cover
Contact Name
Sri Haryanto
Contact Email
manarulquran@unsiq.ac.id
Phone
+62286-321873
Journal Mail Official
manarulquran@unsiq.ac.id
Editorial Address
Jl. Raya Kalibeber Km. 03 Mojotengah, Wonosobo, Jawa Tengah
Location
Kab. wonosobo,
Jawa tengah
INDONESIA
Manarul Qur'an: Jurnal Ilmiah Studi Islam
ISSN : 14127075     EISSN : 26154811     DOI : https://doi.org/10.32699/mq
Core Subject : Religion,
Manarul Quran adalah terbitan berkala ilmiah dengan nomor ISSN 1412-7075 (print), 2615-4811 (online) yang dikelola oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP3M) UNSIQ Jawa Tengah di Wonosobo, jurnal ini terbit sejak tahun 2001. Manarul Quran merupakan wahana desiminasi hasil riset dan kajian studi islam dengan fokus pada kajian dan hasil riset tentang Islamic Culture, Islamic Studies, Gender Studies. Al-Quran Studies, Islam and Science Integration, dan Al-Quran and Science Integration.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 134 Documents
PHENOMENOLOGICAL APPROACH IN ISLAMIC STUDIES: PARADIGMS, FACTORS, AND IMPLICATIONS Ahmad Fawaid Hariry; Zulfi Mubaraq; Muh. Khairul Wajedi Imami; Muh. Khalifa Mujaddid Satria Wibawa; T. M. Hadie Subulana
Manarul Qur'an: Jurnal Ilmiah Studi Islam Vol. 26 No. 1 (2026): Juni
Publisher : LP3M Universitas Sains Al Qur'an

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/mq.v26i1.6368

Abstract

A deeper study on the Phenomenological Approach is very important, considering that this approach continues to be the subject of discussion and development of scientific studies. The purpose of this paper is to understand three main aspects: paradigm, factors, and their implications for religious life. The research method uses a qualitative method through literature studies with a descriptive phenomenological approach. Data collection was carried out through documentation of a number of related literature, which were analyzed descriptively. The results of the study show three main findings. First, in terms of paradigm, the phenomenological approach in Islamic studies is manifested in three forms: (1) symptoms (phenomena), (2) history, and (3) reality. Second, factors that influence this approach are divided into internal and external. Internal factors include: (1) theological understanding, (2) religious tradition, and (3) subjective perspective. External factors include: (1) life experience, (2) social environment, and (3) community culture. Third, this approach has positive implications for community life, namely: (1) deepening religious experience, (2) understanding the cultural context, and (3) strengthening the value of tolerance. On the other hand, there are negative implications namely: (1) limited objectivity, (2) difficulties in generalizing findings, and (3) methodological constraints. Thus, the phenomenological approach contributes significantly to understanding the complexity of religion, both at the individual and group levels of Muslim society. Despite its limitations, this approach remains relevant for development to enrich more contextual and reflective Islamic studies.
QANUN ACEH DALAM KERANGKA MAQASHID AL-QUR’AN NKRI: ANALISIS QANUN TENTANG PERJUDIAN (MAISIR) Muhammad Afif Assegaf; Ulfa Mina Azkiyah
Manarul Qur'an: Jurnal Ilmiah Studi Islam Vol. 26 No. 1 (2026): Juni
Publisher : LP3M Universitas Sains Al Qur'an

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/mq.v26i1.10469

Abstract

Penerapan Qanun sebagai produk hukum daerah di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam merupakan bentuk kekhususan Aceh dalam menjalankan Syariat Islam dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Salah satu Qanun yang memiliki dampak sosial signifikan adalah Qanun tentang perjudian (maisir), yang menimbulkan perdebatan terkait legitimasi hukum dan tujuan syariat. Penelitian ini bertujuan menganalisis Qanun Maisir Aceh dalam perspektif maqashid Al-Qur’an untuk menilai kesesuaiannya dengan tujuan-tujuan syariat Islam dan sistem hukum nasional. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka, dengan menganalisis ayat-ayat Al-Qur’an tentang larangan maisir, literatur maqashid Al-Qur’an, serta pasal-pasal Qanun Aceh yang mengatur perjudian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Qanun Maisir Aceh memiliki legitimasi hukum yang sah dalam sistem perundang-undangan Indonesia dan sejalan dengan maqashid Al-Qur’an, khususnya dalam menjaga harta (hifdz al-māl), akal (hifdz al-‘aql), jiwa (hifdz al-nafs), keturunan (hifdz al-nasl), dan agama (hifdz al-dīn). Penerapan Qanun ini berfungsi tidak hanya sebagai instrumen represif, tetapi juga preventif dan edukatif dalam menekan praktik perjudian yang berpotensi menimbulkan kemiskinan dan kerusakan sosial. Penelitian ini menegaskan bahwa pendekatan maqashid Al-Qur’an dapat menjadi kerangka analitis yang relevan dalam menilai implementasi hukum Islam di tingkat daerah, serta merekomendasikan kajian lanjutan mengenai efektivitas penegakan Qanun Maisir dalam konteks sosial masyarakat Aceh.
INTEGRASI TADABBUR ALAM DAN PENDIDIKAN MORAL DALAM TAFSIR IBNU KATSIR: ANALISIS QS. ADZ-DZĀRIYĀT 20–21 DAN QS. LUQMĀN 12–19 Lumngatul Khabibah; Ittikhatul Mudawamah; Chusnul Chotimah; Taufikur Rohman
Manarul Qur'an: Jurnal Ilmiah Studi Islam Vol. 26 No. 1 (2026): Juni
Publisher : LP3M Universitas Sains Al Qur'an

