cover
Contact Name
Febriaman Lalaziduhu
Contact Email
ferdinanmarcos1994@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
lp2mebenhaezer@gmail.com
Editorial Address
JI Buluran No.02 Talang Jawa RT 007 / RW 004 Kelurahan Pasar Tanjung Enim Kecamatan Lawang Kidul Kabupaten Muara Enim Prop. Sumatera Selatan
Location
Kab. muara enim,
Sumatera selatan
INDONESIA
SCRIPTA : Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual
ISSN : 26852144     EISSN : 27228231     DOI : https://doi.org/10.47154/scripta
Core Subject :
Jurnal Scripta merupakan jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer, dan sebagai sarana publikasi hasil penelitian serta sharing perkembangan ilmu teologi Kristen dan pelayanan kontekstual. Jurnal ini memuat artikel yang belum pernah dipublikasikan sebelumnya yang berupa artikel hasil penelitian ataupun penelitian terapan, serta artikel telaah yang berkaitan dengan perkembangan ilmu teologi berdasarkan isu-isu terkini. Informasi mengenai pedoman penulisan artikel dan prosedur pengiriman artikel terdapat pada setiap penerbitan. Semua artikel yang masuk akan melalui ‘peer-review process’ setelah memenuhi persyaratan sesuai pedoman penulisan artikel. Penerbitan jurnal ini dilakukan sebanyak enam bulan sekali yaitu pada bulan Mei dan November setiap tahunnya.
Arjuna Subject : -
Articles 129 Documents
Signifikansi Pendidikan Moral dan Spiritual Kristen Bagi Anak Remaja Usia 12-17 Aris Elisa Tembay
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 4 No. 2 (2017): Scripta : Jurnal Teologia dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (598.829 KB) | DOI: 10.47154/scripta.v4i2.38

Abstract

Proses perkembangan masa remaja dalam menemukan jati dirinya sangat bergantung pada beberapa unsur yakni orang tua, gereja, sekolah dan lingkungan sosial. Dalam hal ini orang tua secara khusus memegang peranan penting, dimana Allah sendiri yang telah memberi tanggung jawab kepada orang tua untuk mengasihi, melindungi, mendidik, dan mendisiplin anak-anak mereka. Orang tua merupakan faktor terpenting dalam pembentukan kepribadian anak remaja. Pendidikan spiritual kristen merupakan kebutuhan yang mendasar, yang harus diterapkan dalam kehidupan anak remaja. Pendidikan ’spiritual’ bersifat kejiwaan (rohani, batin), yang juga dipahami sebagai spirit yakni sumber kekuatan, semangat hidup untuk bertumbuh, dan berkembang dalam semua bidang kehidupan di dunia ini, baik secara pribadi maupun bersama orang lain, yang kita peroleh di dalam perjumpaan dengan Allah, sesama dan diri sendiri. Pendidikan spiritual kristen anak remaja merupakan tugas utama orang tua, sebagaimana Allah sendiri menghendaki kedua orang tua membimbing anak mereka untuk mengenal dan takut akan Allah. Pendidikan spiritual kristen akan membantu anak remaja berpartisipasi dalam imannya, agar mereka menjadi orang Kristen yang dewasa. Kegiatan belajar biasanya sangat individual, dan memberi perhatian besar terhadap pengarahan rohani, membimbing individu memasuki bentuk kedewasaan yang lebih kompleks. The process of development in adolescence in finding one's true identity is very dependent on several elements namely parents, church, school and social environment. In this case parents specifically play an important role, where God himself has given responsibility to parents to love, protect, educate, and discipline their children. Parents are the most important factor in shaping the personality of teenagers. Christian spiritual education is a basic need, which must be applied in the lives of teenagers. 'Spiritual' education is spiritual (spiritual, mental), which is also understood as spirit which is a source of strength, a spirit of life to grow, and develop in all areas of life in this world, both personally and with others, which we get in encounter with God, others and yourself. Christian spiritual education of teenagers is the main task of parents, as God himself wants both parents to guide their children to know and fear God. Christian spiritual education will help teenagers participate in their faith, so that they become mature Christians. Learning activities are usually very individual, and pay great attention to spiritual direction, guiding individuals into more complex forms of maturity.
Pastoral Konseling Kristen Dalam Memurnikan Konsep Orang Tua Yang Menikahkan Anak Laki-Laki Di Bawah Umur 17 Tahun Kristina Herawati
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 4 No. 2 (2017): Scripta : Jurnal Teologia dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (445.111 KB) | DOI: 10.47154/scripta.v4i2.39

