cover
Contact Name
Zainuddin Nasution
Contact Email
zainuddin.nasution@kemdikbud.go.id
Phone
+6287877488487
Journal Mail Official
zainuddin.nasution@kemdikbud.go.id
Editorial Address
Pusdatin, Kemendikbud. Jl. R.E. Martadinata, Ciputat, Tangerang Selatan, Telepon (021) 7418808; Faksimilie (7401727; Tromol Pos 7/CPA Ciputat 15411
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Jurnal Teknodik
ISSN : 20883978     EISSN : 25794833     DOI : 10.32550
Core Subject : Science, Education,
Scope: The scope of TEKNODIK Journal is about Educational Technology (Learning), as a discipline, subject material, or profession. The process of activities includes Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation (ADDIE). The scope of TEKNODIK Journal is not only in the form of study, research, or development, but also book review on education technology. Focus: 1. Distant and Open Learning; 2. Information and Communication Technology (ICT) for Education; 3. Learning Strategy; 4. Learning Media; 5. Innovative Learning System or Model; 6. Development of Digital Learning Content; 7. Utilization of ICT and other media for Education (Learning)
Articles 406 Documents
PERAN PENGEMBANG TEKNOLOGI PEMBELAJARAN DI SEKOLAH DALAM MENSUKSESKAN PELAKSANAAN KURIKULUM 2013 Bambang Warsita
Jurnal TEKNODIK Jurnal Teknodik Vol.18 No. 2 Agustus 2014
Publisher : Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (42.613 KB) | DOI: 10.32550/teknodik.v0i0.124

Abstract

Abstrak:Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran profesi pengembang teknologi pembelajaran di sekolah dalam mensukseskan pelaksanaan kurikulum 2013. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa untuk menyukseskan pelaksanaan kurikulum 2013, maka perlu peran profesi atau jabatan fungsional pengembang teknologi pembelajaran untuk mengembangkan berbagai sistem atau model pembelajaran yang inovatif berbasis TIK. Selain itu, hasil kajian ini menunjukkan profesi pengembang teknologi pembelajaran dapat mengembangkan berbagai media dan sumber belajar berbasis TIK. Jadi untuk menyukseskan pelaksanaan kurikulum 2013 guru sangat memerlukan berbagai sistem atau model pembelajaran yang inovatif dan berbagai media dan sumber belajar berbasis TIK. Oleh karena itu, tugas dan peran profesi guru saling berkaitan dengan tugas dan peran profesi atau pejabat fungsional pengembang teknologi pembelajaran.Kata kunci: profesi, pembelajaran, pengembang teknologi pembelajaran, kurikulum 2013. Abstract:This paper aims to describe the role of professional development in instructional technology in the school curriculum of 2013, successful execution results of this study indicate that for the successful implementation of the curriculum in 2013, it is necessary functional role of the profession or occupation of instructional technology developers to develop a variety of systems or models of innovative ICT-based learning. In addition, the results of this study indicate the profession of instructional technology developers can develop a variety of media and learning resources ICT-based. So for the successful implementation of the 2013 curriculum teachers are in need of a variety of systems or models of innovative learning and a variety of media and learning resources ICT-based. Therefore, the task and the role of the teaching profession are related to the duties and role of the profession or functional official developer instructional technology.Key words: profession, learning, instructional technology developers, curriculum 2013.
PENILAIAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK PADA SMP TERBUKA BERBASIS TIK ika Kurniawati
Jurnal TEKNODIK Jurnal Teknodik Vol. 12 No. 2, Desember 2008
Publisher : Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (57.393 KB) | DOI: 10.32550/teknodik.v12i2.408

