cover
Contact Name
Febriaman Lalaziduhu
Contact Email
ferdinanmarcos1994@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
lp2mebenhaezer@gmail.com
Editorial Address
JI Buluran No.02 Talang Jawa RT 007 / RW 004 Kelurahan Pasar Tanjung Enim Kecamatan Lawang Kidul Kabupaten Muara Enim Prop. Sumatera Selatan
Location
Kab. muara enim,
Sumatera selatan
INDONESIA
SCRIPTA : Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual
ISSN : 26852144     EISSN : 27228231     DOI : https://doi.org/10.47154/scripta
Core Subject :
Jurnal Scripta merupakan jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer, dan sebagai sarana publikasi hasil penelitian serta sharing perkembangan ilmu teologi Kristen dan pelayanan kontekstual. Jurnal ini memuat artikel yang belum pernah dipublikasikan sebelumnya yang berupa artikel hasil penelitian ataupun penelitian terapan, serta artikel telaah yang berkaitan dengan perkembangan ilmu teologi berdasarkan isu-isu terkini. Informasi mengenai pedoman penulisan artikel dan prosedur pengiriman artikel terdapat pada setiap penerbitan. Semua artikel yang masuk akan melalui ‘peer-review process’ setelah memenuhi persyaratan sesuai pedoman penulisan artikel. Penerbitan jurnal ini dilakukan sebanyak enam bulan sekali yaitu pada bulan Mei dan November setiap tahunnya.
Arjuna Subject : -
Articles 125 Documents
KRISTUS YANG SUCI (Usaha Rancang Bangun Kristologi Bagi Keyakinan Leluhur Batak/Parmalim) Marlon Butarbutar
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 1 No. 1 (2016): Scripta : Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (815.065 KB) | DOI: 10.47154/scripta.v1i1.28

Abstract

Yesus Kristus adalah Tuhan dan penyelamat, sebuah credo yang paling tua dalam sejarah Kristologi. Masyarakat Eropa sangat memahami credo ini, memang proses lahir dan berkembangnya pengakuan ini menjadi satu doktrin telah melewati perjalanan perdebatan panjang. Credo ini dibawa orang Kristen Eropa ke berbagai negera ke mana mereka pergi. Ternyata respon yang muncul sangar beragam, kendati kalimat credo ini masih tetap dapat diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, namun usaha untuk membangun keyakinan yang sama dengan tempat di mana credo ini dimunculkan, tidak segampang menjelaskan arti kalimatnya secara etimologi dan terminologi. Untuk membangun pemahaman mengenai Kristus dengan segala predikatnya, memerlukan usaha yang harus memahami cultur masyarakat itu. Jika tidak maka pemahaman terhadap Yesus Kristus akan memiliki rumusan yang berbeda-beda. Usaha menjelaskan Kritus dengan berbagai identitas dan predikatnya akan mengalami kesulitan jika hanya memaksakan pengertian yang terkandung di dalamnya. Ternyata setiap masyarakat di dunia ini memiliki kerangka berpikir yang dapat memudahkan orang memahami konsep Kristus. Demikian dengan masyarakat Asia pada umumnya, yang kita pahami sangat religius, bagi masyarakat Asia sesungguhnya tidak asing dengan cerita dewa yang menjelma, dewa yang melakukan berbagai perbuatan sakti, dewa yang menuntut para pengikutnya untuk taat dan setia. Jesus Christ is God and savior, the oldest credo in the history of Christology. European society really understands this credo, indeed the process of birth and development of this recognition into a doctrine has gone through a long debate. This creed was brought by European Christians to various countries where they went. It turns out that the responses that emerge are fierce, although this credo sentence can still be translated into various languages, but efforts to build the same belief in the place where the credo is raised, it is not easy to explain the meaning of the sentence etymologically and terminologically. To build an understanding of Christ with all its predicates, it requires effort that must understand the culture of the community. If not, then understanding of Jesus Christ will have a different formula. Efforts to explain Christ with its various identities and predicates will experience difficulties if they only force the understanding contained therein. It turns out that every society in the world has a frame of mind that can make it easier for people to understand the concept of Christ. Likewise with Asian society in general, which we understand to be very religious, for Asian people are actually no strangers to stories of incarnate gods, deities who perform various acts of magic, deities who demanded their followers to be obedient and loyal.
LEBIH BAIK HIKMAT DARI PADA KEPERKASAAN (Suatu Study Eksegetis Pengkhotbah 9: 13-18 Dan Relevansinya Bagi Para Pemimpin Kristen) Sri Wahyuni Kusradi
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 1 No. 1 (2016): Scripta : Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (548.85 KB) | DOI: 10.47154/scripta.v1i1.29