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/mq.v26i1.10508

Abstract

Fenomena krisis moral yang melanda berbagai lapisan masyarakat menuntut pendekatan pendidikan Islam yang lebih reflektif dan kontekstual. Dalam konteks tersebut, konsep tadabbur alam memiliki urgensi tinggi karena mampu menumbuhkan kesadaran spiritual dan tanggung jawab moral melalui perenungan terhadap tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis integrasi antara tadabbur alam dan pendidikan moral dalam tafsir Ibnu Katsir terhadap QS. Adz-Dzāriyāt (20–21) dan QS. Luqmān (12–19), serta menggali relevansinya bagi pengembangan pendidikan Islam kontemporer. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research), di mana data primer bersumber dari Tafsir Ibnu Katsir, sedangkan data sekunder diperoleh dari jurnal ilmiah dan literatur pendidikan Islam lima tahun terakhir. Analisis dilakukan melalui teknik content analysis dengan model induktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ibnu Katsir menafsirkan tadabbur alam sebagai media pengenalan terhadap kebesaran Allah yang mendorong terbentuknya kesadaran moral, sedangkan nasihat Luqman dalam QS. Luqmān 12–19 merepresentasikan dimensi etis dan pedagogis dari kesadaran tersebut. Integrasi keduanya menghasilkan model pendidikan Qur’ani yang memadukan spiritualitas, rasionalitas, dan moralitas sebagai dasar pembentukan insan beriman dan berakhlak. Penelitian ini berimplikasi pada perlunya penguatan kurikulum pendidikan Islam berbasis refleksi terhadap ayat-ayat kauniyyah dan qauliyyah sebagai strategi pembinaan karakter di era modern.
KAJIAN KONSEPTUAL AL QUR’AN DALAM EVALUASI PENDIDIKAN DI ERA MODERN ANALISIS SURAH MUHAMMAD AYAT 31 DAN SURAH AL-‘ANKABUT AYAT 2–3 Niya Niya Armita Sari; Arbiah; Julia Muryani; Taufikur Rohman
Manarul Qur'an: Jurnal Ilmiah Studi Islam Vol. 26 No. 1 (2026): Juni
Publisher : LP3M Universitas Sains Al Qur'an

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/mq.v26i1.10539

Abstract

Penelitian ini mengkaji penerapan nilai-nilai Al-Qur’an dalam sistem evaluasi pendidikan pada era modern yang cenderung berorientasi pada capaian akademik dan kemajuan teknologi, sehingga berpotensi mengesampingkan dimensi moral dan spiritual peserta didik. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka dengan pendekatan analisis konten kualitatif untuk menelaah konsep evaluasi dalam Al-Qur’an berdasarkan Surah Muhammad ayat 31 dan Surah Al-‘Ankabut ayat 2–3, serta literatur pendidikan Islam yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa evaluasi dalam perspektif Qur’ani bersifat holistik, mencakup penilaian aspek kognitif, pembentukan karakter, dan penguatan spiritualitas peserta didik. Evaluasi dalam Islam dipahami sebagai proses pembuktian keimanan, kesabaran, dan kejujuran melalui berbagai tantangan pembelajaran. Kebaruan penelitian ini terletak pada perumusan model evaluasi Qur’ani yang dioperasionalisasikan ke dalam praktik evaluasi pendidikan modern, khususnya melalui penilaian autentik, rubrik karakter, dan pemanfaatan teknologi evaluasi yang beretika. Model ini menempatkan evaluasi tidak hanya sebagai alat ukur hasil belajar, tetapi sebagai sarana pembinaan nilai dan refleksi diri peserta didik. Dengan demikian, penelitian ini berkontribusi pada pengembangan sistem evaluasi pendidikan Islam yang mampu menyeimbangkan kecerdasan intelektual dan kematangan spiritual dalam rangka membentuk insan kamil yang beriman, berakhlak mulia, dan adaptif terhadap dinamika era modern.