cover
Contact Name
Kartianom
Contact Email
kartianom@gmail.com
Phone
+6285242704085
Journal Mail Official
jurnalannisa45@gmail.com
Editorial Address
Jl. HOS. Cokroaminoto No. 9, Watampone, 92731, Indonesia
Location
Kab. bone,
Sulawesi selatan
INDONESIA
An Nisa'
Core Subject : Social,
An Nisa is a scientific journal for disseminating results of conceptual research or studies on gender and child, is published two times (June and December) a year. An Nisa is managed by the Institute for Research and Community Service (LPPM) at Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bone. The publications through An Nisa include results of research or conceptual studies about gender, women, and child that have never been published elsewhere. The An Nisa is intended for experts, academics, practitioners, state administrators, and NGOs. The aim of this journal is to provide a venue for academicians, researchers and practitioners for publishing the original research articles or review articles. The scope of the articles published in this journal deal with a broad range of topics in the fields ofgender and child.
Articles 126 Documents
Pentingnya komunikasi orang tua terhadap perkembangan pendidikan anak pada SM SATAP 6 Ponre Kabupaten Bone Sultan Hasanuddin
AN-NISA Vol. 13 No. 2 (2020)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bone-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30863/an.v13i2.3994

Abstract

This study discusses the importance of parental communication on the development of children's education at SMP Satap 6 Ponre, Bone district. In lembanga, communication is very important in realizing a common vision. Especially in achieving the vision of education, communication between educators and parents of students is needed. Because with communication, various problems can be resolved properly. Especially at SMP Satap 6 Ponre, Bone Regency, which is located in a remote area and has limited information, so intense communication can be a solution in overcoming these problems. The purpose of this study was to provide an overview of the importance of parental communication on the development of children's education at SMP Satap 6 Ponre, Bone district. The research method used is descriptive qualitative method, which describes the importance of communication from the object of research. Data collection techniques in this study were observation, interview and documentation study, while data processing through three stages, namely data reduction, data presentation and drawing conclusions. The approaches used in this research are pedagogical and sociological approaches. The results showed that the level of communication intensity between parents and teachers at SMP Satap 6 Ponre was going well, this was evidenced by the involvement of parents in formulating strategic policy directions in school development.Penelitian ini membahas tentang pentingnya komunikasi orang tua terhadap perkembangan pendidikan anak pada SMP Satap 6 Ponre kabupaten Bone. Di lembanga Komunikasi memang sangat penting dalam mewujudkan visi bersama. Terkhusus pada pencapaian visi pendidikan maka komunikasi antara pihak pendidik dengan orang tua peserta didik sangatlah dibutuhkan. Karena dengan adanya komunikasi maka berbagai permasalahan dapat diselesaikan dengan baik. Terlebih pada SMP Satap 6 Ponre Kabupaten Bone yang lokasinya berada di daerah pedalaman dan memiliki keterbatasan informasi maka komunikasi secara intens dapat dapat menjadi solusi dalam mengatasi permasalahn tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran mengenai pentingnya komunikasi orang tua terhadap perkembangan pendidikan anak pada SMP Satap 6 Ponre kabupaten Bone. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif yaitu menggambarkan mengenai pentingnya komunikasi dari objek penelitian. Tehnik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara dan studi dokumentasi sedangkan pengolahan data melalui tiga tahap, yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Pendekatan yang digunakan di dalam penelitian ini yaitu pendekatan paedagogik dan sosiologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat intensitas komunikasi antara orang tua dengan guru pada SMP Satap 6 Ponre sudah berjalan dengan baik, hal tersebut dibuktikan dengan adanya keterlibatan orang tua dalam merumuskan arah kebijakan strategis dalam pengembangan sekolah.
Konsep psikologi Islam tentang pelaku konversi agama (muallaf) Ahmad Irfan
AN-NISA Vol. 13 No. 2 (2020)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bone-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30863/an.v13i2.3985

