cover
Contact Name
Bandiyah
Contact Email
jurnaldikbud1@gmail.com
Phone
+6281288370671
Journal Mail Official
jurnaldikbud@kemdikbud.go.id
Editorial Address
Sekretariat BSKAP Kemendikbud Gedung E, Jalan Jenderal Sudirman, Senayan Jakarta 10270 Telepon: (021) 57900405, Faksimile: (021) 57900405 Email: jurnaldikbud@kemdikbud.go.id; jurnaldikbud@yahoo.com
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan
ISSN : 24608300     EISSN : 25284339     DOI : https://doi.org/10.24832/jpnk.v5i1.1509
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan is a peer-reviewed journal published by Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Agency for Research and Development, Ministry of Education and Culture of Republic of Indonesia), publish twice a year in June and December. This journal publishes research and study in the field of education and culture, such as, education management, education best practice, curriculum, education assessment, education policy, education technology, language, and archeology.
Articles 535 Documents
KEEFEKTIFAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAM ASSISTED INDIVIDUALIZATION DENGAN PENDEKATAN PEMECAHAN MASALAH Arsyil Waritsman; Dhoriva Urwatul Wutsqa
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 4 No. 2 (2019)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v4i2.1153

Abstract

This study aimed to describe the effectiveness of the cooperative learning of the Team Assisted Individualization (TAI) type using the problem solving approach in terms of the mathematics learning achievement, critical thinking skills, and self-esteem of vocational high school (VHS) students. This was a quasi-experimental study using the pretest posttest nonequivalent comparison group design. The research population comprised all Grade X students of SMK Negeri 1 Tolitoli. The sample was selected by means of the purposive sampling technique. The selected sample consisted of Grade X of Health Nurse 1 as the first experimental class and Grade X of Nurse Health 2 as the second experimental class. To test the effectiveness of the cooperative learning of the TAI type using the problem solving approach, the data were analyzed using one sample t-test. Then, to compare the effectiveness of the cooperative learning model of the TAI type using the problem solving approach and that of the learning that used only the cooperative learning model of the TAI type, the data were analyzed using the MANOVA test. The results of the study showed that the application of the cooperative learning model of the TAI type using the problem solving approach was effective to be applied in learning. In addition, the results showed that the cooperative learning model of the TAI type using the problem solving approach was significantly more effective than the learning that used only the cooperative learning model of the TAI type in terms of the mathematics learning achievement, critical thinking skills, and self-esteem of VHS students.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan keefektifan pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) dengan pendekatan pemecahan masalah ditinjau dari prestasi belajar matematika, kemampuan berpikir kritis dan self-esteem siswa SMK. Jenis penelitian ini adalah quasi-experiment dengan desain pretest posttest nonequivalent comparison group design. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMK Negeri 1 Tolitoli. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling. Sampel penelitian yang terpilih adalah siswa kelas X Perawat Kesehatan 1 sebagai kelas eksperimen pertama dan siswa kelas X Perawat Kesehatan 2 sebagai kelas eksperimen kedua. Untuk menguji keefektifan pembelajaran kooperatif tipe TAI dengan pendekatan pemecahan masalah, data dianalisis menggunakan one sample t-test. Selanjutnya untuk membandingkan keefektifan antara model pembelajaran kooperatif tipe TAI dengan pendekatan pemecahan masalah dan pembelajaran yang hanya menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TAI, digunakan uji MANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TAI dengan pendekatan pemecahan masalah efektif diterapkan dalam pembelajaran. Selain itu, hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe TAI dengan pendekatan pemecahan masalah secara signifikan lebih efektif jika dibandingkan dengan pembelajaran yang hanya menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TAI, ditinjau dari prestasi belajar matematika, kemampuan berpikir kritis dan self-esteem siswa SMK.
EFEK PROGRAM PISA TERHADAP KURIKULUM DI INDONESIA Indah Pratiwi
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 4 No. 1 (2019)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v4i1.1157

