cover
Contact Name
Zainuddin Nasution
Contact Email
zainuddin.nasution@kemdikbud.go.id
Phone
+6287877488487
Journal Mail Official
zainuddin.nasution@kemdikbud.go.id
Editorial Address
Pusdatin, Kemendikbud. Jl. R.E. Martadinata, Ciputat, Tangerang Selatan, Telepon (021) 7418808; Faksimilie (7401727; Tromol Pos 7/CPA Ciputat 15411
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Jurnal Teknodik
ISSN : 20883978     EISSN : 25794833     DOI : 10.32550
Core Subject : Science, Education,
Scope: The scope of TEKNODIK Journal is about Educational Technology (Learning), as a discipline, subject material, or profession. The process of activities includes Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation (ADDIE). The scope of TEKNODIK Journal is not only in the form of study, research, or development, but also book review on education technology. Focus: 1. Distant and Open Learning; 2. Information and Communication Technology (ICT) for Education; 3. Learning Strategy; 4. Learning Media; 5. Innovative Learning System or Model; 6. Development of Digital Learning Content; 7. Utilization of ICT and other media for Education (Learning)
Articles 406 Documents
PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (TIK) UNTUK PEMBELAJARAN: SEBUAH KAJIAN Sudirman Siahaan
Jurnal TEKNODIK Jurnal Teknodik Vol.18 No. 3 Desember 2014
Publisher : Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (47.393 KB) | DOI: 10.32550/teknodik.v0i0.133

Abstract

Abstrak:Siapa saja termasuk guru akan mengatakan bahwa teknologi informasi dan komunikasi (TIK) sangat dibutuhkan di dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan sebagian orang mengatakan bahwa dirinya tidak dapat terlepas dari TIK, mulai dari saat bangun pagi sampai dengan beristrahat tidur. Bagaimana dengan guru? Apakah mereka telah memanfaatkan kemajuan TIK untuk mendukung keterlaksanaan kegiatan pembelajaran yang mereka kelola setiap hari? Tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian guru di beberapa sekolah di berbagai propinsi dan kabupaten/ kota telah memanfaatkan TIK dalam kegiatan pembelajaran namun sebagian guru lainnya masih belum. Pertanyaanpertanyaan inilah yang menggugah penulis untuk melakukan kajian (review) tentang masalah pemanfaatan TIK untuk kegiatan pembelajaran. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji berbagai faktor yang berpengaruh sehingga guru termotivasi atau tidak memanfaatkan TIK dalam membelajarkan peserta didiknya. Hasil kajian mengemukakan bahwa ada 2 faktor utama yang memengaruhi guru memanfaatkan atau tidak TIK dalam kegiatan pembelajaran. Kedua faktor yang dimaksudkan adalah (1) faktor internal dari dalam diri guru sendiri, yaitu persepsi dan sikapnya terhadap TIK, pengetahuan dan keterampilan guru memanfaatkan TIK, dan kepemilikan perangkat TIK, dan (2) faktor eksternal (dari luar diri guru), yaitu ada tidaknya dukungan kebijakan dari dinas pendidikan setempat dan kepala sekolah untuk pemanfaatan TIK di dalam kegiatan pembelajaran, pengadaan perangkat TIK di sekolah, apresiasi terhadap guru yang berinisiatif memanfaatkan TIK di dalam kegiatan pembelajaran, dan pelatihan di bidang ke-TIK-an untuk pembelajaran.Kata Kunci: Teknologi informasi dan komunikasi (TIK), pembelajaran, persepsi, sikap. Abstract:Nowadays, any teacher will say that information and communication technology (ICT) is truly needed in daily life. Some people say that their daily life and ICT are inseparable; starting from waking up in the morning until sleeping again at night. How about teachers? Have they utilized ICT to support their daily teaching activities? To a certain extent, some teachers at schools in some provinces and districts have already utilized ICT in their daily teaching but not for some others. These questions have triggered the writer to conduct a review in order to identify factors influencing teachers whether to utilize ICT for learning activities or not. This article aims at reviewing various factors influencing teachers to feel motivated to in utilizing ICT in their teaching or not. The review came up to a conclusion that there are 2 main factors: (1) internal factor (within the teachers themselves) such as perception and attitude toward ICT, knowledge and skill to utilize ICT, and the ownership of ICT equipment; and (2) external factor (outside of teacers), such as policy support from the District Educational Office and school headmaster in the utilization of ICT for learning, procurement of ICT equipment in schools, appreciation towards teachers taking initiatives in utilizing ICT for learning, and training in the utilization of ICT for learning.Key words: Information and communication technology (ICT), learning, perception, attitude.
TEORI BELAJAR ROBERT M. GAGNE DAN IMPLIKASINYA PADA PENTINGNYA PUSAT SUMBER BELAJAR Bambang Warsita
Jurnal TEKNODIK Jurnal Teknodik Vol. 12 No. 1, Juni 2008
Publisher : Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (68.445 KB) | DOI: 10.32550/teknodik.v12i1.421

