cover
Contact Name
M Dian Hikmawan
Contact Email
demos.ijd@gmail.com
Phone
+6281284963876
Journal Mail Official
demos.ijd@gmail.com
Editorial Address
Jl. Raya Serang-Pandeglang KM. 5 Pandeglang, Banten
Location
Kab. pandeglang,
Banten
INDONESIA
International Journal of Demos
Published by HK-Publishing
ISSN : -     EISSN : 27210642     DOI : 10.31506/ijd
International Journal of Demos (IJD) is an open access, and peer-reviewed journal. IJD try to disseminate current and original articles from researchers and practitioners on various contemporary social and political issues: citizenship, civil society movement, environmental issues, gender politics and identity, digital society and disruption, urban politics, community welfare, social development, public management, public policy innovation, international politics & security, media, information & literacy, politics, governance, human rights & democracy, radicalism, and terrorism. Publish three times in a year i.e. April, August, and December. IJD Invites researcher, academician, practitioners, and public to submit their critical writings and to contribute to the development of social and political sciences
Articles 280 Documents
Fenomena Buzzer Dalam Kontroversi Omnibus Law Di Media Sosial Ain, Afifah Qurotul; Mirza, Khaidar; Caniago, Muhammad Fajar; Faturohman, Muhamad Heru
ijd-demos Volume 3 Issue 3 December 2021
Publisher : HK-Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37950/ijd.v3i3.97

Abstract

AbstractIn modern times like today, the development of information and communication technology is very rapid and cannot be stopped. Without realizing it, this technological development brings changes to human social behavior, technology offers new ways for humans to communicate through various new media (New Media). One of the New Media that is a product of technological developments that greatly affect our daily lives is social media. As time goes by, social media is not only a medium of communication or just spending free time. More than that, social media now has several other roles, one of which is as a means of conveying criticism of the situation created under a state government agency as well as a means of political campaigns for representation from the state government. With the formation of new behaviors in conveying voices in public spaces, many new things are also born, one of which is the buzzer phenomenon. Bauzzer on social media is associated with a party related to increasing trends and discussions on social media, it can be said that the buzzer is a raiser of issues or discussions about something on social media. On this occasion, the researcher will discuss the buzzer phenomenon on the controversial issue of undang-undang cipta kerja or omnibus lawKeywords: social media, buzzer, omnibus law, digital activism.   AbstrakPada masa modern seperti sekarang ini, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi sangatlah pesat dan tidak bisa di hentikan. Tanpa disadari, perkembangan teknologi ini membawa perubahan pada perilaku sosial manusia, teknologi menawarkan cara baru kepada manusia dalam berkomunikasi melalui berbagai media baru (New Media). Salah satu New Media yang menjadi produk perkembangan teknologi yang sangat berpengaruh pada kehidupan kita sehari-hari adalah media sosial. Seiring berjalannya waktu media sosial tidak hanya sebagai media komunikasi ataupun sekedar menghabiskan waktu luang. Lebih dari itu, media sosial kini telah memiliki beberapa peran lain salah satunya sebagai sarana penyampaian kritik atas situasi yang tercipta dibawah sebuah pemerintahan lembaga negara maupun sarana kampanye politik bagi representasi dari pemerintahan negara. Dengan terbentuknya perilaku baru dalam manyampaikan suara pada ruang publik, banyak hal baru pun ikut terlahir, salah satunya adalah fenomena buzzer. Bauzzer di sosial media di kaitkan dengan suatu pihak yang terkait dengan peningkatan trend dan bahasan di sosial media, bisa dikatakan bahwa buzzer merupakan pengangkat isu-isu atau pembahasan mengenai sesuatu di sosial media. Pada kesempatan kali ini peneliti akan membahas mengenai fenomena buzzer pada isu kontroversional UU cipta kerja atau omnibus lawKatakunci: media sosial, buzzer, omnibus law, aktivisme digital.
Penerapan Prinsip Good-Enviromental Governance di Kabupaten Serang (Studi Kasus : Sungai Cidurian Kabupaten Serang) Purnama, Anggita Amilia; Chelonia, Dzikra
ijd-demos Volume 2 Issue 3 December 2020
Publisher : HK-Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37950/ijd.v2i3.56

