cover
Contact Name
lusi marlisa
Contact Email
lusimarlisa1@gmail.com
Phone
+6281373739955
Journal Mail Official
hericahyono808@gmail.com
Editorial Address
https://ojs.ummetro.ac.id/index.php/attajdid/pages/view/editorial-team?attajdid=Editorial+Teams
Location
Kota metro,
Lampung
INDONESIA
At-Tajdid : Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Islam
ISSN : 25485784     EISSN : 25492101     DOI : http://dx.doi.org/10.24127/att.v4i01
Fokus dan scope: jurnal At-Tajdid merupakan jurnal pendidikan dan pemikiran islam,yang diterbitkan dua kali dalam setahun periode januari – juni, dan juli-desember. At-Tajdid merupakan artikel hasil penelitian dalam bentuk penelitian pengembangan, kualitatif, kuantitatif, studi literatur, aplikasi teori, dan studi analisis kritis dalam bidang pendidikan agama islam yang mencakup topik : pemikiran pendidikan islam pendidikan multikultural media dan teknologi pembelajaran pengembangan kurikulum pendidikan islam manajemen pendidikan islam Artikel menganalisis isu-isu terkini, masalah, kebijakan, dan praktik, serta menawarkan kebaruan dan implikasi praktis dalam pengembangan pendidikan islam.
Articles 438 Documents
KUNCI TAUBAT MELALUI TAZKIYATUN NAFS Kajian Tafsir Qs An-Nisa/4:17-18 Asnita Asnita; Halimah Basri; Andi Miswar
AT-TAJDID Vol 10 No 1 (2026): JANUARI-JUNI 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Taubat ditandai dengan penyesalan dengan sepenuh hati atas kesalahan yang telah berlalu, memohon ampun dengan lisan, menghentikan kemaksiatan dari badan, bertekad untuk tidak mengulang kesalahan dengan cara menyucikan diri dengan sebenar-benarnya. Taubat menjadikan seseorang membersihkan jiwanya dari sifat-sifat buruk menuju kesadaran yang diperintahkan ilahiah yang lebih tinggi. Langkah ini menjadi jembatan dalam menyucikan diri manusia agar mencapai derajat ihsan (moral) dan ketenangan batin. Dengan demikian, taubat menjadi inti dari proses tazkiyatun nafs, yakni jalan menuju pembentukan akhlak kepribadian yang bersih, beriman, suci dari kesalahan, dan berakhlak mulia sesuai dengan ajaran petunjuk dalam al-Qur’an. Penelitian ini bertujuan untuk 1) Mengetahui arti taubat dalam perspektif al-Qur’an kaitannya dengan tazkiyatun nafs, 2) Mendeskripsikan gambaran taubat dalam perspektif al-Qur’an dan 3) Mengetahui syarat-syarat diterimanya taubat dalam perspektif al-Qur’an kaitannya dengan tazkiyatun nafs. Jenis penilitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui metode analisis tafsir tematik terhadap ayat-ayat al-Qur’an yang sejalan dengan taubat yakni QS al-Nisa [4]:17-18. Hasil kajian memberikan petunjuk bahwa taubat dalam al-Qur’an bukan hanya dipahami sebagai penyesalan, kembali dari jalan yang sesat, menghentikan kemaksiatan, dan permohonan ampun, tetapi merupakan mekanisme penyucian diri dari dosa yang diperbuat dan spiritual agar lebih dekat dengan sang khalik.Repentance is characterized by wholehearted repentance for past sins, asking for forgiveness verbally, stopping wickedness from the body, determination not to repeat the mistake by truly purifying oneself. Repentance makes one cleanse his soul of evil qualities towards a higher divinely commanded consciousness. This step is a bridge in purifying human beings in order to achieve the degree of ihsan (moral) and inner peace. Thus, repentance is the core of the process of tazkiyatun nafs, which is the path to the formation of a personality that is clean, faithful, pure from error, and noble character in accordance with the teachings of the guidance in the Qur'an. This research aims to 1) Know the meaning of repentance in the perspective of the Qur'an in relation to tazkiyatun nafs, 2) Describe the picture of repentance in the perspective of the Qur'an and 3) Know the conditions of receiving repentance in the perspective of the Qur'an in relation to tazkiyatun nafs. This type of research uses a descriptive qualitative approach through the method of thematic interpretation analysis of Qur'anic verses that are in line with repentance, namely QS al-Nisa [4]:17-18. The results of the study indicate that repentance in the Qur'an is not only understood as repentance, returning from a stray path, stopping disobedience, and asking for forgiveness, but is a mechanism of self-purification from sins committed and spiritually to be closer to the khalik.
