cover
Contact Name
Adhitya Yudha Pradhana
Contact Email
buletinpalma@gmail.com
Phone
+62431-812430
Journal Mail Official
buletinpalma@gmail.com
Editorial Address
Jalan Raya Mapanget, Manado 95001
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Buletin Palma
ISSN : 1979679X     EISSN : 25287141     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Buletin Palma memuat artikel hasil-hasil penelitian kelapa dan palma lainnya. GENERAL REQUIREMENTS Bulletin of Palma is a peer-reviewed and open access journal that publishes significant and important research finding on coconut and other palm research results. SCOPE Scope of Bulletin of Palma are: 1. Scope of science: Agricultural Microbiology, Agricultural Socio-Economics, Agronomy, Bioetechnology, Plant Breeding, Plant pathology, Plant Protection, Plant Physiology, Soil Science, Seed Technology, Primary Post Harvest, Climate science, Genetic resources, Entomology,Farming system, Environment, Agricultural extension 2. Scope of commodities : spice, medicinal, aromatic and industrial crops The journal publishes Indonesian or English articles.
Articles 220 Documents
SELEKSI DAN HIBRIDISASI LONTAR [SELECTION AND HYBRIDIZATION OF PALMYRA] Tulalo, Meity; Mawardi, Sukmawati; Mahayasa, Nyoman; Wagiman, Fransiskus Xaverius; Novarianto, Hengky
Buletin Palma Vol 21, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v21n1.2020.38-46

Abstract

Palmyra palm (Borassus flaballifer, L) is a specific crop in dry climate dry land. The purpose of this research is to select the male and female parent Palmyra trees, hybridization, germination and nursery of Palmyra hybrids. The research was carried out on Sabu Island, Sabu Raijua Regency, East Nusa Tenggara Province from 2017 to 2018. The research method was carried out by determining the population of lontar, followed by selection of female and male palm trees, experiments on collecting male flowers and pollen processing on male Palmyra trees. In the female palm tree, fruit bunches are selected that have not been receptive, when receptive and hybridization until the fruit is physiologically ripe, the pollination is controlled using a spout. The results of the selection of the parent palm trees obtained 28 selected parent trees female Palmyra and 12 selected parent trees male Palmyra. The average height of female selected parent trees is 6.67 m and male selected parent trees are 5.08 m. The observations found that the diversity of the number of female flowers between 9-35 fruits/bunches The percentage of fruit so this artificial cross is 54.90%. Mature fruits ready-to-harvest are obtained around 5-6 months after pollination. As many as 77.20% of the hybrid Palmyra palm seeds that are germinated grow and are ready to be planted at 7 months after germination. ABSTRAKTanaman lontar (Borassus flaballifer, L)  merupakan tanaman spesifik di lahan kering iklim kering. Tujuan penelitian adalah melakukan seleksi pohon induk lontar jantan dan betina, melakukan hibridisasi, perkecambahan dan pembibitan lontar Hibrida. Penelitian dilaksanakan di pulau Sabu, Kabupaten Sabu Raijua, Provinsi Nusa Tenggara Timur sejak tahun 2017 sampai 2018. Metode penelitian dilakukan dengan menetapkan populasi lontar, seleksi pohon induk lontar betina dan jantan dilanjutkan dengan pengumpulan bunga jantan serta prosesing polen. Pada pohon lontar betina dilakukan seleksi tandan buah yang belum reseptif, saat reseptif dan hibridisasi sampai buah matang fisiologis melalui penyerbukan secara terkontrol menggunakan kerodong. Hasil seleksi pohon induk lontar diperoleh 28 pohon induk terpilih (PIT) lontar betina dan 12 pohon induk terpilih (PIT) lontar jantan. Rata-rata tinggi pohon induk terpilih betina yaitu 6,67 m dan pohon induk terpilih jantan 5,08 m. Hasil pengamatan ditemukan keragaman jumlah bunga betina antara 9-35 buah/tandan. Persentase buah jadi persilangan buatan ini adalah 54,90%. Buah matang siap panen diperoleh sekitar 5-6 bulan sejak polinasi. Sebanyak 77,20% dari benih Lontar hibrida yang dikecambahkan tumbuh dan siap ditanam pada umur 7 bulan setelah dikecambahkan.
Implementasi Teknologi Peningkatan Produktivitas Lahan Kering Di Bawah Tegakan Kelapa di Maluku Utara [Implementation Technology to Productivity Increase at Dryland under Coconut in North Maluku] Hidayat, Yayat; Lala, Fredy; Suwitono, Bayu; Aji, Himawan B; B, Bram
Buletin Palma Vol 21, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v21n1.2020.11-21

