cover
Contact Name
M Dian Hikmawan
Contact Email
demos.ijd@gmail.com
Phone
+6281284963876
Journal Mail Official
demos.ijd@gmail.com
Editorial Address
Jl. Raya Serang-Pandeglang KM. 5 Pandeglang, Banten
Location
Kab. pandeglang,
Banten
INDONESIA
International Journal of Demos
Published by HK-Publishing
ISSN : -     EISSN : 27210642     DOI : 10.31506/ijd
International Journal of Demos (IJD) is an open access, and peer-reviewed journal. IJD try to disseminate current and original articles from researchers and practitioners on various contemporary social and political issues: citizenship, civil society movement, environmental issues, gender politics and identity, digital society and disruption, urban politics, community welfare, social development, public management, public policy innovation, international politics & security, media, information & literacy, politics, governance, human rights & democracy, radicalism, and terrorism. Publish three times in a year i.e. April, August, and December. IJD Invites researcher, academician, practitioners, and public to submit their critical writings and to contribute to the development of social and political sciences
Articles 280 Documents
Faktor Penolakan Pembangunan Gereja Oleh Masyarakat di Kota Cilegon Riansyah, Abdul; Mulyani, Mia; AL-Giffari, Muhamad Faisal; Akbar, Shidqi Fadhilah; Hulailah, Siti
ijd-demos Volume 3 Issue 1 April 2021
Publisher : HK-Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37950/ijd.v3i1.79

Abstract

Abstract                                                                                                          This article contains multiculturalism in the city of Cilegon which does not work well because of discrimination which causes the struggle for the rights of Christians who are a minority in the city of Cilegon due to discrimination from the majority in the city of Cilegon who are Muslims. Therefore, there are many factors underlying the sense of intolerance that should not have occurred in Indonesia because it opposes the 1945 Constitution. This intolerance can be seen from the rejection of the construction of Christian Greja which is a place of worship that should exist in every region because it is one of the reflections of the 1945 Constitution. This conflict will also dissect this conflict by using the theory of identity politics, precisely the theory of Minority Rights in multicultural society proposed by Will Kymlicka. Therefore, many factors have become the author's curiosity about the intolerance and struggle for the rights of Christian minorities in the City of Cilegon.Keywords: religious intolerance, the struggle for the rights, minoritiesAbstrak Artikel ini berisi tentang multikulturalisme yang ada di kota cilegon tidak berjalan dengan baik karena adanya diskriminasi yang menyebabkan perjuangan hak agama Kristen yang merupakan minoritas di kota cilegon karena adanya diskriminasi dari kaum mayoritas di kota cilegon yang beragama Islam. Maka dari itu banyak faktor yang melatar belakangi rasa intoleransi yang seharusnya tidak terjadi di Indinesia karena menentang UUD 1945. Intoleransi ini terlihat dari adanya penolakan pembangunan Greja Kristen yang merupakan tempat ibadah yang seharusnya ada di setiap daerah karena merupakan salah satu dari pencerminan UUD 1945. Kasus ini juga akan membedah konflik ini dengan menggunakan teori politik identitas tepatnya teori Hak Minoritas dalam masyarakat multicultural yang dikemukakan oleh Will Kymlicka. Maka dari itu banyak faktor yang menjadi rasa penasaran penulis mengenai intolernsi dan perjuangan hak minoritas Agama Kristen di Kota Cilegon.Kata Kunci: intoleransi beragama, perjuangan hak, minoritas
Keadilan Lingkungan Dalam Gerakan Perlawanan (Resistensi Masyarakat Adat Kasepuhan Bayah Terhadap PT. Cemindo Gemilang) Wawan, Wawan; Khoirunisa, Khoirunisa; Patmah, Nurul
ijd-demos Volume 3 Issue 2 August 2021
Publisher : HK-Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37950/ijd.v3i2.103

