cover
Contact Name
Widodo Kushartomo
Contact Email
widodokushartomo@gmail.com
Phone
+628176869150
Journal Mail Official
jmts@untar.ac.id
Editorial Address
Jl. Letjen S. Parman No. 1, Jakarta 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil
ISSN : -     EISSN : 2622545X     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/jmts
Core Subject : Engineering,
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil dikelola oleh Program Studi Sarjana Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara. JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil merupakan media publikasi hasil penelitian dan studi ilmiah dalam bidang Teknik Sipil yang diterbitkan 4 kali dalam setahun, yaitu pada bulan Februari, Mei, Agustus, dan November. Jurnal ini terbit pertama kali pada 1 Agustus 2018.
Articles 922 Documents
DURABILITAS BETON DENGAN SUBSTITUSI FLY ASH DAN GGBFS TERHADAP SERANGAN SULFAT MELALUI SIKLUS BASAH–KERING Irene Vista Simanjuntak
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 9, Nomor 2, Mei 2026
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v9i2.36964

Abstract

This study investigates the performance of mortar containing 5% fly ash and 10% Ground Granulated Blast Furnace Slag (GGBFS) under wet–dry cycles in a sulfate environment. Sulfate attack combined with repeated wet–dry exposure can accelerate mortar deterioration due to sulfate ion penetration and salt crystallization. Ordinary mortar was used as a control mixture. Mortar cube specimens (5 × 5 × 5 cm) were prepared according to ASTM C109/C109M and cured for 28 days. The specimens were then immersed in a 5% Na₂SO₄ solution and subjected to 40 wet–dry cycles based on the principles of ASTM C1012/C1012M and ASTM D559/D559M. Each cycle consisted of 24 h of immersion and 24 h of oven drying at 55 °C. Compressive strength, mass loss, and surface condition were evaluated. The results showed that mortar containing fly ash and GGBFS achieved higher compressive strength, lower mass loss, and less surface deterioration than ordinary mortar. The incorporation of fly ash and GGBFS improved the mortar microstructure, reduced porosity, and enhanced resistance to sulfate attack under wet–dry cycling conditions. Abstrak Penelitian ini bertujuan mengkaji kinerja mortar dengan substitusi 5% fly ash dan 10% Ground Granulated Blast Furnace Slag (GGBFS) yang mengalami siklus basah–kering dalam lingkungan sulfat. Kombinasi serangan sulfat dan siklus basah–kering dapat mempercepat degradasi mortar akibat penetrasi ion sulfat dan proses kristalisasi garam yang berulang. Mortar normal digunakan sebagai campuran pembanding. Benda uji berupa kubus mortar berukuran 5 × 5 × 5 cm dibuat sesuai ASTM C109/C109M dan dirawat selama 28 hari. Selanjutnya, benda uji direndam dalam larutan Na₂SO₄ 5% dan dikenai 40 siklus basah–kering yang mengacu pada prinsip ASTM C1012/C1012M dan ASTM D559/D559M. Setiap siklus terdiri atas perendaman selama 24 jam dan pengeringan pada suhu 55 °C selama 24 jam. Parameter yang dianalisis meliputi kuat tekan, kehilangan massa, dan kondisi visual permukaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mortar dengan substitusi fly ash dan GGBFS memiliki kuat tekan lebih tinggi serta penurunan kekuatan yang lebih kecil dibandingkan mortar normal. Selain itu, mortar modifikasi menunjukkan kehilangan massa dan tingkat kerusakan permukaan yang lebih rendah. Penggunaan fly ash dan GGBFS terbukti mampu memperbaiki mikrostruktur mortar, menurunkan porositas, dan meningkatkan ketahanan terhadap serangan sulfat pada kondisi siklus basah–kering.
ANALISIS KARAKTERISTIK MEKANIK DAN HIDROLIK BETON BERPORI DENGAN SUBSTITUSI LIMBAH GRANIT DAN PENAMBAHAN METAL SWARF Kholis Hapsari Pratiwi; Oktavia Kurnianingsih; Akhillah Kurniasari; Cindy Aulia Santoso; Desh Azira Rossanti
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 9, Nomor 2, Mei 2026
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v9i2.37049

