cover
Contact Name
Pantjar Simatupang
Contact Email
jae.psekp@gmail.com
Phone
+62251-8333964
Journal Mail Official
jae.psekp@gmail.com
Editorial Address
Lt. III Gedung A. Kawasan Inovasi Pertanian Cimanggu Jl. Tentara Pelajar No. 3B, Kota Bogor 16111
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Agro Ekonomi
ISSN : 02169053     EISSN : 25411527     DOI : http://dx.doi.org/10.21082/
Core Subject : Agriculture,
Ruang lingkup dari Jurnal Agro Ekonomi adalah sosial ekonomi pertanian tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan peternakan
Articles 391 Documents
The Mapping of Microfinance Institutions for Supporting Sustainable Agriculture Financing in Padang City Zednita Azriani; Cindy Paloma; Yusri Usman
Jurnal Agro Ekonomi Vol 35, No 1 (2017): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (419.234 KB) | DOI: 10.21082/jae.v35n1.2017.1-10

Abstract

IndonesianLembaga Keuangan Mikro (LKM) merupakan salah satu alternatif pembiayaan bagi. Pemetaan LKM sangat penting untuk menghindari terjadinya tumpang tindih program yang membantu peran LKM. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pemetaan terhadap LKM di Kota Padang dengan GIS dan mendeskripsikan efektivitas pengelolaan LKM di Kota Padang. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan setiap institusi LKM dan pihak terkait. Penelitian menghasilkan suatu situs web yang berhubungan dengan LKM di Kota Padang, sehingga hasil dan gambaran pemetaan LKM dapat dilihat di “lkmsumbar.org”. Lokasi LKM menyebar di sekitar pemukiman nasabah. Manajemen LKM ditinjau dari segi aksesibilitas, ketaatan terhadap peraturan, tingkat kepatuhan terhadap manajemen, tingkat pelayanan, alokasi penggunaan dana kredit, serta manfaat dana kredit. Hasilnya menunjukkan bahwa akses petani terhadap LKM agribisnis cukup baik, sebagaimana dapat dilihat dari kesesuaian antara jumlah kredit yang diajukan dan disetujui. Tingkat kepatuhan anggota terhadap pengurus dan peraturannya cukup bagus. Tingkat layanan pengurus dianggap tidak baik dan tidak efektif dalam meladeni anggota. Dana pinjaman lebih banyak digunakan oleh anggota untuk menambah modal dan sebagian mungkin digunakan untuk memenuhi kebutuhan mendesak rumah tangga.EnglishMicrofinance institutions (MFIs) are financing alternatives for farmers. Mapping MFIs is useful to avoid overlapping of the MFIs supporting programs. This study aims to mapping MFIs in Padang City with GIS, and to describe the management effectiveness. Data were collected using in-depth interviews with each micro-credit institution and their related parties. This research produces a website of the MFI mapping as can be seen on “lkmsumbar.org”. The MFIs locations spread around the settlement of the MFI’s clients. The effectiveness of MFI's management is viewed in terms of the member accessibility, level of adherence to the rule of law, level of compliance to the management, management service level, allocation of the use of credit funds, and the benefits of credit funds. The results show that farmers' access to the agribusiness MFI-As is quite good, which can be seen from the consistency between the amount of credit proposed and approved. The members’ compliance to the board and the rules is quite good. The service level of the board is not good and not effective in serving the members. The loan is mostly used for business capital and some may be used for funding household urgent needs.
Market Structure Of The Corn Seed Industry In East Java Bambang Sayaka
Jurnal Agro Ekonomi Vol 24, No 2 (2006): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (94.599 KB) | DOI: 10.21082/jae.v24n2.2006.133-156

