cover
Contact Name
Lira Mufti Azzahri Isnaeni
Contact Email
liramuftiazzahri.isnaeni@gmail.com
Phone
+6285271651482
Journal Mail Official
prepotifjurnalkesmas.up@gmail.com
Editorial Address
Jl. Tuanku Tambusai 23 Bangkinang, Kampar, Riau
Location
Kab. kampar,
Riau
INDONESIA
PREPOTIF : Jurnal Kesehatan Masyarakat
ISSN : 26231573     EISSN : 26231581     DOI : https://doi.org/10.31004/prepotif
Core Subject : Health,
PREPOTIF Jurnal Kesehatan Masyarakat adalah bidang kesehatan yang luas seperti kesehatan masyarakat, Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Epidemiologi, keperawatan, kebidanan, kedokteran, farmasi, psikologi kesehatan, nutrisi, teknologi kesehatan, analisis kesehatan, sistem informasi kesehatan, hukum kesehatan, rumah sakit manajemen, Ekonomi Kesehatan, Kebijakan Kesehatan, kesehatan lingkungan dan sebagainya.
Articles 2,239 Documents
EFEKTIVITAS STRATEGI ACTIVE CASE FINDING DALAM PENEMUAN KASUS TB : KAJIAN SISTEMATIS DARI STUDI GLOBAL Ferotillah, Maqh; Hasyim, Hamzah; Syakurah, Rizma Adlia
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 3 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i3.52129

Abstract

Penemuan kasus Tuberkulosis (TB) merupakan komponen penting dalam pengendalian penyakit. Studi ini menelaah faktor-faktor yang memengaruhi efektivitas strategi Active case finding (ACF) di Indonesia melalui analisis literatur kualitatif menggunakan wawancara mendalam, focus group discussion, dan observasi partisipatif. Sintesis data dilakukan secara naratif dengan thematic analysis dan convergent integrated approach untuk memahami keberhasilan dan hambatan pelaksanaan program secara holistik. Hasil kajian menunjukkan bahwa faktor individu, termasuk tingkat pengetahuan, persepsi risiko, dan perilaku pencarian pengobatan, serta stigma sosial berperan penting dalam deteksi kasus TB. Kondisi social ekonomi, seperti kemiskinan, kepadatan penduduk, dan rendahnya pendidikan, membatasi akses terhadap fasilitas kesehatan. Faktor lingkungan, termasuk sanitasi buruk dan ventilasi tidak memadai, meningkatkan risiko penularan, sementara kapasitas sistem kesehatan, pelatihan, supervisi, fasilitas diagnostik, serta dukungan kebijakan dan integrasi lintas sektor menjadi determinan penting dalam keberhasilan ACF. Temuan ini menegaskan perlunya pendekatan holistik yang menggabungkan pemberdayaan masyarakat, penguatan SDM, dan dukungan kebijakan untuk mempercepat penemuan kasus TB, sesuai dengan rekomendasi End TB Strategy WHO.
HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN IBU DAN PERILAKU HIDUP BERSIH SEHAT (PHBS) DENGAN STATUS GIZI BALITA (BB/U) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS GATAK SUKOHARJO Setyoningsih, Wiwit; Nurokhmah, Siti; Ekorinawati, Wiwik
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 3 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Permasalahan gizi pada anak masih menjadi isu kesehatan baik ditingkat global maupun nasional. Di Indonesia, prevalensi underweight mencapai 17,1% pada tahun 2022. Faktor yang mempengaruhi status gizi balita antara lain tingkat pendidikan ibu dan perilaku hidup bersih sehat (PHBS) di rumah tangga. Pendidikan ibu berperan secara tidak langsung terhadap status gizi balita, sedangkan praktik PHBS berpotensi mencegah terjadinya masalah gizi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pendidikan ibu dan PHBS dengan status gizi balita berdasarkan indeks berat badan menurut umur (BB/U) di wilayah kerja Puskesmas Gatak, Kabupaten Sukoharjo. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan melibatkan 86 responden. Data tingkat pendidikan ibu dan PHBS dikumpulkan melalui wawancara terstruktur dan kuesioner. Data antropometri diperoleh melalui pengukuran berat badan menggunakan timbangan digital dan status gizi ditentukan berdasarkan nilai Z-score BB/U. Analisis data dilakukan dengan uji Korelasi Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar ibu memiliki tingkat pendidikan menengah atas dengan rata-rata lama pendidikan 11,9 tahun. Rata-rata skor PHBS rumah tangga yaitu 14,09. Status gizi balita berdasarkan nilai Z-score BB/U mayoritas memiliki status gizi normal dengan rata-rata nilai Z-score -0,93. Hasil analisis menunjukkan bahwa tingkat pendidikan ibu berhubungan signifikan dengan status gizi balita BB/U (r = 0,367; p < 0,001), demikian pula PHBS berhubungan signifikan dengan status gizi balita BB/U (r = 0,475; p < 0,001). Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan ibu dan PHBS dengan status gizi balita berdasarkan indeks BB/U.  
EVALUASI MANAJEMEN PENGELOLAAN OBAT DI INSTALASI FARMASI DINAS KESEHATAN KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT, JAMBI Astriana, Meira; Nina, Nina; Zaharudin, Zaharudin
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 3 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i3.52211