Abstract

AbstractThis paper will discuss the resistance movement of the Kasepuhan Bayah Indigenous Community against PT. Gemindo Gemilang. Simply put, this paper will be divided into two parts, first we will elaborate on the anxiety experienced by the Kasepuhan Bayah Indigenous People towards PT. Gemindo Gemilang. Second, it will be discussed about how the resistance movement was carried out. Theoretically, this paper rests on two main theories, namely the theory of social movements and the theory of environmental justice. both theories are considered to have strong relevance to the unit of analysis in this study so that they can dissect the case sharply and in depth. This study uses a descriptive qualitative method with data collection techniques through media observation and interviews. The results of this study explain that the Kasepuhan Bayah Indigenous Community is experiencing unrest by the construction and operational activities of the cement factory owned by PT. Cemindo Gemilang which destroys the environment. their cultural values which are very conservative towards nature make environmental issues quickly realized and become a shared responsibility. These issues include the loss of springs, polluted rivers, flooding, shipping mud, and marine pollution. This issue later became the basis of their resistance movement. The resistance movement is carried out directly by conducting demonstrations and planting trees continuously. Their consistency in this movement created a pattern of resistance that drew responses from many parties such as the general public and local media. Keywords: environmental justice, resistance, indigenous peoples, PT. Gemindo Gemilang. AbstrakTulisan ini akan membahas gerakan perlawanan Masyarakat Adat Kasepuhan Bayah terhadap PT. Cemindo Gemilang. Sederhananya tulisan ini akan terbagi kedalam dua bagian, pertama kita akan elaborasi mengenai keresahan yang dialami oleh Masyarakat Adat Kasepuhan Bayah terhadap PT. Cemindo Gemilang. Kedua, akan dibedah tentang bagaimana gerakan perlawanan tersebut dilakukan. Secara teoritis tulisan ini bertumpu pada dua teori utama yakni teori gerakan sosial dan teori keadilan lingkungan (Environmental Justice). kedua teori tersebut dianggap memiliki relevansi yang kuat dengan unit analisa dalam penelitian ini sehingga dapat membedah kasus secara tajam dan mendalam. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengambilan data melalui observasi media dan wawancara. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa Masyarakat Adat Kasepuhan Bayah mengalami keresahan oleh aktifitas pembangunan dan operasional pabrik semen milik PT. Cemindo Gemilang yang merusak lingkungan. Nilai-nilai kultural mereka yang sangat konservatif terhadap alam membuat isu lingkungan dengan cepat disadari dan menjadi tanggung jawab bersama. Isu ini meliputi hilangnya mata air, sungai yang tercemar, banjir, lumpur kiriman, dan pencemaran laut. Isu ini kemudian menjadi basis dalam gerakan perlawanan mereka. Gerakan perlawanan dilakukan secara langsung dengan cara melakukan demonstrasi dan penanaman pohon secara terus menerus. Konsistensi mereka dalam gerakan ini menciptakan pola perlawanan yang menuai respon banyak pihak seperti masyarakat umum dan media-media lokal.Katakunci:  keadilan lingkungan, resistensi, masyarakat adat, PT. Cemindo Gemilang.
Komparasi Agama Terkait Pembangunan Rumah Ibadah Antara Lebak dan Pandeglang Damayanti, Firda Afifah; Maulana, Jimas; Apriliana, Rasifa; Maknunah, Ridwanul; Aulia S, Riza
ijd-demos Volume 3 Issue 1 April 2021
Publisher : HK-Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37950/ijd.v3i1.81

