cover
Contact Name
Zurrahmi
Contact Email
zurrahmi10@gmail.com
Phone
+6285265992150
Journal Mail Official
zurrahmi10@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. kampar,
Riau
INDONESIA
Jurnal Ners
ISSN : -     EISSN : 25802194     DOI : 10.31004
Core Subject : Health,
Fokus Jurnal Ners meliputi bidang kajian riset keperawatan diantaranya Keperawatan Medikal Bedah, Keperawatan Maternitas, Keperawatan Gawat Darurat, Keperawatan Anak, Keperawatan Lansia, Keperawatan Jiwa, Keperawatan Keluarga, Keperawatan Masyarakat, Manajemen Keperawatan dan Terapi Komplementer yang dapat menunjang tindakan keperawatan Jurnal Ners dikelola dan diterbitkan oleh Program Studi Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai Jurnal Ners adalah pengembangan dari Jurnal Program Studi Keperawatan STIKes Tuanku Tambusai yang mulai melakukan publikasi cetak tahun 2012 seiring dengan perubahan bentuk Institusi menjadi Universitas Pahlawan
Articles 3,122 Documents
Media Powerpoint Sebagai Edukasi Kesehatan Remaja Tentang Swamedikasi Gastritis Desa Sukahurip , Kec Sukatani, Kab Bekasi Ahmad Sofwan Zaki; Ananda Patuh Padaallah; Retno Anggraeni Puspita Sari; Cicilia Nony Ayuningsih Bratajaya
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.57067

Abstract

Gastritis merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering terjadi pada remaja dan umumnya ditangani melalui swamedikasi. Kurangnya pengetahuan mengenai penggunaan obat yang rasional dapat meningkatkan risiko kesalahan pengobatan. Oleh karena itu, diperlukan edukasi kesehatan untuk meningkatkan pemahaman remaja tentang swamedikasi gastritis yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi kesehatan menggunakan media PowerPoint terhadap tingkat pengetahuan tindakan swamedikasi gastritis pada remaja usia 10–19 tahun di Desa Sukahurip, Kecamatan Sukatani, Kabupaten Bekasi. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain quasi experiment tipe one group pretest–posttest. Sampel berjumlah 95 remaja yang dipilih dengan teknik total sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner pengetahuan swamedikasi gastritis yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan tingkat pengetahuan setelah diberikan edukasi. Uji Wilcoxon menunjukkan nilai Z sebesar -8,512 dengan Asymp. Sig. (2-tailed) sebesar 0,000 (p < 0,05), yang berarti terdapat pengaruh signifikan edukasi menggunakan media PowerPoint terhadap peningkatan pengetahuan remaja mengenai swamedikasi gastritis. Disimpulkan bahwa media PowerPoint efektif sebagai sarana edukasi kesehatan untuk meningkatkan pemahaman remaja dalam melakukan swamedikasi gastritis secara rasional. Kata Kunci: swamedikasi, gastritis, edukasi kesehatanl.
Gambaran Pemberian Terapi Acbt dan Latihan Batuk Efektif Terhadap Frekuensi Pernapasan, Spo2 Modified Skala Borg Pada Anak Dengan Bronkitis Akut di Ruangan Ibnu Sina: Case Report Mar’atun Shalihah; Rahmah Rahmah; Irni Mastiarini
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.57134

Abstract

Acute bronchitis is one of the respiratory tract diseases that often occur in children and is characterized by the main symptoms in the form of coughing, both dry and phlegm. This condition can cause a buildup of secretions in the airways so that it interferes with airway cleaning and has the potential to cause shortness of breath and decreased oxygenation status if not handled properly. One of the efforts made is that ACBT and cough are effective to improve ventilation and help secretion through breathing control, deep breathing, and huffing as well as maintaining the patency of the respiratory tract. This study aims to provide an overview of the application of Active Cycle of Breathing Technique therapy and effective cough exercises on oxygenation status, respiratory frequency, and respiratory shortness of breath in children with acute bronchitis. The research method uses case reports with Single-Case Experimental Design (SCED) design through O1 and O2 designs. The subject is a child with acute bronchitis. Active Cycle of Breathing Technique interventions and effective cough exercises were administered three times a day for four days, with pre- and post-action monitoring to assess the patient's response. The monitoring results showed that after the intervention was given, the level of tightness remained in the minimum category, the respiratory frequency was in the normal range according to the child's age, and there was an increase in oxygenation status compared to pre-intervention conditions. Conclusion: The application of Active Cycle of Breathing Technique and coughing exercises effectively has a positive impact on airway hygiene and supports the recovery of respiratory conditions in children with acute bronchitis.
Association Between the Severity of Nephrolithiasis and the Degree of Hepatic Steatosis on Non-Contrast Abdominal CT Scan Fransiskus Aryo Pratomo; Adi Soekardi; Desi Novianti
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.57143

