cover
Contact Name
Adhitya Yudha Pradhana
Contact Email
buletinpalma@gmail.com
Phone
+62431-812430
Journal Mail Official
buletinpalma@gmail.com
Editorial Address
Jalan Raya Mapanget, Manado 95001
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Buletin Palma
ISSN : 1979679X     EISSN : 25287141     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Buletin Palma memuat artikel hasil-hasil penelitian kelapa dan palma lainnya. GENERAL REQUIREMENTS Bulletin of Palma is a peer-reviewed and open access journal that publishes significant and important research finding on coconut and other palm research results. SCOPE Scope of Bulletin of Palma are: 1. Scope of science: Agricultural Microbiology, Agricultural Socio-Economics, Agronomy, Bioetechnology, Plant Breeding, Plant pathology, Plant Protection, Plant Physiology, Soil Science, Seed Technology, Primary Post Harvest, Climate science, Genetic resources, Entomology,Farming system, Environment, Agricultural extension 2. Scope of commodities : spice, medicinal, aromatic and industrial crops The journal publishes Indonesian or English articles.
Articles 220 Documents
Varietas Kelapa Dalam Unggul Spesifik Gorontalo BAMBANG HELIYANTO; ELSJE T. TENDA
Buletin Palma No 38 (2010): Juni, 2010
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v11n38.2010.73-87

Abstract

High Yielding Coconut Tall Varieties Specific for Gorontalo The major constraint for coconut development program in Indonesia, including Gorontalo Province is the lower crop productivity i.e merely 1 ton copra/ha/year. Increased coconut production and productivity must be done hand in hand with coconut replanting program. To support the program, the use of high quality planting material is required. There are two options available in this matter. First, by utilizing the available coconut tall high yielding varieties suitable for agroclimate similar to Gorontalo (dry climate). Second, or most preferably, utilizing the high yielding local tall coconut cultivars. Preliminary evaluation by local estate officer indicated that there are some local coconut tall cultivars (ca. 4 cultivars) that had both high yield and oil content. This research was therefore aimed at further assessing these four promising local cultivars. Evaluation was done on those pre-determined populations in two phases, for three years consecutively, from 2006 to 2008. Parameter observed include morphological, yield of copra and its components, physiological and chemical characters as well as field resistance to pest. Results of evaluation, conducted by the ICOPRI and Dishutbun Gorontalo, confirmed that two cultivars, namely, Kelapa Dalam Molowahu (DMU) and kelapa Dalam Kramat (DKT) could be considered as two high yielding cocconut tall cultivars specific for Gorontalo. These two cultivars exhibited high productivity (above 3 ton copra/ha/year) and possess high oil content (above 64%). These cultivars have formally been released as new varieties by Minister of Agriculture in Desember 2009, to be used for high quality planting material for coconut development program in Gorontalo.
Performance of Four Tall Coconut Population North Sulawesi for Assembling Coconut Composite Variety Specific for Upland on Wet Climate JEANETTE KUMAUNANG; ARIE A. LOLONG
Buletin Palma Vol 13, No 2 (2012): Desember 2012
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v13n2.2012.79-85

