cover
Contact Name
Erda Fitriani
Contact Email
erdafitriani@fis.unp.ac.id
Phone
+6285278103477
Journal Mail Official
culture@ppj.unp.ac.id
Editorial Address
Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang (Integrated Classroom B UNP Air Tawar Padang) Jl. Prof. Dr. Hamka, Air Tawar, Padang
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research
ISSN : 26863421     EISSN : 2686343X     DOI : https://doi.org/10.24036/culture
Culture & Society: Journal of Anthropological Research was published to develop and enrich scientific discussion for scholars who put interest on socio-cultural issues in Indonesia. Editors welcome theoretical or research based article submission. Author’s argument doesn’t need to be in line with editors. The criteria of the submitted article covers the following types of article: first, the article presents the results of an ethnographic/qualitative research in certain topic and is related with ethnic/social groups in Indonesia; second, the article is an elaborated discussion of applied and collaborative research with strong engagement between the author and the collaborator’s subject in implementing intervention program or any other development initiative that put emphasizes on social, political, education and cultural issues; last, a theoretical writing that elaborates social and cultural theory linked with the theoretical discourse of anthropology, especially in Indonesia.
Articles 127 Documents
Traditional Cultural Practices and its Changing Landscape in the Alaknanda Valley, Garhwal Himalaya Vishwambhar Prasad Sati
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 8 No 1 (2026): Culture & Society: Journal of Anthropologival Research
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/csjar.v8i1.237

Abstract

The Alaknanda Valley has a rich cultural heritage. It is home to the Panch Badris, Panch Kedars, and Panch Prayags. Additionally, it is renowned for the Dwadas Jyotirlinga and Shakti Peeth. Known as 'Dev Bhumi,' it is considered the land of Gods and Goddesses. People worship various forms of nature, including trees, water, and land, along with all folk deities. They celebrate fairs and festivals throughout the year, aligning with the changing seasons and the sun's position in the northern and southern hemispheres. This study illustrates the rich cultural heritage of the Alaknanda Valley and its evolving landscape. This is a field-based empirical and observational study, and the author employed a qualitative approach. He visited the entire Alaknanda valley, participated in numerous cultural events, and interviewed 10 priests and 100 local people, who are engaged in practicing culture and rituals. Data were also collected though literature review and secondary sources. The findings of this study indicate that the traditional cultural heritage of the Alaknanda Valley underwent significant decline during the 1980s. This situation persisted until 2010, after which efforts to restore cultural traditions began. At present, the region's rich cultural heritage has been largely revived to its pre-1980s state. Local people play a crucial role in preserving cultural practices by actively participating in the celebration of fairs and festivals every month. The culture of the Alaknanda Valley is deeply connected to nature and its conservation. Therefore, maintaining this rich cultural heritage requires its continued practice in traditional ways.
Makna Simbolik Upacara Buka Abo pada Masyarakat Kampung Tandikat Air Jambu Eka Fitri; Wirdanengsih Wirdanengsih
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 8 No 1 (2026): Culture & Society: Journal of Anthropologival Research
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/csjar.v8i1.241

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan makna simbolik pada upacara buka abo di Kampung Tandikat Air Jambu, Kecamatan Linggo Sari Baganti Kabupaten Pesisir Selatan. Upacara buka abo merupakan upacara yang dilaksanakan ketika membangun rumah baru, dengan adanya ritual melumuri darah ayam ke sekeliling rumah yang akan dibangun dan ditempati. Makna simbolik buka abo dianalisa dengan teori interpretativisme simbolik Clifford Geertz. Metode penelitian dilakukan dengan observasi partisipasi, wawancara mendalam dan studi dokumen. Pemilihan informan dilakukan dengan cara purposive sampling, dengan kiteria informan yaitu tokoh adat, tokoh agama, tukang, pemilik rumah dan warga masyarakat yang terlibat dalam pelaksanaan upacara buka abo. Jumlah informan keseluruhan yaitu sebanyak 15 orang. Data dianalisis dengan menggunakan model interaktive dari Miles dan Huberman. Hasil penelitian mendeskripsikan simbol-simbol pada upacara buka abo yang dilakukan dengan menyembelih ayam, mengedarkan darah mengelilingi pondasi rumah dan bahan bangunan, serta memasak ayam serta makan bersama. Makna simbolik dari upacara buka abo yaitu sebagai simbol perlindungan serta penyucian ruang, supaya tukang yang bekerja dan penghuni rumah terlindungi dan selamat dari mara bahaya. Selain itu upacara buka abo juga memiliki makna sebagai rasa syukur atas pembangunan rumah baru dan keyakinan manusia kepada kekuatan supranatural.
Dinamika Akses Orang Rimba Terhadap Hutan di Tengah Ekspansi Kelapa Sawit Serly Senora; Adri Febrianto
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 8 No 1 (2026): Culture & Society: Journal of Anthropologival Research
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/csjar.v8i1.247