Abstract

IndonesianMakalah ini menelaah tentang struktur pasar industri benih jagung di Jawa Timur. Struktur pasar di tingkat produsen sangat oligopolistik yang mana volume penjualan didominasi oleh produk beberapa perusahaan multinasional berupa benih jagung hibrida. Pengemasan dan jenis varietas merupakan indikator utama diferensiasi produk. Semua produsen memperoleh informasi pasar secara memadai. Investasi yang cukup tinggi merupakan penghalang utama untuk masuk dan pangsa pasar yang sudah mapan merupakan faktor utama untuk meninggalkan industri ini. CR4 di tingkat pedagang menunjukkan bahwa pedagang besar-pengecer bersifat oligopolistik, tetapi pengecer relatif bersaing. Mendorong investor baru untuk masuk ke dalam industri benih merupakan pilihan kebijakan pemerintah yang bisa mengurangi konsentrasi produsen yang relatif tinggi dalam industri ini.EnglishThis study attempted to describe market structure of the corn seed industry in East Java. Market structure of the industry at the producer level was highly oligopolistic characterized by dominant volume of sales of few multinationals through their hybrid corn seed products. Packaging and types of varieties were the main indicators of product differentiation. All producers were well informed about the market. High capital investment was the main barrier to entry and established market share was the most important barrier to exit. CR4 at the traders’ level showed that the wholesaler-retailers were oligopolistic, but the retailers were relatively competitive. Encouraging new investors to entry into the corn seed industry is the policy the government can take to reduce high concentration in this industry.
Kebijakan Dukungan Domestik untuk Menetralisir Dampak Negatif Penurunan Tarif Impor Terhadap Industri Gula Indonesia Muhammad Emil Rahman; Bonar M. Sinaga; nFN Harianto; Sri Hery Susilowati
Jurnal Agro Ekonomi Vol 36, No 2 (2018): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1069.174 KB) | DOI: 10.21082/jae.v36n2.2018.91-112

Abstract

EnglishReduction toward elimination of import tariffs for all tradable products is a common modality of international trade agreements. Although it may be beneficial for reducing retail prices, import tariff reduction could create some negative impacts on farming, farmers’ welfare, and agro-processing industries. One of the most immediate impacts to anticipate is import tariff reduction on sugar. Accordingly, this study aims to formulate domestic support policy mix for neutralizing the negative impacts of sugar import tariff reduction on the Indonesian sugar industry. The study is conducted by developing an econometric policy simulation model for the Indonesian sugar industry, consisting of 21 structural equations and 15 identities, estimated by the Two-Stage Least Square method using time series data of 1995−2016. The result shows that sugar import tariff reduction, on one hand, is good because it reduces retail sugar price, but on the other hand, it is bad because it reduces sugar farmer price and domestic sugar production, increases sugar import, and reduces molasses export. As a consequence of the international agreements, the policy mix suggested for neutralizing the negative impacts of the sugar import tariff reduction should include increasing the planted area of sugar cane crop and construction of new sugar factories. IndonesianPenurunan hingga penghapusan tarif impor untuk semua produk yang diperdagangkan adalah modalitas utama peningkatan akses pasar pada setiap kesepakatan perdagangan internasional. Walau bermanfaat menurunkan harga eceran, penurunan tarif impor dapat berdampak negatif terhadap kinerja usaha tani, kesejahteraan petani, dan industri pengolahan hasil pertanian. Salah satu yang perlu segera diantisipasi ialah penurunan tarif impor gula. Sejalan dengan itu, penelitian ini bertujuan untuk merumuskan bauran kebijakan dukungan domestik yang dapat menetralisasi dampak negatif penurunan tarif impor terhadap industri gula Indonesia. Penelitian dilakukan dengan membangun model ekononometrik simulasi kebijakan industri gula Indonesia yang terdiri dari 21 persamaan struktural dan 15 persamaan identitas yang diestimasi menggunakan metode Two Stage Least Square dengan data time series periode 1995 hingga 2016. Hasil analisis simulasi menunjukkan bahwa penurunan tarif impor gula, di satu sisi, berdampak baik karena dapat menurunkan harga gula eceran domestik, namun di sisi lain berdampak tidak baik karena menyebabkan penurunan harga gula petani dan menurunkan produksi gula domestik, meningkatkan impor gula, dan menurunkan ekspor molase. Jika sekiranya terpaksa dilakukan sebagai konsekuensi dari pelaksanaan kesepakatan kerja sama perdagangan internasional maka bauran kebijakan yang disarankan untuk menetralisasi dampak negatif penurunan tarif impor gula ialah peningkatan luas areal tanam tebu dan pembangunan pabrik gula baru.
Dampak Penghapusan Subsidi Pupuk terhadap Permintaan Pupuk dan Produksi Padi Nasional I Wayan Rusastra; Reni Kustiari; Effendi Pasandaran
Jurnal Agro Ekonomi Vol 16, No 1-2 (1997): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.943 KB) | DOI: 10.21082/jae.v16n1-2.1997.31-41

