cover
Contact Name
Yussi Pratiwi
Contact Email
jrskt@unj.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jrskt@unj.ac.id
Editorial Address
Universitas Negeri Jakarta
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Riset Sains dan Kimia Terapan
ISSN : 23028467     EISSN : 23030720     DOI : https://doi.org/10.21009/JRSKT.
Core Subject : Science,
Jurnal Riset Sains dan Kimia Terapan (JRSKT) is the journal for the publication of original studies and occational reviews in the field of science and applied chemistry. It is published electronically two times a year
Articles 87 Documents
LIMA SENYAWA CALKON DARI KULIT BATANG CRYPTOKARYA PHOEBEOPSIS (LAURACEAE) DAN SIFAT SITOTOKSIKNYA TERHADAP SEL P 388, SEL HCT 166 DAN SEL A549 Fera Kurniadewi; Yana M. Syah; Lia D.; Juliawaty Juliawaty; Euis H. Hakim
Jurnal Riset Sains dan Kimia Terapan Vol 3 No 1 (2013): JRSKT - Jurnal Riset Sains dan Kimia Terapan, Volume 3 Nomor 1 Juli 2013
Publisher : Program Studi Kimia Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (166.194 KB)

Abstract

Cryptocarya merupakan salah satu genus besar dari famili tumbuhan Lauraceae dan tumbuh di daerah tropis dan subtropis. Genus ini dikenal sebagai sumber yang kaya akan senyawa flavonoid, alkaloid, piron, dan triterpen. Sebagai bagian dari kajian fitokimia dan evaluasi biologis dari beberapa spesies Cryptocarya yang berasal dari Indonesia, kami meneliti tumbuhan C. phoebeopsis yang berasal dari Sorong, Papua, Indonesia. Hasil kajian fitokimia terhadap spesies ini menghasilkan lima senyawa calkon yaitu infektokaryon (1), kriptokaryon (2), kurzicalkolakton A (3), B (4) dan calkokaryanon C (5). Penentuan struktur senyawa hasil isolasi dilakukan berdasarkan analisis data spektroskopi (UV, IR, NMR, MS). Hasil uji bioaktivitas senyawa hasil isolasi untuk aktivitas sitotoksiknya terhadap sel murine leukemia P388, sel HCT 116 (kanker usus besar) dan sel A549 (adenokarsinoma paru-paru), terlihat bahwa infektokaryon (1) dan kriptokaryon (2) menunjukkan aktivitas sitotoksik yang sangat kuat terhadap sel murine leukemia P388 dan sel HCT 116. Cryptocarya is one of the large genera of Lauraceae and growing in tropical and subtropical regions. This genus is known to be a rich source of flavonoids, alkaloids, pyrones, and triterpenes. As part of our chemical and biological evaluation of the Cryptocarya spesies growing in Indonesia, we examined C. phoebeopsis collecting from Sorong, Papua, Indonesia. Our investigation of chemical constituents on this species afforded five chalcone compounds namely infectocaryone (1), cryptocaryone (2), kurzichalcolactone A (3), B (4) and chalcocaryanone C (5). The structures of these compounds were elucidated based on spectroscopic analysis (UV, IR, NMR, MS). On biological evaluation of these compounds for their cytotoxic activity against murine leukemia P388 cells, HCT 116 (colon cancer) cell line and A549 (Human lung adenocarcinoma epithelial) cell line. it was found that infectocaryone (1) and cryptocaryone (2) exhibited strong inhibition activities against murine leukemia P388 cells and HCT 116 cell line. KeywordsCalkon, Cryptocarya phoebeopsis, Sel Murine Leukemia P388, Sel HCT 116 dan Sel A549
PEMBUATAN PUPUK KALIUM SULFAT DARI PRODUK SAMPING BIODISEL DENGAN BAHAN BAKU MINYAK GORENG BEKAS Isalmi Aziz; Hendrawati Hendrawati; Nani Suryani
Jurnal Riset Sains dan Kimia Terapan Vol 4 No 2 (2014): JRSKT - Jurnal Riset Sains dan Kimia Terapan, Volume 4 Nomor 2 Desember 2014
Publisher : Program Studi Kimia Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (645.142 KB) | DOI: 10.21009/JRSKT.042.01