Abstract

Banyak masalah dapat terjadi dalam kehidupan bermasyarakat maupun dalam sebuah organisasi. Tantangan tersebut sering dihadapi oleh seorang pemimpin dalam upayanya mencapai suatu tujuan. Maka peranan seorang pemimpin sangat besar dalam menangani masala-masalah tersebut agar tujuan yang baik dapat tercapai. Untuk itu seorang pemimpin telah diperlengkapi dengan berbagai hikmat yang diperlukannya untuk melaksanakan tugas tersebut. Hikmat tersebut adalah segala kemampuan, talenta, ketrampilan untuk mencapai tujuan yang baik dalam segala bidang yang memungkinkannya untuk melaksanakan tugas sebagai seorang pemimpin. Tetapi kegagalan dalam pencapaian tujuan seringkali bukan karena kekurangan potensi-potensi berupa kemampuan, kekuatan maupun kekuasaan seorang pemimpin, melainkan hikmat yang tidak dipergunakan atau bahkan salah dalam mempergunakan hikmat tersebut. Maka seorang pemimpin perlu memahami dengan benar apa itu hikmat, tujuan dari hikmat dan bagaimana hikmat itu dilakukan. Dengan demikian seorang pemimpin akan memperoleh keberhasilan dalam melaksanakan tugas dan tujuan-tujuan baik yang dirancangkannya. Pengkhotbah 9: 13-18 memberi sebuah pelajaran penting bagi seorang pemimpin yang bertanggung jawab untuk membawa masyarakat yang dipimpinnya pada sebuah keberhasilan. Maka hal-hal yang dapat dipelajari dalam teks ini bagi seorang pemimpin Kristen adalah sebagai berikut: Pergumulan dan tantangan dapat terjadi secara tiba-tiba dan tidak terduga. Karena itu Allah sebagai sumber hikmat memberikannya kepada manusia. Maka hikmat itu terejawantahkan dalam kemampuan-kemampuan berupa ketrampilan tangan, menyusun strategi dan berdiplomasi, dalam ketajaman berpikir, dalam mengumpulkan harta benda, maupun hikmat dalam berkata-kata. Tetapi pemahaman yang salah sering terjadi ketika manusia terjebak pada pengakuan bahwa hikmat itu berasal dari diri sendiri dan untuk pemuliaan diri sendiri, hak ini akan mendatangkan kesia-siaan semata-mata. Karena sesungguhnya hikmat diberikan oleh Allah untuk menghasilkan hal-hal yang baik. Berbanding terbalik dengan pandangan umum, hikmat itu ironis, karena hikmat dapat diberikan oleh Allah kepada orang miskin yang tidak terpandang, hikmat tidaklah menuntut apresiasi karena hikmat yang sesungguhnya haruslah dilakukan dalam ketulusan bukan demi pujian bagi diri sendiri. Hikmat yang benar akan menjadi efektif saat hikmat didengarkan dengan tenang dengan pikiran yang terbuka untuk memahami hal baru atau masukan dari pihak-pihak lain. Akan efektif jika tidak digunakan secara arogan, saat menghargai hikmat lebih dari pada kekuatan-kekuatan yang dimiliki karena kekuatan tanpa hikmat justru akan merusak, dan mewaspadi hal-hal kecil karena justru kesalahan kecil dapat merusak atau meruntuhkan banyak hal yang baik. Many problems can occur in social life or in an organization. These challenges are often faced by a leader in his efforts to achieve a goal. So the role of a leader is very large in dealing with these problems so that good goals can be achieved. For this reason, a leader has been equipped with various wisdom needed to carry out the task. Wisdom is all abilities, talents, skills to achieve good goals in all fields that enable it to carry out its duties as a leader.But failure in achieving goals is often not due to a lack of potential in the form of the ability, strength or power of a leader, but wisdom that is not used or even wrong in using that wisdom. So a leader needs to understand correctly what wisdom is, the purpose of wisdom and how wisdom is done. Thus a leader will get success in carrying out the tasks and good goals that he designed. Ecclesiastes 9: 13-18 provides an important lesson for a leader who is responsible for bringing the community he leads to success. So the things that can be learned in this text for a Christian leader are as follows: Struggles and challenges can occur suddenly and unexpectedly. Therefore God as a source of wisdom gives it to humans. Then wisdom is manifested in abilities in the form of hand skills, formulating strategies and diplomacy, in sharp thinking, in collecting property, as well as wisdom in words. But misconceptions often occur when humans are trapped in the recognition that wisdom comes from oneself and for self-glorification, this right will be brought to nothing. For truly wisdom is given by God to produce good things. Inversely with public opinion, wisdom is ironic, because wisdom can be given by God to the poor who are not respected, wisdom does not require appreciation because real wisdom must be done in sincerity not for self-praise. True wisdom will be effective when wisdom is listened calmly with an open mind to understand new things or input from other parties. It will be effective if it is not used arrogantly, when valuing wisdom more than the strengths it possesses because the power without wisdom will actually damage, and be aware of small things because even small mistakes can damage or undermine many good things.
Korelasi Buah Roh Dan Ibadah Yenny Anita Pattinama
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 1 No. 1 (2016): Scripta : Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (549.328 KB) | DOI: 10.47154/scripta.v1i1.30