Abstract

Demi meningkatkan layanan serta kualitas pembelajaran di SMP Terbuka, baru-baru ini pemerintah telah meresmikan SMP Terbuka berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Diharapkan dengan program ini dapat ditingkatkan kualitas pembelajaran SMP Terbuka terutama dalam kemandirian peserta didik sehingga mereka memiliki daya saing, inovasi dan kreativitas yang tinggi. SMP Terbuka berbasis TIK dirintis di 3 lokasi, yaitu di: (1) SMP Terbuka Negeri 01 Malang, Jawa Timur yang menginduk pada SMPN 2 Malang, (2) SMP Terbuka Kandanghaur, IndramayuJawa Barat yang menginduk pada SMP Negeri 1 Kandanghaur, dan (3) SMP Terbuka Tanjung Priok, Jakarta yang menginduk pada SMPN 55 Jakarta Utara. Kegiatan pembelajaran berbasis TIK di SMP Terbuka dilaksanakan, baik secara online maupun offline yang dilengkapi dengan berbagai sumber belajar yang didukung oleh kegiatan pembelajaran mandiri dan tatap muka. Penilaian hasil belajar peserta didik juga dilakukan secara online. Penilaian hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara online antara lain: Tes Akhir Kegiatan (TAK), Tes Akhir Modul (TAM), Tes Akhir Unit (TAU), dan Tes Akhir Semester. Untuk Ujian Sekolah dan Ujian Nasional tetap dilakukan secara manual dengan mengikuti jadwal SMP Reguler.
PENGGUNAAN MODEL ELPSA DENGAN ALAT PERAGA GEOBOARD UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA Lilik Firdayati
Jurnal TEKNODIK Jurnal Teknodik Vol. 23 No. 1, Juni 2019
Publisher : Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (131.57 KB) | DOI: 10.32550/teknodik.v0i0.374

Abstract

Pada realitasnya, banyak siswa menganggap Matematika itu sulit. Anggapan ini akan semakin kuat apabila pembelajarannya kurang menarik, guru kurang berperan sebagai fasilitator, guru tidak menggunakan media pembelajaran, guru kurang melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran, banyak rumus, kurang banyak latihan, dan guru belum maksimal menggunakan model pembelajaran. Jadi, pembelajaran yang berlangsung menjadi kurang efektif. Selain itu, guru lebih mengutamakan kegiatan pembelajaran yang berorientasi pada ranah kognitif, sering meninggalkan ranah afektif dan psikomotor siswa, sehingga perubahan kedewasaan siswa menjadi kurang maksimal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa dengan model ELPSA berbantuan alat peraga geoboard. Penelitian ini dilakukan pada kelas VII SMP Negeri 3 Metro, Lampung, pada bulan April 2018, menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, tes, dan angket. Analisisnya menggunakan teknik deskriptif analitis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan model ELPSA berbantuan alat peraga geoboard pada materi bangun datar dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa dari rata-rata 55,36% pada siklus I menjadi 74,49% pada siklus III, dan hasil belajar dari rata-rata 55,06 pada siklus I menjadi 67,41 pada siklus III. Oleh karena itu, dalam pembelajaran hendaknya guru selalu berinovasi untuk dapat memotivasi minat belajar siswa dan memperbaiki kualitas pembelajaran dengan model pembelajaran yang bervariasi dan alat peraga yang sesuai, sehingga hasil belajar siswa bisa maksimal.In fact, many students perceive that Mathematics is difficult. Such perception is getting stronger when the learning process is not attractive; the teacher is not as a facilitator; the teacher does not use any learning media; the teacher does not let the students participate actively in the learning process; there are too many formulas and less exercises; and the teacher does not apply a learning model optimally. Therefore, the learning is less effective. Besides, the teachers often tend to focus only on cognitive-based learning activities, and somehow ignoring students’ affective as well as psychomotor aspects so that students’ maturity development is not effective either. The objective of this research is to improve students’ learning activities as well as outcomes which applies geoboard-assisted ELPSA Model. This research is applied to the class of VII grades at SMP Negeri 3 Metro Lampung in April 2018 with Class Action Research method. Data collection is carried out through the method of observation, test, as well as questionnaire. The data is analysed by using descriptive analytic techniques. The result shows that the utilization of geoboard-assisted ELSPA Model for the material of rectangular shapes can increase students’ learning activities from the average of 55,36% in cycle I to be 74,49% in cycle III, and also increase students’ learning outcomes from the average of 55,06 in cycle I to be 67,41 in cycle III. Therefore, teachers should keep innovating their teaching process to enhance students’ interest and learning quality with various models as well as suitable tools so that the students’ learning outcomes can be optimal.
PENGEMBANGAN MULTIMEDIA INTERAKTIF GUNA PEMEROLEHAN BELAJAR KONSEP PERILAKU MENYIMPANG PADA MATA PELAJARAN SOSIOLOGI KELAS X SMAN 1 SUNGAI RAYA KEPULAUAN Syahwani Umar dan Rini Susilowati
Jurnal TEKNODIK Jurnal Teknodik Vol.XVI No.2 Juni 2012
Publisher : Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1152.367 KB) | DOI: 10.32550/teknodik.v0i0.16

