cover
Contact Name
Isma Masrofah
Contact Email
isma.masrofah@unsur.ac.id
Phone
+62263-283578
Journal Mail Official
jmtsi@unsur.ac.id
Editorial Address
Universitas Suryakancana, Gd. Fakultas Teknik Jl. Pasir Gede Raya, Cianjur 43216 Tel / fax : (0263) 283 578
Location
Kab. cianjur,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Media Teknik dan Sistem Industri
ISSN : 25810561     EISSN : 25810529     DOI : https://doi.org/10.35194/jmtsi.v4i1.844
Jurnal Media Teknik dan Sistem Industri (JMTSI) is a publication media for papers with the scope of industrial-engineering field and other relevant fields such as and not limited to: Industrial systems Manufacturing systems Systems Engineering & Ergonomics Industrial Management Supply Chain and Logistics
Articles 124 Documents
Transformasi IKM Tempe Sanan dengan Lean Management dan Value Stream Mapping (VSM) untuk Efisiensi Proses Produksi Purnomo, Purnomo; Wicaksono, Soetam Rizky; Setiawan, Rudy
Jurnal Media Teknik dan Sistem Industri Vol 9, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Suryakancana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35194/jmtsi.v9i2.4824

Abstract

Penelitian ini membahas penerapan lean management pada Industri Kecil Menengah (IKM) Tempe Sanan di Malang untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi produksi. Lean management diterapkan menggunakan Value Stream Mapping (VSM) untuk memvisualisasikan dan mengidentifikasi pemborosan dalam proses produksi. Future state map dirancang untuk meminimalkan waktu siklus dan mengurangi aktivitas yang tidak memberikan nilai tambah. Dalam tahap implementasi, dilakukan sosialisasi dan uji coba skala kecil yang menunjukkan hasil positif dalam mengurangi pemborosan di tahapan produksi seperti pendinginan dan perebusan. Meski demikian, penerapan penuh VSM menghadapi kendala dalam bentuk keterbatasan sumber daya dan pemahaman dari pemilik IKM. Implementasi lean management ini juga mencakup penggunaan teknologi tepat guna, seperti panci berinsulasi dan sistem pendingin berbasis konveksi alami, yang dapat diterapkan secara sederhana namun efektif dalam meningkatkan efisiensi proses. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lean management melalui alat VSM dapat menjadi pendekatan strategis untuk meningkatkan daya saing IKM, dengan pemantauan berkelanjutan melalui KPI seperti waktu siklus, tingkat inventori, dan tingkat keterlambatan. Monitoring ini diharapkan dapat membawa perbaikan yang berkelanjutan dalam proses produksi, yang berdampak positif pada profitabilitas dan pertumbuhan IKM Tempe Sanan.
Perancangan Strategi Implementasi Agile Governance Pada Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Ridwan, Ridwan; Susanti, Lusi; Zadry, Hilma Raimona; Meilani, Difana
Jurnal Media Teknik dan Sistem Industri Vol 9, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Suryakancana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35194/jmtsi.v9i2.4978