Abstract

Pernikahan adalah suatu ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) bahagia dan kekal berdasarkan ketuhanan Yang Maha Esa. Perkawinan adalah sah apabila dilakukan atas dasar agama, adat istiadat dan undang-undang, oleh karena itu pernikahan merupakan ikatan yang dilandasi pada moral etika dan agama, kedewasaan calon suami- istri harus telah ”masak jiwa raganya”. Oleh karena itu, agar dapat mewujudkan tujuan pernikahan yang baik serta tercapainya kehidupan keluarga yang harmonis, maka dibutuhkan kematangan baik jasmani maupun spiritual bagi pasangan yang ingin melakukan pernikahan. Tetapi dalam kenyataannya, masih ada terjadi pernikahan di bawah usia. Di mana hal tersebut sangatlah beresiko bagi pernikahan yang akan dijalani. Menyikapi fenomena tersebut, maka para pelayan atau hamba Tuhan memiliki komitmen untuk menolong, mengarahkan, membimbing, menopang dan menuntun supaya orang tua memahami dasar pernikahan Kristen yang Alkitabiah. Marriage is a spiritual bond between a man and a woman as husband and wife with the aim of forming a happy and eternal family (household) based on the divinity of the Almighty. Marriage is legal if it is done on the basis of religion, customs and laws, therefore marriage is a bond based on moral ethics and religion, the maturity of a prospective husband and wife must have "cooked their body and soul". Therefore, in order to realize the goal of a good marriage and the achievement of a harmonious family life, it takes both physical and spiritual maturity for couples who want to get married. But in reality, there is still underage marriage. Where it is very risky for the marriage that will be lived. Responding to this phenomenon, the servants or servants of God have a commitment to help, direct, guide, support and guide so that parents understand the basic Christian biblical marriage.
Konsep Puasa Yang Benar Berdasarkan Studi Eksegese Terhadap Yesaya 58:1-12 Marlon Butarbutar
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 4 No. 2 (2017): Scripta : Jurnal Teologia dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (378.842 KB) | DOI: 10.47154/scripta.v4i2.40

Abstract

Konsep puasa yang benar haruslah sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Tuhan yang memerintahkan berpuasa. Tentu kitab suci sudah mencatatnya. Namun dalam pelaksanaannya selalu ada masalah, berbagai masalah yang terjadi sekitar berpuasa tidak hanya terjadi pada saat penulisan teks yang diangkat penulis, tetapi juga masa kini. Persoalan itu terjadi karena problem hermeneutika, usaha memahami teks yang berbeda satu dengan yang lain. Karena itu melalui teks Yesaya 58:1-2 penulis akan menguraikan konsep puasa yang dikehendaki Tuhan dalam kehidupan umat Allah, baik dulu maupun sekarang. Tentu ada konteks yang berbeda, karenanya penulis akan berusaha menemukan prinsip-prinsip puasa yang sesuai dengan kehendak Allah, melalui usaha menggali makna teks dengan cara eksegese, hasil eksegese akan dijadikan pokok-pokok pemikiran untuk menjawab semua persoalan mengenai puasa, baik dari teks, maupun persoalan masa kini. The concept of true fasting must be in accordance with what is desired by God who commands fasting. Of course the scriptures have recorded it. But in its implementation there are always problems, various problems that occur around fasting not only occur at the time of writing the text that the writer raised, but also today. The problem occurred because of hermeneutics problems, attempts to understand texts that differ from one another. Therefore through the text of Isaiah 58: 1-2 the writer will describe the concept of fasting desired by God in the lives of God's people, both past and present. Of course there are different contexts, so the writer will try to find the principles of fasting that are in accordance with God's will, through an effort to explore the meaning of the text by exegesis, the results of the exegesis will be used as main points of thought to answer all issues regarding fasting, both from the text, and current problems.
Pastoral Konseling Terhadap Anak Usia 5-12 Tahun Yang Mengalami Krisis Kasih Sayang I Made Suharta
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 4 No. 2 (2017): Scripta : Jurnal Teologia dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (539.911 KB) | DOI: 10.47154/scripta.v4i2.41