Abstract

The environmental pollution in the Cidurian River is caused by the disposal of factory waste which dumps waste carelessly into the river, this makes the water in the Cidurian River polluted by the factories that are around the cidurian river, in this problem it appears that these factories does not protect the environment well. This research uses a qualitative method with a descriptive approach. The Serang District environmental office has implemented Good Environmental governance and has issued policies regarding anyone who does not protect the environment and will receive a reprimand and other laws that have been set. This study aims to explain that in policies related to the environment, it is based on Good Environmental Governance. Pencemaran lingkungan yang ada di Sungai Cidurian disebabkan oleh adanya pembuangan limbah perusahaan yang mencemarkan sungai dengan membuang limbah secara sembarangan ke sungai, hal ini membuat air yang ada di Sungai Cidurian tercemar oleh pabrik-pabrik yang ada disekitaran sungai cidurian, dalam permasalahan ini terlihat bahwa pabrik-pabrik tersebut tidak menjaga lingkungan sekitar secara maksimal. Riset  yang kami teliti menggunakan sebuah  pendekatan kualitatif deskriptif. Dinas lingkungan hidup Kabupaten Serang ini sudah menerapkan Good Environmental Governance serta telah mengeluarkan kebijakan-kebijakan mengenai siapapun yang tidak menjaga lingkungan maka akan mendapat teguran dan hukum lainnya yang sudah ditetapkan. Penelitian ini bertujuan unttuk menjelaskan bahwa dalam kebijakan yang berkaitan tentang lingkungan hidup, didsarkan pada Good Enviromental Governance.
Memahami Identitas : Studi Kasus Identitas Agama Orang Baduy di Kabupaten Lebak (Analisis Politik Praktis Terhadap Identitas Suku Baduy) Irawan, Peri; Lessy, Shidna Aisya
ijd-demos Volume 3 Issue 3 December 2021
Publisher : HK-Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37950/ijd.v3i3.177

Abstract

AbstractThe Baduy community's adherence to pikukuh karuhun (customary rules), especially the inner Baduy in Lebak Regency, Banten Province, uses a representation system, which is represented by Puun (customary leader). Representative democracy is based on the results of a predetermined deliberation. The Baduy do not have close ties to political parties and other public officials. The Baduy community prioritizes and attaches importance to pikukuh karuhun and tribal unity so that there are no divisions caused by political interests. The Baduy do not refuse democracy, but there are only limits with pikukuh karuhun that cannot be violated and must be preserved. This study aims to understand the reality that occurs to the Baduy community in the election process starting from voting activities, the adaptation process which is very different from the Baduy tribe, an understanding of the rights and obligations in elections and the differences in structure and reality from outside the Baduy tribe. Keywords: subcultural society, phenomenology, political reality. AbstrakKetaatan masyarakat Baduy terhadap pikukuh karuhun (aturan adat) terutama Baduy dalam di Kabupaten Lebak Provinsi Banten yang menggunakan sistem keterwakilan, yang diwakili oleh Puun (Pimpinan adat). Demokrasi keterwakilan tersebut berdasarkan hasil musyawarah yang telah ditentukan sebelumnya. Suku Baduy tidak memiliki kedekatan dengan partai politik dan pejabat publik lainnya. Masyarakat Baduy lebih mengedepankan dan mementingkan pikukuh karuhun dan persatuan suku agar tidak terjadi perpecahan yang diakibatkan kerana kepentingan politik. Suku Baduy tidak menolak untuk berdemokrasi, namun saja hanya terdapat batasan dengan pikukuh karuhun yang tidak boleh dilanggar dan harus tetap dilestarikan. Penelitian ini bertujuan untuk memahami realitas yang terjadi terhadap masyarakat Baduy dalam proses pemilu mulai dari kegiatan pencoblosan, proses adaptasi yang sangat berbeda dengan suku Baduy, pemahaman tentang hak dan kewajiban dalam pemilu dan perbedaan struktur dan realitas dari luar suku Baduy. Kata kunci : masyarakat subkultural, fenomenologi, realitas politik.            
Persuasive Communication in a Healthy Lifestyle Campaign in Pandeglang District (Case Study of Arisan Jamban Program) Malik, Abdul; Putri, Liza Diniarizky
ijd-demos Volume 2 Issue 2, August 2020
Publisher : HK-Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37950/ijd.v2i2.62

