cover
Contact Name
Zurrahmi
Contact Email
zurrahmi10@gmail.com
Phone
+6285265992150
Journal Mail Official
zurrahmi10@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. kampar,
Riau
INDONESIA
Jurnal Ners
ISSN : -     EISSN : 25802194     DOI : 10.31004
Core Subject : Health,
Fokus Jurnal Ners meliputi bidang kajian riset keperawatan diantaranya Keperawatan Medikal Bedah, Keperawatan Maternitas, Keperawatan Gawat Darurat, Keperawatan Anak, Keperawatan Lansia, Keperawatan Jiwa, Keperawatan Keluarga, Keperawatan Masyarakat, Manajemen Keperawatan dan Terapi Komplementer yang dapat menunjang tindakan keperawatan Jurnal Ners dikelola dan diterbitkan oleh Program Studi Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai Jurnal Ners adalah pengembangan dari Jurnal Program Studi Keperawatan STIKes Tuanku Tambusai yang mulai melakukan publikasi cetak tahun 2012 seiring dengan perubahan bentuk Institusi menjadi Universitas Pahlawan
Articles 351 Documents
Search results for , issue "Vol. 10 No. 1 (2026)" : 351 Documents clear
Pengaruh Range of Motion Aktif-Asistif Terhadap Rentang Gerak Sendi Pada Pasien Stroke Non Hemoragik di Wilayah Kerja Puskesmas Putri Ayu Kota Jambi Desy E. Pakpahan; Yusnilawati Yusnilawati; Lisa Anita Sari; Indah Mawarti; Kamariyah Kamariyah
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.53346

Abstract

Stroke non-hemoragik merupakan gangguan neurologis yang dapat menyebabkan penurunan fungsi motorik dan keterbatasan rentang gerak sendi (Range of Motion/ROM), sehingga menghambat kemandirian pasien dalam aktivitas sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh latihan ROM aktif-asistif terhadap peningkatan rentang gerak sendi pada pasien stroke non-hemoragik. Penelitian menggunakan metode pra- eksperimental dengan pendekatan one group pre-test and post-test design. Sampel berjumlah 30 pasien stroke non-hemoragik di Puskesmas Putri Ayu Kota Jambi dengan teknik pengabmilan data melalui teknik purposive sampling. Intervensi berupa latihan ROM aktif-asistif dilakukan dua kali seminggu selama empat minggu pada ekstremitas atas dan bawah. Data dikumpulkan melalui observasi dan pengukuran menggunakan goniometer, kemudian dianalisis dengan uji paired t-test. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan rentang gerak sendi setelah intervensi (p-value = 0,000), terutama pada bahu, pergelangan kaki, siku, lengan bawah, dan panggul. ROM aktif-asistif sangat efektif dalam meningkatkan fleksibilitas sendi dan kemampuan motorik pasien stroke non-hemoragik. Implikasi dari temuan ini menunjukkan bahwa latihan ini dapat menjadi strategi rehabilitasi sederhana, murah, dan aplikatif di berbagai tatanan pelayanan kesehatan.
Analisa Konsep Adaptasi Pasien dengan Gangguan Kecemasan Pasca Operasi Berdasarkan Teori Adaptasi Roy Gusana Prinda Erawati; Annisa Shalma Ginar Pradani; Aric Vranada; Siti Aisah
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.53352

