Culture & Society: Journal Of Anthropological Research
Culture & Society: Journal of Anthropological Research was published to develop and enrich scientific discussion for scholars who put interest on socio-cultural issues in Indonesia. Editors welcome theoretical or research based article submission. Author’s argument doesn’t need to be in line with editors. The criteria of the submitted article covers the following types of article: first, the article presents the results of an ethnographic/qualitative research in certain topic and is related with ethnic/social groups in Indonesia; second, the article is an elaborated discussion of applied and collaborative research with strong engagement between the author and the collaborator’s subject in implementing intervention program or any other development initiative that put emphasizes on social, political, education and cultural issues; last, a theoretical writing that elaborates social and cultural theory linked with the theoretical discourse of anthropology, especially in Indonesia.
Articles
119 Documents
African Cultural Values and Corruption in Nigeria: New Insights
Terngu Sylvanus Nomishan;
Oryina Joel Andzenge;
Alegbejo Noah Kolawole;
Peter Luke Oyigebe
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 4 No 1 (2022): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (June 2022)
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24036/csjar.v4i1.99
African cultural values connote core principles and ideals that maintains good, right, fair and just in African societies. This culture is developed over a long period of time, preserved and promoted by all members of a given group or society. Corruption as a phenomenon on the other hand has been variously described as a societal vice. Though research shows that some levels of corruption exist in almost every human society, it is over accommodated in some societies or nations and as such it has notoriously continued to destroy such societies/nations. This is particular to a number of African nations, with Nigeria being among (if not) the worse corrupt nation(s) in the continent. It is not difficult to understand that the value placed on corruption in Nigeria is synonymous to the way cultural values are cherished by people in some nations of the world. In view of this, there is a serious and immediate need to educate the Nigerian public about the consequences of developing a culture of corruption in the country. It seems that some Nigerians take corruption to be a normal way of life, thereby, equating the vice to acceptable cultural values. Today, many Nigerians are not interested in developing and/or preserving amiable cultural values for the nation. Rather, more attention is focus on the promotion of corrupt practices that enables the destruction of even the good cultural values of the nation that were left behind by our forefathers. Therefore, this paper seeks to unmask the importance of developing and preserving good African cultural values that will guarantee unity, patriotism, social cohesion and sustainable development in Nigeria.
Orang Minangkabau dalam Tradisi Rewang dan Nyumbang
Ratih Purwati Ningsih;
Wirdanengsih Wirdanengsih
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 4 No 1 (2022): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (June 2022)
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24036/csjar.v4i1.100
Penelitian ini bertujuan untuk meneliti modal sosial tradisi rewang pada masyarakat Jawa di Desa Penelitian ini menjelaskan mengenai orang Minang dalam tradisi rewang dan nyumbang di Jorong Pujorahayu Nagari Koto Baru Kabupaten Pasaman Barat. Tradisi rewang dan nyumbang di Jorong Pujorahayu tidak hanya dilakukan oleh orang Jawa saja, tetapi juga dilaksanakan oleh orang Minang yang tinggal di daerah tersebut. Hal ini menjadi menarik karena tradisi rewang dan nyumbang sejatinya adalah tradisi yang dimiliki masyarakat Jawa. Teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teori pemberian dari Marcel Mauss. Marcel Mauss berpendapat bahwa, tidak ada pemberian secara gratis atau cuma-cuma namun segala bentuk pemberian haruslah dibarengi dengan imbalan atau pemberian kembali. Pendekatan penelitian ini adalah kualitatif dengan metode etnografi. informan dalam penelitian ini berjumlah 15 orang, diantaranya : 10 orang orang Jawa dan 5 orang Minangkabau. Data dikumpulkan melalui teknik observasi, wawancara, dan studi dokumen. Hasil penelitian ini menjelaskan partisipasi orang Minangkabau dalam tradisi rewang dan nyumbang, seperti bekerja sama atau melakukan gotong royong untuk membantu terselenggaranya sebuah hajatan dan turut serta me-nyumbang dalam acara hajatan yang ada di Jorong Pujorahayu
Modal Sosial Tradisi Rewang pada Masyarakat Jawa Desa Beringin Talang Muandau Riau
Artia Siska Dewi;
Erda Fitriani;
Lia Amelia
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 4 No 1 (2022): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (June 2022)
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24036/csjar.v4i1.102
Penelitian ini bertujuan untuk meneliti modal sosial tradisi rewang pada masyarakat Jawa di Desa Beringin, Kecamatan Talang Muandau, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau. Rewang menarik untuk diteliti karena masih eksis di tengah masyarakat Jawa yang merantau di Desa Beringin. Penelitian ini dianalisis dengan teori modal sosial Robert Putnam serta pendekatan kualitatif tipe studi kasus. Jumlah informan keseluruhan sebanyak 22 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara dan studi dokumen. Untuk mendapatkan data yang valid dilakukan triangulasi data. Analisis data menggunakan model analisis interaktif dari Miles dan Huberman. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa tradisi rewang merupakan suatu tradisi yang menjadi modal sosial bagi masyarakat Jawa di Desa Beringin. Wujud dari modal sosial tersebut adalah ketika orang-orang yang terlibat dalam tradisi rewang mengembangkan sumber daya yang dimilikinya. Sumber daya tersebut adalah: (1) jejaring sosial, peserta rewang merupakan bagian dari jaringan sosial yaitu karena adanya hubungan kekerabatan, tetangga dan hubungan pekerjaan, (2) kepercayaan atau trust, yang ditandai adanya pembagian kerja berdasarkan pada pengalaman dari anggota rewang sehingga si tuan rumah percaya bahwa hajatan akan lancar apabila setiap tugas dipegang oleh orang-orang yang dianggap sudah punya pengalaman di bidangnya, (3) nilai-nilai sosial, dalam tradisi rewang terdapat nilai sosial untuk mengikat hubungan antar masyarakat, nilai tersebut adalah nilai timbal-balik, nilai tolong-menolong dan nilai sosialisasi.