Abstract

Introduction: Nephrolithiasis and hepatic steatosis are two conditions that frequently co-occur and are hypothesized to share common pathophysiological pathways through metabolic syndrome. However, studies quantitatively exploring the relationship between the degree of hepatic steatosis and kidney stone volume (total stone volume/TSV) remain limited. Methods: This study employed an analytical cross-sectional design using retrospective data from electronic medical records and the PACS system at RSU Royal Prima Medan from March to December 2025 with a total of 84 subjects. The degree of hepatic steatosis was assessed based on liver attenuation values on non-contrast CT-scan. Total stone volume was calculated based on stone dimension measurements using 3D Slicer application. Bivariate analysis followed by multivariate analysis using linear regression to control for confounders. Results: The mean age of subjects was 51.38 ± 11.13 years, with a male proportion of 54.8%. The prevalence of visceral obesity (VFA >100 cm²) was 70.2%. Most subjects (84.5%) had hepatic steatosis. The Spearman correlation test showed a significant positive correlation between the degree of hepatic steatosis and TSV (ρ = 0.48; p < 0.001). Linear regression analysis confirmed that hepatic steatosis was an independent predictor of TSV after controlling for age, sex, and visceral obesity (β = 0.403; p < 0.001), with a model R² value of 0.266. Conclusion: There is a significant and independent association between the degree of hepatic steatosis and total stone volume in patients with nephrolithiasis. Screening for hepatic steatosis in nephrolithiasis patients should be considered as part of a holistic management approach. Keywords: Nephrolithiasis, hepatic steatosis, total stone volume, metabolic syndrome, visceral obesity
Manajemen Pencegahan Komplikasi Post Septoplasty: A Systematic Review Rofiqa Dwi Febriyanti; Lailatun Nimah; Ragil Yunila; Wynne Faiza Rosada; Winda Gusya Dwiana; Farabilla Fredela Ferina Cantika
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.57232

Abstract

ABSTRAK Background: Deviasi septum hidung menyebabkan peningkatan resistensi pernapasan di saluran hidung sehingga menimbulkan perasaan tidak nyaman akibat aliran udara yang tidak memadai. Septoplasty adalah koreksi bedah septum hidung yang menyimpang. Method: Penelitian ini menggunakan jenis metode kuantitatif dengan pendekatan sistematik review yang mengikuti pedoman PRISMA 2020. Pencarian dilakukan di berbagai basis data seperti PubMed, Scopus, dan Sciencedirect dengan rentang tahun publikasi dari 2020 sampai 2025. Strategi pencarian Boolean yaitu: "strategic” OR “management” AND “prevent” AND “complication” AND “Post” AND “septoplasty” dari 560 artikel yang ditemukan, setelah melalui proses penyaringan dengan kriteria inklusi dan eksklusi, diperoleh 15 artikel yang digunakan untuk analisis lebih lanjut menggunakan checklist JBI Critical Appraisal. Result: 15 artikel yang memenuhi kriteria penelitian studi menujukkan bahwa Deviasi septum hidung merupakan kondisi paling umum yang ditemui. Kondisi ini diakui sebagai masalah kesehatan global yang signifikan, yang memengaruhi sekitar 90% populasi. Sehingga septoplasty memiliki kecenderungan risiko komplikasi pascaoperasi dini dan lanjut, seperti perdarahan, infeksi, hidung pelana, dan perforasi septum. Conclusion: Septoplasty tidak hanya mengurangi gejala hidung tersumbat pada pasien deviasi septum hidung, tetapi juga dapat meningkatkan kinerja ventrikel kiri. Namun, tindakan septoplasty menimbulkan beberapa komplikasi seperti perdarahan, pembengkakan, pusing, dan nyeri. Kata Kunci: Management, Pencegahan, Komplikasi, Post, Septoplasty Abstract Background: Nasal septal deviation causes increased respiratory resistance in the nasal passages, causing discomfort due to inadequate airflow. Septoplasty is a surgical correction of a deviated nasal septum. Method: This study uses a quantitative method with a systematic review approach that follows the PRISMA 2020 guidelines. The search was conducted in various databases such as PubMed, Scopus, and Sciencedirect with a publication year range from 2020 to 2025. The Boolean search strategy is: "strategic" OR "management" AND "prevent" AND "complication" AND "Post" AND "septoplasty" from 560 articles found, after going through a filtering process with inclusion and exclusion criteria, 15 articles were obtained which were used for further analysis using the JBI Critical Appraisal checklist. Result: 15 articles that met the study research criteria showed that nasal septal deviation is the most common condition encountered. This condition is recognized as a significant global health problem, affecting approximately 90% of the population. Therefore, septoplasty carries a risk of early and late postoperative complications, such as bleeding, infection, saddle nose, and septal perforation. Conclusion: Septoplasty not only relieves nasal congestion symptoms in patients with a deviated nasal septum but can also improve left ventricular function. However, septoplasty can cause several complications, such as bleeding, swelling, dizziness, and pain. Keywords: Management, Prevention, Complications, Post, Septoplasty
Dukungan Keluarga dan Lingkungan Terhadap Kepatuhan Program DOTS Pada Pasien Tuberkulosis Berdasarkan Theory of Planned Behavior : Systematic Literrature Review Vina Fauzia; Shafira Tamara
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.57517