Abstract

Coconut plant improvement was made to increase the average local production by 1 ton of copra per year nation wide through coconut composite plantation. Coconut Composites were constructed by combining the seven populations/genotypes selected with the production above 3.5 tons of copra/ha/year. Coconut composite superior possessing several advantages compared with other Tall coconut in general such as high productivity as well as high genetic variability inherited from both parents with different genetic composition. Assembling the Tall coconut composite is focused on the upland on wet climate. Performance the local Tall coconut that having potential as selected mother palm for several characters such are production components, pest and disease resistance included leaf physiology and biochemistry was evaluated. The results showed that the four genotypes was specific upland on wet climate with productivity from 3.7 to 4.8 tons of copra/ha/year. The results of this study are expected to produce high yielding coconut genotypes and available for farmers in large quantities so as to increase national production and increase farmers' income. ABSTRAKPenampilan Empat Populasi Kelapa Dalam Potensial Asal Sulawesi Utara untuk Perakitan Kelapa Dalam Komposit Spesifik Lahan Kering Iklim BasahPerbaikan potensi kelapa selalu diupayakan untuk meningkatkan produksi kelapa lokal/daerah yang hanya berproduksi 1.1 ton/ha secara nasional. Salah satu upaya yang dapat dijalankan adalah dengan membangun kebun kelapa Dalam Komposit. Kelapa Komposit dibangun dengan menggabungkan tujuh populasi/genotipe kelapa terpilih dengan produksi di atas 3.5 ton kopra/ha/tahun. Kelapa Dalam unggul komposit memiliki beberapa keunggulan dibanding kelapa Dalam pada umumnya, karena selain produktivitasnya tinggi, juga mempunyai variabilitas genetik tinggi yang diwariskan dari kedua tetua dengan komposisi genetik berbeda. Perakitan kelapa Dalam komposit lebih diarahkan untuk spesifik lokasi dalam hal ini lokasi lahan kering iklim basah. Penelitian ini dilakukan di Provinsi Sulawesi Utara. Kegiatan penelitian diawali dengan mengamati penampilan kelapa Dalam unggul lokal yang berpotensi kemudian dilakukan seleksi untuk beberapa karakter, yaitu komponen produksi, ketahanan hama dan penyakit dengan karakter fisiologi dan biokimia daun. Hasil yang diperoleh yaitu empat genotip kelapa Dalam spesifik lahan kering iklim basah dengan produktivitas antara 3,7 ton kopra/ha/tahun sampai 4,8 ton kopra/ha/tahun. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan genotip kelapa yang berproduksi tinggi dan tersedia untuk petani dalam jumlah banyak sehingga dapat meningkatkan produksi kelapa secara nasional dan meningkatkan pendapatan petani. Kata kunci : Kelapa, seleksi, varietas komposit, gugur buah, kumbang kelapa.
Kinerja Alat Pengeringan Kopra Sistem Oven Skala Kelompok Tani dan Karakteristik Produk / Performance of Copra Drying Oven System of Farmer Scale and Product Characteristics A. Lay; Ismail Maskromo
Buletin Palma Vol 17, No 2 (2016): Desember, 2016
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v17n2.2016.175-183

Abstract

