cover
Contact Name
Jurnal Teknik Lingkungan ITB
Contact Email
jurnaltlitb@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnaltlitb@gmail.com
Editorial Address
http://journals.itb.ac.id/index.php/jtl/about/editorialTeam
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Teknik Lingkungan
ISSN : 08549796     EISSN : 27146715     DOI : -
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal Teknik Lingkungan ITB merupakan jurnal resmi yang dipublikasikan oleh Program Studi Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung. Jurnal ini mencakup seluruh aspek ilmu Teknik Lingkungan sebagai berikut (namun tidak terbatas pada): pengelolaan dan pengolahan air bersih, pengelolaan dan pengolahan air limbah, pengelolaan dan pengolahan persampahan, teknologi pengelolaan lingkungan, pengelolaan dan pengolahan udara, kebijakan air, serta kesehatan dan keselamatan kerja.
Articles 428 Documents
STUDI AWAL PEMANFAATAN LUMPUR SUNGAI CILIWUNG DI SEKITAR MASJID ISTIQLAL DENGAN PROSES PENGOMPOSAN Rachman, Adhitya Nur; Chaerul, Moch
Jurnal Teknik Lingkungan Vol 21, No 1 (2015)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2015.21.1.2

Abstract

Abstrak: Lumpur sungai merupakan salah satu limbah padat dan menjadi salah satu penyebab bencana alam di Indonesia terutama banjir. Dibutuhkan satu teknologi pengolahan yang tepat guna sehingga dapat meminimalisir timbunan lumpur yang ada. Salah satu cara untuk mengatasi timbulan lumpur ini adalah dengan menjadikan lumpur sungai sebagai salah satu bahan pengomposan. Penelitian ini berfokus pada uji karakteristik lumpur Sungai Ciliwung yang ada di sekitar Masjid Istiqlal sebagai bahan pengomposan. Karakteristik lumpur sungai yang diukur adalah kadar air, volatil, abu, karbon, nitrogen, phospat dan kalium. Lumpur sungai kemudian akan dikomposkan dengan metode pengomposan secara aerob dengan 2 metode dimana metode yang digunakan adalah windrow dan passive aerated static pile. Lumpur sungai sebagai bahan baku akan dicampur dengan jerami sebagai bulking agent. Selanjutnya, pada metode passive aerated static pile digunakan 2 variasi yaitu terowongan kompos segitiga menggunakan bambu dengan ukuran 160 x 30 x 20 cm dan pipa PVC dengan ukuran 160 x 40 x 60 cm. Pengomposan dilakukan selama 90 hari yang berlokasi di PPS Sabuga. Review terhadap 3 metode pengomposan yang digunakan akan dilakukan untuk dapat menganalisis kinerja optimum dari reaktor pengomposan. Kata Kunci: Lumpur, Kompos, Ciliwung, C/N Abstract: Mud River is one of the solid waste and one of the causes natural disasters in Indonesia, especially floods. It takes an appropriate processing technology to minimize the existing pile of mud. One way to overcome this sludge generation is making the mud of the river as one of the composting material. This study focused on testing the characteristics of the Ciliwung River mud around the Istiqlal Mosque as composting material. Measured characteristics of river mud are moisture, volatiles, ash, carbon, nitrogen, phosphate and potassium. River mud will then be composted by aerobic composting method with two methods. These methods are windrow and passive aerated static pile. River mud as a raw material will be mixed with straw as a bulking agent. Furthermore, the passive aerated static pile method used two variations . First is compost tunnels using bamboo triangle with a size of 160 x 30 x 20 cm and Second is PVC pipes with a size of 160 x 40 x 60 cm. Composting is done for 90 days located in PPS Sabuga. Review of 3 composting method used will be conducted to analyze the optimum performance of the composting reactor. Keywords: Mud, Compost, Ciliwung, C/N
PERHITUNGAN NILAI KALOR BERDASARKAN KOMPOSISI DAN KARAKTERISTIK SAMPAH PERKOTAAN DI INDONESIA DALAM KONSEP WASTE TO ENERGY Novita, Dian Marya; Damanhuri, Enri
Jurnal Teknik Lingkungan Vol 16, No 2 (2010)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (525.843 KB) | DOI: 10.5614/jtl.2010.16.2.1