Abstract

Pervious concrete is an innovative construction material that allows water to infiltrate directly into the ground, supporting natural drainage systems and enhancing environmental sustainability in urban areas. Granite waste is utilized as a partial substitute for coarse aggregate to improve concrete efficiency while reducing the environmental impact of marble industry waste. Metal swarf is added as an innovative reinforcing material to enhance compressive strength and durability by improving load distribution and reducing crack propagation potential. This study evaluates the influence of varying cement content (467 kg/m³ and 600 kg/m³) on the compressive strength and permeability of pervious concrete, using a 30% substitution of granite waste as coarse aggregate and the addition of metal swarf (7.5%–13%) with lengths ranging from 0 to 5 cm. The research was conducted experimentally in the laboratory without the use of fine aggregates, with a target compressive strength of 17 MPa and a slump of 0 cm. Results showed that the optimal compressive strength was achieved with a higher cement volume of 600 kg/m³, reaching 17.41 MPa at 28 days (sample BI12). The highest permeability, 0.37 cm/s, was found in BI6 (467 kg/m³ cement and 13% metal swarf), while the lowest, 0.20 cm/s, occurred in BI9 (600 kg/m³ cement and 9.5% metal swarf). It can be concluded that variations in the proportion of cement and metal swarf significantly affect the performance of pervious concrete. A balanced material composition is essential to optimize its properties. This concrete is suitable for light infrastructure applications such as residential roads, paving blocks, parking areas, green open spaces, and sports fields. Abstrak Beton berpori merupakan material konstruksi inovatif yang memungkinkan air meresap langsung ke dalam tanah, mendukung sistem drainase alami dan keberlanjutan lingkungan di kawasan urban. Limbah granit dimanfaatkan sebagai substitusi agregat kasar untuk meningkatkan efisiensi beton sekaligus mengurangi dampak lingkungan dari limbah industri marmer. Sementara itu, bubutan besi (metal swarf) ditambahkan sebagai bahan inovatif untuk meningkatkan kuat tekan dan ketahanan beton dengan memperbaiki distribusi beban serta mengurangi potensi keretakan. Penelitian ini mengevaluasi pengaruh variasi jumlah semen (467 kg/m³ dan 600 kg/m³) terhadap kuat tekan dan permeabilitas beton berpori, dengan substitusi 30% limbah granit dan tambahan bubutan besi (metal swarf) sebesar 7,5%–13% (panjang 0–5 cm). Penelitian dilakukan secara eksperimental di laboratorium tanpa agregat halus, dengan target kuat tekan 17 MPa dan slump 0 cm. Hasil menunjukan bahwa kuat tekan optimal beton diperoleh pada campuran dengan volume semen yang lebih tinggi, yaitu 600 kg/m³ 17,41 MPa (BI12) pada umur 28 hari. Permeabilitas tertinggi sebesar 0,37 cm/detik diperoleh pada BI6 (semen 467 kg/m³ dan 13% bubutan besi), dan terendah 0,20 cm/detik pada BI9 (semen 600 kg/m³ dan 9,5% bubutan besi). Hal ini dapat disimpulkan bahwa variasi proporsi semen dan bubutan besi berpengaruh signifikan terhadap beton berpori. Keseimbangan komposisi material penting untuk mengoptimalkan performa beton berpori. Beton ini sesuai untuk infrastruktur ringan seperti jalan lingkungan, paving block, area parkir, ruang terbuka hijau (RTH), dan lapangan olahraga.
ANALISIS PENGARUH LINTANG TERHADAP EVAPOTRANSPIRASI BERDASARKAN DATA KLIMATOLOGI DI PALU DAN SLEMAN Agung Purwanto; Frandi Sibuan; David S.V.L Bangguna; Jhonson Andar Harianja
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 9, Nomor 2, Mei 2026
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v9i2.37090