Abstract

Since 2007, the Amil Zakat Harapan Duafa Institute (LAZ Harfa) has actively initiated a healthy life movement campaign in the Pandeglang Regency, especially to people who are still practicing open defecation (BABS), due to either the lack of latrines or other factors. “Jamban” in English means latrine. Using the Community Lead Total Sanitation (CLTS) method, this healthy living campaign is focused on the latrine ownership program through the arisan system. An Arisan is a form of rotating savings in Indonesian culture. From the results of research using case studies, this healthy living movement campaign has brought significant results. Through a persuasive communication process as part of the approach to the community strategy, the results were obtained that by the end of 2019 as many as 29 assisted villages in 8 sub-districts in Pandeglang District had been free from the practice of open defecation. This fact shows that the persuasive communication carried out in this healthy living campaign is quite effective and brings the expected results. Sejak tahun 2007 silam, Lembaga Amil Zakat Harapan Duafa (LAZ Harfa) aktif melakukan inisiasi kampanye gerakan hidup sehat di wilayah Kabupaten Pandeglang, khususnya kepada masyarakat yang masih menjalankan kebiasaan membuang air besar sembarangan (BABS), baik karena ketiadaan jamban ataupun karena faktor lain. Menggunakan metode Community Lead Total Sanitation (CLTS), kampanye hidup sehat ini difokuskan pada program kepemilikan jamban melalui sistem arisan. Dari hasil penelitian dengan menggunakan studi kasus, kampanye gerakan hidup sehat ini telah membawa hasil yang disignifikan. Melalui proses komunikasi persuasif sebagai bagian dari strategi pendekatan kepada masyarakat, diperoleh hasil bahwa hingga akhir 2019 sebanyak 29 desa dampingan di 8 kecamatan di Kabupaten Pandeglang telah terbebas dari kebiasaan BABS. Fakta tersebut menunjukkan bahwa komunikasi persuasif yang dilakukan dalam kampanye hidup sehat ini berjalan cukup efektif dan membawa hasil sebagaimana diharapkan.
Kepemimpinan Perempuan di Masa Krisis: Studi Kasus Bupati Serang dalam Penanganan Covid-19 Nurrohman, Bayu; Ramadhan, Gilang
ijd-demos Volume 2 Issue 3 December 2020
Publisher : HK-Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37950/ijd.v2i3.67

Abstract

This research tries to see how the female leader in handling Covid-19 in this case is the Regent of Serang, Hj. Ratu Tatu Chasanah in handling the Covid-19 crisis in Serang Regency. This research is important to do because in the midst of the increasing issue of gender pengarustamaan and women's leadership, researchers want to study the quality of elected female regional heads when facing a crisis that occurs in their region. This research offers another approach in research because it tries to see the quality of women regional heads in facing crises, while other research on women leaders tends to portray in quantity how women are represented in both the executive and legislative realms. While the focus of this research is in Serang Regency, Banten Province, because seeing Serang Regency is one of the areas led by women. Furthermore, Serang Regency is also the location where the new Untirta Campus is located. Researchers want to see further how the handling of Covid-19 in Serang Regency is one of the contributions to the scientific development and society of Serang Regency, especially as the object of receiving public policies from the local government. Riset ini mencoba melihat bagaimana pemimpin perempuan dalam penanganan Covid-19 dalam hal ini adalah Bupati Serang, Hj. Ratu Tatu Chasanah dalam penanganan krisis Covid-19 di Kabupaten Serang. Riset ini menjadi penting dilakukan karena ditengah isu pengarustamaan gender dan kepemimpinan perempuan yang semakin kencang, peneliti ingin mengkaji kualitas kepala daerah perempuan yang terpilih ketika menghadapi krisis yang terjadi di daerahnya. Riset ini menawarkan pendekatan lain dalam penelitian karena mencoba melihat kualitas kepala daerah perempuan dalam menghadapi krisis, sementara penelitian lainnya mengenai pemimpin perempuan lebih cenerung memotret secara kuantitas bagaimana keterwakilan perempuan baik dalam ranah eksekutif maupun legislative.Sementara focus dari riset ini adalah di Kabupaten Serang Provinsi Banten, Karena melihat Kabupaten Serang adalah salah satu daerah yanag dipimpin oleh perempuan. Lebih lanjut Kabupaten Serang juga merupakan lokasi dimana Kampus Untirta yang baru berada. Peneliti ingin melihat lebih jauh bagaimana penanganan Covid-19 di Kabupaten Serang sebagai salah satu sumbangsih bagi pengembangan keilmuan dan masyarakat Kabupaten Serang khususnya sebagai objek penerima kebijakan public dari pemerintah daerah.
Gerakan Earth Hour Tangerang Dalam Perspektif Politik Lingkungan Rasyid, Ilham; Felixiani Keviola, Jessica Roma
ijd-demos Volume 2 Issue 2, August 2020
Publisher : HK-Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37950/ijd.v2i2.42