KOSMOLOGI PENCIPTAAN DALAM DISKURSUS SAINS DAN AGAMA: Analisis Epistemologis terhadap Teori Emanasi Al-Farabi, Konsep Nur Muhammad, dan Kosmologi Big Bang Sumarni Sumarni; Abdullah Abdullah; Muh. Natsir Siola
AT-TAJDID Vol 10 No 1 (2026): JANUARI-JUNI 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji persoalan asal-usul penciptaan alam semesta dengan menempatkannya dalam dialog antara pemikiran Islam klasik dan kosmologi modern. Fokus pembahasan diarahkan pada teori emanasi Al-Farabi, konsep Nur Muhammad dalam tradisi tasawuf Islam, serta relevansinya dengan teori Big Bang dalam sains kontemporer. Permasalahan utama yang dikaji adalah bagaimana masing-masing kerangka epistemik menjelaskan relasi antara Tuhan sebagai sebab pertama dengan realitas kosmik yang beragam. Metode penelitian yang digunakan bersifat kualitatif-deskriptif melalui studi kepustakaan (library research), dengan analisis komparatif-epistemologis terhadap sumber filsafat Islam, teks tasawuf, dan literatur kosmologi modern. Hasil analisis menunjukkan bahwa teori emanasi Al-Farabi menekankan rasionalitas-metafisis dan struktur hierarkis, konsep Nur Muhammad menekankan pengalaman batin, intuisi, dan simbolisme, sementara teori Big Bang menuntut verifikasi empiris melalui observasi dan pemodelan matematis. Temuan ini menegaskan bahwa ketiga paradigma kosmologi beroperasi dalam rezim epistemik berbeda namun tidak saling meniadakan. Integrasi komparatif yang bersifat epistemologis memungkinkan pembentukan pemahaman kosmologi yang komprehensif yakni argumentatif secara filosofis, mendalam secara spiritual, dan terverifikasi secara ilmiah. Pendekatan ini sekaligus menegaskan novelty penelitian, yakni menyediakan kerangka metodologis baru untuk dialog kritis antara filsafat Islam, sufisme, dan sains modern, serta menunjukkan relevansi pemikiran Islam klasik dalam konteks kosmologi kontemporer. This research examines the question of the origin of the creation of the universe by placing it in a dialogue between classical Islamic thought and modern cosmology. The focus of the discussion was directed to the theory of the emanation of Al-Farabi, the concept of Nur Muhammad in the Islamic Sufism tradition, and its relevance to the Big Bang theory in contemporary science. The main problem examined is how each epistemic framework explains the relationship between God as the first cause and the diverse cosmic realities. The research method used is qualitative-descriptive through library research, with a comparative-epistemological analysis of Islamic philosophical sources, Sufism texts, and modern cosmological literature. The results of the analysis show that Al-Farabi's theory of emanation emphasizes metaphysical rationality and hierarchical structure, Nur Muhammad's concept emphasizes inner experience, intuition, and symbolism, while the Big Bang theory demands empirical verification through observation and mathematical modeling. These findings confirm that the three cosmological paradigms operate in different epistemic regimes but do not negate each other. Comparative integration that is epistemological allows the formation of a comprehensive understanding of cosmology, which is philosophically argumentative, spiritually profound, and scientifically verified. This approach also affirms the novelty of the research, which provides a new methodological framework for the critical dialogue between Islamic philosophy, Sufism, and modern science, and demonstrates the relevance of classical Islamic thought in the context of contemporary cosmology.
