Paramasastra: Jurnal Ilmiah Bahasa Sastra dan Pembelajarannya
discusses field-based research, literature research, and theoretical and methodological reflection on languages, literatures, and its teaching. This journal receives research-based articles or literary-based studies that will be published twice a year through the screening process. All articles sending to the editorial desk will be reviewed by at least two reviewers. Manuscripts relate to the fields below are welcome to submit.
Articles
395 Documents
PENDEKATAN INTERDISIPLINER, MULTIDISIPLINER, DAN TRANSDISIPLINER DALAM STUDI SASTRA
Setya Yuwana Sudikan
Paramasastra : Jurnal Ilmiah Bahasa Sastra dan Pembelajarannya Vol. 2 No. 1 (2015): Vol 2 No 1 Bulan Maret Tahun 2015
Publisher : Universitas Negeri Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26740/paramasastra.v2n1.p%p
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah mempengaruhi perkembangan ilmu pengetahuan khususnya dalam kajian kesastraan. Sebagai sebuah kajian, karya sastra tidak bisa diklaim sebagai materi yang tertutup hanya pada satu dimensi pendekatan saja. Perkembangan pendekatan yang terus mengalami dinamika pada gilirannya mencipta pendekatan yang bukan lagi tunggal atau monodisiplin, tetapi sudah interdisiplin, multidisiplin, transdidiplin, dan krosdisiplin. Sudah banyak referensi yang berusaha memposisikan kajian kesastraan dengan pendekatan multidisiplin yang dianggap justru lebih komprehensif dalam menelaah sebuah karya sastra dibanding dengan yang monodisiplin. Melalui telaah atas karya-karya tersebut dengan pemetaan secara kronologis, artikel ini menyuguhkan peta dinamika kajian kesastraan yang interdisiplin, multidisiplin, dan transdisiplin terutama terhadap terbitan karya-karya yang berbahasa Indonesia baik itu ditulis langsung dalam bahasa Indonesia maupun terjemahan.
HIEROSGAMOS, HIERODOULES, MAGNA MATER DAN PROPAGANDA SEKS BEBAS DALAM NOVEL THE DA VINCI CODE KARYA DAN BROWN
Reimundus Raymond Fatubun
Paramasastra : Jurnal Ilmiah Bahasa Sastra dan Pembelajarannya Vol. 2 No. 1 (2015): Vol 2 No 1 Bulan Maret Tahun 2015
Publisher : Universitas Negeri Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26740/paramasastra.v2n1.p%p
Alusi-alusi tidak sekedar hadir dalam karya sastra tapi mempunyai signifikansi khusus dengan isi karya sastra. Dan Brown menggunakan banyak alusi dalam The Da Vinci Code. Alusi-alusinyaberasal dari abad-abad pra-Kristen, era awal Kristen sampai masa Renaissance dan Baroque dan dihubungkan dengan situasi dunia, terutama gereja. Alusi-alusi dari masa pra-Kristenhierosgamos,hieroedules dan Magna Mater mempropagandakan ritual seks. Dalam hubungan ini alusi-alusi itu mengarah pada tokoh Maria Magdalena. Hal-hal yang dikemukakan Brown tentang tokoh ini antara lain Jesus menikah dengan Maria Magdalena, bukan Petrus, yang diutus untuk mendirikan gereja.Dia harus disembah sebagai seorang dewi, persaudaraan rahasia the Priory of Sionmasih memujanya sebagai dewi dan mempertahankan praktek ini(Strobel & Poole, 2006:25). Secara teoritik, tulisan ini menggunakanPiercian Semiotics,dan New Historicism (Greenblatt, 1980) yang mensejajarkan teks sastra dan non-sastra. Teks sastra dijelaskan sepenuhnya oleh teks non-sastra, tidak seperti Historicism.Tulisan ini menjelaskan alusi-alusi dan propaganda Dan Brown akan seks bebas.