Abstract

Abstrak: Adanya perbedaan mendasar pada komposisi dan karakteristik sampah perkotaan menjadikan teknologi pengolahan tidak berjalan dengan efektif dan efisien. Teknologi yang mendukung konsep waste to energy sangat mementingkan nilai kalor sampah yang akan diolah. Pada percobaan ini, setiap komponen yang menyusun sampah akan dihitung nilai kalornya dengan bom kalorimeter, dan dibandingkan dengan nilai kalor dari perhitungan proximate analysis, dan perhitungan ultimate analysis dengan persamaan Dulong. Selain itu, karakteristik fisik seperti kadar air sampah, kandungan materi volatile, fixed carbon dan abu juga akan diukur dan dibahas mengenai pengaruhnya terhadap nilai kalor. Dengan menggunakan data komposisi sampah suatu kota yang ada, HHV dapat diketahui dengan perhitungan komposisi fisik dan nilai kalor tiap komponen sampah yang didapat dari percobaan ini. LHV juga dapat dihitung dari persamaan, untuk kemudian digunakan sebagai bahan pertimbangan pemilihan teknologi waste to energy yang layak digunakan. Abstract: Basic differences of municipal solid wastes (MSW) composition and characteristic have led to ineffective and inefficient MSW treatment technology practices. Technologies applied in waste to energy concept highly require heating value data of MSW. In this research, the heating value of each of waste component  that construct MSW will be measured by bomb calorimeter, and compared to the heating value by the proximate analysis, and ultimate analysis utilizing Dulong equation. The physical characteristics of each component of MSW, such as moisture content, volatile matter, fixed carbon and ash will be measured and its correlation to the heating value will be discussed. Using waste composition, and each waste component?s heating value in this research, the HHV and LHV can be calculated and can be used as consideration to choose the feasible waste to energy technology.  Key words: heating value, municipal solid waste, waste characterization, waste to energy
KAJIAN BEBAN PENCEMARAN HARIAN DI SUNGAI CITARUM MENGGUNAKAN PEMODELAN QUAL2K STUDI KASUS: SUNGAI CITARUM SEGMEN KOTA KARAWANG Mustika, Adi; Sofyan, Asep
Jurnal Teknik Lingkungan Vol 22, No 2 (2016)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (816.35 KB) | DOI: 10.5614/j.tl.2016.22.2.1