Abstract

ImplementingAgile Governance in Regional Government Organization (RGO) is crucial for improving the efficiency and effectiveness of public services. However, its implementation still faces various challenges such as rigid and slow bureaucracy, lack of cross-functional collaboration, suboptimal utilization of digital technology, and human resources who are not accustomed to Agile work patterns. This research is designed to develop implementation strategies forAgile Governance at Regional Government Organization (RGO). The aim is to accelerate the transformation towards a moreAgile Governance in Regional Government Organization (RGO). The research methodology adopts the MEAD (Macroergonomics Analysis and Design) macroergonomics approach that integrates human factors, technology, and work organization. In evaluating the current conditions and the importance of performance indicators, a survey was conducted using a questionnaire validated by the Content Validity Index (CVI) and analyzed using Importance-Performance Analysis (IPA). The first priority results will be used to design strategies and Key Performance Indicators for each of the proposed strategies. The research findings indicate a gap between the current conditions and the importance levels of Agile Governance performance aspects. IPA identified several priority areas that require improvement, including career development and training, risk management, transparency, job suitability, adequacy of work facilities and employee welfare. Based on these findings, strategies and Key Performance Indicators (KPIs) were formulated to enhance the implementation of Agile Governance in Regional Government Organization (RGO). ImplementasiAgile Governance pada Organisasi Perangkat Daerah (OPD) menjadi penting untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas layanan publik. Namun, penerapannya masih menghadapi berbagai tantangan seperti birokrasi yang kaku dan lambat, kurangnya kolaborasi lintas fungsi, pemanfaatan teknologi digital yang belum optimal, serta sumber daya manusia yang belum terbiasa dengan pola kerja Agile. Penelitian ini dilakukan untuk merancang strategi implementasiAgile Governance pada Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Tujuannya adalah mempercepat transformasi menuju tata kelola yang lebih Agile pada Organisasi Perangkat Daerah. Metodologi penelitian mengadopsi pendekatan ergonomi makro, Macroergonomics Analysis and Design (MEAD) yang mengintegrasikan antara faktor manusia, teknologi dan organisasi kerja. Dalam evaluasi kondisi saat ini dan kepentingan aspek kinerja dilakukan survei dengan kuesioner yang divalidasi menggunakan Content Validity Index (CVI) dan dianalisis menggunakan Importance-Performance Analysis (IPA). Hasil prioritas utama menjadi fokus perancangan strategi dan Key Performance Indikator (KPI) untuk masing-masing strategi yang dirancang. Hasil penelitian menunjukkan adanya kesenjangan antara kondisi saat ini dan tingkat kepentingan aspek-aspek kinerja Agile Governance. IPA mengidentifikasi beberapa area prioritas yang memerlukan perbaikan, termasuk pengembangan karir dan pelatihan, pengelolaan risiko, transparansi, kesesuaian jabatan, dan kelengkapan sarana kerja, dan kesejahteraan karyawan. Berdasarkan temuan tersebut, dirumuskan strategi dan Key Performance Indicators (KPI) untuk meningkatkan implementasi Agile Governance pada Organisasi Perangkat Daerah (OPD).
Pendekatan Terpadu pada Perancangan Rute Distribusi untuk Meminimasi Biaya Transportasi Helmi, Muhammad Nurman; Yogaswara, Yogi; Andryanto, Bram; Asri, Ryry Rizky; Setyawan, Widy
Jurnal Media Teknik dan Sistem Industri Vol 9, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Suryakancana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35194/jmtsi.v9i2.5663

Abstract

An integrated approach to distribution route design considers several aspects of the distribution network simultaneously such as customer distribution grouping, warehouse locations, routes and vehicle capacity. This approach aims to optimize these factors as an integrated system so that vehicle travel routes are shorter and more efficient and save overall costs. For this purpose, the use of complex mathematical models in designing distribution routes is unavoidable. Distribution route design begins with grouping retailers/agents so that transport vehicles in only one trip can complete their tasks using the Fuzzy c-Means Clustering approach. The next step is the selection of warehouse locations that consider the distribution of demand from retailers/agents in each cluster. For warehouse location selection that is centered on the distribution of retail/agent demand, geographic analysis is very important to map areas with high demand concentrations, so that placing warehouses close to the majority of customers can speed up delivery times and minimize transportation costs. This step uses the P-Median approach with the Greedy Dropping Heuristic Algorithm. This design ends by determining the optimization route using Insertion Heuristic or Vehicle Routing Problem in each cluster, starting with the vehicle departing from the warehouse providing service until all retailers/agents in the cluster are served and returning to the warehouse in just one iteration. The next approach, Tabu Search metaheuristic, is carried out to see other possible shortest distance alternatives by optimizing the shortest distance obtained in the previous stage. This design is applied to the 3 kg gas distribution route in East Bandung City which has six intermediary warehouses and 72 retailers/agents. The integrated design of the 3 kg distribution route produces a cost efficiency of 72.28%. Pendekatan terpadu terhadap perancangan rute distribusi mempertimbangkan sejumlah aspek jaringan distribusi secara bersamaan seperti pengelompokan sebaran pelanggan, lokasi Gudang, rute dan kapasitas kendaraan. Pendekatan ini bertujuan mengoptimalkan faktor-faktor tersebut sebagai satu sistem yang terintegrasi sehingga rute tempuh kendaraan lebih pendek dan efisien serta menghemat biaya keseluruhan. Untuk tujuan ini, penggunaan model matematika kompleks dalam merancang rute distribusi tidak dapat dihindari. Desain rute distribusi diawali dengan mengelompokkan ritel/agen agar kendaraan angkut dalam hanya satu ritasi dapat menyelesaikan tugasnya dengan pendekatan Fuzzy C-Means Clustering. Langkah berikutnya adalah pemilihan lokasi gudang yang mempertimbangkan sebaran permintaan daripada ritel/agen di setiap klaster. Untuk pemilihan lokasi gudang yang berpusat pada sebaran permintaan ritel/agen, analisis geografis sangat penting untuk memetakan area dengan konsentrasi permintaan tinggi, sehingga menempatkan gudang dekat dengan mayoritas pelanggan dapat mempercepat waktu pengiriman dan meminimalkan biaya transportasi. Langkah ini menggunakan pendekatan P-Median dengan Greedy Dropping Heuristic Algorithm. Perancangan ini diakhiri dengan menetapkan rute optimasi menggunakan Insertion Heuristik atau Vehicle Routing Problem pada setiap klaster dengan diawali kendaraan berangkat dari gudang memberi pelayanan hingga semua ritel/agen dalam klaster terlayani dan kembali ke gudang hanya dalam satu ritasi. Pendekatan berikutnya metaheuristik Tabu Search dilakukan untuk melihat kemungkinan alternatif jarak terpendek lainnya dengan melakukan optimisasi jarak terpendek yang telah diperoleh pada tahapan sebelumnya. Perancangan ini diterapkan pada rute distribusi gas 3 kg Kota Bandung Timur yang mempunyai enam gudang perantara dan 72 ritel/agen. Perancangan terpadu rute distribusi 3 kg menghasilkan efisiensi biaya sebesar 72,28%.
Analisis Eksperimen Tingkat Kebasahan Clay pada Proses Dryer di Laboratorium PT. XYZ Prastycia, Brighitta Natalia; hidayah, nur yulianti
Jurnal Media Teknik dan Sistem Industri Vol 9, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Suryakancana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35194/jmtsi.v9i2.4640