Abstract

Pembuatan biodiesel dari minyak goreng bekas menghasilkan produk samping crude glycerol yang mengandung katalis KOH. Katalis ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan pupuk kalium sulfat. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kondisi optimum pembuatan pupuk kalium sulfat dan menentukan kualitas pupuk yang dihasilkan. Pembuatan pupuk dimulai dengan mereaksikan crude glycerol yang mengandung KOH dengan asam sulfat dengan memvariasikan waktu reaksi, suhu dan konsentrasi asam sulfat. Kalium sulfat yang dihasilkan disaring dan dicuci. Kondisi optimum didapatkan pada waktu 30 menit, suhu 60oC dan konsentrasi asam sulfat 2,5% volum dengan konversi reaksi 31%. Kualitas pupuk yang dihasilkan adalah : kadar kalium 55%, kadar sulfur 18%, kadar klorin 0,006% dan kadar air 1%. Pupuk kalium sulfat ini memenuhi SNI pupuk kalium sulfat tahun 2005. Production of biodiesel from used cooking oil produces crude glycerol byproduct containing KOH catalyst. This catalyst can be used as raw material for the manufacture of potassium sulfate fertilizer. This study was to determine the optimum conditions for the production of potassium sulfate fertilizer and determine the quality of the fertilizer produced. Fertilizer production was begun by reacting crude glycerol containing sulfuric acid with KOH with varying reaction time, temperature and concentration of sulfuric acid. After production, potassium sulphate was filtered and washed. The optimum conditions were observed at 30 min, temperature of 60 ° C and sulfuric acid concentration of 2.5% volume with 31% conversion reaction. The quality of the resulting fertilizer are: 55% potassium, 18% sulfur, 0.006% chlorine and 1% water. The potassium sulfate fertilizer meets national standard (SNI) 200
SINTESIS DAN UJI ADSORPSI SILIKA TERMODIFIKASI 3-Aminopropiltrietoksisilan (APTS) PADA LOGAM Cu (II) DALAM LARUTAN Yusmaniar Yusmaniar; Maria Paristiowati; Nathasya Jofita
Jurnal Riset Sains dan Kimia Terapan Vol 4 No 2 (2014): JRSKT - Jurnal Riset Sains dan Kimia Terapan, Volume 4 Nomor 2 Desember 2014
Publisher : Program Studi Kimia Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (935.472 KB) | DOI: 10.21009/JRSKT.042.02