HERMENEUTIKA TEKS TASAWUF: PENAFSIRAN SIMBOL DAN MAKNA DALAM KARYA TASAWUF Irfan Padlian Syah; Suadi Sa'ad; Sholahuddin Al Ayubi
AT-TAJDID Vol 10 No 1 (2026): JANUARI-JUNI 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/att.v10i1.4570

Abstract

Tasawuf berfungsi sebagai tuntunan dan pedoman bagi perjalanan hidup manusia guna meraih kebahagiaan di dunia sekaligus keselamatan di akhirat. Hermeneutika berasal dari bahasa Yunani hermeneuein yang berarti menafsirkan, menjelaskan, atau menerjemahkan. Istilah ini diturunkan dari kata kerja hermeneuein serta kata benda hermeneia. Penelitian ini menerapkan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka (library research). Fokus kajiannya adalah dokumen-dokumen yang berkaitan dengan teks tasawuf, khususnya mengenai penafsiran simbol dan makna dalam karya-karya sufistik yang dijadikan sebagai sumber data primer. Sementara itu, literatur pendukung berupa buku maupun artikel dimanfaatkan sebagai sumber data sekunder. Tasawuf merupakan salah satu cabang penting dalam tradisi intelektual Islam yang lahir sebagai respon terhadap kebutuhan spiritual umat untuk mendekatkan diri kepada Allah. Selain melalui praktik ibadah dan perjalanan batin, tasawuf juga diekspresikan dalam karya-karya tulis yang kaya akan pemikiran, simbol, dan pengalaman spiritual. Dalam berbagai karya tasawuf, baik berbentuk prosa, puisi, maupun syair, para sufi kerap memanfaatkan bahasa simbolik. Simbol tersebut menjadi sarana yang efektif untuk menggambarkan keadaan batin, pengalaman mistis, serta hubungan intim dengan Allah. Simbol-simbol dalam karya tasawuf seperti cinta, perjalanan, penyatuan, cahaya, dan keindahan menjadi media bagi para sufi untuk mengekspresikan pengalaman batin yang sulit dijangkau oleh bahasa biasa. Sufism serves as a guide and guideline for the journey of human life to achieve happiness in this world as well as salvation in the hereafter. Hermeneutics comes from the Greek hermeneuein which means to interpret, explain, or translate. The term is derived from the verb hermeneuein as well as the noun hermeneia. This study applies a qualitative approach with the library research method. The focus of his study is documents related to Sufism texts, especially regarding the interpretation of symbols and meanings in Sufistic works that are used as primary data sources. Meanwhile, supporting literature in the form of books and articles is used as a secondary data source. Sufism is one of the important branches of the Islamic intellectual tradition that was born as a response to the spiritual needs of the ummah to get closer to Allah. In addition to the practice of worship and inner journey, Sufism is also expressed in written works that are rich in thoughts, symbols, and spiritual experiences. In various works of Sufism, both in the form of prose, poetry, and poetry, Sufis often use symbolic language. It is an effective means of describing the inner state, mystical experiences, and intimate relationship with God. Symbols in Sufism works such as love, travel, unity, light, and beauty became a medium for Sufis to express inner experiences that were difficult to reach in ordinary language.