Abstract

This paper discusses how PISA score affects the curriculum in Indonesia. Since participating in PISA in 2000, Indonesia continuously ranks in the lower level. In 2015, Indonesia ranked 65 from 69 participants’ countries. This affects to Indonesia’s image in the eyes of international world as it was considered that Indonesia had not succeeded to provide quality education by using international standards. The aim of this paper is to examine how public and international pressures affect the education policy in Indonesia. The method used in collecting data was by utilizing secondary data and compiling news from national media. The news compilation was analyzed using discourse analysis to depict the public pressure to change the curriculum in Indonesia. The discourse analysis focused on three mainstream newspapers in Indonesia, which used PISA score as headlines. The analysis was to examine the public response toward PISA score and public opinions regarding the on going education process. To support the analysis, this study also examined documents released by the ministry of education and culture to find out the direction of education policy in Indonesia which was set according to instruments used in PISA. The study was conducted with a study desk for six months. The results found that curriculum changes in Indonesia is very inline with PISA. One of the reasons is the existence of public pressure through capable mass media and the crackdown given in PISA which is considered capable of describing the quality of Indonesian education as a whole. It is conluded that curriculum changes in Indonesia is considered the impact of the PISA program.AbstrakArtikel ini mengkaji pengaruh capaian PISA terhadap kurikulum di Indonesia. Sejak bergabung menjadi partisipan PISA pada tahun 2000 capaian indeks Indonesia secara konstan selalu berada pada level bawah dalam indeks PISA. Terbukti pada tahun 2015 Indonesia menempati urutan ke 65 dari 69 negara partisipan PISA. Di mata masyarakat dan lingkungan internasional Indonesia dianggap belum berhasil dalam menyelenggarakan pendidikan dengan standar internasional. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk melihat bagaimana PISA memengaruhi kebijakan pendidikan di Indonesia. Metode yang digunakan adalah data sekunder dan kumpulan berita dari sejumlah media nasional. Berita dari sejumlah media akan digunakan sebagai analisis wacana yang menunjukkan adanya tekanan publik untuk mengubah kurikulum di Indonesia. Analisis wacana ini diambil dari tiga koran di Indonesia yang menjadikan hasil PISA sebagai berita utama. Hal ini dianalisis untuk melihat bagaimana respon publik menilai hasil PISA dan opini publik terhadap proses pendidikan yang selama ini berjalan. Untuk menguatkan analisis tersebut kajian ini menggunakan dokumen dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk melihat arah kebijakan pendidikan di Indonesia yang dirancang sesuai dengan tools PISA. Penelitian dilakukan dengan desk studi selama enam bulan. Hasil yang ditemukan adalah bahwa perubahan kurikulum di Indonesia sangat sejalan dengan PISA. Salah satu penyebabnya adalah adanya tekanan publik melalui media massa terhadap peringkat yang diberikan dalam PISA yang dianggap mampu menggambarkan kualitas pendidikan Indonesia secara keseluruhan. Maka simpulan dalam artikel ini adalah perubahan kurikulum di Indonesia merupakan dampak dari program PISA. 
HUBUNGAN PEMAHAMAN TEORI EVOLUSI DAN TINGKAT RELIGIOSITAS DENGAN PENERIMAAN TEORI EVOLUSI (Studi pada Mahasiswa Pendidikan Biologi Universitas Negeri Jakarta) Desty Bulandari; Rusdi Rusdi; Agung Sedayu
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 4 No. 2 (2019)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v4i2.1215

