cover
Contact Name
I Nyoman Santiawan
Contact Email
inyomansantiawan@gmail.com
Phone
+6281229463400
Journal Mail Official
inyomansantiawan@gmail.com
Editorial Address
Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten Jawa Tengah Dukuh Macanan Baru, Morangan, Mojayan, Kec. Klaten Tengah, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah 57414 Telepon: (0272) 3352795
Location
Kab. klaten,
Jawa tengah
INDONESIA
Widya Aksara: Jurnal Agmaa Hindu
ISSN : 2085272X     EISSN : 26589832     DOI : -
Widya Aksara : Jurnal Agama Hindu merupakan Jurnal Sosial, Budaya dan Agama Hindu yang menerbitkan hasil penelitian atau pemikiran tentang studi agama dan studi sosial dan budaya menggunakan perspektif interdisipliner. Lingkup Widya Aksara : Jurnal Agama Hindu adalah: Studi agama Hindu seperti Fisafat, Etika dan Upacara Studi sosial dan budaya seperti sosiologi masyarakat Hindu Sumber pengajaran terkait: studi agama, pemikiran Hindu, filsafat Hindu, studi pendidikan agama Hindu, studi penerangan agama dan kajian budaya
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 25 No 2 (2020)" : 11 Documents clear
KINERJA PENYULUH AGAMA HINDU NON PNS DITINJAU DARI FUNGSI PENYULUH DI MASA PANDEMI COVID- 19 Sugiman; I Nyoman Santiawan
Widya Aksara Vol 25 No 2 (2020)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyuluh Agama Hindu merupakan ujung tombak pembinaan umat Hindu disetiap daerah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja penyuluh agama Hindu Non PNS Kementerian Agama Daerah Istimewa Yogyakarta ditinjau dari fungsi penyuluh agama di masa pandemic Covid- 19. Metode penelitian ini menggunakan metode pengambilan data dengan obeservasi dan wawsncara lansung dengan pihak pihak yang terkait seperti tokoh umat, penyuluh, bimas Hindu DIY dan beberapa umat sekitar DIY. Pengolahan data pada penelitian ini menggunakan 3 tahap, yang pertama reduksi data, penyajian data kemudian disimpulkan dan diverifikasi untuk mendapatkan data yang benar-benar relevan dan tingkat akurat yang tinggi. Kreteria/ Indikator fungsi yang akan digunakan untuk mengetahui kinerja Penyuluh Agama Hindu ada 4 kreteria yang akan dinilai,1. Funsgi Informatif, 2. Fungsi Edukatif, 3. Fungsi Konsultatif dan 4. Fungsi Advikatif. Dari keempat kreteria tersebut hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Penyuluh mampu menjalakan fungsinya walaupun dalam kondisi pandemic covid-19. Hasil penelitian dari keempat fungsi tersebut adalah: 1. Penyuluh berberan aktif dalam menyapaikan informasi terkait peraturan pemerintah yang berkaitan dengan penanggulangan Covid- 19. 2. Penyuluh mampu menjalankan tugasnya fungsi edukatif dengan melakukan penyuluhan/ pembinaan daring, membuat koneten tulisan, membuat video pendek yang disebarkan di social media. 3. Penyuluh menjadi garda terdepan dalam menerapkan peraturan pemerintah untuk pelaksanaan ibadah dirumah ibadah sesuai peraturan pemerintah. 4. Penyuluh memberikan pendampingan kepada umat yang terdampak Covid-19 yang bagi beberapa warga yang menerima tuduhan terpapar Covid-19. Dari hasil tersebut kesimpulan penelitian ini adalah Penyuluh Agama Hindu Non PNS mampu melaksanakan kinerja dengan baik dan sesuai fungsinya walaupu di masa pandemi Covid-19. Bahkan para penyuluh memiliki peran yang sangat besar dalam penanggulangan Covid- 19 dengan menjadi rewalan untuk mendata, memverifikasi dan mendistribusikan bantuan untuk umat Hindu yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta.