Abstract

Anak-anak di dunia ini sangat membutuhkan bimbingan dari orang tua yang dilakukan dengan adanya rasa kasih sayang dari keluarga terutama bimbingan dari orang tua. Dengan bimbingan dan kasih sayang yang sepatutnya, seorang anak akan bertumbuh menjadi suatu kesukaan bagi orang tua, berkat bagi dunia, dan terang bercahaya bagi Allah. Pengaruh keluarga atau pun juga guru yang mengajar mereka di sekolah bagi perkembangan anak sangatlah besar. Karena guru juga merupakan tempat utama bagi pembentukan karakter, watak, dan kepribadian anak di sekolah. Dengan bantuan dan dorongan dari keluarga, teman-teman, dan anggota-anggota keluarga besar, anak-anak seharusnya merasakan masa kanak-kanak sebagai suatu masa untuk menemukan pribadi seperti yang telah dikehendaki oleh Tuhan. Namun keadaan dunia ini tidaklah selalu sesuai dengan yang diharapkan. Dunia saat ini memberikan kepada anak-anak kemudahan-kemudahan untuk melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan yang diajarkan dalam keluarga begitu juga dengan lingkungan sangat mempengaruhi pembentukan pola-pola kepribadian maupun pola-pola sikapnya. Ketika orang tua tidak memberikan kasih sayang kepada anak sejak kecil yang seharusnya diterima oleh anak dan ketika orang tua gagal memberikan kasih sayang kepada anak, maka anak tidak dapat bertumbuh dengan baik dan di sekolah pun anak tidak aktif dalam mengikuti pengajaran. Hal yang lainnya ialah, mereka bertumbuh menjadi anak-anak yang pemalu dan takut untuk tampil didepan umum, juga kurang percaya diri, menganggap diri kurang mampu, tidak hanya di sekolah namun di lingkungan juga. Peristiwa lainnya ialah ketika orang tua tidak terlalu mementingkan pertumbuhan anak, maka akan membuat anak sulit mengikuti pengajaran yang baik di sekolah. Kasus-kasus di atas, adalah akibat kurangnya pastoral konseling terhadap anak pada usia 5-12 tahun sehingga berdampak pembentukan karakter dan emosi yang kurang baik. Oleh sebab itu guru diharapkan mampu untuk mengerti pastoral konseling dengan benar dan menjalankannya didalam pengajaran tiap-tiap hari yang dilakukan seorang guru di sekolah, karena pastoral konseling terhadap anak yang benar akan mempengaruhi kecerdasan anak dan anak dapat merasakan kasih sayang atau perhatian yang seharusnya mereka dapatkan dari orang tua. Children in this world really need guidance from parents which is done with the love of family, especially guidance from parents. With proper guidance and affection, a child will grow into a joy for parents, a blessing to the world, and a bright light for God. The influence of the family or also the teacher who teaches them at school for children's development is very large. Because the teacher is also the main place for the formation of character, character, and personality of children in school. With the help and encouragement from family, friends, and members of extended families, children should feel childhood as a time to find the person who is desired by God. But the state of this world is not always as expected. Today's world gives children the ease of doing things that are not in accordance with what is taught in the family as well as the environment greatly influencing the formation of personality patterns and patterns of attitude. When parents do not give love to children since childhood which should be accepted by children and when parents fail to give love to children, then the child cannot grow properly and even in school the child is not active in following teaching. The other thing is, they grow up to be shy children who are afraid to appear in public, also lack of confidence, consider themselves less capable, not only in school but also in the environment. Other events are when parents are not too concerned with the child's growth, it will make it difficult for children to follow good teaching in school. The cases above, are due to the lack of pastoral counseling of children at the age of 5-12 years, which results in the formation of character and emotions that are not good. Therefore teachers are expected to be able to understand pastoral counseling correctly and carry it out in teaching every day that is done by a teacher at school, because pastoral counseling to the right child will affect the intelligence of children and children can feel the love or attention they should get from parents.
Pentingnya Guru Bimbingan Konseling (BK) Kristen Dalam Pelayanan Pastoral Konseling Yenny Anita Pattinama
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 4 No. 2 (2017): Scripta : Jurnal Teologia dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (729.746 KB) | DOI: 10.47154/scripta.v4i2.42