Abstract

Pada penelitian ini dibuat adsorben silika termodifikasi APTS yang disintesis menggunakan bahan dasar sekam padi. Abu sekam padi ini diolah sedemikian rupa menjadi larutan natrium silikat hingga menghasilkan produk silika gel. Silika gel kemudian dimodifikasi secara kimia dengan reagen 3-aminopropiltrietoksisilan (APTS) sehingga menghasilkan silika termodifikasi APTS. Hasil FTIR menunjukkan bahwa silika termodifikasi APTS mengandung serapan gugus fungsi amino (-NH2), silanol (Si-OH), siloksana (Si-O-Si), dan rantai alifatik (-CH2-). Kandungan dari silika termodifikasi APTS yang ditunjukkan melalui hasil analisis EDX juga menunjukkan bahwa produk memiliki persentase massa masing-masing atom 35.26% silika, 48.47% oksigen, dan 16.27% nitrogen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pH optimum yang diperlukan untuk adsorpsi ion Cu(II) dengan silika termodifikasi APTS adalah 4.0 dan konsentrasi optimum sebesar 100 mg/L. Adsorpsi ion Cu(II) oleh silika termodifikasi APTS mengikuti isoterma adsorpsi Langmuir dengan nilai qmaks sebesar 48.36 mg/g. Dengan demikian adsorpsi terjadi secara kimia dengan membentuk lapisan monolayer. APTS modified silica adsorbent which has been synthesized, using rice hull ash as a raw material. This rice hull ash was carried out to sodium silicate which will be produced to silica gel product. Silica gel was modified with 3-Aminopropyltriethoxysilane (3-APTS) so that produced APTS modified silica. FTIR data indicated APTS modified silica showed the presence of amine (-NH2), silanol (Si-OH), siloxane (Si-O-Si) groups, and aliphatic chains (-CH2-). Contents of APTS modified silica were determined by EDX which had 35.26% silica, 48.47% oxygen, and 16.27% nitrogen. Research results showed that a pH value is 4.0 which is favorable for copper adsorption and optimum concentration value is 100 mg/L Cu(II). Adsorption process of Copper(II) ion by APTS modified silica followed Langmuir isotherm with qmaks 48.36 mg/g. Therefore adsorption happened chemically with monolayer.Key words: APTS modified silica, sol-gel, rice hull ash, adsorption, copper.
UJI ANTI SEPTIK DEODORAN MINYAK ATSIRI DARI KULIT BUAH JERUK PURUT (Citrus hystrix DC) Tati Rusliati Rusli
Jurnal Riset Sains dan Kimia Terapan Vol 4 No 2 (2014): JRSKT - Jurnal Riset Sains dan Kimia Terapan, Volume 4 Nomor 2 Desember 2014
Publisher : Program Studi Kimia Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/JRSKT.042.03

Abstract

This study aims to produce a deodorant formula of essential oils of lime rind, stable physical and chemical, as well as an antiseptic and safety. Essential oils of lime rind obtained by distillation, then the quality test of physical, chemical and antiseptic. Preparations deodorant formula made with variations of thickening agent is HPC-m and Carbomer 940. Quality test done by setting the parameter identification, organoleptic and accelerated stability. Antiseptic test done by determining the diameter of the inhibition (DDH) against Staphylococcus aureus, using diffusion method. While product safety test in the form of irritation to the panelists. The results indicate that the product has antiseptic activity at a concentration of 1-7% by DDH ranged from 4.0 to 12.0 mm. Accelerated stability test at room temperature and 40 ° C on the dosage, resulting organoleptic with yellowish white color, typical smell of lime and a pH of 4.54 to 5.11. Deodorant preparations with a thickening agent HPC-m with DDH of 10.90 to 12.26 mm. Whereas with a thickening agent carbomer 940, indicates not have actived at month 3, and the irritation test of the panelists did not cause irritation. Keywords: deodorants, essential oils, lime, antiseptic, Staphylococcus aureus. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan formula deodoran dari minyak atsiri kulit buah jeruk purut, yang stabil secara fisik dan kimia, serta bersifat antiseptik dan aman. Minyak atsiri kulit buah jeruk purut diperoleh dengan cara destilasi, kemudian dilakukan uji mutu fisik, kimia dan antiseptik. Sediaan formula deodoran dibuat dengan variasi thickening agent yaitu HPC-m dan Karbomer 940. Uji mutu dilakukan dengan penetapan parameter identitas, organoleptik, dan uji stabilitas dipercepat. Uji antiseptik dilakukan dengan menentukan diameter daya hambat (DDH) terhadap bakteri Staphylococcus aureus, dengan metode difusi agar. Sedangkan uji keamanan produk berupa uji iritasi terhadap panelis.Hasil uji antiseptik menunjukkan bahwa produk memiliki aktivitas pada konsentrasi 1 – 7% dengan DDH berkisar 4,0 – 12,0 mm. Uji stabilitas dipercepat pada suhu kamar dan 40oC terhadap sediaan, dihasilkan organoleptik dengan warna putih kekuningan, bau khas jeruk purut dan pH 4,54 – 5,11. Sediaan deodoran dengan thickening agent HPC-m menghasil DDH sebesar 10,90 – 12,26 mm. Sedangkan dengan thickening agent karbomer 940, menunjukkan tidak memiliki ativitas pada bulan ke-3, dan uji iritasi pada panelis tidak menimbulkan iritasi.Kata kunci : deodoran, minyak atsiri, jeruk purut, antiseptik, Staphylococcus aureus.
MAGNET HIBRIDA BaFe12O19/Sm2Co17: SINTESIS DAN SIFAT KEMAGNETAN Erfan Handoko; Iwan Sugiharto; Zulkarnain Jalil; Bambang Soegijono
Jurnal Riset Sains dan Kimia Terapan Vol 3 No 1 (2013): JRSKT - Jurnal Riset Sains dan Kimia Terapan, Volume 3 Nomor 1 Juli 2013
Publisher : Program Studi Kimia Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (511.046 KB)

