cover
Contact Name
Jurnal Teknik Lingkungan ITB
Contact Email
jurnaltlitb@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnaltlitb@gmail.com
Editorial Address
http://journals.itb.ac.id/index.php/jtl/about/editorialTeam
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Teknik Lingkungan
ISSN : 08549796     EISSN : 27146715     DOI : -
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal Teknik Lingkungan ITB merupakan jurnal resmi yang dipublikasikan oleh Program Studi Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung. Jurnal ini mencakup seluruh aspek ilmu Teknik Lingkungan sebagai berikut (namun tidak terbatas pada): pengelolaan dan pengolahan air bersih, pengelolaan dan pengolahan air limbah, pengelolaan dan pengolahan persampahan, teknologi pengelolaan lingkungan, pengelolaan dan pengolahan udara, kebijakan air, serta kesehatan dan keselamatan kerja.
Articles 428 Documents
ANALISIS PENGARUH LEADERSHIP STYLE DAN SAFETY CLIMATE TERHADAP DATA KECELAKAAN KERJA DI INDUSTRI MANUFAKTUR Putri, Pancasila; Roosmini, Dwina
Jurnal Teknik Lingkungan Vol 23, No 1 (2017)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (384.039 KB) | DOI: 10.5614/j.tl.2017.23.1.4

Abstract

Abstrak: Masalah K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja) di Indonesia secara umum masih terabaikan, terlihat dari meningkatnya data kecelakaan kerja yang dikeluarkan oleh BPJS dari tahun 2013 hingga 2015. Berdasarkan penelitian sebelumnya oleh Tucker et al (2016) dan Brown et al (2017), salah satu cara untuk memecahkan masalah ini adalah dengan mengevaluasi leadership style dan safety climate. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana leadership style dan safety climate yang ada pada perusahaan dapat mempengaruhi data kecelakaan kerja. Penelitian ini dilaksanakan dengan melakukan observasi, wawancara dan kuesioner. Kuesioner NOSACQ-50 dan MLQ yang digunakan terlebih dahulu diuji validitas dan reliabilitasnya. Hasil pengukuran menggunakan kuesioner tersebut dianalisa menggunakan regresi logistik. Berdasarkan hasil dan pembahasan didapatkan kesimpulan bahwa iklim keselamatan kerja berdasarkan kuesioner NOSACQ-50 berkorelasi negatif terhadap data kecelakaan kerja dengan nilai Nagelkerke R Square atau kemampuan safety climate dalam menjelaskan data kecelakaan kerja adalah sebesar 21%. Leadership style yakni transformasional dan transaksional berkorelasi negatif, sedangkan tipe laissez-fair berkorelasi positif terhadap data kecelakaan kerja. Kelloway et al (2006) menyatakan bahwa transformasional dan laissez-fair berkorelasi terhadap kecelakaan kerja masing- masing positif dan negatif dengan R square sebesar 44%. Pada penelitian ini nilai Nagelkerke R Square atau kontribusi leadership style dalam menjelaskan data kecelakaan kerja adalah 47,7%. Kata kunci: leadership style, safety climate, data kecelakaan kerja, MLQ, NOSACQ-50 Abstract: Occupational Health and Safety problems in Indonesia are generally still neglected, as evidenced by the increasing work accident data released by BPJS from 2013 to 2015. Manufacturing industry activities such as PT Z, occupy the third position of fatal workplace accident statistics. PT Z itself has a working procedure, but in its application is still often the case of work accidents. Based on previous research by Tucker et al (2016) and Brown et al (2017), one way to solve this problem is to evaluate leadership style and safety climate. This study aims to analyze how the leadership style and safety climate that exist in the company can affect work accident data. This research was conducted by observation, interview and questionnaire. The NOSACQ-50 and MLQ questionnaires used were first tested for their validity and reliability. The results of the measurement using the questionnaire were analyzed using logistic regression. Based on the result and discussion, it can be concluded that safety climate is negatively correlated with the work accident data with the value of Nagelkerke R Square or the safety clarity ability in explaining the accident data is 21%. Leadership style ie transformational and transactional types are negatively correlated, whereas laissez-fair type is positively correlated with work accident data. Kelloway et al (2006) stated that transformational and laissez-fair correlates to occupational accidents of each positive and negative with R square of 44%. In this study the value of Nagelkerke R Square or leadership style ability in explaining work accident data is 47.7%. Keywords: leadership style, safety climate, accident, MLQ, NOSACQ-50 
PENGARUH KANDUNGAN ANION ANORGANIK PADA PROSES FOTOKATALITIK REACTIVE BLACK 5 DENGAN TIO2-UV DAN ZNO-UV Harja, Yulianty; Notodarmojo, Suprihanto
Jurnal Teknik Lingkungan Vol 17, No 2 (2011)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (291.401 KB) | DOI: 10.5614/jtl.2011.17.2.5