Abstract

Many people, including academics do not consider the theory of evolution as a valid scientific theory so that the rejection of the theory of evolution emerges. The preference of Biology teacher for teaching evolution in the classroom is determined by the acceptance of such controversial topic. Indonesia as a Muslim-majority nation has implemented four core competencies (religious, social, knowledge, and skill) to be achieved by students in each lesson. Biology Education students who understand the theory of evolution in the future is expected to not avoid teaching evolution by excuse that evolution contradicts religious tenet. This study aimed to determine the correlation of evolutionary theory understanding and religiosity with evolutionary theory acceptance in Biology Education students who believe in Islam. Research conducted at State University of Jakarta in September-December 2018. The method used was a correlational survey. Data were analyzed using multiple correlation coefficient significance test. The results showed that there was a significant positive correlation of evolutionary theory understanding and religiosity with evolutionary theory acceptance. Therefore, evolution course taken by Biology Education students was needed to aware of clear understanding about evolutionary theory. In addition, educators need wide insight to not consider religiosity and evolutionary acceptance were in opposite.AbstrakBanyak orang termasuk akademisi tidak menganggap teori evolusi sebagai teori ilmiah yang valid sehingga timbul penolakan terhadap teori evolusi. Adapun kecenderungan guru Biologi untuk mengajarkan materi evolusi dalam kelas ditentukan oleh penerimaan terhadap materi kontroversial tersebut. Indonesia sebagai negara mayoritas Muslim menerapkan empat kompetensi inti (religius, sosial, pengetahuan, dan keterampilan) untuk dicapai siswa dalam tiap materi pembelajaran. Mahasiswa Pendidikan Biologi yang memahami teori evolusi di kemudian hari diharapkan tidak menghindar dalam mengajarkan evolusi dengan dalih evolusi kontradiksi terhadap ajaran agama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pemahaman teori evolusi dan tingkat religiositas dengan penerimaan teori evolusi pada mahasiswa Pendidikan Biologi yang beragama Islam. Metode yang digunakan adalah survei korelasional. Penelitian dilaksanakan di Universitas Negeri Jakarta pada September-Desember 2018. Data dianalisis dengan uji signifikansi koefisien korelasi berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif signifikan antara pemahaman teori evolusi dan tingkat religiositas dengan penerimaan teori evolusi. Oleh karena itu, pembelajaran evolusi terhadap mahasiswa Pendidikan Biologi perlu memperhatikan pemahaman mendalam tentang teori evolusi. Di samping itu, pengajar perlu berwawasan luas agar tidak menganggap religiositas dan penerimaan teori evolusi bertolak belakang.
PERANCANGAN KURIKULUM SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN SEBAGAI PRANATA BUDAYA KERJA Sutjipto
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 4 No. 1 (2019)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v4i1.1219

Abstract

This study is to describe comprehensively the design of vocational high school curriculum as a work culture institution. The results of the study five things. First, the important content of work culture values for vocational school students. Second, curriculum developers are encouraged to modify the work culture, which leads to the values of hard work, work ethic, discipline, responsibility, creativity, cooperation, morality, to ethical and aesthetic standards. Third, curriculum developers are encouraged to redefine the essence of industrial work practices carried out by students. Fourth, the growth of work culture in schools is designed with shared commitment through systems, structures, regulations, and daily practices. Fifth, strengthening the work culture can be implemented in two ways, namely internalizing the values of work culture and creating a friendly school environment with a work culture. Study it conclude that the design of the vocational high school curriculum must generate students with capability in transforming moral and performance-based work culture institutions. Abstrak Tujuan dari kajian ini adalah untuk mendeskripsikan secara komprehensif perancangan kurikulum sekolah menengah kejuruan sebagai pranata budaya kerja. Hasil pengkajian terkait dengan perancangan kurikulum sekolah menengah kejuruan, diperoleh lima hal. Pertama, muatan nilai-nilai budaya kerja bagi peserta didik sekolah menengah kejuruan penting. Kedua, pengembang kurikulum didorong untuk mengoreksi kembali pranata budaya kerja, yang mengarah pada nilai-nilai kerja keras, etos kerja, disiplin, tanggung jawab, kreativitas, kerja sama, moralitas, hingga standar etika dan estetika. Ketiga, pengembang kurikulum didorong untuk merumuskan ulang secara jelas esensi dari praktik kerja industri yang dilakukan peserta didik. Keempat, penumbuhan budaya kerja di sekolah dirancang dengan komitmen bersama melalui sistem, struktur, peraturan, dan praktik keseharian. Kelima, untuk penguatan budaya kerja bisa dilakukan melalui dua strategi, yaitu internalisasi nilai-nilai budaya kerja dan penciptaan lingkungan sekolah yang ramah dengan budaya kerja. Dari hasil kajian dapat disimpulkan bahwa perancangan kurikulum sekolah menengah kejuruan harus membawa peserta didik mampu mentransformasikan pranata budaya kerja berbasis moral dan kinerja.
HEUTAGOGI SEBAGAI PENDEKATAN PELATIHAN BAGI GURU DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0 Rohmat Sulistya
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 4 No. 2 (2019)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v4i2.1222