Abstract

This research is included in the category of library research, because the data sources only come from written materials published in the form of journals, books, and other sources that are considered representative and relevant. The concept of Islamic psychology regarding religious converts in this case is referred to as converts, influenced by the intervention of Allah Almighty, by providing guidance to the conscience of the converters, because the potential for guidance is related to psychological infrastructure, namely reason, heart, lust, lust and conscience. which has an impact on human intelligence, namely intellectual intelligence (IQ), emotional intelligence (EQ) and spiritual intelligence (SQ).Penelitian ini termasuk dalam kategori penelitian pustaka (library research), karena sumber datanya hanya berasal dari bahan-bahan tulisan yang dipublikasikan dalam bentuk jurnal, buku, dan sumber lainnya yang dianggap repsentatif dan relevan. Konsep psikologi Islam tentang pelaku konversi agama dalam hal ini disebut sebagai muallaf dipengaruhi oleh intervensi Allah swt., dengan memberikan hidayah ke dalam nurani pelaku konversi tersebut, karena potensi datangnya hidayah berhubungan dengan infrastruktur psikologis yaitu akal, hati, syahwat, hawa nafsu dan nurani, yang berdampak kepada kecerdasan manusia yaitu kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ).
Single parent role in child psychological development Nurul Istiani; Athoillah Islamy; Nur Laili Handayani
AN-NISA Vol. 13 No. 1 (2020)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bone-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30863/an.v13i1.3976

Abstract

This study aims to examine how single parent parenting is applied in fostering children's psychological development. This research is a qualitative research in the form of observation and interview studies. Research subjects (respondents) in this study are single parents due to divorce and death in Krapyak Village, Pekalongan City, Central Java. Meanwhile, the theory used as an analysis knife is the theory of parenting and the theory of psychology of child development. This study concludes that there are three parenting styles performed by single parents in Krapyak Village, Pekalongan City. First, democratic parenting. This parenting pattern has an impact on the child's behavior according to their psychomotor development. Second, authoritarian parenting. This parenting has implications for irritability, cowardice, irritability and emotionality. Third, permissive parenting. This parenting produces behavior in accordance with their own desires and causes the child to be aggressive, rebellious, and lack self-confidence.Penelitian ini bertujuan untuk meneliti bagaimana pengasuhan orang tua tunggal diterapkan dalam membina perkembangan psikologis anak. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif berupa observasi dan studi wawancara. Mata pelajaran penelitian (responden) dalam penelitian ini adalah orang tua tunggal akibat perceraian dan kematian di Kelurahan Krapyak, Kota Pekalongan, Jawa Tengah. Sementara itu, teori yang digunakan sebagai pisau analisis adalah teori pengasuhan dan teori psikologi perkembangan anak. Penelitian ini menyimpulkan ada tiga gaya pengasuhan yang dilakukan oleh orang tua tunggal di Kelurahan Krapyak, Kota Pekalongan. Pertama, pengasuhan demokrasi. Pola pengasuhan ini berdampak pada perilaku anak sesuai dengan perkembangan psikomotor mereka. Kedua, pengasuhan otoriter. Pengasuhan ini memiliki implikasi untuk lekas marah, pengecut, lekas marah dan emosionalitas. Ketiga, pengasuhan permisif. Pengasuhan ini menghasilkan perilaku sesuai dengan keinginan mereka sendiri dan menyebabkan anak menjadi agresif, memberontak, dan kurang percaya diri.
Penerapan teori belajar behaviorisme dalam pembelajaran (studi pada anak) Andi Mustika Abidin
AN-NISA Vol. 13 No. 2 (2020)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bone-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30863/an.v13i2.3990