Abstract

AbstractThis paper aims to dissect the concept of how to compare religions related to houses of worship between Lebak and Pandeglang. Today, social society has a lot of diversity, including ethnicity, language, race, and religion. With so many differences and social diversity, society tends to cause divisions in the community environment. The differences that are present in the community are fostered by a unity that respects one another. The study in this article describes the side of Indonesian pluralism, especially the social conditions of the religious community in Lebak Regency. The challenges that are present in forming unity and respecting differences in the concept of multicultural pluralism are not clashed with disagreements and respect for the differences that exist in each individual. Neither government regulations or policies, both central and regional, do not limit the space for minority communities. The concept that is present in the community will lead to love for unity and peace. Lebak is a district in Banten Province, which is tolerant of differences. In the condition of a society that respects each other and chats with tolerance, the culture of the community that is different from the individuals in the environment, is able to understand the character of every human being, so that hate speech about a group is almost non-existent. However, in contrast to neighboring districts, Pandeglang has become a district nicknamed the city of santri in Banten province, which is quite intolerant of non-Muslims. One of which is the community rejects the construction of non-Muslim places of worship in Pandeglang district. Of course this shows a clear allusion that looks like distinguishing the right to religion and worship only in Islam.Keywords: multiculturalism, pluralism, identity, comparison  AbstrakTulisan ini bertujuan untuk membedah konsep bagaimana Komparasi Agama Terkait Rumah Ibadah Antara Lebak dan Pandeglang. Dewasa ini sosial masyarakat  memiliki banyak keberagaman, baik suku, bahasa, ras, maupun agama. Dengan banyaknya perbedaan serta keberagaman sosial masyarakat cenderung menimbulkan perpecahan dalam lingkungan masyarakat tersebut. Perbedaan yang hadir ditengah masyarakat dipupuk dengan persatuan yang saling menghargai satu sama lain. Kajian dalam artikel ini mendeskripsikan sisi pluralism Indonesia terkhusus kondisi sosial umat beragama di Kabupaten Lebak. Tantangan yang hadir dalam membentuk persatuan dan saling menghargai perbedaan dalam konsep pluralism multikultularilsm tidak dibenturkan dengan perselisih­­ paham dan menghargai perbedaan yang ada pada setiap individu. Baik aturan atau kebijakan pemerintah baik pusat ataupun daerah, tidak membatasi ruang terhadap masyarakat minoritas. Konsep yang hadir ditengah masyarakat tersebut akan menimbulkan cinta persatuan dan perdamaian. Lebak merupakan kabupaten yang berada di Provinsi Banten, menjdi salah-satu daerah yang toleran terhadap perbedaan. Dalam kondisi masyarakat yang saling menghargai dan bercengkrama dengan toleransi, budaya masyarakat yang berbeda dengan individu yang ada di lingkungan tersebut, mampu memahami karakter setiap insan, sehingga ujaran kebencian akan suatu kelompok hampir tidak ada kasus. Namun beda dengan Kabupaten tetangganya, Pandeglang malah menjadi sebuah kabupaten yamng di juluki kota santri di provinsi Banten cukup intoleran terhadap non-muslim. Yang salah satunya masyarakat  menolak pembanguan rumah ibadah non-muslim di kabupaten pandeglang. Tentu hal ini menunjukan adanya singgungan jelas yang terlihat seperti membedakan hak beragama dan beribadah hanya ada pada agama islam.Kata Kunci: multikulturalisme, pluralisme, identitas, komparasi
Analisis Kebijakan Ketahanan Pangan di Kabupaten Bantul Aisyah, Ica Naisyah Tul; Purnomo, Eko Priyo; Kasiwi, Aulia Nur
ijd-demos Volume 2 Issue 2, August 2020
Publisher : HK-Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37950/ijd.v2i2.40

