cover
Contact Name
Febriaman Lalaziduhu
Contact Email
ferdinanmarcos1994@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
lp2mebenhaezer@gmail.com
Editorial Address
JI Buluran No.02 Talang Jawa RT 007 / RW 004 Kelurahan Pasar Tanjung Enim Kecamatan Lawang Kidul Kabupaten Muara Enim Prop. Sumatera Selatan
Location
Kab. muara enim,
Sumatera selatan
INDONESIA
SCRIPTA : Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual
ISSN : 26852144     EISSN : 27228231     DOI : https://doi.org/10.47154/scripta
Core Subject :
Jurnal Scripta merupakan jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer, dan sebagai sarana publikasi hasil penelitian serta sharing perkembangan ilmu teologi Kristen dan pelayanan kontekstual. Jurnal ini memuat artikel yang belum pernah dipublikasikan sebelumnya yang berupa artikel hasil penelitian ataupun penelitian terapan, serta artikel telaah yang berkaitan dengan perkembangan ilmu teologi berdasarkan isu-isu terkini. Informasi mengenai pedoman penulisan artikel dan prosedur pengiriman artikel terdapat pada setiap penerbitan. Semua artikel yang masuk akan melalui ‘peer-review process’ setelah memenuhi persyaratan sesuai pedoman penulisan artikel. Penerbitan jurnal ini dilakukan sebanyak enam bulan sekali yaitu pada bulan Mei dan November setiap tahunnya.
Arjuna Subject : -
Articles 129 Documents
Pastoral Konseling Bagi Remaja Korban Bullying Obet Nego; Jul Seniman Hulu
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 5 No. 1 (2018): Scripta : Jurnal Teologia dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (484.682 KB) | DOI: 10.47154/scripta.v5i1.48

Abstract

Bullying berasal dari bahasa Inggris, yaitu kata kerja bully/bulie, merupakan tindakan menggertak orang yang lemah dengan mengintimidasi, merendahkan, mencemooh/mengejek, memukul dan mengasingkan seseorang dan tindakan ini sangat berdampak negatif pada psikologis, sosial dan spiritual remaja korban bullying. Bullying sendiri dapat memberikan dampak yang besar bagi korban, dimana dampaknya korban bullying cenderung merasa takut, cemas, dan memiliki self esteem yang lebih rendah dibandingkan anak yang tidak menjadi korban bullying. Kasus bullying yang dilakukan pelaku banyak terjadi secara fisik dan verbal sehingga meninggalkan bekas yang begitu besar bagi korban. Oleh karena itu, pastoral konseling Kristen hadir untuk melayani remaja korban bullying, yang bertujuan untuk memulihkan dan menolong mental dan spiritual remaja korban bullying. Dalam karya tulisan ini, penulis akan menguraikan pentingnya sebuah pelayanan pastoral konseling bagi remaja yang mengalami bullying. Bullying comes from English, which is the verb bully / bulie, is an act of bullying a weak person by intimidating, degrading, ridiculing / mocking, beating and alienating someone and this action has a very negative impact on the psychological, social and spiritual youth of victims of bullying. Bullying itself can have a large impact on victims, where the impact of bullying victims tends to feel fear, anxiety, and have lower self esteem than children who are not victims of bullying. Bullying cases committed by the perpetrators occurred physically and verbally so that they left a huge mark on the victim. Therefore, Christian pastoral counseling exists to serve youth bullying victims, which aims to restore and help mentally and spiritually bullying adolescent victims. In this paper, the author will describe the importance of pastoral counseling services for adolescents who experience bullying.
Kristologi Biblika Menurut Kaum Reformed Sebagai Salah Satu Dasar Apologetika Dalam Menghadapi Pengajaran Gnostik Di Era Postmodern Marlon Butarbutar
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 6 No. 2 (2018): Scripta : Jurnal Teologia dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (476.35 KB) | DOI: 10.47154/scripta.v6i2.49