Abstract

The role of teachers in the era of the industrial revolution 4.0 is not only as a giver of knowledge, but also as a life-long learners, learning leaders, instructors of learning resources, network former, and communication opener. These roles are inseparable from the demands of rapid change in all areas. Therefore, to adjust with the rapid changes, teachers must learn all the time throughout life. To achieve these roles, it is important to design about such updating teacher competencies’ training approaches that fit to the challenges of the 21st century. This study aims (1) to reveal the challenges of the industrial revolution 4.0 for teachers; and (2) offers the heutagogical approach to teacher training along with the outline its implementation steps. The study was carried out by analysing literatures comprehensively, referring to books, journals, and conference articles to answer the objectives of the study. The results of the study revealed that: (1) teachers faced major challenges to present interesting learning that fit with the conditions of millennial students and the challenge of responding to learning issues related to behavior, methods, and learning processes; (2) training programs with heutagogical approach need to be considered because it is a self-determined learning and and its implementation steps is by strengthening HOTS (Higher Order Thinking Skills) learning, strengthening digital literacy, developing a complete and reliable learning management system platform, and implementing teacher training with a heutagogy approach. To conlude, it is hoped that heutagogy can be an alternative approach of teachers training to produce teachers who are prepared for industrial revolution 4.0 learning challenges.AbstrakPeran guru di era revolusi industri 4.0 tidak hanya sebagai pemberi ilmu, tetapi juga sebagai pembelajar sepanjang hayat, pemimpin pembelajaran, pengarah sumber belajar, pembentuk jaringan, dan pembuka komunikasi. Peran-peran tersebut ini tidak terlepas dari tuntutan perubahan yang sangat cepat di segala ranah. Oleh karena itu, guru harus belajar sepanjang hayat untuk menyesuaikan dengan perubahan. Untuk mencapai peran ini, pemutakhiran kompetensi guru melalui pendekatan pelatihan yang sesuai tantangan abad 21 perlu diwujudkan. Kajian ini bertujuan untuk (1) mengungkapkan tantangan revolusi 4.0 bagi guru; dan (2) menawarkan pendekatan heutagogi dalam pelatihan guru beserta garis besar langkah implementasinya. Kajian dilakukan dengan studi literatur dan menganalisnya secara komprehensif, merujuk pada buku, jurnal, dan artikel konferensi untuk menjawab tujuan kajian. Hasil kajian mengungkapkan: (1) guru menghadapi tantangan besar untuk menghadirkan pembelajaran yang menarik dan selaras dengan kondisi peserta didik milenial dan tantangan untuk merespon isu-isu pembelajaran yang berkaitan dengan perilaku, metode, dan proses pembelajaran; (2) program pelatihan dengan pendekatan heutagogi perlu dipertimbangkan karena bersifat self-determined learning dengan langkah implementasi melalui penguatan pembelajaran HOTS, penguatan literasi digital, pengembangan platform learning management system yang lengkap dan handal, serta penerapan pelatihan guru dengan pendekatan heutagogi. Oleh sebab itu, heutagogi dapat menjadi alternatif pendekatan pelatihan guru untuk menghasilkan guru yang sadar akan peran pentingnya pada pembelajaran era revolusi industri 4.0.
EFIKASI DIRI DAN STRATEGI MOTIVASI SEBAGAI PREDIKTOR PRESTASI AKADEMIS SISWA DARI KELUARGA NELAYAN TRADISIONAL Clara R.P. Ajisuksmo; Doddy Tri Surya
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 4 No. 1 (2019)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v4i1.1232

Abstract

Lack of capital and advance technology have caused traditional fisherman to lose the competition, so that they become poor and marginalized. Poverty affects low aspirations for their children’s education, and indirectly influenced low children’s motivation to learn. The aim of this study was to measure the contribution of self-efficacy and motivational strategies in predicting students’ academic achievement. This study applied quantitative approach, by implementing General Self-Efficacy Scale (GSE) to measure self-efficacy, and Motivated Strategies for Learning Questionnaire (MSLQ) to measure motivation to learn. Academic achievement score was collected from mean of cumulative scores of students’ academic report. A non-random sampling technique was applied in sample selection. In total, 103 adolescents (Female 64%; Male 36%; Age 15-19 years; Meanage =16.10) who come from traditional fisheries families and still study in the senior high school in Cilincing District, North Jakarta participated in this study. The study revealed that self-efficacy and motivation to learn was not significantly contribute to students’ academic achievement.AbstrakKeterbatasan modal dan teknologi menyebabkan nelayan tradisional kalah bersaing, sehingga mereka menjadi miskin dan termarjinalkan. Kemiskinan memengaruhi aspirasi yang rendah terhadap pendidikan anak mereka, dan secara tidak langsung ikut memengaruhi motivasi belajar anak yang rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur kontribusi efikasi diri dan strategi motivasi dalam memprediksi prestasi akademik siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan menerapkan General Self-Efficacy Scale (GSE) untuk mengukur efikasi diri, dan Motivated Strategies for Learning Questionnaire (MSLQ) untuk mengukur motivasi belajar. Skor prestasi akademik dikumpulkan dari rata-rata skor kumulatif laporan akademik siswa. Teknik pengambilan sampel nonacak diterapkan dalam pemilihan sampel. Secara total, 103 remaja (Perempuan 64%; Laki-laki 36%; Usia 15-19 tahun; Meanusia= 16,10) yang berasal dari keluarga nelayan tradisional dan masih belajar di sekolah menengah atas di Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara berpartisipasi dalam penelitian ini. Studi ini menunjukkan bahwa efikasi diri dan motivasi untuk belajar tidak berkontribusi secara signifikan kepada prestasi akademik siswa. 
PENDIDIKAN INKLUSIF BAGI SISWA BERKEBUTUHAN KHUSUS DI KALIMANTAN SELATAN Amka
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 4 No. 1 (2019)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v4i1.1234