Abstract

Dengan tujuan meningkatkan sifat kemagnetan barium heksaferat, BaFe12O19, disintesis magnet hibrida dengan mengkombinasi magnet Sm2Co17 melalui metode mechanical mixing. Proses perlakukan panas terhadap campuran serbuk magnet hibrida dalam suasana gas argon bertujuan untuk menghilangkan residual stress dan kristalisasi serbuk magnet. Analisis struktur kristal diketahui dengan difraksi sinar-X phillips radiasi K Co. Morfologi serbuk magnet hibrida diamati dengan scanning electron microscope SEM. Sifat kemagnetan diukur dengan Permagraph pada temperatur kamar dengan medan magnet luar maksimum 2 T. Hasil sintesis magnet hibrida menunjukkan bahwa terbentuk fasa baru dan terjadi penurunan magnetisasi saturasi Ms dan nilai magnetisasi sisa Mr setelah perlakuan panas. Namun koersivitas Hc meningkat dengan nilai maksimum 28,73 kA/m. Kata Kunci : Magnet hibrida, mechanical mixing, perlakuan panas, koersivitas. In order to enhance the magnetic properties of barium ferrite, BaFe12O19, synthesized hybrite magnet by combaining Sm2Co17 magnet and prepared by mechanical mixing method. The heat treatment of hybrite magnet powders in an argon gas atmosphere in order to release residual stress and crystallize magnet powders. The analysis of crystal structures was examined by X-Ray Diffractometer (XRD) Phillips with K Coradiation. Morphology of hybrite magnet was studied using a scanning electron microscope (SEM). The magnetic measurement is carried out by Permagraph at the room temperature with respect to the magnitude the applied field up to 2 T to find magnetic properties of hybrite magnet. The results show that the new phase is found and decrease saturation magnetization (Ms) and also remanen (Mr) after heat treatment. But The coercivity (Hc) is increased with the maximum of 28.73 kA/m. Keywords : Hybrite magnet, mechanical mixing, heat treatment, coersivity.
PENGARUH WAKTU REAKSI DALAM SINTESIS BESI BERVALENSI NOL (ZVI) DARI FeSO4 DENGAN EKSTRAK POLIFENOL KULIT PISANG KEPOK Gilang Arif Pribadi; Setia Budi; Yusmaniar Yusmaniar
Jurnal Riset Sains dan Kimia Terapan Vol 4 No 2 (2014): JRSKT - Jurnal Riset Sains dan Kimia Terapan, Volume 4 Nomor 2 Desember 2014
Publisher : Program Studi Kimia Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (722.45 KB) | DOI: 10.21009/JRSKT.042.04