Abstract

The Regional Government of Yogyakrata City has provided food security in the city of Yogyakarta especially, in Bantul Region which has its own food security service. With the existence of the Department of Food Security and the availability of food security, it can help the local community to understand the needs and availability of food in the Bantul area. Then the Bantul area established a resilience policy in the Bantul area. if food security meets the applicable requirements, the community will not be malnourished. The impact if there is a lack of food, namely, malnutrition, poverty, a weak economy and so on. This study uses qualitative methods which can describe and explain about this research. The results of research on food security or food availability in the Bantul area by using existing policies. Pemerintah Daerah kota Yogyakrata telah menyediakan ketahanan pangan yang ada di Kota Yogyakarta khusunya, di Daerah bantul yang memiliki Dinas ketahanan pangan tersendiri. Dengan adanya Dinas Ketahanan pangan dan tersedianya ketahanan pangan tersebut maka dapat membantu masyarakat local untuk memenehui kebutuhan dan ketersedian pangan yang ada  di daerah Bantul. Kemudian daerah bantul menetapkan kebijakan ketahanan di daerah bantul. jika ketahanan pangan memenuhi syarat yang berlaku maka masyarakat tidak akan kekurangan gizi. Dampak jika terjadi kekurangan pangan yaitu, kekurangan gizi, kemiskinan, perekonomian lemah dan sebagainya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dimana dapat menggambarkan dan mejeleaskan tentang penelitian ini. Hasil penelitian ketahanan pangan atau ketersedian pangan di daerah Bantul dengan menggunakan kebikan yang ada.
Fenomena Gerakan Sosial Digital Mahasiswa Untirta Dengan Hastag #UntirtaKokPelit di Twitter Zulfika, Afifah; Sutejo, Yunus
ijd-demos Volume 3 Issue 3 December 2021
Publisher : HK-Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37950/ijd.v3i3.99

Abstract

AbstractThis research tries to see how digital social movements or digital movements carried out by UNTIRTA student voice their duties through online media during the pandemic period for the spread of the covid-19 virus. This research is important because it can see how social movements in a condition that do not support the gathering of people in a place but can still voice their entry. This study offers another approach in research because in this case it tries to see social movements due to limitations and becomes an alternative, but in other social movements it is done offline and directly in the field. Meanwhile, the focus of this research is on Sultan Agung Tirtauasa University, which is one of the public universities in Banten Province. This researcher sees the extent to which digital social movements can influence policy and become an alternative that is good or not used in situations like today.Keywords: digital movement, alternative social movement, untirta. AbstrakPenelitian ini mencoba melihat bagaimana gerakan sosial digital atau digital movement yang dilakukan oleh para mahasiswa UNTIRTA dalam menyuarakan tuntutannya melalui media secara online di masa pandemi untuk menghindari penyebaran virus covid-19. Riset ini menjadi penting karena dapat melihat bagaimana alternatif gerakan sosial dalam suatu kondisi yang tidak memungkinkan berkumpulnya orangnya dalam suatu tempat namun tetap dapat menyuarakan tuntutannya. Penelitian ini menawarkan pendekatan lain dalam penelitian karena dalam hal ini mencoba melihat gerakan sosial digital karena suatu keterbatasan dan menjadi suatu alternaltif namun dalam gerakan sosial lainnya dilakukan secara offline dan secara langsung dilapangan. Sementara fokus dari riset ini adalah pada Universitas Sultan Agung Tirtauasa yang merupakan salah satu universitas negeri di Provinsi banten. Peneliti ini melihat sejauh mana gerakan sosial digital dapat mempengaruhi kebijakan dan menjadi suatu alternatif yang baik atau tidaknya digunakan dalam situasi seperti saat pandemi saat ini.Kata Kunci: digital movement, alternatif gerakan sosial, untirta.
Citizens Relationship Management (CRM) in Jakarta: Does its work or not? Salsabila, Lubna; Dzinnun, Yusriah; Nurmandi, Achmad; Purnomo, Eko Priyo
ijd-demos Volume 2 Issue 3 December 2020
Publisher : HK-Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37950/ijd.v2i3.64