Abstract

Coconut land in North Maluku is potential to implement polyculture farming. Corn and soybeans are food commodities that can be used as intercrops among coconut stands to increase farmers' income. The purpose of this study was to determine the feasibility of land productivity and farming of polycarbonate systems under coconut stands as well as farmers' preferences for cultivation technology innovation. The research was carried out from May to October 2018 on coconut land owned by farmers in Bumirestu Village, East Halmahera Regency, North Maluku. The study applied integrated crop management (PTT) of corn and soybeans under coconut stands using VUB and fertilizer treatment. The analysis was used to answer the objectives, namely the calculation of land equality ratio (LER), RC ratio, and farmers' perceptions. The results showed that coconut-corn intercropping increased 92% of the efficiency of land productivity with a value of LER 1.92. Intercropping of soybeans increases 76% of land productivity efficiency with a LER value of 1.76. The increase in profits of coconut farming from the intercropping pattern of coconut - corn is Rp. 7,495,800/harvest with R/C 1.89 while from the intercropping pattern of coconut - soybean is Rp. 4,402,000/harvest with an R/C value of 1.55. Farmers' perceptions of technological innovations overlapping corn-coconut and coconut-soybean showed a positive perception. Farmers assume that technological innovations in intercropping corn-soybeans under coconut stands are beneficial, in accordance with the values and needs of the community, have low complexity, are easy to implement, and the results are significant.ABSTRAKLahan kering kelapa di Maluku Utara berpotensi untuk penerapan usahatani polikultur. Jagung dan kedelai merupakan komoditas pangan yang bisa dimanfaatkan sebagai tanaman sela di antara tegakan kelapa untuk meningkatkan pendapatan petani. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kelayakan produktivitas lahan dan usahatani sistem polikutur di bawah tegakan kelapa serta preferensi petani terhadap inovasi teknologi. Penelitian dilaksanakan dari bulan Mei-Oktober Tahun 2018 di lahan kelapa milik petani di Desa Bumirestu, Kabupaten Halmahera Timur, Maluku Utara. Penelitian menerapkan pengelolaan tanaman terpadu (PTT) jagung dan kedelai di bawah tegakan kelapa dengan menggunakan varietas unggul baru (VUB) dan perlakuan pupuk. Analisis yang digunakan untuk menjawab tujuan yaitu perhitungan nisbah kesetaraan lahan (NKL), RC ratio, dan persepsi petani. Hasil penelitian menunjukkan tumpang sari kelapa-jagung meningkatkan 92% efisiensi produktivitas lahan dengan nilai NKL 1,92. Tumpang sari kelapa-kedelai meningkatkan 76% efisiensi produktivitas lahan dengan nilai NKL 1,76. Peningkatan keuntungan usahatani kelapa dari pola tumpang sari kelapa – jagung sebesar Rp. 7.495.800/panen dengan R/C 1,89 sedangkan dari pola tumpang sari kelapa – kedelai sebesar Rp. 4.402.000/panen dengan nilai R/C 1,55. Persepsi petani terhadap inovasi teknologi tumpang sari jagung-kelapa dan kedelai-kelapa menunjukkan persepsi yang positif. Petani mengganggap bahwa inovasi teknologi tumpang sari jagung-kedelai di bawah tegakan kelapa menguntungkan, sesuai dengan nilai dan kebutuhan masyarakat, memiliki kerumitan yang rendah, mudah diterapkan, dan hasilnya signifikan
Pengembangan Produk Minuman Jelly Nira Kelapa dengan Quality Function Deployment [Coconut Sap Jelly Drink Product Development with Quality Function Deployment] Ervina Mela; Gunawan Wijonarko
Buletin Palma Vol 21, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v21n1.2020.1-10