Abstract

Gangguan kecemasan pasca operasi merupakan respon psikologis yang umum dialami pasien setelah menjalani tindakan pembedahan. Kecemasan yang tidak dikelola dengan baik dapat memengaruhi proses penyembuhan, meningkatkan nyeri, memperpanjang lama rawat inap, serta menghambat adaptasi fisiologis dan psikologis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep adaptasi pasien dengan gangguan kecemasan pasca operasi berdasarkan teori Adaptasi Roy menggunakan pendekatan analisis konsep Walker dan Avant. Delapan tahapan analisis dilakukan untuk mengidentifikasi atribut, antecedent, konsekuensi, serta mendefinisikan konsep secara operasional. Hasil analisis menunjukkan bahwa adaptasi pasien pasca operasi ditandai dengan kemampuan mengendalikan respon emosional, stabilitas fisiologis, penerimaan diri, serta dukungan sosial dan spiritual yang memadai. Atribut utama yang teridentifikasi meliputi respon fisiologis stabil, kontrol emosional, koping efektif, dukungan sosial, dan penerimaan terhadap kondisi pasca operasi. Konsep adaptasi ini dapat digunakan sebagai dasar dalam penyusunan intervensi keperawatan yang berfokus pada peningkatan kemampuan adaptasi dan pengurangan kecemasan pada pasien pasca operasi. (Walker & Avant, 2018; Alligood, 2022). Postoperative anxiety is a common psychological response experienced by patients following surgical procedures. Poorly managed anxiety may negatively impact recovery by increasing pain perception, prolonging length of stay, and hindering both physiological and psychological adaptation. This study aims to analyze the concept of patient adaptation with postoperative anxiety based on Roy’s Adaptation Model using Walker and Avant’s concept analysis approach. Eight stages of analysis were conducted to identify defining attributes, antecedents, consequences, and to establish an operational definition of the concept. The analysis revealed that adaptation in postoperative patients is characterized by the ability to regulate emotional responses, maintain physiological stability, achieve self‐acceptance, and receive adequate social and spiritual support. The main defining attributes include stabilized physiological responses, emotional regulation, effective coping, social support, and acceptance of postoperative conditions. This conceptualization of adaptation may serve as a foundation for nursing interventions focused on enhancing adaptive responses and reducing anxiety among postoperative patients (Walker & Avant, 2018; Alligood, 2022).
Analisis Faktor Penyebab Dan Breeding Places Vektor Malaria Pada Pekerja Tambang Di Desa Hulawa Kecamatan Buntulia Kabupaten Pohuwato Rezha Rafsanjani Lakoro; Margaretha Solang; Irwan Irwan
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.53394

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor penyebab kejadian malaria serta keberadaan tempat perindukan vektor pada pekerja tambang di Desa Hulawa, Kecamatan Buntulia, Kabupaten Pohuwato. Penelitian menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan potong lintang terhadap 125 pekerja tambang. Variabel yang diteliti meliputi pengetahuan, kebiasaan keluar malam, riwayat malaria, persepsi risiko, efikasi diri, lama tinggal, keberadaan tempat perindukan, dan keberadaan vektor malaria. Analisis bivariat dilakukan menggunakan uji chi-square, sedangkan analisis multivariat menggunakan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa enam variabel berhubungan signifikan dengan kejadian malaria, yaitu pengetahuan (p=0,000; OR=0,018), riwayat malaria (p=0,014; OR=0,068), lama tinggal (p=0,001; OR=31,179), dan keberadaan vektor (p=0,020; OR=55,195). Dua variabel lainnya, yakni efikasi diri dan keberadaan tempat perindukan, tidak menunjukkan hubungan signifikan. Faktor yang paling dominan ialah keberadaan vektor malaria. Temuan ini menegaskan pentingnya pengendalian vektor dan pengelolaan lingkungan di area pertambangan sebagai upaya utama menurunkan insiden malaria.
Analisis Perbandingan Efektivitas Pengelolaan Manajemen Apotek Menggunakan SIMA dan GPOS di Apotek Harka Farma Viva Starlista; Rafisya Deta Paralika Putri; Alinda Tania; Cindy Marseli
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.53402

Abstract

Digitalisasi manajemen apotek dan manajemen farmasi menjadi kebutuhan strategis bagi apotek skala kecil yang masih bergantung pada pencatatan manual, yang berdampak pada efisiensi kerja, akurasi data, dan kelancaran pelaporan. Sistem digital seperti SIMA dan GPOS hadir sebagai solusi untuk meningkatkan kualitas pengelolaan farmasi dan layanan pasien. Tujuan penelitian ini menganalisis dan membandingkan efektivitas SIMA berbasis mobile dan GPOS dalam mendukung pengelolaan manajemen apotek dan manajemen farmasi di Apotek Harka Farma. Metode pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan kuesioner HOT-Fit untuk menilai aspek Human, Organization, dan Technology. Hasil kedua sistem efektif, namun SIMA lebih unggul dalam integrasi real-time, efisiensi transaksi, dan akurasi data. SIMA menunjukkan kinerja lebih baik pada aspek Organization dan Technology, sedangkan GPOS lebih unggul pada aspek Human. Kesimpulan SIMA direkomendasikan sebagai sistem utama untuk apotek skala kecil karena lebih mampu mendukung efisiensi operasional, akurasi pengelolaan, serta kualitas manajemen farmasi dibandingkan GPOS.
Pengaruh Edukasi Kesehatan dengan Media Video terhadap Tingkat Pengetahuan Hipertensi pada Kelompok GERMAS Desa Catur Nadhila Putri Utami; Abi Muhlisin
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.53416