Abstract

Pembelajaran dengan menggunakan multimedia interaktif berkembang atas dasar pembelajaran konvensional yang tidak bisa memenuhi kebutuhan siswa dalam pembelajaran. Dalam kenyataan di kelas para siswa merasa kurang termotivasi dalam belajar karena cara pengajaran guru yang konvensional (hanya menggunakan buku teks). Pengajaran yang terkesan konvensional mengakibatkan para siswa merasa sukar dalam pemahaman materi yang diberikan oleh guru. Akibatnya minat belajar para siswa mengalami penurunan dan selanjutnya hasil belajarnya juga menurun. Ini terbukti berdasarkan hasil observasi di lapangan yang menunjukkan bahwa para siswa kurang menguasai materi yang disampaikan oleh guru. Dari data yang ditemukan di lapangan untuk mata pelajaran sosiologi khususnya materi pokok perilaku menyimpang dan sikap antisosial kelas X masih banyak siswa yang mendapat nilai di bawah standar kriteria ketuntasan minimal (KKM) yaitu 70. Berawal dari hal tersebut dikembangkan dan dimplementasikan proses pembelajaran dengan menggunakan multimedia yang menggabungkan berbagai unsur media seperti video, suara, animasi, teks, dan gambar yang dikemas dalam satu wadah yang bersifat interaktif, kreatif dan menyenangkan. Akibat pengembangan mutimedia tersebut, dalam proses pembelajaran diharapkan para siswa dapat memahami materi pembelajaran karena pembelajaran yang disampaikan secara interaktif dan menyenangkan sehingga terjadi peningkatan terhadap hasil belajar yang dicapai.
KOMUNIKASI VISUAL IKLAN LAYANAN MASYARAKAT DANA BOS SEBAGAI BAHAN BELAJAR Mohammad Siddiq; Jazim Hamidi
Jurnal TEKNODIK Jurnal Teknodik Vol.19 No. 2 Agustus 2015
Publisher : Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (163.435 KB) | DOI: 10.32550/teknodik.v19i2.156

Abstract

Abstrak:Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh pemahaman mengenai unsur-unsur komunikasi visual yang ditampilkan dalam iklan sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan belajar. Adapun permasalahannya adalah bagaimana tipografi dan komposisi warna dalam iklan layanan masyarakat “Dana BOS”, serta bagaimana implementasinya sebagai bahan belajar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yang mengkaji penggunaan iklan sebagai media pembelajaran komunikasi. Teori yang dipakai dalam penelitian ini bukan untuk menguji hipotesis (hypothesis testing), tetapi untuk membangun hipotesis (hypotheses forming). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa iklan layanan masyarakat program dana BOS Kemendikbud dinilai cukup komunikatif secara visual, dilihat dari unsur tipografi dan komposisi warna. Sebagai bahan belajar, iklan dapat digunakan untuk membangun domain kognitif. Peserta didik dapat diajak untuk turut aktif melakukan analisis terhadap iklan. Unsur tipografi dan komposisi warna yang terdapat dalam iklan sarat dengan makna sehingga dapat dipertimbangkan untuk digunakan sebagai bahan belajar. Akhirnya, hasil penelitian ini, selain sebagai bahan belajar, dapat pula dijadikan sebagai bahan masukan dalam memproduksi iklan layanan masyarakat.Kata kunci: Iklan, Bahan Belajar, KomunikasiAbstract:This study aims to gain an understanding of the elements of visual communication displayed in an advertisement, so that it can be used as learning materials. The problem is to understand the typography and color composition in the public service announcements “Dana BOS” as well as how it is implemented as a learning material. This study uses qualitative descriptive approach that reviews the use of an advertisement as a communication learning medium. The theories applied in this study are not used to test hypothesis, but to form hypothesis instead. The result of this study shows that the public service announcement “Dana BOS” from Kemdikbud is valued to be visually communicative, based on its typography and color composition. As a learning material, advertisements can be used to develop cognitive aspect of the students. The students can be asked to actively analyze the advertisements. Typograpgy and color composition elements in an advertisement are full of messages so that they can be considered to be learning materials. Finally, beside as a learning material, the result of this study can also be an input for public service announcement production.Keywords: Advertisement, Learning Material, Communication.
SAINS, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN Suswandari Suswandari
Jurnal TEKNODIK Jurnal Teknodik Vol. 14 No. 1, Juni 2010
Publisher : Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (45.745 KB) | DOI: 10.32550/teknodik.v14i1.456