Abstract

AbstractLevel of citizen participation has increased in the advent of digital government. A significant change in participation behavior through the Government's web 3.0 platform occurred in 2017, right after the Government of DKI Jakarta decided to move to the new web 4.0 platform without removing the previous one. Findings revealed that there is an overlapping and confusion in the community since both platforms are still running in the same time. However, there has been a significant drop in the level of e-participation on the web 3.0 platform, and yet based on the number of reports, there is no indication that the community has moved to the web 4.0 platform. This academic paper will analysis either the implementation of the new platform is a good idea or not by comparing the data gathered from the government Citizens Relationship Management (CRM) platform and the previous platform. Data gathered were analyzed by referring to sustainable and replicability aspect. Moreover, a policy analysis on prior and subsequently the changes are needed to examine either a new policy would lead to a better good governance practiceKeywords:  e-government, integrated governance, smart city, DKI jakarta AbstrakTingkat partisipasi masyarakat meningkat dengan munculnya pemerintahan digital. Perubahan signifikan pada perilaku partisipasi melalui platform web 3.0 Pemerintah terjadi pada tahun 2017, tepat setelah Pemerintah DKI Jakarta memutuskan untuk pindah ke platform web 4.0 baru tanpa menghapus yang sebelumnya. Temuan mengungkapkan bahwa ada tumpang tindih dan kebingungan di komunitas karena kedua platform masih berjalan dalam waktu yang bersamaan. Namun, telah terjadi penurunan yang signifikan pada tingkat partisipasi elektronik pada platform web 3.0, namun berdasarkan jumlah laporan, tidak ada indikasi bahwa komunitas telah berpindah ke platform web 4.0. Makalah akademik ini akan menganalisis apakah implementasi platform baru itu ide yang baik atau tidak dengan membandingkan data yang dikumpulkan dari platform Citizens Relationship Management (CRM) pemerintah dan platform sebelumnya. Data yang terkumpul dianalisis dengan mengacu pada aspek keberlanjutan dan replikasi. Selain itu, analisis kebijakan tentang perubahan sebelumnya dan selanjutnya diperlukan untuk memeriksa apakah kebijakan baru akan mengarah pada praktik tata kelola yang lebih baik.Kata kunci: e-government, pemerintahan terintegrasi, smart city, DKI jakarta
Dynasty Control of the Process of Forming Coalition of Political Parties in the 2020 Cilegon Local Leaders Election Riyansyah, Abdul; Ferliana, Ferliana; Mayrudin, Yeby Ma'asan; Godjali, Moh. Rizky
ijd-demos Volume 3 Issue 3 December 2021
Publisher : HK-Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37950/ijd.v3i3.114

Abstract

Abstract This paper discusses the power of political dynasties in Cilegon in the process of forming a coalition of political parties in the 2020 Pilkada. The embodiment of political dynasties continues to be accommodated to perpetuate power by putting aside the track record of organizing experience both in parties and in state institutions. The theory used in this study is the theory of political dynasties and party coalitions. The research method uses a qualitative study with an explanatory case study approach. The focus of this study is to explain how coalition maps are formed and how the influence of dynasties on political parties. The results of this study indicate that the strong influence of political dynasties in Cilegon arises because of the power that has been held since Cilegon City was founded after Banten officially became a province. At that time the elected mayor was Tubagus Aat Syafaat and continued with his sons Tubagus Iman Ariyadi and Ratu Ati Marliati until the 2020 Local Leader Election. The family mainly used the Golkar Party and lower-middle parties to perpetuate their power to form the Minimum Winning Coalition model so that passed the nomination process. Keywords: political dynasty; party coalition; pilkada; cilegon cityAbstrak Tulisan ini membahas kekuatan dinasti politik yang ada di Kota Cilegon dalam proses pembentukan koalisi partai politik di Pilkada tahun 2020. Pengejawantahan dinasti politik terus diakomodasi untuk melanggengkan kekuasaan dengan menyampingkan rekam jejak pengalaman pengorganisasian baik di partai maupun di kelembagaan negara. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori dinasti politik dan koalisi partai. Adapun metode penelitian menggunakan kualitatif dengan pendekatan studi kasus eksplanatoris. Fokus kajian ini yaitu mengupas tentang bagaimana peta koalisi terbentuk dan bagaimana pengaruh dinasti terhadap partai-partai politik. Adapun hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengaruh kuat dari dinasti politik di Cilegon muncul akibat dari kekuasaan yang dimiliki sejak Kota Cilegon berdiri setelah Banten resmi menjadi Provinsi. Saat itu yang terpilih sebagai Walikota yaitu Tubagus Aat Syafaat dan dilanjut dengan anaknya Tubagus Iman Ariyadi dan Ratu Ati Marliati sampai pada saat Pilkada 2020. Keluarga tersebut memanfaatkan utamanya Partai Golkar dan partai-partai menengah-bawah untuk melanggengkan kekuasaannya untuk membentuk model Minnimal Winning Coalition agar lolos proses pencalonannya. Kata Kunci: dinasti politik; koalisi partai; pilkada; kota cilegon 
Model Structure Of Public Policy Based On Social Learning Onto Intolerant In Pandeglang District, Banten, Indonesia Nugroho, Kandung Sapto; Rahayu, Rahayu; Adnan, Muhammad; Warsono, Hardi
ijd-demos Volume 2 Issue 2, August 2020
Publisher : HK-Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37950/ijd.v2i2.53