Abstract

Indonesia is a tropical country located near the equator, receiving high solar radiation intensity throughout the year. This condition leads to variations in climatic elements among regions, which may influence the magnitude of evapotranspiration. This study aims to analyze the effect of distance from the equator on evapotranspiration values in Palu City (Central Sulawesi) and Sleman Regency (Special Region of Yogyakarta). The data used in this study consisted of secondary climatological data, including air temperature, relative humidity, wind speed, and solar radiation. Evapotranspiration was calculated using the Penman–Monteith, Linacre & Hobbs, Kohler & Parmele, Priestley & Taylor, Stewart & Rouse, and Camargo methods. Among these six empirical methods, the results obtained using the Priestley & Taylor (1972) method were the closest to the evaporation pan observations recorded at the BMKG stations in Palu and Sleman. The results indicate that during the periods of January–June and August–December, evapotranspiration values in Palu were generally higher than those in Sleman. This finding suggests that regions located closer to the equator tend to experience higher evapotranspiration rates. However, in July, evapotranspiration in Sleman was higher than in Palu. This condition occurred because rainfall in Palu was higher during July, resulting in lower air temperatures compared to Sleman. Abstrak Indonesia merupakan negara tropis yang terletak di sekitar garis khatulistiwa sehingga menerima intensitas radiasi matahari yang tinggi sepanjang tahun. Kondisi ini menyebabkan variasi unsur iklim antar wilayah yang berpotensi memengaruhi besarnya evapotranspirasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh jarak dari garis khatulistiwa terhadap nilai evapotranspirasi di Kota Palu (Sulawesi Tengah) dan Kabupaten Sleman (Daerah Istimewa Yogyakarta). Data yang digunakan dalam penelitian yaitu data klimatologi sekunder meliputi suhu udara, kelembapan relatif, kecepatan angin, dan radiasi matahari, Perhitungan evapotranspirasi dilakukan menggunakan metode Penman–Monteith, Linacre & Hoobs, Kohler & Parmele, Priestley & Taylor, Stewart & Rouse, dan Camargo. Dari keenam metode empiris tersebut, hasil metode Priestley & Taylor (1972) lebih mendekati hasil panci penguapan stasiun BMKG Palu dan Sleman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada periode Januari–Juni serta Agustus–Desember, nilai evapotranspirasi di Palu umumnya lebih tinggi dibandingkan Sleman. Hal ini mengindikasikan bahwa wilayah yang lebih dekat dengan garis khatulistiwa cenderung memiliki tingkat evapotranspirasi yang lebih besar. Tetap pada bulan Juli, nilai evapotranspirasi di Sleman lebih tinggi dibandingkan Palu, kondisi ini terjadi karena pada bulan Juli curah hujan di Palu lebih tinggi sehingga suhu udara menjadi lebih rendah dibandingkan Sleman.
PERBANDINGAN PERILAKU TIPE SAMBUNGAN BALOK-KOLOM BEEP & BSEEP DENGAN METODE ELEMEN HINGGA Dawami Burhan Sidqi; Budi Suswanto; Aniendhita Rizki Amalia
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 9, Nomor 2, Mei 2026
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v9i2.37092