Abstract

Abstrak: Sungai Citarum merupakan sungai terpanjang dan terbesar di Jawa Barat.  Potensi pemanfaatan Sungai Citarum cukup besar meliputi antara lain: sumber air baku air PDAM, air baku industri, pertanian, perikanan, PLTA, dan sarana rekreasi. Hasil pemantauan kualitas air menunjukkan bahwa sampai saat ini kondisi kualitas air Sungai Citarum belum dapat memenuhi baku mutu air yang telah ditetapkan di sepanjang tahun, terutama pada musim kemarau (SK. Gubernur Jabar No. 39/2000). Berdasarkan hasil penelitian Pusat Litbang Sumber Daya Air (PUSAIR) dan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Prov. Jawa Barat Th. 2011, terjadinya penurunan kualitas air tersebut disebabkan oleh peningkatan beban pencemaran dari berbagai sumber pencemar yang berasal dari populasi penduduk, perkembangan industri, ekstensifikasi dan intensifikasi lahan pertanian, pengembangan perikanan, dan populasi ternak. Studi ini dilakukan untuk mengetahui kualitas air serta menghitung beban pencemar di Sungai Citarum Segmen Kota Karawang. Sebanyak 6 sampel dikumpulkan dari 6 titik pengamatan, yang selanjutnya dianalisis di Laboratorium Perum Jasa Tirta II. Metode pendekatan yang digunakan adalah dengan simulasi pemodelan QUAL2K serta perhitungan beban pencemaran harian maksimum. Berdasar hasil studi, diketahui bahwa kandungan pencemar BOD melebihi Baku Mutu Air Kelas II PP No.82/2001. Dari hasil pemodelan QUAL2K dapat diketahui sebaran pencemar di setiap ruas. Hasil perhitungan beban pencemaran harian maksimum pencemar BOD pada kondisi eksisting adalah 4416,6 kg/hari, pada kondisi debit minimum adalah 545,3 kg/hari, dan pada kondisi debit maksimum adalah 3867,7 kg/hari. Kata kunci: beban pencemaran, BOD,  kualitas air, model Qual2K, pengelolaan sungai. Abstract : Citarum River is the longest and largest river in West Java. The potential use of Citarum river large enough, including the following: raw water source of PDAM, raw water industry, agriculture, fisheries, hydropower, and recreation facilities. The results of water quality monitoring to the current condition of Citarum River showed that the water quality can not meet the water quality standard that has been set in throughout the year, especially during the dry season (SK, West Java Governor No. 39/2000). Based on the research and Development Centre for Water Resources (Pusair) and the Environmental Management Agency (BPLHD) Province of West Java (2011), the decline in water quality caused by increasing of pollution load from various sources of pollution that comes from the population, industrial, agriculture, fisheries and livestock. This study was conducted to determine the water quality and load capacity pollutant in the Citarum River Segment Karawang. A total of 6 (six) samples were collected from 6 (six) observation point, which is then analyzed in the laboratory of PJT II. The method used in this study is QUAL2K modeling simulation and calculation of the maximum daily load. Based on the study results, it is known that the pollutant (BOD) exceeds the Quality Standard (PP No.82 / 2001, Class II). Based on QUAL2K modeling, it can be seen that the pollutant sources were not evenly distributed in every segment from the 1st until the 5th segment. The maximum daily load of pollutants BOD on the existing condition was 4416.6 kg / day, on the minimum discharge conditions was 545.3 kg / day, and on the maximum discharge conditions was 3867.7 kg / day. Key words:  BOD, load capacity of pollutant, model Qual2K, river management, water quality.
IDENTIFIKASI DAN KARAKTERISASI BAKTERI PADA REAKTOR WETLAND Soedjatmiko, Karina Dwi; Ariesyady, Herto Dwi
Jurnal Teknik Lingkungan Vol 17, No 1 (2011)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (527.911 KB) | DOI: 10.5614/jtl.2011.17.1.2

Abstract

Abstrak: Salah satu unsur dalam pengolahan air limbah menggunakan reaktor constructed wetland adalah degradasi polutan oleh mikroorganisme yang terdapat pada tanah. Mikroorganisme membutuhkan nutrient berupa zat organik untuk proses metabolisme, sehingga dapat memanfaatkan zat-zat organik yang terdapat dalam air limbah. Studi ini dilakukan untuk mengidentifikasi dan mengetahui karakteristik bakteri yang ditemukan pada reactor wetland tersebut dan menganalisis sifat bakteri berupa kurva tumbuh. Bakteri diisolasi dari tanah pada reaktor, kemudian diidentifikasi menggunakan API 20 NE dan dan diukur kurva tumbuhnya menggunakan metode tidak langsung. yaitu dengan spektrofotometri hingga tercapai fase stasiuner, kemudian diinokulasi ke dalam air limbah domestik untuk mengukur kemampuan bakteri untuk hidup dalam air limbah. Dari kesembilan bakteri yang diisolasi, seluruhnya bersifat Gram negatif dan berbentuk batang atau batang pendek. Identifikasi bakteri menunjukkan bahwa bakteri berasal dari genus Aeromonas, Pseudomonas, Empedobacter, Moraxella, Vibrio, Ralstonia, dan Brevundimonas. Kurva tumbuh untuk masing-masing bakteri menunjukkan bahwa pada bakteri Aeromonas hydrophilia tidak didapat fase lag atau fase lag kurang dari satu jam. Sedangkan dalam perhitungan laju pertumbuhan eksponensial (K), mean doubling time (g), dan konstanta laju pertumbuhan spesifik (µ), didapat bahwa bakteri ini juga memiliki nilai g yang paling kecil. Bakteri yang diinokulasi ke dalam air limbah menunjukkan bahwa seluruh bakteri dapat menyisihkan COD, dengan penurunan COD terbesar oleh Moraxella dan terkecil oleh Pseudomonas luteola.Abstract : One element in treating wastewater using a constructed wetland reactor is the degradation of pollutants by microorganisms found in soil. Microorganisms require various organic substrates to fuel metabolic processes, which can utilize organic substances found in wastewater. This study is conducted to identify and characterize the bacteria found in the wetland reactor and to analyze the bacteria characteristics by mapping a growth chart for each of the bacteria. The bacteria is isolated from the reactor and identified using API 20 NE, and the growth curve is measured using spectrophotometry up to a stationary phase. The bacteria is then inoculated into domestic wastewater to measure the ability of the bacteria to live in wastewater. All nine bacteria that were isolated were Gram negative and were rods or short rods. Identification of the bacteria showed that the bacteria were from the genus Aeromonas, Pseudomonas, Empedobacter, Moraxella, Vibrio, Ralstonia, and Brevundimonas. The growth curve showed that the bacteria Aeromonas hydrophilia did not experience a lag phase or the lag phase was very short. This bacteria also had the shortest mean doubling time (g). Wastewater samples which were inoculated with bacteria showed a decrease of COD in all samples, with the largest decrease by the bacteria Moraxella and the lowest by Pseudomonas luteola.
OPTIMASI STRATEGI PENGENDALIAN KERENTANAN AIR TANAH DENGAN METODE ANALITYCAL HEIRARCHY PROSESS (STUDI KASUS :KOTA CIMAHI) Suryadi, Gilang Garnadi; Notodarmojo, Suprihanto
Jurnal Teknik Lingkungan Vol 23, No 1 (2017)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (251.008 KB) | DOI: 10.5614/j.tl.2017.23.1.7