Abstract

Coconut sap is one of the agricultural commodity that can be processed into various products other than sugar. One of the products that potential to be developed is coconut sap jelly drink. To create successful coconut sap jelly drink on the market, it is necessary to develop products according to the needs of consumers. Quality function deployment (QFD) is a product development method that accommodates the needs of consumers, then connects them with appropriate production techniques. The purpose of this study was to determine the priority attributes of consumer requirements and technical parameters as the basis for designing a coconut sap jelly drink. The research method uses QFD, with questionnaires and expert interviews. Analysis of quality houses shows that the attributes of consumer requirements that are the priority in designing coconut juice jelly drinks are jelly viscosity such as Okki Jelly Drink (weight 8.72), easy to carry packaging (weight 8.49), purple color like grapes (weight 8.35 ), there is a taste content on the packaging label (8.30) and there is RDA information on the packaging label (weight 8.23), while the priority technical parameter is the preparation of other ingredients except coconut sap juice (weight 22.82%). Producers who will develop coconut sap jelly drink should pay attention to the viscosity of the jelly and preparation of raw materials including pectin, and sugar.ABSTRAKNira kelapa merupakan salah satu hasil pertanian yang dapat diolah menjadi berbagai produk selain gula. Salah satu produk yang potensial dikembangkan adalah minuman jelly nira kelapa. Supaya dapat dihasilkan produk minuman jelly nira kelapa yang sukses di pasaran maka perlu dilakukan upaya pengembangan produk sesuai keinginan/kebutuhan konsumen. Quality function deployment (QFD) merupakan metode pengembangan produk yang mengakomodasi kebutuhan dan keinginan konsumen, kemudian menghubungkannya dengan teknik  produksi yang tepat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui prioritas atribut persyaratan konsumen dan parameter teknis sebagai dasar pengembangan produk minuman jelly nira kelapa. Metode penelitian menggunakan QFD, dengan penyebaran kuesioner  dan wawancara pakar.  Analisis rumah mutu menunjukkan persyaratan konsumen yang menjadi prioritas pada pengembangan minuman jelly nira kelapa adalah kekentalan jelly seperti Okki Jelly Drink (bobot 8,72), kemasan mudah dibawa (bobot 8,49), warna ungu seperti buah anggur (bobot 8,35), terdapat keterangan rasa pada label kemasan (8,30)  dan  terdapat informasi AKG pada label kemasan (bobot 8,23) sedangkan parameter teknis yang menjadi prioritas adalah persiapan bahan lain selain nira kelapa (bobot 22,82%).  Produsen yang akan mengembangkan minuman jelly nira kelapa sebaiknya memberikan perhatian utama pada kekentalan jelly dan persiapan bahan baku selain nira di antaranya pektin, dan gula.
Effect of Surfactant Addition on The Physico-Chemical Properties and Stability of Virgin Coconut Oil Nanoemulsions Linda Trivana; Nugraha E. Suyatma; Dase Hunaefi; S. Joni Munarso
Buletin Palma Vol 22, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v22n1.2021.31-42

Abstract

Virgin coconut oil (VCO) is high quality coconut oil and categorized as the healthiest oil and functional foods. Based on these benefits, the development of a VCO in emulsion product might increase the human consumption of coconut oil because consumers dislike the only taste of pure VCO. The aim of this study was to develop the water compatible form of VCO through nano-emulsification. The effect of different types and amounts of surfactants (Tween 80 and Span 80) on the physio-chemical characteristic of emulsion containing VCO was investigated. VCO based emulsions were prepared with the aid of Ultra-Turrax homogenizer. Emulsions were developed by adding and mixing VCO with surfactants. The ratio of Tween 80 and Span 80 used were 0:10, 2.5:7.5, 5:5, 7.5:2.5, and 10:0. The droplet size of nanoemulsions consisting of Tween 80:Span 80 (0:10, 2.5:7.5, 5:5, 7.5:2.5, and 10:0) were 1.343, 0.606, 0.829, 1.439, and 2.506µm, respectively. Based on the TEM analysis and polydispersity index (PDI) >0.5 showed the oil droplets are in not uniform shape, indicating a unstable emulsion. VCO emulsion with ratio Tween 80:Span 80 (0:10) obtained a homogeneous emulsion (stable) compare than that of others and w/o type emulsion. The stability of emulsion is evaluated by turbidity measurement using UV-VIS spectrophotometer with wavelength 502 nm. A combination of  treatments (ambient condition, thermal treatmeant (40°C)), and centrifuge) of VCO emulsion has resulted on thermal treat, the turbidity measured from the emulsion was higher than the other emulsion, reflecting the presence of the smaller droplets in this emulsion.
Analisis Kerusakan Tanaman Kelapa dan Musuh alami Hama Segestes decoratus (Orthoptera: Tettigoniidae) di Indonesia [Analysis of coconut palm damage and natural enemies of the Segestes decoratus pest (Orthoptera: Tettigoniidae) in Indonesia] Meldy L.A. Hosang; Jelfina C Alouw; Welmenci J Sambiran
Buletin Palma Vol 21, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v21n2.2020.96-109

