cover
Contact Name
Sri Haryanto
Contact Email
manarulquran@unsiq.ac.id
Phone
+62286-321873
Journal Mail Official
manarulquran@unsiq.ac.id
Editorial Address
Jl. Raya Kalibeber Km. 03 Mojotengah, Wonosobo, Jawa Tengah
Location
Kab. wonosobo,
Jawa tengah
INDONESIA
Manarul Qur'an: Jurnal Ilmiah Studi Islam
ISSN : 14127075     EISSN : 26154811     DOI : https://doi.org/10.32699/mq
Core Subject : Religion,
Manarul Quran adalah terbitan berkala ilmiah dengan nomor ISSN 1412-7075 (print), 2615-4811 (online) yang dikelola oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP3M) UNSIQ Jawa Tengah di Wonosobo, jurnal ini terbit sejak tahun 2001. Manarul Quran merupakan wahana desiminasi hasil riset dan kajian studi islam dengan fokus pada kajian dan hasil riset tentang Islamic Culture, Islamic Studies, Gender Studies. Al-Quran Studies, Islam and Science Integration, dan Al-Quran and Science Integration.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 129 Documents
TRANSFORMASI RELASI KYAI DAN SANTRI DALAM TRADISI PESANTREN ROHANI, ROHANI
Manarul Qur'an: Jurnal Ilmiah Studi Islam Vol 24 No 2 (2024): Desember
Publisher : LP3M Universitas Sains Al Qur'an

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/mq.v25i2.8208

Abstract

Abtract: The pesantren is a traditional Islamic educational institution that has played a significant role in preserving Islamic values and Indonesian culture. In the pesantren tradition, the kyai not only serves as a teacher but also as a guide who instills life values. This study focuses on Pondok Pesantren Al-Iman Bulus Purworejo and aims to describe and analyze the factors influencing the transformation of the relationship between the kyai and santri in this pesantren. The approach used is qualitative-descriptive with a case study, involving interviews, observations, and documentation from various relevant parties. The findings of the study indicate that the transformation of this relationship is influenced by several key factors, such as access to technology, social and cultural changes, economic challenges, and the impact of globalization. As a result, the relationship between the kyai and santri has evolved into a more participatory, egalitarian, and dialogue-based one. The kyai is no longer seen as a sole authority, but more as a facilitator in an open and inclusive learning process. This study also affirms that Pondok Pesantren Al-Iman has been able to adapt to the changing times, maintaining the relevance of Islamic education in the modern era. Abstrak: Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tradisional yang telah berperan penting dalam mempertahankan nilai-nilai keislaman dan budaya Indonesia. Dalam tradisi pesantren, kyai berperan tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pembimbing yang menanamkan nilai-nilai kehidupan. Studi ini fokus pada Pondok Pesantren Al-Iman Bulus Purworejo, dan bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi transformasi relasi antara kyai dan santri di pesantren ini. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif-deskriptif dengan studi kasus, yang melibatkan wawancara, observasi, dan dokumentasi dari berbagai pihak terkait. Temuan penelitian menunjukkan bahwa transformasi hubungan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor utama, seperti akses terhadap teknologi, perubahan sosial dan budaya, tantangan ekonomi, dan pengaruh globalisasi. Akibatnya, relasi antara kyai dan santri berkembang menjadi lebih partisipatif, egaliter, dan berbasis dialog. Kyai tidak lagi hanya dipandang sebagai otoritas tunggal, tetapi lebih sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran yang terbuka dan inklusif. Penelitian ini juga menegaskan bahwa pesantren Al-Iman mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, menjaga relevansi pendidikan Islam di era modern. Kata Kunci: Pesantren, relasi kyai dan santri, transformasi, interaksionisme simbolik, pendidikan Islam.
Reinterpretasi Wahyu : Komparasi Pemikiran Nasr Hamid Abu Zayd Dan Muhammad Arkoun Sadali, Achmad Dafid Imron
Manarul Qur'an: Jurnal Ilmiah Studi Islam Vol 25 No 1 (2025): Juli
Publisher : LP3M Universitas Sains Al Qur'an