Traditional copra processing by smoking and sun drying methods will produce low quality copraand oil. In order to improve the quality of copra and oil, copra drier through oven system with controlled drying temperature is a necessity. The purpose of this research is to design a copra dryer through oven system that can be utilized by farmer groups. Research carried out from May 2014 to December 2015, with tool’s construction and field test conducted at the Repair Engineering and Laboratory Equipment of Indonesian Palm Crops Research Institute. Moreover, copra and oil’s quality analysis performed at Research and Standardization of Industrial Institute Laboratory, Manado. The quality analysis is based on valid quality standard. The research results showed that copra drier system on a farmers scale, using coconut coir as a fuel, has been built with capacity of 1550-1650 coconuts/process period. Drying temperature is varied between 28-70 Cwith optimum temperature at 55-60 C and drying time approximately 27 hours.It produces various copra such as, white copra, brown copra and dark copra, with water content of 4.36-4.88%, fat content of 63.53-64.17% and Free Fatty Acid of 0.05-0.12%. White copra, which then processed into frying oil, produced white color oil with water content of 0.05%, peroxide value 0.13 meq O2/kg without any lead (Pb) detected in the oil. As a result, coconut oil can be safely consumed without any purification process. In conclusion, copra drying through oven system is sufficient enough to apply for farmers group in order to encourage excellent quality copra and oil processing.ABSTRAKPengolahan kopra secara tradisional dengan cara pengasapan dan penyinaran matahari  menghasilkan kopra dan minyak bermutu rendah. Untuk meningkatkan mutu kopra dan minyak diperlukan alat pengeringan kopra sistem oven dengan suhu pengeringan terkontrol. Penelitian bertujuan untuk merancang alat pengering kopra  sistem oven yang dapat diaplikasikan pada kelompok tani. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei 2014 sampai Desember 2015, perancangan alat dan uji lapang dilakukan di Bengkel Rekayasa Alat Balai Penelitian Tanaman Palma, analisis mutu kopra dan minyak kelapa di Laboratorium  Balai Riset dan Standardisasi Industri Manado. Hasil penelitian menun-jukkan bahwa telah dirancang alat  pengering  kopra sistem oven skala kelompok tani, yang menggunakan bahan bakar sabut kelapa, kapasitas olah 1550-1650 butir kelapa/periode proses.  Pengeringan kopra dengan suhu pengeringan  bervariasi 28-70ºC, suhu optimal 55-60ºC, waktu pengeringan 27 jam,  dihasilkan  kopra beragam, yakni kopra putih,  kopra coklat, dan kopra gelap,  kadar air 4,36-4,88%, kadar lemak 63,53-64,17% dan kadar ALB 0,05-0,12%. Kopra putih yang diolah menjadi minyak kelapa, menghasilkan minyak kelapa berwarna putih, kadar air 0,05%, bilangan peroksida 0,13 meq O2/kg, dan tidak terdeteksi cemaran logam timbal (Pb). Minyak kelapa yang dihasilkan dapat dikonsumsi sebagai minyak goreng walaupun tanpa proses pemurnian. Alat pengeringan kopra sistem oven, cukup memadai untuk diaplikasikan pada kelompok tani dalam menunjang pengolahan kopra dan minyak bermutu baik.
Keragaan Genetik Plasma Nutfah Kelapa Dalam (Cocos nucifera L) di Kebun Percobaan Mapanget Berdasarkan Penanda DNA SSRs Jeanette Kumaunang; Ismail Maskromo
Buletin Palma No 33 (2007): Desember, 2007
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v0n33.2007.18-27