TUHFAT AL NAFIS:KARYA SASTRA SEJARAH (MELAYU) DALAM PERSPEKTIF SEJARAH
H.Muhammad Bahar Akkase Teng
Paramasastra : Jurnal Ilmiah Bahasa Sastra dan Pembelajarannya Vol. 2 No. 1 (2015): Vol 2 No 1 Bulan Maret Tahun 2015
Publisher : Universitas Negeri Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26740/paramasastra.v2n1.p%p
Dalam makalah ini telah dibahas mengenai sastra Melayu klasik, sastra sejarah melayu serta Tuhfat Al Nafis. Sastra Melayu klasik(lama) adalah sastra yang berbentuk lisan atau sastra yang tercipta dari ucapan. Karya sastra sejarah, merupakan suatu karya sastra yang terkandung didalamnya unsur sejarah.Sastra sejarah merupakan dongeng, fantasi, bukan fakta dan kebenaran cerita. Anggapan masyarakat terhadap karya sastra Sejarah ini sebagai karya sejarah, disebabkan a) judul karya ini menggunakan kata sejarah,b) latar atau tempat-tempat yang diceritakan ada dalam dunia nyata,c) nama-nama pelaku atau tokoh cerita merupakan tokoh historis, dan dipercayai benar-benar ada.Tuhfat al Nafis Trengganu salah satu naskah kuno yang tergolong sastra sejarah yang dikarang oleh dua orang, ayah dan anak Haji Raja Ahmad(1778-1878) dan Haji Raja Ali(1808-1872). Raja Ali Haji juga merupakan seorang intelektual terkenal di penghujung abad ke-19. Karya-karyanya bukan hanya sastra, tetapi juga dibidang lain, seperti; agama, sejarah, bahasa dan budaya Melayu. Naskah ini telah disalin untuk disimpan di Isana Diraja Trengganu pada masa pemerintahan Sultan Zainal Abidin III(1881-1918). Corak kaligrafinya jauh lebih bermutu dari pada manuskrip lainnya yang disalin untuk pegawai-pegawai asing.
WACANA MOP BAHASA MELAYU PAPUA SEBAGAI ILUSTRASI KONTEKSTUAL DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI PAPUA
Aleda Mawene
Paramasastra : Jurnal Ilmiah Bahasa Sastra dan Pembelajarannya Vol. 2 No. 1 (2015): Vol 2 No 1 Bulan Maret Tahun 2015
Publisher : Universitas Negeri Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26740/paramasastra.v2n1.p%p
Mop adalah wacana lelucon yang lazim disampaikan dalam bahasa Melayu Papua. Isinya mengandung asosiasi makna tertentu yang menimbulkan kelucuan serta mengundang tawa pendengarnya. Mop pada umumnya disajikan dalam bentuk verbal dengan memanfaatkan kata, kalimat, dan wacana. Penuturan Mop mencerminkan bentuk praktik penggunaan bahasa secara nyata di masyarakat dan menjadi media interaksi sosial yang mampu menyatukan beragam masyarakat yang berdomisili di Papua. Kajian ini bertujuan menjelaskan pemanfaatan wacana Mop dalam proses penanaman konsep kemahiran berbahasa Indonesia melalui pendekatan pragmatis. Datanya berupa wacana Mop bahasa Melayu Papua yang diperoleh dari Buku Kumpulan Mop dan Harian Cenderawasih Pos. Hasil kajian menunjukkan bahwa wacana Mop bahasa Melayu Papua dapat dimanfaatkan sebagai ilustrasi kontekstual dalam upaya pemahaman konsep bahasa Indonesia. Beberapa wacana Mop berkaitan erat dengan konsep diksi, kalimat, pepatah, dan gaya bahasa dalam bahasa Indonesia. Karena bersifat kontekstual, wacana Mop dianggap mampu mengarahkan pemahaman peserta didik tentang konsep bahasa Indonesia secara efektif dan menyenangkan.