Abstract

Maintaining rice selfsufficiency in the condition of fiscal austerity can be conducted through technological generation, efficiency improvement, or input subsidy reduction. The objectives of this study is to asses the impact of price liberalization of Urea, TSP, and other chemical fertilizer (KCI and ZA) to the application of those fertilizer and national rice production. The study used the combination of cross-section (five regions) and time series data of 15 years (1979-1993). There are four empirical models under considerations in this study, i.e: rice production function, and demand function of Urea, TSP, and other chemical fertilizers. The system equations of rice production and fertilizer demand functions are estimated simultaneously in order to have an efficient parameter estimates. The research findings indicated that fertilizer price liberalization had positive impact on the structural application of those fertilizers, in which the use of Urea and TSP decline and the use of other chemical fertilizer increases. The structural change of those fertilizer application have positive impact on yield and national rice production, at the magnitude of 5,1 percent. In order to maintain rice productivity (selfsufficiency) and efficient use of national resources, the reduction of Urea and TSP subsidy can be conducted in a faster rate than those ZA's and KCI's For larger rice production improvement, technological breakthrough is really needed in conjunction with managerial skill improvement of the farmers.
Ikatan Genealogis dan Pembentukan Struktur Agraria: Kasus pada Masyarakat Pinggiran Hutan di Kecamatan Palolo, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah nFN Syahyuti
Jurnal Agro Ekonomi Vol 20, No 1 (2002): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.496 KB) | DOI: 10.21082/jae.v20n1.2002.64-84

Abstract

EnglishIndonesia government facing the forest problems especially out of Java, those are deforestation, resources destabilization, and some conflicts between forest resources stakeholders. This problem needs some study for example sociological analysis on the forest margin community to uncover and get good solution. The purpose of this research are to study formation agrarian structure historically and the sustainability of socioeconomic of forest margin community. This research use qualitative approach with case study in two villages. Interview does in community level, government, as well as the non-government organization; as well as quantitative data from 61 respondent sample. The research result shows that the community composed by ethnic group as based formation communities. The genealogy sentiment is the main factor to agrarian structure process. Land grabbing doing by the native ethnic, due to absent of local welfare institution or weak of socioeconomic security.IndonesianIndonesia menghadapi berbagai permasalahan dalam pengelolaan kehutanan berupa kerusakan sumber daya hutan dan konflik antar kelompok kepentingan yang menyangkut masyarakat yang hidup di pinggiran kawasan hutan. Untuk memahami hal ini perlu dipelajari aspek agraria dalam bingkai sosiologi masyarakat pedesaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif, dengan menerapkan strategi studi kasus dan multi metode pengumpulan data berupa wawancara, pengamatan langsung, serta studi dokumen. Lokasi penelitian dipilih pada kawasan yang berbatasan dengan wilayah hutan. Wawancara kualitatif dilakukan dengan berbagai pihak dan informan kunci, serta 61 orang responden. Kedua desa penelitian merupakan desa bentukan melalui migrasi swakarsa semenjak tahun 1960-an. Cara perolehan tanah sangat dipengaruhi oleh faktor suku, yang menjadi dasar pembentukan struktur agraria masyarakatnya. Hal ini disebabkan keterjaminan keamanan sosial ekonomi masyarakat mengandalkan organisasi kekerabatan, karena masyarakatnya dikonstruksi atas dasar ikatan genealogis suku. Struktur agraria yang cenderung timpang antar suku ini pada gilirannya berperan dalam ekspansi penggunaan lahan di kawasan hutan, dan keberlangsungan ekosistem setempat.
Pendugaan Fungsi Keuntungan dan Skala Usaha pada Usahatani Kopi Rakyat di Lampung Budi Santoso
Jurnal Agro Ekonomi Vol 6, No 1-2 (1987): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (786.146 KB) | DOI: 10.21082/jae.v6n1-2.1987.29-41