Abstract

Abstrak: Limbah cair industri tekstil menjadi permasalahan karena kualitas dan kuantitasnya sehingga memerlukan pengolahan khusus, terutama untuk kandungan zat warnanya. Salah satu metode pengolahan yang umum digunakan adalah dengan proses fotokatalitik. Proses fotokatalitik heterogen dengan TiO2 yang diiradiasi UV memberikan efisiensi penyisihan zat warna Reactive Black 5 (RB 5) yang sangat baik, dimana zat warna ini merupakan pewarna tekstil yang banyak digunakan pada industri pencelupan. Percobaan ini dilakukan untuk menentukan kondisi untuk proses fotokatalitik RB 5 yang memiliki efisiensi penyisihan terbaik (dengan mengetahui pH optimum, dosis optimum dan kombinasi katalis) serta mengetahui pengaruh kandungan anion anorganik, yang umum terdapat dalam limbah cair industri tekstil, terhadap proses penyisihan tersebut. Efisiensi degradasi RB 5 diketahui melalui pengukuran absorbansi dengan spektrofotometer dimana hasil tersebut akan dikalibrasi sehingga diperoleh konsentrasi zat warna dalam sampel larutan RB 5. Dengan mengetahui orde reaksi dan nilai laju reaksi (k) maka dapat ditentukan proses yang memberikan efisiensi penyisihan terbaik. Untuk membandingkan efisiensi katalis TiO2 dengan ZnO maka dilakukan percobaan dengan kedua katalis pada kondisi yang sama (pH, dosis). Pengaruh kandungan anion anorganik diketahui dengan membandingkan hasil penyisihan sampel dengan masing-masing jenis anion anorganik (2,5mM). Proses fotokatalitik memberikan hasil penyisihan RB 5 terbaik dengan menggunakan kombinasi ZnO-UV (0,5 g/L ZnO) pada pH 11, sedangkan anion anorganik yang paling menghambat proses fotokatalitik RB 5 dengan TiO2-UV adalah ion CO32- dan ion NO3- untuk proses dengan ZnO-UV.Kata kunci: anion anorganik, fotokatalitik, Reactive Black 5, Titanium Dioksida, Zinc Oksida Abstract : Textile industry wastewater become a problem due to its quality and quantity, thus needs a special treatment, especially for the dyes content. One of the commonly used treatment methods is photocatalytic process. Heterogenous photocatalytic process with UV irradiated TiO2 has a very good efficiency in elimination of Reactive Black 5(RB 5), which is a commonly used textile dyes. This study was conducted to determine the condition for photocatalytic process of RB 5 with the best efficiency (by knowing optimum pH, optimum dosage and combination of catalyst) and discover the effect of inorganic anion content, which is commonly found in textile industry effluent, towards the elimination process. Degradation efficiency of RB 5 identified by measuring absorbance with a spectrophotometer in which will be calibrated to obtain the dye concentration in RB 5 sample solution. By knowing the reaction order and the reaction rate (k), we can determine the best efficiency process. To compare the TiO2 and ZnO catalyst efficiency, both catalysts experiment conducted in same condition (such as pH, dosage). Effect of inorganic anion identified by comparing the degradation results of sample with each inorganic anion content (2.5mM). Photocatalytic process with ZnO-UV combination (0,5 g/L ZnO) give the best degradation result at pH 11, whereas the most inhibit inorganic anion for photocatalytic process RB 5 with TiO2-UV is CO32- ion and for ZnO-UV process is NO3- ion.  Key words: Inorganic anion, photocatalytic, Reactive Black 5, Titanium Dioxide, Zinc Oxide 
MODEL SEDIMENTASI PADA SUNGAI CITARUM DAN ANAK SUNGAI TARUM BARAT DAN TARUM TIMUR Anindyaguna, Manggala; Suharyanto, Suharyanto; Tedjakusuma, Teddy
Jurnal Teknik Lingkungan Vol 23, No 2 (2017)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (580.559 KB) | DOI: 10.5614/j.tl.2017.23.2.5