Abstract

In this scientific work, the writer will focus on discussing social movements based on the environment carried out by Non-profit Organizations namely Tangerang Earth Hour can be said as a forum or community that not only stands because of one goal of "Electricity Savings" but more than that now, this community aims to make the habit or culture of environmental care a lifestyle that should have been applied by all levels of society and must be sustainable. In this study, researchers used qualitative research methods. The conclusion of this research is, the Earth Hour Tangerang movement is able to become a movement that has a good impact on the Tangerang Raya region. With a strategic approach and able to embrace the government, corporate, community, and also other communities, Earth Hour Tangerang has been able to raise the urgency of the importance of environmental care and also environmental issues in the Tangerang Raya region. Pada karya ilmiah ini penulis akan fokus membahas tentang gerakan sosial  yang berbasis lingkungan yang dilakukan oleh organisasi non-profit yaitu Earth Hour Tangerang. Earth Hour dapat dikatan sebagai wadah atau komunitas yang bukan hanya berdiri karena satu tujuan “Penghematan Listrik” akan tetapi lebih dari itu sekarang, komunitas ini bertujuan menjadikan kebiasaan atau budaya peduli lingkungan menjadi suatu gaya hidup yang harusnya telah diaplikasikan oleh  seluruh lapisan masyarakat dan harus berkelanjutan. Pada penelitian ini, metode yang digunakan ialah penelitian kualitatif. Kesimpulan dari penelitian ini adalah gerakan Earth Hour Tangerang mampu menjadi sebuah gerakan yang memiliki pengaruh yang baik bagi wilayah Tangerang Raya dalam perspektif politik lingkungan. Dengan pendekatan yang strategis dan mampu merangkul pemerintah, korporat, masyarakat, dan juga komunitas lainnya, Earth Hour Tangerang sudah mampu mengangkat urgensi pentingnya pemeliharaan lingkungan dan juga isu lingkungan pada wilayah Tangerang Raya.
The Discourse of Animal welfare: A Case Study of JAAN (Jakarta Animal Aid Network) in Handling the Traveling Dolphins Circus Fitri, Tasya Amalia; Riswanda, Riswanda
ijd-demos Volume 3 Issue 3 December 2021
Publisher : HK-Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37950/ijd.v3i3.109