AIR DALAM KEHIDUPAN : PEMANFAATAN, PENGELOLAAN, DAN PELESTARIAN Nanik Sri Prihatini
Widya Aksara Vol 25 No 2 (2020)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Air sangat dibutuhkan oleh makhluk hidup, air juga bermanfaat untuk penyembuhan dan dalam upacara keagamaan air digunakan untuk penyucian atau membuang segala kotoran pada bumi dan segala isinya. Fenomena saat ini telah berbeda, nampaknya telah terjadi kemunduran penghargaan terhadap air. Pencemaran terhadap air, dengan membuang limbah yang beracun ke air yang mengalir atau sungai. Air disedot sebagai air produksi untuk mencari keuntungan semata atau dijual. Sumber air yang ada di lereng pegunungan ditutup untuk bangunan vila yang megah. Sungguh menyedihkan kalau tidak ada kontrol secara baik. Untuk itulah mari kita merenung untuk memaknai air secara mendalam, sifat-sifat air kita gunakan sebagai acuan dalam hidup kita. Dalam budaya tentang melihat air, berbagai pemikiran, pemahaman masyarakat tentang air merupakan proses budaya dan melahirkan perilaku terhadap air yang berbeda-beda. Memandang air dari perspektif Hindu dan seni, sebagai hiburan atau santapan rohani. Dengan memaknai air dari perspektif Hindu, air sebagai sarana penyucian atau pembersihan selalu akan dibutuhkan, dengan demikian sumber air harus selalu dirawat dan dijaga kesuciannya. Tindakan budaya yang dilakukan menurut kedua sudut pandang tersebut setidaknya merupakan upaya secara tradisi untuk ikut melestarikan, memanfaatkan dan mengelola air.
IDENTIFIKASI DEWA-DEWA DALAM REG WEDA MANDALA I Sujaelanto
Widya Aksara Vol 25 No 2 (2020)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Reg weda adalah kitab suci Hindu berbentuk mantra yang dipercaya sebagai wahyu Tuhan dan diterima oleh maha rsi. Mantra reg weda menggunakan bahasa Sanskerta yang kaya dengan nilai estetika dan tersusun sangat rapi dengan menggunakan bentuk chanda yang indah. Reg Weda Mandala I adalah bagian Weda Sruti yang terdiri 1944 mantra yang tersebar dalam 192 sukta. Setiap Sukta terdapat beberapa mantra yang dinyanyikan melalui candha. Selain itu di setiap Sukta terdapat berbagai nama rsi, dewa yang dipuja. Masih banyak anggapan dan membandingkan jikalau dewa yang banyak itu disamakan dengan Tuhan. Itu pengertian yang tidak benar. Dewa adalah salah satu sifat Tuhan. Dewa-dewa dalam Hindu sangat banyak jumlahnya. Walaupun nama dewa banyak, tetapi Hindu hanya menganut pada Tuhan yang esa. Nama dewa-dewa apa saja yang terdapat dalam Reg weda mandala I ?. Dalam artikel ini akan membahas nama-nama dewa. Dalam pengumpulan data untuk mengidentifikasi nama dewa menggunakan metode simak dan baca berulang-ulang. Buku sumber utama sebagai bahan penggalian data adalah Reg Weda oleh Gede Puja,SH.MA dan W Sandhi,BA tahun terbit 1979/80 cetakan kedua tanpa ada nama penerbit. Dari hasil yang didapat bahwa nama dewa-dewa dalam Reg Weda Mandala I adalah ; Agni, Aditi/aditya, Anu, Apah, Anna, Aptrina, Aryama, Aswa, Aswin, Banaspati, Barhi, Bhaga, Bharati, Bhawayavya, Brahmanaspati, Brhaspati, Daksina, Dasagwa, Drawinoda, Dwara, Drahyu, Dyaus, Gana, Hotara, illa, Indu, Indra, Jatawada, Kesina, Kutsa, Mahi, Marutt, Maghawa, Matariswa, Mitra, Narasamsa, Nasatya, Parjaya, Parwata, Pertiwi, Prachet, Prajapati, Puru, Pushan, Rati, Rbhu, Romasa, Rudra, Sadasapati, Sadhya, Sacra, Saraswati, Satakratu, Sawita, Sindhu, Soma, Sunrta, Surya, Swaha, Swanarya Danastuti, Tanunapat, Trita, Twastar, Ulukhala, Usanakta, Usas, Utarardha, Waja, Waiswanara, Wak, Waruna/Baruna, Wasu, Wata, Wayu/Bayu, Wibhwan, Wisnu, Wiswadewa, Yadus, Yupa.