Abstract

Segestes docoratus (Orthoptera: Tettigoniidae) is one of the pests that can damage coconut leaves and cause very heavy damage in the area of distribution, especially in abandoned fields in certain islands. In Indonesia, S. docoratus pest only found in the Morotai Islands, Morotai Island Regency, North Maluku Province. Detailed information on damage, the population of the pest and its natural enemies, as well as distribution are still limited. This research aims to study the damage of coconut trees, pest populations and the potential of natural enemies that can suppress pests development in the field. The study was conducted on farmers land in Darame Village, Pilowo, South Morotai District, Yao Village, Bido Village North Morotai District, Waringin Village (Small Loleba Island and Big Loleba Island), Posi Posi Rao Village (Rao Island), South West Morotai District, Regency Morotai Island, North Maluku. At each location was selected 10 trees sample, and then young frond, mature frond and old frond were taken. Plant damage, coconut production, pest and natural enemies population were observed from each sample. The results showed that the S. decoratus pest damages coconut leaves but does not damage female flowers or young fruits. These pest attacks are generally categorized as light and moderate, but in certain locations in the North Morotai District and the Village of Posi Posi Rao (Rao Island), South West Morotai District, there are plants with a heavy attack level. Nearly all locations visited had S. decoratus pest attacks, except on the islands of Small Loleba and Big Loleba. Based on the assessment of the damage to leaflets from each frond, the percentage of leaf damage is higher in older leaves than mature leaves and lowest in young leaves. The average damage to old leaves is 26.57% - 48.65%, mature leaves 10.15% - 36.97% and young leaves 8.69% - 14.88%. The nymph of S. decoratus preferred young leaves as its food compared to mature and old leaves. This was indicated by the highest nymph population on young leaves and the lowest on old leaves. On the other hand, the higher adult population was found on the old fronds than the mature fronds and lowest on young fronds. This preference might be due to different nutritional components needs between nymph and adult stages, and different nutrient profiles of coconut leaflet between young and old fronds, or the mandible strength. Mandible of the imago is typically more robust than that of the nymphs. Hence, S. decoratus nymphs preferred the soft young leaves, while imagos prefer old leaves. The Stichoterma dallatorreanum parasitoid was not found in the nymphs and adults of S. decoratus collected, but it was found in other Tettigoniidae which are not coconut pests. Other natural enemies found were a spider predator, Oecophylla smaragdina, black ants, predator birds, and entomopathogenic fungi.ABSTRAKSegestes decoratus (Orthoptera: Tettigoniidae) merupakan salah satu hama yang merusak daun kelapa dan dapat menyebabkan kerusakan yang sangat berat di daerah penyebarannya terutama pada kebun yang tidak terpelihara pada pulau-pulau tertentu. Di Indonesia, hama S. decoratus hanya ditemukan di Kepulauan Morotai, Kabupaten Pulau Morotai, Provinsi Maluku Utara. Informasi kerusakan, populasi hama dan musuh alaminya serta distribusi masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari kerusakan tanaman kelapa, populasi hama dan potensi musuh alami yang dapat menekan perkembangan hama di lapangan. Penelitian dilaksanakan pada lahan petani Kecamatan Morotai Selatan, Kecamatan Morotai Utara,  Kecamatan Morotai Selatan Barat, Kabupaten Pulau  Morotai, Maluku Utara. Pada setiap lokasi dipilih 10 pohon contoh kemudian diambil daun muda, daun tengah dan daun tua. Dari setiap tanaman contoh diamati kerusakan tanaman, populasi hama, musuh alami dan produksi tanaman kelapa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hama S. decoratus merusak daun kelapa tetapi tidak merusak bunga betina atau buah muda. Serangan hama ini pada umumnya dikategorikan pada  serangan ringan dan sedang, tetapi pada lokasi tertentu di Kecamatan Morotai Utara dan di Desa Posi Posi Rao (Pulau Rao), Kecamatan Morotai Selatan Barat, terdapat tanaman dengan tingkat serangan berat. Hampir semua lokasi yang dikunjungi sudah terdapat serangan hama S. decoratus, kecuali di Pulau Loleba Kecil dan Loleba Besar. Berdasarkan penilaian kerusakan anak daun dari setiap pelepah, ternyata persentase kerusakan daun lebih tinggi pada daun tua dibandingkan dengan daun tengah dan terendah pada daun muda. Rata-rata kerusakan pada daun tua 26,57 – 48,65%, daun tengah 10,15 – 36,97% dan daun muda 8,69 – 14,88%. Nimfa S. decoratus lebih memilih daun muda sebagai makanannya dibandingkan dengan tengah dan daun tua, hal ini ditunjukkan oleh populasi nimfa tertinggi pada daun mudadan terendah pada daun tua, sebaliknya populasi imago lebih banyak pada pelepah daun tua dibandingkan dengan daun tengah dan terendah pada daun muda. Preferensi ini kemungkinan disebabkan karena kebutuhan nutrisi yang berbeda antara nimfa dan imago dan perbedaan profile nutrisi dari pinak daun pada pelepah daun yang muda dan tua, sertamandibel nimfa masih lunak sehingga memilih daun yang masih muda sedangkan mandibel imago lebih kuat. Dari nimfa dan imago S. decoratus yang dikoleksi, tidak ditemukan parasitoid Stichoterma dallatorreanum tetapi ditemukan pada Tettigoniidae lain yang bukan hama kelapa. Ditemukan  predator laba-laba, Oecophylla smaragdina,  semut hitam, burung predator dan cendawan entomopatogen.
Karakteristik Sirup Nira Aren pada Beberapa Konsentrasi Total Padatan Terlarut [Characteristics of Palm Sugar Syrup on Total Soluble Solid Concentrations] Barlina Rindengan, MS; Patrik Pasang; Adhitya Yudha Pradhana
Buletin Palma Vol 21, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v21n2.2020.110-116