Abstract

Abstract  Animal welfare discourse in Indonesia is rarely published on various media platforms so that public knowledge about Animal welfare is still very lacking. This study makes a case for. socio-environmental justice pf all sentient being. The study argues for the interconnectedness of socio-environmental issue with the conundrum of political aspects in, in terms of the welfare of dolphins. The study contributes to intellectual discourse on governance. Qualitative approach was chosen with respect to testing out ‘equality utilitarianism ethics to use Peter Singer’s phrase. The study indicates that the greater understanding of utilitarianism has motivated Jakarta Animal Aid Network concerning dolphins welfare, The understanding shapes awareness and public education. It then influences  Indonesian government decision  to stop the traveling dolphins circus that often raises socio-environmental issues especially for those who care about the rights of all sentient being.Keywords :  animal welfare, dolphins, equality, ethics, governance.   AbstrakWacana kesejahteraan hewan di Indonesia jarang dipublikasikan di berbagai platform media sehingga pengetahuan masyarakat tentang kesejahteraan hewan masih sangat kurang. Studi ini membuat kasus untuk. keadilan sosial-lingkungan pf semua makhluk hidup. Studi ini berpendapat untuk keterkaitan masalah sosial-lingkungan dengan teka-teki aspek politik, dalam hal kesejahteraan lumba-lumba. Studi ini berkontribusi pada wacana intelektual tentang pemerintahan. Pendekatan kualitatif dipilih sehubungan dengan menguji 'etika utilitarianisme kesetaraan untuk menggunakan frasa Peter Singer. Studi ini menunjukkan bahwa pemahaman yang lebih besar tentang utilitarianisme telah memotivasi Jaringan Bantuan Satwa Jakarta tentang kesejahteraan lumba-lumba. Pemahaman tersebut membentuk kesadaran dan pendidikan publik. Hal ini kemudian mempengaruhi keputusan pemerintah Indonesia untuk menghentikan sirkus lumba-lumba keliling yang kerap menimbulkan masalah sosial-lingkungan terutama bagi mereka yang peduli terhadap hak-hak seluruh makhluk hidup. Kata Kunci :  kesejahteraan hewan, lumba-lumba, kesetaraan, etika, pemerintahan.
Collaborative Governance Antara Pemerintah Desa dengan Warga Desa dalam Pengelolaan Cerobong Sampah dan Bank Sampah di Desa Kramatwatu Lestari, Ranti Meidita; Farahnisa, Tazkiya
ijd-demos Volume 2 Issue 3 December 2020
Publisher : HK-Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37950/ijd.v2i3.57

Abstract

This study aims to analyze the Collaborative Governance process and find out the factors that influence the collaboration process in the chimney and waste bank program in Kramatwatu Village. The research method used is descriptive method with a qualitative approach. The results showed that collaborative governance in the chimney and waste bank program in Kramatwatu Village had been going well, only one process that had not gone well was commitment, seen from the indicators of collaborative governance according to Ansel and Gash, namely face-to-face dialogue (face to face), building trust (trust building), commitment to the process (commitment to process), shared understanding (share understanding), and intermediate outcomes. Judging from the commitment process in Kramatwatu Village, it has not been going well, it is located in RW 01 and also RW 04, which has a responsibility for the chimney that is not responsible so that the waste reduction is not optimal. The factors that influence the collaboration process are initial conditions, facilitative leadership, and institutional design. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses Collaborative Governance dan mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi proses kolaborasi dalam program cerobong sampah dan bank sampah di Desa Kramatwatu. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa collaborative governance dalam program cerobong sampah dan Bank sampah di Desa Kramatwatu sudah berjalan dengan baik, hanya saja salah satu proses yang belum berjalan dengan baik yaitu komitmen, dilihat dari indikator proses collaborative governance menurut Ansel dan Gash, yaitu dialog tatap muka (face to face), membangun kepercayaan (trust building), komitmen terhadap proses (commitment to process), pemahaman bersama (share understanding), dan hasil antara (Intermediate outcomes). Dilihat pada proses komitmen di Desa Kramatwatu belum berjalan dengan baik ini terletak pada RW 01 dan juga RW 04 yang memiliki penanggungjawab atas cerobong sampah yang kurang bertanggungjawab sehingga kurang maksimalnya pengurangan sampah. Adapun faktor yang mempengaruhi proses kolaborasi yaitu kondisi awal, kepemimpinan fasilitatif, dan desain institusioanal.  
Gerakan Kontra Pembangunan Shelter 9 Dan 10 Pltu Suralaya Merak-Banten Urrohmah, Nida; Kelly, Karin Caroline; Yuliani, Fitri
ijd-demos Volume 2 Issue 2, August 2020
Publisher : HK-Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37950/ijd.v2i2.54