Abstract

Teori belajar model nine instructional events Robert. M. Gagne ini membantu para guru, para perancang pembelajaran dan para pengembang program pembelajaran untuk memahami proses belajar yang terjadi di dalam diri peserta didik sehingga dapat mempengaruhi, memperlancar atau menghambat proses belajar peserta didik. Selain itu, model ini membantu kita untuk melakukan intervensi dengan mengembangkan Pusat Sumber Belajar (PSB), sehingga dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi kegiatan pembelajaran melalui pengembangan sistem instruksional. Dalam melaksanakan fungsi pengembangan sistem instruksional (instructional development), PSB menyediakan sumber-sumber belajar yang dapat dimanfaatkan oleh guru dan peserta didik.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEMAMPUAN MICROTEACHING MAHASISWA Siti Rohmah Rohimah; Ismah Ismah
Jurnal TEKNODIK Jurnal Teknodik
Publisher : Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (88.118 KB) | DOI: 10.32550/teknodik.v19i3.165

Abstract

Abstrak:Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan microteaching mahasiswa. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang menggunakan analisis regresi linear berganda. Populasi penelitian ini adalah seluruh mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika semester 6 yang sedang mengambil mata kuliah Pembinaan Kompetensi Mengajar (Microteaching) tahun ajaran 2012/2013 pada Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Jakarta yang berlokasi di Cirendeu. Data dikumpulkan dari nilai hasil akhir setiap mata kuliah Media dan Teknologi Pembelajaran, Strategi Pembelajaran Matematika, dan Perencanaan Pembelajaran Matematika. Nilai kemampuan mengajar dikumpulkan menggunakan Microteaching Test Performance setiap mahasiswa yang terintegrasi dalam nilai akhir dari mata kuliah Pembinaan Kompetensi Mengajar. Kemudian dilakukan uji asumsi yang harus dipenuhi dalam regresi linear berganda yaitu uji multikolinearitas, uji autokorelasi, uji heteroskedastisitas, dan uji linearitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel nilai mata kuliah Media dan Teknologi Pembelajaran (X1), Strategi Pembelajaran Matematika (X2), dan Perencanaan Pembelajaran Matematika (X3) secara bersamaan mempengaruhi nilai mata kuliah Pembinaan Kompetensi Mengajar (Y) secara signifikan. Koefisien determinasi dari model regresi sebesar 0.37. Hal ini berarti bahwa varian nilai mata kuliah Pembinaan Kompetensi Mengajar (Y) mampu dijelaskan sebesar 37% oleh variabel nilai mata kuliah X1, X2, dan X3. Sedangkan 63% sisanya oleh faktor lainnya. Semoga hasil penelitian ini bisa menjadi bahan literatur untuk penelitian berikutnya dengan menentukan lebih banyak lagi faktor yang mempengaruhi kemampuan microteaching mahasiswa.Kata Kunci: kemampuan microteaching, regresi linear berganda, koefisien determinasiAbstract:The aim of this research is to determine the factors affecting the students’ microteaching ability. This research is a quantitative research which applies multiple linear regression analysis. The population is all 6th semester students of Mathematic Education Program at Education Faculty of Universitas Muhammadiyah Jakarta who are taking microteaching subject in 2012/2013 academic year. Data are from their final scores of three subjects: Media and Instructional Technology, Math Learning Strategy, and Math Learning Plan. Microteaching capacity scores are based on their Microteaching Test Performance integrated in their final Microteaching subject score. Then, assumption test that must be met in multiple linear regression is carried out which are multicolinearity test, autocorrelation test, heteroscedacticity test, and linearity test. The result shows that the score variables of Media and Instructional Technology (X1), Math Learning Strategy (X2), and Math Learning Plan (X3) collectively effect the score of Microteaching (Y) significantly. Determination coefficient of regression model is 0.37, meaning that the variable of Microteaching (Y) subject score can be explained by variables X1, X2, and X3 of 37%. The rest of 63% is explained by other variables. Hopefully, this researchcan be reference for continuous research on students’ microteaching capacity with more affecting factors.Keywords: microteaching capacity, multiple linear regression, determination coefficient
PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS IX SMP AL MUSLIM SIDOARJO SEBELUM DAN SESUDAH PEMBELAJARAN DENGAN TVE Rr Martinigsih
Jurnal TEKNODIK Jurnal Teknodik Vol. 11 No. 3, Agustus 2007
Publisher : Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32550/teknodik.v21i3.466