Abstract

EnglishCoffee is a commodity classified as the one of the main contributors to the Government income through the small-scale coffee plantation farms. This paper tried to examine factors affected the rate of income earned from the farms, achievements of the profit maximization, and conditions resulted from the farm's return to scale. The research was conducted in Lampung during the harvest season in 1984/1985. The results show that the area of planted, the number of tress, and the age of the commodity were affected the profit earned from the farms with highly significant levels. The return to scale coefficient was calculated to be constant within the farm size average of 1.02 ha. Result was also indicate that the small-scale coffee farms in the location were hardly provide the maximum profit to the farmers.IndonesianKopi adalah salah satu komoditi penghasil devisa utama dari sub-sektor perkebunan yang sebagian besar (94%) diusahakan oleh rakyat. Tulisan ini mencoba menelaah faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat keuntungan usahatani kopi rakyat, tercapai tidaknya keuntungan maksimum dan keadaan skala usaha. Penelitian ini dilaksanakan di Lampung untuk musim kopi 1984/1985. Hasil analisis menunjukkan bahwa luas kebun kopi, jumlah pohon kopi dan umur pohon kopi berpengaruh sangat nyata terhadap keuntungan usahatani kopi rakyat. Keadaan skala usaha adalah pada kondisi "constant return to scale" dengan luas usaha rata-rata 1,02 ha. Usahatani kopi rakyat di daerah penelitian belum memberikan tingkat keuntungan yang maksimum kepada petani pengelolanya.
Mengukur Pencapaian Penanggulangan Kemiskinan dan Kelaparan di Indonesia 2010 nFN Faharuddin
Jurnal Agro Ekonomi Vol 30, No 2 (2012): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (155.671 KB) | DOI: 10.21082/jae.v30n2.2012.145-157

Abstract

EnglishAlleviating poverty and hunger recently becomes the global issue through which the MDGs agreed internationally to reduce poverty and hunger by half in 2015. This paper aims to measure achievement of the first MDG goals in Indonesia in 2010 using a composite index called as PHI (Poverty and Hunger Index). PHI is a combination of five indicators in MDG Goal 1 combined using a similar way to construct HDI. PHI calculations put the provinces into 3 categories, i.e. high (2 provinces, Bali and Jakarta), medium (30 provinces) and low (1 province, West Papua). Achievements of the first MDG Progress by province are observed through PHI-P (PHI-Progress) indices classified into 3 groups, i.e. fast (11 provinces), slow (13 provinces), and reversing (9 provinces). A combination of PHI and PHI-P produces classification by provincial development priorities within the framework of achievement of the first MDG goals with low priority (11 provinces), medium priority (13 provinces), and high priority (9 provinces).IndonesianPenanggulangan kemiskinan dan kelaparan merupakan isu global di mana melalui MDGs telah disepakati untuk menurunkan angka kemiskinan dan kelaparan hingga setengahnya pada tahun 2015. Makalah ini bertujuan untuk mengukur pencapaian tujuan MDGs yang pertama tersebut di Indonesia tahun 2010 menggunakan suatu indeks komposit yang disebut IKK (Indeks Kemiskinan dan Kelaparan). IKK merupakan kombinasi dari 5 indikator pada tujuan 1 MDGs, yang dikombinasikan menggunakan cara yang mirip dengan pembuatan indeks komposit IPM. Hasil penghitungan indeks IKK menempatkan provinsi-provinsi dalam 3 kategori yaitu tinggi (2 provinsi yaitu Bali dan DKI Jakarta), menengah (30 provinsi) dan rendah (1 provinsi yaitu Papua Barat). Progres pencapaian tujuan pertama MDGs per provinsi dilihat dengan indeks IKK-P (IKK-Progres) dalam 3 kelompok, progres cepat (11 provinsi), progres lambat (13 provinsi) dan progres mundur (9 provinsi). Kombinasi IKK dan IKK-P menghasilkan klasifikasi provinsi menurut skala prioritas pembangunan dalam kerangka mewujudkan tujuan pertama MDGs yaitu prioritas rendah (11 provinsi), prioritas sedang (13 provinsi) dan prioritas tinggi (9 provinsi).
An Analysis of Market Integration for Selected Vegetables in Indonesia Achmad Munir; S. Sureshwaran; H. M.G. Selassie; J. C.O. Nyankori
Jurnal Agro Ekonomi Vol 16, No 1-2 (1997): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.889 KB) | DOI: 10.21082/jae.v16n1-2.1997.1-12