Abstract

Abstrak: Penyusunan model optimasi kinerja strategi pengendalian kerentanan air tanah merupakan studi eksploratif yang berorientasi pada penggalian fakta lapangan dan multi kriteria dalam memilih model atau strategi alternatif untuk mengoptimalkan kinerja strategi kerentanan air tanah. Sebagai kajian terapan, terlebih dahulu dilakukan mempelajari teori dan penelitian terdahulu kemudian dilakukan survey yaitu pengisian kuisoner untuk mengumpulkan data sampel pada suatu waktu tertentu dari beberapa responden ahli. Metode yang digunakan yaitu Analitycal Heirarchy Prosess(AHP) dan menggunakan software Expert Choice. Penghitungan secara global akhirnya didapat untuk penyusun model optimasi kinerja pengendalian air tanah adalah : (1) Pembatasan debit (16%) (2) peraturan kerapatan lokasi (9,7%)  (3) penentuan zona pengambilan (8,3%) (4) membuat peta bahaya (7,8%) (5) Penerapan amdal (7,4%). Kata kunci: kerentanan air tanah, strategi, AHP, Kota Cimahi Abstract: The preparation of performance optimization model of groundwater vulnerability control strategy is an explorative study that is oriented on field fact digging and multi criteria in choosing alternative model or strategy to optimize performance of groundwater susceptibility strategy. As an applied study, firstly studied the theory and previous research and then conducted a survey that is charging questionnaires to collect sample data at a certain time from some expert respondents. The method used is Analitycal Heirarchy Prosess(AHP) and using Expert Choice software. The global calculations finally obtained for the compilers of the optimization model of groundwater control performance are: (1) Limit debit (16%) (2) density regulation (9,7%) (3) determination of retrieval zone (8,3%) (4) make hazard map (7,8%) (5) Implementation of AMDAL (7.4%) Keywords: groundwater vulnerability, strategy, AHP, Cimahi City
STUDI RETROFIT PRODUKSI KAPUR TOHOR SKALA MENENGAH UNTUK MENINGKATKAN EFISIENSI PENGGUNAAN BAHAN BAKAR DAN MENGURANGI PENCEMARAN UDARA (STUDI KASUS: INDUSTRI KAPUR TOHOR PADALARANG) Muhsin, Muhammad; Tomo, Haryo Satrio
Jurnal Teknik Lingkungan Vol 17, No 2 (2011)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (471.921 KB) | DOI: 10.5614/jtl.2011.17.2.8