Abstract

AbstrakTata guna lahan DAS Citarum Hulu untuk tahun 1994 dan 2001, terjadi perubahan ekstrem di bagian selatan Jawa Barat (sekitar hulu sungai Citarum) berupa konversi hutan menjadi tanah terbuka (semak, belukar atau lahan kering). Konversi hutan menjadi lahan terbuka dengan luas yang memiliki dampak spasial yang berarti berada pada wilayah tersebut menyebabkan peningkatan laju ekspor sedimen tahunan yang melebihi 100 ton/km2. Penumpukan sedimen ini menyebabkan debit sungai akan menurun dan penumpukan sedimen yang semakin tinggi ini sangat berpotensi dalam mengurangi kapasitas tamping sungai terhadap air hujan yang berintensitas besar, terutama pada saat musim hujan. Dari masalah sedimentasi ini, dibutuhkan model untuk menduga dan menerangkan gejala pada sistem DAS di daerah ini. Penelitian ini memanfaatkan model hidrologi SWAT (Soil and Water Assessment Tool). SWAT merupakan model terdistribusi yang terhubung dengan SIG (Sistem Informasi Geografis) dan mengintegrasikan dengan DSS (Decision Support System). Lokasi penelitian berada di kawasan utara Tangkuban Perahu, melewati Purwakarta, sampai ke Bd. Curug yang terletak di sebelah utara Waduk Jatiluhur. Terletak di Sungai Cikao, Purwakarta, Jawa Barat di sekitar 6 ° 32'27 "S dan 107 ° 26'46" E. Tahapan penelitian yang digunakan dalam pelaksanaan studi ini adalah pengumpulan data, delineasi DAS, pendefinisian tata guna lahan dan jenis tanah, pengeditan basis data model, pendefinisian stasiun cuaca, parameterisasi dan pengeditan input, menjalankan model, membaca dan memplot hasil, kalibrasi hasil dan parameter, analisis data. Data yang digunakan adalah peta dasar DAS Citarum, peta Sungai Citarum, data curah hujan pada stasiun cuaca terdekat. Skenario 1 (model perkebunan) dan skenario 2 (model hutan) yang digunakan menunjukkan perbedaan nilai TSS pada kedua skenario tersebut jauh berbeda dimana hasil rata-rata TSS pada model ini adalah 75 mg/l untuk model hutan, dan 181 mg/l untuk model perkebunan dan 178 mg/l untuk model tahun 2016. Kemudian skenario berikutnya dengan penambahan hutan di sekitar daerah kritis dan sungai, menunjukkan terjadi peningkatan kualitas sungai jika daerah kritis dibatasi oleh hutan di sekitar sungai. Kata kunci: DAS, tata guna lahan, sedimentasi, Citarum, Model, SWAT. Abstract : .. There is a change in land use extreme Citarum Hulu for 1994 and 2001, in the southern part of West Java (around Citarum river upstream) in the form of conversion of forest into open land (bush, shrub or dry land). Conversion of forest to open with an area that has significant spatial impact are in the region led to an increase in the rate of annual exports exceeding sediment 100ton / km2. This causes the buildup of sediment will decrease streamflow and sediment that is potentially higher in reducing the capacity of the river tamping rainwater great intensity, especially during the rainy season. From this sedimentation problem, it takes the model to predict and describe the symptoms to the DAS system in this area. This study utilized a hydrological model SWAT (Soil and Water Assessment Tool). SWAT is a distributed model that is connected with GIS (Geographic Information System) and integrates with DSS (Decision Support System). The research located in Cikao River, around northern region of Tangkuban Perahu, passing Purwakarta, to Bd. Curug in the north of Jatiluhur Reservoir, Purwakarta, West Java in 6 ° 32'27 "S and 107 ° 26'46" E. Research stages used in the implementation of this study are data collection, watershed delineation, land use definition and soil type, editing model databases, station definitions weather, parameterization and input editing, running models, reading and plotting results, calibrating results and parameters, data analysis. The data used are baseline maps of Citarum watershed, Citarum River maps, rainfall data at nearby weather stations. Scenario 1 (plantation model) and scenario 2 (forest model) used show different TSS values in both scenarios is much different where the mean TSS yield in this model is 75 mg / l for the forest model, and 181 mg / l for the model plantations and 178 mg / l for 2016 model. Then the next scenario with the addition of forests around the critical areas and rivers, indicates an increase in river quality if the critical area is limited by forests around the river Key words: Watershed , Landuse, sedimentation, Citarum, Model, SWAT
ANALISIS DISTRIBUSI PENCEMAR UDARA NO2, SO2, CO, DAN O2 DI JAKARTA DENGAN WRF-CHEM Darmanto, Nisrina Setyo; Sofyan, Asep
Jurnal Teknik Lingkungan Vol 18, No 1 (2012)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (670.579 KB) | DOI: 10.5614/jtl.2012.18.1.6