Abstract

This research aims to design a model of public policy drafting in governance that can ensure the continuity of democratic principles. The principle of justice and equality both economically, socially, and politically are these foundations of democracy. If this principle is applied in the running of the government management process will be able to guarantee every individual citizen so that good governance is achieved. This approach of research with Positivistic with survey method through a closed questionnaire that has been done test validity, normality, reliability of the questionnaire to the leader of regional device organization in Pandeglang District government environment. This research will contribute to the mechanism of public policy retrieval with the primary mission to minimize potential conflicts. Please note that in 2011 in Pandeglang District, there had been a religious conflict in the case of Cikeusik Ahmadiyah, and by Tirto.id, Banten declared as the Intolerant region. The results of this study show that government bureaucracy in providing public services such as education, health, and religion has paid attention to the aspects of equalization and social justice, but it requires acceleration for bureaucracy related to the challenges of growing public problems. The influx of the 4.0 Industrial Revolution is aligned with the disruption era, the bureaucracy has to make adjustments to provide public service with typical generations of baby boomers, generation X, millennial generation even now already on Z generation and Alpha generation are already native to the Internet. Penelitian ini bertujuan untuk merancang model penyusunan kebijakan publik dalam tata pemerintahan yang dapat menjamin kelangsungan prinsip demokrasi. Prinsip keadilan dan kesetaraan baik secara ekonomi, sosial, dan politik adalah fondasi demokrasi tersebut. Apabila prinsip ini diterapkan dalam menjalankan proses pengelolaan pemerintahan akan dapat menjamin setiap individu warga negara sehingga tercapai tata pemerintahan yang baik. Pendekatan penelitian ini bersifat positivistik dengan metode survei melalui angket tertutup yang telah dilakukan uji validitas, normalitas, reliabilitas angket kepada pimpinan perangkat perangkat daerah di lingkungan Pemerintah Kabupaten Pandeglang. Penelitian ini akan berkontribusi pada mekanisme pengambilan kebijakan publik dengan misi utama meminimalisir potensi konflik. Perlu diketahui bahwa pada tahun 2011 di Kabupaten Pandeglang pernah terjadi konflik agama dalam kasus Ahmadiyah Cikeusik, dan oleh Tirto.id, Banten dinyatakan sebagai Daerah Intoleran. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa birokrasi pemerintah dalam memberikan pelayanan publik seperti pendidikan, kesehatan, dan agama telah memperhatikan aspek pemerataan dan keadilan sosial, namun diperlukan percepatan birokrasi terkait dengan tantangan permasalahan publik yang semakin berkembang. Masuknya Revolusi Industri 4.0 ini selaras dengan era disrupsi, birokrasi harus melakukan penyesuaian untuk memberikan pelayanan publik dengan tipikal generasi baby boomer, generasi X, generasi milenial bahkan sekarang sudah ada generasi Z dan generasi Alpha sudah asli Internet. 
Bagaimana Polisi Menangani Kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT): Studi Kasus Polrestabes Semarang Anggraeni, Anggia Putri; Ardianto, Hendra Try
ijd-demos Volume 2 Issue 3 December 2020
Publisher : HK-Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37950/ijd.v2i3.68