Abstract

IndonesianSayur-sayuran adalah salah satu jenis komoditas penting di Indonesia yang termasuk dalam penyurnbang devisa ekspor nonmigas di Indonesia. Studi ini bertujuan untuk menguji konsep integrasi pasar pada komoditas sayur-sayuran terpilih di Indonesia. Spesifikasi model digunakan merupakan aplikasi model yang kembangkan oleh Ravallion (1986). Empat jenis sayur-sayuran di antara 21 sayuran yang diproduksi di Indonesia dipilih untuk pengujian integrasi pasar. Pemilihan tersebut berdasarkan pada urutan rangking luasan tanam dan hasil panen yang diproduksi selama periode 1969-1990. Hasil uji statistik dengan F-test menunjukkan bahwa tidak ada satu pun kombinasi pasar yang tersegmentasi. Hal ini memberikan implikasi penting bagi petani dan pengambil kebijakan di Indonesia. Hanya beberapa kombinasi pasar sayur-sayuran yang terintegrasi dalam jangka pendek. Hasil lain juga menunjukkan bahwa fasilitas sarana transportasi diantara pasar produsen-konsumen dan sifat karakteristik sayur-sayuran yang mudah rusak (perishable) adalah hal penting dalam menjelaskan faktor yang mempengaruhi kecepatan transmisi harga. Integrasi pasar yang terjadi bersifat langsung (directional) di mana pasar di Jawa Barat dan Jakarta terintegrasi dengan pasar di Sumatera; sedangkan pasar di Jawa Tengah terintegrasi dengan Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Selatan.
Skenario Goal Programming dalam Perencanaan Pola Tanam Petani: Kasus Daerah Balung Kabupaten Jember Rudi Wibowo
Jurnal Agro Ekonomi Vol 2, No 1 (1982): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1349.649 KB) | DOI: 10.21082/jae.v2n1.1982.32-55

Abstract

IndonesianOrientasi petani-petani dengan sumberdaya yang sangat terbatas padanya adalah usaha pemenuhan sekumpulan tujuan-tujuan yang diinginkannya. Masing-masing spesifikasi tujuan mempunyai prioritas yang berbeda, tergantung pada perilaku petani sendiri. Dengan demikian, keputusan yang diambilnyapun akan sangat terbatas pula. Dasar pemikiran tersebut memberikan signal bahwa pengambilan keputusan menurut perilaku ekonomi ortodoks tidaklah seirama lagi dengan permasalahannya. Berangkat dari kenyataan tersebut, penelitian ini mencoba melangkah dengan metodologi "Linear Goal Programming" (LGP) untuk menolong problematika yang kompleks di atas dengan karakterisasi tujuan berganda. Optimasi perancangan meliputi beberapa skenario optimal berdasarkan kemungkinan perubahan tingkat harga-harga keluaran. Penelitian dilakukan di daerah WKBPP Balung Kabupaten Jember pada lahan sawah usahatani musim tanam MH 1979 dan MK 1980. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan sumberdaya pertanian di daerah penelitian belum menunjukkan skema yang optimal. Belum diambilnya kesempatan skema pola pertanaman yang optimal tersebut dalam banyak hal disebabkan oleh belum teradopsinya beberapa tehnik produksi usahatani oleh petani-petani. Faktor tenaga kerja keluarga dan modal terlihat merupakan restriksi yang ketat, walaupun terjadi kemungkinan adanya perubahan harga-harga keluaran. Dilain pihak, walaupun penguasaan lahan usahatani sangat terbatas, namun kebutuhan konsumsi pokok keluarga terhadap padi/beras masih dapat dijangkau. Hal yang sangat menarik adalah perilaku petani-petani yang cenderung menjual hasil produksi padinya andaikan harga padi cenderung meningkat. Sampai pada batas-batas tertentu, perubahan harga-harga keluaran dapat memacu perubahan pemilihan skema optimal pola bertanam, dan kemungkinan-kemungkinan tersebut masih memperlihatkan belum dapat dipenuhinya semua tujuan petani.
Analisis Keberlanjutan Perkebunan Kakao Rakyat di Kawasan Perbatasan Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Timur M. Hidayanto; Supiandi S.; S. Yahya; L. I. Amien
Jurnal Agro Ekonomi Vol 27, No 2 (2009): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (188.384 KB) | DOI: 10.21082/jae.v27n2.2009.213-229