Abstract

Abstrak: Tingginya aktivitas perkotaan di DKI Jakarta meningkatkan emisi pencemar udara sumber antropogenik seperti NO2, SO2, CO, dan O3. Pada penelitian ini dilakukan simulasi numerik mengenai distribusi pencemar udara di atmosfer akibat faktor meteorologi pada musim kemarau (Agustus 2011) dan musim hujan (Januari 2011) dengan simulasi numerik WRF-Chem. Input emisi simulasi berasal dari inventarisasi emisi antropogenik tahun 2011 pada penggunaan energi di sektor industri, transportasi, dan kebutuhan domestik serta pembakaran residu pertanian di Jakarta dan sekitarnya. Inventarisasi emisi yang dilakukan menunjukkan bahwa kontribusi SO2  tertinggi dihasilkan dari sektor industri sedangkan kontribusi NO2  dan CO tertinggi dihasilkan dari transportasi. Hasil WRF-Chem menunjukkan bahwa pola meteorologi musim kemarau memiliki perbedaan yang signifikan dengan musim hujan. Pada musim kemarau, terjadi dominasi angin lokal laut/darat yang mendistribusi pencemar udara ke arah utara (Teluk Jakarta) saat terjadi angin darat dan ke arah selatan (Jakarta Selatan dan Bogor) saat terjadi angin laut. Di musim ini, kecepatan angin rendah dan terbentuk mixing layer yang signifikan. Pada musim hujan, adanya angin permukaan akibat angin sinoptik dengan kecepatan tinggi dari arah barat dan variasinya mendistribusi pencemar ke arah timur (Jakarta Timur dan Bekasi). Kecepatan angin tinggi dan mixing layer yang terbentuk lebih rendah dibanding pada musim kemarau. Verifikasi hasil pemodelan dilakukan dengan membandingkan hasil simulasi dengan hasil observasi di stasiun pemantauan pencemaran udara DKI 2 di Kelapa Gading, Jakarta.Kata kunci: distribusi pencemar udara, inventarisasi emisi, Jakarta, pencemar udara, WRF-Chem Abstract: The increase of urban activities in DKI Jakarta implies in higher air pollutants emission such as NO2, SO2, CO, and O3  which come from anthropogenic sources. In this research, the numerical simulations of meteorological aspects on air pollutants distributions during dry season (August 2011) and wet season (January 2011) are conducted by using WRF-Chem software. The anthropogenic emission input for WRF-Chem is calculated from 2011 emission inventory in Jakarta and its suburban areas from energy-utilization sectors (industrials, transportations, and domestic) and agricultural residual burning. The emission inventory shows that industrial sectors contribute the highest SO2 emission among all. Therefore, the transportation sectors contribute the highest NO2 and CO emission among all. The WRF-Chem results show that the meteorological characteristic during dry and wet season has significant differences one another. During the dry season, sea/land breeze local winds has major influences in distributing air pollutants to the north (Jakarta Bay) due to land breeze and south (South Jakarta and Bogor) due to sea breeze. In this season, the wind velocity is relatively low and the mixing layer is formed significantly. Therefore, during the wet season the synoptic westerly wind  influences the surfaces wind  results in  low domination of sea/land breeze local wind  and distributes the air pollutants to the east (East Jakarta and Bekasi). The wind velocity is high and the inversion layer is not significantly formed compared to dry season. For the simulation results verification, a comparison between simulated and observed values from air quality monitoring stations DKI 2 in Kelapa Gading is conducted.Key words: air pollutant distributions, emission inventory, Jakarta, air pollutants, WRF-Chem
PENGARUH INTENSITAS CAHAYA TERHADAP PENYERAPAN GAS KARBONDIOKSIDA OLEH MIKROALGA TROPIS ANKISTRODESMUS SP. DALAM FOTOBIOREAKTOR Muchammad, Amalia; Kardena, Edwan; Rinanti, Astri
Jurnal Teknik Lingkungan Vol 19, No 2 (2013)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (672.635 KB) | DOI: 10.5614/jtl.2013.19.2.1

Abstract

Abstrak: Mekanisme CCS secara biologis didapat dengan menggunakan mikroalga. Ankistrodesmus sp. adalah mikroalga tropis terpilih yang merupakan hasil isolasi dari kolam fakultatif 2b IPAL Bojongsoang. Pada proses fotosintesis, mikroalga menggunakan bahan anorganik yakni CO2 sebagai bahan utamanya yang akan dirombak menjadi bahan organik dan menghasilkan energi. Intensitas cahaya merupakan faktor yang sangat penting dalam mekanisme fotosintesis. Dilakukan penelitian mengenai pengaruh cahaya untuk mengetahui efektifitas penyerapan CO2 yang ditandai dengan respon kultur. Dari penelitian awal diketahui bahwa fase pertumbuhan  Ankistrodesmus sp. memiliki waktu generasi 7.93 per jam, Laju pertumbuhan spesifik (µs) memiliki nilai sebesar 0.9913 sel/hari dan umur inokulum 3 hari. Pada percobaan selanjutnya diperoleh bahwa efisiensi penyerapan CO2 tertinggi terjadi pada konsentrasi 5% pada intensitas 4000 luks (23.38%). Penambahan 5% konsentrasi CO2 menunjukkan pertumbuhan sel yang tinggi bila dibandingkan dengan konsentrasi 2 dan 0 %. Nilai biomassa kering mengalami kenaikan masing-masing 32.3% pada 2% CO2 dan 21.67% pada CO2 5% setelah intensitas dinaikkan menjadi 4000 luks.Pada variasi 2% CO2 terjadi peningkatan kandungan klorofil sebesar 28.24% ketika intensitas cahaya dinaikkan menjadi 4000 lux 24/0. Sebaliknya pada variasi 0 dan 5 % CO2 kandunganklorofil mengalami penurunan. Intensitas cahaya  4000 luks dengan periodisasi 24/0 dapat menyebabkan CO2  terserap secara optimum.
STUDI KARAKTERISTIK DAN POTENSI DAUR ULANG SAMPAH DI BANTARAN SUNGAI CIKAPUNDUNG Yusfi, Rosi Nuraeni; Damanhuri, Tri Padmi
Jurnal Teknik Lingkungan Vol 18, No 2 (2012)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1039.494 KB) | DOI: 10.5614/jtl.2012.8.2.6