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari keragaman genetik plasma nutfah kelapa Dalam yang di tanam secara ex situ di Kebun koleksi Mapanget Balitka Manado berdasarkan penanda DNA SSRs. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Biologi Tumbuhan, Pusat Studi Ilmu Hayati LP-IPB Bogor tahun 2004. Materi kelapa sebanyak 12 aksesi kelapa Dalam yang ditanam di Kebun Percobaan Mapanget terdiri dari Dalam Ilo Ilo (DIO), Dalam Aertembaga (DAG), Dalam Tontalete (DTT), Dalam Pungkol (DPL), Dalam Pandu (DPA), Dalam Marinsow (DMW), Dalam Wusa (DWA), Dalam Talise (DTS), Dalam Sea (DSE), Dalam Takome (DTE), Dalam Kalasey (DKY) dan Dalam Kinabuhutan (DKN). Masing-masing aksesi diwakili oleh 2 nomor pohon sampel. Analisa DNA 12 aksesi kelapa Dalam dianalisis keragamannya berdasarkan penanda DNA Simple Sequence Repeats (SSRs) menggunakan 3 primer atau lokus yaitu CNZ 18, CNZ 21,  CNZ 51. Hasil analisis menunjukkan bahwa 3 primer SSRs yang digunakan semuanya polimorfik.  Masing-masing aksesi yang dianalisis memiliki kemiripan genetik sebesar 100% kecuali aksesi  kelapa Dalam Pungkol yang hanya memiliki kemiripan 60 %. Pada jarak genetik 0,5 atau 50% kemiripan genetik diperoleh dua kelompok aksesi kelapa. Kelompok I terdiri dari Kelapa Dalam Ilo Ilo, Dalam Aertembaga, Dalam Tontalete, Dalam Pandu dan Dalam Pungkol dan kelompok II terdiri dari kelapa Dalam Marinsow, Dalam Wusa, Dalam Talise, Dalam Sea, Dalam Takome, Dalam Kalasey dan  Dalam Kinabuhutan. Keragaman genetik 12 aksesi kelapa Dalam di Kebun Percobaan Mapanget rendah.
Substitusi Tepung Sagu dan Virgin Coconut Oil (VCO) pada Pengolahan Biskuit RINDENGAN BARLINA; PATRIK PASANG; DANIEL TORAR; STEIVIE KAROUW
Buletin Palma Vol 13, No 1 (2012): Juni, 2012
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v13n1.2012.54-59