Abstract

EnglishSebatik Island, Nunukan Regency is one of the border area of Indonesia and Malaysia. Cocoa is the major commodity in this area. The objective of this study is to analyze the index and sustainability status of cocoa in the border area of Sebatik Island. The analysis uses Multi Dimensional Scaling (MDS) method, called RAP-SEBATIK (Rapid Appraisal for Cocoa on Sebatik Island). RAP-SEBATIK was employed to visualize the status of cocoa in Sebatik Island for five evaluation dimensions.  This study uses primary and secondary data. The attributes that affect sensitively on the index and sustainability status was approached using the Leverage and Monte Carlo Analysis. The analysis on the five dimensions (ecology, economy, social-cultural, infrastructure and technology, law and institutional) indicate that ecological dimension is less sustainable (46.23%), economical dimension is less sustainable (48.58%), socio-culture dimension is sustainable (75.20%), infrastructure and technology dimension is less sustainable (36.39%) and dimension of law and institutional is less sustainable (40.49%). Out of 53 attributes, there were 17 attributes need to be taken care immediately because of  the sensitive affect on the increase of index and sustainability status.IndonesianPulau Sebatik merupakan salah satu kawasan perbatasan negara antara Indonesia dan Malaysia. Di kawasan perbatasan Pulau Sebatik, tanaman kakao merupakan salah satu komoditas unggulan yang telah dibudidayakan sejak tahun 1980-an. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis status keberlanjutan perkebunan kakao rakyat di kawasan tersebut. Metode analisis yang digunakan adalah Multi Dimensional Scaling (MDS) yang disebut RAP-SEBATIK (Rapid Appraisal for Cocoa on Sebatik Island) yang hasilnya dinyatakan dalam bentuk indeks dan status keberlanjutan. Analisis Leverage dan Monte Carlo digunakan untuk mengetahui atribut-atribut yang sensitif  terhadap indeks, dan status keberlanjutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada dimensi ekologi statusnya kurang berkelanjutan (46,23%), dimensi ekonomi kurang berkelanjutan (48,58%), dimensi sosial budaya berkelanjutan (75,20%), dimensi infrastruktur dan teknologi kurang berkelanjutan (36.39%) dan dimensi hukum dan kelembagaan kurang berkelanjutan (40,49%). Dari 53 atribut yang dianalisis, terdapat 17 faktor atau atribut yang sensitif terhadap indeks dan status keberlanjutan, sehingga perlu dilakukan upaya perbaikan atau intervensi terhadap atribut-atribut tersebut untuk meningkatkan indeks dan status keberlanjutan.