Abstract

Abstrak: Sungai Cikapundung menerima sampah setiap hari dari berbagai aktivitas di sepanjang bantarannya sehingga  merugikan  masyarakat.  Bahkan  Sungai  Citarum  sebagai  muaranya  dinyatakan  sebagai  sungai terkotor di dunia. Maka sampah yang masuk ke Sungai Cikapundung harus dikelola dengan tepat. Mempertimbangkan kurang efektifnya penanganan sampah dengan kerja bakti dan amanat UU No.18/2008 akan minimasi dan pemanfaatan sampah yang masih bernilai guna, pengelolaan sampah di bantaran Sungai Cikapundung sebaiknya  difokuskan pada prinsip minimasi  terutama program daur ulang yang melibatkan masyarakat dan sektor informal. Maka diperlukan studi untuk mengetahui potensi daur ulang serta karakteristik kualitatif dan kuantitatif sampah yang akan dikelola. Densitas dan komposisi sampah diukur sesuai metode SNI19-3964-1995. Kadar air diuji dengan metode ASTM D2216-98. Uji statistik dilakukan untuk menguji korelasi data dan uji homogenitas menggunakan ANOVA satu arah.  Hasil pengolahan data menunjukkan  estimasi timbulan sampah yang masuk sungai yaitu 21,95 m3  per hari. Dengan komposisi sampah didominasi oleh sampah anorganik yang berpotensi untuk didaur ulang sebesar 44-73%. 13-21% berupa sampah anorganik yang biasa didaur ulang, 2-10% sampah anorganik yang tidak dapat didaur ulang, 7-23%  sampah organik yang sulit dikompos, dan 5-18% yang mudah dikompos. Kadar air material organik pada sampah sungai adalah 86,98% sedangkan material anorganik 62,92% dan densitas sampah sebesar 87,44 kg/m3. Uji homogenitas menunjukkan bahwa seluruh data heterogen. Uji korelasi membuktikan bahwa komposisi sampah di sungai dipengaruhi oleh sampah permukiman di bantarannya. Potensi daur ulang sampah adalah 250-403 kg untuk sampah anorganik dan 96-345 kg untuk sampah organik setiap harinya. Dengan potensi ekonomi daur ulang adalah Rp 375.000 -Rp 1.612.000 per hari untuk sampah anorganik dan Rp 960.000 - Rp 3.450.000 per hari untuk sampah organik. Hal ini menunjukkan bahwa program daur ulang sampah di bantaran Sungai Cikapundung akan memberikan manfaat yang sangat besar bagi masyarakat di sekitarnya.
ANALISIS PAPARAN BTX TERHADAP PEKERJA DI PT. PERTAMINA RU IV CILACAP Indrawan, Dwito; Oginawati, Katharina
Jurnal Teknik Lingkungan Vol 20, No 2 (2014)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1217.667 KB) | DOI: 10.5614/jtl.2014.20.2.4