Abstract

This article discusses the application of behaviorism learning theory in learning (studies in children) through the literature review method. In behaviorism learning theory has a basic concept that learning is an interaction between stimulus (stimulus) and response (response). This theory prioritizes measurement, because measurement is an important thing to see whether or not there is a change in behavior in children. The application of this theory requires teachers to identify learning objectives, conduct learning analysis, identify early characteristics and abilities of children, determine indicators of learning success, develop teaching materials, develop learning strategies to be used, observe stimuli that might be given to children such as exercises or assignments, observing and analyzing student responses, providing reinforcement, both positive and negative reinforcement, and finally revising learning activities.Artikel ini membahas mengenai penerapan teori belajar behaviorisme dalam pembelajaran (studi pada anak) melalui metode tinjauan literatur. Dalam teori belajar behaviorisme memiliki konsep dasar bahwa belajar merupakan interaksi antara rangsangan (stimulus) dan tanggapan (respon). Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi tidaknya perubahan tingkah laku pada anak. Penerapan teori ini menuntut guru agar mengindentifikasi tujuan pembelajaran, melakukan analisis pembelajaran, mengidentifikasi karakteristik dan kemampuan awal anak, menentukan indikator keberhasilan belajar, mengembangkan bahan ajar, mengembangkan strategi pembelajaran yang akan digunakan, mengamati stimulus yang mungkin bisa diberikan kepada anak seperti latihan atau tugas, mengamati dan menganalisis respon pembelajar, memberikan penguatan (reinforcement) baik penguatan positif maupun negatif, dan terakhir merevisi kegiatan pembelajaran.
Pelaksanaan pendidikan agama islam bagi anak dalam rumah tangga Husnussaadah Husnussaadah
AN-NISA Vol. 13 No. 1 (2020)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bone-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30863/an.v13i1.3981

Abstract

Education in the family is the first and foremost education for children.Education provided consciously by parents to their children is intended so that children have good attitudes and behavior in accordance with Islamic teachings. In the household environment, parents as educators must be able to carry out their duties and obligations properly and correctly, especially in instilling and developing children's faith and Islam, so that the challenges of Islamic religious education from outside the household can be overcome as well as possible, because there are some aspects of Islamic religious education in the family environment cannot be left entirely to schools, boarding schools, and to other educational institutions. Islamic education materials that must be delivered regarding faith, worship, morals and matters relating to it. Submission of material in the sense of planting educational values must use appropriate methods so that the values conveyed can be understood and applied in everyday life.Pendidikan dalam keluarga merupakan pendidikan yang pertama dan utama bagi anak. Pendidikan yang diberikan secara sadar oleh orang tua kepada anak-anaknya ini ditujukan agar anak-anak memiliki sikap dan tingkah laku yang baik sesuai dengan ajaran Islam. Dalam lingkungan rumah tangga, orang tua selaku pendidik harus dapat menjalankan tugas dan kewajibannya dengan baik dan benar, terutama dalam menanamkan dan mengembangkan keimanan dan ke-Islaman anak, agar tantangan pendidikan agama Islam dari luar rumah tangga dapat teratasi dengan sebaik-baiknya, karena terdapat beberapa aspek dari pendidikan agama Islam dalam lingkungan keluarga tidak dapat diserahkan sepenuhnya ke sekolah, pesantren, dan ke lembaga-lembaga pendidikan lainnya. Materi pendidikan Islam yang wajib disampaikan mengenai keimanan, ibadah, akhlak dan hal-hal yang berkaitan dengannya. Penyampaian materi dalam arti penanaman nilai-nilai pendidikan harus menggunakan metode yang tepat sehingga nilai-nilai yang disampaikan dapat dipahami dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Pengaruh gender terhadap prestasi belajar siswa kelas VII MTS Mallari ditinjau dari kemampuan pemecahan masalah Aisyah Nursyam; Asriani Syam; Andi Srimularahmah
AN-NISA Vol. 13 No. 2 (2020)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bone-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30863/an.v13i2.3986