Abstract

Untuk mengurangi penggunaan tepung terigu dan meningkatkan pemanfaatan Virgin Coconut Oil (VCO), telah dilakukan pengolahan biskuit yang disubstitusi tepung sagu dan VCO. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui mutu biskuit yang disubstitusi tepung sagu dan VCO serta mendapatkan formula yang disukai konsumen. Penelitian dimulai bulan Maret 2011 sampai November 2011, di Balai Penelitian Tanaman Palma, Manado, Sulawesi Utara dan Laboratorium Teknologi Hasil Pertanian, UGM-Yogyakarta. Perlakuan disusun secara faktorial dalam rancangan acak lengkap dengan tiga ulangan. Faktor pertama adalah sumber lemak, berasal dari margarin (a1) dan VCO (a2). Faktor kedua, perbandingan tepung sagu (TES) dan tepung terigu (TER), terdiri dari b1= TES : TER = 100: 0, b2 = TES : TER = 80 : 20, b3= TES : TER = 60 : 40, b4 = TES : TER = 40 : 60, b5= TES : TER = 20 : 80 dan b6= TES : TER = 0 : 100. Hasil analisa fisikokimia dan organoleptik menunjukkan, bahwa lima formula biskuit yang disubstitusi tepung sagu (20-100%) yang ditambah margarin, mengandung kadar air berkisar 0,15-0,36%, abu 1,46-1,62%, protein 6,04-11,61%, lemak 17,79-18,52%, serat kasar 4,54-5,39%, karbohidrat 68,72-74,24%, kerenyahan 3,87-4,13 dan rasa 3,93-4,40. Sedangkan yang ditambah VCO, kadar air berkisar 0,09-0,31%, abu 1,31-1,41%, protein 4,92-10,48%, lemak 18,77-21,18%, serat kasar 7,11-8,23%, karbohidrat 67,73-74,89%, kerenyahan 3.80-3.93 dan rasa 3.87-4.13. Biskuit yang disubstitusi tepung sagu 80%, ditambah margarin dan VCO, masing-masing mengandung asam lemak rantai medium (C10 dan C12) 0,38% dan 42,51%. Formula biskuit yang baik adalah yang disubstitusi tepung sagu 80% dan sumber lemak dari VCO. Kata kunci: tepung sagu, substitusi, VCO, biskuit.ABSTRACT Substitution of Sago Flour and VirginCoconut Oil (VCO) in Processing of BiscuitsIn order to reduce of using wheat flour and increasing utilization Virgin Coconut Oil (VCO), processing biscuit substituted sago flour and VCO has done. This study was conducted to determine quality of biscuits as substituted sago flour and VCO, and to find formula preferred by consumers. Research began in March 2011 to November 2011, at Indonesian Palms Research Institute, Manado, North Sulawesi and Laboratory of Agricultural Technology, UGM Yogyakarta. The experiment was arranged factorially using completely randomized design, with 3 replications. The first factor is source of fat, margarine (a1) and VCO (a2). The second factors is the ratio of sago flour (TES) and wheat flour (TER), consisting of b1 = TES: TER = 100: 0, b2 = TES: TER = 80: 20, b3 = TES: TER = 60: 40, b4 = TEST: TER = 40: 60, b5 = TES: TER = 20: 80 and b6 = TES: TER = 0: 100. The results of physicochemical and sensory analysis showed that five formula biscuits were substituted sago flour (20-100%) added margarine, contains of moisture content ranging from 0.15- 0.36%, ash 1.46-1.62%, protein 6.04-11.61%, fat 17.79-18.52%, crude fiber 4.54-5.39%, carbohydrate 68.72-74.24%, crispness 3.87-4.13 and flavor 3.93-4.40. While added VCO, moisture content ranging from 0.09-0.31%, ash 1.31-1.41%, protein 4.92-10.48%, fat 18.77-21.18%, crude fiber 7.11-8.23%, carbohydrate 67.73-74.89%, crispness 3.80-3.93 and flavor 3.87-4.13. Biscuits substituted sago flour 80%, added margarine and VCO, containing medium-chain fatty acids (C10 and C12) 0.38% and 42.51%, respectively. The good formula is fat source of VCO and sago flour substitution of 80%.
Agroindustri Gula Semut Aren dengan Model Hariang di Propinsi Banten / Agroindustry of Granular Brown Sugar by Hariang Model in Banten Province Abner Lay; Steivie Karouw
Buletin Palma No 31 (2006): Desember, 2006
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v1n31.2006.126-136