Abstract

Sains teknologi dan pendidikan merupakan bagian integral yang tak terpisahkan dalam pembentukan karakter bangsa. Dalam upaya pembelajaran Sain dan teknologi tidak bisa dipisahkan dari konteks mulai dari hal budaya masyarakat lokal, regional, nasional dan internasional. Misi utama pendidikan sains dan teknologi adalah membentuk peserta didik yang melek sains dan teknologi dalam berfikir global dan bertindak lokal.
EFEK GOOGLE DAN PENGUASAAN SISWA TENTANG KETERAMPILAN BELAJAR ABAD 21 Purwanto Pustekkom
Jurnal TEKNODIK Jurnal Teknodik Vol.XVI No.4 Desember 2012
Publisher : Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1639.243 KB) | DOI: 10.32550/teknodik.v0i0.48

Abstract

Pustekkom adalah lembaga yang telah berperan sebagai agen untuk mempromosikan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi untuk pendidikan, terutama bagi sekolah, guru, dan siswa. Karena perannya, Pustekkom sering dikunjungi siswa yang belajar menggunakan TIK. Banyaknya siswa yang belajar dengan menggunakan ICT tersebut menarik perhatian penulis. Demikian pula fenomena yang disebut “efek google” yang telah diteliti oleh Betsy Sparrow dari Columbia University yang terjadi di Amerika Serikat menarik perhatian penulis untuk menyelidiki apakah efek “Google” telah terjadi pada siswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi apakah “efek google” telah terjadi dan mempengaruhi perilaku belajar siswa. Data dan informasi dikumpulkan dengan mewawancarai 60 siswa yang mengunjungi Pustekkom dari Januari sampai Juli 2012. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa efek google telah terjadi di kalangan siswa (86 persen). Sementara itu, siswa memiliki ponsel dan memanfaatkan internet atau google sebagai sumber belajar, dan wikipedia sebagai andalan untuk mendapatkan penjelasan tentang sesuatu, seperti definisi dan istilah (100 persen). Perubahan cara dan gaya belajar terjadi pada siswa dan mereka memiliki kecenderungan lebih memilih untuk belajar pemecahan masalah daripada belajar hafalan. Umumnya, mereka (55 persen) menemukan kesulitan untuk menghafal. Siswa yang tahu keterampilan belajar abad ke-21 ada 20% dan 13% dari mereka siap untuk mengambil keuntungan dari komputasi awan.
PENGGUNAAN LEARNING TOGETHER UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS SISWA PADA PEMBELAJARAN MICROSOFT EXCEL Nurita Putranti
Jurnal TEKNODIK Jurnal Teknodik Vol. 20 No. 2, Desember 2016
Publisher : Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (76.93 KB) | DOI: 10.32550/teknodik.v20i2.239