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/mq.v25i1.8825

Abstract

This study examines and compares the thoughts of Nasr Hamid Abu Zayd and Muhammad Arkoun on the concept of revelation in Islam, particularly their hermeneutical approaches. Abu Zayd perceives revelation as a dynamic "text-culture" where the Qur'an is viewed as the result of linguistic and cultural interactions between God, the Prophet, and humanity. His approach emphasizes understanding revelation within social, historical, and cultural contexts, focusing on the communication process and the existential transformation of the recipient. Meanwhile, Arkoun offers a deconstructive perspective, regarding the Qur'an as a "corpus" that has undergone historical transformation from oral discourse to a written text integrated into socio-historical structures. Employing a multidisciplinary approach, Arkoun highlights the necessity of reinterpretation to make revelation relevant to changing times, fostering interfaith dialogue, and critiquing dogmatic textuality. Although differing in focus, both thinkers agree on the importance of developing a dynamic, contextual, and inclusive understanding of revelation. This study affirms that their ideas contribute to modern Islamic discourse while also posing challenges, such as criticism of traditional authority and the risk of interpretive relativism.
HUMANISME ALI SYARI’ATI: QS. IBRAHIM AYAT 4 SEBAGAI LANDASAN KEBERPIHAKAN MAHASISWA TERHADAP MASYARAKAT BAWAH Subekti, Fiqi Restu
Manarul Qur'an: Jurnal Ilmiah Studi Islam Vol 25 No 1 (2025): Juli
Publisher : LP3M Universitas Sains Al Qur'an

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/mq.v25i1.9122

Abstract

Penelitian ini membahas tentang pemikiran humanisme Ali Syari’ati dalam konteks keberpihakan mahasiswa kepada masyarakat kelas bawah, dengan menafsirkan QS. Ibrahim ayat 4. Syari’ati mengkritisi konsep humanisme Barat (liberalisme, marxisme, dan eksistensialisme) yang dianggapnya terlalu materialistis dan tidak memperhitungkan dimensi spiritual manusia. Sebaliknya, ia menawarkan humanisme berbasis tauhid yang menekankan peran manusia sebagai wakil Tuhan di bumi, dengan tugas utama membebaskan kaum tertindas dari belenggu sosial dan struktural. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka, menganalisis karya-karya Ali Syari’ati dan literatur pendukung lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep humanisme Ali Syari’ati mendorong mahasiswa untuk berperan sebagai rausyan fikr (intelektual yang tercerahkan) yang aktif dalam perubahan sosial. Keberpihakan mahasiswa kepada masyarakat kelas bawah harus diwujudkan dalam bentuk advokasi, pemberdayaan, dan tindakan nyata yang berlandaskan pada nilai-nilai agama dan etika. Dengan memahami humanisme Ali Syari’ati, mahasiswa dapat mengembangkan kesadaran kritis dan bertindak sebagai agen perubahan yang berkontribusi pada keadilan sosial. Artikel ini menegaskan bahwa berpihak pada yang tertindas bukan sekadar pilihan moral, tetapi juga bagian dari tanggung jawab intelektual dan spiritual.
IMPLEMENTASI DAN PENGEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM INKLUSIF DI SEKOLAH ROHANI, ROHANI
Manarul Qur'an: Jurnal Ilmiah Studi Islam Vol 25 No 1 (2025): Juli
Publisher : LP3M Universitas Sains Al Qur'an

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/mq.v25i1.9525

Abstract

Inclusive Islamic education is a response to the dynamics of modern society, which is culturally, religiously, and ideologically pluralistic. This type of education aims to foster dialogue, empathy, and appreciation for diversity by integrating the universal values of Islam—such as raḥmatan lil ‘ālamīn (QS. Al-Anbiyā’ [21]: 107), al-tasāmuḥ (QS. Al-Qaṣaṣ [28]: 55 and QS. Asy-Syūrā [42]: 15), la ikrāha fī al-dīn (QS. Al-Baqarah [2]: 256 and QS. Al-Kāfirūn [109]: 6), al-ta‘āruf (QS. Al-Ḥujurāt [49]: 13), al-tawassuṭ (QS. Al-Baqarah [2]:143), al-ta‘āwun (QS. Al-Mā’idah [5]: 2), and al-musāwah—into contextual and participatory learning. This study employs a qualitative method using a library research approach and the descriptive model of Bogdan and Taylor. Data were gathered from academic literature, including books, journals, and scholarly articles. The findings indicate that inclusive Islamic education can only succeed with institutional policy support, an adaptive curriculum, reflective methods, and the active role of teachers as agents of change. In conclusion, inclusive Islamic education plays a crucial role in shaping a tolerant and harmonious religious society that can coexist with diversity. This model is not merely an educational strategy, but also a foundational pillar for building a peaceful and just civilization.
INTERPRETASI GENDER DAN PEMBENTUKAN ULANG OTORITAS DALAM PRAKTIK PERCERAIAN ISLAM maarif, syamsul
Manarul Qur'an: Jurnal Ilmiah Studi Islam Vol 25 No 1 (2025): Juli
Publisher : LP3M Universitas Sains Al Qur'an