Abstract

Aren is a plant source of raw material for sugar that has been carried out from generation to generation. All parts can be used, both as a source of food and non-food. However, the main product that has been concerned is still focused on sap, as a raw material for sugar. To increase the variety of products from sap, it can be processed into syrup so that its use is more varied. Therefore, in 2018 the sap of palm sugar for palm juice processing has been carried out into syrup. The tapping of palm sap is carried out in farmer’s gardens in Tinoor village, Tomohon Municipality, North Sulawesi Province. Syrup processing is carried out at the Indonesian Palm Crops Research Institute Laboratory, and part of the analysis is carried out at the Engineering, Chemical and Biochemical Laboratory of the Agricultural Product Technology Department, UGM-Yogyakarta. The results showed that palm sugar syrup that has been carried out in the level of total soluble solids, namely 65. Brix, has the following characteristics, water content ranges from 24.16% - 31.73%, viscosity 140cP-2,336cP, total content 62.77%-68.14%, saccharose  57.55%-62.22%, reducing sugar 1.29% -4.11%, phenolic content (antioxidants) 0.13% - 0.29%. Processing of palm sugar syrup without additional sugar, so that the saccharose contained is natural only from palm sap and with the presence of phenolic compounds, palm sap syrup can be categorized as syrup functional so it is very beneficial for health. Sugar palm syrup which has a commercial syrup viscosity of total soluble solids 70. Brix which has a viscosity of 399.80cP, an water content of 29.49%, saccharose 58.00%, total sugar 63.15%, reducing sugar 2.05, phenolic content 0.14%, color intensity L*= lightness 43.83, a*= reddish 15.55 and b*= yellowish 34.40.ABSTRAKAren adalah salah satu tanaman sumber bahan baku gula yang telah dilakukan secara turun temurun. Semua bagian dapat dimanfaatkan, baik sebagai sumber pangan maupun non pangan, tetapi  sampai saat ini,  produk utama yang diperhatikan masih terfokus pada nira, sebagai bahan baku gula cetak maupun gula semut. Untuk menambah ragam produk dari nira aren, dapat diolah menjadi sirup sehingga pemanfaatannya lebih bervariasi. Oleh karena itu, pada tahun 2018 telah dilakukan pengolahan nira aren menjadi sirup. Penyadapan nira aren, dilakukan di kebun petani di desa Tinoor Kotamadya Tomohon, Propinsi Sulawesi Utara. Pengolahan sirup dilakukan di  Laboratorium Balai Penelitian Tanaman Palma, dan sebagian analisa karakteristik dilaksanakan di Laboratorium Rekayasa, Kimia dan Biokimia Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, UGM-Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sirup nira aren yang telah dilakukan dalam empat tingkatan total padatan terlarut, yaitu 650Brix, 700Brix, 750Brix dan 800Brix, memiliki karakteristik sebagai berikut kadar air berkisar 24,16%-31,73%, viskositas 140cP-2336cP, kadar total 62,77%-68,14%, sakarosa 57,55%-62,22%, gula reduksi 1,29%-4,11%, kadar fenolat (antioksidan) 0,13%-0,29%. Pengolahan sirup nira aren ini tidak dilakukan penambahan gula pasir, sehingga sakarosa yang terkandung adalah alami hanya dari nira aren dan dengan adanya senyawa fenolat, maka sirup nira aren dapat dikategorikan sebagai sirup nira aren fungsional sehingga sangat bermanfaat untuk kesehatan. Sirup nira aren yang memiliki viskositas mendekati sirup komersial adalah pada TPT 700Brix yang memiliki viskositas 399,80cP, kadar air 29,49%, sakarosa 58,00%, gula total 63,15%, gula reduksi 2,05, fenolat 0,14%, intensitas warna L*=tingkat kecerahan 43,83,  a*=kemerahan 15,55 dan b*= kekuningan 34,40.
Dampak Ekspansi Kelapa Sawit terhadap Kinerja Perkebunan Kelapa di Indonesia Bedy Sudjarmoko; nFN Harianto
Buletin Palma Vol 22, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v22n1.2021.43-51