Abstract

Besi bervalensi nol (ZVI) telah berhasil disintesis menggunakan ekstrak kulit pisang kepok sebagai reduktor alami. Analisis terhadap karakteristik ZVI hasil sintesis berupa ukuran, kristalinitas dan morfologi telah dilakukan dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis, particle size analyzer (PSA), X-ray difractometer (XRD), scanning electron microscope (SEM), dan fourier transform infra-red (FT-IR). Pengukuran konsentrasi Fe2+ yang bereaksi dengan ekstrak yang digunakan divariasikan terhadap waktu, yaitu: 0 jam, 3 jam, 24 jam, 48 jam dan 144 jam. Konsentrasi Fe2+ yang bereaksi dengan polifenol terbesar terjadi ketika waktu reaksi 3 jam, yaitu 110.465,22 ppm. Waktu reaksi 1 jam menghasilkan distribusi ukuran partikel yang paling rendah, yaitu Dv 10 = 383,93 nm; Dv 50 = 537,17 nm; dan Dv 90 = 851,36 nm dengan polydispersity Index (PDI) sebesar 0,1240. Difrasi sinar-X menunjukkan ZVI hasil sintesis merupakan amorf yang terdiri dari fasa iron dan magnetite dengan presentase masing-masing berturut-turut 17,5 % dan 82,5%.Kata Kunci: Besi Bervalensi Nol (ZVI), Reduksi Garam Besi, Polifenol, Waktu Reaksi, Dv, PDI, Aglomerasi. Zero valent iron (ZVI) has been synthesized using banana peel extracts. Characterization of the obtained ZVI was carried out using UV-Vis spectrophotometer, particle size analyzer (PSA), X-ray difractometer (XRD), scanning electron microscope (SEM), and fourier transform infra-red (FT-IR). Measurement of the concentration of Fe2+ reacted with the used extracts varied with respect to time, namely 0 hours, 3 hours, 24 hours, 48 hours and 144 hours. The concentration of Fe2+ which reacts with the largest polyphenols occur when reaction time of 3 hours, ie 110,465.22 ppm. Reaction time of 1 hour to produce a particle size distribution of the lowest, ie Dv 10 = 383.93 nm; Dv 50 = 537.17 nm; and Dv 90 = 851.36 nm with a polydispersity index (PDI) of 0.1240. X-ray diffraction showed that synthesized ZVI is an amorphous phase consisting of iron and magnetite with the percentage of each respectively 17.5% and 82.5%.Keywords: Zero Valent Iron (ZVI), Reduction of Iron Salt, Polyphenols, Time Reaction, Dv, PDI, Agglomeration
PENGARUH FORMULASI KITOSAN, TAMARIN DAN VITAMIN C PADA PELET IKAN KOI TERHADAP KUALITAS AIR, BERAT DAN PANJANG IKAN KOI (Cyprinus carpio) Abdul Razak; Erdawati Erdawati; Meilisza Meilisza
Jurnal Riset Sains dan Kimia Terapan Vol 4 No 2 (2014): JRSKT - Jurnal Riset Sains dan Kimia Terapan, Volume 4 Nomor 2 Desember 2014
Publisher : Program Studi Kimia Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (545.981 KB) | DOI: 10.21009/JRSKT.042.05