Abstract

Abstrak: Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Negara (PERTAMINA) merupakan suatu perusahaan milik Negara yang bergerak dalam bidang perminyakan. Produk yang dihasilkan oleh kilang ini antara lain paraxylene, LPG, rafinat, heavy aromatic, dan benzena. Beberapa senyawa kimia yang sering terdeteksi di kilang ini antara lain H2S, NH3, Metil Etil Keton (MEK), klorin, merkuri, dan Benzene Toluene Xylene (BTX). Efek kesehatan akut yang umum terjadi akibat paparan BTX adalah terganggunya sistem syaraf pusat (SSP). Gejala-gejala terganggunya sistem syaraf ini antara lain mual, muntah, pusing, dan sakit kepala. Bila terpapar dengan konsentrasi yang cukup tinggi maka dapat timbul gejala seperti gemetar, lemas, gangguan pada tekanan darah, sakit kepala pusing tiba-tiba, vertigo, muntah, dehidrasi hingga kematian. Efek kronis paparan BTX dapat merusak sistem organ tertentu. Pengambilan sampel dilakukan pada 40 orang pekerja yang dianggap terpapar. Data Primer yang akan diambil meliputi dosis kandungan BTX tertinggi yang terinhalasi pada pekerja, sampel urin, parameter fisika, penyebaran kuesioner, dan wawancara pada pekerja. Data sekunder yang akan digunakan adalah data monitoring dari PT. Pertamina RU IV Cilacap. Prosedur pengambilan dan analisis sampel udara dan breathing zone mengacu pada NIOSH 1501 (Hydrocarbons, Aromatic). Metode yang digunakan untuk menganalisis sampel urin mengacu pada NIOSH 8301. Paparan inhalasi pekerja masih berada di bawah ambang batas yang telah ditentukan pemerintah. Pada Unit KPC, intake benzene yang tertinggi adalah 0,1515 ppm, pada Laboratorium 0,2850 ppm, dan pada bagian Administrasi adalah 0,0230 ppm.  Nilai CDI  tertinggi ditemukan pada pekerja di bagian Laboratorium dengan nilai sebesar 0.0187 mg/kg.day. Terdapat korelasi antara CDI dengan konsenrasi fenol pada pekerja. Sebanyak 15 pekerja memiliki HI > 1, yang berarti bahwa paparan dosis benzene terhadap pekerja memiliki potensi untuk membahayakan kesehatan pekerja. Kata kunci: BTX, benzene, toluene, xylene, analisis paparan Abstract : Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Negara (Pertamina) is a state-owned company engaged in the oil business. The products produced by this company include paraxylene, LPG, rafinat, heavy aromatics, and benzene. Some chemical compounds that are often detected at the refinery include H2S, NH3, Methyl Ethyl Ketone (MEK), chlorine, mercury, and Benzene Toluene Xylene (BTX). Acute effect caused by BTX exposure that usually happens to human is affected central nervous system (CNS). The symptoms are nausea, vomiting, dizziness, and headache. If human get exposed with high concentration, then they will experience shaking, limp, blood pressure disruption, headache, instant dizziness, vertigo, vomiting, dehydration, death. Chronic effect from BTX exposure can harm certain organ system. This research was conducted to 40 workers who were considered to be exposed by BTX. Primary data that was taken included the highest BTX compound dosage inhaled by workers, urine sample, physical parameters, questionnaire, and interview to workers. Secondary data that was used was environmental monitoring data from PT. Pertamina RU IV Cilacap. Sampling procedure and analysis for breathing zone refered to NIOSH 1501 (Hydrocarbons, Aromatic). Method that was used to analyze urine sample refered to NIOSH 8301. Inhalation exposured to workers were stiil below the threshold that was set by the govenrment. The highest benzene intake in KPC Unit was 0.1515 ppm, in Laboratory was 0.2850 ppm, and in Administration was 0.0230 ppm. The highest CDI value in workers was found in the Laboratory with the value of 0.0187 mg/kg.day. There was correlation between CDI and phenol concentration in workers. There were 15 workers who had HI > 1, that means the benzene dosage exposure to workers his potential to harmworkers? health. Key words: BTX, benzene, toluene, xylene, exposure analysis
MODEL PRAKIRAAN DEBIT AIR DALAM RANGKA OPTIMALISASI PENGELOLAAN WADUK KEDUNG OMBO Hutagalung, Shanty Elizabeth Maretina; Sabar, Arwin
Jurnal Teknik Lingkungan Vol 21, No 1 (2015)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (393.761 KB) | DOI: 10.5614/jtl.2015.21.1.9

