cover
Contact Name
Zurrahmi
Contact Email
zurrahmi10@gmail.com
Phone
+6285265992150
Journal Mail Official
zurrahmi10@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. kampar,
Riau
INDONESIA
Jurnal Ners
ISSN : -     EISSN : 25802194     DOI : 10.31004
Core Subject : Health,
Fokus Jurnal Ners meliputi bidang kajian riset keperawatan diantaranya Keperawatan Medikal Bedah, Keperawatan Maternitas, Keperawatan Gawat Darurat, Keperawatan Anak, Keperawatan Lansia, Keperawatan Jiwa, Keperawatan Keluarga, Keperawatan Masyarakat, Manajemen Keperawatan dan Terapi Komplementer yang dapat menunjang tindakan keperawatan Jurnal Ners dikelola dan diterbitkan oleh Program Studi Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai Jurnal Ners adalah pengembangan dari Jurnal Program Studi Keperawatan STIKes Tuanku Tambusai yang mulai melakukan publikasi cetak tahun 2012 seiring dengan perubahan bentuk Institusi menjadi Universitas Pahlawan
Articles 2,415 Documents
Strategi Manajemen Rumah Sakit dalam Meningkatkan Responsivitas Pelayanan Gawat Darurat untuk Korban Kecelakaan Lalu Lintas Ady Purwoto; Slamet Isworo; Enny Rachmani
Jurnal Ners Vol. 9 No. 2 (2025): APRIL 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i2.43022

Abstract

Effective Emergency Room services depend on several factors, including response time, availability of adequate medical facilities, and coordination between hospital units. This study aims to analyze hospital management strategies in improving the responsiveness of Emergency Room services for traffic accident victims, with the hope that the results of this study can provide useful recommendations for hospital management in handling such emergency situations. This study uses a case study design with a qualitative approach, where researchers will analyze the experience and strategies of hospital management in improving the responsiveness of Emergency Room services for traffic accident victims. The results of the study showed that most patients who came to the Emergency Room were non-emergency (70%), and only 30% really needed emergency treatment. This indicates inefficiency in the utilization of Emergency Room services that need to be optimized to ensure that traffic accident victims receive timely treatment. The conclusion of this study is that in order to improve the responsiveness of Emergency services to traffic accident victims in Jabodetabek, hospitals must face several challenges, including inefficiency, limited medical personnel, limited bed capacity, financing challenges from BPJS, in the management of the Emergency Installation with the large number of non-emergency patients coming to the Emergency Installation.
Implementasi Strategi Pencegahan Infeksi Tuberkulosis di Fasilitas Kesehatan: Tinjauan Sistematis Meita Nazla Adila; Rita Damayanti
Jurnal Ners Vol. 9 No. 2 (2025): APRIL 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i2.43108

Abstract

Tenaga kesehatan rentan terhadap infeksi tuberkulosis karena adanya kontak dekat dengan pasien TB di fasilitas kesehatan, namun tidak banyak studi yang meneliti tentang upaya untuk mencegah infeksi tuberkulosis pada petugas kesehatan di fasilitas kesehatan. Tujuan: Tinjauan sistematis ini bertujuan untuk menganalisis upaya pencegahan yang diadopsi oleh fasilitas kesehatan untuk mencegah penularan tuberkulosis pada petugas kesehatan. Metode: Tinjauan sistematis ini menggunakan artikel yang diekstraksi dari database Scopus, ProQuest, dan PubMed dalam 10 tahun terakhir, terbatas pada artikel teks yang dapat diakses secara lengkap dalam bahasa Inggris. Hasil: Tinjauan sistematis ini berfokus pada tindakan pencegahan yang diadopsi oleh fasilitas kesehatan untuk melindungi petugas kesehatan dari infeksi tuberkulosis. Penelitian ini mencakup tujuh studi yang mengkaji strategi pengendalian infeksi TB dari aspek manajerial, administratif, lingkungan, serta penggunaan alat pelindung diri (APD). Penerapan pengendalian infeksi tuberkulosis ini bervariasi di setiap fasilitas kesehatan. Hambatan utama dalam implementasi strategi pencegahan meliputi keterbatasan sumber daya, regulasi yang belum seragam, serta kurangnya pelatihan tenaga kesehatan. Kesimpulan: Untuk mengatasi kesenjangan ini dan meningkatkan pengendalian infeksi TB di seluruh fasilitas kesehatan, diperlukan penguatan kebijakan dan standar terkait pencegahan tuberkulosis agar dapat diterapkan secara serempak di berbagai jenis fasilitas layanan kesehatan.
Hubungan Interdialytic Weight Gain Terhadap Kualitas Hidup Pada Pasien Dengan Chronic Kidney Disease Di Unit Hemodialisis Rsu Royal Prima Medan Tahun 2024 Julia Yosida Damanik; Kezia Chaterine Hasibuan; Yolanda Valeri; Suci Christin Zega; Cheriza Addara; Karmila Kaban
Jurnal Ners Vol. 9 No. 2 (2025): APRIL 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i2.43119