Abstract

Kristologi adalah merupakan pokok terpenting dalam ajaran iman Kristen. Kristologi juga bisa disebut sebagai pusat kekristenan itu sendiri, dengan itu kristologi adalah pusat dari ilmu theologia. Karenanya mempelajari Pribadi dan karya Kristus, berarti sedang berada pada pusat theologi Kristen. Yesus Kristuslah yang memberikan identitas kepada kekristenan, yang sekaligus membedakannya dari agama atau kepercayaan yang lain. Keistimewaan doktrin ini terletak dalam pribadi dan karya Yesus Kristus sebagai Tuhan yang menjadi finalitas jalan menuju kepada keselamatan yang kekal. Pemahaman yang benar terhadap doktrin kristologi tidak lepas dari pengetahuan yang sehat terhadap Alkitab, sebab Alkitablah satu-satunya sumber utama yang dengan jujur dan terbuka memberikan kesaksian mengenai pribadi Yesus sebagai juruselamat dunia. Memang realita historis tulisan-tulisan di dalam Alkitab itu ditulis oleh manusia, akan tetapi proses penulisannya diilhami oleh Allah melalui pimpinan Roh Kudus sehingga apa yang diucapkan atau ditulis sesuai dengan kehendak Tuhan (bnd. 2Tim 3:16). Alkitab secara keseluruhan dipercaya dengan akurat dalam mengambarkan Yesus Kristus. Akan tetapi dalam prosesnya banyak ditemukan bahwa kristologi yang dihasilkan bertentangan dengan Alkitab. Sejarah membuktikan bahwa gereja selalu berhadapan dengan pengajaran-pengajaran sesat yang menyerang gereja dari dalam. Dalam hal ini berbentuk ajaran-ajaran (doktrin) yang menyesatkan atau bidat-bidat yang menyelewengkan ajaran murni Alkitab. Bahaya ajaran-ajaran sesat ini tidak saja timbul pada abad-abad belakangan ini, melainkan sudah ada sejak gereja didirikan. Karenanya penulis hendak menguraikan kristologi yang akan menjadi dasar apologetika di era postmodern sekarang ini. Christology is the most important point in the teachings of the Christian faith. Christology can also be called the center of Christianity itself, so that Christology is the center of theological science. Therefore studying the Person and work of Christ, means being at the center of Christian theology. It is Jesus Christ who gives identity to Christianity, which also distinguishes it from other religions or beliefs. The specialty of this doctrine lies in the person and work of Jesus Christ as Lord who becomes the finality of the path to eternal salvation. A correct understanding of the doctrine of Christology is inseparable from a healthy knowledge of the Bible, because the Bible is the only major source that honestly and openly testifies about the person of Jesus as the savior of the world. Indeed the historical reality of the writings in the Bible was written by humans, but the process of writing was inspired by God through the leadership of the Holy Spirit so that what was said or written was according to God's will (cf. 2Tim 3:16). The Bible as a whole is believed to be accurate in describing Jesus Christ. However, in the process it was found that the resulting christology was in conflict with the Bible. History proves that the church is always dealing with false teachings that attack the church from within. In this case the form of teachings (doctrines) are misleading or heretics who distort the pure teachings of the Bible. The danger of these heresies has not only arisen in recent centuries, but has existed since the church was founded. Therefore the author wants to elaborate on the Christology that will be the basis of apologetics in the current postmodern era.
Analisis Pertumbuhan Gereja Mula-mula Dalam Kisah Para Rasul dan Relevansinya Bagi Gereja Masa Kini Rustam Siagian
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 6 No. 2 (2018): Scripta : Jurnal Teologia dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (252.822 KB) | DOI: 10.47154/scripta.v6i2.50