Abstract

Sekolah Kristen memiliki visi dan misi yang berbeda dengan sekolah lainnya. Karena sekolah Kristen akan memperhatikan keadaan rohani siswanya. Sekolah akan mencari metode untuk meningkatkan kerohanian siswanya. Tentunya siswa yang memiliki persoalan, pembuat masalah disekolah, dan karakter yang tidak baik akan mendapatkan bimbingan khusus dari guru bimbingan konseling. Siswa berasal dari latar belakang yang berbeda-beda dan dari latar belakang yang berbeda membentuk karakter siswa yang berbeda. Lingkungan yang baik dapat membentuk karakter siswa yang baik. Sebaliknya, lingkungan yang buruk dapat membetuk karakter siswa yang buruk. Karakter yang buruk berdampak pada perilaku siswa yang dapat merugikan orang lain atau diri sendiri. Siswa menjadi pembuat masalah di sekolah atau di lingkungannya. Oleh karena itu siswa membutuhkan guru bimbingan konseling dalam mengubah karakternya. Christian schools have a vision and mission that is different from other schools. Because Christian schools will pay attention to the spiritual condition of their students. Schools will look for methods to improve the spirituality of their students. Of course students who have problems, problem makers at school, and bad characters will get special guidance from counseling guidance teachers. Students come from different backgrounds and from different backgrounds form different student characters. A good environment can shape the character of good students. Conversely, a bad environment can form bad student character. Bad character affects the behavior of students who can harm others or themselves. Students become problem makers at school or in their environment. Therefore students need guidance counseling teachers in changing their character.
Makna Ungkapan “Petiklah Kecapi Baik-Baik” Dalam Mazmur 33: 3 Sebagai Upaya Peningkatan Kualitas Pelayanan Musik Sri Wahyuni Kusradi
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 5 No. 1 (2018): Scripta : Jurnal Teologia dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1057.227 KB) | DOI: 10.47154/scripta.v5i1.43

Abstract

Pelayanan musik adalah sangat penting dalam ibadah. Karena itu Kitab Mazmur juga menyatakan hal-hal mengenai pelayanan tersebut. “petiklah kecapi baik-baik” memberikan pengertian bahwa pelayanan musik bukanlah semata-mata menyangkut kemampuan memainkan alat musik saja. Tetapi lebih jauh dari hal itu adalah menyangkut kedalaman batin pemusik dalam penyembahannya kepada Tuhan yang menyangkut keseluruhan kehidupan sang pelayan tersebut. Ia adalah orang yang benar di dalam Tuhan: ia adalah seorang yang memiliki hati yang telah dibaharui oleh Tuhan, dia adalah seorang yang dosanya telah diampuni, telah diselesaikan di hadapan Tuhan. Dia adalah seorang yang jujur artinya dia adalah seorang yang berintegritas dan tidakada kemunafikan. Seorang pelayan musik yang benar adalah yang memiliki sikap yang benar yang jiwanya penuh sukacita dalam memuji Tuhan, yang hatinya penuh dengan pujian kepada Allah. Dia juga dapat memainkan alat-alat musik dengan benar: ia memahami musik dengan benar dan memahami bagaimana bermusik yang dikenan Tuhan. Seorang pelayan musik juga memiliki kesungguhan hati dan perlu mempersiapkan dengan matang melalui latihan-latihan sebelum memulai pelayanannya. Seorang pelayan musik juga adalah seorang yang tiap waktu mengharapkan kasih setia Tuhan, sehingga ia tidak mengandalkan dirinya sendiri, yang hatinya penuh pengagungan dan kekaguman kepada Tuhan. Ia hendaknya mengetahui alasan kenapa ia bermain musik dan melayani musik dengan baik-baik. Ia mengerti alasannya yaitu karena Firman Tuhan telah menjadikan segala sesuatu, bahwa Tuhan yang ia layani adalah yang memiliki rancangan ygng menentukan sejaah umat-Nya, yang perhatian-Nya kepada manusia seluruhnya, dan Ia adalah Tuhan yang menyelamatkan orang yang takut akan Dia. Pemahaman akan hal-hal tersebut akan sangat berpengaruh pada seluruh ibadah dan kemajuan penyembahan umat kepada Allah dan kehidupan umat yang mempermuliakan Allah, Sang Juruselamat. Music ministry is very important in worship. Therefore the Psalms also state matters regarding the ministry. "Pick the harp well" gives the sense that the service of music is not solely concerned with the ability to play an instrument. But further than that it concerns the inner depth of the musician in his worship of God concerning the whole life of the servant. He is a righteous person in God: he is a person who has a heart that has been renewed by God, he is a person whose sins have been forgiven, resolved before God. He is an honest person meaning he is a person of integrity and no hypocrisy. A true music steward is one who has the right attitude whose soul is full of joy in praising God, whose heart is full of praise to God. He can also play musical instruments correctly: he understands music correctly and understands how music is pleasing to God. A music steward also has sincerity and needs to prepare carefully through exercises before starting his ministry. A music steward is also someone who is always expecting God's love, so he does not rely on himself, whose heart is full of admiration and admiration for God. He should know the reasons why he plays music and serves music well. He understands the reason that is because the Word of God has made everything, that the Lord he serves is the one who has a design that determines the history of His people, whose attention is to the whole human being, and He is the God who saves those who fear Him. Understanding these things will greatly affect the entire worship and progress of the worship of the people to God and the lives of people who glorify God, the Savior.
PERANAN KAUM AWAM DALAM PELAYANAN GEREJA Febriaman Lalaziduhu Harefa
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 5 No. 1 (2018): Scripta : Jurnal Teologia dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (624.423 KB) | DOI: 10.47154/scripta.v5i1.44