Abstract

Interdialytic Weight Gain can also reduce patient health. The aim of the following study is to find out the relationship between Interdialytic Weight Gain and the survival of Chronic Kidney Disease patients in the Hemodialysis Unit of the Royal Prima University Hospital in Medan in 2024. The study used a quantitative research form with a cross-sectional research form where this study is a study where files are combined from a certain time from one group or sample. The samples taken were Chronic Kidney Disease patients who underwent hemodialysis at Royal Prima Hospital in Medan through the Accidental Sampling method. File review was carried out using univariate and bivariate analysis. The completion of the research that has been carried out on the Relationship of Interdialytic Weight Gain to Health of Life in Chronic Kidney Disease Patients in the Hemodialysis Unit of Royal Prima Hospital in Medan in 2024. Keywords: Chronics Kidneys Diseases , Hemodialysiss, Interdialytic Weight Gain, Quality of Life
Penerapan Intervensi Squisy Dengan Kombinasi Rom Aktif Untuk Meningkatkan Kekuatan Otot Tangan Pada Pasien Stroke Aprilia Anggraini; Okti Sri Purwanti
Jurnal Ners Vol. 9 No. 2 (2025): APRIL 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i2.43282

Abstract

Stroke adalah kejadian suatu penyakit karena jaringan otak yang rusak dan disebabkan karena kurangnya atauterhentinya suplai dalam darah secara mendadak. Jenis stroke yang paling sering terjadi adalah stroke nonhemoragik atau yang biasa disebut stroke iskemik, prevalensi mencapai 88% dari semua jenis stroke. Gejalastroke adalah kelemahan otot pada lengan bagian kanan atau kiri bila tidak mendapatkan penanganan yangbaik akan menimbulkan kecacatan, sehingga untuk meminimalkan kecacatan tersebut dengan melakukanterapi genggam squisy berbentuk bola dan ROM aktif secara rutin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuipengaruh terapi genggam squisy berbentuk bola dengan kombinasi ROM aktif terhadap peningkatan kekuatanotot pada pasien stroke di ruang rawat inap RSUD dr.Moewardi Tahun 2024. Desain penelitian ini adalah casereport. Jumlah sampel satu responden. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus 2024. Hasil analisamenunjukan bahwa ada perbedaan antara kekuatan otot sebelum dan sesudah terapi genggam squisyberbentuk bola dengan kombinasi ROM aktif selama 2 kali sehari sebanyak 3 hari berturut turut. Hasilpenelitian menunjukan ada pengaruh gengaman squisy berbentuk bola dengan kombinasi ROM aktif padapasien stroke non hemoragic dengan hemiprase ekstremitas atas terhadap skala kekuatan otot dan mobilitasfisik.
Hubungan Pola Makan dan Aktivitas Fisik Terhadap Penurunan Kadar Gula Darah pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 RSU Royal Prima Medan Effendi Zamili; Marissa Hardayati Br Raja Guk Guk; Makrifatul Aulia; Faradila Murni; Belinda Putri E. Sihura; Chrismis Novalinda Ginting
Jurnal Ners Vol. 9 No. 2 (2025): APRIL 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i2.43316