Abstract

The problems in development of granular brown sugar agrorindustry depend on scale of bussines, tipe of processing and management, so a development model that can give some benefits to farmer grup and the other institution is needed.  The research was carried out in Banten Province on July 2005.  The research was conducted as survey method and data were collected by Purposive Random Sampling. The data consist of primer and secundair data obtained from farmers/ farmer groups, village cooperative and government institutions, characteristics of neera, crude granular brown sugar and pure granular brown sugar.  The data were analyzed by descriptive method. The results showed that agroindustry of granular brown sugar on Hariang Model in Banten Province was managed by village cooperative namely KUB Mandala. Processing of garnular brown sugar was done in farmers groups using traditionally method, the cooperative collected and converted it to pure granular brown sugar.  The final product is meet with quality standard and has traded for regional and export market. Agroindustry of  granular brown sugar by Hariang Model is classified as innovation technology which suitable to be implemented and has given some positive effect to farmers/farmer groups, diversification of product and extensification  of palm sugar (Arenga pinnata) areas.  This model can be used for developing of granular brown sugar agroindustry in some places as central production of palm sugar and possible for other commodities adopting in farmer institutional, processing system, management bussines and farmer-investor partnership.  RINGKASANPermasalahan pengembangan agroindusri gula semut tergantung pada skala usaha, pola pengolahan dan pengusahaannya, sehingga diperlukan model pengembangan yang menguntungkan kelompok tani. Penelitian di laksanakan pada bulan Juli 2005 di Propinsi Banten. Penelitian menggunakan metode survei dan pengumpulan data secara Purposive Random Sampling. Data yang dikumpulkan terdiri dari data primer dan sekunder. Data primer berasal dari petani, koperasi unit desa, karakteristik nira segar, gula semut kasar dan gula semut, sedangkan data sekunder berasal dari instansi pemerintah. Analisis data dilakukan secara deskriptif. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa Agroindustri gula semut Model Hariang di Propinsi Banten, yang dikelola koperasi unit desa dengan nama KUB Mandala. Pengolahan gula semut dilakukan oleh kelompok tani dengan cara tradisional, produk yang dihasilkan petani dalam bentuk gula semut kasar, diolah lebih lanjut oleh unit pengolahan pada koperasi. Produk akhir adalah gula semut yang memenuhi standar mutu dan dipasarkan pada pasar regional dan ekspor. Agroindustri gula semut model hariang dikalsifikasi sebagai teknologi inovasi yang siap diimplementasikan, dan model ini telah memberi pengaruh positif bagi kelompok tani pada pengembangan diversifikasi produk dan intensifikasi tanaman aren. Model ini dapat dikembangkan pada daerah sentra produksi aren dan memungkinkan diadopsi untuk pengembangan komoditas lain dengan penyesuaian terhadap kelembagaan petani, sistem pengolahan, pengelolaan usaha dan kerjasama dengan mitra usaha.
Karakteristik Bunga dan Buah Hasil Persilangan Kelapa Hibrida Genjah x Genjah HENGKY NOVARIANTO
Buletin Palma No 39 (2010): Desember, 2010
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v0n39.2010.100-110

Abstract

Female Flowers and Fruits Setting Characteristic of Hybrids CoconutDwarf x DwarfThis study purpose to determine the performance of Dwarf x Dwarf coconut. The experiment was conducted from July 2009 until August 2010, at the Experimental Garden of Mapanget and Paniki, and at the Laboratory of Plant Breeding, Indonesian Coconut and Palmae Research Institute (ICOPRI), Manado. Treatment consists of crosses between Dwarf coconut types, namely Raja Dwarf (GRA), Bali Yellow Dwarf (GKB) and Salak Dwarf (GSK), and their resiprokal, (1) GRA x GKB, (2) GRA x GSK, (3) GKB x GRA, (4) GKB x GSK, (5) GSK x GRA dan (6) GSK x GKB. Each type of crossing it uses as many as 15 coconut trees as replicates, and each tree is used 3 bunches as examples of female parents. Parameters were observed in female parents are: Number of female flowers per bunch, number of fruit setting the age of 3 , 6 and 9 months per bunch, and number of fruit harvested (age 11 months) per bunch. Morphological data of leaf, stem, female flowers, and ripe fruit of the three female parents also observed prior to hybridization. Data analysis used Complete Random Design of ANOVA, and continued with t Tests. Research result showed that the Salak Dwarf coconut varieties (GSK), the female flowers produce more than the palm varieties Raja Dwarf (GRA) and the Bali Yellow Dwarf (GKB). The potential of hybrid coconut to produce fruit setting is so most GSK x GRA, and followed by GSK x GKB, ie. 12,90 fruits and 10,81 fruits. The highest fruit yields are obtained in crosses between GSK x GRA, which is 12.90 fruit/bunch.
Analisis Pendapatan Usahatani Tumpangsari pada Peremajaan Kebun Kelapa Sawit Rakyat [Income Analysis Intercropping Farming System On Smallholder Oil Palm Replanting Area] Kusumawati, Sri Ambar; Yahya, Sudirman; Hariyadi, nfn; Mulatsih, Sri; Istina, Ida Nur
Buletin Palma Vol 20, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v20n1.2019.45-56