Abstract

Kepatuhan pasien tuberculosis (TB) terhadap pengobatan merupakan komponen utama keberhasilan program Directly Observed Treatment, Short-Course (DOTS). Namun ketidakpatuhan masih terjadi karena hambatan klinis,psikologis,social,ekonomi,dan akses layanan. Review ini bertujuan menyintesis bukti tentang hubungan dukungan keluarga dan lingkungan dengan kepatuhan DOTS pada pasien TB berdasarkan Theory of Planned Behavior (TPB). Penelitian ini menggunakan desain systematic literature review dengan pelaporan mengacu pada PRISMA 2020. Pencarian dilakukan pada PubMed, Scopus, dan Google Scholar untuk artikel tahun 2015-2025. Strategi pencarian memadukan kata kunci Tuberculosis, DOTS, Treatment adherence, Family support, Community support , stigma, dan Theory Of Planned Behavior. Dua penelaah melakukan seleksi , ekstraksi data , dan penilaian kualitas menggunakan instrument JBI sesuai desain studi. Dari 135 rekaman awal , 10 artikel unik memenuhi kriteria inkluasi dan dianalisis secara naratif tematik. Hasil menujukkan bahwa dukungan keluarga memperkuat norma subjektif melalui pengingat minum obat, dorongan emosional, validasi social , dan pendampingan control. Dukungan lingkungan dari tenaga kesehatan , kader, komunitas, dan lingkungan bebas stigma memperkuat perceived behavioral control karena pasien merasa mampu mengakses layanan , mengekola efek samping , dan mempertahankan terapi. Sikap positif terhadap pengobatan terbentuk melalui edukasi, pengalaman hubungan terapeutik yang baik, dan pemahaman Risiko putus obat . Kesimpulan review ini menujukkan bahwa dukungan keluarga dan lingkungan bekerja melalui sikap, norma subjektif , perceived behavioral control, dan intensi untuk meningkatkan kepatuhan DOTS. Intervensi TB perlu mengintegrasikan edukasi keluarga , konseling berbasis TPB, dukungan kader , perlindungan dari stigma , dan pendekatan berpusat pada pasien.
Perbandingan Akurasi Skor TIMI, HEART dan GRACE dalam Prognosis Pasien NSTEMI Arif Setiawan; Abu Bakar; Herdina Maryanti
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.57667