Abstract

Perkembangan perkebunan kelapa sawit yang cepat dan dalam waktu yang relatif pendek diduga dapat menimbulkan berbagai permasalahan, salah satunya adalah konversi lahan perkebunan non-sawit menjadi perkebunan sawit.  Penelitian ini dilakukan pada tahun 2019, ditujukan untuk menganalisis pengaruh harga minyak sawit dan perkembangan luas area sawit terhadap kinerja perkebunan kelapa. Kinerja perkebunan kelapa diwakili oleh luas area tanaman kelapa dan tingkat produksi kelapa.  Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah deret waktu dari tahun 1992 sampai tahun 2016.  Model ekonometrik disajikan untuk menghubungkan kinerja perkebunan kelapa sawit dengan faktor yang memengaruhinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekspansi luas area kelapa sawit tidak berpengaruh negatif terhadap kinerja perkebunan kelapa. Namun perkembangan harga sawit, meskipun secara statistik tidak signifikan, berpengaruh negatif terhadap kinerja perkebunan kelapa. Penurunan kinerja perkebunan kelapa terutama dipengaruhi oleh peningkatan upah perkebunan dan tingkat suku bunga. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan bahwa pembangunan perkebunan kelapa dalam arti luas perlu memanfaatkan dengan baik momentum yang ditimbulkan oleh perkembangan perkebunan sawit.
Pengelompokkan dan Ketidakmiripan Dua Belas Aksesi Kelapa (Cocos nucifera L.) Asal Beberapa Provinsi [Grouping and Dissimilarity Among Twelve Coconut Accessions (Cocos Nucifera L.) From Some Provinces] nFN Miftahorrachman; Muhammad Roiyan Romadhon; nFN Rahma; Jeanette Kumaunang
Buletin Palma Vol 21, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v21n2.2020.55-67