Abstract

Pembahasan tentang pertumbuhan gereja selalu menjadi perhatian para pemimpin gereja dimana saja. Berbagai teori dipelajari dengan harapan bisa diterapkan di dalam gereja masing-masing agar pertumbuhan bisa tercapai secara maksimal. Tetapi sesungguhnya dasar pertumbuhan gereja sudah disampaikan kepada gereja dalam kitab Kisah Para Rasul, karena itu tulisan ini akan menelusuri prinsip-prinsip pertumbuhan gereja dari kitab Kisah Para Rasul dan dengan harapan prinsip-prinsip itu menjadi masukan bagi gereja masa kini. Discussions about church growth always come to the attention of church leaders everywhere. Various theories are learned with the hope that they can be applied in their respective churches so that growth can be achieved to the maximum. But actually the basis for the growth of the church has been conveyed to the church in the book of Acts, therefore this paper will explore the principles of church growth from the book of Acts and hopefully these principles will be input for the church today.
Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Kristen Terhadap Kecerdasan Emosi Anak Kristina Herawati
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 6 No. 2 (2018): Scripta : Jurnal Teologia dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (447.898 KB) | DOI: 10.47154/scripta.v6i2.51

Abstract

Pendidikan adalah hal yang sangat penting untuk dilakukan, pendidikan yang paling efektif terjadi adalah pendidikan di dalam keluarga. Oleh karena keluarga adalah tempat di mana orang tua dan anak lebih banyak menghabiskan waktu, dibanding sekolah atau gereja. Keluarga adalah satu lembaga pertama yang tercatat dalam Alkitab. Keluarga dirancang dan ditetapkan oleh Allah, jauh sebelum umat pilihan atau bangsa terpilih eksis. Tetapi kurangnya penerapan pola asuh yang benar kepada anak pada masa pra sekolah sehingga berdampak pada pembentukan karakter dan emosi yang kurang baik. Dengan demikian, orang tua yang mengerti pola asuh yang benar dan menjalankannya, akan mempengaruhi kecerdasan emosi anak. Inilah yang akan dibahas oleh penulis dengan membahas pengaruh pola asuh orang tua Kristen terhadap kecerdasan emosi anak usia 6-12 tahun. Education is a very important thing to do, the most effective education occurs is education in the family. Because the family is a place where parents and children spend more time, than school or church. The family is the first institution recorded in the Bible. The family was designed and established by God, long before the chosen people or chosen people existed. But the lack of proper adoption of parenting to children in pre-school has an impact on the formation of character and emotions that are not good. Thus, parents who understand the right parenting and practice it, will affect children's emotional intelligence. This is what the author will discuss by discussing the influence of parenting Christian parents on emotional intelligence of children aged 6-12 years.
Konsep Penginjilan Dalam Kisah Para Rasul 18:9-10 Sebagai Upaya Revitalisasi Penginjilan Aris Elisa Tembay
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 6 No. 2 (2018): Scripta : Jurnal Teologia dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (736.151 KB) | DOI: 10.47154/scripta.v6i2.52