Abstract

Ibadah merupakan satu tuntutan bagi hidup setiap orang, hal ini berarti bahwa ibadah merupakan natur manusia yang adalah ciptaan Tuhan. Sebagai yang dicipta menurut gambar dan rupa Allah, di dalam diri manusia ada kebutuhan untuk menyembah sesuatu di luar dirinya, yang lebih besar atau lebih tinggi dari padanya yaitu penciptanya sendiri. Dalam kehidupan kekristenan totalitas hidup seorang Kristen merupakan ibadah. Ibadah tersebut akan berkenan dihadapan Tuhan apabila dilakukan dalam tuntuan dan pimpinan Roh Kudus. Apabila seseorang menyerahkan dirinya dikuasai dan dipimpin oleh Roh Kudus maka hidupnya akan memunculkan buah Roh dengan sembilan cita rasa yang tentunya memuliakan Tuhan dan juga memberkati sesama. Worship is a demand for everyone's life, this means that worship is a human nature that is God's creation. As created in the image and likeness of God, in man there is a need to worship something outside himself, which is greater or higher than him, the creator himself. In the Christian life the totality of a Christian's life is worship. The service will be pleasing before God if it is done in the direction and direction of the Holy Spirit. If a person surrenders himself to be controlled and led by the Holy Spirit then his life will bring forth the fruit of the Spirit with nine tastes which certainly glorifies God and also blesses others.
Konsep Melunakkan Hati Tuhan 2 Tawarikh 33: 10-13 Sri Wahyuni Kusradi
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 3 No. 1 (2017): Scripta : Jurnal Teologia dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (469.882 KB) | DOI: 10.47154/scripta.v3i1.31