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh komposisi dari formulasi tamarin, kitosan, dan Vitamin C sebagai campuran pakan buatan terhadap pertumbuhan berat, panjang dan kualitas air. Penelitian dilakukan di Balai Penelitian Ikan Hias, Depok. Penelitian ini menggunakan 4 perlakuan yang berbeda, yaitu kontrol= pelet 9,6 % + tamarin 0+kitosan 0 dan Vitamin C 0; perlakuan B dengan kode P1C2T1= pelet 9,6% + Tamarin 0,1 % + Kitosan 0,1 % + Vitamin C 0,2%; perlakuan C dengan kode P1C2T2 = Pelet 9,6%+ tamarin 0,2% + Kitosan 0,2% + vitamin C 0,2 %; dan yang terakhir pelakuan D dengan kode P1C2T3= Pelet 9,6% + Tamarin 0,3% + Vitamin C 0,2% + kitosan 0,3%. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pencampuran pelet dengan pakan buatan, memberikan pengaruh yang kurang signifikan, berpengaruh pada kelangsungan hidup ikan. Laju pertumbuhan ikan pada penggunaan pakan buatan mendekati 100%.Kata Kunci: kitosan, tamarin, vitamin c, berat, panjang, kelangsungan hidup This study aims to determine the effect of formulation composition tamarin, chitosan, and vitamin C as a mixture of artificial feed on the growth of weight, length and quality of water. The study was conducted at the Balai Penelitian Ikan Hias, Depok.. This study uses four different treatments, i.e. control = 9.6% pellets tamarin 0 + 0 + chitosan and Vitamin C 0; treatment B with code pellets P1C2T1 = 9.6% + 0.1% + Chitosan Tamarin 0.1% + Vitamin C 0.2%; treatment C with code Pellet P1C2T2 = 9.6% + 0.2% + Chitosan tamarin 0.2% + 0.2% of vitamin C; and the latter the commission of D with code Pellet P1C2T3 = 9.6% + 0.3% + Tamarin Vitamin C 0.2% + 0.3%chitosan.Based on the results of the study showed that treatment with artificial feed pellets mixing, giving the effect of a less significant effect on the survival of fish. The rate of growth in the use of fish feed close to 100%.Keywords: chitosan, tamarin, vitamin c, weight, length, survival
HAMBATAN ETIL P-METOKSI SINAMAT DARI RIMPANG KAEMPFERIA GALANGA TERHADAP PARASIT PLASMODIUM FALCIPARUM IN VITRO DAN AKTIFITAS ENZIM ATPase Abdul Muis; Ukun M.S. Soedjanaatmadja; Supriyatna Supriyatna; Syafruddin Syafruddin
Jurnal Riset Sains dan Kimia Terapan Vol 3 No 1 (2013): JRSKT - Jurnal Riset Sains dan Kimia Terapan, Volume 3 Nomor 1 Juli 2013
Publisher : Program Studi Kimia Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (426.373 KB)

Abstract

AbstrakDalam mempelajari senyawa antimalaria baru, telah dilakukan penelitian menggunakan etil p-metoksi sinamat dari rimpang Kaempferia galanga yang diuji aktivitasnya terhadap pertumbuhan parasit Plasmodium falciparum secara in vitro. Selanjutnya untuk mempelajari mekanisme kerja etil p-metoksi sinamat, dilakukan uji terhadap aktivitas enzim ATPase. Percobaan terhadap pertumbuhan Plasmodium falciparum menggunakan metode sigmaflot 2000, dan aktivitas enzim menggunakan metode spektrofotoskopi pada (λ670nm). Hasil pecobaan menunjukan potensi etil p-metoksi sinamat terhadap pertumbuhan parasit diperoleh IC50= 50% sebesar 19,5 ngmL-1 atau 94,6 nM. Hambatan aktivitas enzim tingkat signifikansi 2,2% (signifikan), dan 0,7% (sangat signifikan) serta menunjukkan hambatan non-kompetitif dengan nilai KI (0,09mM). Kata kuncietil p-metoksi sinamat, Plasmodium falciparum, enzim ATPase. In the study of the new antimalarial compound, the research was conducted by using ethyl pmethoxycinnamic from Kaempferia galanga whose activities were tested to the in vitro Plasmodium falciparum growth. Then, to study the ethyl-p-methoxycinnamic mechanism, ATPase enzymatic activities were subsequently tested. The experiment towards the Plasmodium falciparum growth used sigmaflot 2000 method, and the ATPase activities used spectroscopy method at λ670nm. The findings showed that a potent antimalarial activity of the ethyl-p-methoxycinnamic IC50 is 19,5 ngmL-1 or 94.6 nM. The inhibitions of enzyme activity showed 2.2% significant, and 0.7% highly significant and it showed non-competitive barriers to the value of KI (0.09 mM).Keywordsethyl-p-methoxycinnamic. Plasmodium falciparum. ATPase enzyme.
PELAPISAN KAIN SUTERA NANO PARTIKET KITOSAN UNTUK MENINGKATKAN KETAHANAN WARNA Suwirman Nuryadin; Erdawati Erdawati; Agung Purwanto
Jurnal Riset Sains dan Kimia Terapan Vol 3 No 1 (2013): JRSKT - Jurnal Riset Sains dan Kimia Terapan, Volume 3 Nomor 1 Juli 2013
Publisher : Program Studi Kimia Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1671.886 KB)