Abstract

Salah satu tugas gereja dan orang percaya adalah pekerjaan misi. Misi adalah semua kegiatan yang bertujuan untuk mengabarkan kematian dan kebangkitan Yesus Kristus sebagai pengorbanan untuk penebusan dosa manusia serta jaminan hidup yang kekal dalam nama-Nya. Jadi pekerjaan misi adalah Pengabaran Injil/penginjilan.Selanjutnya gereja bukan hanya mempunyai misi, tetapi seluruh kehidupan gereja itu adalah misi. Tugas memberitakan Injil adalah tugas setiap orang percaya. Gereja yang kuat dan bersinar adalah gereja yang bersedia pergi memberitakan kasih Allah kepada dunia, sehingga dunia mengalami kasih Allah. Sehingga masa depan dunia ada ditangan gereja. Gereja haruslah memiliki hati Allah. Tugas gereja memuridkan dan mengutus para murid untuk melaksanakan Mandat Agung Kristus. Maka, memberitakan kabar baik segala perbuatan dan karya Allah adalah tugas semua orang yang telah menerima anugerah keselamatan. Benih Injil haruslah terpancar dari semua aspek kehidupan orang percaya. Gereja yang kuat dan bertumbuh adalah gereja yang terlibat dalam pelaksanaan misi Allah bagi dunia. One of the tasks of the church and believers is missionary work. Mission is all activities aimed at proclaiming the death and resurrection of Jesus Christ as a sacrifice for the atonement of human sins and the guarantee of eternal life in His name. So missionary work is evangelism / evangelism. Furthermore, the church does not only have a mission, but the whole life of the church is a mission. The task of preaching the gospel is the duty of every believer. A strong and shining church is a church that is willing to go to preach God's love to the world, so that the world experiences God's love. So that the future of the world is in the hands of the church. The church must have the heart of God. The task of the church is to make disciples and send disciples to carry out the Great Mandate of Christ. So, to preach the good news of all the deeds and works of God is the duty of all those who have received the gift of salvation. The seeds of the gospel must be emanated from all aspects of a believer's life. A strong and growing church is a church that is involved in carrying out God's mission for the world.
Pastoral Konseling Menurut Yehezkiel 34:16 Sebagai Upaya pemulihan Mental Yenny Anita Pattinama
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 6 No. 2 (2018): Scripta : Jurnal Teologia dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (470.61 KB) | DOI: 10.47154/scripta.v6i2.53

Abstract

Pada hakikatnya, setiap manusia dalam kehidupannya dimanapun ia berada pasti memiliki masalah dan pergumulan. Pastoral konseling mengajarkan mereka untuk mampu berdamai dengan Allah, diri sendiri, dan juga orang lain. Dengan melakukan pelayanan pastoral konseling juga dapat menyadarkan mahasiswa-mahasiswi yang bermasalah akan pelanggaran yang dilakukan, kemudian mengakui setiap perbuatannya yang salah dihadapan Tuhan, dan dapat menerima pengampunan dan memulai suatu kehidupan yang baru. Dengan demikian seorang konselor dapat menolong setiap konseli untuk mengalami pemulihan mental dan memahami tindakannya salah yang pernah diperbuatnya serta melakukan langkah-langkah untuk menata kehidupannya menjadi lebih baik. In essence, every human being in his life wherever he is must have problems and struggles. Pastoral counseling teaches them to be able to make peace with God, themselves, and also others. Conducting pastoral counseling services can also awaken students who have problems with violations committed, then acknowledge any wrongdoing before God, and can receive forgiveness and start a new life. Thus a counselor can help each counselee to experience mental recovery and understand the wrong actions he had ever done and take steps to organize his life for the better.
Pengenalan Akan Nama Allah Sebagai Peneguhan Iman Dalam Masa Kesesakan Sri Wahyuni Kusradi
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 6 No. 2 (2018): Scripta : Jurnal Teologia dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (323.965 KB) | DOI: 10.47154/scripta.v6i2.54

