cover
Contact Name
Rusmin Abdul Rauf
Contact Email
tahdis@uin-alauddin.ac.id
Phone
+6282344228117
Journal Mail Official
tahdis@uin-alauddin.ac.id
Editorial Address
Jl. H. M. Yasin Limpo No. 36 Romangpolong, Gowa, Sulawesi Selatan Kampus II Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Tahdis: Jurnal Kajian Ilmu Al-Hadis
ISSN : 20867891     EISSN : 27162109     DOI : 10.24252/tahdis
Tahdis : Jurnal Kajian Ilmu Hadis adalah jurnal Prodi Ilmu Hadis Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Alauddin Makassar yang berisi artikel ilmiah dan hasil penelitian berkaitan tentang Hadis dan Ilmu Hadis.
Articles 125 Documents
Universalitas Ajaran Islam fadhlina arief wangsa
Tahdis: Jurnal Kajian Ilmu Al-Hadis Vol 10 No 1 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (282.968 KB) | DOI: 10.24252/tahdis.v10i1.10065

Abstract

Penjelasan tentang konsep Studi Islam Komprenhensif  dalam perspektif Qur’an dan Hadis Nabi SAW. menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang Universal. Kata Islam tidak mempunyai hubungan dengan orang, golongan dan negri tertentu. Islam adalah nama yang diberikan oleh Allah SWT. yang tidak hanya mendatangkan rahmat bagi manusia, tetapi lebih dari itu, Islam datang untuk rahmat bagi alam semesta. Tidak hanya bagi manusia, tapi juga binatang, tumbuh-tumbuhan, dan lingkungan alam semesta. Di sisi lain, Islam juga merupakan ajaran yang sempurna dan menyeluruh yang mengatur keseimbangan hidup, antara dunia dan akhirat, membahas aspek-aspek kehidupan secara menyeluruh. Hadis yang terkait dengan berbuat baik pada hewan sembelihan, dengan cara menajamkan pisau, larangan menelantarkan tanah. Demikianlah ajaran Islam, yang tak dapat dilihat atau difahami secara parsial saja, yang dikhawatirkan akan menimbulkan kesalah fahaman tentang Islam itu sendiri. Oleh sebab itu, Allah memerintahkan untuk masuk ke dalam Islam secara menyeluruh.
HAKIM DALAM PERSPEKTIF HADIS Muhammad Ali Ngampo
Tahdis: Jurnal Kajian Ilmu Al-Hadis Vol 8 No 1 (2017)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (433.81 KB) | DOI: 10.24252/tahdis.v8i1.4005

Abstract

Hakim adalah seseorang yang melakukan kekuasaan kehakiman yang diatur menurut undang-undang, seseorang yang memutus suatu perkara secara adil berdasar atas bukti-bukti dan keyakinan yang ada pada dirinya sendiri. Dalam melakukan kekuasaan kehakiman hakim dihadapkan dengan berbagai hal yang dapat mempengaruhi putusannya nanti. Dengan demikian jabatan hakim ini menjadi sangat penting karena memutus suatu perkara bukanlah hal mudah. Ia harus sangat berhati-hati menjatuhkan hukuman kepada yang bersalah sebab yang bersalah kadang-kadang dibenarkan. Metode dalam penelitian ini adalah syarh al-hadīś bi al-mawdhū'iy, yakni menjelaskan sejumlah hadis yang setema (tematik). Eksistensi hakim dalam menegakkan hukum dalam konteks universal sangat dibutuhkan, akan tetapi sangat ironis apakah masih ada hakim yang baik di Indonesia, kalau ada “ siapa” dan kalau tidak ada yang baik mengapa?
WAWASAN HADIS TENTANG ETOS KERJA Muhammad Ali
Tahdis: Jurnal Kajian Ilmu Al-Hadis Vol 9 No 1 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1158.969 KB) | DOI: 10.24252/tahdis.v9i1.7523

Abstract

Terdapat 6 hadis tentang etos kerja yaitu; 1) hadis tentang niat, 2) hadis tentang bekerja dengan mencari kayu bakar, 3) hadis tentang tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawa, 4) hadis tentang do’a meminta perlindungan dari kefakiran, 5) hadis tentang makanan yang paling baik adalah hasil dari kerja keras dan 6) hadis tentang menanam pohon sekalipun hari kiamat telah terjadi. Hadis-hadis tentang etos kerja tersebut terbagi ke dalam 3 aspek; 1) etos kerja dari aspek akidah, 2) etos kerja dari aspek ibadah dan 3) etos kerja dari aspek akhlak. Selanjutnya aplikasi hadis-hadis etos kerja pada masa kini ialah orang mukmin dalam bekerja harus memiliki niat yang kuat, jujur, istiqamah, amanah, tekun, kemampuan bekerja kerasa dan bertanggungjawab.
KONTROVERSI KEADILAN PARA SAHABAT (PERTARUNGAN DALAM KRITIK HADIS) Darsul S Puyu
Tahdis: Jurnal Kajian Ilmu Al-Hadis Vol 7 No 2 (2016)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (967.298 KB) | DOI: 10.24252/tahdis.v7i2.2777