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/mq.v25i1.9844

Abstract

Islamic Divorce is a significant issue not only due to the rising rates of divorce but also because of the complex interpretations of gender and authority that surround it. The dynamics of divorce proceedings in religious courts reveal how legal spaces often become arenas for reproducing unequal power relations between men and women. Previous studies on divorce have mostly emphasized normative, procedural, or legalistic aspects. However, substantive dimensions—such as the role of gender interpretation in reshaping authority within judicial spaces—remain underexplored. To address this gap, this study poses the question: How do gender interpretations influence the formation and reproduction of authority in the practice of Islamic divorce? Using a qualitative approach, the study analyzes data from court ruling documents, interviews with involved parties, and courtroom observations in several religious courts. The findings reveal that legal authority in Islamic divorce is often produced through masculine gender interpretations, which marginalize women's experiences and narratives. Mediation processes, courtroom settings, and the language of legal rulings emerge as three key arenas where male authority is symbolically and structurally reproduced. As such, divorce practices are not merely legal procedures but also symbolic battlegrounds that illustrate the narrowing of social, cultural, and ideological spaces. This study contributes a critical perspective by highlighting gender interpretation as a key variable in the construction of authority within Islamic family law. Therefore, a structural and cultural transformation is necessary to understand divorce not merely as a normative issue, but as a social matter that demands substantive justice and gender equality. Abstrak: Perceraian Islam merupakan isu penting bukan hanya karena meningkatnya angka perceraian, tetapi juga karena kompleksitas tafsir gender dan otoritas yang melingkupinya. Dinamika perceraian yang terjadi di pengadilan agama menunjukkan bagaimana ruang hukum kerap menjadi arena reproduksi relasi kuasa yang timpang antara laki-laki dan perempuan. Studi-studi terdahulu tentang perceraian lebih menekankan aspek normatif, prosedural, atau legalistik. Namun, aspek substantif seperti peran tafsir gender dalam membentuk ulang otoritas dalam ruang peradilan masih jarang dibahas secara mendalam. Untuk mengisi kekosongan tersebut, penelitian ini mengajukan pertanyaan: bagaimana tafsir gender mempengaruhi proses pembentukan dan reproduksi otoritas dalam praktik perceraian Islam? Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, studi ini menganalisis data dari dokumen putusan pengadilan, wawancara dengan pihak-pihak yang terlibat, dan observasi persidangan di beberapa pengadilan agama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa otoritas hukum dalam perceraian Islam sering kali diproduksi melalui tafsir gender yang maskulin, yang meminggirkan pengalaman dan narasi perempuan. Mediasi, ruang sidang, dan narasi putusan hukum merupakan tiga arena utama di mana otoritas laki-laki direproduksi secara simbolik dan struktural. Dengan demikian, praktik perceraian tidak hanya menjadi prosedur legal, tetapi juga menjadi ruang konflik simbolik yang memperlihatkan penyempitan ruang sosial, kultural, dan ideologis. Kontribusi studi ini terletak pada tawaran perspektif kritis mengenai tafsir gender sebagai variabel pembentuk otoritas dalam hukum keluarga Islam. Oleh karena itu, diperlukan transformasi struktural dan kultural dalam memahami perceraian, bukan semata sebagai persoalan normatif, melainkan sebagai isu sosial yang menuntut keadilan substantif dan kesetaraan gender.
BANGUNAN KARAKTER QUR’ANI (Analisis Konsep Pendidikan Karakter dalam Perspektif Wahyu) Shidiq, Ngarifin; Rohani, Rohani
Manarul Qur'an: Jurnal Ilmiah Studi Islam Vol 25 No 1 (2025): Juli
Publisher : LP3M Universitas Sains Al Qur'an