Abstract

Electric Steam Power Plants (PLTU) need coal as fuel to produce electricity. The higher the electrical energy needed to eat, the more fuel will be used. This has happened in the construction of shelters 9 and 10 Suralaya Merak-Banten steam power plant (PLTU). This development is reaping various kinds of rejection because it causes environmental damage not only in the area around the development operation but also in the Greater Jakarta area. The rejection movement was initiated by local residents and supported by international Environmental NGOs.Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) membutuhkan batu bara sebagai bahan bakar untuk menghasilkan energi listrik. Semakin tinggi energi listrik yang dibutuhkan makan akan semakin banyak bahan bakar yang digunakan. Hal ini terjadi pada pembangunan shelter 9 dan 10 PLTU Suralaya di pulau Jawa spesifiknya di daerah Merak-Banten. Pembangunan ini menuai berbagai macam penolakan karena mengakibatkan kerusakan lingkungan tidak hanya pada wilayah sekitar operasi pembangunan namun juga pada wilayah Jabodetabek. Gerakan penolakan diinisiasi tentunya oleh warga setempat dan didukung dengan NGO Internasional penggiat isu lingkungan. 
Kartu Indonesia Pintar sebagai Representasi No Poverty dan Education dalam paradigma Sustainable Development Goals Rahmatullah, Ahmad Fajar; Rahmatullah, Ahmad Farhan
ijd-demos Volume 3 Issue 3 December 2021
Publisher : HK-Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37950/ijd.v3i3.110

Abstract

AbstractSustainable Development Goals (SDGs) is a concept of sustainable development combines aspects of social, economic and environmental 17 sustainable development Goals where the first point is No poverty or no poverty. No poverty to be the first point in the SDGs indicates that all the Countries that signed the Document of the SDGs agreed to see the problem of poverty became a serious problem that must be handled by all Countries in the world. To eradicate poverty of course, every Country has her way each. Interesting things seen in the program which is run by the government of President Jokowi in terms of the alleviation of poverty by through education. The concept of no poverty by way of education is not a new thing.  This study uses the study of a literature review with a focus on the study of how the government program in the fight against poverty through education. This study resulted that the efforts to alleviate poverty through education has been run by the Government of Joko Widodo in the period from the first through the Indonesia Smart Program whereby in the year 2015 until the year 2019 poverty significantly decreased and the school participation rate (APS) is increased. In addition have implemented the goals of the first SGD is no poverty, the government of Joko Widodo also indirectly apply goals to 4, namely Quality Education in Indonesia Smart Program.Keywords : sustainable development goals; no poverty ;education; kartu indonesia pintar.  AbstrakSustainable Development Goals (SDGs) merupakan sebuah konsep pembangunan yang berkelanjutan mengkombinasikan aspek sosial, ekonomi serta lingkungan dengan 17 Tujuan pembangunan berkelanjutan dimana point pertama adalah No poverty atau tanpa kemiskinan. No poverty menjadi point pertama dalam SDGs mengindikasikan bahwa seluruh Negara yang menandatangani Dokumen SDGs sepakat melihat permasalahan kemiskinan menjadi masalah yang serius yang harus di tangani oleh seluruh Negara di dunia. Dalam memberantas kemiskinan tentunya tiap Negara memiliki cara nya masing-masing. Hal menarik terlihat dalam program yang di jalankan oleh pemerintah Presiden Jokowi dalam hal pengentasan kemiskinan dengan cara melalui pendidikan. Konsep pemberantasan kemiskinan dengan cara pendidikan bukan merupakan hal yang baru.  Studi ini menggunakan studi literatur  dengan fokus studi tentang bagaimana program pemerintah dalam upaya pengentasan kemiskinan melalui pendidikan. Studi ini menghasilkan bahwa upaya pengentasan kemiskinan melalui pendidikan telah dijalankan oleh Pemerintahan Joko Widodo pada periode pertamanya melalui Program Indonesia Pintar dimana pada tahun 2015 hingga tahun 2019 kemiskinan  secara signifikan menurun  dan angka partisipasi sekolah (APS) meningkat. Selain telah menerapkan goals pertama SGD yaitu no poverty, disamping itu pemerintahan Joko Widodo juga secara tidak langsung menerapkan goals ke 4 yaitu Quality Education pada Program Indonesia Pintar.Kata kunci:  sustainable development goals; kemiskinan; pendidikan; kartu indonesia pintar.

Page 6 of 28 | Total Record : 280