cover
Contact Name
Ahmadhanif
Contact Email
akademika.faiunisla@unisla.ac.id
Phone
+6285706923121
Journal Mail Official
akademika.faiunisla@unisla.ac.id
Editorial Address
Jl. Veteran No. 53A Lamongan
Location
Kab. lamongan,
Jawa timur
INDONESIA
Akademika
ISSN : 20857470     EISSN : 26218828     DOI : 10.30736
Akademika: Jurnal Studi Islam merupakan jurnal yang dikelola dan diterbitkan oleh Fakultas Agama Islam Universitas Islam Lamongan. Jurnal ini memiliki P-ISSN (2085-7470) dan E-ISSN (2621-8828) yang terbit dua kali setahun ini, bulan Juni dan Desember, berisi kajian-kajian keislaman baik dalam bidang pendidikan, hukum, keagamaan maupun ilmu pengetahuan.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 263 Documents
Reconsidering the Freedom to Learn Curriculum in Indonesia: Paulo Freire’s Perspective Yoyok Amirudin; Jakfar Shodiq; Muh Syamsul Arifin
Akademika Vol 20 No 1 (2026): Akademika
Publisher : Universitas Islam Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30736/7w7mg088

Abstract

The aim of this study is to analyze the implementation of the policy related to Freedom to Learn (Merdeka Belajar) Curriculum in Indonesia from the perspective of Paulo Freire’s thinking. This study uses a Systematic Literature Review (SLR) strategy as part of a qualitative methodology. This strategy was used in order to obtain a thorough and in-depth comprehension of the study findings, methodology, and trends published between 2019 and 2025, I collected the documents consist of papers, books, and the policy from Ministry of Education and culture Indonesia and analyze it. The result of this study is freedom to learn curriculum some area adopted the Freire’s ide. The most prominent in this new concept is freedom, means students free to search any resource for increase their skill and competences. Freire’s argued students and teachers need dialogues in the learning process, he was criticism the banking education. Education was not like banking system that students only receipt the material and tested in the end of examination by memorizing. This study perhaps contributes to the advancement of Indonesian education and evaluate the freedom to learn curriculum.
Dari Tafsir Toleransi menuju Tafsir Multikultural: Rekonstruksi Epistemologi Penafsiran Ayat-Ayat Ikhtilaf dalam Tafsir Al-Mishbah di Tengah Polarisasi Digital Keagamaan Indonesia Rizqi Fitriana
Akademika Vol 20 No 1 (2026): Akademika
Publisher : Universitas Islam Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30736/tc77n467

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk merekonstruksi epistemologi penafsiran ayat-ayat ikhtilaf dalam Al-Qur’an melalui paradigma tafsir multikultural sebagai respons terhadap fenomena polarisasi digital keagamaan di Indonesia. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya fragmentasi otoritas tafsir, penyebaran narasi intoleransi, serta menguatnya praktik penafsiran tekstual yang instan dan reduksionis di ruang digital. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif berbasis library research dengan perspektif hermeneutika sosial-kontekstual. Sumber data utama penelitian meliputi ayat-ayat Al-Qur’an tentang pluralitas dan ikhtilaf, Tafsir Al-Mishbah karya M. Quraish Shihab, serta karya-karya Fazlur Rahman dan Bhikhu Parekh yang relevan dengan hermeneutika kontekstual dan teori multikulturalisme. Data dikumpulkan melalui teknik dokumentasi dan dianalisis menggunakan metode analisis isi kritis (critical content analysis) dengan pendekatan interpretatif-hermeneutik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa paradigma tafsir toleransi yang berkembang dalam studi tafsir sosial masih cenderung berhenti pada level normatif-etis dan belum sepenuhnya menjadikan pluralitas sebagai basis epistemologis penafsiran Al-Qur’an. Penelitian ini menemukan bahwa ayat-ayat ikhtilaf dalam Al-Qur’an mengandung nilai dialogis, pengakuan terhadap perbedaan, serta orientasi etik yang menempatkan pluralitas sebagai bagian dari sunnatullah. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini menawarkan konsep Qur’anic multicultural hermeneutics sebagai paradigma baru dalam studi Qur'anic Studies kontemporer yang mengintegrasikan teks, konteks, dan realitas digital dalam proses penafsiran. Paradigma ini berimplikasi pada penguatan moderasi beragama digital, pengembangan literasi media keagamaan berbasis Al-Qur’an, serta pembangunan budaya dialog dalam masyarakat multikultural Indonesia.
Praktik Sewa Rahim (Surrogacy) : Analisis Etika Medis, Hukum, dan Perspektif Islam Elsya Jaisi Oktorra; Fitriyani; Reva Sri Puspita; Revana Putri Amanda; Siti Nurcholisa; Tedi Supriyadi; Akhmad Faozi
Akademika Vol 20 No 1 (2026): Akademika
Publisher : Universitas Islam Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30736/2nf95r84

Abstract

Praktik surrogacy dalam teknologi reproduksi berbantu (TRB) menciptakan masalah kompleks dalam etika, hukum, dan agama di Indonesia. Masalah ini berkaitan dengan kejelasan nasab, potensi eksploitasi perempuan, dan status hukum anak yang dilahirkan. Situasi ini menunjukkan kurangnya kesiapan regulasi dan norma sosial-keagamaan dalam menghadapi perkembangan teknologi reproduksi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis praktik surrogacy dari sudut pandang etika medis, hukum positif, dan hukum Islam. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif naratif yang melibatkan studi literatur dan wawancara semi-terstruktur dengan lima partisipan yang dipilih secara purposif. Informan terdiri dari tokoh agama, tenaga kesehatan, dan akademisi di Kabupaten Sumedang dan Kabupaten Bandung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik surrogacy berpotensi melanggar prinsip etika medis, yaitu otonomi, benefisensi, non-malefisensi, dan keadilan. Praktik ini juga membuka peluang untuk eksploitasi terhadap perempuan. Dari sudut hukum positif, surrogacy dilarang di Indonesia karena melibatkan pihak ketiga dalam proses reproduksi. Di sisi lain, dalam perspektif hukum Islam, praktik ini ditolak karena bertentangan dengan maqasid al-syari’ah, terutama hifz al-nasl yang menjaga kejelasan keturunan. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa praktik surrogacy tidak direkomendasikan di Indonesia karena lebih banyak menimbulkan mudarat daripada manfaat. Penelitian ini memberikan implikasi untuk penguatan kebijakan etika, perlindungan perempuan, dan kepastian hukum dalam penggunaan teknologi reproduksi berbantu.