Abstract

Manajemen pengelolaan obat berperan penting dalam menjamin ketersediaan dan mutu pelayanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi manajemen pengelolaan obat di Instalasi Farmasi Dinas Kesehatan Kabupaten Tanjung Jabung Barat.Penelitian ini menggunakan model evaluasi CIPP (Context, Input, Process, Product). Penelitian dilakukan secara deskriptif kualitatif melalui wawancara, observasi langsung, dan studi dokumentasi berdasarkan instrumen Self Assessment Dirjen Farmalkes Kementerian Kesehatan RI. Evaluasi pada aspek Context menunjukkan bahwa program pengelolaan obat mendukung upaya peningkatan mutu pelayanan, namun masih dihadapkan pada keterbatasan infrastruktur dan anggaran. Pada aspek Input, ditemukan penurunan kualitas sumber daya, termasuk kurangnya tenaga teknis terlatih serta sarana prasarana yang belum memenuhi standar, terutama ruang penyimpanan dan peralatan distribusi. Aspek Process menunjukkan adanya perbaikan pada sistem manajemen, seperti perencanaan dan pencatatan yang semakin sesuai standar. Pada aspek Product, skor Self Assessment tahun 2023 mencapai 84,13% dan sedikit menurun menjadi 83,70% di tahun 2024, tetap berada di atas ambang batas standar nasional (>80%). Pengelolaan obat secara umum telah berjalan sesuai standar, khususnya dari sisi proses manajemen. Namun, penurunan pada komponen sumber daya perlu menjadi fokus perbaikan. Rekomendasi strategis diperlukan dalam penguatan SDM, peningkatan sarana penyimpanan, serta pembentukan sistem evaluasi berkelanjutan guna menjamin keberlangsungan pelayanan farmasi yang efektif dan efisien.
KOEKSISTENSI SINDROM NEFRITIK DAN NEFROTIK PADA ANAK USIA 3 TAHUN : LAPORAN KASUS Tjandra, Kenny; Hidajati, Zuhriah; Setiawan, Fanuel
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 3 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i3.52213

Abstract

Secara global, infeksi streptokokus dan penyakit ginjal pascainfeksi masih menjadi penyebab penting morbiditas pada populasi anak, terutama di negara berkembang. Glomerulonefritis akut pascainfeksi (GNAPS) umumnya bermanifestasi sebagai sindrom nefritik klasik dengan hematuria, edema, dan hipertensi. Namun, pada sebagian kecil kasus, dapat ditemukan gambaran tumpang tindih antara sindrom nefritik dan nefrotik sehingga menimbulkan tantangan diagnostik maupun terapeutik. Koeksistensi kedua sindrom ini pada anak merupakan kondisi yang relatif jarang dan sering kali mengindikasikan proses inflamasi glomerulus yang lebih berat. Dalam laporan ini dipresentasikan seorang anak perempuan berusia 3 tahun dengan keluhan BAK merah sejak 3 hari, demam, edema wajah, serta muntah berulang. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan hematuria masif, proteinuria signifikan, peningkatan leukosit, serta penurunan C3. USG ginjal memperlihatkan peningkatan ekogenisitas korteks yang mengarah pada proses kronis. Pasien didiagnosis dengan kombinasi GNAPS, sindrom nefritik, dan nefrotik, kemudian ditatalaksana dengan terapi suportif, kontrol tekanan darah, diuretik, antibiotik, kortikosteroid, dan direncanakan untuk biopsi ginjal. Laporan ini menegaskan pentingnya kewaspadaan klinis terhadap kemungkinan tumpang tindih sindrom nefritik dan nefrotik pada anak dengan hematuria dan edema, karena kondisi ini memiliki implikasi klinis dan prognosis yang berbeda dibandingkan presentasi tunggal.
PENGARUH MINUM KOPI TERHADAP TEKANAN DARAH PADA MASYARAKAT WILAYAH PUSKESMAS BUKATEJA Lestari, Margi; Martin, Alfianto
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 3 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i3.52226