Page 11 of 40 | Total Record : 391


Filter by Year

1981 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 39, No 2 (2021): Jurnal Agro Ekonomi: IN PRESS Vol 39, No 1 (2021): Jurnal Agro Ekonomi Vol 38, No 2 (2020): Jurnal Agro Ekonomi Vol 38, No 1 (2020): Jurnal Agro Ekonomi Vol 37, No 2 (2019): Jurnal Agro Ekonomi Vol 37, No 1 (2019): Jurnal Agro Ekonomi Vol 36, No 2 (2018): Jurnal Agro Ekonomi Vol 36, No 1 (2018): Jurnal Agro Ekonomi Vol 35, No 2 (2017): Jurnal Agro Ekonomi Vol 35, No 1 (2017): Jurnal Agro Ekonomi Vol 34, No 2 (2016): Jurnal Agro Ekonomi Vol 34, No 1 (2016): Jurnal Agro Ekonomi Vol 33, No 2 (2015): Jurnal Agro Ekonomi Vol 33, No 1 (2015): Jurnal Agro Ekonomi Vol 32, No 2 (2014): Jurnal Agro Ekonomi Vol 32, No 1 (2014): Jurnal Agro Ekonomi Vol 31, No 2 (2013): Jurnal Agro Ekonomi Vol 31, No 1 (2013): Jurnal Agro Ekonomi Vol 30, No 2 (2012): Jurnal Agro Ekonomi Vol 30, No 1 (2012): Jurnal Agro Ekonomi Vol 29, No 2 (2011): Jurnal Agro Ekonomi Vol 29, No 1 (2011): Jurnal Agro Ekonomi Vol 28, No 2 (2010): Jurnal Agro Ekonomi Vol 28, No 1 (2010): Jurnal Agro Ekonomi Vol 27, No 2 (2009): Jurnal Agro Ekonomi Vol 27, No 1 (2009): Jurnal Agro Ekonomi Vol 26, No 2 (2008): Jurnal Agro Ekonomi Vol 26, No 1 (2008): Jurnal Agro Ekonomi Vol 25, No 2 (2007): Jurnal Agro Ekonomi Vol 25, No 1 (2007): Jurnal Agro Ekonomi Vol 24, No 2 (2006): Jurnal Agro Ekonomi Vol 24, No 1 (2006): Jurnal Agro Ekonomi Vol 23, No 2 (2005): Jurnal Agro Ekonomi Vol 23, No 1 (2005): Jurnal Agro Ekonomi Vol 22, No 2 (2004): Jurnal Agro Ekonomi Vol 22, No 1 (2004): Jurnal Agro Ekonomi Vol 21, No 2 (2003): Jurnal Agro Ekonomi Vol 21, No 1 (2003): Jurnal Agro Ekonomi Vol 20, No 2 (2002): Jurnal Agro Ekonomi Vol 20, No 1 (2002): Jurnal Agro Ekonomi Vol 19, No 2 (2001): Jurnal Agro Ekonomi Vol 19, No 1 (2001): Jurnal Agro Ekonomi Vol 18, No 2 (1999): Jurnal Agro Ekonomi Vol 18, No 1 (1999): Jurnal Agro Ekonomi Vol 17, No 2 (1998): Jurnal Agro Ekonomi Vol 17, No 1 (1998): Jurnal Agro Ekonomi Vol 16, No 1-2 (1997): Jurnal Agro Ekonomi Vol 15, No 2 (1996): Jurnal Agro Ekonomi Vol 15, No 1 (1996): Jurnal Agro Ekonomi Vol 14, No 2 (1995): Jurnal Agro Ekonomi Vol 14, No 1 (1995): Jurnal Agro Ekonomi Vol 13, No 2 (1994): Jurnal Agro Ekonomi Vol 13, No 1 (1994): Jurnal Agro Ekonomi Vol 12, No 2 (1993): Jurnal Agro Ekonomi Vol 12, No 1 (1993): Jurnal Agro Ekonomi Vol 11, No 2 (1992): Jurnal Agro Ekonomi Vol 11, No 1 (1992): Jurnal Agro Ekonomi Vol 10, No 1-2 (1991): Jurnal Agro Ekonomi Vol 9, No 2 (1990): Jurnal Agro Ekonomi Vol 9, No 1 (1990): Jurnal Agro Ekonomi Vol 8, No 2 (1989): Jurnal Agro Ekonomi Vol 8, No 1 (1989): Jurnal Agro Ekonomi Vol 7, No 2 (1988): Jurnal Agro Ekonomi Vol 7, No 1 (1988): Jurnal Agro Ekonomi Vol 6, No 1-2 (1987): Jurnal Agro Ekonomi Vol 5, No 2 (1986): Jurnal Agro Ekonomi Vol 5, No 1 (1986): Jurnal Agro Ekonomi Vol 4, No 2 (1985): Jurnal Agro Ekonomi Vol 4, No 1 (1985): Jurnal Agro Ekonomi Vol 3, No 2 (1984): Jurnal Agro Ekonomi Vol 3, No 1 (1983): Jurnal Agro Ekonomi Vol 2, No 1 (1982): Jurnal Agro Ekonomi Vol 1, No 2 (1982): Jurnal Agro Ekonomi Vol 1, No 1 (1981): Jurnal Agro Ekonomi More Issue