Abstract

Indonesia education law mandates that schools are required to accept all students including students with special educational needs (SEN). This article explains the situation of inclusive education in schools in South Kalimantan Province. This study aims to find out and analyze the implementation of inclusive education policies in the view of principals, management of inclusive education by teachers, and public perceptions of inclusive education. The mixed-methods sequential explanatory design was used in this study by combining face-to-face surveys and interviews. Primary data was obtained from surveys conducted on 100 principals, 500 teachers, and 45 parents of students with special needs and interviews with a number of stakeholders. The results of the study show that local government policies have created the development of inclusive education in schools in South Kalimantan. Most principals support the implementation of inclusive classes, most teachers are willing to work with students with special needs, and parents of regular students accept the concept of inclusive. In practice, the implementation of inclusive education differs from one school to another depending on the perception of the principal and the willingness of teachers in terms of how to implement inclusive education. Abstrak Undang-undang menyatakan bahwa sekolah diharuskan untuk menerima semua siswa termasuk siswa berkebutuhan pendidikan khusus. Artikel ini menyoroti situasi pendidikan inklusif di sekolah-sekolah di Provinsi Kalimantan Selatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan selanjutnya menganalisa implementasi kebijakan pendidikan inklusif oleh Kepala Sekolah, manajemen pendidikan inklusif oleh guru, dan persepsi masyarakat tentang pendidikan inklusif. Pendekatan metode gabungan yang dinamakan dengan mixedmethods sequential explanatory design digunakan dalam penelitian ini dengan menggabungkan survei tatap muka dan wawancara. Data primer diperoleh dari survei yang dilakukan terhadap 100 kepala sekolah, 500 guru, dan 45 orang tua siswa berkebutuhan khusus serta wawancara dengan sejumlah pemangku kepentingan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah daerah telah menghasilkan pengembangan pendidikan inklusif di sekolah-sekolah di Kalimantan Selatan. Sebagian besar kepala sekolah mendukung penerapan kelas inklusif, sebagian besar guru bersedia bekerja dengan siswa berkebutuhan khusus, dan orang tua siswa reguler menerima konsep inklusif. Dalam praktiknya, pelaksanaan pendidikan inklusif bervariasi dari satu sekolah ke sekolah lain tergantung pada persepsi kepala sekolah dan kemauan guru dalam hal bagaimana menerapkan pendidikan inklusif.
LITERASI FINANSIAL DAN DIGITAL KELUARGA PEKERJA MIGRAN DITINJAU DARI LATAR BELAKANG PENDIDIKAN Bayu Adi Laksono; Supriyono Supriyono; Sri Wahyuni
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 4 No. 2 (2019)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v4i2.1291