Abstract

Kopi merupakan minuman yang sudah dikonsumsi sejak dahulu hingga saat ini dan menjadi bagian dari sebagian masyarakat Indonesia. Senyawa aktif kafein yang terkandung di dalam kopi diketahui dapat mempengaruhi tekanan darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan rerata tekanan darah sebelum dan sesudah minum kopi pada masyarakat wilayah Puskesmas Bukateja. Penelitian ini merupakan penelitian experimental secara pretest-posttest design yang dilaksanakan di wilayah Puskesmas Bukateja bulan Juli 2022-April 2023. Sampel penelitian adalah masyarakat Desa Tidu, Kecamatan Bukateja yang berusia 18-65 tahun dan mengkonsumsi kopi. Sampel diperoleh secara consecutive non-random sampling. Analisis data dilakukan dengan aplikasi SPSS. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 34 (68%) responden dari 50 responden mengkonsumsi kopi secara rutin setiap hari. Rerata tekanan darah sistolik sebelum minum kopi adalah 131,98 ± 19,58 mmHg dan tekanan darah diastolik 85,26 ± 10,43 mmHg. Tekanan darah sistolik setelah minum kopi pada 15 menit sebesar 132,86 ± 18,67 mmHg, pada 30 menit sebesar 128,38 ± 16,37 mmHg, pada 60 menit sebesar 127,72 ± 18,32 mmHg dan tekanan darah diastolik setelah minum kopi pada 15 menit sebesar 85,08 ± 9,52 mmHg, 30 menit sebesar 84,16 ± 9,16 mmHg dan 60 menit sebesar 83,70 ± 10,58  mmHg. Terdapat perbedaan rerata signifikan dari tekanan darah sistolik sebelum minum minum kopi dengan setelah 30 dan 60 menit minum kopi, serta perbedaan rerata signifikan dari tekanan darah diastolik sebelum minum kopi dengan setelah 60 menit minum kopi
ANALISIS RISIKO K3 DENGAN METODE HIRARC (HAZARD IDENTIFICATION, RISK ASSESSMENT, AND RISK CONTROL) PADA PEKERJA PRODUKSI PENGOLAHAN KAYU DI PT BUKIT INTAN ABADI MEDAN Sitorus, Mido Ester J.; Hia, Niscaya Kristiani; Damanik, Rani Kawati; Rajagukguk, Desy Lustiyani
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 3 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i3.11220

Abstract

Industri pengolahan kayu memiliki potensi tinggi terhadap risiko kecelakaan kerja, terutama di bagian produksi yang melibatkan mesin, bahan kimia, dan aktivitas fisik berulang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis risiko K3 pada pekerja produksi di PT Bukit Intan Abadi Medan. Ruang lingkup penelitian mencakup identifikasi bahaya, penilaian risiko berdasarkan kemungkinan dan keparahan, serta mengetahui upaya pengendalian risiko yang diterapkan pada bagian produksi. Penelitian dilakukan pada bulan Maret hingga Juli 2025 dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Informan berjumlah 12 orang yang dipilih melalui teknik snowball sampling, terdiri dari manajer produksi, staf HSE, operator forklift, dan pekerja produksi. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis dilakukan menggunakan metode HIRARC (Hazard Identification, Risk Assessment, and Risk Control). Hasil penelitian menunjukkan adanya berbagai jenis bahaya kerja, yaitu bahaya mekanik (terjepit, tersayat, tertimpa), bahaya fisik (kebisingan, suhu tinggi, serpihan kayu, korsleting listrik), bahaya kimia (uap bahan pengawet dan lem), serta bahaya ergonomi akibat postur kerja tidak ergonomis dan aktivitas berulang. Penilaian risiko menunjukkan sebagian besar aktivitas berada pada tingkat risiko sedang hingga sangat tinggi, dengan dua aktivitas tergolong ekstrim. Upaya pengendalian risiko dilakukan melalui pendekatan rekayasa teknis, administratif, dan penggunaan alat pelindung diri (APD), namun implementasinya belum optimal karena rendahnya kepatuhan dan kurangnya pelatihan K3. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengendalian risiko K3 masih perlu dikembangkan lebih lanjut.
GAMBARAN KARAKTERISTIK LUKA TAJAM PADA KORBAN MENINGGAL DI RSD GUNUNG JATI CIREBON TAHUN 2022 – 2024 Caesar, Sectio Putra; Sutara, Sutara; Wibisono, Bambang
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 3 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i3.49918