Abstract

PT. XYZ is a manufacturing company that produces ceramic roof tiles. A good tile specification is if the clay as raw material has a wetness level after the drying process ?2.5%. The level of clay wetness affects the quality of the product. If the level of wetness after the drying process does not meet the specifications, the product will break easily. Currently, the average initial wetness level of clay (before the drying process) is 18%-22%. This research aims to determine the right time setting in the ceramic tile drying process to produce a wetness level after drying according to specifications by conducting an experimental study at the Company's Laboratory. Experiments were conducted on five clay samples with initial wetness levels of 18.60%; 19.87%; 20.45%; 21.42%; and 22.03%. Each sample was dried for 30, 40, 50, 60, and 70 minutes to produce post-drying wettability according to specifications. The experimental results were processed by Two-Way ANOVA without interaction to evaluate the effect of initial wetness level and drying duration on clay wetness level after drying process. The analysis resulted in clay drying duration for initial wetness of 18.60% at least 40 minutes, initial wetness of 19.87% at least 50 minutes, initial wetness of 20.45% and 21.42% at least 60 minutes, and initial wetness of 22.03% at least 70 minutes with a temperature of 180°C, resulting in clay wetness after drying according to specifications. Based on these findings, an SOP for checking the initial wetness of clay for the drying process was developed to produce good quality roof tiles. PT. XYZ merupakan perusahaan manufaktur yang memproduksi genteng keramik. Spesifikasi genteng yang baik adalah jika clay sebagai bahan baku memiliki tingkat kebasahan setelah proses pengeringan ?2,5%. Tingkat kebasahan clay berpengaruh terhadap mutu produk. Jika tingkat kebasahan setelah proses pengeringan tidak sesuai spesifikasi, akan berakibat pada produk mudah pecah. Saat ini, rata-rata tingkat kebasahan awal clay (sebelum proses pengeringan) adalah 18%-22%. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaturan waktu yang tepat pada proses pengeringan genteng keramik untuk menghasilkan tingkat kebasahan clay setelah proses pengeringan sesuai spesifikasi dengan melakukan studi eksperimen di laboratorium PT. XYZ serta menyusun SOP pengecekan kebasahan awal clay. Eksperimen dilakukan terhadap lima sampel clay dengan tingkat kebasahan awal 18,60%; 19,87%; 20,45%; 21,42%; dan 22,03%. Masing-masing sampel dikeringkan selama 30, 40, 50, 60, dan 70 menit hingga menghasilkan tingkat kebasahan clay setelah proses pengeringan sesuai spesifikasi. Hasil eksperimen diolah dengan Two-Way ANOVA tanpa interaksi untuk mengevaluasi pengaruh tingkat kebasahan awal clay dan durasi pengeringan terhadap tingkat kebasahan clay setelah proses pengeringan. Hasil analisis menghasilkan durasi pengeringan clay untuk kebasahan awal 18,60% selama 40 menit, kebasahan awal 19,87% selama 50 menit, kebasahan awal 20,45% dan 21,42% selama 60 menit, dan kebasahan awal 22,03% selama 70 menit dengan suhu 180°C sehingga menghasilkan tingkat kebasahan clay setelah proses pengeringan sesuai spesifikasi. Berdasarkan temuan ini, disusun SOP pengecekan kebasahan awal clay untuk proses pengeringan agar menghasilkan kualitas genteng yang baik.

Page 13 of 13 | Total Record : 124