Abstract

Prognosis pasien NSTEMI dalam praktiknya masih kurang baik, sedangkan penegakan diagnosa pada kasus NSTEMI menjadi hal penting dalam keselamatan pasien. Tujuan review ini untuk menemukan skor dalam prognosis pasien NSETMI yang memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi. Metode penelitian ini adalah Systematic Literature Review dengan 4 database, yaitu Web Of Science, Pubmed, EBSCO host, dan Scopus. Penulisan hasil artikel mengikuti protokol dan aturan yang ditetapkan oleh Preferred Reporting Items for Systematic Review (PRISMA). Selain itu, digunakan alat JBI untuk menilai kualitas artikel yang akan dianalisis. Kriteria inklusi dalam studi ini adalah artikel yang diterbitkan dalam 5 tahun terakhir dengan metode cross sectional study, dan cohort study. Kriteria eksklusi untuk studi ini adalah artikel yang diterbitkan lebih dari 5 tahun yang lalu dan yang ditulis dengan bahasa inggris. Hasil pencarian literatur mencakup 2.835 artikel penelitian, di mana 14 di antaranya dipilih setelah proses seleksi bertahap dalam tinjauan sistematis dan memenuhi syarat untuk dianalisis, dengan 13 artikel memakai metode cohort study dan 1 artikel cross sectional study. Sebagian besar artikel menunjukkan skor HEART memiliki akurasi yang lebih tinggi. Skor HEART memiliki memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi, efektif dalam memprediksi kejadian kardiak mayor dan prognostik terbaik untuk mortalitas 6 bulan
Hubungan Aktivitas Fisik Dengan Kualitas Tidur Mahasiswa Program Studi Kedokteran Universitas Pendidikan Ganesha I Putu Paramananda; Ketut Indra Purnomo; Made Budiawan
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.57693

Abstract

Aktivitas fisik merupakan kontraksi pada otot rangka yang mengakibatkan terjadinya suatu bentuk gerakan pada tubuh manusia sehingga terdapat penggunaan kalori tubuh. Kualitas tidur merupakan adanya kepuasan dari individu terhadap dan berpengaruh pada produktivitas dalam kehidupan sehari-hari. Mahasiswa kedokteran memiliki kecenderungan sedentary lifestyle karena padatnya jadwal kuliah dan belajar sehingga terjadi penurunan jumlah aktivitas fisik dan olahraga. Teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling dengan besar sampel yang digunakan sebanyak 50 responden. Data dari penelitian ini diperoleh dari kuesioner GPAQ dan kuesioner PSQI yang dicatat dalam aplikasi Microsoft Excel. Dari penelitian yang sudah dilakukan diperoleh hasil aktivitas fisik paling banyak adalah aktivitas fisik tingkat sedang yaitu 38 orang (76%). Sedangkan untuk kualitas tidur paling dominan adalah kualitas tidur buruk yaitu 37 orang (74%). Uji normalitas data menunjukkan data tidak terdistribusi normal sehingga uji analisis data yang digunakan adalah uji Rank Spearman. Pada uji Rank Spearman didapatkan hasil nilai r adalah 0,117 positif menunjukan kekuatan hubungan yang sangat lemah dan searah. Selain itu nilai p adalah 0,417 yang berarti menunjukkan hubungan yang tidak signifikan. H0 diterima sedangkan H1 ditolak sehingga dapat disimpulkan tidak terdapat hubungan antara aktivitas fisik dengan kualitas tidur mahasiswa Program Studi Kedokteran Universitas Pendidikan Ganesha. Kata Kunci: aktivitas fisik, GPAQ, kualitas tidur, mahasiswa, PSQI
Efektivitas Pijat Refleksi Kaki Terhadap Kontrol Glikemik dan Neuropati Perifer Pada Pasien Diabetes Melitus: A Systematic Literature Review Shindy Gustarina; Rini Damayanti; Sudirman Sudirman
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.57804

Abstract

Diabetes mellitus (DM) is a chronic metabolic disease characterized by persistent hyperglycemia and a risk of complications such as peripheral neuropathy and lower extremity circulatory disorders. Foot reflexology is widely used as a non-pharmacological complementary therapy in the management of DM, but existing research results still show variation. Therefore, a synthesis of scientific evidence is needed to comprehensively assess the effectiveness of this intervention. The method used was a systematic literature review by analyzing 19 national and international journal articles with randomized controlled trials (RCTs), quasi-experimental, case studies, and systematic reviews. The outcome variables studied included blood glucose levels, HbA1c, peripheral neuropathy, ankle brachial index (ABI), neuropathic pain, and patient comfort. The analysis was conducted by comparing results before and after the intervention and between the intervention and control groups. The results showed that most studies showed a significant decrease in blood glucose and HbA1c levels after foot reflexology. Improvements were also found in peripheral neuropathy symptoms, including reduced pain and increased foot sensitivity. Studies with RCT designs provided stronger evidence, although there was heterogeneity in the duration and frequency of intervention. Foot reflexology massage has the potential to be a safe and effective complementary therapy to support glycemic control and improve peripheral neuropathy in patients with diabetes. However, studies with more robust methodological designs and standardized intervention protocols are needed to support the implementation of evidence-based practices.
Determinan Multifaktorial Readmisi 30 Hari Pada Pasien Gagal Jantung dan Relevansi Temuan Bagi Praktik Keperawatan: Tinjauan Literatur Regyta Marshanda; Rivani Nur Oktavia; Supadi Supadi
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.57917