Abstract

Luka tajam merupakan salah satu bentuk trauma yang sering ditemukan dalam praktik kedokteran forensik, terutama pada kasus kekerasan yang menyebabkan kematian. Luka jenis ini ditimbulkan oleh benda tajam seperti pisau, silet, atau senjata tajam lainnya dan dapat menyebabkan kerusakan jaringan mulai dari ringan hingga fatal. Di Indonesia, angka kejadian kekerasan fisik yang berujung pada luka tajam cukup tinggi, mencapai 25,4% dalam beberapa tahun terakhir dan menjadi perhatian serius di bidang kesehatan, hukum, dan sosial. Karakteristik luka tajam pada korban meninggal dapat memberikan informasi penting tidak hanya dalam upaya medis, tetapi juga dalam proses investigasi hukum, seperti mengidentifikasi jenis senjata, arah serangan, hingga mekanisme kematian. Mengetahui gambaran karakteristik luka tajam pada korban meninggal di RSD Gunung Jati Cirebon tahun 2022 -2024 berdasarkan lokasi, bentuk, kedalaman, batas, dan dasar luka. Penelitian ini menerapkan desain deskriptif retrospektif dengan metode pengambilan sampel secara total. Sebanyak 63 data Visum et Repertum korban meninggal akibat luka tajam dianalisis secara univariat untuk menggambarkan karakteristik luka. Lokasi luka terbanyak ditemukan di kepala (69,8%), bentuk luka paling sering berupa luka sayat (69,8%), kedalaman luka terbanyak pada lapisan epidermis (52,4%), batas luka dominan tidak rata (55,6%), dan dasar luka paling sering mencapai tulang (58,7%). Karakteristik luka tajam paling sering ditemukan di kepala, dengan bentuk sayat, kedalaman pada epidermis, batas tidak rata, serta dasar luka berupa tulang. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam pengembangan ilmu forensik dan penegakan hukum.
GAMBARAN KEPADATAN TIKUS DI PELABUHAN LAUT MANADO Sahabati, Grania Virgie; Joseph, Woodford B. S.; Danes, Vennetia R.
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 3 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i3.52503

Abstract

Tikus dapat beradaptasi dengan sukses di lingkungan manusia, seperti pelabuhan, jika lingkungan tersebut mendukung kelangsungan hidup mereka. Tikus dapat membawa infeksi yang menyebabkan penyakit pada manusia, yang berdampak buruk pada kehidupan manusia. Leptospirosis dapat ditularkan melalui air liur dan urine tikus. Wabah pes ditularkan melalui gigitan kutu tikus, dan tikus juga dapat menyebarkan rabies, trichinosis, salmonellosis, rickettsial pox, dan tifus tikus. Tujuan dari penelitian ini untuk mengidentifikasi jenis tikus di area Pelabuhan Laut Manado dan mengetahui angka kepadatan tikus di Pelabuhan Laut Manado. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif observasional yang bertujuan untuk menggambarkan kepadatan tikus di pelabuhan berdasarkan hasil penangkapan selama periode tertentu. Populasi dari penelitian ini seluruh tikus yang ada di Pelabuhan Laut Manado, dan untuk sampel dari penelitian ini yaitu semua tikus yang tertangkap di Pelabuhan laut manado. Perangkap yang digunakan yaitu singel trap yang dipasang di 21 titik yang ada di wilayah Pelabuhan Laut Manado. Umpan yang digunakan yaitu ikan asin.  Berdasarkan hasil penelitian selama 5 hari dengan jumlah perangkap yang diletakkan sebanyak 100 perangkap didapatkan 28 ekor tikus, jenis tikus yang tertangkap yaitu Rattus novergicus sebanyak 22 ekor, dan Mencit sebanyak 6 ekor. Nilai Success Trap kepadatan tikus di Pelabuhan Laut Manado yaitu 28% berdasarkan Permenkes Nomor 2 Tahun 2023 SBMKL untuk kepadatan tikus yaitu <1% maka dapat disimpulkan bahwa kepadatan tikus di Pelabuhan Laut manado tergolong tinggi dan belum memenuhi syarat dan perlu dilakukan pengendalian.  
SPASTIC QUADRIPLEGIC CEREBRAL PALSY WITH EXPOSED MALUNION BONE AT BILATERAL PROXIMAL HUMERUS AND DISTAL FEMUR Azmy, Abdullah; Sananta, Panji; Nasrizarni, Nasrizarni
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 10 No. 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v10i1.53513