Abstract

The spread of coconut plants are almost in most regions in Indonesia, which causes considerable genetic diversity and is an opportunity as genetic material for improvement of national coconut plants and opportunity as genetic material for the improvement of national coconut plants and can be used as parents in the assembly of new hybrid varieties. This research was conducted from 2017 to 2018 in several provinces in Indonesia including provinces of West Sumatra, Jambi, East Kalimantan, South Kalimantan and North Sulawesi. The purpose of this study was to study the level of variation of coconut germplasm in Indonesia, organize and classify variations, and classify accessions by considering various characters that can be used as parents. Grouping and dissimilarity are based on twelve morphological characters and fruit components, namely the number of leaves (NL), number of bunches/trees (NBT), number of fruits/bunches (NFB), weight of whole fruit (WWF), whole fruit polar circumference (WFPC), whole fruit equatorial circumference (WFEC), weight of fruit without husk/seed (WFWHS), polar seed circumference (PSC), equatorial seed circumference (ESC), weight of fruit without water (WFWW), weight of endosperm(WE), and thick of endosperm (TE).The data obtained were then analyzed using a divisive or top-down clustering method (hierarchial cluster) by partitioning at least two classes that were the least similar. The data is processed using R. 3.5.1 software. Determination of the average distance (average linkage) obtained from the average dissimilarity coefficient data from each of the accessions tested.The results showed the twelve coconut accessions formed four groups at a 32% dissimilarity. Group I consisted of one accession (Bram Itam), group IIconsisted ofthree accessions are  (Pesisir Selatan, Kapuah Jaya, Muara Jawa) group IIIconsisted ofeight accessions (Tanjung Solok, Labuan Uki, Pindolili, Mekar Sari, Betara Kanan, Siri Hulu, Tamban Bangun, Pengabuan). Eigen value in the main component 1 (KU1)> 1 with a variation of 60.60% with the number of bunches/trees, whole fruit polar circumference, weight of fruit without husk/seed, polar seed circumference, equatorial seed circumference, weight of fruit without water, dan thick of endospermand hybridisation is carried out so that it can produce superior hybrids.ABSTRAKPenyebaran tanaman kelapa hampir di sebagian besar daerah di Indonesia, sehingga menyebabkan keragaman genetik yang cukup besar dan merupakan peluang sebagai materi genetik untuk perbaikan tanaman kelapa nasional dan dapat dijadikan sebagai tetua dalam perakitan varietas hibrida baru. Penelitian ini dilaksanakan pada tahun 2017 sampai 2018 di beberapa Provinsi di Indnesia meliputi Propinsi Sumatera Barat,  Jambi,  Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Utara. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tingkat variasi plasma nutfah kelapa di Indonesia, mengidentifikasi dan mengklasifikasikan variasi, dan mengelompokkan aksesi dengan mempertimbangkan beberapa karakter yang dapat dijadikan sebagai tetua. Pengelompokan dan ketidakmiripan  didasarkan pada duabelas karakter  morfologi dan komponen buah, yaitu jumlah daun (JD), jumlah tandan/pohon (JT), jumlah buah/tandan (JBT), berat buah utuh (BBU), lingkar polar buah utuh (LPBU), lingkar equatorial buah utuh (LEBU), berat buah tanpa sabut/biji (BBTS), lingkar polar biji (LPB), lingkar equatorial biji (LEB), berat buah tanpa air (BBTA), berat daging buah (BD), dan tebal daging (TD). Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan metode pengelompokan divisive atau top-down (hierarchial cluster) dengan mempartisi klaster minimal dua klaster yang paling tidak mirip. Data diolah dengan menggunakan software  R. 3.5.1. Penentuan jarak rata-rata (average linkage) yang diperoleh dari rataan data koefisien ketidakmiripan dari masing-masing aksesi yang diuji. Hasil penelitian menunjukkan  ke dua belas aksesi kelapa tersebut membentuk empat kelompok pada ketidakmiripan 32%. Kelompok I  terdiri dari satu aksesi (Bram Itam), kelompok II terdiri dari aksesi (Pesisir Selatan, Kapuah Jaya, Muara Jaawa), dan kelompok III satu aksesi (Tanjung Solok, Labuan Uki, Pindolili, Mekar Sari, Betara Kanan, Siri Hulu, Tamban Bangun, Pengabuan). Nilai eigen value pada komponen utama 1 (KU1) > 1 dengan keragaman sebesar 60,60% dengan karakter jumlah daun, jumlah tandan, lingkar polar buah utuh, berat buah tanpa serabut, lingkar polar biji, lingkar ekuatorial biji, berat buah tanpa air, dan berat daging yang dijadikan sebagai karakter seleksi terhadap keragaman yang tinggi untuk dijadikan sebagai tetua dan dilakukan hibridisasi sehingga dapat menghasilkan hibrida superior.
Kumbang Palma Bertungkai Depan Panjang, Cyrtotrachelus sp. (Coleoptera: Curculionidae), Hama Baru pada Tanaman Kelapa di Indonesia Meldy L.A. Hosang; nFN Rahma; Lidyana M. Gosal; Marco M. Supit; Oskar Saka
Buletin Palma Vol 22, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v22n1.2021.22-30

