MENGGUNAKAN MIDAS FEA NX Jonathan Michael Gunawan; Sunarjo Leman
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 9, Nomor 2, Mei 2026
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v9i2.37385

Abstract

This study aims to analyze the behavior of Curvilinearized Rectangular Reinforced Concrete Columns (CRC) strengthened with Carbon Fiber Reinforced Polymer (CFRP) under axial compression using the Finite Element Method (FEM). The curvilinearized cross-section was adopted to enhance the confinement effectiveness of CFRP without significantly increasing the cross-sectional dimensions. Numerical modeling was conducted using MIDAS FEA NX, considering the nonlinear behavior of concrete, reinforcing steel, and CFRP, as well as the interaction between concrete and CFRP to realistically simulate the confinement mechanism. The numerical model was validated against experimental results based on stress–strain responses, ultimate compressive strength, ultimate strain, and failure modes. The validation results showed good agreement with the experimental data, with a maximum difference of 9.43%, confirming that the numerical model is suitable for further analysis. A parametric study was then performed by varying the rise-to-span (r/s) ratio and the number of CFRP layers from two to three and four layers. The results indicate that increasing the CFRP thickness from two to three layers improved the average axial capacity by 13%, while four layers increased the capacity by 23% compared with the initial condition. Specimen R2Lr65C15 exhibited the highest axial capacity of 11,168.5 kN, whereas the three-layer CFRP configuration provided the most efficient solution by achieving significant strength enhancement with lower material consumption. This study supports the Sustainable Development Goals (SDGs), particularly SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure) and SDG 11 (Sustainable Cities and Communities), by contributing to the development of durable, efficient, and sustainable structural strengthening techniques. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perilaku kolom beton bertulang berpenampang Curvilinearized Rectangular Column (CRC) yang diperkuat menggunakan Carbon Fiber Reinforced Polymer (CFRP) terhadap beban aksial tekan menggunakan metode elemen hingga. Metode penampang kurva diterapkan untuk meningkatkan efektivitas confinement CFRP tanpa menambah dimensi penampang secara signifikan. Pemodelan numerik dilakukan menggunakan MIDAS FEA NX dengan mempertimbangkan perilaku nonlinier beton, baja tulangan, dan CFRP serta interaksi antara beton dan CFRP untuk merepresentasikan mekanisme confinement secara realistis. Model numerik divalidasi berdasarkan kurva tegangan–regangan, kuat tekan ultimit, regangan ultimit, dan pola keruntuhan terhadap hasil pengujian laboratorium. Hasil validasi menunjukkan kesesuaian yang baik dengan data eksperimen, dengan perbedaan maksimum sebesar 9,43%, sehingga model dinyatakan valid untuk analisis lanjutan. Studi parametrik dilakukan dengan memvariasikan rasio rise-to-span (r/s) dan ketebalan CFRP menjadi dua, tiga, dan empat lapis. Hasil analisis menunjukkan bahwa peningkatan ketebalan CFRP dari dua menjadi tiga lapis meningkatkan kapasitas aksial rata-rata sebesar 13%, sedangkan empat lapis meningkatkan kapasitas sebesar 23% dibandingkan kondisi awal. Spesimen R2Lr65C15 menghasilkan kapasitas aksial tertinggi sebesar 11168,5 kN, sedangkan konfigurasi CFRP tiga lapis merupakan alternatif paling efektif dan efisien karena memberikan peningkatan kapasitas yang signifikan dengan penggunaan material yang lebih ekonomis. Penelitian ini mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure) dan SDG 11 (Sustainable Cities and Communities), melalui pengembangan metode perkuatan struktur yang mampu meningkatkan ketahanan dan umur layanan infrastruktur secara efisien dan berkelanjutan.
Redaksi Vol. 9 No. 2 Arif Sandjaya
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 9, Nomor 2, Mei 2026
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kata Pengantar Vol. 9 No. 2 Arif Sandjaya
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 9, Nomor 2, Mei 2026
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Daftar Isi Vol. 9 No. 2 Arif Sandjaya
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 9, Nomor 2, Mei 2026
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