Abstract

Kitab Tawarikh mengisahkan tentang perjalanan sejarah Israel beserta dengan para raja yang memerintah bangsa itu. Jatuh bangunnya seorang raja akan juga mempengaruhi kehidupan dan keberuntungan umat dalam perjalanan sejarah mereka. Salah seorang raja yang besar namun jahat digambarkan dengan jelas dalam kitab ini, dan bagaimana akhirnya dia bertobat dan menyesali keberdosaannya di hadapan Allah sehingga dia dapat “melunakkan hati Tuhan. Melunakkan hati Tuhan adalah istilah yang dipergunakan dalam 2Tawarikh 33:12-13 yang menunjukkan tindakan seseorang untuk berdoa memohon kepada TUHAN Allah. Walaupun sering disalahpahami, apakah Allah bisa digoyahkan keputusannya? Maka tulisan ini akan membahas bahwa hal tersebut adalah didasarkan pada kemurahan hati Allah yang didasarkan karena keputuan Allah sendiri, berdasarkan kasih setia Allah pada perjanjian-Nya kepada umat dan kesetiaan-Nya terhadap hukum-hukum-Nya yang menuntut perendahan hati, pengakuan dan penyerahan diri umat kepada Allah mereka. Hal-hal apa yang dibahas dalam frasa “melunakkan hati Tuhan” memberi gambaran bagaimana umat sekarang harus bersikap. The Chronicles tells about the history of Israel along with the kings who ruled the nation. The rise and fall of a king will also affect the lives and fortune of the people in the course of their history. One of the great but evil kings is clearly illustrated in this book, and how he finally repented and regretted his sinfulness before God so that he could "soften the heart of God. Softening the heart of God is a term used in 2 Chronicles 33: 12-13 which shows a person's actions to pray for the Lord God. Although often misunderstood, can God shake his decision? So this paper will discuss that it is based on God's generosity based on God's own decision, based on God's loyal love for His covenant to the people and His loyalty to His laws which demand humility, recognition and surrender people to their God. What matters discussed in the phrase "softening the heart of God" illustrates how people must now behave.
Bimbingan Pastoral Kepada Kaum Muda Sebagai Upaya Peneguhan Iman Berdasarkan Ibrani 10:35 Yenny Anita Pattinama
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 3 No. 1 (2017): Scripta : Jurnal Teologia dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (507.576 KB) | DOI: 10.47154/scripta.v3i1.32

Abstract

Pemuda-pemudi adalah generasi ke depan dalam keluarga, gereja, dan bangsa. Pemuda-pemudi merupakan pondasi dan generasi penerus gereja yang harus dibina dengan baik. Masa depan gereja terletak pada generasi muda yang akan menggantikan para orang tua, untuk melanjutkan pelayanan dalam gereja sehingga gereja terus berkembang dengan baik. Namun, pemuda-pemudi zaman sekarang kurang memiliki ketaatan dan kesetiaan kepada Tuhan, sehingga dalam mempertahankan imannya kepada Tuhan Yesus sangat susah. Oleh karena kurangnya bimbingan rohani sebagai pondasi dalam kehidupan mereka untuk membentengi setiap godaan maupun tawaran dunia yang membuat iman mereka hilang. Orang tua dan gereja sangat berperan penting dalam pertumbuhan iman mereka. Jika pemuda-pemudi memiliki kerohanian yang baik, memiliki hubungan yang dekat denganTuhan, makaia juga pasti memiliki iman yang teguh dan dapat mempertahankan imannya di dalam Tuhan Yesus. Young people are the next generation in the family, church and nation. Young people are the foundation and the next generation of churches that must be nurtured well. The future of the church lies in the younger generation who will replace the parents, to continue the ministry in the church so that the church continues to thrive. However, young people today have less obedience and loyalty to God, so that in defending their faith in the Lord Jesus is very difficult. Because of the lack of spiritual guidance as a foundation in their lives to fortify every temptation or offer of the world that makes their faith lost. Parents and the church are very important in the growth of their faith. If young people have a good spirituality, have a close relationship with God, then he also must have firm faith and can maintain his faith in the Lord Jesus.
Gerakan Perintisan Jemaat Dalam Kisah Para Rasul Bagi Pengembangan Gereja Masa Kini Aris Elisa Tembay; Febriaman Lalaziduhu Harefa
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 3 No. 1 (2017): Scripta : Jurnal Teologia dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.818 KB) | DOI: 10.47154/scripta.v3i1.33