Abstract

Diabetes tipe 2 suatu kondisi metabolisme kronis yang meningkatkan kadar gula darah. Penyakit ini termasuk yang paling umum di seluruh dunia. Dua variabel penting yang mengubah kadar gula darah adalah pola makan dan Aktivitas fisik. Pola makan sehat mencakup makanan tinggi lipid, karbohidrat kompleks, dan protein. Menghindari praktik makan yang buruk, termasuk mengonsumsi banyak daging dan makanan manis, merupakan aspek lain dari pola makan baik. Aktivitas fisik mengacu kepada segala jenis latihan tubuh melibatkan otot dan energi. Aktivitas ini meliputi berbagai bentuk kegiatan fisik, mulai dari olahraga kompetitif hingga aktivitas sehari-hari seperti pekerjaan rumah tangga dan perjalanan. Penelitian dilakukan pada bulan desember hingga januari. Metodologi kuantitatif dan metodologi cross-sectional digunakan pada peneliti. Dengan memakai purposive sampling, dipilih 30 responden dari 100 pasien diabetes tipe 2 yang menjadi sampel penelitian. Penurunan kadar gula darah berkorelasi kuat dengan pola makan dan aktivitas fisik, menurut temuan penelitian. Persentase orang dengan gula darah normal lebih tinggi pada mereka yang aktif secara fisik (66,7%) dibandingkan mereka yang melaporkan pola makan yang baik dan bergizi (83,3%). p-value sekitar 0,000<0,005, diperoleh dari analisis statistik Pearson Chi-Square, membuktikan hubungan signifikan secara statistik menunjukkan bahwa Ha tidak diterima, sedangkan H0 diterima.
Efektivitas Art Therapy: Menggambar Terhadap Penurunan Tanda dan Gejala Pada Pasien Halusinasi Pendengaran di Rumah Sakit Jiwa Daerah Dr. Arif Zainudin Provinsi Jawa Tengah Arya Tosanaji Adyuta Prasasti; Wita Oktaviana; Andi Nugroho
Jurnal Ners Vol. 9 No. 2 (2025): APRIL 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i2.43390

Abstract

Gangguan jiwa, khususnya halusinasi pendengaran, merupakan salah satu kondisi yang dapat mengganggu kualitas hidup pasien. Art therapy, khususnya terapi menggambar, telah diusulkan sebagai intervensi yang potensial dalam mengelola gejala halusinasi baik pendengaran maupun penglihatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas terapi menggambar terhadap penurunan tanda dan gejala pada pasien dengan halusinasi pendengaran di Rumah Sakit Jiwa Daerah dr. Arif Zainudin, Provinsi Jawa Tengah. Desain penelitian yang digunakan adalah case report dengan pendekatan evidence-based practice (EBP). Dalam penelitian ini terdapat 5 responden dengan gangguan persepsi sensori halusinasi pendengaran. Data dikumpulkan sebelum dan sesudah intervensi menggunakan formulir yang berisi checklist tanda dan gejala halusinasi. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan signifikan dalam tanda dan gejala kognitif, afektif, fisiologis, perilaku, dan sosial setelah diberikan terapi menggambar. Setelah intervensi, seluruh pasien menunjukkan adanya perubahan yang ditandai dengan hilangnya sebagian besar gejala dan peningkatan kesejahteraan emosional. Hasil ini mendukung penggunaan art therapy sebagai terapi alternatif dalam manajemen halusinasi pendengaran.
Pemberdayaan Kader Dalam Upaya Pencegahan Anemia Pada Kelompok Remaja Putri Adisti Kusuma Putri; Vinami Yulian
Jurnal Ners Vol. 9 No. 2 (2025): APRIL 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i2.43423

Abstract

Merujuk pada literatur sebelumnya menunjukkan bahwa 27,2% kelompok remaja putri menderita anemia. Berbagai strategi dilakukan untuk mencegah peningkatan kejadian anemia. Pemberdayaan kader yang menjadi salah satu strategi untuk menurunkan angka kejadian anemia khususnya pada kelompok remaja putri. Tujuan asuhan keperawatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan kader tentang pencegahan kejadian anemia pada remaja putri. Pemberdayaan kepada kader terdiri dari pelatihan, pendampingan dan evaluasi yang dilakukan secara kontinu. Intervensi dilakukan kepada tujuh kader. Instrumen intervensi ini menggunakan lembar kuesioner tingkat pengetahuan dengan total 27 pertanyaan. Adanya peningkatan pengetahuan dan keterampilan kader dalam upaya pencegahan kejadian anemia pada remaja putri dengan kader yang mempunyai tingkat pengetahuan baik meningkat dari tiga kader (42,9%) menjadi tujuh kader (100%) dan kader yang mempunyai pengetahuan cukup menurun dari empat kader (57,1%) menjadi tidak ada kader yang mempunyai pengetahuan cukup mengenai pencegahan anemia (0%). Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan kader dalam upaya pencegahan kejadian anemia pada remaja putri.
Integrasi Posbindu PTM dan Prolanis Pada Pelayanan Diabetes Melitus Di Kota Jambi Adila Solida; Andy Amir; Evy Wisudariani; Fitri Widiastuti
Jurnal Ners Vol. 9 No. 2 (2025): APRIL 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i2.36445