Abstract

Salah satu faktor penyebab rendahnya kualitas pembelajaran adalah belum dimanfaatkannya berbagai sumber belajar secara maksimal, baik oleh guru maupun peserta didik. Dengan dimanfaatkannya berbagai sumber belajar, siswa termotivasi untuk berpikir logis dan sistematik sehingga memiliki pola pikir yang nyata dan semakin mudah memahami hubungan materi pelajaran dengan alam sekitar serta kegunaaan belajar dalam kehidupan sehari–hari. Atas dasar pemikiran inilah, peneliti ingin mengetahui perbedaan prestasi belajar matematika siswa kelas IX SMP Al Muslim Sidoarjo sebelum dan sesudah memanfaatkan Televisi Edukasi (TVE) dalam pembelajaran. Disimpulkan adanya perbedaan hasil belajar matematika siswa kelas IX SMP antara yang diajar sebelum dan sesudah memanfaatkan TVE. Perbedaan ini dikarenakan siswa dapat (1) mengembangkan kemampuan bernalar melalui pemanfaatan TVE, (2) menunjukkan pemahaman konsep matematika yang dipelajari melalui tayangan TVE sehingga mampu menjelaskan keterkaitan antar konsep, dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah, dan (3) menggunakan penalaran pada pola, sifat atau melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika berdasarkan pembelajaran melalui tayangan TVE.
PENGEMBANGAN BAHAN BELAJAR DIGITAL LEARNING OBJECT Kusnandar Kusnandar
Jurnal TEKNODIK Jurnal Teknodik Vol.XVII No.1 Maret 2013
Publisher : Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (120.676 KB) | DOI: 10.32550/teknodik.v0i0.69