Abstract

Setiap orang percaya di panggil Allah untuk melayani. Pelayanan merupakan bagian hidup dan kewajiban mutlak bagi setiap orang percaya. Ketaatan dan kesetiaan dalam melayani Tuhan merupakan salah satu sikap yang terpuji dari kehidupan jemaat mula-mula. Dalam situasi dan kondisi yang sulitakibatpenghambatan dan penganiayaan yang diderita, jemaat tetap melakukan tanggungjawab untuk memberitakan Injil. Penganiayaan tidak membuat jemaat berhentibersaksi, bersekutu dan melayani dengan kasih. Pengembangan gereja sangatlah dipengaruhi oleh orang-orang yang ada didalam gereja tersebut yaitu jemaat, majelis dan hamba Tuhan. Jika sistem gereja berjalan dengan baik, maka pelaksanaan perkembangan gerejaakan berjalan dengan baik dan yang paling penting adalah tetap adanya hubungan yang intim dengan Allah dan kerjasama satu dengan yang lain maka akan terlaksana setiap rencana dalam pengembangan gereja. Panggilan gereja yang sejati ialah menjadi garam dan terang bagi Bangsa-bangsa. Gereja terpanggil untuk menjadi agen-agen pewartaan kabar keselamatan kepada semua manusia. Sehingga salah satu panggilan gereja ialah memuridkan semua jemaat Kristus untuk menjadi seorang murid dan pelaksana pemberitaan Injil. Gereja haruslah menjadi perpanjangan tangan Allah dalam melaksananakan dan penggenapan visi Allah bagi dunia. Allah menghendaki gereja menjadi sumber dan sinar kemuliaan dan kasih Allah bagi dunia. Dalam pelaksanaan penggenapan visi Allah, gereja diperhadapkan dengan sebuat tantangan dan kekuatan kuasa-kuasa gelap, sehingga gereja harus tetap konsisten dan tetap berdiri teguh dalam mengahadapi tantangan demi pencapaian kasih Allah bagi dunia melalui gereja dan semua orang percaya. Gereja yang kuat adalah gereja yang melaksanakan Mandat Agung Tuhan Yesus, sebab penyertaan Allah tersedian bagi gereja dan mereka yang bersedia melaksanakan Mandat Agung Allah. Every believer is called by God to serve. Service is a part of life and an absolute obligation for every believer. Obedience and loyalty in serving God is one of the praiseworthy attitudes of the lives of the early church. In situations and conditions that are difficult due to obstruction and persecution suffered, the congregation continues to carry out the responsibility to preach the gospel. Persecution does not cause the church to stop witnessing, fellowship and serve with love. Church development is greatly influenced by the people in the church, the congregation, assemblies and servants of God. If the church system goes well, the implementation of church development will go well and the most important thing is that there will still be an intimate relationship with God and cooperation with each other will carry out every plan in church development. The true calling of the church is to be salt and light to the Nations. The church is called to be agents of proclaiming the message of salvation to all humans. So one of the calls of the church is to make disciples of all the congregations of Christ to become disciples and administrators of evangelism. The church must be an extension of God in carrying out and fulfilling God's vision for the world. God wants the church to be the source and light of God's glory and love for the world. In the fulfillment of God's vision, the church is confronted with a challenge and the power of dark powers, so the church must remain consistent and remain firm in facing challenges for the achievement of God's love for the world through the church and all believers. A strong church is a church that carries out The Great Mandate of the Lord Jesus, because God's inclusion is available to the church and those who are willing to carry out the Great Mandate of God.
Doing Theology Di Indonesia Obet Nego; Debby Christ Mondolu
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 3 No. 1 (2017): Scripta : Jurnal Teologia dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (485.292 KB) | DOI: 10.47154/scripta.v3i1.34

Abstract

Berteologi atau Doing theology merupakan respon iman dari setiap orang yang menyadari keberadaan Allah dalam hidupnya. Dinamika dari teologi telah menghasilkan berbagai corak dalam berteologi. Di mana corak tersebut sangat dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran teologi yang berabad-abad telah muncul dan mempengaruhi banyak teolog di dunia ini untuk “berekspresi” dalam berteologi, termasuk di Indonesia. Dalam tulisan ini, akan menyajikan doing theology yang ada di bumi Indonesia, yang berangkat dari rentetan sejarah pemikiran dan fenomena-fenomena berteologi masa kini. Doing theology is a faith response from everyone who realizes the existence of God in his life. The dynamics of theology have produced various patterns in theology. Where the pattern is greatly influenced by centuries of theological thought has emerged and influenced many theologians in the world to "express" in theology, including in Indonesia. In this paper, we will present doing theology on Indonesian soil, which departs from a series of historical thoughts and theological phenomena today.
PASTORAL KRISTEN BAGI LINGKUNGAN HIDUP Fanny Y. M Kaseke
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 3 No. 1 (2017): Scripta : Jurnal Teologia dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (514.367 KB) | DOI: 10.47154/scripta.v3i1.35