Abstract

Abstrak: Pemanfaatan Waduk Kedung Ombo (WKO) sebagai waduk multiguna ternyata masih belum optimal. Hal ini ditandai dengan terjadinya kekurangan air di hilir pada musim kering, dan air melimpas pada musim hujan. Padahal bila dikelola dengan optimal, WKO bisa sebagai sumber air baku dalam pengembangan sistem penyediaan air minum (SPAM) karena hingga saat ini WKO hanya digunakan terbatas untuk irigasi dan PLTA. Adanya permasalahan terhadap ketidakpastian masa depan tersebut, maka perlu dilakukan penelitian pola pengusahaan waduk Kedung Ombo optimal  untuk  standar operasional Waduk.  Pendekatan yang dilakukan dalam pengelolaan waduk adalah dengan metode korelasi spasial (hujan dan debit dan metode diskrit markov yang menggunakan prinsip model stokastik markov 3 kelas. Dengan menggunakan data debit inflow WKO dari tahun 1991-2011 didapatkan beberapa hasil prakiran debit masa depan dengan menggunakan dua komponen hidrologi yaitu hujan dan debit. Pada metode korelasi spasial hujan dan debit dilakukan dengan menguji 5 kombinasi komponen hujan dan debit untuk kemudian dipilih yang mempunyai hasil korelasi tertinggi terhadap debit aktualnya. Dari perhitungan diketahui bahwa kombinasi tipe PQQQ yang mempunyai nilai korelasi tertinggi, yaitu 0,87 sedangkan untuk metode markov didapatkan hasil yang sangat baik dengan koefisien korelasi 0,958. Kemudian nantinya metode markov ini akan digunakan dalam perhitungan manajemen waduk optimal dalam rangka melihat potensi WKO sebagai sumber air baku bagi SPAM di wilayah sekitarnya. Kata kunci: waduk kedung ombo, korelasi spasial, hujan, debit prakiraan Abstract: The utilization of Kedung Ombo Reservoir (WKO) as a multipurpose reservoir was considered suboptimum. It is clearly shown by the water shortages at the downstream in the dry season, and an overflown water during the rainy season. If it is managed optimally, WKO can be utilized as a raw water source in the development of drinking water supply system (SPAM) albeit it is only limited to be used for irrigation and hydropower plant today. The uncertainty of the future draws the urgency for a proper study on how to optimize the operational of Kedung Ombo reservoir as standardized operational procedure. The approach taken in the management of the reservoir is the spatial correlation method (rainfall ? discharge, and Markov discrete method which uses a model that applies the principal of Markov stochastic model 3 classes. By using the inflow discharge data of WKO, taken from the years of 1991-2011, the forecasted discharge value for the future can be obtained through two hydrological components which is rainfall and discharge. The method of the spatial correlation of rain-discharge has five sets of combinations between rain and discharge, where the results with the highest correlation number to its actual value will be opted. From the calculation it is known that the combination of PQQQ type has the highest correlation value, which is 0.87, whereas for the Markov method it obtained a very good results with a correlation coefficient of 0.958. Later on, the Markov method will be used in the optimal reservoir management calculation in order to see the potential of WKO  as a source of raw water for SPAM in the surrounding region. Keywords: Kedung Ombo dam, spatial correlation, presipitation, forecasted water discharge
KADAR ALUMINIUM (AL) DAN BESI (FE) DALAM PROSES PEMBUATAN KOAGULAN CAIR DARI LEMPUNG LAHAN GAMBUT Ramdhani, Widya; Mahmud, Mahmud; Soewondo, Prayatni
Jurnal Teknik Lingkungan Vol 15, No 1 (2009)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (488.107 KB) | DOI: 10.5614/jtl.2009.15.1.5

Abstract

Abstrak: Penelitian tentang pemanfaatan lempung relatif intensif dilakukan. Selama ini penelitian tersebut lebih banyak digunakan sebagai absorben daripada sebagai koagulan. Padahal lempung memiliki kadar aluminium dan besi yang relatif tinggi sehingga berpotensi untuk digunakan sebagai bahan koagulan. Pada penelitian ini akan dilakukan pengukuran kadar aluminium (Al) dan besi (Fe) dalam bentuk koagulan cair yang terbuat dari bahan baku lempung yang berasal dari lahan gambut. Penelitian ini dilakukan pada skala laboratorium. Lempung gambut ini diperoleh dari daerah bergambut yang terletak di Kecamatan Gambut, Kalimantan Selatan yang memiliki kadar Al dan kadar Fe sebesar 8,46 %berat dan 2,59 %berat (Laboratorium Pusat Survei Geologi Bandung, 2008). Untuk memperoleh Al dan Fe dari lempung tersebut dalam bentuk koagulan cair dilakukan dengan cara ekstraksi pada lempung dengan menggunakan asam sulfat (H2SO4). Pengukuran kadar Al dalam koagulan cair tersebut dilakukan dengan menggunakan metode Atomic Absorption Spectrometry (AAS) sedangkan Fe dengan menggunakan spektrofotometri. Variabel yang diamati dalam proses pembuatan koagulan ini, yaitu pengaruh ukuran mesh (ukuran butiran lempung), temperatur kalsinasi, dan konsentrasi asam sulfat yang digunakan. Berdasarkan hasil pengukuran dengan menggunakan AAS, kadar Al terbesar dalam proses pembuatan koagulan cair terdapat pada percobaan 2 yaitu dengan ukuran mesh 20 (diameter lempung 0,85 mm) dengan suhu kalsinasi 700?C dan konsentrasi asam sebesar 2N yaitu sebesar 7480,78 ppm. Kadar Fe terbesar pada percobaan 2 berdasarkan hasil pengukuran dengan menggunakan spektrofotometer terdapat pada ukuran mesh 20 (diameter lempung 0,85 mm) dengan suhu kalsinasi 700?C dan pada konsentrasi asam sulfat sebesar 2N yaitu sebesar 1475,51 ppm.Kata kunci: Koagulan Cair, Kadar Aluminium (Al), Kadar Besi (Fe), Lempung Lahan Gambut Abstract: Research about clay utilization relative intensive conducted. Currently research is referred more used as absorbent than as coagulant. Though clay haves level of aluminum and iron that relative high until to be used as coagulant material. At this research will be conducted measurement level of aluminum (Al) and iron (Fe) in the form of liquid coagulant that made of clay raw material that come from peat land. This Research is conducted at laboratory scale. This peat Clay is obtained from area that located in Gambut District, South Kalimantan that have level of Al and Fe as high as 8,46 %weight and 2,59 %weight (Laboratory Geology Survey Center Bandung, 2008). For getting the Al and Fe from clay referred in the form of liquid coagulant is conducted by extraction at clay by using sulfide acid (H2SO4). Measurement level of Al in liquid coagulant referred conducted by using method Atomic Absorption Spectrometry (AAS) whereas Fe by using spectrophotometer. Variable that perceived in course of making this coagulant which is size effect mesh (clay size of grain), temperature calcinations, and concentration of sulfide acid that used. Base measurement result by using AAS, level of biggest Al in course of making liquid coagulant exist on experiment 2 that is of the size mesh 20 (clay diameter 0,85 mms) with calcinations temperature 700°C and acid concentration as big as 2N that is as high as 7480,78 ppms. Level of biggest Fe at experiment 2 base measurement result by using spectrophotometer exist on size mesh 20 (clay diameter 0,85 mms) with calcinations temperature 700°C and at concentration of sulfide acid as big as 2N that is as high as 1475,51 ppms.  Key words: Liquid Coagulant, Level of Aluminum (Al), Level of Iron (Fe), Clay of Peat land.
EVALUASI KEBERLAJUTAN SISTEM PENYEDIAAN AIR BERSIH PERDESAAN DI KECAMATAN LEDOKOMBO KABUPATEN JEMBER PROPINSI JAWA TIMUR Krisdhianto, Andhi; Sembiring, Emenda
Jurnal Teknik Lingkungan Vol 22, No 1 (2016)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1115.052 KB) | DOI: 10.5614/j.tl.2016.22.1.3