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kondisi akses Orang Rimba terhadap hutan, menganalisis hambatan sosial dan struktural yang mereka hadapi serta menjelaskan strategi yang digunakan untuk mempertahankan akses terhadap sumber daya alam di tengah ekspansi Perkebunan Kelapa Sawit. Penelitian kualitatif dengan studi kasus melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis dengan A Theory of Access, yang menekankan bahwa akses terhadap sumber daya tidak hanya ditentukan oleh kepemilikan formal, tetapi juga oleh relasi sosial, ekonomi, dan kekuasaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum ekspansi, Orang Rimba memiliki akses bebas terhadap hutan untuk berburu dan meramu. Setelah masuknya perkebunan sawit, akses mereka menjadi terbatas oleh aturan perusahaan. Untuk bertahan, mereka memanfaatkan strategi adaptif seperti membangun relasi sosial dengan pihak perusahaan, memanfaatkan pengetahuan lokal, serta mengambil brondolan sawit sebagai sumber ekonomi alternatif. Temuan ini menunjukkan bahwa upaya mempertahankan akses dilakukan melalui mekanisme informal dan resistensi halus terhadap sistem kekuasaan formal. Oleh karena itu artikel ini menggambarkan ekspansi Perkebunan kelapa sawit PT. Tidar Kerinci Agung (PT. TKA) telah membawa perubahan besar terhadap kehidupan masyarakat adat Orang Rimba yang selama ini menggantungkan hidup pada hutan.
Nasi Kapau Sebagai Simbol Budaya dalam Wisata Kuliner Minangkabau Egi Fazhira; Adri Febrianto
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 8 No 1 (2026): Culture & Society: Journal of Anthropologival Research
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/csjar.v8i1.250

Abstract

Artikel ini menggali dan mendeskripsikan makna simbol wisata kuliner nasi kapau yang dilakukan oleh wisatawan di Kota Bukittinggi dan Nagari Kapau. Nasi kapau menjadi salah satu makanan tradisional yang populer. Berasal dari kampung kecil bernama Nagari Kapau yang terletak di Kecamatan Tilatang Kamang, Kabupaten Agam. Penelitian etnografi ini dianalisis dengan teori interpretivisme simbolik dari Clifford Geertz. Pemilihan informan dilakukan secara purposive sampling dengan jumlah informan sebanyak 11 orang. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumen. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa makan nasi kapau oleh wisatawan merupakan simbol nostalgia dan kebersamaan sosial yang bermakna sebagai wujud budaya yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini, menghadirkan rasa kekeluargaan dan menjadi pengalaman makan yang tidak hanya sekedar memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga menghadirkan nilai emosional. Selain itu, nasi kapau merupakan simbol secara interpretivisme simbolik bermakna sebagai representasi budaya Minangkabau, identitas lokal, dan media kebersamaan sosial.
Membangun dari Rantau: Loyalitas dan Pengabdian Perantau bagi Kemajuan Nagari Magek Fadila Mailiza; Adri Febrianto
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 8 No 1 (2026): Culture & Society: Journal of Anthropologival Research
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/csjar.v8i1.251

Abstract

Artikel ini mendeskripsikan dan menjelaskan peran perantau terhadap pembangunan di Nagari Magek serta mendeskripsikan faktor-faktor yang mendasari perantau dalam membantu pembangunan di Nagari Magek. Kontribusi perantau tidak hanya terlihat secara finansial, tetapi terdapat faktor yang mendorong peran perantau. Penelitian dianalisis dengan Teori Strukturasi Anthony Giddens. Pemilihan informan dilakukan secara purposive sampling, dengan informan sebanyak 20 orang. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam dan pemanfaatan dokumen. Tahap-tahap penelitian sampai kepada penarikan kesimpulan dilakukan mengikuti analisis data dari Miles dan Huberman. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peran perantau dalam pembangunan di Nagari Magek tidak hanya secara fisik maupun non fisik. Perantau memiliki misi budaya sebagai bentuk tanggung jawab memajukan nagari untuk kemajuan bersama. Lebih dari sekedar bantuan material, perantau Nagari Magek mencerminkan sikap loyalitas dan Pengabdian terhadap tanah kelahiran. Bantuan perantau bersifat swadaya dan diajukan berdasarkan keperluan. Bantuan rutin yang relatif terjadwal berupa zakat tahunan. Bantuan ini mempertegas bahwa loyalitas perantau kepada nagari didorong oleh rasa tanggung jawab bahwa kemajuan nagari merupakan kemajuan bersama.
Pilihan Rasional Pengobatan Tradisional dan Modern pada Masyarakat Tanjung Durian Windi Widia Natasya; Erda Fitriani
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 8 No 1 (2026): Culture & Society: Journal of Anthropologival Research
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/csjar.v8i1.252

