cover
Contact Name
Lira Mufti Azzahri Isnaeni
Contact Email
liramuftiazzahri.isnaeni@gmail.com
Phone
+6285271651482
Journal Mail Official
prepotifjurnalkesmas.up@gmail.com
Editorial Address
Jl. Tuanku Tambusai 23 Bangkinang, Kampar, Riau
Location
Kab. kampar,
Riau
INDONESIA
PREPOTIF : Jurnal Kesehatan Masyarakat
ISSN : 26231573     EISSN : 26231581     DOI : https://doi.org/10.31004/prepotif
Core Subject : Health,
PREPOTIF Jurnal Kesehatan Masyarakat adalah bidang kesehatan yang luas seperti kesehatan masyarakat, Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Epidemiologi, keperawatan, kebidanan, kedokteran, farmasi, psikologi kesehatan, nutrisi, teknologi kesehatan, analisis kesehatan, sistem informasi kesehatan, hukum kesehatan, rumah sakit manajemen, Ekonomi Kesehatan, Kebijakan Kesehatan, kesehatan lingkungan dan sebagainya.
Articles 2,155 Documents
EFEKTIVITAS STRATEGI ACTIVE CASE FINDING DALAM PENEMUAN KASUS TB : KAJIAN SISTEMATIS DARI STUDI GLOBAL Ferotillah, Maqh; Hasyim, Hamzah; Syakurah, Rizma Adlia
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 3 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i3.52129

Abstract

Penemuan kasus Tuberkulosis (TB) merupakan komponen penting dalam pengendalian penyakit. Studi ini menelaah faktor-faktor yang memengaruhi efektivitas strategi Active case finding (ACF) di Indonesia melalui analisis literatur kualitatif menggunakan wawancara mendalam, focus group discussion, dan observasi partisipatif. Sintesis data dilakukan secara naratif dengan thematic analysis dan convergent integrated approach untuk memahami keberhasilan dan hambatan pelaksanaan program secara holistik. Hasil kajian menunjukkan bahwa faktor individu, termasuk tingkat pengetahuan, persepsi risiko, dan perilaku pencarian pengobatan, serta stigma sosial berperan penting dalam deteksi kasus TB. Kondisi social ekonomi, seperti kemiskinan, kepadatan penduduk, dan rendahnya pendidikan, membatasi akses terhadap fasilitas kesehatan. Faktor lingkungan, termasuk sanitasi buruk dan ventilasi tidak memadai, meningkatkan risiko penularan, sementara kapasitas sistem kesehatan, pelatihan, supervisi, fasilitas diagnostik, serta dukungan kebijakan dan integrasi lintas sektor menjadi determinan penting dalam keberhasilan ACF. Temuan ini menegaskan perlunya pendekatan holistik yang menggabungkan pemberdayaan masyarakat, penguatan SDM, dan dukungan kebijakan untuk mempercepat penemuan kasus TB, sesuai dengan rekomendasi End TB Strategy WHO.
HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN IBU DAN PERILAKU HIDUP BERSIH SEHAT (PHBS) DENGAN STATUS GIZI BALITA (BB/U) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS GATAK SUKOHARJO Setyoningsih, Wiwit; Nurokhmah, Siti; Ekorinawati, Wiwik
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 3 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Permasalahan gizi pada anak masih menjadi isu kesehatan baik ditingkat global maupun nasional. Di Indonesia, prevalensi underweight mencapai 17,1% pada tahun 2022. Faktor yang mempengaruhi status gizi balita antara lain tingkat pendidikan ibu dan perilaku hidup bersih sehat (PHBS) di rumah tangga. Pendidikan ibu berperan secara tidak langsung terhadap status gizi balita, sedangkan praktik PHBS berpotensi mencegah terjadinya masalah gizi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pendidikan ibu dan PHBS dengan status gizi balita berdasarkan indeks berat badan menurut umur (BB/U) di wilayah kerja Puskesmas Gatak, Kabupaten Sukoharjo. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan melibatkan 86 responden. Data tingkat pendidikan ibu dan PHBS dikumpulkan melalui wawancara terstruktur dan kuesioner. Data antropometri diperoleh melalui pengukuran berat badan menggunakan timbangan digital dan status gizi ditentukan berdasarkan nilai Z-score BB/U. Analisis data dilakukan dengan uji Korelasi Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar ibu memiliki tingkat pendidikan menengah atas dengan rata-rata lama pendidikan 11,9 tahun. Rata-rata skor PHBS rumah tangga yaitu 14,09. Status gizi balita berdasarkan nilai Z-score BB/U mayoritas memiliki status gizi normal dengan rata-rata nilai Z-score -0,93. Hasil analisis menunjukkan bahwa tingkat pendidikan ibu berhubungan signifikan dengan status gizi balita BB/U (r = 0,367; p < 0,001), demikian pula PHBS berhubungan signifikan dengan status gizi balita BB/U (r = 0,475; p < 0,001). Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan ibu dan PHBS dengan status gizi balita berdasarkan indeks BB/U.  
EVALUASI MANAJEMEN PENGELOLAAN OBAT DI INSTALASI FARMASI DINAS KESEHATAN KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT, JAMBI Astriana, Meira; Nina, Nina; Zaharudin, Zaharudin
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 3 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i3.52211