PERSPEKTIF KOMPARATIF SUNNI–SYIAH: Identifikasi Perbedaan Kunci dan Ruang Kerjasama Nurhayati Selvi; Abdullah Abdullah; Muh. Natsir Siola; Wahyullah Alannasir
AT-TAJDID Vol 10 No 1 (2026): JANUARI-JUNI 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini menyajikan kajian komparatif mengenai perbedaan dan titik kesamaan utama antara Islam Sunni dan Syiah untuk merespons berbagai kesalahpahaman yang masih memicu ketegangan sektarian. Tujuan penelitian ini adalah memperjelas perbedaan teologis, historis, dan sosial-politik yang mendasar, sekaligus mengidentifikasi prinsip bersama yang membuka peluang kerja sama konstruktif. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif-komparatif, analisis dilakukan melalui telaah tekstual terhadap sumber-sumber klasik Islam, literatur akademik kontemporer, serta inisiatif dialog antar-sekte yang telah terdokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan signifikan tetap ada, terutama terkait isu suksesi, otoritas keagamaan, dan interpretasi hukum. Namun demikian, kedua tradisi memiliki komitmen yang sama terhadap tauhid, tuntunan kenabian, perilaku etis, dan kemaslahatan sosial. Temuan juga menunjukkan bahwa kolaborasi semakin mungkin dilakukan dalam bidang pendidikan, pembangunan sosial, dan upaya perdamaian, di mana nilai-nilai bersama menyediakan landasan praktis bagi keterlibatan bersama. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa harmonisasi tidak menuntut penyatuan doktrin, tetapi dapat dicapai melalui pengakuan timbal balik, pemahaman yang lebih terinformasi, serta kerja sama pada isu-isu yang menjadi kepentingan bersama. Penguatan literasi antar-sekte dan perluasan pertukaran akademik muncul sebagai langkah strategis untuk membangun hubungan yang lebih konstruktif dan berkelanjutan. This study offers a comparative examination of the principal differences and shared elements between Sunni and Shia Islam to address the persistent misunderstandings that often fuel sectarian tensions. The research aims to clarify the core theological, historical, and sociopolitical distinctions while identifying common principles that open opportunities for constructive cooperation. Using a qualitative–comparative approach, the analysis draws on classical Islamic texts, contemporary scholarly literature, and documented initiatives of inter-sect dialogue. The findings indicate that substantial differences remain, particularly in matters of succession, religious authority, and legal interpretation. However, both traditions uphold shared commitments to monotheism, prophetic guidance, ethical conduct, and communal welfare. The results further show that collaboration is increasingly feasible in sectors such as education, social development, and peacebuilding, where these shared values create a practical foundation for joint engagement. Overall, the study demonstrates that harmonization is attainable not through doctrinal convergence but through mutual recognition, informed understanding, and cooperation in areas of shared concern. Strengthening inter-sect literacy and promoting scholarly exchange emerge as strategic pathways for fostering more constructive and sustainable relations.
PERBANDINGAN KONSEP PENDIDIKAN AKHLAK IBNU MISKAWAIH DAN IBNU SAHNUN Syafe'i; Nasrun Harahap
AT-TAJDID Vol 10 No 1 (2026): JANUARI-JUNI 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan membandingkan konsep pendidikan akhlak menurut Ibnu Miskawaih dan Ibnu Sahnun, dua tokoh penting dalam khazanah pemikiran pendidikan Islam klasik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research), dengan sumber primer berupa karya Tahdzīb al-Akhlāq wa Tath-hīr al-A‘rāq karya Ibnu Miskawaih dan Adab al-Mu‘allimīn karya Ibnu Sahnun, serta sejumlah literatur sekunder berupa jurnal dan buku ilmiah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ibnu Miskawaih memandang pendidikan akhlak sebagai proses rasional-filosofis yang bertujuan menyucikan jiwa (tahdzīb al-nafs) dan membentuk karakter melalui pembiasaan moral. Sementara itu, Ibnu Sahnun menekankan aspek praktis-pedagogis dengan menegakkan adab, disiplin, dan tanggung jawab moral dalam interaksi antara guru dan murid. Perbedaan keduanya terletak pada orientasi dan metode: Miskawaih mengutamakan dimensi konseptual dan etis, sedangkan Sahnun menitikberatkan penerapan nilai akhlak dalam konteks sosial dan pendidikan. Keduanya memiliki titik temu dalam pandangan bahwa akhlak merupakan inti pendidikan Islam dan harus ditanamkan melalui pembiasaan dan keteladanan. Sintesis dari kedua pemikiran ini menghasilkan model pendidikan akhlak yang integratif, memadukan kekuatan filosofis dan normatif, sehingga relevan untuk menjawab tantangan krisis moral dalam pendidikan modern. This study aims to analyze and compare the concept of moral education according to Ibnu Miskawaih and Ibnu Sahnun, two prominent figures in the classical Islamic educational thought. The research employs a qualitative method with a library research approach, using primary sources including Ibnu Miskawaih’s Tahdzīb al-Akhlāq wa Tath-hīr al-A‘rāq and Ibnu Sahnun’s Adab al-Mu‘allimīn, as well as various secondary literatures such as journals and academic books. The findings reveal that Ibnu Miskawaih views moral education as a rational-philosophical process aimed at purifying the soul (tahdzīb al-nafs) and shaping character through moral habituation. In contrast, Ibnu Sahnun emphasizes a practical-pedagogical approach focusing on manners, discipline, and moral responsibility in the interaction between teacher and student. Their differences lie in orientation and method: Miskawaih prioritizes conceptual and ethical dimensions, while Sahnun highlights the application of moral values in social and educational contexts. Both share the perspective that morality is the core of Islamic education and must be instilled through habituation and exemplary behavior. The synthesis of their thoughts produces an integrative model of moral education that combines philosophical and normative strengths, making it relevant to address the moral crisis challenges in modern education.