Abstract

ABSTRAK:Tingkat keaktifan siswa dalam mempelajari Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) secara klasikalrendah. Salah satu upaya yang dapat dilakukan guru untuk mengatasi masalah ini adalah dengan menerapkan suatumodel pembelajaran yang menarik dan inovatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan aktivitas siswakelas XII IIS 4 SMA Negeri 2 Pontianak, dalam mempelajari Microsoft Excel pada semester ganjil tahun pelajaran2015/2016 dengan menggunakan “learning together”. Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelasyang meliputi 2 siklus: (1) Siklus I, yang membahas materi fungsi teks, tanggal, dan waktu; dan (2) Siklus II, yangmembahas materi fungsi statistik dan logika. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan lembar observasiaktivitas siswa, lembar obervasi kegiatan guru, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan menggunakanteknik deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan aktivitas siswa. Pada siklus I, persentasekeaktifan siswa adalah 54%, dan pada siklus II, persentase ini naik menjadi 77%. Disarankan kepada guru untukmenggunakan model pembelajaran kooperatif tipe learning together sebagai model pembelajaran pada materi formulaMicrosoft Excel untuk meningkatkan aktivitas siswa. Pembelajaran dengan model learning together mampu membuatsiswa menjadi lebih aktif sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan optimal.Kata Kunci: aktivitas siswa, formula microsoft excel, learning together.ABSTRACT:Students’ activity in learning information and communication technology (ICT) in classical setting is low.One of the efforts that teachers can take to cope with this problem is by applying an interresting and innovativelearning model. This research wasaimed to get to know the activity improvement of XII IIS 4 students of SMA Negeri2 Pontianak, in learning Microsoft Excel in the first semester of 2015/2016 academic year by using “learning together”.It applied classroom action research method, that was carried out in two phases: (1) cycle I, i.e. about the material oftext, date, and time functions; and (2) cycle II, i.e. about the material of statistic and logic functions. Data collection wasconducted by using students’ activity observation form, teacher’s activity observation form, and documentation. Dataanalysis was conducted by using descriptive qualitative technique. The result indicates some improvement on students’activity. In cycle I, students’ activeness percentage was 54%, while in cycle II, it increased to be 77%. It is recommendedthat teachers should apply cooperative learning with the type of “learning together” as the learning model for thematerial of Microsoft Excel formula to improve students’ activity. By using learning together, learning process canmake the students more active so that the learning objectives can be achieved optimally.Keywords:students’ activity, microsoft excel formula, learning together
Keberadaan Jabatan Fungsional Pengembang Teknologi Pembelajaran Dan Faktor-faktor Yang Berpengaruh Terhadap Pengembangan Karier Pemangkunya (Seri-3) Sudirman Siahaan Sudirman Siahaan
Jurnal TEKNODIK Jurnal Teknodik Vol.XV No.1 Juli 2011
Publisher : Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.058 KB) | DOI: 10.32550/teknodik.v0i0.92