Abstract

Penelitian ini mengkaji masyarakat yang tidak hanya memilih satu pengobatan melainkan memilih dua jenis pengobatan tradisional dan modern sekaligus dalam mengobati penyakit. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan tentang pilihan rasional masyarakat dalam memanfaatkan pengobatan tradisional dan modern untuk mengobati penyakit di Nagari Tanjung Durian Kecamatan Bayang Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Penelitian ini penting untuk diteliti karena kesehatan fisik menjadi suatu hal yang sangat penting bagi setiap individu agar dapat beraktivitas dengan baik, tindakan yang dilakukan dalam memilih dan menggunakan pengobatan untuk memperoleh penyembuhan dari penyakit yang diderita menggambarkan pilihan yang rasional dimiliki oleh setiap individu. Namun, di Nagari Tanjung Durian masyarakat memiliki tindakan yaitu memilih dua jenis pengobatan tradisional dan pengobatan modern. Teori yang digunakan untuk menganalisis fenomena ini adalah teori pilihan rasional menurut James S. Coleman yang memusatkan perhatian pada aktor dan sumber daya. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan tipe studi kasus. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi partisipasi, wawancara mendalam dan studi dokumen. Hasil penelitian menemukan rasionalitas masyarakat yang memilih kedua pengobatan tradisional dan modern di Nagari Tanjung Durian, yaitu 1) memiliki pengetahuan tentang kedua pengobatan yang saling mendukung, 2) merasakan efek penyembuhan dari kedua pengobatan, 3) mempercayai bahwa kedua pengobatan bisa menyembuhkan penyakit, 4) bidan desa dan dukun yang berada di kampung.
Merencam dan Nuai: Sistem Pertanian Padi Ladang Masyarakat Melayu Jambi Zumrotul Husna; Adri Febrianto
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 8 No 1 (2026): Culture & Society: Journal of Anthropologival Research
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/csjar.v8i1.280

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan menganalisis sistem pertanian padi ladang secara tradisional yang dilakukan masyarakat Melayu Jambi di Desa Tanjung, mulai dari tahapan pembukaan lahan (manuk), penanam padi (merencam), panen (nuai). Selain itu juga menjelaskan alat yang digunakan hingga kegiatan ritual pertanian seperti turun baumo dan memasak bubur ayak yang dilakukan pada saat bertani padi ladang. Penelitian kualitatif ini dilakukan dengan tipe studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan kajian dokumen, serta dianalisis dengan teori Robert Redfield tentang masyarakat petani (peasant society). Hasil penelitian menunjukkan bahwa peisan di Desa Tanjung mempertahan padi ladang melalui pemanfaatan lahan adat (tanah ramo) dan lahan tumpangsari padi ladang dengan kelapa sawit sebagai adaptasi terhadap perubahan penggunaan lahan. Seluruh tahapan pertanian dilakukan secara bertahap dengan menggunakan alat-alat tradisional, mulai dari pembukaan lahan, penanam benih (merencam), hingga panen (nuai). Kegiatan pertanian padi ladang disertai ritual keagamaan seperti turun baumo dan makan bubur ayak yang diyakini membawa keselamatan, keberkahan, dan kelancaran dalam proses pertanian. Sistem kerja yang dilakukan oleh petani padi ladang dilakukan dengan sistem kekeluargaan dan gotong royong, mulai dari pembukaan lahan, pelaksanaan ritual pertanian hingga panen padi ladang. Selain itu, penelitian ini menunjukkan bahwa masyarakat petani di Desa Tanjung berada dalam posisi sebagai peasant society yang mempertahankan ciri tradisional melalui gotong royong, kekeluargaan, dan praktik tradisional, sekaligus beradaptasi dengan perubahan alih fungsi lahan perkebunan kelapa sawit.

Page 13 of 13 | Total Record : 127


Filter by Year

2019 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 8 No 1 (2026): Culture & Society: Journal of Anthropologival Research Vol 7 No 2 (2025): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (December 2025) Vol 7 No 1 (2025): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (June 2025) Vol 6 No 2 (2024): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (December 2024) Vol 6 No 1 (2024): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (June 2024) Vol 5 No 2 (2023): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (December 2023) Vol 5 No 1 (2023): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (June 2023) Vol 4 No 2 (2022): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (December 2022) Vol 4 No 1 (2022): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (June 2022) Vol 3 No 2 (2021): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (December 2021) Vol 3 No 1 (2021): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (September 2021) Vol 2 No 4 (2021): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (June 2021) Vol 2 No 3 (2021): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (March 2021) Vol 2 No 2 (2020): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (December 2020) Vol 2 No 1 (2020): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (September 2020) Vol 1 No 4 (2020): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (June 2020) Vol 1 No 3 (2020): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (March 2020) Vol 1 No 2 (2019): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (December 2019) Vol 1 No 1 (2019): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (September 2019) More Issue