MODEL PENGAJARAN TERBALIK DALAM MATA KULIAH CHUKYU DOKKAI
Amira Agustin Kocimaheni
Paramasastra : Jurnal Ilmiah Bahasa Sastra dan Pembelajarannya Vol. 2 No. 1 (2015): Vol 2 No 1 Bulan Maret Tahun 2015
Publisher : Universitas Negeri Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26740/paramasastra.v2n1.p%p
Chukyu Dokkai lecture is an intermediate reading lecture which the students program after taking the Shokyu Dokkai, an elementary reading lecture. In the elementary level of reading a lecturer still takes a very great role in the teaching and learning process. The roles includes guiding and teaching the students to read starting from words, sentences, paragraph and even the lecturer still use the translation method. But not for the intermediate level of reading, the methods and techniques of the teaching is more various. One of the models which can be used is reciprocal teaching. This model puts the teacher or lecturer as a model and facilitator than a presenter of the teaching and learning process. The students are taught four strategies of specific self-understanding and control, namely summarizing, questioning, clarifying, and predicting. While the teaching and learning process is taking place, the students are actively involved in the discussion in their groups. The lecturer acts as mediator, model, and trainer. The teaching and learning process will not be a one way process where the lecturer controls the process, but the students will also have the chance to give their opinions. Therefore it is hoped that the students will grow the responsibility within them and the lecturer will stay with them to help them monitor, think and choose the strategy that can be used in the process of studying
TANTANGAN MEMBACA SURABAYA 2015: MERETAS JALAN MEMBANGUN LABORATORIUM KOLABORATIF PEMBUDAYAAN LITERASI YANG EFEKTIF BAGI MASA ADOLESEN
Chamim Rosyidi Irsyad
Paramasastra : Jurnal Ilmiah Bahasa Sastra dan Pembelajarannya Vol. 2 No. 1 (2015): Vol 2 No 1 Bulan Maret Tahun 2015
Publisher : Universitas Negeri Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26740/paramasastra.v2n1.p%p
Data mutakhir TIMSS dan PIRLS 2011 serta PISA 2012 menginformasikan bahwa tingkat literasi bangsa Indonesia pada urutan bawah di percaturan global. Riset Taufiq Ismail tahun 1996 menyatirekan bahwa siswa SMA di Indonesia œrabun membaca dan pincang menulis. Ikhtiar-ikhtiar yang dilakukan kelompok-kelompok pegiat literasi di Indonesia telah membuktikan hasilnya yang beraneka. Namun, jika jejak langkah ini tidak ditantang oleh sistem pembudayaan literasi yang pasti dan visioner, teresekusi di jalur-jalur pendidikan informal, formal, dan nonformal, terukur, termonitor dan terevaluasi, serta terkesinambungan, kapankah peluang akselerasi gerakan literasi membuahkan generasi emas yang diidamkan? Pencanangan Surabaya Kota Literasi telah dilakukan Walikota Surabaya pada 2 Mei 2014. Pada 2 s.d. 5 Maret 2015 program Tantangan Membaca Surabaya 2015 telah dilaunching oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya. Dua kebijakan ini meski belum menjadi sistem yang menjamin kepastian keberlangsungan gerakan, sebagai embrio lahirnya Perda dan Perwali tentang gerakan literasi, ia telah melempangkan teretasnya jalan membangun laboratorium kolaboratif guna pembudayaan literasi (LabKobuLi) yang efektif bagi para generasi bangsa usia adolesen. Dengan LabKobuLi inilah gerakan pengeberaksaraan diberlangsungkan dengan semangat hari ini lebih baik daripada kemarin dan esok lebih baik daripada hari ini. Untuk menyukseskan gerakan pioner ini, pemeranan dan pemungsian kepemimpinan pembelajaran sangat diperlukan.
PEMBELAJARAN LITERASI DALAM MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA
Heny Subandiyah
Paramasastra : Jurnal Ilmiah Bahasa Sastra dan Pembelajarannya Vol. 2 No. 1 (2015): Vol 2 No 1 Bulan Maret Tahun 2015
Publisher : Universitas Negeri Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26740/paramasastra.v2n1.p%p
Kemampuan literasi pada awalnya diartikan sebagai keterampilan membaca dan menulis, tetapi pada saat ini pengertiannya mengalami perkembangan. Dalam ranah pembelajaran, kemampuan literasi merupakan kemampuan penting yang harus dimiliki oleh setiap siswa untuk menguasai berbagai mata pelajaran. Sejalan dengan penjelasan dalam Kurikulum 2013 bahwa bahasa adalah penghela ilmu pengetahuan maka bahasa Indonesia merupakan sarana penyampai ilmu pengetahuan. Dengan kata lain, keterampilan berbahasa anak terutama membaca dan menulis yang diperoleh melalui pelajaran bahasa Indonesia, sangat menentukan keberhasilan mereka dalam menguasai berbagai mata pelajaran lain. Khusus untuk mata pelajaran bahasa Indonesia pengertian literasi lebih dipumpunkan pada keterampilan informasi. Kemampuan informasi mengacu pada beberapa aktivitas, yaitu mengumpulkan informasi, mengolah informasi, dan mengomunikasikan informasi. Ketiga aktivitas tersebut tidak dapat dilepaskan dari keterampilan membaca dan menulis, yang dilaksanakan guru dan siswa dalam proses pembelajaran di kelas. Aktivitas semacam ini sesuai dengan tuntutan proses pembelajaran menurut Kurikulum 2013 yang dikenal dengan istilah pendekatan saintifik. Berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran literasi maka guru harus memperhatikan empat aspek, yaitu sumber belajar, bahan ajar, strategi pembelajaran, dan penilaian.