Abstract

Experience from major earthquakes such as the Northridge (1994) and Kobe (1995) events has shown that many structural failures were caused by inadequate steel connection design that is important to build resilient infrastructure. Attention to improving the performance of steel connections continues to develop, including the use of Bolted Stiffened Extended End-Plate (BSEEP) and Bolted Extended End-Plate (BEEP) connections. This study aims to conduct a comparative investigation on the effect of stiffeners in BSEEP and BEEP connections using a non-linear finite element simulation approach with geometry validation and material parameters referring to previous experimental data. The study focuses on the moment–rotation relationship, flexural capacity at a rotation of 0.04 radians, and energy dissipation capacity. The analysis results show that WFP 8E has a flexural capacity 12.38% greater than BEEP 8E, while BSEEP 8ES has a flexural capacity 2.88% greater than BEEP 8E. In addition, WFP 4E has a flexural capacity 10.64% greater than BEEP 4E, while BSEEP 4ES has a flexural capacity 3.36% greater than BEEP 4E at a rotation of 0.04 radians. These results indicate that stiffeners parallel to the beam flange provide a greater influence on flexural capacity than stiffeners perpendicular to the beam flange. Abstrak Pengalaman dari gempa besar seperti Gempa Northridge (1994) dan Gempa Kobe (1995) menunjukkan bahwa kegagalan struktur disebabkan oleh desain sambungan baja yang tidak memadai, sehingga perancangan sambungan baja yang baik menjadi sangat penting untuk membangun infrastruktur yang tangguh. Perhatian terhadap peningkatan performa sambungan baja terus berkembang, termasuk penggunaan tipe sambungan Bolted Stiffened Extended End-Plate (BSEEP) dan Bolted Extended End-Plate (BEEP). Penelitian ini bertujuan untuk melakukan kajian komparatif terhadap pengaruh stiffner pada sambungan dengan menggunakan pendekatan simulasi numerik berbasis metode elemen hingga non-linier dengan validasi geometri dan parameter material mengacu pada data eksperimen terdahulu. Fokus kajian mencakup hubungan antara momen dan rotasi, kapasitas sambungan saat terjadi rotasi 0,04 radian, serta kemampuan sambungan dalam menyerap energi disipasi. Hasil analisis menunjukkan WFP 8E memiliki kapasitas lentur 12,38% lebih besar dari BEEP 8E dan model BSEEP 8ES memiliki kapasitas lentur 2,88% lebih besar dari BEEP 8E saat rotasi 0,04 radian, sedangkan WFP 4E memiliki kapasitas lentur 10,64% lebih besar  dari BEEP 4E dan model BSEEP 4ES memiliki kapasitas lentur 3,36% lebih besar dari BEEP 4E saat rotasi 0,04 radian. Hal ini menunjukkan bahwa penambahan stiffner sejajar dengan sayap balok lebih berpengaruh terhadap kapasitas lentur dibandingkan dengan penambahan stiffner tegak lurus terhadap sayap balok.
EVALUASI KINERJA EARNED SCHEDULE DAN EARNED DURATION MANAGEMENT PADA MANAJEMEN WAKTU PROYEK JALAN DAN JEMBATAN Bethari Leonita Imanen; Onnyxiforus Gondokusumo
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 9, Nomor 2, Mei 2026
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v9i2.37143

Abstract

Time control is one of the key aspects of construction project management to ensure that work is completed according to plan. This study aims to analyze project time performance using the Earned Schedule (ES) and Earned Duration Management (EDM) methods, as well as to evaluate the accuracy of both methods in predicting project completion duration. The ES method measures time performance through a value-based approach converted into time units, while EDM uses a duration-based approach. The research subjects consist of two projects: a road project and a bridge project. The analysis was conducted by comparing the prediction results with actual conditions using the Mean Absolute Percentage Error (MAPE) parameter. The results show that for the bridge project, the ES method yielded MAPE values of 11.93% and 15.52%, while EDM yielded 13.82% and 13.56%. In the road project, the ES method yielded MAPE values of 20.72% and 13.39%, while EDM yielded 42.21%. In the context of this study, the accuracy levels of the two methods varied across the projects analyzed. Therefore, the interpretation of the results must take into account the characteristics and progress data of the research subjects. Abstrak Pengendalian waktu merupakan salah satu aspek penting dalam manajemen proyek konstruksi untuk memastikan penyelesaian pekerjaan sesuai dengan rencana. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kinerja waktu proyek menggunakan metode Earned Schedule (ES) dan Earned Duration Management (EDM), serta mengevaluasi tingkat akurasi kedua metode dalam memprediksi durasi penyelesaian proyek. Metode ES mengukur kinerja waktu melalui pendekatan berbasis nilai yang dikonversi ke satuan waktu, sedangkan EDM menggunakan pendekatan berbasis durasi. Objek penelitian terdiri dari dua proyek, yaitu proyek jalan dan proyek jembatan. Analisis dilakukan dengan membandingkan hasil prediksi terhadap kondisi aktual menggunakan parameter Mean Absolute Percentage Error (MAPE). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada proyek jembatan, metode ES menghasilkan nilai MAPE sebesar 11,93% dan 15,52%, sedangkan EDM sebesar 13,82% dan 13,56%. Metode ES pada proyek jalan menghasilkan nilai MAPE sebesar 20,72% dan 13,39%, sedangkan metode EDM menghasilkan nilai MAPE sebesar 42,21%. Berdasarkan konteks penelitian ini, tingkat akurasi kedua metode menunjukkan perbedaan pada masing-masing proyek yang dianalisis. Dengan demikian, interpretasi hasil perlu mempertimbangkan karakteristik dan data progres dari objek penelitian yang digunakan.
EVALUASI DAN OPTIMALISASI PENDEKATAN ANALISIS PUSHOVER PADA STRUKTUR BANGUNAN Handjoyo Soesanto; Roesdiman Soegiarso
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 9, Nomor 2, Mei 2026
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v9i2.37147