Abstract

Kumbang  Cyrtotrachelus sp. (Coleoptera: Curculionidae) dikenal sebagai kumbang moncong  rebung bambu (bamboo shoot weevil), kumbang moncong bamboo (Bamboo weevilatau bamboo snout beetle), kumbang moncong bambu raksasa(Giant Bamboo Weevil) atau kumbang palma bertungkai depan panjang (Long Armed Palm Weevil).  Kumbang Cyrtotrachelus sp., pertama kali ditemukan merusak dan mematikan tanaman muda atau bibit kelapa yang berumur > 1 tahun, dan kerusakannya mirip dengan kerusakan akibat hama Rhynchophorus spp. pada tanaman muda. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kumbang yang merusak tanaman kelapa. Survei dilakukan pada lokasi pembibitan kelapa umur 1-3 tahun di Kebun Percobaan Mapanget, Balai Penelitian Tanaman Palma(Balit Palma) di Manado, Sulawesi Utara. Pengamatan lapangan meliputi gejala serangan, populasi larva, pupa dan imago, sedangkan pengamatan laboratorium difokuskan pada ciri morfologi imago. Hasil penelitian  menunjukkan bahwa kumbang yang merusak kelapa di Kebun Percobaan Mapanget, Balit Palma, di Sulawesi Utara adalah kumbang Cyrtotrachelus sp. Kumbang ini pertama kali ditemukan pada tahun 2018 sebagai hama pada tanaman kelapa. Dari 207 tanaman kelapa yang diobsevasi, ternyata 10,63%  terserang atau mati akibat serangan Cytrotrachelus sp., hal ini sangatmerugikan bagi petani atau pengusaha kelapa karena hama ini merusak bagian pucuk sehingga tanaman mati. Berdasarkanhasil penelitian ini maka perlu dipelajari lebih lanjut bioekologi dan teknik pengendalian yang sesuai untuk hama Cyrtotrachelus sp.
Kajian Penunasan Berat Pelepah terhadap Kuantitas dan Kualitas Bunga Jantan Kelapa Sawit serta Ketertarikan Elaeidobius kamerunicus FAUST Agus Eko Prasetyo; Nanang Supena; Agus Susanto
Buletin Palma Vol 22, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v22n1.2021.52-61

Abstract

Praktek penunasan berat pelepah kelapa sawit bertujuan untuk menghasilkan bunga jantan sehingga kebutuhan polen dan kumbang Elaeidobius kamerunicus dapat terpenuhi sehingga penyerbukan alami dapat menjamin pembentukan fruit set tandan yang normal. Penunasan berat dilakukan mulai tanaman umur 2 tahun dengan perlakuan penunasan hingga menyisakan hanya satu lingkar pelepah muda (8 pelepah/tanaman) dan sisa 2 lingkar pelepah muda (16 pelepah/tanaman) setiap bulan. Sebagai kontrol digunakan tanaman dengan penunasan normal yakni menyisakan 48-56 pelepah/tanaman. Hasil pengamatan selama 48 bulan menunjukkan bahwa terjadi peningkatan jumlah bunga jantan pada kedua perlakuan penunasan berat, jumlah produksi bunga jantan pada penunasan berat dengan menyisakan 8 pelepah/tanaman. Namun ukuran bunga jantan yang terbentuk lebih kecil (menurun sebesar 30,15-51,11%) bila dibandingkan dengan kontrol sehingga jumlah polen yang dihasilkan juga lebih sedikit dengan penurunan sebanyak 28,59-38,28%. Bahkan viabilitas polen kelapa sawit pada perlakuan penunasan berat juga berkurang 12,58-15,51%. Penurunan kualitas bunga jantan ini diikuti dengan penurunan jumlah kunjungan kumbang E. kamerunicus sebesar 22,63-31,01% dan penurunan jumlah kemunculan kumbang baru dari tandan bunga jantan lewat mekar sebanyak 40,89-49,40%. Kualitas bunga jantan pada kedua perlakuan penunasan berat tidak berbeda. Aplikasi penunasan berat pelepah kelapa sawit berdampak pada peningkatan kuantitas bunga jantan tetapi memiliki kualitas yang menurun bahkan kurang menarik bagi E. kamerunicus untuk berkembang biak.