Etos Kerja Qur’ani sebagai Landasan Pendidikan Karakter Islam: Analisis Konseptual QS at-Taubah [9]:105 Sumarni; Halimah Basri; Andi Miswar
AT-TAJDID Vol 10 No 1 (2026): JANUARI-JUNI 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan karakter Islam menghadapi tantangan serius dalam mengintegrasikan nilai-nilai keimanan dengan praktik kehidupan nyata, khususnya dalam membangun etos kerja peserta didik. Banyak praktik pendidikan masih menekankan aspek kognitif dan ritual, sementara dimensi kerja sebagai ekspresi iman belum mendapatkan perhatian konseptual yang memadai. Artikel ini bertujuan menganalisis konsep etos kerja Qur’ani sebagai landasan pendidikan karakter Islam melalui kajian konseptual terhadap QS at-Taubah [9]:105. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Data dianalisis melalui pembacaan konseptual terhadap ayat Al-Qur’an dan literatur keislaman yang relevan untuk merumuskan prinsip-prinsip etos kerja Qur’ani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa etos kerja dalam perspektif Al-Qur’an tidak dipahami semata sebagai aktivitas ekonomi, melainkan sebagai amal bermakna yang mengintegrasikan iman, tanggung jawab moral, dan akuntabilitas sosial. Temuan ini menegaskan bahwa kerja dapat dijadikan sebagai medium pedagogis dalam pendidikan karakter Islam untuk membentuk pribadi yang berintegritas, bertanggung jawab, dan berorientasi pada nilai-nilai spiritual. Artikel ini berkontribusi pada penguatan kerangka konseptual pendidikan karakter Islam berbasis nilai-nilai Qur’ani yang relevan dengan tantangan pendidikan kontemporer. Islamic character education faces significant challenges in integrating religious values with practical life skills, particularly in cultivating students’ work ethics. Educational practices often emphasize cognitive achievement and ritual observance, while the role of work as an expression of faith receives limited conceptual attention. This article aims to analyze the concept of Qur’anic work ethic as a foundation for Islamic character education through a conceptual study of Q.S. at-Taubah [9]:105. This study employs a qualitative approach with library research as its research design. The data are analyzed through a conceptual reading of Qur’anic verses and relevant Islamic literature to formulate the principles of Qur’anic work ethics. The findings reveal that work in the Qur’anic perspective is not merely an economic activity, but a meaningful action that integrates faith, moral responsibility, and social accountability. These findings indicate that work can function as a pedagogical medium in Islamic character education to develop integrity, responsibility, and spiritual awareness. This study contributes to strengthening the conceptual framework of Qur’an-based Islamic character education in response to contemporary educational challenges
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR AKIDAH AKHLAK PESERTA DIDIK KELAS V SDN 55 BANDA ACEH Anggie Puspita Zeirina; Realita
AT-TAJDID Vol 10 No 1 (2026): JANUARI-JUNI 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/att.v10i1.4967

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar Akidah Akhlak peserta didik kelas V SDN 55 Banda Aceh melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw. Latar belakang penelitian ini adalah rendahnya hasil belajar peserta didik yang disebabkan oleh proses pembelajaran yang masih berpusat pada guru dan kurang melibatkan peserta didik secara aktif. Metode penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan model Kemmis dan McTaggart yang dilaksanakan dalam dua siklus, masing-masing meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian berjumlah 30 peserta didik yang memenuhi kriteria kelengkapan data dari total 39 peserta didik. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui tes hasil belajar dan observasi aktivitas guru serta peserta didik. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar peserta didik secara bertahap. Nilai rata-rata pretest sebesar 67,67 dengan ketuntasan belajar 20,00%. Pada posttest siklus I, nilai rata-rata meningkat menjadi 77,67 dengan ketuntasan 56,67%, namun belum mencapai indikator keberhasilan. Pada siklus II, nilai rata-rata meningkat menjadi 86,00 dengan ketuntasan belajar mencapai 86,67%. Selain itu, hasil penelitian juga menunjukkan adanya peningkatan aktivitas guru secara bertahap. Pada siklus I, aktivitas guru memperoleh skor total 23 dari skor maksimal 28, dengan persentase 82,14% dan berada pada kategori baik. Pada siklus II, aktivitas guru menunjukkan peningkatan yang signifikan. Skor observasi meningkat skor total 26 dari skor maksimal 28, dengan persentase 92,86% dan berada pada kategori sangat baik. Sedangkan hasil observasi pada siklus I, aktivitas peserta didik mengalami peningkatan. Skor observasi meningkat menjadi 17 dari 20, dengan persentase 85% dan berada pada kategori aktif. Pada siklus II, aktivitas guru mengalami peningkatan. Skor observasi meningkat menjadi 18 dari 20, dengan persentase 90% dan berada pada kategori sangat aktif. Dengan demikian, penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw terbukti efektif dalam meningkatkan hasil belajar Akidah Akhlak peserta didik sekolah dasar. This study aims to improve the learning outcomes of fifth-grade students at SDN 55 Banda Aceh in the subject of Akidah Akhlak (Islamic beliefs and morals) through the application of the Jigsaw cooperative learning model. The background of this study is the low learning outcomes of students caused by a learning process that is still teacher-centered and does not actively involve students. The research method used was Classroom Action Research (CAR) with the Kemmis and McTaggart model, which was carried out in two cycles, each covering the stages of planning, implementation of actions, observation, and reflection. The research subjects consisted of 30 students who met the data completeness criteria from a total of 39 students. Data collection techniques were carried out through learning outcome tests and observations of teacher and student activities. The results showed a gradual increase in student learning outcomes. The average pretest score was 67.67 with a learning completeness of 20.00%. In the post-test of cycle I, the average score increased to 77.67 with a mastery level of 56.67%, but it did not reach the success indicator. In cycle II, the average score increased to 86.00 with a learning mastery level of 86.67%. In addition, the results also showed a gradual increase in teacher activities. In cycle I, teacher activity received a total score of 23 out of a maximum score of 28, with a percentage of 82.14% and was in the good category. In cycle II, teacher activity showed a significant increase. The observation score increased to a total score of 26 out of a maximum score of 28, with a percentage of 92.86% and was in the very good category. Meanwhile, the observation results in cycle I showed an increase in student activity. The observation score increased to 17 out of 20, with a percentage of 85% and was in the active category. In cycle II, teacher activity increased. The observation score increased to 18 out of 20, with a percentage of 90% and was in the very active category. Thus, the application of the Jigsaw cooperative learning model proved to be effective in improving the learning outcomes of elementary school students in Aqidah Akhlak.