Kearifan Lokal Maras Taun Dusun Aik Ruak
Mangifera Indica Juarsyah;
Erda Fitriani;
Adri Febrianto
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 4 No 1 (2022): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (June 2022)
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24036/csjar.v4i1.103
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan menjelaskan kearifan lokalupacara maras taun di Dusun Aik Ruak, Desa Simpang Tiga, Kecamatan Simpang Renggiang, Kabupaten Belitung Timur. Upacara maras taun merupakan upacara yang sangat penting bagi masyarakat Belitong, yang dilaksanakan satu kali dalam satu tahun ketika panen padi. Serta adanya kepercayaan yang masih kental oleh masyarakat Dusun Aik Ruak terhadap berbagai macam tradisi, adat, mitos, dan salah satunya masih percaya akan pentingnya pelaksanaan upacara maras taun di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Fenomena ini dianalisis dengan teori budaya sebagai sistem kognitif oleh Ward Goodenough. Menggunakan pendekatan kualitatif dan tipepenelitian etnografi.Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi partisipasi, wawancara mendalam kepada 14 orang informan, dan studi dokumen. Teknik triangualasi yang dipakai yaitu triangulasi sumber, dan model analisis data menurut J.P Spradley.Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa: upacara maras taun memiliki kearifan lokal yakni, 1). Menjaga hubungan sosial seperti, menjalin silahturahmi antar sesama masyarakat, kerja sama yang baik dalam upacara maras taun, dan mampu menghargai perbedaan. 2). Kearifan lokal maras taun dalam konservasi alam seperti, adanya pantangan dan larangan hutan yang tidak boleh dibuka menjadi ladang, kerena sebagai tempat flora/fauna serta adanya pembukaan dan pengelolaan ladang yang mampu meminimalisir terjadinya kerusakan ekosistem.
Laghauk: Ramalan Nasib Calon Pengantin
Melati Melati;
Erda Fitriani;
Muhammad Hidayat
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 4 No 1 (2022): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (June 2022)
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24036/csjar.v4i1.106
Penelitian bertujuan menjelaskan sistem pengetahuan masyarakat pada ramalan laghauk yang masih eksis sampai sekarang. Ramalan laghauk adalah ramalan nasib baik dan buruk calon pengantin selama masa perkawinan. Keberadaan ramalan laghauk ini masih dilaksanakan oleh masyarakat yang sudah mengalami perubahan dan pendidikan ke arah yang lebih baik. Penelitian ini dianalisis dengan teori etnosains oleh Spradley. Pendekatan penelitian ini adalah kualitatif dengan tipe etnografi. Teknik pemilihan informan yaitu purposive sampling dengan jumlah informan 20 orang. Data dikumpulkan melalui teknik wawancara mendalam, observasi partisipasi dan studi dokumen. Dalam mendapatkan keabsahan data dipilih teknik triangulasi sumber dan analisis data menggunakan alur penelitian maju bertahap Spradley. Hasil penelitian ini ditemukan bahwa sistem pengetahuan masyarakat pada ramalan laghauk berangkat dari pengalaman-pengalaman yang diperoleh baik dari keluarga maupun kerabat ketika nasib mereka diramal. Pengetahuan masyarakat mengenai ramalan laghauk dapat dikelompokkan atas tiga yaitu adalah percaya, tidak percaya dan percaya tidak percaya. Masyarakat yang percaya akan ramalan disebabkan karena seringnya ditemui kebenaran dari ramalan kehidupan pasangan, sedangkan mereka yang tidak percaya karena tidak terbukti dari isi ramalan laghauk, sedangkan mereka yang percaya dan tidak percaya dikarenakan masih meragukan ramalan laghauk, atau karena kebetulan saja, apalagi adanya keyakinan dalam Islam yang tidak boleh mempercayai ramalan.