KASUS PENYALAHGUNAAN NARKOBA PADA REMAJA HINDU DI JAKARTA BARAT (STUDI KOMUNIKASI INTERPERSONAL) Pitri Widyowati; NGAK. Kurniasari; Wayan Arif Sugiarta
Widya Aksara Vol 25 No 2 (2020)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyalahgunan narkoba di zaman kini merupakan ancaman yang sangat serius, bahkan pemerintah Republik Indonesia telah menetapkan bahwa penyalahgunaan narkoba menjadi bahaya laten, setara dengan bahaya paham komunis, teroris dan korupsi. Narkoba telah merambah kesegala lapisan masyarakat tanpa memilih, jenis kelamin, profesi, status ekonomi, status sosial, pendidikan, sampai kepada wakil rakyat yang terhormat, bahkan penegak hukumpun menjadi sasaran narkoba. Di dalam ajaran agama Hindu penyalahgunaan narkoba merupakan perbuatan Mada yang termasuk di dalam pemahaman Sad Ripu, yaitu enam sifat buruk yang melekat pada setiap diri manusia yang harus dikendalikan. Sebagai rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Bagaimana Pola Komunikasi Orangtua dan Anak dalam memberikan pemahaman Sad Ripu serta Bagaimana Pola Komunikasi Orangtua dan Anak terkait penyalahgunaan narkoba pada remaja. Penelitian ini menggunakan Teori Analisis Transaksional Erick Berne. Adapun sebagai hasil penelitian ini adalah Pola komunikasi memiliki keterkaitan dengan pemahaman Sad Ripu orang tua dan anak dalam mengaplikasikan pemahaman Sad Ripu terkait dengan penyalahgunaan narkoba.
IMPLEMENTASI AJARAN TRI HITA KARANA DALAM PENDIDIKAN AGAMA HINDU SISWA SDN PETUNGSEWU DUSUN CODO DESA PETUNGSEWU KECAMATAN WAGIR KABUPATEN MALANG Made Dwiana Musatawan
Widya Aksara Vol 25 No 2 (2020)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ajaran Tri Hita Karana dalam pendidikan agama hindu merupakan upaya dalam mengembangkan ketiga aspek yaitu koknitif, Afektif, dan Psikomotor. Pola penerapan Tri Hita Karana dalam meningkatkan karakter siswa meliputi: penerapan ajaran Parahyangan yang pelaksanaannya yaitu melaksanakan sembahyang Tri Sandhya, melakukan doa awal belajar dan doa selesai belajar. Penerapan ajaran Pawongan dengan menumbuh kembangkan kesadaran siswa untuk menaati tata tertib sekolah, melaksanakan ajaran susila dan saling tolong-menolong dengsn sesamanya terutama dalam ajaran Tri Kaya Parisudha. Penerapan ajaran Palemahan yang pelaksanaannya yaitu siswa diajarkan untuk menjaga kelestarian lingkungan sekitar baik di lingkungan keluarga, lingkungan sekolah maupun di lingkungan masyarakat. Adapun rumusan masalah dari penelitian ini adalah (1) Bagaimanakah bentuk Implementasi Ajaran Tri Hita Karana Dalam Pendidikan Agama Hindu Siswa SDN Petungsewu Dusun Codo desa Petungsewu Kecamatan wagir Kabupaten Malang, (2) Bagaimanakah dampak Implementasi Ajaran Tri Hita Karana Dalam Pendidikan Agama Hindu Siswa SDN Petungsewu Dusun Codo desa Petungsewu Kecamatan wagir Kabupaten Malang. Hasil penelitian ini menemukan bahwa hasil belajar pendidikan agama Hindu yang diperoleh dari hasil pengukuran terhadap 27 siswa menunjukkan bahwa rata-rata siswa sudah mengerti ajaran agama yang dianutnya, siswa sudah dapat menghafal mantram Tri Sandhya, menghormati dan menghargai sesama serta dapat menjaga lingkungan sekitar.