Upaya pondok pesantren tgk Chiek Oemar diyan Indrapuri Aceh besar dalam membentuk kemandirian santri Khairul Syah Putra; Misnan
AT-TAJDID Vol 10 No 1 (2026): JANUARI-JUNI 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/att.v10i1.4970

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan upaya Pondok Pesantren Tgk Chiek Oemar Diyan Indrapuri Aceh Besar dalam membentuk kemandirian santri kelas 1 MTs melalui sistem pendidikan dan kehidupan asrama yang terintegrasi. Pendekatan yang digunakan ialah deskriptif kualitatif dengan subjek ustadz/pengasuh dan santri kelas 1 MTs, melalui teknik wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi untuk memperoleh gambaran holistik mengenai proses, strategi, dan hambatan pembinaan kemandirian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemandirian santri dibangun melalui jadwal harian yang tertib, penugasan piket kebersihan dan tugas dapur, pembiasaan ibadah berjamaah, serta pelibatan dalam kegiatan pramuka, latihan pidato tiga bahasa, organisasi santri, dan pelatihan life skill sederhana. Metode pembinaan meliputi pembiasaan, keteladanan, nasihat, bimbingan kelompok dan individual, serta penerapan reward dan punishment secara proporsional dengan pendekatan humanis, khususnya bagi santri baru yang masih dalam fase adaptasi. Hambatan yang dihadapi antara lain ketergantungan santri pada orang tua, perbedaan latar belakang keluarga, keterbatasan fasilitas, dan rasio pengasuh–santri yang belum ideal, yang direspons dengan penguatan pendampingan, komunikasi dengan orang tua, dan evaluasi program secara berkala. Secara keseluruhan, upaya pesantren dinilai cukup efektif membentuk kemandirian santri, meskipun masih diperlukan penguatan program life skill dan penambahan dukungan fasilitas serta sumber daya pengasuh. This study aims to describe the efforts of the Tgk Chiek Oemar Diyan Indrapuri Aceh Besar Islamic Boarding School in fostering the independence of first-grade MTs students through an integrated education system and dormitory life. The approach used is descriptive qualitative with the subjects being ustadz/guardians and first-grade MTs students, through in-depth interviews, participatory observation, and documentation studies to obtain a holistic picture of the process, strategies, and obstacles to fostering independence. The research results show that the students' independence is built through an orderly daily schedule, assignments to cleaning and kitchen duties, the habit of congregational worship, and involvement in scouting activities, trilingual speech practice, student organizations, and simple life skills training. Guidance methods include habituation, role models, advice, group and individual guidance, and the proportional application of rewards and punishments with a humanistic approach, especially for new students who are still in the adaptation phase. Obstacles encountered include students' dependence on their parents, differences in family backgrounds, limited facilities, and a less-than-ideal caregiver-to-student ratio. These challenges were addressed through strengthened mentoring, communication with parents, and regular program evaluations. Overall, the Islamic boarding school's efforts were deemed quite effective in fostering student independence, although strengthening life skills programs and increasing support from facilities and caregiver resources are still needed.
OPTIMALISASI KEAGAMAAN AKHLAK SISWA DI MTsN 4 JEUREULA ACEH BESAR Muhamad Ikram; Syafruddin
AT-TAJDID Vol 10 No 1 (2026): JANUARI-JUNI 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/att.v10i1.5005

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih ditemukannya perilaku siswa yang belum sepenuhnya mencerminkan nilai-nilai akhlakul karimah meskipun kegiatan keagamaan telah dilaksanakan secara rutin di MTsN 4 Jeureula Aceh Besar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan jenis kegiatan keagamaan yang dilaksanakan serta menganalisis dampaknya terhadap pembinaan akhlak siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan subjek sebanyak 12 orang, terdiri atas kepala sekolah, guru Akidah Akhlak, dan siswa kelas II B. Teknik pengumpulan data meliputi wawancara semi-terstruktur, observasi partisipatif, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, serta diuji keabsahannya melalui triangulasi sumber dan metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan keagamaan seperti pembacaan Surah Yasin, shalat berjamaah, pengajian bulanan, serta pembiasaan disiplin dan adab secara konsisten memberikan dampak positif terhadap pembinaan akhlak siswa, terutama dalam aspek kedisiplinan, sopan santun, dan kesadaran beribadah. Dengan demikian, optimalisasi kegiatan keagamaan berperan penting dalam membentuk karakter siswa yang berakhlakul karimah. This study aims to analyze the role of Akidah Akhlak teachers in shaping students' character based on Islamic teachings at MTsN 4 Jeureula, Aceh Besar. The background of this study departs from the phenomenon of weakening students' moral and ethical values ​​amidst the rapid development of digital technology. This study uses a qualitative approach with a case study design because it is considered most appropriate for understanding the meaning, experience, and practice of character formation contextually. Data were collected through semi-structured interviews, participant observation, and documentation, with participants consisting of the madrasah principal, Akidah Akhlak teachers, and 10 students selected by purposive sampling. The results show that the role of Akidah Akhlak teachers is realized through four main strategies, namely role models, habituation of Islamic values, spiritual guidance, and collaboration between schools, teachers, and parents. The main supporting factor comes from the madrasah's religious culture, while obstacles are found from the influence of social media and the environment outside the school. This study concludes that teacher role models and institutional synergy are the keys to the success of Islamic character formation in madrasahs.