Abstract

Tingginya kasus hipertensi yang terus meningkat setiap tahun mengindikasikan bahwa tingkat pengetahuan masyarakat mengenai penyakit tersebut masih rendah sehingga diperlukan upaya edukasi kesehatan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pencegahan dan pengelolaan hipertensi agar dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari guna menurunkan prevalensinya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh edukasi kesehatan dengan media video terhadap tingkat pengetahuan hipertensi pada kelompok GERMAS. Penelitian ini menggunakan desain pre-experimental dengan pendekatan one-group prepost test design dan melalui teknik insidental sampling diperoleh 42 responden. Instrumen penelitian meliputi video edukasi kesehatan, Kuisioner Hypertension Knowledge-Level Scale. Uji Wilcoxon digunakan karena data menunjukkan distribusi yang tidak normal (p = 0,034) setelah uji normalitas. Hasil berdasarkan uji Wilcoxon Signed Rank terdapat pengaruh signifikan terhadap tingkat pengetahuan hipertensi sebelum dan sesudah intervensi dengan nilai p = 0,000 (p < 0,05). Edukasi kesehatan dengan media video telah terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan tentang hipertensi.
Efektivitas Aromaterapi Lemon Suanggi terhadap Gejala Obstructive Sleep Apnea untuk Mencegah Penyulit Persalinan Kala I Sri Atikah; Hindun Rahim; Febrianika Ayu Kusumaningtyas; Meinita Wulansari
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.53430

Abstract

Sleep-disordered breathing, particularly Obstructive Sleep Apnea (OSA), often goes undetected during pregnancy, especially in the third trimester. This condition may increase the risk of preeclampsia, prolonged labor, and fetal growth restriction due to reduced oxygen levels. This study aimed to evaluate the effectiveness of lemon suanggi (Citrus lemon L.) aromatherapy as a complementary therapy in reducing OSA symptoms among third-trimester pregnant women. The study employed a quasi-experimental design with a One Group Pre-test Post-test Design. Respondents were third-trimester pregnant women selected based on inclusion and exclusion criteria. Before the intervention, a pre-test was conducted to assess OSA symptoms using the STOP-BANG questionnaire and Epworth Sleepiness Scale (ESS), along with measurements of respiratory rate and blood pressure. The intervention involved lemon suanggi aromatherapy administered through inhalation using an electric diffuser. The essential oil, distilled from lemon peel, was verified as safe for pregnant women. Aromatherapy was administered with 3–5 drops in 100 ml of water for 30 minutes before bedtime each day for one week. Post-test measurements were conducted using the same instruments, and observations were made on labor complications during the first stage, such as the duration of the latent and active phases. Results showed a decrease in STOP-BANG and ESS scores after the intervention, along with improved sleep quality, lower respiratory rate and blood pressure, and reduced daytime sleepiness. These effects are likely attributed to active compounds such as limonene, β-pinene, and citral, which act on GABA<sub>A</sub> receptors to induce relaxation. Overall, lemon suanggi aromatherapy proved safe and effective in reducing OSA symptoms and improving sleep quality among third-trimester pregnant women. This finding highlights the potential of local natural products to support maternal health and aligns with the national development of herbal-based therapies.
Persepsi Caring Pada Multikultural Pasien: Analisis Konsep (Caring Perception Among Multicultural Patients: A Concept Analysis) Livia Baransyah; Khofifatuz Zahroh; Aric Vranada; Siti Aisah
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.53449