PERAN PASRAMAN ASTIKA SIDHI DALAM MENUMBUHKAN SRADHA DAN BHAKTI GENERASI MUDA HINDU DI KABUPATEN KLATEN JAWA TENGAH Edi Sutrisno; Dewi Ayu Wisnu Wardani
Widya Aksara Vol 25 No 2 (2020)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan memiliki peran yang sangat penting, bangsa besar pasti memiliki sistem pendidikan yang baik. Begitu pula dengan pendidikan agama, pemerintah sudah mengatur pendidikan agama dan pendidikan keagamaan dalam PP No 55 Tahun 2007 dan PMA No 56 Tahun 2014. Pasraman Astika Sidhi merupakan pasraman pemersatu dari pasraman-pasraman yang ada di daerah dan selalu diminati oleh generasi muda Hindu yang ada di Kabupaten Klaten. Pelaksanaan pasraman Astika Sidhi dilaksanakan di aula gedung pitamaha dan STHD Klaten Jawa Tengah untuk peserta kategori anak dan ditempat yang berbeda-beda setiap tahunnya untuk peserta kategori dewasa dan umum. Peran pasraman Astika Sidhi adalah turut serta mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mendukung dan menerapkan PP No 55 tahun 2007 dan PMA No 56 tahun 2014, mencetak generasi muda Hindu yang memiliki jiwa kepemimpinan berkualitas, memberikan wadah untuk ajang berkumpul generasi muda Hindu di Klaten Jawa Tengah, dan sebagai ikon tahunan generasi muda Hindu di Klaten Jawa Tengah. Dampak positif dari kegiatan pasraman Astika Sidhi yaitu, membentuk kaderisasi pengurus organisasi PGHD, mewujudkan kerukunan generasi muda Hindu di Klaten, dan memotivasi generasi muda Hindu di Klaten. Harapan kedepan seluruh elemen agama Hindu di Indonesia pada umumnya dan elemen Hindu di Klaten Jawa Tengah pada khususnya untuk memaksimalkan pengelolaan pasraman mingguan di masing-masing daerah bahkan bisa menjadi pasraman formal, sehingga kita mampu bersaing dengan pendidikan keagamaan dari agama lain. .
KONSEP MONOTHEISME BHAGAWAD GITA PANDANGAN SAD DARSANA Gatot Wibowo; Suranto
Widya Aksara Vol 25 No 2 (2020)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research). Obyek materialnya adalah konsep monotheisme dalam teks Bhagawadgita dan Ramayana, sedangkan obyek formalnya Sad Darsana. Sebagai penelitihan kepustakaan (teks), penelitian ini menggunakan metode ; Deskriptif, Interprestasi, Dialegtis, Koherensi Intern, dan Idealisasi. Kemudian dari kesatuan metode tersebut di analisis berdasarkan teori Intertekstualitas dan Hermeneutik. Melalui cara tersebut, maka pilar benang merah analisis atas konsep monotheisme dapat dijelaskan secara lebih dalam. Penelitian ini dilakukan untuk menjawab permasalahan pokoknya tentang konsep monotheisme menurut pandangan Sad Darsana, secara filosofis definitive dan etimologis barat dan timur dalam konsep Hinduisme. Analisis data konsep ini memberikan pemetaan bagaimana dasar pemahaman berpikir penganut Veda dalam menyatakan dan menghubungkan dirinya ketika dinamika Hinduisme itu sendiri realitasnya tak terelakkan berkembang dan menjiwai dalam Desa, Kala, dan Patra. Pandangan ketuhanan Hinduisme seyogyanya dirujukan kepada suatu sistem Vedik yang jelas ketika stratifikasi tingkat keilmuannya menjadi dinamis. Aspek komparatifnya bagi topik utama penelitian ini lebih merujuk kepada bagaimana melihat aspek ketuhanan tertinggi monotheisme teks Bhagavadgita dan Ramayana melalui pemahaman sistem filsafat Hindu
PERAN PEMIMPIN HINDU DALAM MEMIMPIN MASYARAKAT HINDU Titin Sutarti
Widya Aksara Vol 25 No 2 (2020)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemimpin adalah pengayom, mengayomi dan melindungi rakyat yang berada dalam kekuasaannya. Membentuk generasi yang kuat, militant, dan memiliki kemampuan untuk memimpin, serta terciptanya suasana kehidupan masyarakat Hindu yang dinamis, kondusif, dan konstruktif dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan peradaban sesuai dengan cita-cita luhur ajaran kitab suci, merupakan tugas pokok, kewajiban, dan fungsi kepemimpinan Hindu kini dan mendatang. Merupakan suatu kewajiban dari seorang pemimpin yang telah mendapatkan pengesahan untuk melindungi dan menata sehingga seluruh kehidupan menjadi baik. Kehidupan masyarakat Hindu yang modern, ialah sebuah kehidupan yang dinamis dan konstruktif. Pemimpin merupakan seseorang yang menggunakan kemampuannya, sikapnya, nalurinya, dan kepribadiannya untuk menciptakan suatu keadaan, sehingga orang lain yang dipimpinnya dapat saling bekerja sama untuk mencapai tujuan. Dalam pelaksanaan tugasnya setiap pemimpin memiliki ciri khas gaya atau karakteristik yang berbeda dari satu dengan yang lain dikarenakan sifat kepribadian tiap pemimpin berbeda. Kehidupan pada aspek Jagadhita dapat terpenuhi tanpa sedikitpun mengesampingkan aspek rokhaniahnya (moksa). Taraf hidup harkat dan martabat serta keberadaban kehidupan umat Hindu semakin terangkat, sehingga menjadikan masyarakat Hindu memiliki daya tawar bahkan bisa menjadi agen perubahan kearah yang lebih baik bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Seorang pemimpin harus mampu menumbuh-suburkan dalam diri para anggota dan teman-teman pengurus, kemauan untuk melakukan berbagai penyesuaian yang diperlukan. Artinya preferensi pribadi harus diabdikan / disumbangkan kepada kepentingan dan tuntutan organisasi / lembaga, yang diterjemahkan oleh pemimpin ke dalam strategi, kebijakan, berbagai keputusan, dan praktek-praktek operasional.