Abstract

Abstrak: Program studi atau Jurusan Teknologi Pendidikan/Pembelajaran yang dikelola oleh berbagai perguruan tinggi telah menghasilkan lulusan yang berkiprah di lembaga-lembaga pemerintah dan swasta di bidang pendidikan (termasuk perguruan tinggi), pelatihan, atau pengembangan media. Sekalipun para lulusan program studi teknologi pendidikan/pembelajaran telah berkiprah puluhan tahun, namun pemerintah belum memberikan pengakuan terhadap keahlian atau kompetensi pengembang teknologi pembelajaran sampai dengan akhir tahun 2008. Sebagai akibatnya, lembaga-lembaga pemerintah yang membutuhkan dan memanfaatkan para lulusan teknologi pembelajaran mengalami kendala untuk merekrut mereka menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Memperhatikan kondisi yang demikian ini, Pusat Teknologi Informasi dan Komunikai Pendidikan-Kementerian Pendidikan Nasional (Pustekkom-Kemdiknas) sebagai lembaga yang mempunyai tugas dan fungsi di bidang teknologi informasi dan komunikasi untuk pendidikan telah mengusulkan akan adanya Jabatan Fungsional Pengembang Teknologi Pembelajaran (JF-PTP). Jabatan fungsional PTP ini akan menjadi landasan/payung hukum, baik bagi para lulusan, lembaga pendidikan tinggi yang menghasilkan lulusan, maupun lembaga yang memanfaatkan para lulusan teknologi pembelajaran. Dengan ditetapkannya JF-PTP pada tanggal 10 Maret 2009, maka (1) lembaga perguruan tinggi yang mengelola program studi teknologi pendidikan/pembelajaran mempunyai kepastian tentang masa depan para lulusan yang dihasilkan, (2) para lulusan mempunyai peluang untuk diangkat menjadi calon Pegawai Negeri Sipil (PNS), (3) para lulusan mempunyai arah yang jelas dan pasti dalam pengembangan kariernya sebagai PNS, dan (4) lembaga yang memanfaatkan lulusan teknologi pembelajaran mempunyai dasar/landasan hukum untuk merekrut mereka menjadi calon PNS. Di dalam tulisan ini, pembahasan akan difokuskan pada (1) keberadaan jabatan fungsional Pengembang Teknologi Pembelajaran yang mencakup: pengertian, jenjang jabatan dan pangkat, tugas pokok, manfaat, dan prosedur pengangkatan sebagai pejabat fungsional PTP, (2) faktor-faktor yang berpengaruh terhadap keberhasilan pengembangan karier pejabat fungsional PTP, dan (3) pengalaman berkarier sebagai tenaga fungsional. Kata kunci: Jabatan fungsional Pengembang Teknologi Pembelajaran, karier, angka kredit,teknologi pendidikan/pembelajaran.Abstract: Educational technology program or department managed by various universities has produced many graduates that are are working in the government as well as nongovernment institutions dealing with education (higher education), training, or media development. Eventhough the graduates of educational/instructional technology have been working for years, the government still has not acknowledged the expertise or competencies of the educational technology developers up to the late of 2008. As a consequence, the government institutions needing and utilizing the educational technology graduates face a problem for recruiting them to become civil servants. Realizing such problem, the Information and Communication Technology Center for Education (Pustekkom) proposed the establishment of the Functional job of Instructional Technology Developers. This functional job will become the legal foundation for the graduates, universities producing the graduates, and other institutions hiring the educational technology graduates. The issuing of the decree on the Functional Job of Instructional Technology Developers, dated 10 March 2009 made (1) the higher education institutions managing the educational/instructional technology program or department have assurance of the future of their graduates, (2) the graduates have the chance to be recruited as civil servants, (3) the graduates have a clear and certain direction for their career development as civil servants, (4) institutions hiring the educational technology graduates have a legal foundation to recruit them to become civil servants. In this article, the discussion focuses on (1) the existence of the Functional Job of Educational Technology Developers covering: definition, hierarchical job and rank, main tasks, benefits, and the procedures of educational technology developer recruitment, (2) factors influencing the success in career development of educational technology developers, and (3) career experiences as a functional workforce. Keywords: Functional Job of Educational/Instructional Technology Developers, career, credit points, educational/instructional technology.
MATERI MATEMATIKA YANG BELUM DIKUASAI SISWA: Analisis Hasil Ujian Nasional Paket A, B, dan C Tahun 2003/2004 Safari Safari
Jurnal TEKNODIK Jurnal Teknodik Vol. 8 No. 15, Desember 2004
Publisher : Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (439.43 KB) | DOI: 10.32550/teknodik.v4i15.386