IDENTIFIKASI DISPERSIVITAS TANAH TERHADAP VARIASI KADAR AIR DAN PEMADATAN MELALUI UJI PINHOLE Ali Iskandar; Aniek Prihatiningsih; Joan Nathasya Tuhumury
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 9, Nomor 2, Mei 2026
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v9i2.34220

Abstract

This study evaluates the dispersive characteristics of fine-grained soils from Serpong and Cikarang using the pinhole test based on ASTM D4647. Soil specimens were compacted at three moisture conditions: OMC – 5%, OMC, and OMC + 5%. Dispersivity was classified based on flow clarity, flow rate, and final hole diameter. All samples were categorized as non-dispersive 2 (ND2), indicating resistance to internal erosion despite moisture variation. Variations in flow rate and final hole diameter suggest that moisture content influences the hydraulic response of the soil, although not significantly enough to alter its classification. Minor inconsistencies in final hole diameter were observed under certain conditions, possibly due to heterogeneity in soil properties or variability during specimen preparation. These findings emphasize the importance of supporting visual assessments with additional measurements. Further research using quantitative methods, such as the double hydrometer test, is recommended to better evaluate the dispersive potential of fine particles in non-dispersive soils. Abstrak Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi sifat dispersi tanah dengan menggunakan uji pinhole yang berdasarkan ASTM D 4647. Sampel diambil dari dua lokasi, yaitu Serpong dan Cikarang. Pengujian dilakukan dengan memadatkan sampel pada 3 kadar air berbeda, yaitu OMC-5%, OMC, dan OMC+5%. Klasifikasi dilakukan berdasarkan hasil kejernihan air, debit aliran, dan diameter akhir lubang pada sampel. Hasil menunjukkan seluruh sampel tergolong Non-Dispersive 2 (ND2), menandakan ketahanan terhadap dispersi internal meskipun terdapat variasai kadar air. Variasi debit dan diameter lubang menunjukkan bahwa kadar air memengaruhi respons aliran, namun tidak cukup besar untuk mengubah klasifikasi dispersi. Terdapat perbedaan pada diameter lubang di beberapa kondisi yang mengarah pada kemungkinan adanya heterogenitas tanah atau variasi saat pemadatan. Hasil ini menegaskan pentingnya mendukung pengamatan visual dengan data tambahan. Oleh karena itu disimpulkan bahwa hasil penelitian ini memerlukan penelitian lanjutan. Penelitian lanjutan yang disarankan adalah uji hidrometer ganda yang mana menggunakan metode kuantitatif. Hasil uji hidrometer ganda diharapkan dapat memberikan data pendukung untuk menilai kecenderungan dispersi partikel halus secara lebih akurat.
STUDI EVALUASI PENGARUH PERKUATAN STRUKTUR MENGGUNAKAN FIBER REINFORCED POLYMER (FRP) PADA KINERJA SEISMIK GEDUNG 20 LANTAI Baruna Bagus Triana; Roesdiman Soegiarso
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 9, Nomor 2, Mei 2026
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v9i2.34578