Abstract

The major problem rejuvenation on smallholder oil palm plantation is approximately three years loss of income, since the plants have not yet produced,. Loss of income for big companies does not affect of their survival, on the other hand, for smallholders (farmers,) it threatens the survival of the farmers’ family. This study was aimed to analyze the income of intercropping system on smallholder oil palm replanting, carried out in Bukit Jaya Village Ukui Sub-District, Pelalawan Regency, Riau Province, on a replanted 28-year-old oil palm plantation. The experiment was arranged in a Split Plot Design with main plot is three farmer’s units and subplot is four intercropped treatments (corn, soybeans, legume cover crops and natural vegetation) and  three replications. The results showed that corn productivities of planting season 1-3 consecutively were 5,01 t ha-1; 7,51 t ha-1and 6,57 t ha-1. Soybean were 1,60 t ha-1; 1,28 t ha-1 and 2,19 t ha-1. Production costs per ha were IDR. 11.550.000 for corn and IDR 9.955.000 for soybean. Farmer's income with local selling prices of corn, on average, was IDR. 3.280.623  per month per unit and soybean was IDR 636.518  per month per unit.  The average R/C value of corn was 2,66 and soybean was 1,33.  There was no significant effect of intercropping farming system treatments on the growth of oil palms trees for all of three farmers. The use of corn as intercropping provides benefits by obtaining the economic value of their crop yields, since corn was more profitable than soybean.ABSTRAKPermasalahan peremajaan kebun kelapa sawit adalah hilangnya pendapatan selama tanaman belum menghasilkan, kurang lebih tiga tahun. Kehilangan pendapatan bagi perusahaan besar tidak banyak berpengaruh pada perusahaan, namun bagi petani mengancam kelangsungan hidup keluarganya.  Penelitian ini bertujuan menganalisis pendapatan usaha tani tumpangsari dan pertumbuhan tanaman pokok, dilaksanakan di Desa Bukit Jaya Kecamatan Ukui Kabupaten Pelalawan Provinsi Riau, pada kebun kelapa sawit 28 tahun yang diremajakan.  Penelitian menggunakan Rancangan Petak Terbagi dengan petak utamanya kapling petani sebanyak tiga, anak petaknya perlakuan empat tanaman sela (jagung, kedelai, kacangan dan vegetasi alami), diulang tiga kali.  Peubah amatan adalah pertumbuhan dan produk-tivitas jagung dan kedelai, biaya produksi, serta pertumbuhan tanaman pokok kelapa sawit.  Data dianalisis meng-gunakan SAS versi 9,4 dan analisis kelayakan R/C rasio.  Hasil penelitian menunjukkan produktivitas jagung musim tanam satu sampai tiga berturut-turut 5,01 t ha-1; 7,51 t ha-1 dan  6,57 t ha-1, atau rata-rata 6,36 t ha-1; kedelai 1,60 t ha-1; 1,28 t ha-1 dan 2,19 t ha-1 atau rata-rata 1,69 t ha-1. Biaya produksi jagung Rp. 11.550.000 per ha dan kedelai Rp. 9.955.000 per ha.  Pendapatan petani rata-rata per bulan per kapling dengan harga jual jagung Rp. 4.350 per kg dan kedelai Rp. 7.000 per kg adalah jagung sebesar Rp. 3.280.623 dan kedelai Rp. 636.518.  Rata-rata nilai R/C jagung 2,66 dan kedelai 1,33.  Dibandingkan dengan praktek baku dengan tanaman kacangan, tidak ada pengaruh perlakuan tanaman sela terhadap pertumbuhan tanaman pokok kelapa sawit pada semua petani. Penanaman tanaman sela jagung pada lahan peremajaan kelapa sawit memberikan pendapatan yang lebih tinggi dibanding kedelai. ABSTRAKSalah satu permasalahan peremajaan kebun kelapa sawit rakyat adalah hilangnya pendapatan pekebun selama tanaman kelapa sawit belum menghasilkan, paling kurang tiga tahun.  Penelitian ini menganalisis  pendapatan usaha tani tumpangsari pada peremajaan kebun kelapa sawit rakyat.  Penelitian dilaksanakan di Desa Bukit Jaya Kecamatan Ukui Kabupaten Pelalawan Provinsi Riau, pada kebun kelapa sawit rakyat umur 28 tahun yang diremajakan.  Penelitian menggunakan rancangan Split-Plot dengan petak utamanya kapling petani sebanyak tiga kapling, sebagai anak petaknya empat perlakuan tanaman tumpangsari yaitu jagung, kedelai, kacangan dan vegetasi alami, dan ulangan tiga kali.  Peubah amatan adalah pertumbuhan dan produktivitas tanaman jagung dan kedelai, biaya produksi, serta pertumbuhan tanaman pokok kelapa sawit.  Data dianalisis menggunakan SAS versi 9.4 dan analisis kelayakan R/C rasio.  Hasil penelitian menunjukkan produktivitas jagung musim tanam satu sampai tiga berturut-turut 4,850 t ha-1; 7,503 t ha-1 dan  6,578 t ha-1, atau rata-rata 6,31 t ha-1;   kedelai 1,603 t ha-1, 1,275 t ha-1 dan 2,193 t ha-1 atau rata-rata 1,69 t ha-1. Biaya produksi jagung Rp. 10.250.000,- per ha dan kedelai Rp 7.850.000,- per ha.  Pendapatan petani rata-rata per ha per musim tanam dengan harga jual jagung Rp. 4.350,- per kg dan kedelai Rp. 7.000,- per kg adalah jagung sebesar Rp. 17.424.950,- dan kedelai Rp. 3.982.333,-.  Rata-rata nilai R/C jagung 2,73 dan kedelai 1,51.  Dibandingkan dengan praktek baku dengan tanaman kacangan, tidak ada pengaruh perlakuan tanaman sela pada pertumbuhan tanaman pokok kelapa sawit pada semua petani. Penanaman tanaman sela jagung pada lahan peremajaan kelapa sawit memberikan pendapatan yang lebih tinggi dibanding kedelai.
Penampilan Bibit Kelapa F1 Hasil Silangan Genjah x Dalam Mapanget S4 WEDA MAKARTI MAHAYU; HENGKY NOVARIANTO
Buletin Palma Vol 16, No 2 (2015): Desember, 2015
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v16n2.2015.141-146