Abstract

Heart failure is a chronic clinical syndrome with increasing global prevalence and remains one of the leading causes of recurrent hospital admissions among adults and older populations. Approximately 20–25% of patients experience readmission within 30 days after hospital discharge. Thirty-day readmission has been widely used as a quality indicator of healthcare services, reflecting the effectiveness of transitional care and continuity of care. Identifying predictors of early readmission is essential to support risk-based nursing interventions. This study aimed to identify and analyze predictors of 30-day readmission in patients with heart failure through a synthesis of recent scientific evidence. This study is a literature review conducted through a systematic article search process. The literature search was performed using Google Scholar via the Publish or Perish application with the keywords “heart failure” AND “30-day readmission” AND (“risk factors” OR predictors), covering publications from 2015 to 2025. Articles that met the inclusion criteria were analyzed qualitatively to identify and compare predictors of 30-day readmission. The 30-day readmission rate ranged from 17% to 28%. Clinical factors and comorbidities were the most dominant predictors, including chronic kidney disease (aOR 1.32), high comorbidity burden (OR 1.45), diabetes mellitus (aOR 1.18), and chronic obstructive pulmonary disease (OR 1.27). Demographic factors such as age <65 years (OR 1.21) and male sex (aOR 1.09) demonstrated more modest associations. Socioeconomic determinants, including low income and public insurance status, increased readmission risk by 10–25%. Risk prediction models showed moderate discriminative ability (AUC 0.60–0.68). Thirty-day readmission in heart failure patients is influenced by multifactorial determinants, with clinical comorbidities playing a dominant role and reinforced by social determinants. Risk-based nursing approaches, including early risk stratification and structured discharge planning, may help reduce readmission rates and improve patient outcomes.
Pengaruh Literasi Kesehatan dan Dukungan Keluarga terhadap Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) pada Masyarakat Kota Banda Aceh Miftahul Jannah; Aida Fitri
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.57924

Abstract

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan indikator penting dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Penerapan PHBS dipengaruhi oleh berbagai faktor, di antaranya literasi kesehatan dan dukungan keluarga. Rendahnya kemampuan masyarakat dalam memahami informasi kesehatan dapat menyebabkan kurang optimalnya perilaku sehat. Selain itu, kurangnya dukungan keluarga dapat menghambat pembentukan kebiasaan hidup bersih dan sehat dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh literasi kesehatan dan dukungan keluarga terhadap Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) pada masyarakat Kota Banda Aceh. Metode Penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional dilakukan pada 150 responden yang diperoleh dengan teknik purposive sampling dengan kriteria masyarakat berusia ≥18 tahun dan berdomisili di Kota Banda Aceh. Informasi mengenai literasi kesehatan, dukungan keluarga, dan PHBS diperoleh dari jawaban responden melalui kuesioner skala Likert. Hasil Analisa statistik uji regresi linear berganda diperoleh bahwa literasi kesehatan berpengaruh signifikan terhadap PHBS dengan nilai t sebesar 4,782 dan signifikansi (p) = 0,000. Dukungan keluarga juga berpengaruh signifikan terhadap PHBS dengan nilai t sebesar 5,316 dan signifikansi (p) = 0,000. Secara simultan diperoleh nilai F sebesar 42,118 dengan signifikansi (p) = 0,000. Nilai Adjusted R Square sebesar 0,487 menunjukkan bahwa literasi kesehatan dan dukungan keluarga mampu menjelaskan PHBS sebesar 48,7%. Artinya, semakin baik literasi kesehatan dan semakin tinggi dukungan keluarga, maka semakin baik pula perilaku hidup bersih dan sehat masyarakat. Kesimpulan Terdapat pengaruh signifikan antara literasi kesehatan dan dukungan keluarga terhadap Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) pada masyarakat Kota Banda Aceh.