Abstract

Penyakit Tidak Menular (PTM) masih menjadi penyebab kematian utama di dunia dan di Indonesia saat ini, salah satunya adalah penyakit Diabetes Melitus. Di Kota Jambi, prevalensi penyakit diabetes mellitus yang tinggi dan terus meningkat menjadi beban penyakit yang menurunkan produktivitas masyarakat. Kebijakan dan program pengendalian penyakit seharusnya memadai, namun hasil penelitian menemukan bahwa terdapat kesenjangan besar antara program dan beban PTM yang harus diatasi. Posbindu-PTM dan Prolanis merupakan dua program yang berupaya mengendalikan penyakit diabetes melitus, namun belum ada koordinasi dalam pelaksanaan kedua program tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis integrasi pelaksanaan Posbindu PTM dan Prolanis serta dampaknya terhadap pelayanan kesehatan diabetes melitus di Kota Jambi dengan menggunakan model implementasi kebijakan Van Meter dan Van Horn. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melibatkan 15 orang informan yang merupakan pemangku kepentingan dan pelaksana program. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pelayanan diabetes melitus integrasi Posbindu PTM dan Prolanis telah dilaksanakan di beberapa Puskesmas Kota Jambi dalam bentuk pelaksanaan di lapangan dalam satu waktu, namun kelemahan dalam pelaksanaannya berasal dari standar dan sasarannya, sumber daya dan sikap pelaksana. Perlu adanya dukungan yang kuat dari pemangku kepentingan untuk mengupayakan integrasi program untuk layanan PTM terutama diabetes melitus.
Intervensi Pencegahan Jatuh Pada Lansia Berbasis Keperawatan Keluarga: Tinjauan Sistematis Didi Kurniawan; Junaiti Sahar; Etty Rekawati; Ratu Ayu Dewi Sartika
Jurnal Ners Vol. 9 No. 2 (2025): APRIL 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i2.40717

Abstract

Falls in the elderly are a serious problem because they can cause physical injuries, such as fractures, head trauma, and even death. Preventing falls in the elderly requires a multidimensional approach that is not only focused on the individual, but also involves the family as the main support unit. This review aims to identify family nursing-based fall prevention interventions. This systematic review method follows the PRISMA framework with article searches through Cinahl, ProQuest, Pubmed, ScienceDirect, Google scholar, and the Cochrane database of systematic reviews. The findings of this review revealed that of the 541 articles identified in the initial stage, nine articles met the eligibility criteria and were retained for further in-depth analysis. The results of the analysis provide insights into fall prevention interventions including; health education, mindfulness and psychoeducation, Otago exercise program, family involvement, fall risk assessment, and home modification. These findings have important implications for community health nurses in providing family nursing care, through empowering the family as the main caregiver in managing fall risk at home.
Faktor Risiko Kejadian Stunting Pada Balita Umur 24-60 Bulan Rohaya Rohaya; Yulianto Yulianto; Suprida Suprida; Megawati Megawati; Fitri Afdhal; Yunetra Franciska
Jurnal Ners Vol. 9 No. 2 (2025): APRIL 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i2.41520

Abstract

Balita Stunting atau pendek merupakan keadaan gagal berkembang pada umur dibawah 5 tahun (balita) akibat kekurangan gizi kronis serta penyakit infeksi berulang paling utama pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu dari kandungan sampai anak berumur 24 bulan. Anak terkategori stunting apabila panjang ataupun tinggi tubuhnya terletak di dasar minus 2 standar deviasi dari tinggi anak seumurnya. Stunting pada balita disebabkan oleh berbagai faktor, selain faktor anak, terdapat faktor dari ibu serta pola asuh. Mengetahui faktor risiko kejadian stunting pada balita usia 24-60 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Renggiang Kabupaten Belitung Timur Tahun 2024.Menggunakan desain case- control. Populasi penelitian ini adalah seluruh balita usia 24-60 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Renggiang Kabupaten Belitung Timur Tahun 2024 dengan sampel yang sudah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dengan perbandingan 1:1 yaitu kelompok kasus sebanyak 37 balita dan kelompok kontrol sebanyak 37 balita sehingga total keseluruhan sampel berjumlah 74 balita. Terdapat hubungan yang signifikan antara pemberian ASI Eksklusif (p-value 0,001) dengan kejadian stunting, sedangkan jenis kelamin (p- value 0,162), pendidikan ibu (p-value 0,334), tinggi badan ibu (p-value 0,430), usia saat hamil (p-value 0,595), jarak lahir (p-value 0,595), dan paritas (p-value 0,754) tidak ada hubungan yang signifikan dengan kejadian stunting pada balita usia 24-60 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Renggiang Kabupaten Belitung Timur.pola asuh ibu dalam pemberian ASI Eksklusif menjadi salah satu faktor risiko kejadian stunting pada balita, Perlu adanya edukasi oelh tenaga kesehatan dan sektor terkait dalam upaya pencegahan stunting.