Abstract

Dalam upaya menghasilkan warna kain sutera yang tahan luntur terhadap gosokan serta kuat dan tahan terhadap bakteri, dilakukan suatu penelitian untuk membuat kain sutera berwarna yang tahan gosok dan tahan luntur. Kain sutera yang tahan warna dan tidak luntur, dihasilkan melalui pelapisan permukaan kain dengan menggunakan nanopartikel kitosan. Nanopartikel kitosan yang dibuat melalui reaksi ikatan silang gugus amina (-NH2+) pada kitosan dengan gugus phosphat ( -PO4)-3 dari sodium tripolophosphat (STPP). Kain sutera sebelum dilapis , ditreatmen terlebih dahulu melalui proses degumming dan asilasi. Proses degumming bertujuan untukmenghilangkan serisin agar dihasilkan kain sutera yang lembut, berkilau sementara asilasi berfungsi sebagai jembatan antara kitosann dengan kain sutera. Sebagai pewarna digunakan ekstrak Henna. Hasil uji terhadap ketahanan dan kelunturan warna menunjukkan bahwa kain sutera yang diasilasi dan dilapis dengan nanopartikel kitosan mempunyai ketahanann dan kelunturan warna yang lebih baik dibandingkan dengan Kata kunci : nanopartikel kitosan, kain sutera, pelapisan, ketahanan dan kelunturan
ARILASI 4-IODIDA ANISOL DENGAN t-BUTIL GERMANIUM MENGGUNAKAN KATALIS PALADIUM Aldes Lesbani; Risfidian Mohadi; Elfita Elfita
Jurnal Riset Sains dan Kimia Terapan Vol 3 No 1 (2013): JRSKT - Jurnal Riset Sains dan Kimia Terapan, Volume 3 Nomor 1 Juli 2013
Publisher : Program Studi Kimia Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (470.197 KB)

Abstract

Telah dilakukan arilasi 4-iodida anisol dengan t-butil germanium menggunakan katalis paladium dalam pelarut tetrahidrofuran dengan kondisi atmosfir argon. Produk hasil arilasi dikarakterisasi melalui penentuan titik leleh, pengukuran menggunakan kromatografi gas-spektrometer massa (GC-MS), dan resonansi magnetik inti (NMR) proton dan karbon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produk arilasi adalah tris(4-metoksifenil)t-butil germanium (1) yang merupakan kristal putih dengan rendemen sebesar 35%. Penentuan titik leleh senyawa (1) menghasilkan nilai sebesar 113,5-114,5 oC dengan nilai m/z hasil pengukuran GC-MS sebesar 452. Spektra 1H NMR menunjukkan adanya tujuh puncak proton ekivalen dan spektra 13C NMR menghasilkan empat puncak karbon ekivalen. Hasil keseluruhan karakterisasi menunjukkan kecocokan dengan senyawa (1). Kata kunci: arilasi, 4-iodida anisol, t-butil germanium, paladium. The arylation of 4-iodo anisole with t-butyl germane using palladium as catalyst in tetrahydrofuran as a solvent in argon atmospheric condition was carried out. Product of arylation was characterized through determination of melting point, identification using gas chromatography-mass spectrometry (GC-MS), and nuclear magnetic resonance (NMR) proton and carbon. The results showed that product of arylation is tris(4-methoxyphenyl)t-butyl germane (1) which has white crystals in 35% yield. The determination of melting point compound (1) gave the value 113.5-114.5 oC with m/z 452 from GC-MS data. 1H NMR spectrum resulted seven peaks of equivalent proton and 13C NMR spectrum gave four peaks of equivalent carbon. All results of this characterization are appropriate with structure compound (1).Keywords: arylation, 4-iodo anisole, t-butyl germane, palladium.