Abstract

The purpose of this study was to determine the level of financial and digital literacy of migrant workers’ families in terms of educational background. This study used a quantitative approach with analysis in the form of analysis of variants and kruskal-wallis. The study was conducted in one village in Lamongan Regency, East Java with a total sample of 95 persons. The results showed that there was no significant difference in the level of financial literacy in terms of the educational background of the families of migrant workers. There is significant differences in the level of digital literacy in terms of the educational background of migrant workers’ families. Families of migrant workers who have significant differences in the level of digital literacy are groups of primary school graduates to college graduates and junior secondary school graduates to college graduates. The conclusion of this study is that migrant worker families that tend to have low levels of financial literacy and digital literacy are families of migrant workers with a background in primary school (elementary) and junior secondary school. This is even more convincing that the educational background has an influence on one’s ability level. This becomes the identification of migrant worker families with educational background who has priority to get intervention in increasing knowledge and skills in the non-formal education programs that are useful for preparing migrant worker families in the industrial revolution era 4.0. Abstrak Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat literasi finansial dan digital keluarga pekerja migran ditinjau dari latar belakang pendidikan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analysis of varian dan kruskal-wallis. Penelitian dilakukan di salah satu desa di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur dengan total sampel sebanyak 95 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan tingkat literasi finansial yang ditinjau dari latar belakang pendidikan keluarga pekerja migran. Terdapat perbedaan yang signifikan tingkat literasi digital yang ditinjau dari latar belakang pendidikan keluarga pekerja migran. Keluarga pekerja migran yang memiliki perbedaan tingkat literasi digital yang signifikan adalah kelompok lulusan SD dengan lulusan perguruan tinggi serta lulusan SMP dengan lulusan perguruan tinggi.  Kesimpulan penelitian ini adalah keluarga pekerja migran yang cenderung memiliki tingkat literasi finansial maupun literasi digital yang rendah adalah keluarga pekerja migran dengan latar belakang lulusan SD dan SMP. Hal tersebut semakin meguatkan bahwa latar belakang pendidikan memberikan pengaruh terhadap tingkat kemampuan seseorang. Identifikasi keluarga pekerja migran dengan latar pendidikan yang memiliki prioritas mendapatkan intervensi peningkatan pengetahuan dan keterampilan berupa program pendidikan nonformal yang berguna untuk mempersiapkan keluarga pekerja migran dalam era revolusi industri 4.0. 
PENERAPAN METODE KLASIFIKASI RANDOM FOREST DALAM MENGIDENTIFIKASI FAKTOR PENTING PENILAIAN MUTU PENDIDIKAN Aditya Ramadhan; Budi Susetyo; Indahwati
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 4 No. 2 (2019)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v4i2.1327

Abstract

National Education Standards serves as the basis of education development strategy based on the result of evaluation the implementation of education. The evaluation is implemented through accreditation and national exam. The objective of this study is to analyze the score of computer-based national exam based on accreditation scores per items of instrument by applying multiclass random forest classification modeling. The research used Computer-Based National Exam data in 2018 and accreditation data from the year of 2017 and 2018. This study employed random forest for multiclass classification. The results showed that, based on the evaluation model, classification accuration value in multiclass random forest was 83.49%. In addition, this model produces important variables in classifying the average value of computer-based national examination, i.e., items laboratory conditions (x71, x68, x69, x67), electrical installation (x62), infrastructure (x64), canteen (x83), laboratory (x55), special service officers (x56), certified teachers (x39), library staff (x54), head of administration (x51), literacy activities for students (x33), use of textbooks (x14), and community/partner collaboration in education management (x96). Based on the indicators of important variables, National Education Standards that have important role are facility and infrastructure standards, educator and educational staff standards, and graduate competence standards. Therefore, improving the quality of education can be done by improving school facilities, the competency of teacher and education staff, and graduate competency. Abstak Standar Nasional Pendidikan (SNP) berfungsi sebagai dasar strategi pengembangan pendidikan berdasarkan hasil evaluasi pelaksanaan pendidikan. Evaluasi pelaksanaan pendidikan dilaksanakan melalui akreditasi dan ujian nasional (UN). Tujuan penelitian ini untuk menganalisis nilai ujian nasional berbasis komputer (UNBK) berdasarkan skor akreditasi per butir instrumen dengan menerapkan pemodelan klasifikasi random forest multikelas. Penelitian ini menggunakan data UNBK tahun 2018 dan data hasil akreditasi tahun 2017 dan 2018. Metode penelitian yang digunakan adalah pemodelan klasifikasi random forest multikelas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, pertama, berdasarkan evaluasi model, nilai akurasi klasifikasi dalam pemodelan klasifikasi random forest multikelas sebesar 83.49%. Kedua, model ini menghasilkan tingkat kepentingan variabel prediktor (butir-butir instrumen akreditasi) dalam mengklasifikasikan nilai rataan UNBK yakni kondisi laboratorium (x71, x68, x69, x67), instalansi listrik (x62), prasarana (x64), kantin (x83), kondisi laboran (x55), petugas layanan khusus (x56), guru tersertifikat (x39), tenaga perpustakaan (x54), kepala administrasi (x51), kegiatan literasi S/M bagi peserta didik (x33), penggunaan buku teks (x14), dan kerja sama masyarakat/mitra dalam pengelolaan pendidikan (x96). Berdasarkan indikator variabel penting tersebut, SNP yang memiliki peran penting adalah Standar Sarana dan Prasarana, Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, dan Standar Kompetensi Lulusan. Oleh karena itu, peningkatan mutu pendidikan dapat dilakukan dengan meningkatkan sarana dan prasarana, kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan, serta kompetensi lulusan.Â
PENGEMBANGAN SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN EMPAT TAHUN BIDANG KEAHLIAN PRIORITAS PROGRAM NAWACITA Darmawan Sumantri; Subijanto Subijanto; Siswantari Siswantari; Sudiyono Sudiyono
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 4 No. 2 (2019)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v4i2.1356