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk menjawab permasalahan berikut. Materi-materi mana yang belum dikuasai siswa pesersta ujian nasioal Paket A, B, dan C tahun 2003/2004 untuk mata pelajaran Matematika? Berdasarkan hasil analisis deskriptif dari 40 butir soal mata pelajaran Matematika yang masing-masing dijawab oleh peserta Paket A= 12855 siswa, Paket B= 35497 siswa, Paket C IPA= 413 siswa, maka diperoleh tiga hasil penelitian seperti berikut ini. Pertama, penguasaan materi Matematika pada Paket A yang kurang dari 50% adalah 14 (35%) materi, penguasaan materi 50%-70% adalah 16 (40%) materi, dan penguasaan materi di atas 70% adalah 10 (25%) materi. Kedua, penguasaan materi Matematika pada Paket B yang kurang dari 50%  adalah 11 (28%) materi, penguasaan materi 50%-70% adalah 22 (55%) materi, dan penguasaan materi di atas 70% adalah 7 (17%) materi. Ketiga, penguasaan materi Matematika pada Paket C IPA yang kurang dari 50%  adalah 31 (77,5%) materi, penguasaan materi 50%-70% adalah 9 (22,5%) materi, dan penguasaan materi di atas 70% adalah 0 (0%) materi.  Untuk mengetahui nama-nama kemampuan/materi yang dimaksud, pembaca dapat membaca pada hasil penelitian ini. Selamat membaca!

Filter by Year

2013 2025


Filter By Issues
All Issue Jurnal Teknodik Vol. 29 No. 1, Juni 2025 Jurnal Teknodik Vol. 28 No. 2, Desember 2024 Jurnal Teknodik Vol. 28 No. 1, Juni 2024 Jurnal Teknodik Vol. 27 No. 2, Desember 2023 Jurnal Teknodik Vol. 27 No. 1, Juni 2023 Jurnal Teknodik Vol. 26 No. 2, Desember 2022 Jurnal Teknodik Vol. 26 No. 1, Juni 2022 Jurnal Teknodik Vol.XVI No.4 Desember 2012 Jurnal Teknodik Vol.XVI No.3 September 2012 Jurnal Teknodik Vol. 25 No. 2, Desember 2021 Jurnal Teknodik Vol. 25 No. 1, Juni 2021 Jurnal Teknodik Vol. 24 No. 2, Desember 2020 Jurnal Teknodik Vol. 24 No. 1, Juni 2020 Jurnal Teknodik Vol. 23 No. 2, Desember 2019 Jurnal Teknodik Vol. 23 No. 1, Juni 2019 Jurnal Teknodik Vol. 10 No. 18, Juni 2006 Jurnal Teknodik Vol. 09 No. 16, Juni 2005 Jurnal Teknodik Vol. 8 No. 14, Juni 2004 Jurnal Teknodik Vol. 17 No. 4, Desember 2013 Jurnal Teknodik Vol,17 No. 3, September 2013 Jurnal Teknodik Vol. 12 No. 2, Desember 2008 Jurnal Teknodik Vol. 10 No. 19, Desember 2006 Jurnal Teknodik Vol. 8 No. 15, Desember 2004 Jurnal Teknodik Vol. 22 No. 2, Desember 2018 Jurnal Teknodik Vol. 22 No. 1, Juni 2018 Jurnal Teknodik Vol. 14 No. 1, Juni 2010 Jurnal Teknodik Vol. 13 No. 1, Juni 2009 Jurnal Teknodik Vol. 12 No. 1, Juni 2008 Jurnal Teknodik Vol. 11 No. 3, Agustus 2007 Jurnal Teknodik Vol. 21 No. 2, Desember 2017 Jurnal Teknodik Vol. 20 No. 2, Desember 2016 Juni Jurnal Teknodik Vol. 20 No. 1 Juni 2016 Jurnal Teknodik Vol.19 No. 2 Agustus 2015 Jurnal Teknodik Vol.19 No. 1 April 2015 Jurnal Teknodik Vol.18 No. 3 Desember 2014 Jurnal Teknodik Vol.18 No. 2 Agustus 2014 Jurnal Teknodik Vol.18 No.1 April 2014 Jurnal Teknodik Jurnal Teknodik Vol.XVII No.2 Juni 2013 Jurnal Teknodik Vol.XVII No.1 Maret 2013 Jurnal Teknodik Vol.XVI No.2 Juni 2012 Jurnal Teknodik Vol. XV No.2 Desember 2011 Jurnal Teknodik Vol.XVI No.1 Maret 2012 Jurnal Teknodik Vol.XV No.1 Juli 2011 More Issue