Abstract

Tak pelak lagi pada masa-masa ini banyak kesesakan yang dialami oleh orang Kristen. Terbatasnya pengenalan akan nama Allah yang berkuasa merupakan salah satu penyebab orang Kristen jadi undur imannya kepada Tuhan. Sebagaimana Allah telah mendampingi Israel dalam masa kesesakan yang sangat di Mesir dan menyatakan Nama Diri Allah sebagai Allah yang Maha Kuasa, maka Allah yang sama yang menyatakan nama-Nya kepada Musa juga akan menguatkan umat-Nya pada masa kini. Allah menyatakan nama-Nya kepada Musa sebagai agen yang diutus Allah untuk meneguhkan umat-Nya, menyatakan bahwa Israel adalah umat kepuinyaan-Nya sendiri. Nama YHWH menyatakan bahwa Diri-Nya ada dan berkuasa untuk membebaskan umat-Nya. YHWH adalah Allah yang telah menyertai nenek moyang mereka dan setia kepada perjanjian-Nya. Dan karena itu YHWH menuntut respos umat untuk mengingat nama itu selama-lamanya dan menyebut nama-Nya secara turun-temurun. Melalui pengenalan akan nama Allah yaitu Yahweh yang selalu Ada dan berkuasa itu maka umat Kristen masa kini bahkan akan menjadi lebih tahan dalam masa kesesakan karena Allah selalu ada dalam hidup umat sampai maranatha. Inevitably during these times many tribulations are experienced by Christians. Limited knowledge of the name of God who is in power is one of the reasons why Christians are withdrawing from their faith in God. Just as God had accompanied Israel in a time of great distress in Egypt and revealed God's Name as Almighty God, then the same God who revealed His name to Moses would also strengthen His people today. God revealed His name to Moses as an agent sent by God to strengthen His people, stating that Israel was His own people. The name YHWH states that He exists and has the power to deliver His people. YHWH is a God who has accompanied their ancestors and is faithful to His covenants. And because of that YHWH demands the respect of the people to remember that name forever and chant His name for generations. Through the knowledge of God's name, Yahweh, who is always there and in power, Christians today will even be more resilient in times of distress because God is always in the lives of people until maranatha.
Konsep Kesatuan Yesus dan Allah Bapa Dalam Injil Yohanes 17:22 Untuk Menghadapi Doktrin Subordinansi Tritunggal Saksi Yehuwa Yanjumseby Yeverson Manafe; Yenny Anita Pattinama
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 7 No. 1 (2019): Scripta : Jurnal Teologia dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (616.109 KB) | DOI: 10.47154/scripta.v7i1.57

Abstract

Doktrin Trinitas atau doktrin Allah Tritunggal adalah pengajaran tentang Allah yang menyatakan diri-Nya dalam tiga pribadi, yaitu Allah Bapa, Allah Anak (Yesus Kristus), dan Allah Roh Kudus yang ketiganya adalah esa. Di satu sisi, doktrin tersebut merupakan doktrin yang sangat penting dan unik dalam kekristenan. Dikatakan penting karena doktrin ini berbicara tentang Allah Tritunggal yang menjadi pusat pujian, penyembahan dan pelayanan orang percaya. Dikatakan unik karena doktrin tersebut tidak terdapat dalam agama manapun di dunia ini. Namun, di sisi lain, doktrin tersebut merupakan doktrin yang sulit dipahami dan diterima oleh akal manusia bahkan menjadi bahan perdebatan yang hebat di berbagai tempat, masa dan kalangan manusia. Dengan studi eksegetis Yohanes 17: 22 sebagai dasar evaluasi kritis terhadap doktrin subordinasi Tritunggal dalam theologia Saksi Yehuwa, maka dapat diketahui bahwa doktrin subordinasi Tritunggal dalam theologia Saksi Yehuwa adalah doktrin yang menyimpang dari kebenaran Alkitab. The doctrine of the Trinity or the doctrine of the Triune God is the teaching of God revealing Himself in three persons, namely God the Father, God the Son (Jesus Christ), and God the Holy Spirit of which all three are one. On the one hand, the doctrine is a doctrine that is very important and unique in Christianity. It is said to be important because this doctrine speaks of the triune God who is the center of the worship, worship and service of believers. Said to be unique because the doctrine does not exist in any religion in this world. However, on the other hand, the doctrine is a doctrine that is difficult to understand and accepted by human reason and even becomes a matter of great debate in various places, times and circles of humans. With the exegetical study of John 17: 22 as the basis for a critical evaluation of the doctrine of the subordination of the Trinity in the theology of Jehovah's Witnesses, it can be seen that the doctrine of the subordination of the Trinity in the theology of Jehovah's Witnesses is a doctrine that deviates from Bible truth.
Tinjauan Etis Terhadap Gereja-gereja Yang Menetapkan Jemaat Memberi Iuran Kepada Marlon Butarbutar; Sri Wahyuni Kusradi
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 7 No. 1 (2019): Scripta : Jurnal Teologia dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (609.469 KB) | DOI: 10.47154/scripta.v7i1.58