Abstract

The goal of this study is to address the competencies required in the business world/industry for the expertise in the field of Marine, Agribusiness/Agritechnology, and Tourism. This study is also to discuss the length of study on each competence expertise. The question underlying this study related to the performance of vocational school graduates that did not comply with the competencies expected by the workforce. Data collection approach was based on focus group discussion and questionnaire. The results of this study indicated that competencies needed in the Marine field especially in Nautical Commercial Ship experience includes the possession of the Level IV Nautical Expert Certification, pre-training/ professional test and on board training at the sea. Competencies for Nautical Fishery Expertise Program required pre-production fish sorting (sorting of fresh fish suitable for production, work ethics and foreign language skills (in accordance with the native language of the company). Agribusiness/agritechnology field. Veterinary Health competencies needs knowledge of animal food, maintenance of a wet and dry circulation system, and injection and vaccination. Expertise on Quality Control for Agriculture and Fishery Products includes competencies for evaluation of processed products swell as safety and health at work. The Tourism in Boutique field needs competencies for trend of design development, pattern and digital design, cost/budgetting, and communication. The length of study for Veterinary health and Quality Control of Agriculture and Fishery Products expertise program requires four year study plan, whereas other expertise programs only need three years. It can be inferred that not all skill programs need a four year study plan.Abstrak Tujuan penelitian ini yaitu mengkaji kompetensi keahlian yang dibutuhkan dunia kerja pada bidang Kemaritiman, Agrobisnis/Argoteknologi, Pariwisata, dan masa studi masing-masing kompetensi keahlian tersebut. Masalah yang melatarbelakangi studi ini terkait dengan ketimpangan kualitas lulusan yang dibutuhkan dunia kerja. Pengumpulan data melalui diskusi kelompok terpumpun (focus group discussion) dan pengisian kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi keahlian kemaritiman pada Nautika Kapal Niaga memerlukan: kepemilikan sertifikat Ahli Nautika Tingkat IV, Pra-praktik laut (prala)/ Uji profesi, dan Prala di Kapal. Kompetensi yang diperlukan pada Nautika Kapal Penangkap Ikan meliputi: keahlian menyortir hasil tangkapan ikan untuk produksi, etika kerja, dan kemampuan berbahasa asing sesuai bahasa pemilik perusahaan. Kompetensi keahlian Agrobisnis/Agroteknologi pada Kesehatan Hewan memerlukan: pengetahuan pakan, pengetahuan pemeliharaan sistem basah dan sistem kering, prosedur penyuntikan dan pemberian vaksin. Pada Pengawasan Mutu Hasil Pertanian dan Perikanan diperlukan kompetensi: keahlian menganalisis produk hasil pengolahan, Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), keahlian menganalisis kadar air, kadar lemak, dan kadar abu, pengetahuan ilmu kimia  terkait pengolahan hasil pertanian dan perikanan. Pada Pariwisata kompetensi keahlian Tata Busana memerlukan: Pengembangan tren desain, keahlian mendesain dan membuat pola secara digital, kemampuan pembukuan dan berkomunikasi dengan pelanggan. Untuk masa studi keahlian Nautika Kapal Niaga, Nautika Kapal Penangkap Ikan, dan Tata Busana memerlukan waktu tiga tahun, sedangkan kompetensi keahlian lainnya memerlukan waktu empat tahun. Studi ini menyimpulkan bahwa tidak semua kompetensi keahlian pada sekolah sampel memerlukan waktu belajar empat tahun.Â