Abstract

diterima: 09 Januari 2013; dikembalikan untuk revisi: 20 Januari 2013; disetujui: 4 Februari 2013;Abstrak: Tulisan ini merupakan sebuah gagasan dalam pengembangan bahan belajar digital, learning object melalui pendekatan analisis kurikulum. Dengan pendekatan ini dimungkinkan terjadi sinergi antar para penyedia konten pembelajaran, sehingga pada gilirannya dapat mempercepat pemenuhan kebutuhan bahan belajar sesuai dengan tuntutan kurikulum. Kurikulum 2013 yang antara lain memiliki karakteristik pendekatan proses, tematik, terintegrasi TIK (teknologi komunikasi dan informasi), aneka sumber, serta metodologi yang menyenangkan, akan dapat diimplementasikan secara baik apabila didukung ketersediaan konten bahan belajar yang memadai. Learning object adalah segala entitas, digital atau non-digital, yang dapat digunakan untuk pembelajaran, pendidikan atau pelatihan. Learning object merupakan satuan terkecil bahan belajar yang memuat satu tujuan (objective) pembelajaran yang spesifik. Ibarat sebuah puzzle, learning object adalah potongan puzzle yang dapat dipasang-pasangkan dengan potongan lainnya sehingga membentuk sebuah bangun tertentu. Learning object memiliki karakter memuat gagasan tunggal, interoperable, dan reusable. Dengan karakterisktik ini, learning object memungkinkan untuk dapat dimanfaatkan oleh guru atau siswa dalam pengembangan pembelajaran yang kreatif dan inovatif. Langkah-langkah pengembangan learning object dimulai dengan analisis kurikulum, identifikasi topik. penyusunan peta materi, membuat deskripsi materi, mengembangkan standardisasi, menyusun naskah atau skenario pembelajaran, menyusun metadata, melaksanakan produksi atau pembuatan learning object, melakukan quality control, sampai dengan upload di web atau disimpan sebagai pustaka asset digital. Selanjutnya learning object dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran, baik secara langsung ataupun diadaptasi dalam berbagai aktivitas pembelajaran yang kreatif dan inovatif. Kata kunci: learning object, bahan belajar digital, peta materi, metadataAbstract: This paper is about some basic ideas of the digital learning materials development of learning object through curriculum analysis approach. This approach enables the sinergy between learning material developers to occur, so that in time it wil accelerate the fulfillment of learning material need based on curriculum. The 2013 curriculum that has several characteristic such as process-approached, thematic, integrated with information and communication technology, rich of learning resources, and joyfully methodology will be well implemented if it is supported by the availability of adequate learning materials. Learning object is every entity, digital or non-digital, that can be used for learning, education or training. Learning object is the smallest learning material that contains one specific learning objective. There are some characteristic of learning object, such as relatively small, granular, interoperable, and reusable. Those characteristics enables learning object to be used by teachers or students in developing creative and innovative learning. There are several steps to develop learning object; curriculum analyzing, topic identifying, content mapping, content explaining, standardizing, script writing, metadata organizing, producing, quality controlling, and uploading. Learning object then can be used as learning media both directly or by adaptation in various kinds of creative and innovative learning activities.Keyword: learning object, digital learning materials, content mapping, metadata
STUDI KELAYAKAN PENGEMBANGAN APLIKASI BANK SOAL DALAM RUMAH BELAJAR Siti Mutmainah
Jurnal TEKNODIK Juni
Publisher : Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (84.394 KB) | DOI: 10.32550/teknodik.v21i1.263

Abstract

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dapat membantu dunia pendidikan dalam pengembangan alat penilaian hasil belajar siswa. Pemanfaatan teknologi dalam penilaian memberikan potensi yang tinggi serta nilai tambah melalui pengumpulan dan analisis data yang akurat. Keberadaan bank soal bermanfaat untuk mengatasi masalah guru ketika ingin melakukan penilaian. Setiap kali akan mengkonstruksi tes untuk penilaian, para guru tinggal mengambil butir-butir soal yang telah ada di bank soal. Selain mempermudah dalam penyusunan instrumen tes, juga menjamin kualitas instrumen yang akan dipakai. Portal Rumah Belajar sebagai portal pembelajaran resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, menyediakan berbagai fasilitas pendukung pembelajaran. Guna mendukung tugas guru dalam melakukan penilaian, Rumah Belajar mengembangkan fitur Bank Soal yang diharapkan menjadi milik komunitas, dengan pengisian soal dan aktivitas penilaian dari dan untuk komunitas belajar. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Data dan informasi dikumpulkan melalui petikan hasil evaluasi aplikasi Bank Soal yang telah dikembangkan sebelumnya. Dari hasil studi yang dilakukan diperoleh bahwa pada pengembangan aplikasi Bank Soal, masih ada kekurangan yang signifikan pada tampilan, navigasi, dan database. Sehingga disimpulkan bahwa aplikasi Bank Soal masih perlu perbaikan agar dapat digunakan dengan mudah oleh pengguna.
TUJUAN PENDIDIKAN DAN HASIL BELAJAR: DOMAIN DAN TAKSONOMI nfn Purwanto
Jurnal TEKNODIK Jurnal Teknodik Vol. 09 No. 16, Juni 2005
Publisher : Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (85.829 KB) | DOI: 10.32550/teknodik.v0i0.541