Abstract

This study discusses gender and its response to the math learning achievements of grade VII MTs students reviewed problem solving skills. This research is based on problems in the school that have low student learning achievement and problem-solving ability, based on interviews from teachers about the results of the test. MTS Mallari has a different learning system, which is grouping male students and girls in different classes. The purpose of this study was to find out the influence of gender on learning achievement seen problem solving students in grade VII seen in terms of problem-solving ability in MTs Mallari. This type of research is expost-facto research. The sample of this study was a class of VII men taken using Purposive sampling techniques. The data was collected using the questionnaire and then used as a dikument and the test was then analyzed using infrensial statistic analysis. The results of this study had no gender influence on the problem-solving ability of grade VII students on the subject of the set judging by the problem-solving ability in MTs Mallari. This is indicated by a score of p=0.0612>sig0.05 and then H0 is accepted so that there is no gender influence on the learning achievement of grade VII students in terms of students' problem-solving skills in MTs in MallariPenelitian ini membahas tentang gender dan pengarunya terhadap prestasi belajar matematika siswa kelas VII MTs ditinjau kemampuan pemecahan masalah. Penelitian ini dilatar belakangi dari adanya permasalahan di sekolah tersebut yang memiliki prestasi belajar dan kemampuan pemecahan masalah siswa yang rendah, hal ini berdasarkan wawancara dari guru tentang hasil ulangan. MTS Mallari mempunyai sistem pembelajaran berbeda, yaitu mengelompokkan siswa laki-laki dan perepuan pada kelas yang berbeda. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh gender terhadap prestasi belajar dilihat pemecahan masalah siswa kelas VII dilihat dari segi kemampuan pemecahan masalah di MTs Mallari. Jenis penelitian ini adalah penelitian expost-facto. Sampel penelitian ini adalah kelas laki-laki VII yang diambil menggunakan teknik Purposive sampling. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner tersebut kemudian dijadikan sebagai dikument dan tes kemudian dianalisis menggunakan analisis statistic infrensial. Hasil dari penelitian ini tidak ada pengaruh gender terhadap kemampuan pemecahan masalah siswa kelas VII pada pokok bahasan himpunan dilihat dari kemampuan pemecahan masalah di MTs Mallari. Hal ini ditunjukkan dengan nilai p=0,0612>sig0,05 dan maka H0 diterima sehingga tidak ada pengaruh gender terhadap prestasi belajar siswa kelas VII dilihat dari segi kemampuan pemecahan masalah siswa di MTs di Mallari.
Belanja online menjadi trend remaja selama pandemi covid-19 Sari Utami
AN-NISA Vol. 13 No. 1 (2020)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bone-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30863/an.v13i1.3977

Abstract

The COVID-19 pandemic which requires everyone to stay at home, beginning with working (Work from House), studying (school), trading, or even hanging out with friends, are very difficult nowadays. The pandemic in Indonesia has now entered a serious stage and forces the government to implement PSBB (Large-scale Social Restrictions) in some provinces and regions. Not only does it limit everyone to interact or communicate directly, but this program also indirectly makes every shop or cafe closed or limited to do transactions. Covid-19 pandemic has succeeded in accelerating and even forcing business transformation such as food and drinks and selling activities from traditional to online through the principle of digitalization. Presently, all parties are forced to do online activities and apply the principle of digitalization, otherwise economic and business activities will die. This article uses a descriptive qualitative analysis method that looks at the phenomena of online trading transactions during the Covid-19 pandemic. Among the various transaction users (online shopping) at this time, teenagers share a variety of creativity and do not feel run out of ideas while staying at home, they choose to use food delivery services related to their consumptive nature and also order and shop online to buy an item or deliver goods without leaving the house by doing online transactions and transferring payments or Cash on Delivery (COD). The millennial generation will not feel limited or restricted during this pandemic. Since basically, being a digital native is their nature, therefore when everything has to be done digitally without having to get involved directly they will remain productive.Pandemi COVID-19 yang mengharuskan semua orang untuk tinggal di rumah, dimulai dengan bekerja (Work from House), belajar (sekolah), berdagang, atau bahkan bergaul dengan teman-teman, sangat sulit saat ini. Pandemi di Indonesia saat ini telah memasuki tahap serius dan memaksa pemerintah menerapkan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di beberapa provinsi dan daerah. Tidak hanya membatasi semua orang untuk berinteraksi atau berkomunikasi secara langsung, program ini juga secara tidak langsung membuat setiap toko atau kafe tutup atau terbatas untuk melakukan transaksi. Pandemi Covid-19 telah berhasil mempercepat dan bahkan memaksa transformasi bisnis seperti makanan dan minuman serta kegiatan jual dari tradisional ke online melalui prinsip digitalisasi. Saat ini, semua pihak terpaksa melakukan kegiatan online dan menerapkan prinsip digitalisasi, jika tidak, kegiatan ekonomi dan bisnis akan mati. Artikel ini menggunakan metode analisis kualitatif deskriptif yang melihat fenomena transaksi perdagangan online selama pandemi Covid- 19. Di antara berbagai pengguna transaksi (belanja online) saat ini, remaja berbagi berbagai kreativitas dan tidak merasa kehabisan ide selama tinggal di rumah, mereka memilih untuk menggunakan layanan pesan- antar makanan yang berkaitan dengan sifat konsumtif mereka dan juga memesan dan berbelanja online untuk membeli barang atau mengirimkan barang tanpa meninggalkan rumah dengan melakukan transaksi online dan mentransfer pembayaran atau Cash on Delivery (COD). Generasi milenial tidak akan merasa terbatas atau dibatasi selama pandemi ini. Karena pada dasarnya, menjadi digital native adalah sifat mereka, oleh karena itu ketika semuanya harus dilakukan secara digital tanpa harus terlibat langsung mereka akan tetap produktif.
Kekerasan dalam rumah tangga perspektif hukum Islam Samsidar Samsidar
AN-NISA Vol. 13 No. 2 (2020)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bone-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30863/an.v13i2.3991