Abstract

There are buildings that have been standing for a long time and do not meet the latest earthquake-resistant building requirements. Therefore, strengthening the existing structure is necessary. One such method is by adding fiber reinforced polymer (FRP). In this study, an evaluation of the existing moment-resisting concrete frame building was conducted using linear and non-linear methods. After that, FRP reinforcement was carried out to determine the performance level of the existing building using the performance-based seismic design (PBSD) method. The results showed that the deviation of the existing structure exceeded the limit and there was a performance level that fell into the collapse category. The capacity of the structure after being reinforced showed a significant increase. The beam's flexural capacity, which was originally 430.5 kN-m, increased so that it was able to carry an ultimate moment of 651.24 kN-m in the field and 636.62 kN-m at the support. The beam's shear capacity also increased from 196 kN in the field and 323 kN at the support to 569 kN in the field and 561 kN at the support. The column's shear capacity also increased from 109.63 kN to 571.29 kN. The number of plastic hinges that collapsed also decreased and the ductility ratio increased. This means that FRP can improve the strength and seismic performance of the structure. Abstrak Terdapat bangunan yang sudah berdiri untuk waktu yang lama dan tidak memenuhi persyaratan bangunan tahan gempa terbaru. Oleh karena itu, diperlukan perkuatan struktur eksisting. Salah satu cara tersebut adalah dengan menambahkan fiber reinforced  polymer (FRP). Pada penelitian ini, dilakukan evaluasi bangunan eksisting rangka beton pemikul momen menggunakan metode linier dan non-linier. Setelah itu, dilakukan perkuatan dengan FRP untuk mengetahui tingkat performa pada bangunan eksisting dengan metode performance-based seismic design (PBSD). Hasil memperlihatkan simpangan struktur eksisting melewati batas dan terdapat tingkat kinerja yang masuk kategori collapse. Kapasitas struktur setelah diberikan perkuatan menunjukkan peningkatan signifikan. Kapasitas lentur balok yang semula 430,5 kN-m, mengalami peningkatan sehingga mampu memikul momen ultimite sebesar 651,24 kN-m pada lapangan dan 636,62 kN-m pada tumpuan. Kapasitas geser balok tersebut juga meningkat dari yang sebelumnya sebesar 196 kN pada lapangan dan 323 kN pada tumpuan menjadi mampu memikul beban geser sebesar 569 kN pada lapangan dan 561 kN pada tumpuan. Kapasitas geser kolom juga meningkat dari 109,63 kN hingga mampu memikul beban geser sebesar 571,29 kN. Jumlah sendi plastis yang mengalami collapse juga mengalami penurunan dan rasio daktilitas meningkat. Hal tersebut berarti FRP dapat meningkatkan kekuatan dan performa seismik dari struktur.
PENGARUH VARIASI DIAMETER DAN KEDALAMAN TERHADAP KINERJA PONDASI JEMBATAN GUNUNG BENTANG PADALARANG Anna Dewi; Hendry; Irwan Nuryana Ferryana
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 9, Nomor 2, Mei 2026
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v9i2.36784

Abstract

The geotechnical conditions in Padalarang are dominated by high-plasticity silt soil with low bearing capacity, posing a major challenge in bridge foundation design. This study evaluates the performance of bored pile foundations through axial capacity analysis, lateral capacity analysis, and group pile behavior based on variations in pile diameter and depth. Research methods include field geotechnical data collection, axial capacity calculations using the Reese, Wright, and Mayerhoff methods, lateral capacity analysis using LPile software, and group pile modeling using GroupPile software. Results indicate that increasing pile depth significantly improves axial capacity, lateral resistance, and group efficiency. Based on internal force and deflection criteria, the minimum safe configuration for the 50-meter Gunung Bentang Bridge is a 2×3 bored pile group with a diameter of 80 cm and depth of 7 meters. Group pile analysis confirms the presence of group effects influencing load distribution and reducing individual pile capacity. Overall, bored pile foundations with optimal dimensions provide sufficient stability under local soil conditions while meeting structural safety standards. These findings serve as a reference for designing bridge foundations in areas with comparable soil characteristics. Abstrak Kondisi geoteknik di Padalarang didominasi oleh tanah lanau karakteristik plastisitas tinggi dan daya dukung rendah menjadi permasalahan utama dalam perencanaan struktur jembatan. Oleh sebab itu, penentuan dimensi dan konfigurasi yang optimal menjadi faktor utama untuk menjamin keamanan struktur jembatan. Penelitian ini mengevaluasi kinerja pondasi tiang bor melalui analisis kapasitas aksial, kapasitas lateral, dan pengaruh kelompok tiang berdasarkan variasi diameter dan kedalaman pondasi. Metode penelitian meliputi pengumpulan data geoteknik lapangan, perhitungan kapasitas tiang tunggal menggunakan metode Reese, Wright, dan Mayerhoff, kapasitas lateral menggunakan program LPile, serta analisis kelompok tiang menggunakan program Group Pile. Hasil analisis menunjukkan bahwa peningkatan kedalaman tiang berkontribusi signifikan terhadap peningkatan kapasitas aksial, lateral, dan efisiensi kelompok tiang. Berdasarkan hasil gaya dalam dan defleksi, konfigurasi minimum yang memenuhi persyaratan untuk mendukung Jembatan Gunung Bentang Padalarang sepanjang 50 meter adalah pondasi tiang bor 2×3 berdiameter 80 cm dengan kedalaman 7 meter. Pemodelan kelompok tiang juga mengonfirmasi adanya pengaruh efek grup yang memengaruhi distribusi beban dan kapasitas efektif pondasi. Secara keseluruhan, pondasi tiang bor dengan diameter dan kedalaman optimal mampu memberikan stabilitas yang memadai terhadap kondisi tanah setempat sekaligus memenuhi persyaratan keamanan struktur jembatan. Temuan ini dapat menjadi acuan dalam desain pondasi jembatan serupa di wilayah dengan karakteristik tanah sejenis.
PROPERTI MEKANIS, DURABILITAS, DAN MIKROSTRUKTUR BETON STRUKTURAL DENGAN LIMBAH TAILING SEBAGAI PENGGANTI SEBAGIAN AGREGAT HALUS Rhestyka Zahra Kharisma; Herry Suryadi Djayaprabha
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 9, Nomor 2, Mei 2026
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v9i2.36798