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research aims to examine and elaborate on the concept of character education in the perspective of revelation, especially theQur'an, as a basic paradigm in the formation of human personality. This study is a qualitative research with a library researchapproach, using the Miles and Huberman analysis method which includes data reduction, data presentation, and conclusion drawn.Data was obtained from literature sources such as books, scientific articles, journals, and verses of the Qur'an related to charactervalues. The results of the study show that the Qur'an is not only a source of law and worship, but also a comprehensive moralguideline in forming noble morals (al-akhlaq al-karimah). The concept of character in the Qur'an encompasses two dimensions:man's relationship with Allah (hablum min Allah) and his relationship with fellow creatures (hablum min al-nas), which is reflectedin values such as honesty, trust, tawakal, gratitude, patience, and compassion. These values are internalized through an educationalprocess that involves family, school, and community as a character education ecosystem. This study emphasizes the importance of making the Qur'an a paradigm in building the nation's character, as a form of response to moral crises and moral degradation thatoccur in the midst of scientific and technological developments. The Qur'anic paradigm in character education is oriented towardsthe formation of a whole human being (insān kāmil) who is able to actualize spiritual, moral, and social values in daily life.
KEPUTUSAN PEMBELIAN KOSMETIK PRESPEKTIF EKONOMI ISLAM Musfiroh, Mila Fursiana Salma
Manarul Qur'an: Jurnal Ilmiah Studi Islam Vol 24 No 1 (2024): Manarul Qur'an
Publisher : LP3M Universitas Sains Al Qur'an

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/mq.v24i1.7011

Abstract

Starting with the decision to purchase cosmetics made by female students who have not gone through the selection stage and do not meet the necessary requirements, there is a tendency to prioritize financial capabilities and the short-term effects of using cosmetic products, and the behavior of choosing or using cosmetics is often not commensurate with sufficient knowledge. regarding the selection of appropriate and safe cosmetics. Nowadays, cosmetic consumption is no longer just a necessity, but is influenced by lifestyles and desires that continue to increase and vary. However, female students' awareness of consuming halal products is still lacking and they are not aware of the positive effects. This is caused by a lack of socialization regarding products labeled halal. The aim of the research is to determine the cosmetic purchase decisions of students at the Faculty of Economics and Business (FEB) UNSIQ from an Islamic economic perspective and to determine the factors that influence FEB UNSIQ students in choosing cosmetics. The research method used in this research is a descriptive method with a qualitative approach, using qualitative descriptive data analysis techniques with stages referring to the Miles and Huberman model. The findings of this research reveal that consumer decisions for cosmetics labeled halal among FEB UNSIQ students are higher than for cosmetics that are not labeled halal in accordance with Islamic economics, although there are still some students who use or consume cosmetics that do not have a halal label. The factors that form the basis for using cosmetics for FEB UNSIQ students are personal, psychological, social and cultural. So it can be concluded that students' decisions regarding cosmetics labeled halal are in accordance with the principles of Islamic Economics because they have paid attention to the benefits and considered halal and thayyib aspects when buying cosmetics.
PENGARUH DEWAN PENGAWAS SYARIAH, STRUKTUR MODAL DAN KINERJA MAQASHID SYARIAH TERHADAP KINERJA PERBANKAN Fadilah, Fitriyana Sandra
Manarul Qur'an: Jurnal Ilmiah Studi Islam Vol 24 No 1 (2024): Manarul Qur'an
Publisher : LP3M Universitas Sains Al Qur'an

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/mq.v24i1.7484

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh dewan pengawas syariah, maqashid syariah dan leverage terhadap kinerja perbankan. Populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah perbankan syariah yang terrdaftar di Otoritas Jasa Keuangan periode 2016-2020. Teknik pengambilan sampel dilakukan dnegan menggunakan Teknik pusposive sampling dan diperoleh sebanyak 12 sampel perbankan dengan periode 5 tahun sehingga diperoleh sampel akhir 60. Penelitian ini diolah dengan menggunakan SPSS. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dewan pengawas syariah dan maqashid syariah tidak berpengaruh terhadap kinerja perabankan, sedangkan leverage berpengaruh negatif terhadap kinerjaa perbankan.
TAFSIR KOMPREHENSIF TERHADAP AYAT-AYAT ZAKAT: KAJIAN TERHADAP ASPEK SOSIAL DAN EKONOMI DALAM AL-QUR'AN Nury, Mumammad Yuchbibun; Hamzah, Moh.
Manarul Qur'an: Jurnal Ilmiah Studi Islam Vol 24 No 1 (2024): Manarul Qur'an
Publisher : LP3M Universitas Sains Al Qur'an