Abstract

Abstrak: Pemenuhan kebutuhan air bersih di wilayah perdesaan biasanya dilakukan secara individu dan secara komunal, perpipaan air bersih adalah salahsatu cara memennuhi kebutuhan air secara komunal. Perpipaan air bersih perdesaan dikelola oleh masyarakat dengan membentuk kelompok pengelola, di Kecamatan Ledokombo terdapat 42 sistem perpipaan air bersih, 24 sistem diantaranya dapat berjalan dengan baik namun 18 sistem dalam keadaan tidak baik. Oleh karena itu perlu dikaji faktor apa yang mempengaruhi sistem penyediaan air bersih perdesaan di Kecamatan Ledokombo dan strategi apa yang perlu dibangun. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini Confirmatory faktor Analisis (CFA) untuk mengkonfirmasi faktor yang mempengaruhi keberlanjutan sedangkan analisis SWOT dan Matrik IE digunakan untuk menyusun strategi. Berdasarkan hasil analisis, faktor yang mempengaruhi keberlanjutan sistem penyediaan air bersih perdesaan di Kecamatan Ledokombo adalah peranserta masyarakat, teknis, pembiayaan dan lembaga. Sementara faktor lingkungan tidak signifikan mengukur keberlanjutan penyediaan air bersih perdesaan di Kecamatan Ledokombo karena nilai komponen matriknya < 0,50. Nilai total Rating Score IFAS 2,43 pada Matrik IE sebagai sumbu X dan nilai total Rating Score EFAS 2,67 pada Matrik IE sebagai sumbu Y, maka sistem penyediaan air bersih perdesaan di Kecamatan Ledokombo masuk dalam wilayah Mandiri dan Membangun. Strategi yang dapat dibangun diantaranya adalah perbaikan infrastruktur, pelatihan bagi pengelola, pembentukan badan pengawas, meningkatkan peranserta masyarakat, penambahan sambungan rumah dan memaksimalkan penagihan iuran air bersih. Kata kunci: keberlanjutan, penyediaan air bersih, air bersih, perdesaan Abstract: Fulfillment the needs of clean water in rural areas is usually performed individually and communally, piping clean water is one way of meeting water needs communally. Management of clean water piped rural communities by forming a management group, in Subdistrict Ledokombo there are 42 water piping system, 24 of which system to run well but 18 system is in bad condition. Therefore, it is necessary to study what factors influence rural water supply system in the Subdistrict Ledokombo and what strategies need to be built. The analytical method used in this study Confirmatory factor analysis (CFA) to confirm the factors affecting the sustainability while SWOT analysis and IE Matrix is used to strategize. Based on the analysis, factors affecting the sustainability of rural water supply systems in Subdistrict Ledokombo is community participation, technical, financing and institutions. While environmental factors are not significant to measure the sustainability of rural water supply in the Subdistrict Ledokombo because component matrix values <0.50. The IFAS rating score of 2.43 on a matrix IE as the X-axis and the EFAS rating score of 2.67 on a Matrix IE as the Y-axis, the rural water supply systems in Subdistrict Ledokombo included in the Self and Build. The strategy can be built include infrastructure improvements, training for managers, the establishment of supervisory board, increase community participation, increase in house connections and billing maximize clean water fee. Keywords: sustainability, water supply, clean water, rural

Page 4 of 43 | Total Record : 428