Abstract

ABSTRAK Tanaman  kelapa  yang  ditanam  petani  umumnya  tipe  kelapa  Dalam  dengan  pertambahan  tinggi  batang  cepat.  Ketersediaan tenaga pemanjat saat ini semakin sulit didapat, sehingga dibutuhkan varietas kelapa yang berbuah cepat,  berbatang pendek dan pertambahan tinggi batang lambat. Varietas kelapa tersebut dapat dirakit dengan menyilangkan kelapa Genjah dengan kelapa Dalam yang pertambahan tinggi batangnya lambat. Penelitian ini bertujuan untuk  mengetahui penampilan bibit dua genotipe kelapa hibrida hasil persilangan Genjah Kuning Bali (GKB), Genjah Raja (GRA) dengan Dalam Mapanget generasi selfing ke-4 (DMT-S4) serta Genjah Kuning Nias (GKN ) x Dalam Tenga (DTA) atau Khina-1 sebagai pembanding. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan tiga perlakuan dan sembilan ulangan, masing-masing ulangan terdiri dari 12 tanaman. Perlakuan yang diuji adalah A = GKB x DMT-S4, B = GRA x DMT-S4 dan C = GKN x DTA. Hasil penelitian pertumbuhan dan perkembangan tingkat bibit dari ketiga genotipe kelapa hibrida tersebut memperlihatkan bahwa kecambah dari hibrida hasil persilangan GKB x DMT-S4  memiliki viabilitas tertinggi yang diikuti oleh hasil  persilangan GKN x DTA dan GRA x DMT-S4. Kecepatan kecambah dan kecepatan pecah daun bibit ketiga hibrida tersebut tidak berbeda nyata. Jumlah daun bibit hasil persilangan GKN x DTA lebih banyak dari hasil persilangan GKB x DMT-S4 dan GRA x DMT-S4 (umur 2 hingga 5 bulan), namun pada umur 6 bulan jumlah daun bibit hasil persilangan GKB x DMT S4 (7,75 helai) tidak berbeda nyata dengan GKN x DTA (7,97 helai). Rata-rata pertambahan daun/bulan bibit dari setiap hibrida tersebut adalah: 1,28 helai (GKB x DMT S4), 1,13 helai (GRA x DMT S4) dan 1,21 helai (GKN x DTA). Berdasarkan penelitian ini diketahui bahwa bibit hasil persilangan  GKB x DMT S4 dan GRA x DMT S4 lebih pendek dengan lingkar batang lebih kecil dibanding GKN x DTA. Bibit kelapa  hibrida hasil persilangan GKB x DMT S4 dan GKN x DMT S4 memberikan harapan dapat diperoleh varietas kelapa yang cepat berbuah, berbatang pendek dan batang lambat menjadi tinggi.Kata kunci: Kelapa hibrida, bibit, pendek, cepat berbuah. Coconut Hybrid Performance of Dwarf x Mapanget Fourth Selfing GenerationABSTRACT Coconut palm planted by farmers is generally Tall type coconut which  grows fast. Availability of climbers is limited,  therefore, coconut varieties that are early mature, short and slowly growing trunk are needed. The coconut varieties can  be assembled by crossing Dwarf coconut palm with Tall coconut palm which slowly growing trunk. This research aims to know the appearance of hybrid coconut seedlings from crosses of two superior varieties Dwarf coconut Bali Yellow Dwarf (BYD), Raja Dwarf (RBD) with Mapanget Tall Fourth Selfing Generation (MTT S4) and Nias Yellow Dwarf  (NYD) x Tenga Tall (TAT) or Khina-1 as a comparison. This experimental was arranged in Randomized Block Design (RBD)  with three treatments and nine replications, each replication was consisted of 12 palms. The treatment is  A =  BYD x  MTT-S4, B = RBD x MTT-S4 dan C = NYD x TAT. Results  showed that hybrid from BYD x MTT S4 has the highest  viability followed by NYD x TAT and RBD x MTT S4. Germination rate and leaf splitting time of three hybrid were not  significantly different. More over leaves number of NYD x TAT is more than that of BYD x MTT S4 and RBD x MTT S4  (ages 2 to 5 months), but at the age of 6 months, leaves number of BYD x MTT S4 (7.75) was not significantly different  from NYD x TAT (7.97). While the average leaves increase per month of each hybrid are: 1.28 (BYD x MTT S4), 1.13 (RBD x MTT S4) and 1.21 (NYD x TAT). The result of this study showed that coconut hybrid from  BYD x MTT S4 and RBD x MTT S4 are shorter than NYD x TAT. Hybrid lines of BYD x MTT S4 and RBD x MTT S4 have a smaller girth of seedling than coconut hybrid of NYD x TAT. Coconut hybrid lines of BYD x MTT S4 and RBD x MTT S4 are promising in producing coconut varieties that early mature, short and slowly growing trunk.Keywords: Coconut hybrid, seedling, dwarf, early mature.
Mutu Gula Aren dan Perubahannya Selama Penyimpanan (Studi Kasus di Desa Hariang-Lebak Provinsi Banten) Abner Lay; Steivie Karouw
Buletin Palma No 35 (2008): Desember, 2008
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v0n35.2008.%p

Abstract

Untuk mengetahui karakteristik mutu gula semut  produksi petani dan koperasi di Desa Hariang dan perubahan mutu gula selama penyimpanan telah dilakukan penelitian pada bulan Juli sampai Desember 2005.  Gula semut yang digunakan merupakan hasil olahan petani dan koperasi di desa Hariang Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.  Pengujian mutu gula semut berupa kadar air dan kadar abu dilakukan pada 0 bulan, 1 bulan, 2 bulan, 3 bulan dan 4 bulan.  Analisis kadar sakarosa dan cemaran logam hanya dilakukan pada awal penyimpanan.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa,  proses pengolahan lanjutan yang dilakukan oleh koperasi cenderung menurunkan kadar air gula semut dari 6,24-6,26% menjadi 2,802,83%. Selama penyimpanan terjadi peningkatan kadar air gula semut hasil olahan petani dan koperasi. Kadar sakarosa dan cemaran logam gula semut hasil olahan petani dan koperasi sesuai dengan Standar National Indonesia.