Abstract

Nonlinear static analysis (pushover analysis) is widely used for evaluating the seismic performance of structures due to its simplicity compared to nonlinear dynamic analysis. However, Conventional Pushover Analysis (CPA) has limitations in representing stiffness degradation and changes in structural dynamic characteristics during inelastic behavior. This study compares the structural responses obtained from CPA and Adaptive Pushover Analysis (APA) using a stiffness-iteration approach applied to a five-story reinforced-concrete Special Moment Resisting Frame (SMRF) building in Jakarta, Indonesia. Structural modeling and analysis were conducted using MIDAS Gen, considering material nonlinearity through plastic hinge formation based on FEMA 356, while performance evaluation followed FEMA 440 provisions. The APA procedure was implemented by iteratively updating the cracked moment of inertia of beam elements after first yielding. The evaluation focused on capacity curves, performance points, plastic hinge distribution, stiffness degradation, and dynamic characteristic changes. The results show that APA reduced the modal mass participation ratio from 77.69% to 70.09%, indicating a redistribution of structural dynamic characteristics due to stiffness degradation. The capacity curve exhibited convergent behavior at the third iteration. Plastic hinges initially formed in beam elements, satisfying the strong column–weak beam concept. Structural capacity decreased from 4321 kN to 4073 kN in the X-direction and from 4424 kN to 4040 kN in the Y-direction. These findings indicate that APA provides a more realistic representation of cracking and stiffness degradation effects than CPA for seismic performance evaluation.  Abstrak Analisis statik nonlinier (pushover analysis) merupakan salah satu metode yang banyak digunakan dalam evaluasi inerja seismik struktur karena lebih sederhana dibandingkan analisis dinamik nonlinier. Namun, Conventional Pushover Analysis (CPA) memiliki keterbatasan dalam merepresentasikan degradasi kekakuan dan perubahan karakteristik dinamik struktur selama proses pembebanan inelastik. Penelitian ini bertujuan membandingkan repsons struktur antara metode CPA dan Adaptive Pushover Analysis (APA) melalui pendekatan iterasi kekakuan pada banguna beton bertulang Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK) 5 lantai di wilayah Jakarta. Pemodelan dan analisis dilakukan menggunakan perangkat lunak MIDAS Gen dengan mempertimbangkan perilaku nonlinier material melalui pembentukan sendi plastis berdasarkan FEMA 356 dan evaluasi kinerja menggunakan FEMA 440. Metode APA diterapkan melalui pembaruan nilai retak inersia elemen balok yang mengalami pelelehan pertama secara iteratif. Evaluasi dilakukan terhadap kurva kapasitas, titik kinerja (performance point), distribusi sendi plastis, degradasi kekakuan, dan perubahan karakteristik dinamik struktur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan APA menyebabkan perubahan partisipasi massa modal dari 77.69% menjadi 70.09% yang mengindikasikan terjadinya redistribusi karakteristik dinamik akibat degradasi kekakuan struktur. Proses iteratif, kurva kapasitas menunjukkan kecenderungan konvergen pada iterasi ketiga. Pembentukan sendi plastis terjadi pertama kali pada elemen balok sehingga memenuhi konsep strong column-weak beam. Pada arah X, kapasitas struktur menurun dari 4321 kN menjadi 4073 kN, sedangkan pada arah Y menurun dari 4424 kN menjadi 4040 kN setelah penerapan APA. Hasil penelitian, metode APA mampu merepresentasikan pengaruh retak dan degradasi kekakuan struktur secara representatif dalam evaluasi kinerja seismik struktur beton bertulang.
ANALISIS PELAKSANAAN PEKERJAAN STRUKTUR BAWAH PADA PROYEK LAPANGAN PADEL Vincent Hanjaya; Lidwina Sri Ayu DR Sianturi
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 9, Nomor 2, Mei 2026
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v9i2.37155