Identititas Muslim Priangan Sebagai Landasan Promosi Global
Tika Tazkya Nurdyawati
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 4 No 1 (2022): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (June 2022)
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24036/csjar.v4i1.107
Pararelitas falsafah Sunda dan agama Islam di Jawa Barat merumuskan terminologi “Muslim Priangan”. Tidak hanya merujuk secara historis, identitas ini dapat dimanfaatkan menjadi realisasi fungsi diplomasi yaitu promosi/branding daerah. Di era globalisasi dan masifnya keterlibatan aktor lokal ke ranah-ranah internasional telah memberi ruang proaktif bagi daerah untuk berpegang teguh pada kearifan lokal. Artikel ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi akulturasi Islam-Sunda Muslim Priangan terhadap rekognisi Jawa Barat di panggung internasional. Artikel ini menggunakan metode kualitatif dengan merujuk pada studi dan literatur terdahulu. Temuan artikel ini memetakan bahwa dengan perspektif Diplomasi kontemporer dalam dinamika Hubungan Internasional, Identitas Muslim Priangan Jawa Barat dapat dimanfaatkan sebagai instrumen promosi terlebih dengan ikhtiar proaktif pemerintah dalam menjalin kooperasi dengan entitas luar negeri berlandaskan visi Islamik.
Ziarah Kubur ke Makam Syekh Burhanuddin Masa Pandemi Covid-19 (Studi Fungsional: Aktivitas Peziarah di Makam Syekh Burhanuddin)
Salsa Yusari Dilta;
Wirdanengsih Wirdanengsih;
Muhammad Hidayat
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 4 No 2 (2022): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (December 2022)
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24036/csjar.v4i2.101
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan mengapa masyarakat tetap melakukan ziarah kubur ke makam Syekh Burhanuddin pada masa pandemi Covid-19. Hal menarik di masa pandemi Covid-19, masyarakat tetap melakukan ziarah kubur ke makam Syekh Burhanuddin. Penelitian ini dianalisis dengan Teori Fungsional Bronislaw Malinowski dalam menjawab pertanyaan tujuan pada penelitian. Teori fungsional mengkaji tiga tingkatan abstraksi yaitu (1) Fungsi sosial mengenai pengaruh terhadap adat, tingkah laku manusia dan pranata sosial, (2) Fungsi sosial mengenai pengaruh terhadap kebutuhan suatu adat, (3) Fungsi sosial mengenai pengaruh terhadap kebutuhan mutlak secara terintegrasi dari suatu sistem sosial tertentu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pendekatan kualitatif, dengan jenis penelitian etnografi. Pemilihan informan dilakukan secara teknik purposive sampling dengan 8 orang informan, pengumpulan data dilakukan secara observasi, wawancara mendalam, studi kepustakaan, dan studi dokumentasi. Untuk mengkaji kredibilitas dari penelitian digunakan teknik triangulasi data. Data dianalisis dengan teknik model analisis data berlangsung atau mengalir (flow model analysis) Miles dan Huberman dengan cara pengumpulan data, reduksi data, display data, dan verifikasi/menarik kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan ziarah kubur tetap dilakukan oleh masyarakat Tarekat Syattariyyah pada masa pandemi Covid-19 disebabkan karena adanya keyakinan yang kuat, anggapan masyarakat tentang penyakit yang datang dari Tuhan, dan penghormatan kepada Syekh Burhanuddin serta menganggap makam tersebut adalah makam keramat.
Tontoang Kayu: Revival Kesenian Tradisional Minangkabau
Rani Sagita Putri;
Erda Fitriani;
Lia Amelia
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 4 No 2 (2022): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (December 2022)
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24036/csjar.v4i2.110
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan revival tontoang kayu serta proses yang dilakukan masyarakat dalam revival kesenian tontoang kayu. Tontoang kayu ini adalah jenis alat musik pukul, dimainkan sambil berdiri. Tontoang kayu ini digantung dengan kayu yang kuat dan dipukul dengan pemukul seperti talempong biasanya. Keberadaan tontoang kayu ini sudah lama hilang, kemudian masyarakat menghidupkan atau membangkitkan kembali kesenian tontoang kayu tersebut. Penelitian ini dianalisis dengan teori etnosains oleh James P. Spradley. Teknik pemilihan informan yaitu purposive sampling dengan jumlah informan 12 orang. Data dikumpulkan melalui teknik wawancara mendalam dan observasi partisipasi aktif. Teknik triangulasi yang digunakan adalah pemeriksaan melalui sumber dan analisis data yang digunakan merupakan model analisis data menurut J.P Spradley. Berdasarkan hasil penelitian yang peneliti lakukan ditemukan bahwa: faktor revival tontoang kayu adalah upaya memajukan pariwisata di Jorong Guguak menjadi daya tarik pariwisata serta kepedulian masyarakat terhadap kesenian tradisional yang ada di Jorong Guguak dalam rangka pelestarian budaya. Proses dalam revival kesenian tontoang kayu yaitu: menggali alat musik kesenian tradisional tontoang kayu, melatih generasi muda untuk memainkan alat musik kesenian tontoang kayu serta menari piring yang diiringi oleh alat musik, menampilkan kesenian tradisional tontoang kayu di pesta pernikahan, baik masyarakat Jorong Guguak maupun masyarakat luar Jorong Guguak, pertunjukan di depan wisatawan yang sedang menikmati keindahan alam serta mempromosikan kesenian tradisional tontoang kayu di media sosial.