Abstract

Kerusakan lingkungan hidup mendapatkan perhatian yang sangat serius dari semua pihak. Kekristenan juga perlu merumuskan suatu “penggembalaan” bagi lingkungan hidup demi berlangsungnya kehidupan. Ada beberapa kontroversi pengajaran yang merasa tidak perlu terlalu memfokuskan diri pada pemulihan lingkungan hidup, sementara yang lainnya mengajarkan pemeliharaan lingkungan hidup, tetapi “setengah hati” melaksanakannya. Tulisan ini mengulas bagaimana seharusnya pandangan Kristen tentang Lingkungan Hidup, serta bagaimana praktis implementasi “pelayanan” terhadap lingkungan hidup tersebut. Environmental damage is getting very serious attention from all parties. Christianity also needs to formulate a "shepherding" for the environment for the sake of life. There are some teaching controversies that feel no need to focus too much on environmental recovery, while others teach environmental preservation, but "half-heartedly" carry it out. This paper reviews how Christians should view the Environment, and how practical the implementation of "service" to the environment.
Pengajaran Paulus Tentang Hamba Dosa Dan Hamba Kebenaran Menurut Roma 6: 17-18, Sebagai Upaya Pemurnian Iman Orang Kristen Yanjumseby Yeverson Manafe
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 3 No. 1 (2017): Scripta : Jurnal Teologia dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (559.64 KB) | DOI: 10.47154/scripta.v3i1.36

Abstract

Dua masalah yang dihadapi manusia sepanjang hidupnya yaitu kuasa dosa dan kuasa Allah.Tidak ada yang bisa bebas dari kedua hal ini. Posisi seseorang hanya dapat berada di bawah kekuatan dosa atau di bawah kuasa Allah. Sebelum Adam dan Hawa manusia pertama jatuh ke dalam dosa mereka hidup sempurna sesuai dengan firman Allah dan Allah sendiri sebagai ukuran standart hidup mereka. Semua alam semesta diperuntukkan bagi mereka agar berkuasa penuh atasnya, namun manusia tetaplah ciptaan yang harus taat pada penciptanya, ia mempunyai kelemahan-kelamahan baik dari segi fisik, intelektual, rohani dan moral. Dari keterbatasan itulah dosa dengan gampang masuk melalui suatu keputusan yang secara bebas diambil oleh manusia (Kej. 3). Iblis telah menanamkan benih keragu-raguan pada manusia mengenai kebaikan Allah. J Murray mengatakan bahwa manusia memberikan tempat bagi iblis yang hanya boleh diduduki oleh Allah saja kemudian menyetujui serangan iblis yang bersifat paling menghujat kedaulatan Allah karena menginginkan baginya hak-hak khusus Allah.
Pembaharuan Rohani Menurut Efesus 4:23 Sebagai Dasar Pertumbuhan Jemaat Rustam Siagian
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 4 No. 2 (2017): Scripta : Jurnal Teologia dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (558.531 KB) | DOI: 10.47154/scripta.v4i2.37

Abstract

Kehidupan Kristen itu memiliki natur untuk bertumbuh, makin dewasa secara rohani dan menjadi berkat bagi sesama. Pada kenyataannya pertumbuhan itu menghadapi banyak kendala sehingga prosesnya tidak mudah. Karena itu perlu sekali untuk memperhatikan dasar pertumbuhan rohani itu agar prosesnya bisa terus berkelanjutan dalam berbagai situasi seperti yang diharapkan setiap orang percaya. Karena itu tulisan ini akan mengeksegesa Efesus 4:23 sebagai dasar pertumbuhan rohani jemaat. The Christian life has the nature to grow, become more spiritually mature and be a blessing to others. In reality the growth faces many obstacles so the process is not easy. Therefore it is necessary to pay attention to the basis of spiritual growth so that the process can continue in various situations as expected by every believer. Therefore this paper will expand Ephesians 4:23 as the basis for the spiritual growth of the church.

Page 2 of 13 | Total Record : 125