Abstract

Persepsi Caring Pada Multikultural pasien merupakan inti dari praktik keperawatan yang melibatkan kemampuan teknis dan empati untuk memenuhi kebutuhan pasien secara menyeluruh. Dalam lingkungan pelayanan kesehatan yang semakin multikultural, pasien memiliki latar belakang nilai, kepercayaan, bahasa, dan pengalaman kesehatan yang berbeda-beda. Variasi budaya tersebut memengaruhi cara pasien memahami, menilai, dan merespons perilaku caring yang ditunjukkan oleh perawat. Pemahaman yang kurang terhadap perbedaan persepsi caring dapat berdampak pada rendahnya kepercayaan, keselamatan, dan kepuasan pasien. Tiga Atribut kunci yang menentukan diantaranya: “Pemahaman caring berdasarkan tingkat pendidikan pasien, Faktor usia dalam penilian caring, dan Pengalaman pasien dalam menerima perilaku caring”. Analisis antecenden mencakup Pengetahuan dan keterampilan, Rasa hormat, Keyakinan/Penjaminan, dan Keterhubungan. Konsekuensi yang diidentifikasi adalah Kepercayaan, Kepuasaan, Keselamatan pasien, dan Layanan berkualitas terbaik. Persepsi caring pada pasien multikultural menunjukkan perbedaan yang dipengaruhi oleh nilai dan pandangan budaya. Perawat perlu mengintegrasikan kompetensi budaya dalam praktik caring untuk mendukung pelayanan yang berpusat pada pasien, meningkatkan keselamatan, serta memperkuat hubungan terapeutik antara perawat dan pasien. Proses ini berpotensi untuk meyakinkan pasien agar lebih percaya terhadap pelayanan yang diberikan oleh tenaga Kesehatan sehingga dapat meningkatkan pengetahuan persepsi dalam pelayanan Kesehatan. Caring Perception Among Multicultural Patients. Caring is at the core of nursing practice, which involves technical ability and empathy to meet the needs of patients holistically. In an increasingly multicultural healthcare environment, patients have different backgrounds of values, beliefs, languages, and health experiences. These cultural variations affect the way patients understand, assess, and respond to caring behaviors exhibited by nurses. A lack of understanding of differences in caring perceptions can have an impact on low patient trust, safety, and satisfaction. Three key attributes that determine are identified: "understanding of caring based on the level of education of the patient, age factor in the care study, and the patient's experience in accepting caring behavior". The anteante analysis includes "Knowledge and skill, Respectfulness, Assurance, Connectedness". Consequences are defined according to "Trust, Satisfaction, Patient Safety, Top Quality Services". The perception of caring in multicultural patients shows differences influenced by cultural values and views. Nurses need to integrate cultural competencies in caring practices to support patient-centered care, improve safety, and strengthen therapeutic relationships between nurses and patients. This process has the potential to convince patients to have more trust in the services provided by health workers, so that they can increase knowledge perception in health services.
Organizational Citizenship Behavior dan Budaya Keselamatan Pasien dengan Kepuasan Kerja Perawat Yulina Sari Siregar; Diah Arruum; Riswani Tanjung
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.53465

Abstract

Kepuasan kerja perawat merupakan komponen penting dalam menjaga kualitas pelayanan dan keselamatan pasien. Organizational Citizenship Behavior (OCB) dan budaya keselamatan pasien merupakan faktor yang dapat memengaruhi tingkat kepuasan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan OCB dan budaya keselamatan pasien dengan kepuasan kerja perawat di Rumah Sakit Prof. Dr. Chairuddin P. Lubis Universitas Sumatera Utara. Metode penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan sampel 61 perawat yang dipilih melalui teknik total sampling. Instrumen penelitian meliputi kuesioner OCB, HSOPSC dan JSS. Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square dan analisis multivariat dengan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa OCB tidak memiliki hubungan dengan kepuasan kerja perawat dan budaya keselamatan pasien memiliki hubungan signifikan dengan kepuasan kerja (p = 0,004). Analisis multivariat menunjukkan kerjasama tim lintas unit sebagai faktor paling dominan yang memengaruhi kepuasan kerja perawat, dengan nilai p = 0,015 dan OR = 5,962. Hasil ini menunjukkan bahwa budaya keselamatan pasien, khususnya kerja tim lintas unit, berperan penting dalam meningkatkan kepuasan kerja perawat. Penguatan koordinasi lintas unit dan peningkatan kolaborasi antartim direkomendasikan untuk meningkatkan kepuasan kerja dan mutu pelayanan di rumah sakit.
Transformasi Paradigma Ensefalopati Hepatikum: Integrasi Gut–Liver–Brain Axis, Neuroinflamasi, dan Biomarker Modern I Putu Arya Giri Prebawa
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.53474