Abstract

Anak dengan cerebral palsy berisiko mengalami fraktur kerapuhan akibat rendahnya densitas tulang yang disebabkan oleh berbagai etiologi. Status ambulasi pada pasien cerebral palsy merupakan salah satu faktor yang dapat memengaruhi densitas tulang. Penatalaksanaan fraktur pada kondisi ini sering kali berakhir dengan malunion, baik dengan terapi non-operatif maupun operatif. Spastic quadriplegic cerebral palsy (SQCP) merupakan tipe yang berat, menyebabkan kelumpuhan dan kekakuan otot pada kedua lengan dan tungkai, serta dapat memperberat proses penyembuhan fraktur tulang. Seorang gadis berusia 9 tahun telah mengeluhkan luka terbuka di bahu kanan dan kiri serta lutut kiri sejak 4 bulan yang lalu. Pemeriksaan radiografis pada kedua bahu dan lutut menunjukkan malunion pada humerus proksimal bilateral dan femur distal kiri. Pasien didiagnosis menderita cerebral palsy spastik quadriplegia GMFCS V dengan tulang malunion yang terekspos pada humerus proksimal bilateral dan femur distal. Kemudian ia diobati dengan antibiotik ampicillin sulbactam, luka dibersihkan (debridement), dilakukan osteotomi, dan penutupan luka primer. Penderita cerebral palsy GMFCS IV dan V memiliki insidensi fraktur tulang yang lebih tinggi, dan hal ini terkait langsung dengan densitas mineral tulang (BMD). Beban mekanis, baik akibat kontraksi otot maupun beban gravitasi, menyebabkan deformasi tulang dan meningkatkan kekuatan tulang. Spastisitas ditandai dengan peningkatan tonus otot, refleks yang hiperaktif, dan kehilangan gerakan sendi yang menyebabkan kontraktur.
PENGARUH KONSUMSI ULTRA-PROCESSED FOODS DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI PADA WANITA USIA PRODUKTIF DI KOTA PALU Nisa, Nur Ainun; Rau, Muhammad Jusman; Sumarni, Sumarni; Nur, Rosmala; Tangkas, I Made
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 10 No. 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v10i1.53759

Abstract

Konsumsi makanan ultra-proses (ultra-processed foods) telah menjadi fenomena global yang semakin meningkat dalam beberapa dekade terakhir. Perubahan gaya hidup, urbanisasi, dan globalisasi telah mengubah pola makan masyarakat, di mana makanan cepat saji dan produk olahan menjadi pilihan utama bagi banyak individu. Konsumsi UPF pada wanita usia produktif dapat berdampak negatif terhadap pemenuhan kebutuhan gizi dan kesehatan secara keseluruhan termasuk menyebabkan hipertensi. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis hubungan konsumsi ultra-processed foods dengan kejadian hipertensi pada wanita usia produktif di Kota Palu. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendekatan case-control, jumlah sampel dalam penelitian berjumlah 120 wanita berusia 18-44 tahun, kasus dan kontrol masing-masing sebanyak 60 responden, dengan menggunakan teknik pengambilan sampel Standley Lemeshow. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis bivariat Chi - Square dan multivariat Regresi Logistik Berganda . Hasil Penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara tingkat pendapatan (p=0,017) (OR : 2,723 ) [CI 95% 1.178-6.294], indeks massa tubuh (p=0,034) (OR : 2,440) [CI 95% 1.046-5,693], aktivitas fisik (p=0,047) (OR : 2,331 ) [CI 95% 1.000-5.435], dengan konsumsi ultra-processed foods pada wanita usia produktif di Kota Palu. Hasil analisis Multivariat menunjukkan terdapat hubungan antara konsumsi ultra-processed foods dengan kejadian hipertensi (p=0,014) (AOR : 3,107 )