Abstract

Abstrak: Proses produksi pada pabrik-pabrik industri kapur tohor di Padalarang mayoritas masih menggunakan teknologi tradisional. Teknologi tradisional ini menggunakan metode pembakaran open burning tanpa dilengkapi dengan alat pengendali pencemaran udara yang memadai. Pabrik X merupakan salah satu industri kapur tohor di Padalarang. Proses produksi kapur tohor di Pabrik X menggunakan teknologi tradisional berupa tungku tegak dengan metode pembakaran open burning serta bahan bakar berupa limbah industri tekstil dan sepatu?RDF. Studi menunjukkan bahwa pembakaran seperti ini menyebabkan tingginya angka kebutuhan bahan bakar, lamanya proses produksi dan menghasilkan emisi gas buang yang sangat besar jumlahnya dalam satu siklus proses produksi. Guna mengatasi dampak negatif tersebut diperlukan upaya untuk membuat proses pembakaran yang terjadi merupakan pembakaran sempurna. Upaya tersebut dapat berupa modifikasi proses produksi. Opsi modifikasi proses produksi agar tidak terjadi pembakaran tidak sempurna ada dua. Pertama, penambahan fan dan recuperator. Kedua, penggunaan boiler dalam sistem proses produksi. Dengan penerapan salah satu dari kedua modifikasi proses ini energi yang digunakan menjadi lebih efisien, bahan bakar yang dibutuhkan lebih sedikit serta penurunan kualitas dan kuantitas emisi gas buang yang dihasilkan dari proses produksi.Kekurangan dari opsi 1 adalah sulitnya mengontrol proses pembakaran dan peningkatan biaya operasional produksi?penggunaan listrik. Sedangkan kekurangan dari opsi 2 adalah kebutuhan sumber daya manusia yang terampil dan disiplin dalam operasional produksi, tingginya biaya investasi konstruksi serta adanya biaya operasional tambahan?berupa penggunaan listrik, pembelian air boiler setiap jangka waktu tertentu, dan pembelian bahan bakar tambahan berupa gas atau cair.Kata kunci: Kapur tohor, Padalarang, polusi udara, Refuse Derived Fuel (RDF), tungku tegak. Abstract : Mostly, quicklime production process in industrial plants at Padalarang still use traditional technology. They use open burning method without adequate air pollution control device installation. Plant X is one of them. It uses a vertical kiln with open burning fire method and fuel from the waste of textile and shoes industry?RDF. This study show that this method cause high rates of fuel needs, long duration of process, and huge exhaust emission. So, it is necessary to change the combustion process happened to be the complete combustion process. The way to change it can be a modification of production process. There are two ways of modification process proposed. First is the addition of fan and recuperator. Second is the use of steam in the production process systems. Application of one of these ways will make the complete combustion in procees production so that the process production will more efficient in the usage of energy, fewer in the need of fuel and lower in the exhaust emission. Otherwise, there are two disadvantages of the first way. They are the difficulty of controlling the combustion process happened in kiln and the increasing of operational cost?the use of electricity. While in the second way, it will need for skilled and disciplined human resources for operational, the high cost investation for construction. Key words: air pollution, Padalarang, quicklime, Refuse Derived Fuel (RDF), vertical kiln.
STUDI PENGOLAHAN AIR SUNGAI TANGGULAN SUB DAS CIKAPUNDUNG MENGGUNAKAN FLOATING TREATMENT WETLANDS DENGAN POTENSI PARTISIPASI MASYARAKAT SEKITAR Lestari, Annisa Satwika; Iqbal, Rofiq; Soewondo, Prayatni
Jurnal Teknik Lingkungan Vol 19, No 1 (2013)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (694.063 KB) | DOI: 10.5614/jtl.2013.19.1.2