Abstract

Substructure work is an important part of a construction project because it functions to transfer structural loads to the ground, ensuring the stability of the building. This study aims to analyze the implementation of substructure work on the padel court construction project located in Cisauk, BSD, carried out by PT Raya Prima Konstruksi. The research method used is a descriptive method with direct field observation during the internship period from February to May 2026. Observations were conducted on several stages of work, including site preparation, soil compaction using macadam, pile foundation installation using Hydraulic Static Pile Driver (HSPD), pile cap and sloof work, and pedestal casting. The results showed that the soft red soil conditions required temporary ground improvement to support the mobilization of heavy equipment and construction materials. The use of HSPD was considered effective because it minimized vibration during the piling process. In addition, concrete quality control was carried out through slump tests and concrete sampling before casting. Overall, the implementation method of the substructure work on this project was carried out properly and in accordance with field conditions. Abstrak Pekerjaan struktur bawah merupakan bagian penting dalam suatu proyek konstruksi karena berfungsi meneruskan beban bangunan ke tanah dasar sehingga kestabilan struktur dapat terjamin. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pelaksanaan pekerjaan struktur bawah pada proyek pembangunan lapangan padel di Cisauk, BSD, yang dilaksanakan oleh PT RPK. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan observasi langsung selama kegiatan magang berlangsung dari Februari hingga Mei 2026. Pengamatan dilakukan pada tahapan pekerjaan mulai dari persiapan lahan, pemadatan tanah menggunakan makadam, pemasangan pondasi tiang pancang dengan Hydraulic Static Pile Driver (HSPD), pekerjaan pile cap dan sloof, hingga pengecoran pedestal. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kondisi tanah merah yang lembek menyebabkan perlunya perbaikan akses kerja untuk mendukung mobilisasi alat berat dan material proyek. Penggunaan HSPD dinilai efektif karena mampu meminimalkan getaran pada saat pemancangan. Selain itu, pengendalian mutu beton mencakup pengujian slump serta pengambilan sampel benda uji sebelum pengecoran dilaksanakan. Secara umum, metode pelaksanaan pekerjaan struktur bawah pada proyek ini telah berjalan dengan baik dan sesuai dengan kondisi lapangan.
EVALUASI PERBANDINGAN SISTEM KONSTRUKSI RUMAH TINGGAL DARI PERSPEKTIF EKONOMI DAN DAMPAK LINGKUNGAN Christianto Tanuwidjaja; Onnyxiforus Gondokusumo
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 9, Nomor 2, Mei 2026
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v9i2.37158