Abstract

Tujuan pendidikan merupakan perubahan perilaku yang direncanakan dalam aktivitas belajar mengajar. Hasil belajar merupakan hasil yang dicapai dari aktivitas belajar mengajar sesuai dengan tujuan pendidikan. Hasil belajar diukur untuk mengetahui pencapaian tujuan pendidikan, sehingga hasil belajar harus paralel dengan tujuan pendidikan. Hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang dicapai setelah anak mengikuti proses belajar mengajar. Anak mempunyai potensi dalam perilaku psikologis yang dapat dididik dan diubah perilakunya. Potensi itu adalah domain kognitif, afektif dan psikomotorik. Belajar merupakan usaha membuat perubahan perilaku dalam domain kognitif, afektif dan psikomotorik. Domain dalam perilaku psikologis bukanlah kapasitas tunggal. Untuk tujuan pengukuran, domain hasil belajar disusun secara hirarkhis dalam tingkat-tingkat mulai tingkat terendah dan sederhana hingga tertinggi dan paling kompleks. Domain kognitif dapat diklasifikasikan menjadi tingkat hafalan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan evaluasi. Domain afektif terdiri dari tingkat penerimaan, respons, penilaian, organisasi dan karakterisasi. Domain psikomotorik dapat diklasifikasikan menjadi persepsi, kesiapan, respons terbimbing, mekanisme, respons kompleks, adaptasi dan keaslian. 
STRATEGI PEMANFAATAN MEDIA PEMBELAJARAN DALAM MENINGKATKAN KOMPETENSI PENYULUH PERTANIAN Oos M. Anwas Oos M. Anwas
Jurnal TEKNODIK Jurnal Teknodik Vol. XV No.2 Desember 2011
Publisher : Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.493 KB) | DOI: 10.32550/teknodik.v0i0.101

Abstract

Abstrak:Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis media pembelajaran apa saja yang berpengaruh nyata terhadap peningkatan kompetensi penyuluh pertanian, serta merumuskan strategi pemanfaatan media pembelajaran dalam meningkatkan kompetensi penyuluh pertanian. Penelitian dilakukan dengan metode survai terhadap penyuluh pertanian PNS padi di kabupaten Karawang dan penyuluh sayuran di kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat. Hasil analisis regresi diketahui bahwa media pembelajaran yang berpengaruh nyata terhadap peningkatan kompetensi penyuluh adalah intensitas pemanfaatan majalah (media massa); intensitas pelatihan dan intensitas pertemuan antar penyuluh (media terprogram), serta intensitas pendalaman inovasi mandiri (media lingkungan). Strategi pengembangan kompetensi penyuluh pertanian berbasis pemanfaatan media dirumuskan melalui pemanfaatan media massa, media terprogram, dan media lingkungan secara terpadu dan saling melengkapi. Media massa yang digunakan adalah majalah yang secara berkelanjutan substansinya sesuai dengan penyuluhan dan melalui saluran khusus Siaran Televisi Pembangunan Pedesaan yang mengudara selama 24 jam. Pemanfaatan media terprogram ditempuh melalui peningkatan: kualitas pendidikan formal, intensitas dan kualitas pertemuan, serta peningkatan intensitas pelatihan. Pemanfaatan media lingkungan dilakukan dengan menggerakan penyuluh untuk kembali bertempat tinggal di desa binaannya sehingga dapat belajar dengan alam, memahami kebutuhan dan potensi lingkungan, serta menselaraskan inovasi atau hasil-hasil penelitian dengan kebutuhan masyarakat di sekitar tempat tugasnya.Kata Kunci: Media pembelajaran, media massa, media terprogram, media lingkungan, kompetensi penyuluhAbstract:This study aimed at analyzing what kind of instructional media had actual influence on the competency of agricultural extension agent and formulating the strategy of media instructional utilization for developing competency of agricultural extension agent. The study used survey method toward paddy extension agents in Karawang and vegetable extension agents in Garut, West Java province. The result of regression analysis showed that the instructional media which had actual influence on the development of extension agent’s competency was the intensity of magazine utilization (mass media); the intensity of training and the intensity of meeting among extention agents (programmed media), as well as the intensity of independent innovation (environmental media). Strategy for developing competency of agricultural extension agent based on media utilization was formulated through integrated and complementary utilization of mass media, programmed media, and environmental media. The mass media used were magazine with suitable contents and the 24 hour-aired Rural Development Television Broadcasting. The utilization of programmed media was done by increasing: the quality of formal education, intensity and quality of meeting, and intensity of training. The utilization of environmental media was done by  obilization of extension agents to inhabit within their cultivating villages so that they could learn from nature, comprehend the need and the environmental potential, and harmonize the innovation and the results of research with the need of community.Keyword: instructional media, mass media, programmed media, environmental media, competency of agricultural extension agent.
PENDIDIKAN KEAKSARAAN DALAM PERSFEKTIF PSIKOLOGI SOSIAL Yuni Sugarti
Jurnal TEKNODIK Jurnal Teknodik Vol. 10 No. 19, Desember 2006
Publisher : Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (41.03 KB) | DOI: 10.32550/teknodik.v10i19.396