Abstract

Gereja hadir dalam dunia ini sebenarnya adalah untuk memuji dan memuliakan Tuhan. Oleh sebab itu, maka gereja mempunyai tugas untuk menjadikan semua bangsa sebagai murid Tuhan Yesus (Mat. 28: 18-20). Dimana yang dipakai Tuhan sebagai alat dalam melakukan dan melaksanakan akan kehendak-Nya adalah melalui gereja. Baik gereja sebagai tubuh Kristus yang di dalam Perjanjian Baru adalah umat, orang-orang yang dipanggil oleh Tuhan untuk keluar dari kegelapan dan masuk dalam terang-Nya untuk menjadi saksi Kristus maupun gereja dalam bentuk fisik, maksudnya adalah gereja sebagai gedung atau tempat yang dipakai orang-orang percaya untuk bersekutu dalam memuji dan memuliakan Tuhan. Melihat hal tersebut maka, titik utama gereja ada dan hadir adalah hanya untuk kemuliaan Tuhan. Salah satu ketentuan kewajiban jemaat yang ada dalam gereja adalah ”setiap jemaat, harus membayar persembahan bulanan setiap bulan kepada gereja”. Apabila tidak dilunasi, konsekuensinya adalah apabila ada kejadian dalam jemaat tersebut, seperti: baptisan, pemberkatan nikah. Itu semuanya tidak akan terlaksana, sebelum kewajiban tersebut terlunasi. Jadi, ketentuan ini bukan hanya mengikat jemaat untuk datang bersekutu atau beribadah dan membuat jemaat terikat pada gereja tersebut dan tidak mudah untuk pindah gereja, melainkan dalam tindakannya sudah ada sikap memaksa jemaat untuk membayar kewajiban kepada gereja. Berdasarkan hal di atas terlihat jelas bahwa jemaat memberi kepada gereja bukan dengan ketulusan dan sukacita. Tetapi memberi dengan keterpaksaan dan adanya sanksi atau konsekuensi bagi jemaat yang tidak memberikan persembahan bulanan terhadap gereja. Ini sangat mendorong penulis untuk meneliti sehingga menjadi suatu pertimbangan bagi gereja yang memberi kewajiban jemaat membayar iuran kepada gereja. The church present in this world is actually to praise and glorify God. Therefore, the church has a duty to make all nations disciples of the Lord Jesus (Matt. 28: 18-20). Where God uses as a tool in doing and carrying out His will is through the church. Both the church as the body of Christ in the New Testament are people, people who are called by God to come out of the darkness and enter into His light to be witnesses of Christ and the church in physical form, meaning the church as a building or place used by people believers to fellowship in praising and glorifying God. Seeing this, the main point of the church being and present is only for the glory of God. One of the provisions of the congregation's obligations in the church is "every church, must pay monthly offerings every month to the church". If not paid, the consequence is if there is an incident in the church, such as: baptism, marriage blessing. That all will not be realized, before the obligation is paid. So, this provision does not only bind the congregation to come to fellowship or worship and make the congregation bound to the church and it is not easy to move the church, but in its action there is already an attitude of forcing the congregation to pay obligations to the church. Based on the above it is clear that the congregation gave to the church not with sincerity and joy. But giving with force and the existence of sanctions or consequences for congregations who do not provide monthly offerings to the church. This strongly encourages the writer to examine so that it becomes a consideration for the church which gives the congregation an obligation to pay contributions to the church.
Merajut Anugerah Dalam Penginjilan Holistik Aris Elisa Tembay; Eliman
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 7 No. 1 (2019): Scripta : Jurnal Teologia dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (507.763 KB) | DOI: 10.47154/scripta.v7i1.59