PENGARUH MEDIA DIORAMA TERHADAP HASIL BELAJAR IPAS SISWA KELAS III SDN 14 BANDA ACEH Mayfa Dea Sari; Bansu Irianto Ansari; Nidar Yusuf
AT-TAJDID Vol 10 No 1 (2026): JANUARI-JUNI 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/att.v10i1.5014

Abstract

Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) merupakan rumpun ilmu yang mempelajari fenomena alam dan sosial secara faktual, baik berupa peristiwa maupun hubungan sebab akibat. Pembelajaran IPAS di Sekolah Dasar menuntut penggunaan media pembelajaran yang mampu membantu siswa memahami konsep secara konkret dan bermakna. Salah satu media yang dapat digunakan adalah media diorama karena menyajikan materi IPAS dalam bentuk visual tiga dimensi yang menyerupai kondisi nyata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan media diorama terhadap hasil belajar IPAS siswa Sekolah Dasar. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode eksperimen. Subjek penelitian terdiri atas dua kelompok, yaitu kelas eksperimen yang menggunakan media diorama dan kelas kontrol yang menggunakan pembelajaran konvensional. Pengumpulan data dilakukan melalui tes hasil belajar IPAS berupa pretest dan posttest. Data dianalisis menggunakan uji normalitas, uji homogenitas, dan uji hipotesis melalui Independent Samples t-Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar IPAS siswa pada kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol. Uji Independent Samples t-Test menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,000 yang lebih kecil dari 0,05 sehingga terdapat perbedaan hasil belajar IPAS yang signifikan antara kedua kelompok. Berdasarkan temuan tersebut dapat disimpulkan bahwa penggunaan media diorama berpengaruh signifikan dalam meningkatkan hasil belajar IPAS siswa Sekolah Dasar dalam proses pembelajaran di kelas. Natural and Social Sciences (IPAS) is a field of study that examines natural and social phenomena factually, including events and their cause-and-effect relationships. IPAS learning in elementary schools requires the use of instructional media that can help students understand concepts in a concrete and meaningful way. One instructional medium that can be utilized is diorama media, as it presents IPAS material in a three-dimensional visual form that resembles real-life conditions. This study aims to determine the effect of using diorama media on the IPAS learning outcomes of elementary school students. The research employed a quantitative approach using an experimental method. The research subjects consisted of two groups: an experimental class that used diorama media and a control class that applied conventional learning methods. Data were collected through IPAS learning outcome tests in the form of pretests and posttests. The data were analyzed using statistical tests, including normality tests, homogeneity tests, and hypothesis testing using the Independent Samples t-Test. The results showed that the IPAS learning outcomes of students in the experimental class were higher than those of students in the control class. The Independent Samples t-Test indicated a significance value of 0.000, which is less than 0.05, demonstrating a significant difference in IPAS learning outcomes between the two groups. Based on these findings, it can be concluded that the use of diorama media has a significant effect on improving IPAS learning outcomes of elementary school students in classroom learning.