Abstract

Ungkapan ”persekutuan Roh” dalam Filipi 2:1 bisa berarti persekutuan dengan Roh yang dimungkinkan oleh Roh Kudus sendiri. Gagasan Perjanjian Baru tentang persekutuan ini sering kali tidak dipahami secara benar, akibatnya kabur, ada orang yang terlalu menekankan persekutuan vertikal (kepada Allah) saja dan kurang menekankan segi persekutuan horizontalnya (sesama), demikian sebaliknya, sehingga tidak heran kalau sewaktu-waktu timbul kesenjangan. Padahal keduanya tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Kuduanya sama-sama penting dalam pengertian koinonia yang benar. Abineno menambahkan bahwa: Persekutuan itu mengandung realitas yaitu partisipasi dalam Roh Kudus dan persekutuan seorang akan yang lain. Oleh sebab itu bila dikatakan bahwa kita mendapat realitas Roh Kudus melalui Firmannya, maka kita juga mendapat bagian dalam persekutuan dengan sesama anggota jemaat lainnya.[1] Dengan demikian tidak ada tempat untuk hidup secara individual. Persekutuan Kristen diciptakan oleh Roh Kudus, itu berarti bahwa seluruh anggota berpusat pada Roh Kudus yang adalah merupakan gambaran gereja yang benar. Anggota persekutuan adalah orang-orang yang telah dipanggil untuk hidup dalam kasih karunia dengan penuh ketaatan. Harus diakui bahwa ada banyak perdebatan yang menyangkut persekutuan Roh ini, namun yang jelas bahwa dimensi vertikal tetap merupakan dasar untuk gagasan koinonia. Koinonia dalam gereja haruslah dimulai dengan persekutuan dengan Roh Kudus. The phrase "fellowship of the Spirit" in Philippians 2: 1 can mean fellowship with the Spirit made possible by the Holy Spirit himself. The New Testament idea about community is often not understood correctly, the consequences are blurred, there are people who overemphasize vertical alliance (to God) and do not emphasize the horizontal community (others), and vice versa, so it is not surprising that at any time the gap arises. Though both can not be separated from one another. The hilt is equally important in the correct understanding of Koinonia. Abineno added that: Fellowship contains reality, namely participation in the Holy Spirit and fellowship of one another. Therefore if we say that we get the reality of the Holy Spirit through his Word, then we also get a part in fellowship with other fellow church members. Thus there is no place to live individually. Christian fellowship is created by the Holy Spirit, it means that all members are centered on the Holy Spirit which is a true picture of the church. Fellowship members are people who have been called to live gracefully in obedience. It must be admitted that there are many debates concerning the fellowship of the Spirit, but it is clear that the vertical dimension remains the basis for the Koinonia idea. The Koinonia in the church must begin with fellowship with the Holy Spirit.
Saat Iman Dan Akal Berbenturan: Alam Semesta Menurut Ajaran Alkitab Dan Evolusionisme Fany Y.M Kaseke
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 5 No. 1 (2018): Scripta : Jurnal Teologia dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (522.203 KB) | DOI: 10.47154/scripta.v5i1.45