Abstract

Manajemen pengelolaan obat berperan penting dalam menjamin ketersediaan dan mutu pelayanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi manajemen pengelolaan obat di Instalasi Farmasi Dinas Kesehatan Kabupaten Tanjung Jabung Barat.Penelitian ini menggunakan model evaluasi CIPP (Context, Input, Process, Product). Penelitian dilakukan secara deskriptif kualitatif melalui wawancara, observasi langsung, dan studi dokumentasi berdasarkan instrumen Self Assessment Dirjen Farmalkes Kementerian Kesehatan RI. Evaluasi pada aspek Context menunjukkan bahwa program pengelolaan obat mendukung upaya peningkatan mutu pelayanan, namun masih dihadapkan pada keterbatasan infrastruktur dan anggaran. Pada aspek Input, ditemukan penurunan kualitas sumber daya, termasuk kurangnya tenaga teknis terlatih serta sarana prasarana yang belum memenuhi standar, terutama ruang penyimpanan dan peralatan distribusi. Aspek Process menunjukkan adanya perbaikan pada sistem manajemen, seperti perencanaan dan pencatatan yang semakin sesuai standar. Pada aspek Product, skor Self Assessment tahun 2023 mencapai 84,13% dan sedikit menurun menjadi 83,70% di tahun 2024, tetap berada di atas ambang batas standar nasional (>80%). Pengelolaan obat secara umum telah berjalan sesuai standar, khususnya dari sisi proses manajemen. Namun, penurunan pada komponen sumber daya perlu menjadi fokus perbaikan. Rekomendasi strategis diperlukan dalam penguatan SDM, peningkatan sarana penyimpanan, serta pembentukan sistem evaluasi berkelanjutan guna menjamin keberlangsungan pelayanan farmasi yang efektif dan efisien.
KOEKSISTENSI SINDROM NEFRITIK DAN NEFROTIK PADA ANAK USIA 3 TAHUN : LAPORAN KASUS Tjandra, Kenny; Hidajati, Zuhriah; Setiawan, Fanuel
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 3 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i3.52213

Abstract

Secara global, infeksi streptokokus dan penyakit ginjal pascainfeksi masih menjadi penyebab penting morbiditas pada populasi anak, terutama di negara berkembang. Glomerulonefritis akut pascainfeksi (GNAPS) umumnya bermanifestasi sebagai sindrom nefritik klasik dengan hematuria, edema, dan hipertensi. Namun, pada sebagian kecil kasus, dapat ditemukan gambaran tumpang tindih antara sindrom nefritik dan nefrotik sehingga menimbulkan tantangan diagnostik maupun terapeutik. Koeksistensi kedua sindrom ini pada anak merupakan kondisi yang relatif jarang dan sering kali mengindikasikan proses inflamasi glomerulus yang lebih berat. Dalam laporan ini dipresentasikan seorang anak perempuan berusia 3 tahun dengan keluhan BAK merah sejak 3 hari, demam, edema wajah, serta muntah berulang. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan hematuria masif, proteinuria signifikan, peningkatan leukosit, serta penurunan C3. USG ginjal memperlihatkan peningkatan ekogenisitas korteks yang mengarah pada proses kronis. Pasien didiagnosis dengan kombinasi GNAPS, sindrom nefritik, dan nefrotik, kemudian ditatalaksana dengan terapi suportif, kontrol tekanan darah, diuretik, antibiotik, kortikosteroid, dan direncanakan untuk biopsi ginjal. Laporan ini menegaskan pentingnya kewaspadaan klinis terhadap kemungkinan tumpang tindih sindrom nefritik dan nefrotik pada anak dengan hematuria dan edema, karena kondisi ini memiliki implikasi klinis dan prognosis yang berbeda dibandingkan presentasi tunggal.
PENGARUH MINUM KOPI TERHADAP TEKANAN DARAH PADA MASYARAKAT WILAYAH PUSKESMAS BUKATEJA Lestari, Margi; Martin, Alfianto
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 3 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i3.52226

Abstract

Kopi merupakan minuman yang sudah dikonsumsi sejak dahulu hingga saat ini dan menjadi bagian dari sebagian masyarakat Indonesia. Senyawa aktif kafein yang terkandung di dalam kopi diketahui dapat mempengaruhi tekanan darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan rerata tekanan darah sebelum dan sesudah minum kopi pada masyarakat wilayah Puskesmas Bukateja. Penelitian ini merupakan penelitian experimental secara pretest-posttest design yang dilaksanakan di wilayah Puskesmas Bukateja bulan Juli 2022-April 2023. Sampel penelitian adalah masyarakat Desa Tidu, Kecamatan Bukateja yang berusia 18-65 tahun dan mengkonsumsi kopi. Sampel diperoleh secara consecutive non-random sampling. Analisis data dilakukan dengan aplikasi SPSS. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 34 (68%) responden dari 50 responden mengkonsumsi kopi secara rutin setiap hari. Rerata tekanan darah sistolik sebelum minum kopi adalah 131,98 ± 19,58 mmHg dan tekanan darah diastolik 85,26 ± 10,43 mmHg. Tekanan darah sistolik setelah minum kopi pada 15 menit sebesar 132,86 ± 18,67 mmHg, pada 30 menit sebesar 128,38 ± 16,37 mmHg, pada 60 menit sebesar 127,72 ± 18,32 mmHg dan tekanan darah diastolik setelah minum kopi pada 15 menit sebesar 85,08 ± 9,52 mmHg, 30 menit sebesar 84,16 ± 9,16 mmHg dan 60 menit sebesar 83,70 ± 10,58  mmHg. Terdapat perbedaan rerata signifikan dari tekanan darah sistolik sebelum minum minum kopi dengan setelah 30 dan 60 menit minum kopi, serta perbedaan rerata signifikan dari tekanan darah diastolik sebelum minum kopi dengan setelah 60 menit minum kopi