Abstract

This article about hardness in perpective household Islam of taw, that in life house hold hardness case domesticity often happened and its perpetrator by husband to child and wife, cause the happening of effect of culture of patriarkhi [lineage], woman labelisasi or wife, condition of weak physical, religion interpretation which disagree with is universal of religion, or caused by the condition of husband of tempremental, ill bounce, alcoholic drunkard. Because of therefore problem how meaning hardness of household which is arranged in Code/Law of No. 23 at 2004 and also how far values of normatif punish Islam believed as universal base can give contribution in social reality that happened in the middle of life of society related to hardness in household ( KDRT) namely every deed to someone especially woman, causing incidence of gried of miseriedor distress physically, sexual, psychological and or is neglecled of household is including threat. Law of woke up pursuant to understanding of human being nash of Al-Qur’an and also hadits arranging human life going into efect is universal, hadrdness in household in harmony with punish of Islam, discrimination and hardnes specially in household scope, hardness in household represent action jarīmah diyat and law of Islam is not tolerated hardness becauas do not agree the mentioned. Beside impinging syariat act hardness household have also Law No. 23 at 2004 about abolition of hardness in houselhold. Law of Islam very is protecting of child and wife to action of husband (Sentence Q.S.An-Nisa 34, Sentence Al-Mujaadilah 1-6, Sentence Al- Baqarah 187, Sentence Al-Baqarah 233) Ideally Islam always attend in big idea for human.Tulisan ini tentang Kekerasan dalam Rumah Tangga perspektif Hukum Islam, bahwa dalam kehidupan rumah tangga kasus kekerasan sering terjadi dan pelakunya oleh suami kepada istri dan anak, penyebab terjadinya akibat budaya patriarkhi, labelisasi perempuan atau istri, kondisi fisik yang lemah, interpretasi agama yang tidak sesuai dengan universal agama, ataupun disebabkan karena kondisi suami tempremental, sakit mental, pecandu alkohol, frustasi, Oleh karena itu sentral problem bagaimana makna kekerasan rumah tangga yang diatur dalam Undang-undang No. 23 Tahun 2004 serta sejauh mana nilai-nilai normatif hukum Islam yang diyakini sebagai landasan universal mampu memberikan kontribusi dalam realitas sosial yang terjadi di tengah kehidupan masyarakat terkait dengan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Menjawab permasalahan tersebut dengan metode analisis deskriptif, dengan pendekatan yuridis dan pendekatan teologis normatif digunakan. Hasil penelitian menunjukkan produk yang dibentuk pemerintah sebagai payung hukum Undang-undang Nomor 23 tahun 2004 tentang penghapusan Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yakni setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaran atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga. Hukum sebagai aturan yang dibangun berdasarkan pemahaman manusia atas nash Al-Qur’an maupun Hadits yang mengatur kehidupan manusia yang berlaku universal. kekerasan dalam rumah tangga selaras dengan hukum Islam, anti kekerasan dan diskriminasi sesama manusia khususnya dalam lingkup rumah tangga, kekerasan dalam rumah tangga merupakan suatu tindakan jarīmah diyat dan hukum Islam tidak mentolerir kekerasan karena Islam tidak membenarkan hal tersebut. Selain melanggar syariat tindak kekerasan dalam rumah tangga juga telah melanggar undang- undang No. 23 tahun 2004 tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga, Hukum Islam sangat melindungi istri dan anak dari tindakan kekerasan suami (Q.S.An-Nisa ayat 34, Al-Mujaadilah ayat 1-6, Al- Baqarah ayat 187, Al-Baqarah ayat 233) Idealnya Islam selalu hadir dalam gagasan besar untuk kemanusiaan.
Hadits perintah shalat pada anak usia 7 - 10 tahun dalam perspektif psikologi perkembangan Abdullah Jawawi
AN-NISA Vol. 13 No. 1 (2020)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bone-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30863/an.v13i1.3982