Abstract

Abstrak: Mayoritas penduduk Indonesia yang menempati wilayah bantaran sungai masih membuang air limbah domestiknya langsung ke sungai sehingga kualitas air sungai menurun drastis. Padahal air sungai merupakan salah  satu  sumber  air  utama  yang  dimanfaatkan sebagai  air  baku  untuk air  minum,  misalnya air  sungai Cikapundung di Kampung Tanggulan, Dago Pojok, Bandung. Masyarakat di bagian timur sungai ini membuang air limbah domestiknya ke sungai tersebut, sementara masyarakat di bagian barat sungai menggunakan air sungai tersebut sebagai sumber air utama untuk kebutuhan sehari-hari seperti mandi, mencuci pakaian, peralatan dapur, bahkan bahan makanan. Hal inilah yang membuat sungai di Kampung Tanggulan, Dago Pojok, Bandung ini menjadi perhatian utama dalam kebutuhan teknologi pengolahan air yang efektif dan tepat guna. Ketepatgunaan teknologi ini juga harus meliputi partisipasi masyarakat. Oleh karena itu tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui efisiensi pengolahan floating tretment wetlands dengan 3  variasi tumbuhan dan potensi aplikasinya sebagai teknologi pengolahan air yang tepat guna di Kampung Tanggulan, Dago Pojok, Bandung. Penelitian mengenai efisiensi pengolahan dari floating treatment wetlands (FTWs) yang memiliki 3 tipe tumbuhan, Ipomoea reptans, Amaranthus tricolor, dan Lactuca sativa, dilakukan dalam skala laboratorium dalam kondisi batch. Wawancara dan kuesioner dilakukan terhadap 34 orang dari 137 KK dengan tingkat kesalahan 0,16 untuk mengetahui tingkat partisipasi masyarakat di Kampung Tanggulan, Dago Pojok, Bandung, Indonesia. Hasil efisiensi penyisihan rata-rata yang didapat mencapai lebih dari  45 % total suspended solids (TSS), 63 % chemical oxygen demand (COD), 84 % biological oxygen demand (BOD5), 73 % Ammonium (NH4+-N) dan 86 % ortofosfat (PO43-). Berdasarkan pengamatan didapat bahwa vegetasi dengan pengolahan terbaik adalah I reptans. Berdasarkan hasil wawancara dan kuesioner, teknologi FTWs ini berpotensi untuk menjadi teknologi tepat guna dengan partisipasi masyarakat yang mungkin diaplikasikan untuk restorasi sungai Cikapundung.
EVALUASI PENGARUH PAPARAN RADIASI TERHADAP EFEK SITOTOKSIK DAN GENOTOKSIK PADA ALLIUM CEPA SEBAGAI BIOINDIKATOR KONDISI LINGKUNGAN KERJA BAGIAN RADIOLOGI RUMAH SAKIT Sopandi, Yunika; S. Salami, Indah Rachmatiah
Jurnal Teknik Lingkungan Vol 19, No 2 (2013)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (652.332 KB) | DOI: 10.5614/jtl.2013.19.2.10

Abstract

Abstrak: Penggunaan radiasi pengion dalam bidang kedokteransemakin mengalami peningkatan terutamapada pemeriksaan diagnostik, radioterapi, serta intervensi non-bedah. Teknik diagnosis dan intervensi non-bedah seperti fluoroskopi, radiologi dan kardiologi intervensi menghasilkan dosis radiasi yang tinggi tidak hanya pada pasien tetapi juga pada pekerja medis. Oleh karena itu, penting untuk melakukan pemantauan kondisi lingkungan kerja pada kegiatan medis tersebut untuk melindungi pekerja dari efek kesehatan jangka panjang akibat paparan radiasi. Pemantauan efek langsung pada makhluk hidup akibat paparan radiasi pengion hampir jarang dilakukan. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi kondisi lingkungan kerja rumah sakit yang terpaparradiasi pengion menggunakanAllium cepa sebagai bioindikator. Penelitian dilakukan di RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung padaempat (4) lokasi yaitu ruang periksa dan operator pada tindakan kardiologi intervensi, ruang periksa dan operator tindakan fluoroskopi,ruang operator tindakan CT-Scandanradioterapi.Bioindikator ditempatkan pada masing-masing ruang tindakan tersebut. Efek yang dilihat pada tanaman A. cepa adalah indeks mitotikdan aberasi kromosom. Hasil perhitungan dosis radiasi pada semua ruang operator di keempat lokasi studi masih berada di bawah nilai ambang batas, begitu pula dengan nilai rerata indeks mitotik dan aberasi kromosom yang dapat dikatakan tidak bersifat toksik terhadap sel A. cepa.Sementara itu dosis radiasi pada ruang periksa kardiologi intervensi berada di atas ambang batas, hal ini pun sejalan dengan nilai indeks mitotik dan aberasi kromosom yang dihasilkan. Berdasarkan kurva dosis-respon, hubungan antara dosis akumulasi terhadap persentase indeks mitotik dan aberasi kromosom bersifat logaritmik dengan nilai korelasi (R2) yang tinggi yaitu berturut-turut 0,862 dan 0,933.
PEMANFAATAN ALUM DARI LIMBAH BUFFING SEBAGAI KOAGULAN UNTUK MENYISIHKAN KEKERUHAN DAN TOTAL SUSPENDED SOLID (TSS) Pertiwi, Yunita; Notodarmodjo, Suprihanto
Jurnal Teknik Lingkungan Vol 20, No 1 (2014)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (649.013 KB) | DOI: 10.5614/jtl.2014.20.1.6