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/mq.v24i1.7747

Abstract

Meskipun zakat telah menjadi bagian integral dari praktik keagamaan Muslim, implementasi dan pemahamannya masih sering mengalami tantangan, terutama dalam konteks kontemporer. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan tafsir komprehensif terhadap ayat-ayat zakat dalam Al-Qur'an, dengan fokus pada aspek sosial dan ekonomi yang terkandung di dalamnya. Selain itu, penelitian ini akan mengeksplorasi bagaimana prinsip-prinsip zakat dapat diterapkan dalam konteks modern, serta tantangan dan peluang yang ada dalam implementasi zakat sebagai instrumen kebijakan sosial dan ekonomi. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan dengan fokus pada analisis teks dan tafsir untuk mengkaji aspek sosial dan ekonomi zakat dalam Al-Qur'an. Adapun hasil penelitian ini, bahwa zakat dalam Al-Qur'an memiliki dimensi luas mencakup aspek teologis, sosial, dan ekonomi. Sebagai rukun Islam, zakat berfungsi sebagai instrumen keadilan sosial dan kesejahteraan ekonomi. Al-Qur'an menekankan zakat sebagai sarana membangun karakter dan spiritualitas melalui redistribusi kekayaan yang adil. Dalam konteks sosial, zakat berperan mengurangi kesenjangan dan memberdayakan kelompok kurang beruntung. Al-Qur'an menekankan niat tulus dalam menunaikan zakat untuk mencari ridha Allah dan memberi manfaat pada sesama. Paradigma holistik zakat dalam Al-Qur'an menyatukan dimensi spiritual dan sosial-ekonomi, relevan dalam konteks kontemporer untuk menciptakan masyarakat yang lebih adil dan sejahtera.
BUNGA BANK STUDI PEMIKIRAN TAFSIR KONTEKSTUAL ABDULLAH SAEED Husna, Annisaul; Khanifa, Nurma Khusna
Manarul Qur'an: Jurnal Ilmiah Studi Islam Vol 24 No 2 (2024): Desember
Publisher : LP3M Universitas Sains Al Qur'an

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/mq.v25i2.7809

Abstract

Perdebatan bunga bank termasuk ribā atau bukan membawa dampak pada perkembangan metode hukum dan corak pandangan pemikir muslim dalam melihat hukum ribā. Seperti halnya penafsiran Abdullah Saeed tentang bunga. Untuk menjawab pemikiran Abdullah Saeed, dalam artikel ini penulis menggunakan pendekatan dan teori historis, filosofis dan hermeneutis. Hasil Penelitiannya ialah corak tafsir Saeed dipengaruhi oleh Fazlur Rahman, bahkan Abdullah Saeed dikenal sebagai seorang Rahmanian. Hal ini disebabkan beliau menyempurnakan dan meneruskan metodologi tafsir Rahman. Salah satu metode yang digunakan Saedd dalam melihat bunga bank dan ribā tidak lain tafsir kontekstual. Hasil penelitian ini ialah Abdullah Saeed menghukumi bunga bank didasari dengan ijtihad dalam memahami historisitas ayat-ayat tentang ribā dalam Al-Qur`an (al-Rum ayat 39, an-Nisa` Ayat 160-161, Ali `Imran Ayat 130 dan al-Baqarah ayat 275-280). Pendekatan kontekstual yang digunakan Abdullah Saeed menyuguhkan mengenai pembahasan ayat ethico-legal dengan menggunakan ijtihad context-based ijtihad dengan menghubungkan teks pelarangan ribā dengan konteks sosio-historisnya. Menurut Saeed bunga bank berbeda dari ribā bahkan setuju dengan bunga bank, hal ini didasari oleh `illah dan ḥikmah yang mengarah pada konteks moral dimana tidak adanya unsur mengeksploitasi dan tidak melibatkan unsur ketidakadilan seperti apa yang pernah terjadi semasa pra-Islam saat itu.

Page 12 of 13 | Total Record : 129