Abstract

Kejatuhan manusia kedalam dosa telah membuat manusia kehilangan kemuliaan Allah. Manusia bukan saja harus menerima hukuman Allah secara rohani sebagai mahluk yang diciptakan dengan Kemuliaan Allah, namun secara fisik dan social mereka menerima ganjaran hukuman dari Allah. Kehidupan secara fisik berubah, dimana mereka kemudian menyadari bahwa dirinya dalam keadaan telanjang dan merasakan malu. Secara social mereka mengalami putusnya hubungan dengan Allah dan lingkungannya kemudian menjadi takut dan menyembunyikan diri dari hadapan Allah. Manusia kemudian menerima hukuman dari Allah yang berdampak secara rohani, dan juga jasmani. Mereka dibuang dari tempat kemuliaan kedalam dunia yang penuh dengan penderitaan sebagai akibat dari perbuatan dosa tersebut. Allah kemudian menunjukkan Kasih-Nya, dengan mencari manusia yang telah jatuh dalam dosa mengadakan pemulihan, akan tetapi tetap menegakkan keadilan dengan menjatuhkan hukuman-Nya dan mengadakan perjanjian akan Keselamatan bagi manusia berdosa. Rancangan keselamtan dari Allah inilah yang kemudian dilaksankan dengan Misio-Dei, dimana Allah mengutus Anak-Nya Yesus Kristus datang kedunia ini, para Nabi dan Rasul, kemudian Misio Eklesiae, dimana Allah menempatkan Gereja-Nya dan mengutus orang-orang percaya untuk memberitakan Injil Keselamatan. Injil Keselamatan itu adalah “Kabar Baik” dimana didalamnya ada berita tentang kelepasan manusia dari hukuman dosa. Dosa telah membuat manusia mengalami berbagai penderitaan, baik rohani, Jasmani juga hubungan berdampak pada lingkungan social. Pemulihan tidak hanya cukup pada tataran Rohani saja, karena dosa adalah permasalahan yang kompleksitas dan menyeluruh dalam kehidupan manusia didunia ini. Pelayanan “Holistik” adalah upaya untuk memulihkan keberadaan manusia seutuhnya, baik secara spiritual dimana manusia diperdamaikan dengan Allah tetapi juga secara mental dimana manusia dibangkitkan kembali semangatnya untuk memperjuangkan kehidupannya didunia ini. Dengan demikian Injil bukan saja menyelesaikan perkara-perkara rohani saja, akan tetapi juga berdampak pada kehidupan social masyarakat, karena itulah tugas Gereja untuk melakukan tiga hal penting dalam dunia ini: Marturia, Koinonia, dan Diakonia. Inilah merupakan bagian dari pelayanan yang bersifat “Holistik” Man's fall into sin has made man lose the glory of God. Humans must not only receive God's punishment spiritually as a creature created with the Glory of God, but physically and socially they receive punishment from God. Life physically changes, where they then realize that they are naked and feel ashamed. Socially, they experience a break with God and their environment and become afraid and hide themselves from God. Humans then receive punishment from God that impacts spiritually, and also physically. They are banished from the place of glory in a world full of suffering as a result of these sins. God then shows His love, by searching for people who have fallen into sin to make restoration, but still uphold justice by dropping His punishment and entering into a covenant of Salvation for sinful humans. This salvation design from God was then carried out by Misio-Dei, where God sent His Son Jesus Christ to come into this world, the Prophets and Apostles, then Misio Eklesiae, where God placed His Church and sent believers to preach the Gospel of Salvation. The Gospel of Salvation is the "Good News" in which there is news about human deliverance from the penalty of sin. Sin has caused people to experience various sufferings, both spiritual, physical and also the relationship has an impact on the social environment. Restoration is not only enough at the Spiritual level, because sin is a complex and comprehensive problem in human life in this world. "Holistic" service is an effort to restore the whole human existence, both spiritually where humans are reconciled with God but also mentally where humans are reawakened to fight for their lives in this world. Thus the Gospel not only resolves spiritual matters, but also has an impact on the social life of the community, because that is the Church's duty to do three important things in this world: Marturia, Koinonia, and Diakonia. This is part of the service that is "Holistic".

Page 4 of 13 | Total Record : 129