Abstract

Residential development in Jakarta demands a balance between economic efficiency and environmental sustainability, which often creates a trade-off. This study evaluates construction system combinations from economic and environmental perspectives, alongside their cost risk robustness. Using a comparative case study of three residential projects in Jakarta, eight alternatives were formulated from foundation (bore pile vs mini pile), superstructure (concrete vs steel), and wall (red brick vs lightweight concrete block) variables. The analysis covers cost calculations, Embodied Carbon inventory, and Monte Carlo simulation via Crystal Ball software, integrating construction waste volume uncertainties based on historical data. Results indicate the mini pile, concrete, and lightweight block combination is the cheapest, whereas bore pile, steel, and red brick is the most expensive. Interestingly, the Embodied Carbon analysis reveals that the cheapest system generates higher emissions than the most expensive one, highlighting a significant trade-off. Furthermore, a 100,000-trial Monte Carlo simulation proves the most expensive combination has a higher cost overrun probability due to the high waste index of WF/H-beam steel profiles, while the cheapest shows stable robustness against budget overruns. In conclusion, construction system selection must not rely solely on a deterministic approach to direct costs. Abstrak Pembangunan perumahan di Jakarta menuntut keseimbangan antara efisiensi ekonomi dan keberlanjutan lingkungan yang seringkali menimbulkan trade-off. Penelitian ini mengevaluasi perbandingan kombinasi sistem konstruksi dari perspektif ekonomi dan dampak lingkungan, serta menganalisis ketahanan risiko (robustness) biayanya. Metode penelitian menggunakan studi kasus komparatif pada tiga proyek rumah tinggal di Jakarta. Delapan kombinasi alternatif dirumuskan dari variabel fondasi (bore pile vs mini pile), struktur atas (beton vs baja), dan dinding (bata merah vs bata ringan). Analisis mencakup perhitungan biaya, inventarisasi Embodied Carbon, dan simulasi Monte Carlo melalui software Crystal Ball dengan mengintegrasikan variabel ketidakpastian volume construction waste berbasis data historis proyek. Hasilnya, kombinasi mini pile, beton, dan bata ringan menjadi sistem termurah, sedangkan bore pile, baja, dan bata merah menjadi yang termahal. Menariknya, analisis Embodied Carbon menunjukkan sistem termurah justru menghasilkan emisi karbon lebih besar dibandingkan sistem termahal, mengungkap trade-off signifikan antara biaya dan lingkungan. Lebih lanjut, simulasi Monte Carlo dengan 100.000 trials membuktikan bahwa kombinasi termahal memiliki probabilitas cost overrun lebih tinggi akibat besarnya indeks waste baja profil WF/H-beam, sedangkan kombinasi termurah menunjukkan robustness yang lebih stabil dan aman secara probabilistik terhadap risiko pembengkakan anggaran. Kesimpulannya, pemilihan sistem konstruksi tidak boleh hanya berorientasi deterministik pada biaya direct.
ANALISIS SISTEM ANTRIAN DAN OPTIMASI PELAYANAN TRUK PENGANGKUT PUPUK UREA DI JEMBATAN TIMBANG PT PUPUK KUJANG CIKAMPEK Alma Gemala Ramadhania; Asep Robiyana Tarmedi; Hendi Iskandar
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 9, Nomor 2, Mei 2026
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v9i2.37167