Abstract

The research in this thesis is motivated by a hadith that instructs prayer for children at the age of 7 years and when it is 10 years old children are instructed to be hit for not performing prayers. In both phases in developmental psychology is a different phase of age, both in terms of growth and development and in other things. So, of course, it takes extra ways and methods to educate and teach it to pray. The command that requires parents to introduce a child to prayer when he is 7 years old and beat him when the child is reluctant to carry it out at the age of 10 is in principle not contrary to developmental psychology. In developmental psychology, at the age of 7, parents when teaching children to pray with practical methods are much more effective than theory. If at the age of 10 a child does not want to perform the command of prayer, then the parents are commanded to hit. This Hadith commands punishing a child who defies the commandments or violates the prohibition. The blow here means punishment according to the conditions, it could be that the one who is hit is his inner by isolation or dis likeness, angry attitude and others. Or a physical blow if necessary, which in principle the child can change himself for the better according to orders and prohibitions.Penelitian dalam skripsi ini dilatarbelakangi oleh sebuah hadis yang memerintahkan sholat untuk anak di usia 7 tahun dan ketika sudah menginjak usia 10 tahun anak diperintahkan untuk dipukul dikarenakan tidak melaksanakan sholat. Pada kedua fase ini dalam psikologi perkembangan merupakan fase umur yang berbeda, baik dalam hal pertumbuhan dan perkembangan maupun dalam hal yang lainnya. Maka, tentunya dibutuhkan cara dan metode yang ekstra untuk mendidik dan mengajarkannya untuk sholat. Perintah yang mengharuskan orang tua untuk mengenalkan anak untuk shalat ketika berumur 7 tahun dan memukulnya ketika anak enggan untuk melaksanakannya pada saat berumur 10 tahun pada prinsipnya tidak bertentangan dengan psikologi perkembangan. Dalam psikologi perkembangan, pada umur 7 tahun orangtua apabila mengajarkan anak shalat dengan metode praktik jauh lebih efektif dari pada teori. Jika pada usia 10 tahun ini seorang anak tidak mau melaksanakan perintah shalat, maka orang tua diperintah memukul. Hadis ini perintah memberikan hukuman bagi anak yang membakang perintah atau melanggar larangan. Pukulan disini maknanya adalah hukuman yang sesuai dengan kondisi, bisa jadi yang dipukul adalah batinnya dengan cara diisolasi atau sikap tak suka, sikap marah dan lain- lain. Atau pukulan pada fisik jika diperlukan, yang pada prinsipnya anak bisa mengubah dirinya menjadi lebih baik sesuai dengan perintah dan larangan.
Fiqhi shalat berjamaah bagi wanita Arnidah Arnidah
AN-NISA Vol. 13 No. 2 (2020)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bone-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30863/an.v13i2.3987

Abstract

It is required for those who chant iqamah to be of the male sex. All scholars agree that women are forbidden to chant iqamah when the prayer congregation has a man. Ibn Abidin, a scholar from the Al- Hanafiyah sect who mutaakhkhirin said that it is not sunnah for women to recite the call to prayer and iqamah when they pray in congregation with each other.Disyaratkan buat yang melantunkan iqamah harus berjenis kelamin laki- laki. Seluruh ulama sepakat bahwa wanita diharamkan melantunkan iqamah ketika jamaah shalat itu ada laki-lakinya. Ibnu Abidin, ulama dari kalangan mazhab Al-Hanafiyah yang mutaakhkhirin menyebutkan bahwa tidak disunnahkan untuk para wanita melantunkan adzan maupun iqamah ketika mereka shalat berjamaah sesama mereka sendiri.

Page 8 of 13 | Total Record : 126