Fungsi Sekolah Incung dalam Pelestarian Aksara Kerinci
Tasha Soliha Ayunda;
Erda Fitriani;
Emizal Amri
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 4 No 2 (2022): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (December 2022)
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24036/csjar.v4i2.111
Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan fungsi Sekolah Incung dalam pelestarian aksara Kerinci melalui pendidikan non formal. Hal ini menarik untuk dikaji karena aksara Incung merupakan salah satu ciri khas daerah Kerinci perlu untuk diperkenalkan dan dipelajari oleh seluruh masyarakat Kerinci. Namun faktanya pelestarian aksara Incung belum tercapai ke seluruh masyarakat Kerinci secara keseluruhan. Sehingga pada pelestarian aksara Incung ini perlunya sebuah wadah yang bisa lebih berfokus kepada pelestarian aksara Incung. Pada penelitian ini.dianalisis.menggunakan teori fungsionalisme dari Bronislaw Malinowski yang pada asumsi dasar teori ini adalah bahwa semua unsur kebudayaan bermanfaat bagi semua masyarakat. Penelitian ini dilaksanakan menggunakan pendekatan kualitatif dengan tipe studi kasus. Kemudian untuk teknik pemilihan informan menggunakan teknik purposive sampling. Perolehan data penelitian didapat dari hasil observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Untuk penelitian ini menggunakan teknik analisis data dari Miles dan Huberman. Pada hasil penelitian yang peneliti teliti.menjelaskan bahwa fungsi Sekolah Incung dalam melestarikan kebudayaan Tradisional Incung di.Desa.Gedang,.Kecamatan.Sungai Penuh,.Kota Sungai.Penuh, adalah: 1) Sekolah Incung memiliki fungsi mengedukasi kepada para peserta untuk menambah wawasan serta ilmu budaya khususnya aksara Incung kepada generasi muda, 2) Sekolah Incung memiliki fungsi meliterasikan generasi muda bagaimana cara membaca dan menulis aksara Incung, 3) Sekolah Incung memiliki fungsi pelestarian karena aktivitas atau program-program yang mereka lakukan menunjukkan upaya pelestarian aksara Kerinci.
Makna Upacara Utang Tahunan Masyarakat Melayu Indragiri Hulu
Jhon Milap Moranovan Sembiring;
Erda Fitriani;
Adri Febrianto
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 4 No 2 (2022): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (December 2022)
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24036/csjar.v4i2.113
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan makna Upacara Utang Tahunan yang dilaksanakan oleh masyarakat desa Pondok Gelugur. Utang Tahunan adalah upacara yang dilakukan untuk menolak bala, bencana, maupun mala petaka yang akan menimpa masyarakat.. Penelitian ini dianalisis dengan teori interpretivisme simbolik oleh Clifford Geertz. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan tipe penelitian studi etnografi. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi partisipan, wawancara mendalam dan studi dokumentasi, validitas data dilakukan dengan teknik triangulasi sumber. Analisis data dilakukan dengan analisis interpretivisme. Lokasi penelitian ini terletak di Desa Pondok Gelugur. Teknik pemilihan informan dilakukan dengan teknik Snowball Sampling dengan jumlah informan keseluruhannya 12 orang yang terdiri dari ketua RT, ketua adat, datuk dan warga masyarakat yang mengetahui tentang Upacara Utang Tahunan. Berdasarkan hasil penelitian ini ditemukan bahwa makna yang terkandung dalam Upacara Utang Tahunan yang dilaksanakan masyarakat Desa Pondok Gelugur yaitu sebagai ajang silatuhrahmi antara kerabat serta anggota keluarga, sebagai ajang bersedekah bagi orang yang punya niek telah memberikan makan kepada masyarakat yang hadir untuk menyaksikan atau melihat upacara, sebagai ajang tolong-menolong untuk memperkuatkan solidaritas sosial antar sesama anggota keluarga.