Abstract

Abstrak: Limbah buffing berasal dari proses finishing industri suku cadang otomotif dengan kandungan logam yang dominan yaitu 65,11% Aluminium. Kandungan Aluminium yangtinggi pada limbah buffing merupakan sumberdaya potensial untuk dijadikanbahan baku pembuatan koagulan berbasis logam. Pada penelitian ini, akan dipelajari studi pemanfaatan limbah buffing sebagai koagulan dan studi mekanisme proses koagulasi-flokulasi menggunakan koagulan tersebut. Pembuatan koagulan menggunakan 2 metode yang akan menghasilkan 109,4747 gram Al2(SO4)3.5H­2O dari 25 gram limbah buffing dan 62,8811 gram K.Al(SO4)2.8H2O dari 20 gram limbah buffing. Koagulan Al2(SO4)3. 5H2O mengandung sulfat 44,3%, 7% Al, dan kadar air 19,45%. Sedangkan koagulan metode II, yaitu KAl(SO4)2.8H2O mengandung sulfat 31,9%, 5,04% Al, dan kadar air 34,95%. Pada aplikasi untuk air baku dalam pengolahan air minum, dosis optimum untuk koagulan Al2(SO4)3.5H­2O adalah 30 mg/L dan koagulan K.Al(SO4)2.8H2O adalah 50 mg/L Efisiensi penyisihan kekeruhan terbesar pada koagulan Al2(SO4)3.5H2O dengan tingkat penyisihan 99,17%, dan memiliki kemampuan menyisihkan Total Suspended Solid (TSS) hingga <1,0 mg/L dengan tingkat penyisihan 99,29%.  Karakteristik flok yang terbentuk pada kondisi optimum proses koagulasi-flokulasi, memiliki rata-rata ukuran partikel ±0,01 mm2 pada proses koagulasi kemudian berturut turut mengalami pada proses flokulasi pembesaran menjadi ±0,04 mm2, ±0,45mm2, ±1,1 mm2 dan pada akhir proses flokulasi berukuran 1,9 mm2. Kecepatan pengendapan rata-rata partikel flok dengan menggunakan koagulan Al2(SO4)3.5H­2O adalah 0,052 ? 0,486 cm/detik dan 0,052 ? 0,289 cm/detik dengan menggunakan koagulan K.Al(SO4)2.8H2O. Selama 45 menit pengendapan, volume lumpur yang dihasilkan apabila menggunakan koagulan Al2(SO4)3.5H­2O 4,43mL/L air baku dan 5mL/L air baku untuk koagulan K.Al(SO4)2.8H2O.Kata kunci: limbah buffing, koagulan, koagulasi-flokulasi, kekeruhan, TSSAbstract: Buffing waste derived from industrial finishing processes of automotive parts containing 65,11% aluminium.The content of Al are high on buffing waste is a potential resource to be used as raw materials for metal-based coagulants.In this study, will be studied buffing waste as coagulant and coagulation-flocculation mechanism using buffing waste coagulant.There are 2 methods to produce coagulant that will produce a coagulant Al2 (SO4)3.5H2O and KAl(SO4)2.8H2O.Coagulant Al2(SO4)3.5H2O containing 44.3%sulfate, 7% Al, and moisture content is 19.45%. While coagulant method II, the K.AI(SO4)2.8H2O containing 31.9% sulfate, 5.04% Al, and moisture content is 34.95%. In the application to the raw water in the drinking water treatment, the optimum dose for coagulant Al2 (SO4)3.5H2O is 30 mg /L and coagulant K.Al(SO4)2.8H2O.was 50mg/L. Turbidity removal efficiency largest in coagulant Al2(SO4)3.5H2O with 99.17% turbidity removal rate, and have the ability to set aside Total Suspended Solid (TSS) to <1.0 mg/L with 99.29% removal rate. Floc characteristics formed at the optimum conditions coagulation-flocculation process, having an average particle size of 0,01 mm2 on the coagulation process then becomes an enlarged consecutive  ± 0.04 mm2, ± 0.45 mm2, ± 1.1 mm2,  and the size at the end of flocculation process is1.9 mm2. The average settling velocity of floc particles using  coagulant Al2 (SO4)3.5H2O is 0.052 to 0.486 cm/sec and 0.052 to 0.289 cm/sec by using  coagulant K.Al(SO4)2.8H2O. The volume of sludge produced usingcoagulant Al2 (SO4)3.5H2O is 4.43mL/L of raw water and 5 mL/L of raw water using coagulant K.Al(SO4)2.8H2O. Keywords: buffing waste, coagulant, coagulation-flocculation, Turbidity, TSS
IDENTIFIKASI KEBERAGAMAN BAKTERI PADA LUMPUR HASIL PENGOLAHAN LIMBAH CAT DENGAN TEKNIK KONVENSIONAL Dwipayana, Dwipayana; Ariesyady, Herto; Sukandar, sukandar
Jurnal Teknik Lingkungan Vol 15, No 1 (2009)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (475.119 KB) | DOI: 10.5614/jtl.2009.15.1.2