Abstract

Makna Ungkapan ”Karna Di Mana Hartamu Berada Di Situ Juga Hatimu Berada” Dalam Lukas 12: 34 Dan Implikasinya Bagi Pertumbuhan Iman Jemaat Yanjumseby Yeverson Manafe
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 5 No. 1 (2018): Scripta : Jurnal Teologia dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (710.466 KB) | DOI: 10.47154/scripta.v5i1.46

Abstract

Harta benda merupakan berkat dari Tuhan, tetapi bagi orang Kristen harta benda bukanlah berkat terbesar, karena yang merupakan berkat terbesar ialah harta rohani. Makna ungkapan ”Karena di mana hartamu berada di situ juga hatimu berada” dalam Matius 12: 34, sangat penting untuk dipahami dalam kehidupan dan pertumbuhan iman jemaat. Karena akan berdampak buruk bagi orang percaya dalam kehidupannya jika orang percaya mengutamakan harta dunia ini. Selanjutnya orang Kristen yang mengabaikan harta rohani dan yang melekatkan hatinya pada harta dunia akan mengakibatkan kemerosotan dalam iman, sebab hidupnya lebih memprioritaskan harta dunia dari pada Tuhan Allah yang jelas-jelas sebagai sumber harta tersebut. Oleh karena itu bukan harta yang menjadikan orang Kristen berdosa, melainkan sikap hati manusia terhadap materi itulah yang menjadikan seseorang diperbudak oleh harta sehingga jatuh dalam dosa dan meninggalkan Tuhan. Property is a blessing from God, but for Christians, the greatest blessing is property, because it is the greatest blessing of spiritual treasure. The meaning is taken "Because where your treasure is there also your heart is" in Matthew 12: 34, it is very important to understand in the life and growth of the faith of the church. Because it will be bad for believers in their lives if believers put the treasure of this world first. Furthermore, Christians who give up spiritual treasures and who are attached to world treasures will release deterioration in the faith, because they prioritize world treasures rather than the Lord God who is clearly the source of these treasures. Therefore it is not a treasure that makes Christians sin, preferring a human heart to material things that make a person enslaved by possessions fall into sin and leave God.
Pentingnya Integritas Pelayan Kristus Menurut Titus 1: 6-9 Dalam Upaya Peningkatan Pelayanan Gerejawi I Made Suharta
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 5 No. 1 (2018): Scripta : Jurnal Teologia dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (717.755 KB) | DOI: 10.47154/scripta.v5i1.47

Abstract

Kehidupan yang berintegritas adalah kehidupan yang menjadikan Kristus sebagai pusat segala sesuatu, pikiran yang difokuskan untuk melakukan apa yang Tuhan pikirkan dan suatu tindakan yang mengarah kepada suatu perubahan yang positif. Kehidupan yang berintegritas berbicara tentang keutuhan, kejujuran, kesatuan, antara apa yang diucapkan dan dilakukan oleh seseorang dengan tanggung jawab, kehidupan yang dikehendaki oleh Allah untuk setiap individu Kristen. Secara khusus jika orang tersebut adalah seorang Pelayan Kristus haruslah mempunyai integritas di dalam dirinya sendiri karena integritas menjadi kunci bagi seorang pemimpin. Kehidupan yang demikian dapat dibangun dengan hati yang penuh dengan belaskasihan dan tulus, pikiran yang tertuju kepada perkara-perkara yang Tuhan kehendaki, dan sesuai dengan perbuatan atau tindakan yang dimulai dari dalam diri sendiri. Oleh karena itu, integritas menjadi sesuatu yang sangat penting, manakala diperhadapkan pada situasi zaman yang semakin buruk. Lebih-lebih jika soal integritas ini dihubungkan dengan persoalan kepercayaan dan dukungan yang berkaitan dengan pelayanan gerejawi. A life of integrity is a life that makes Christ the center of all things, a mind focused on doing what God thinks and an action that leads to a positive change. A life of integrity speaks of wholeness, honesty, unity, between what someone says and does with responsibility, the life God wants for every Christian individual. Specifically if the person is a Servant of Christ must have integrity in himself because integrity is the key to a leader. Such a life can be built with a heart full of mercy and sincerity, a mind directed to the things that God wants, and in accordance with actions or actions that start from within oneself. Therefore, integrity becomes something very important, when faced with a situation that is getting worse. The more so if the issue of integrity is linked to issues of trust and support related to ecclesiastical services.

Page 3 of 13 | Total Record : 129