Abstract

Jumlah kelompok buta aksara masih cukup signifikan. Ini adalah tantangan pendidikan nasional, apalagi melek huruf menjadi salah satu indikator Human Developmen Indek (HDI). Psikologi sosial yang dapat menjelaskan perilaku individu dan konteks sosial sangat diperlukan dalam proses pendidikan keaksaraan. Karakter utama kelompok buta aksara adalah orang dewasa dan miskin. Langkah awal pendidikan keaksaraan adalah membangkitkan motivasi mereka melalui materi yang bisa meningkatkan pendapatan dan kecakapan real hidup mereka. Selanjutnya dapat dibangun persepsi, motif, sikap, dan perilaku positif tentang pentingnya melek huruf di era global ini. Di sisi lain nilai-nilai empati, tanggungjawab sosial, atau norma keseimbangan bagi warga negara berkecukupan perlu dikembangkan kepada kelompok ini. Oleh karena itu pendidikan keaksaraan perlu ditangani secara terpadu dengan melibatkan pihak terkait.
IMPLEMENTASI TIK DALAM MENINGKATKAN KOMPETENSI GURU PAUD MELALUI KNOWLEDGE MANAGEMENT SYSTEM IMPLEMENTATION OF ICT IN IMPROVING EARLY CHILDHOUD EDUCATION (ECE) TEACHER COMPETENCE THROUGH KNOWLEDGE MANAGEMENT SYSTEM Yuni Sugiarti; U. Maman; Suci Ratnawati
Jurnal TEKNODIK Jurnal Teknodik Vol. 17 No. 4, Desember 2013
Publisher : Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (39.527 KB) | DOI: 10.32550/teknodik.v17i4.576

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penguasaan kompetensi guru PAUD, khususnya kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan dalam mengimplementasikan website sistem pembelajaran melalui sharing Knowledge Management System (KMS). Pada penelitian pendahuluan ini diketahui bahwa secara umum penguasaan kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional yang dipersyaratkan sebagai guru PAUD masih rendah. Oleh karena itu salah satu pemecahannya adalah mendayagunakan teknologi informasi dan komunikasi khususnya merancang website untuk para guru PAUD sebagai sarana sharing sumber belajar. Sistem tersebut adalah portal pembelajaran guru PAUD melalui sharing komunitas keilmuan (kompetensi pedagogis dan profesional) berbasis web dengan menggunakan PHP Mysql. Melalui sistem ini para guru PAUD dapat berbagi ilmu pengetahuan dan pengalaman antar sesama guru ataupun dengan pihak-pihak terkait lainnya. Dengan sistem tersebut juga diharapkan mampu mendorong dan menciptakan para guru untuk lebih kondusif meningkatkan kompetensinya secara mandiri tanpa mengganggu tugas mengajarnya sebagai guru PAUD.The purpose of this study was to determine the competency mastery of early childhood teachers, especially pedagogical competence and professional competence. This research was the development of a system implementing learning through sharing website Knowledge Management System (KMS) . In the preliminary study, it is known that in general pedagogical mastery and professional competence required as early childhood teachers is low. Therefore, one solution is to leverage information and communication technologies in particular designing a website for early childhood teachers as a means of sharing learning resources. The system is a learning portal community early childhood teachers through the sharing of knowledge (pedagogical and professional competence) using a web-based PHP Mysql. Through this system, early childhood teachers can share knowledge and experience among fellow teachers or with other relevant parties. With such a system is also expected to encourage and create a more conducive teachers to improve their competence independently without their duty as an early childhood teacher .