Abstract

This study ains to analyze the queue system at the truck weighbridge service area of PT Pupuk Kujang Cikampek and to explore possible improvements. The research uses a quantitative approach with the M/M/s queue model (multi-channel single-phase). Data were collected through direct observation over seven days, including truck arrival times, service times, and queue conditions. The results show that with two operators, the average waiting time is still relatively high, around 6.75 minutes, which does not meet the company’s service standard. After simulating the addition of one operator (becoming three operators), the waiting time decreases significantly to about 0.9 minutes. This indicates that adding an operator can improve system performance. However, it also leads to higher operational costs. Based on these findings, it can be concluded that increasing the number of operators improves service performance, but it needs to be carefully considered from a cost-efficiency perspective. Therefore, a more flexible operator allocation based on actual conditions is recommended. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sistem antrian pada area pelayanan jembatan timbang truk di PT Pupuk Kujang Cikampek serta mengevaluasi kemungkinan perbaikan yang dapat dilakukan. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan model antrian M/M/s (multi-channel single-phase). Data dikumpulkan melalui observasi langsung selama tujuh hari, meliputi waktu kedatangan truk, waktu pelayanan, serta kondisi antrian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan dua operator, waktu tunggu rata-rata masih relatif tinggi, yaitu sekitar 6,75 menit, sehingga belum memenuhi standar pelayanan perusahaan. Setelah dilakukan simulasi penambahan satu operator (menjadi tiga operator), waktu tunggu menurun secara signifikan menjadi sekitar 0,9 menit. Hal ini menunjukkan bahwa penambahan operator mampu meningkatkan kinerja sistem pelayanan. Namun demikian, peningkatan tersebut juga berdampak pada kenaikan biaya operasional. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa penambahan jumlah operator dapat meningkatkan kinerja pelayanan, namun perlu dipertimbangkan dari sisi efisiensi biaya. Oleh karena itu, disarankan penerapan alokasi operator yang lebih fleksibel sesuai dengan kondisi aktual di lapangan.
ANALISIS BIBLIOMETRIK MENUJU MODEL NON-LINEAR BERBASIS ENERGI FRAKTUR UNTUK DESAIN ADHESIVE ANCHOR Valentana Ardian Tarigan; Sofia W. Alisjahbana; Daniel Christianto
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 9, Nomor 2, Mei 2026
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v9i2.37268

Abstract

Structural strengthening and retrofit using adhesive anchors involve complex interactions between adhesive materials, embedded steel bars, and fracture processes in concrete. Design provisions commonly applied in engineering practice are predominantly derived from simplified assumptions or empirical correlations, which limit their capability to represent non-linear responses associated with bond degradation, crack development, and time-dependent material behavior. This study is directed toward formulating a methodological and analytical framework for the future development of non-linear adhesive anchor models based on fracture-energy principles, rather than proposing a finalized design formulation. The research employs a bibliometric analysis of 100 Scopus-indexed publications processed using VOSviewer to identify research trends, thematic clusters, and unresolved methodological gaps in adhesive anchor studies. The identified clusters are subsequently interpreted in a design-oriented manner to extract dominant mechanisms and key parameters governing anchor response across multiple scales, including interface interaction, concrete fracture modes, viscoelastic behavior of epoxy adhesives, and anchor group effects. Based on this synthesis, a preliminary analytical framework is outlined through the introduction of general fracture-energy concepts, such as traction–separation representations and multiscale interaction logic, serving as an illustrative basis for subsequent analytical and numerical investigations. Abstrak Perkuatan dan retrofit struktur beton menggunakan adhesive anchor melibatkan interaksi kompleks antara material perekat, batang baja tertanam, dan mekanisme fraktur pada beton. Ketentuan desain yang umum digunakan saat ini sebagian besar disusun berdasarkan asumsi sederhana dan hubungan empiris, sehingga belum mampu merepresentasikan perilaku non-linear yang berkaitan dengan degradasi ikatan, perkembangan retak, serta respons material yang bergantung waktu. Penelitian ini diarahkan untuk menyusun suatu kerangka metodologis dan analitik sebagai landasan pengembangan model adhesive anchor non-linear berbasis energi fraktur, tanpa bertujuan menyajikan model desain yang telah final. Metode yang digunakan berupa analisis bibliometrik terhadap 100 artikel terindeks Scopus dengan bantuan perangkat lunak VOSviewer guna mengidentifikasi tren penelitian, pengelompokan tema, serta kesenjangan metodologis yang masih terbuka. Klaster yang dihasilkan kemudian diinterpretasikan secara berorientasi desain untuk mengekstraksi mekanisme dominan dan parameter kunci pada berbagai skala, mencakup interaksi antarmuka, mode fraktur beton, sifat viskoelastis perekat epoksi, dan efek kelompok angkur. Berdasarkan sintesis tersebut, dirumuskan suatu kerangka analitik awal dengan memasukkan konsep energi fraktur secara umum, seperti representasi traction–separation dan interaksi multiskala, sebagai dasar ilustratif bagi pengembangan model analitik dan numerik pada penelitian lanjutan.