cover
Contact Name
lusi marlisa
Contact Email
lusimarlisa1@gmail.com
Phone
+6281373739955
Journal Mail Official
hericahyono808@gmail.com
Editorial Address
https://ojs.ummetro.ac.id/index.php/attajdid/pages/view/editorial-team?attajdid=Editorial+Teams
Location
Kota metro,
Lampung
INDONESIA
At-Tajdid : Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Islam
ISSN : 25485784     EISSN : 25492101     DOI : http://dx.doi.org/10.24127/att.v4i01
Fokus dan scope: jurnal At-Tajdid merupakan jurnal pendidikan dan pemikiran islam,yang diterbitkan dua kali dalam setahun periode januari – juni, dan juli-desember. At-Tajdid merupakan artikel hasil penelitian dalam bentuk penelitian pengembangan, kualitatif, kuantitatif, studi literatur, aplikasi teori, dan studi analisis kritis dalam bidang pendidikan agama islam yang mencakup topik : pemikiran pendidikan islam pendidikan multikultural media dan teknologi pembelajaran pengembangan kurikulum pendidikan islam manajemen pendidikan islam Artikel menganalisis isu-isu terkini, masalah, kebijakan, dan praktik, serta menawarkan kebaruan dan implikasi praktis dalam pengembangan pendidikan islam.
Articles 372 Documents
KUNCI TAUBAT MELALUI TAZKIYATUN NAFS Kajian Tafsir Qs An-Nisa/4:17-18 Asnita Asnita; Halimah Basri; Andi Miswar
AT-TAJDID Vol 10 No 1 (2026): JANUARI-JUNI 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Taubat ditandai dengan penyesalan dengan sepenuh hati atas kesalahan yang telah berlalu, memohon ampun dengan lisan, menghentikan kemaksiatan dari badan, bertekad untuk tidak mengulang kesalahan dengan cara menyucikan diri dengan sebenar-benarnya. Taubat menjadikan seseorang membersihkan jiwanya dari sifat-sifat buruk menuju kesadaran yang diperintahkan ilahiah yang lebih tinggi. Langkah ini menjadi jembatan dalam menyucikan diri manusia agar mencapai derajat ihsan (moral) dan ketenangan batin. Dengan demikian, taubat menjadi inti dari proses tazkiyatun nafs, yakni jalan menuju pembentukan akhlak kepribadian yang bersih, beriman, suci dari kesalahan, dan berakhlak mulia sesuai dengan ajaran petunjuk dalam al-Qur’an. Penelitian ini bertujuan untuk 1) Mengetahui arti taubat dalam perspektif al-Qur’an kaitannya dengan tazkiyatun nafs, 2) Mendeskripsikan gambaran taubat dalam perspektif al-Qur’an dan 3) Mengetahui syarat-syarat diterimanya taubat dalam perspektif al-Qur’an kaitannya dengan tazkiyatun nafs. Jenis penilitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui metode analisis tafsir tematik terhadap ayat-ayat al-Qur’an yang sejalan dengan taubat yakni QS al-Nisa [4]:17-18. Hasil kajian memberikan petunjuk bahwa taubat dalam al-Qur’an bukan hanya dipahami sebagai penyesalan, kembali dari jalan yang sesat, menghentikan kemaksiatan, dan permohonan ampun, tetapi merupakan mekanisme penyucian diri dari dosa yang diperbuat dan spiritual agar lebih dekat dengan sang khalik.Repentance is characterized by wholehearted repentance for past sins, asking for forgiveness verbally, stopping wickedness from the body, determination not to repeat the mistake by truly purifying oneself. Repentance makes one cleanse his soul of evil qualities towards a higher divinely commanded consciousness. This step is a bridge in purifying human beings in order to achieve the degree of ihsan (moral) and inner peace. Thus, repentance is the core of the process of tazkiyatun nafs, which is the path to the formation of a personality that is clean, faithful, pure from error, and noble character in accordance with the teachings of the guidance in the Qur'an. This research aims to 1) Know the meaning of repentance in the perspective of the Qur'an in relation to tazkiyatun nafs, 2) Describe the picture of repentance in the perspective of the Qur'an and 3) Know the conditions of receiving repentance in the perspective of the Qur'an in relation to tazkiyatun nafs. This type of research uses a descriptive qualitative approach through the method of thematic interpretation analysis of Qur'anic verses that are in line with repentance, namely QS al-Nisa [4]:17-18. The results of the study indicate that repentance in the Qur'an is not only understood as repentance, returning from a stray path, stopping disobedience, and asking for forgiveness, but is a mechanism of self-purification from sins committed and spiritually to be closer to the khalik.
KOSMOLOGI PENCIPTAAN DALAM DISKURSUS SAINS DAN AGAMA: Analisis Epistemologis terhadap Teori Emanasi Al-Farabi, Konsep Nur Muhammad, dan Kosmologi Big Bang SUMARNI Sumarni; Abdullah Abdullah; Muh. Natsir Siola
AT-TAJDID Vol 10 No 1 (2026): JANUARI-JUNI 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji persoalan asal-usul penciptaan alam semesta dengan menempatkannya dalam dialog antara pemikiran Islam klasik dan kosmologi modern. Fokus pembahasan diarahkan pada teori emanasi Al-Farabi, konsep Nur Muhammad dalam tradisi tasawuf Islam, serta relevansinya dengan teori Big Bang dalam sains kontemporer. Permasalahan utama yang dikaji adalah bagaimana masing-masing kerangka pemikiran tersebut menjelaskan relasi antara Tuhan sebagai sebab pertama dengan realitas kosmik yang beragam. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research), melalui analisis komparatif terhadap sumber-sumber filsafat Islam, tasawuf, dan literatur kosmologi modern. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teori emanasi Al-Farabi dan konsep Nur Muhammad sama-sama menegaskan prinsip sumber tunggal penciptaan, namun berbeda dalam landasan epistemologisnya, di mana teori emanasi bertumpu pada rasionalitas filosofis, sedangkan konsep Nur Muhammad menekankan dimensi spiritual dan intuisi. Sementara itu, teori Big Bang menjelaskan asal-usul alam semesta melalui pendekatan empiris tanpa memasuki wilayah metafisis, namun tetap membuka ruang dialog dengan filsafat dan teologi. Penelitian ini menegaskan bahwa integrasi antara filsafat, tasawuf, dan sains memungkinkan terbentuknya pemahaman kosmologi yang lebih komprehensif, rasional dalam argumentasi, mendalam dalam makna spiritual, dan kuat dalam pembuktian empiris, sekaligus menunjukkan relevansi pemikiran Islam klasik dalam diskursus kosmologi modern.