Abstract

This article aims to understand how the police handle cases of Domestic Violence (KDRT), in particular by seeing to what extent the handling is sensitive to victims. Using the case study method, the authors conducted a qualitative analysis with research work that relied on data from the police, victims, and non-governmental organizations that provide legal assistance to victims of domestic violence. The findings in this study indicate that the handling of domestic violence cases using a restorative justice approach is much more effective than a retributive approach. The conclusion of this article shows that normatively there is a good understanding from the police to handle domestic violence issues so that they are more sensitive to victims. However, the limited number of officers, especially female officers, often appears as an obstacle to providing better victim-sensitive services. Artikel ini bertujuan untuk memahami bagaimana pihak kepolisian menangani kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), khususnya dengan melihat seberapa jauh penanganan tersebut memiliki sensitifitas terhadap korban. Dengan menggunakan metode studi kasus, penulis melakukan analisis kualitatif dengan kerja penelitian yang mengandalkan data dari pihak polisi, korban, dan lembaga non-pemerintah yang memberi bantuan hukum korban KDRT. Temuan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa penanganan kasus KDRT dengan pendekatan keadilan restoratif jauh lebih efektif dibandingkan dengan pendekatan retributif. Kesimpulan dari artikel ini memperlihatkan bahwa secara normatif sudah adanya pemahaman yang baik dari pihak polisi untuk menangani persoalan KDRT agar lebih sensitif terhadap korban. Walaupun demikian, keterbatasan jumlah petugas, khususnya dari petugas perempuan, seringkali muncul sebagai hambatan untuk memberikan layanan yang sensitif korban menjadi lebih baik. 
Perbandingan Implementasi Smart City di Indonesia: Studi Kasus: Perbandingan Smart People di Kota Surabaya dan Kota Malang Pramesti, Dyah Ratna; Kasiwi, Aulia Nur; Purnomo, Eko Priyo
ijd-demos Volume 2 Issue 2, August 2020
Publisher : HK-Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37950/ijd.v2i2.61

Abstract

This study focuses on the problem of smart people as an indicator of the success of smart cities in Surabaya and Malang. Smart people are one of the supporting dimensions of the creation of a smart city or what is called a Smart City (Zubizarreta, Seravalli, And, Arrizabalaga, 2016). So that the factors that make a city smart, one of which is measured by the quality of its human resources; which includes the human development index which is measured by how the level of unemployment, poverty level, health problems, and also seen from the aspect of public knowledge in receiving information, disseminating information, related to the development of creativity carried out and also the inclusiveness of empowering activities carried out by several people. (Iyer, 2018). In addition, the activities that are encountered in the city of Surabaya in community activities, already have quite innovative and creative networks. Meanwhile, Malang City is still heading for the stage of good quality. There needs to be motivation and encouragement so that Malang City is able to follow in the footsteps of the development of smart people in the city of Surabaya.Penelitian ini berfokus pada masalah smart people sebagai indicator keberhasilan smart city di Kota Surabaya dan Kota Malang. Smart people merupakan salah satu dimensi pendukung dari terwujudnya kota pintar atau yang disebut dengan Smart City (Zubizarreta, Seravalli, And, Arrizabalaga, 2016). Sehingga faktor-faktor yang menjadikan sebuah kota dapat dikatakan pintar salah satunya diukur dari kualitas sumber daya manusianya; yang meliputi dari indeks pembangunan manusianya yang diukur dari bagaimana tingkat pengamgguran, tingkat kemiskinan, masalah kesehatan, dan juga dilihat dari aspek pengetahuan masyarakat di dalam menerima informasi, menyebarkan informasi, terkait dengan penumbuhan kratifitas yang dilakukan dan juga inklusivitas pemberdayaan kegiatan yang dilakukan oleh beberapa orang (Iyer, 2018).  Selain itu, aktifitas yang ditemui di Kota Surabaya dalam kegiatan komunitasnya, sudah memiliki jaringan yang cukup inovatif dan juga kreatif. Sedangkan untuk di Kota Malang masih menuju tahapan kualitas yang baik. Perlu adanya motivasi dan dorongan supaya Kota Malang mampu mengikuti jejak perkembangan smart people yang ada di Kota Surabaya.

Page 5 of 28 | Total Record : 280