NILAI NILAI PENDIDIKAN ETIKA PADA RELIEF CANDI SOJIWAN Mino; Putu Budiadnya
Widya Aksara Vol 25 No 2 (2020)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Relief Candi Sojiwan. Fokus permasalahan yang menjadi pokok bahasan ini adalah: Nilai Pendidikan Etika Relief Candi Sojiwan. Metode penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Sumber data dalam penelitian ini diperoleh dari berbagai narasumber, sumber tertulis dan foto guna memperoleh data yang diperlukan. Penulis menggunakan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, studi pustaka, dan pendokumentasian. Proses analisis data dengan melalui tahapan pengumpulan data, reduksi data, sajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian dari Studi Bentuk dan Makna Relief Candi Sojiwan adalah : (1) bentuk relief candi Sojiwan keseluruhannya berjumlah 14 relief terbuat dari batu andesit berwarna abu-abu, berbentuk balok dalam bentuk panil-panil berukuran 30 cm x 30 cm dan 30 cm x 50 cm yang dihias dengan ukiran datar bermotif manusia dan binatang yang disusun sedemikian rupa di dinding candi pada bagian kaki candi sehingga membentuk relief utuh, dalam satu adegan relief berjumlah 6 hingga 9 balok batu. (2) adegan relief Candi Sojiwan dipetik dari cerita fabel Pancatantra dan Jataka yaitu cerita tentang kehidupan dalam agama budha. Adegan relief bercitarasa penuh dengan unsur spiritualitas, mengandung ajaran moral yang masih relepan sampai sekarang
PENDIDIKAN KARAKTER REALISASI TRI HITA KARANA DAN NILAI PANCASILA DI PURA MANDIRA SETA BALUWARTI SURAKARTA Widhi Astuti; Nukning Sri Rahayu
Widya Aksara Vol 25 No 2 (2020)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pura Mandara Seta Terletak di lingkungan Karaton Kasunanan Surakarta, secara kedaerahan termasuk Kalurahan Baluwarti, Kecamatan Pasar Kliwon, tepatnnya dalam area Karaton Kasunanan Surakarta terletak di bagian timur laut. Untuk memberi gambaran yang lebih jelas dan lebih rinci maka penelitian menggunakan metode analisis kualitatif, yang mengacu pengupasan pelaksanaan pendidikan karakter bagi yang belajar mengenai keagamaan di Pura Mandara Seta tersebut. Gambaran pelaksanaan pendidikan karakter melalui realisasi Tri Hita Karana dan Nilai Pancasila di Pura Mandira Seta ini seiring sejalan dengan perkembangan pemikiran bapak RW Hardjanta sebagai pendiri pura tersebut. Agar pelaksanaan pendidikan karakter ini terarah dibentuklah Yayasan Sanatana Dharma Majapahit dan Pancasila ( Sadhar – mapan ) dan didirikan Pura Mandira Seta untuk melaksanakan kegiatan. Fungsi pendidikan karakter tersebut membentuk manusia indonesia yang berkepribadian kuat mewarisi ajaran agama Hindu yang berkembang pada Jaman Majapahit dan dapat menerapkannya dalam negara Pancasila. Ajaran Tri Hita Karana dengan berpedoman Pustaka Suci Weda dan pustaka – pustaka suci Hindu yang ada di Indonesia, India dan negeri Belanda, sebagai acuan dalam pelaksanaanya. Pokok pemikiran bapak Hardjanta, mendidik umat Hindu untuk membangkitkan pelaksanaan diri mencapai kebahagiaan secara vertikal (batin) dan kebahagian horizontal ( lahir )sehingga dapat berguna bagi diri sendiri maupun masyarakat, bangsa dan negara serta alam seisinnya Substansi penelitian adalah pendidikan karakter, fungsi, makna melalui realisasi Tri Hita Karana dan Nilai Pancasila di Pura Mandira Seta Baluarti, Surakarta.

Page 1 of 2 | Total Record : 11