Abstract

The utilization of mining tailings as construction materials offers a potential solution to reduce environmental impacts caused by waste accumulation and decrease the consumption of natural sand. This research aims to determine the most effective substitution level of tailings as a partial replacement for fine aggregate within the range of 0% to 45% and to examine the correlation between dimensional stability and mechanical properties. Concrete mixtures were designed using the volumetric method with a constant water-cement ratio (w/c) of 0.35. The results indicate that the substitution of 45% tailings produced the optimal mechanical performance, with a compressive strength of 40 MPa at 28 days, reflecting a 15% increase compared to the control concrete. This improvement is supported by an Ultrasonic Pulse Velocity (UPV) value of 4.8 km/s, which indicates a denser and more durable structure. In terms of dimensional stability, the 45% tailing variation effectively reduced drying shrinkage to -180.00 με at 56 days, significantly lower than the control concrete, which reached -492.00 με. Regarding durability, all variations showed chloride permeability values exceeding 4000 Coulombs, which are categorized as high permeability according to ASTM C1202 standards. The high values observed are attributed to the influence of conductive metals (e.g., Fe, Cu) in the tailings, rather than just physical porosity. Therefore, a 45% tailing substitution is recommended for applications prioritizing strength and volume stability. Abstrak Pemanfaatan limbah tailing pertambangan sebagai material konstruksi menawarkan solusi potensial untuk mengurangi dampak lingkungan akibat penumpukan limbah serta menekan konsumsi pasir alam. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kadar substitusi tailing sebagai pengganti agregat halus yang paling efektif dalam rentang variasi 0% hingga 45%, serta meninjau hubungan antara stabilitas dimensi dengan properti mekanis beton. Campuran beton dirancang menggunakan metode volumetrik dengan rasio air-semen (w/c) tetap sebesar 0,35. Hasil penelitian menunjukkan bahwa substitusi tailing sebesar 45% menghasilkan kinerja mekanis optimal dengan kuat tekan mencapai 40 MPa pada umur 28 hari, atau meningkat sebesar 15% dibandingkan beton kontrol. Peningkatan kepadatan ini dikonfirmasi oleh nilai Ultrasonic Pulse Velocity (UPV) yang mencapai 4,8 km/s, yang menunjukkan struktur beton yang lebih padat dan tahan lama. Dalam hal stabilitas dimensi, variasi 45% tailing terbukti efektif mereduksi regangan susut menjadi -180,00 με pada umur 56 hari, jauh lebih rendah dibandingkan beton kontrol yang mencapai -492,00 με. Pada pengujian durabilitas, seluruh variasi menunjukkan nilai permeabilitas klorida di atas 4.000 Coulomb, yang dikategorikan sebagai permeabilitas tinggi berdasarkan standar ASTM C1202. Tingginya nilai ini disebabkan oleh pengaruh konduktivitas logam (misalnya Fe, Cu) pada tailing, bukan hanya akibat porositas fisik. Secara keseluruhan, substitusi tailing 45% direkomendasikan untuk aplikasi yang mengutamakan kekuatan dan stabilitas dimensi.