Abstract

Predikat generasi sahabat sebagai generasi terbaik, adalah karena mereka produk pertama umat Islam yang dididik langsung oleh Nabi Muhammad saw. Sekalipun demikian, sebagai manusia biasa para sahabat tidak terbebas dari melakukan kesalahan dan dosa. Keadilan sahabat menjadi dipertanyakan mengingat banyaknya fakta sejarah yang mencoreng kredibilitas sahabat sebagai generasi terbaik. Keadilan para sahabat memang mendapat jaminan dari Alquran atau Hadis. Keadilan sahabat itu jelas belum dikatakan absolut berlaku pada masa awal-awal pembentukan tasyrik. Keadilan itu hanya berlaku setelah para sahabat memiliki tingkat kematangan dan kemapanan agama yang baik. Secara umum dapat dikatakan sahabat Nabi sebagai generasi yang adil, namun, secara individu ada di antara sahabat yang tetap pernah terlibat dengan kasus pendustaan terhadap nabi, atau mereka yang terlibat dalam kasus poltik atau kasus asusila.Implikasinya, semua generasi dapat menjadi generasi terbaik, selama mereka patuh dan taat kepada aturan-aturan Islam.Untuk menerapkan kaedah semua sahabat  adil yakni dalam memposisikan generasi sahabat secara umum, tetapi dalam mengkritisi pribadi sahabat, maka setiap individu harus diteliti tingkat akurasinya, sesuai dengan tingkat kematangan spiritual, intelegensi, kestabilan emosi, dan kemampuan mereka mengendalikan hawa nafsu.
PERSPEKTIF ULAMA HADIS DAN ILMU KEDOKTERAN TENTANG FASE PERKEMBANGAN EMBRIO Abdul Majid
Tahdis: Jurnal Kajian Ilmu Al-Hadis Vol 7 No 1 (2016)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (919.858 KB) | DOI: 10.24252/tahdis.v7i1.7194

Abstract

Artikel ini membahas hadis tentang perkembangan embrio yang difokuskan pada pemahaman para ulama dan perbandingannya dengan embriologi mutakhir. Pada beberapa hal, kajian ini menemukan adanya kesesuain dan perbedaan di antara dua perspektif tersebut. Salah satu perbedaan yang bisa dikemukakan adalah dalam perspektif ulama, waktu yang dibutuhkan pada setiap tahap perkembangan nuthfah, `alaqah dan mudghah adalah empat puluh hari, sehingga peniupan ruh ke dalamnya terjadi pasca tiga kali empat puluh hari itu. Pemahaman ini pada akhirnya berimplikasi pada perbedaan pendapat di kalangan ulama seputar hukum aborsi sebelum usia kandungan mencapai empat bulan, dan beberapa implikasi lainnya. Sedangkan dalam ilmu embrilogi, tiga kali empat hari tersebut tidak dikenal, ketiga tahap, nuthfah, `alaqah dan mudhgah, sebetulnya berproses dalam satu kali empat puluh hari. Bahkan menurut hasil riset ilmu ini, pada usia minggu kedua belas sampai ketiga belas embrio telah bisa bergerak meskipun belum dirasakan oleh perempuan yang menghamilkannya. Ini berarti masa kehidupun embrio menurut riset ini lebih awal dari hasil pemikiran ulama di atas. Walhasil, tulisan ini merekomendsasikan hasil penelitian ilmu kedokteran tersebut dipertimbangkan untuk mengubah pemahaman para ulama tersebut sekaligus menggugurkan implikasi yang ditimbulkannya.
PEMIKIRAN POLITIK IBNU TAIMIYAH Mahmuddin Mahmuddin
Tahdis: Jurnal Kajian Ilmu Al-Hadis Vol 6 No 2 (2015)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (645.872 KB) | DOI: 10.24252/tahdis.v6i2.7175