DA SEBAGAI ADVERBIA ATAUKAH KONJUNGTOR? (KAJIAN GRAMATIKALISASI)
Agus Ridwan
Paramasastra : Jurnal Ilmiah Bahasa Sastra dan Pembelajarannya Vol. 2 No. 1 (2015): Vol 2 No 1 Bulan Maret Tahun 2015
Publisher : Universitas Negeri Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26740/paramasastra.v2n1.p%p
Satuan bahasa da bisa digunakan sebagai adverbia lokal. Selain sebagai adverbia, satuan bahasa da juga bisa digunakan sebagai konjungtor subordinatif kausal atau temporal. Berdasar pada penggunaan teori gramatikalisasi, adverbia da merupakan satuan bahasa yang memiliki struktur lama (schwache Grammatikalisierung). Adapun satuan bahasa da sebagai konjungtor subordinatif kausal atau temporal itu berstruktur baru (starke Grammatikalisierung).
KALA LAMPAU TERDEKAT DALAM BAHASA MEE
Niko Kobepa
Paramasastra : Jurnal Ilmiah Bahasa Sastra dan Pembelajarannya Vol. 2 No. 1 (2015): Vol 2 No 1 Bulan Maret Tahun 2015
Publisher : Universitas Negeri Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26740/paramasastra.v2n1.p%p
Mee (also known as Kapauku, Ekari or Ekagi) is a non-Austronesian language of Wissel Lakeslanguages family of Trans New Guinea Phylum spoken in the Central Highlands of Western New Guinea or West Papua. Mee is also used to refer to its speakers. Mee has an intricate system of Tense, Aspect, Modality and other related categories as will be seen in the paper. This paper aims to discuss one of four past tenses in Mee, namely Immediate Past Tense. Two morphemes that are used- one marking definite and the other indefinite- in this tense will be referred to as necessary. The paper specifically deals with four uses of the tense.
EKSISTENSI BAHASA DAYAK KENYAH DI KOTA BALIKPAPAN KALIMANTAN TIMUR
Rika Istianingrum
Paramasastra : Jurnal Ilmiah Bahasa Sastra dan Pembelajarannya Vol. 2 No. 1 (2015): Vol 2 No 1 Bulan Maret Tahun 2015
Publisher : Universitas Negeri Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26740/paramasastra.v2n1.p%p
Pemertahanan dan pergeseran bahasa merupakan dua gejala kebahasaan yang saling terkait. Bahasa dikatakan mengalami pergeseran ketika suatu masyarakat mulai meninggalkan bahasa daerahnya. Dayak Kenyah merupakan salah satu suku tertua yang mendiami provinsi Kalimantan Timur. Bahasa Dayak Kenyah pada masa sekarang telah mengalami pergeseran bahasa, masyarakatnya pun telah beralih menggunakan bahasa Indonesia. Hal ini juga didukung oleh situasi kota Balikpapan yang merupakan salah satu kota industri di Kalimantan Timur. Serta berpengaruh langsung terhadap gaya hidup masyarakatnya yang multikultural. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif dan menggunakan metode analisis isi, serta pendekatan sosiolinguistik dengan menerapkan langkah-langkah analisis data, yaitu pereduksian data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Melalui penelitian ini dapat diketahui sejauhmana masyarakat Dayak Kenyah dalam mempertahankan eksistensi bahasanya di masyarakat multikultural yaitu Kota Balikpapan. Penelitian ini diarahkan pada pengetahuan mengenai usaha yang dilakukan oleh masyarakat Dayak Kenyah dalam mempertahankan bahasanya, mendeskripsikan faktor pemertahanan bahasanya, menjelaskan dampak dan makna pemertahanan bahasa Dayak Kenyah di kota Balikpapan.