Abstract

Abstrak: Biodegradasi dengan metode lumpur aktif dilakukan dengan memanfaatkan bakteri yang digunakan selama proses pengolahan yang kemudian diresirkulasi kembali ke proses setelah mengalami pengendapan. Pengolahan ini dapat juga diterapkan pada pengolahan limbah cat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi bakteri pendegradasi limbah cat dari lumpur hasil pengolahan serta membandingkannya dengan keberagaman bakteri yang ada pada commercial seed. Bakteri yang dihasilkan dari identifikasi pada lumpur terdiri dari lima jenis, yaitu Bacillus subtilis, Bacillus licheneformis, Bacillus cereus, Bacillus megaterium, dan Pseudomonas flourescens. Keberadaan bakteri-bakteri tersebut menunjukkan proses pengolahan menggunakan bakteri konsorsium yang setiap bakterinya memiliki pola perumbuhan yang berbeda. Hal itu ditunjukkan oleh perbedaan waktu generasi(g) dan konstanta laju pertumbuhan (k). Nilai waktu generasi dan konstanta laju pertumbuhan adalah 44,67 menit dan 0,93 jam-1 untuk Pseudomonas flourescens; 45,04 menit dan 0,92 jam-1 untuk Bacillus subtilis; 35 menit dan 1,17 jam-1 untuk Bacillus licheniformis; 18 menit dan 2,27 jam-1 untuk Bacillus cereus, 19 menit dan 2,18 jam-1 untuk Bacillus megaterium, serta 53 menit dan 0,79 jam-1 untuk kultur campuran. Bakteri commercial seed yang digunakan pada saat pengolahan dan kembali terdapat di lumpur hasil pengolahan menandakan bahwa bakteri tersebut mampu menggunakan limbah sebagai sumber karbon dan berperan dalam pengolahan limbah.Abstract : Biodegradation with activated sludge method is done by using bacteria that are used during treatment process, which was then returned to the treatment process after had been settled. This process can be applied to liquid waste paint treatment. The objectives of this research are to identify the paint waste degradation bacteria of sludge and to compare them with the bacterial types in the commercial seed. The result of bacteria identification from sludge obtained five species. They are Bacillus subtilis, Bacillus licheneformis, Bacillus cereus, Bacillus megaterium, and Pseudomonas flourescens. The presence of five kinds bacteria indicates that the biological process used a consortium bacteria, that has different growth pattern. It was shown by the difference of generation time(g) and growth rate constant of (k) both pure cultures and mixed culture. Value of generation time (g) and growth rate constant (k) for each bacteria were 44.67 minutes and 0.93 hour-1 for Pseudomonas flourescens; 45.04 minutes and 0.92 hour-1 for Bacillus subtilis; 35 minutes and 1.17 hour-1 for Bacillus licheniformis; 18 minutes and 2.27 hour-1 for Bacillus cereus, 19 minutes and 2.18 hour-1 for Bacillus megaterium, and 53 minutes and 0.79 hour-1 for mixed culture. Commercial seed bacteria used during the treatment process and then present in the produced sludge indicates that the bacteria are able to use waste as a source of carbon, and indeed a role in waste treatment process.  Key words: paint waste sludge, identification, generation time, growth rate constant