Abstract

Konsep politik Islam yang ditunjukkan oleh al-Qur’an dan petunjuk Nabi saw. memunculkan beragam pandangan mulai dari yang radikal sampai yang moderat. Persoalan tentang negara, pelaksanaan syariat serta jihad merupakan isu yang sering diperbincangkan. Sebuah negara didirikan untuk menerapkan hukum Islam dan syariat secara utuh, sementara jihad dengan melakukan pemberontakan tidak disepakati oleh Ibnu Taimiyah. Baginya, prinsip-prinsip mereka yang mengikuti Nabi saw. dan jama’ah kaum muslimin adalah mengedepankan persatuan, meninggalkan perang terhadap penguasa dan meninggalkan pemberontakan bersenjata.
PANJANG RAMBUT NABI MUHAMMAD SAW. (Studi Ma‘ani al-Hadis dan Implementasinya pada Jamaah an-Nadzir Gowa – Sulawesi Selatan) Radhie Munadi
Tahdis: Jurnal Kajian Ilmu Al-Hadis Vol 10 No 2 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (355.087 KB) | DOI: 10.24252/tahdis.v10i2.11615

Abstract

The many schools in Islam in Indonesia make a diversity of understanding of the hadith. The diversity of understanding can be seen from their practice in accordance with their respective understanding. Among them is the understanding of Jamaah an-Nadzir in practicing the sunnah of the Prophet's hair by lengthening his hair to the shoulder. These differences encourage researchers to conduct research on the hadith nature of the Prophet's hair. This article tries to examine how the concept of the Prophet's hair is accommodated by the hadith, and how the implementation of the hadith in the Jamaah an-Nadzir. Research is expected to provide a comprehensive understanding of the concept of the Prophet's hair in line with the hadith.
Air dalam Perspektif Hadis Andi Muhammad Ali Amiruddin
Tahdis: Jurnal Kajian Ilmu Al-Hadis Vol 6 No 1 (2015)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1554.268 KB) | DOI: 10.24252/tahdis.v6i1.7139

Abstract

Water and related issues around its management and treatment, and behaviour of human beings towards water has been discussed in several disciplines including Islamic studies. Water has been playing a key role in Islam, whether for cleaning, bathing or ablution to prepare Muslims before doing religious rituals, such as praying and reading the Quran. Such an important role of water in Islam, however, has been payed less attention, particularly on its social and environmental treatment among Muslims. In order to raise awareness on this issue, this paper will particularly explore water treatment from the perspective of hadith or prophetic tradition. The main question to answer is how the prophetic hadiths respond towards water treatment, particularly on the issue of water pollution and how the Prophet was providing advice on this issue. This paper traces all water related hadiths and classifies them into several categories. The result shows that hadiths on water and how Muslims should behave towards water treatment has indeed been found in many canonical books of hadiths and they in turn should be referred by Muslims for better water management and treatment.
Bercocok Tanam dalam Perspektif Hadis: Analisis Tekstual dan Kontekstual Muhammad Ali
Tahdis: Jurnal Kajian Ilmu Al-Hadis Vol 10 No 1 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (909.247 KB) | DOI: 10.24252/tahdis.v10i1.9841

Abstract

Farming is a typical way for human beings in order to provide food for survival in life and is frequently done in an area close to their settlement. To guarantee the availability of food for daily life, human beings farm a variety of plants not olny for their own needs, but also for generations to come. This writing is aimed at assessing and analyzing a farming-related hadith on both its sanad and matan. From sanad and matan perspective, the hadith is sound (sahih). Analyzing the hadith text and context, it is found that many lessons may be learnt, particularly the emphasis of the hadith on human effort to do farming in all seasons and occasions, since the harvest may be beneficial for them or for the others. The long term benefits of the farming is to ensure that the earth is and will always be a fertile ground for human beings to live, and to ensure the availability of food for all. From Islamic perspective, the benefits for others may act as the farmers’ wordly philantrophic actions, and may lead to heavenly endless regards
مراسيل مصنف ابن أبي شيبة في كتاب الأيمان والنذور والكفارة دراسة تخريجية تحليلية Rusmin Abdul Rauf
Tahdis: Jurnal Kajian Ilmu Al-Hadis Vol 10 No 2 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/tahdis.v10i2.12476

Abstract

This research addresses the Mursal Hadith in the Musannaf (compilation) of Ibn Abi Shaybah, by collection them from the Book of Oath, Vow, Atonement. They are studied in term of matn (their text) and sanad (chain of narration). A brief introduction of the narrator of the musannaf is also given. Attestation of the hadith in other books is examined and the status of hadith is determined, whether they remain daif (weak) or upgraded to be hasan li gharihi. This is concluded with some available jurisprudence. The researcher used the inductive method to collect mursal hadith in the Musannaf of Ibn Abi Shaybah from the Book of Oath, Vow, Atonement and used the critical approach on the attestation in other books and determine the status of the hadith and used the analytical method to conclude on some jurisprudence of the Mursal Hadith. As a result, the researcher found most of mursal hadith in the musannaf eligible to be upgraded into hasan li gharihi. And the rest remain daif due the unavailable attestation in another book or weaken narrator.

Page 6 of 13 | Total Record : 125