Filter by Year

2013 2025


Filter By Issues
All Issue Jurnal Teknodik Vol. 29 No. 1, Juni 2025 Jurnal Teknodik Vol. 28 No. 2, Desember 2024 Jurnal Teknodik Vol. 28 No. 1, Juni 2024 Jurnal Teknodik Vol. 27 No. 2, Desember 2023 Jurnal Teknodik Vol. 27 No. 1, Juni 2023 Jurnal Teknodik Vol. 26 No. 2, Desember 2022 Jurnal Teknodik Vol. 26 No. 1, Juni 2022 Jurnal Teknodik Vol.XVI No.4 Desember 2012 Jurnal Teknodik Vol.XVI No.3 September 2012 Jurnal Teknodik Vol. 25 No. 2, Desember 2021 Jurnal Teknodik Vol. 25 No. 1, Juni 2021 Jurnal Teknodik Vol. 24 No. 2, Desember 2020 Jurnal Teknodik Vol. 24 No. 1, Juni 2020 Jurnal Teknodik Vol. 23 No. 2, Desember 2019 Jurnal Teknodik Vol. 23 No. 1, Juni 2019 Jurnal Teknodik Vol. 10 No. 18, Juni 2006 Jurnal Teknodik Vol. 09 No. 16, Juni 2005 Jurnal Teknodik Vol. 8 No. 14, Juni 2004 Jurnal Teknodik Vol. 17 No. 4, Desember 2013 Jurnal Teknodik Vol,17 No. 3, September 2013 Jurnal Teknodik Vol. 12 No. 2, Desember 2008 Jurnal Teknodik Vol. 10 No. 19, Desember 2006 Jurnal Teknodik Vol. 8 No. 15, Desember 2004 Jurnal Teknodik Vol. 22 No. 2, Desember 2018 Jurnal Teknodik Vol. 22 No. 1, Juni 2018 Jurnal Teknodik Vol. 14 No. 1, Juni 2010 Jurnal Teknodik Vol. 13 No. 1, Juni 2009 Jurnal Teknodik Vol. 12 No. 1, Juni 2008 Jurnal Teknodik Vol. 11 No. 3, Agustus 2007 Jurnal Teknodik Vol. 21 No. 2, Desember 2017 Jurnal Teknodik Vol. 20 No. 2, Desember 2016 Juni Jurnal Teknodik Vol. 20 No. 1 Juni 2016 Jurnal Teknodik Vol.19 No. 2 Agustus 2015 Jurnal Teknodik Vol.19 No. 1 April 2015 Jurnal Teknodik Vol.18 No. 3 Desember 2014 Jurnal Teknodik Vol.18 No. 2 Agustus 2014 Jurnal Teknodik Vol.18 No.1 April 2014 Jurnal Teknodik Jurnal Teknodik Vol.XVII No.2 Juni 2013 Jurnal Teknodik Vol.XVII No.1 Maret 2013 Jurnal Teknodik Vol.XVI No.2 Juni 2012 Jurnal Teknodik Vol. XV No.2 Desember 2011 Jurnal Teknodik Vol.XVI No.1 Maret 2012 Jurnal Teknodik Vol.XV No.1 Juli 2011 More Issue