Abstract

Hepatic encephalopathy (HE) is increasingly recognized as a complex neuropsychiatric disorder driven by multidimensional interactions within the gut–liver–brain axis rather than ammonia toxicity alone. Recent evidence demonstrates that the synergy between hyperammonemia, systemic inflammation, microbiota dysbiosis, and metabolite dysregulation—particularly bile acids—triggers microglial activation, astrocytic dysfunction, and blood–brain barrier disruption. Sarcopenia and myosteatosis further impair ammonia detoxification and reduce neuroprotective signaling. Emerging biomarkers, including neurofilament light chain (NfL), YKL-40, bile-acid panels, and functional neuroimaging (rs-fMRI, DTI), provide improved sensitivity for early detection of subclinical impairment. Therapeutic strategies now extend beyond ammonia reduction to microbiota modulation (rifaximin, FMT), next-generation ammonia scavengers, and muscle-targeted interventions. Integration of metabolomic profiles with artificial intelligence supports the development of precision medicine approaches, enabling accurate risk stratification and personalized therapeutic planning. This article summarizes the evolving pathophysiological paradigm, diagnostic advances, and future therapeutic innovations in HE.
Analisis Konsep Dukungan Keluarga di Unit Perawatan Intensif (ICU) Rumah Sakit Berdasarkan Patient and Family-Centered Care Ade Rahmah Yulia; Dian Prestiyowati; Satriya Pranata; Siti Aisah; M. Fatkul Mubin
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.53477

Abstract

Paradigma keperawatan intensif telah bergeser dari model biomedis–teknosentris menuju patient and family-centered care (PFCC) yang menempatkan keluarga sebagai mitra aktif dalam komunikasi, asuhan, dan pengambilan keputusan. Meskipun bukti global terus berkembang, kejelasan konseptual tentang “dukungan keluarga” dalam kerangka PFCC di ICU Indonesia masih terbatas. Penelitian ini bertujuan merumuskan definisi konseptual dan operasional dukungan keluarga sebagai mitra dalam asuhan keperawatan kritis, mengidentifikasi atribut, antecedent, dan konsekuensi, serta menyusun indikator empiris untuk pengukuran dan integrasinya dalam praktik ICU. Analisis konsep dilakukan dengan pendekatan delapan langkah Walker dan Avant melalui sintesis bukti dari penelitian kuantitatif, kualitatif, dan campuran, uji klinis, serta telaah sistematis dan meta-analisis tentang PFCC dan partisipasi keluarga di ICU dewasa yang terbit tahun 2020–2025. Teridentifikasi lima atribut utama dukungan keluarga: (1) komunikasi terapeutik dan kolaboratif, (2) kehadiran fisik–emosional, (3) partisipasi aktif dalam perawatan dan pengambilan keputusan, (4) keterhubungan berbasis teknologi, serta (5) orientasi pada kebutuhan emosional, informasi, dan rasa aman pasien–keluarga. Atribut-atribut tersebut berhubungan dengan penurunan delirium, durasi ventilasi, dan lama rawat ICU, serta peningkatan kepuasan, kualitas komunikasi, dan kesejahteraan psikologis keluarga. Dukungan keluarga di ICU merupakan kemitraan terstruktur antara keluarga dan tim kesehatan yang meliputi komunikasi, kehadiran, partisipasi, dan pengambilan keputusan bersama. Model ini menjadi dasar teoritis bagi pengembangan kebijakan dan intervensi keperawatan ramah keluarga di Indonesia. The paradigm in intensive care nursing has shifted from a biomedical–technocentric model to patient- and family-centered care (PFCC), emphasizing the family as an active partner in communication, care, and decision-making. Despite growing global evidence, conceptual clarity of “family support” within the PFCC framework in Indonesian ICUs remains limited. This study aimed to formulate a conceptual and operational definition of family support as a partner in critical care nursing, identify its defining attributes, antecedents, and consequences, and develop empirical indicators for its measurement and integration into ICU practice. A concept analysis was conducted using Walker and Avant’s eight-step approach, synthesizing evidence from quantitative, qualitative, and mixed-method studies, clinical trials, and systematic reviews on PFCC and family participation in adult ICUs published between 2020–2025. Five core attributes of family support were identified: (1) therapeutic and collaborative communication, (2) physical–emotional presence, (3) active participation in care and decision-making, (4) technology-mediated connectedness, and (5) orientation to emotional, informational, and safety needs. These attributes were linked with reduced delirium incidence, shorter ventilation duration and ICU stay, improved satisfaction and communication quality, and enhanced family psychological well-being. Family support in the ICU is a structured partnership between families and the healthcare team encompassing communication, presence, participation, and shared decision-making. This conceptual model provides a theoretical foundation for developing evidence-based, family-friendly ICU policies and nursing interventions within the Indonesian critical care context.